<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655</id><updated>2012-01-23T00:33:22.546+07:00</updated><category term='resensi komik'/><category term='secuil proses kreatif'/><category term='resensi buku pendidikan'/><category term='resensi buku motivasi'/><category term='resensi buku fisika'/><category term='resensi buku filsafat'/><category term='resensi buku sosial budaya'/><category term='opini di balik buku'/><category term='resensi buku biografi'/><category term='resensi buku bola'/><category term='kabar seputar dunia buku'/><category term='resensi buku how to'/><category term='resensi buku agama'/><category term='buku gratis'/><category term='resensi buku true story'/><category term='resensi buku politik'/><category term='resensi buku psikologi'/><category term='resensi buku ekonomi'/><category term='program Indonesia menulis'/><category term='wawancara dan sosok di media'/><category term='resensi buku sastra'/><category term='resensi buku sejarah'/><category term='resensi buku anak'/><category term='kisah tentang buku dan teman'/><category term='resensi buku pernikahan'/><title type='text'>e t a l a s e  b u k u</title><subtitle type='html'>buku itu ibarat mata, bisa menuntun kita melihat dunia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>221</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-4357421977058752244</id><published>2012-01-22T20:55:00.000+07:00</published><updated>2012-01-23T00:33:22.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sosial budaya'/><title type='text'>Mengungkap Fakta Pohon Ganja</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-eXg3n5muKQg/TxwUxcxpzmI/AAAAAAAACMk/yZ_Fxgx4W88/s1600/hikayat+pohon+ganja+3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-eXg3n5muKQg/TxwUxcxpzmI/AAAAAAAACMk/yZ_Fxgx4W88/s200/hikayat+pohon+ganja+3.jpg" width="140" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;resensi buku ini dimuat di &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt; Minggu 22 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Hikayat Pohon Ganja; 12000 Tahun Menyuburkan Peradaban Manusia&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp; : Tim LGN&lt;br /&gt;Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: Pertama, Desember 2011&lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 386 halaman&lt;br /&gt;Harga&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Rp. 75,000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benarkah pohon ganja itu merupakan tanaman "terkutuk" yang harus dijauhi? Sebagian besar orang,&amp;nbsp; pasti akan menjawab “ya” disertai dengan anggukkan kepala. Sebab, pemerintah memang telah menetapkan ganja sebagai "tanaman terlarang". Bahkan, institusi agama pun pernah dengan tegas mengutuk tanaman ganja -atau ganjika dalam bahasa Sansekerta- lantaran dikatergorikan pohon haram –barang memabukkan, dan dapat merusak generasi muda. Lebih dari itu, tanaman ganja pun digembor-gemborkan secara negatif oleh beberapa lembaga penelitian.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika pertanyaan di atas diajukan kepada penulis buku ini –dari Tim Lingkar Ganja Nusantara [LGN] yang antara lain oleh Dhira Narayana, Irwan Muhammad Syarif dan Ronald Carl Marentek-- jawabannya ternyata lain. Justru, tanaman ganja disebut sebagai "pohon sakral" --sebab pernah dicatat dalam sejarah pohon ganja dikenal sebagai "pohon kehidupan" atau "pohon pengetahuan". &lt;br /&gt;Sebab, tanaman ganja yang dicap jahat itu justru pernah terlibat erat dan menjadi basis material dalam evolusi; menggerakkan jalannya peradaban dan pencapaian teknologi manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu apa yang dikatakan oleh penulis buku ini cukup mencengangkan bagi orang awam. Tetapi, penulis buku ini tidak mengumbar fakta dengan serampangan. Sebab dengan mendasarkan pada kajian historis buku ini mengungkap fakta tentang setumpuk manfaat pohon ganja. Dengan bertopang bukti-bukti empiris itu, maka buku ini menggemakan suara lain apalagi dalam catatan sejarah -sejak tahun 10.000 SM sampai 1990-an, ganja (atau cannabis) telah menyumbangkan peran signifikan bagi peradaban umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tanaman ganja mengandung zat adiktif yang berbahaya dan kerapkali disalahgunakan oleh para pecandu narkoba. Tapi, di balik setangkai tanaman ganja itu termaktum sejuta manfaat. Secara keseluruhan, tanaman ganja –mulai dari kuncup, daun, biji, dan akar, ternyata bisa digunakan untuk ramuan obat sepanjang sejarah. Ganja telah lama direkomendasikan untuk pengobatan gonore, angina pektoris, bisa digunakan mengatasi insomnia, neuralgia, reumatik, gangguan pencernaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah lagi, kalau buku Hikayat Pohon Ganja ini bisa menjadi semacam buku penting sebagai rujukan dan petunjuk bagi siapa saja yang ingin mengetahui informasi tentang tanaman ganja atau cannabis. Dan satu hal yang tidak dapat dipungkiri, buku ini pun seakan menegaskan akan kebenaran kitab suci bahwa Tuhan tak menciptakan satu tanaman pun di muka bumi ini dengan sia-sia. Buktinya, tanaman ganja yang oleh sebagian besar orang dianggap sebagai "tanaman jahat" dan "merusak" generasi muda, ternyata juga menyimpan setumpuk manfaat dan kegunaan dalam peradaban umat manusia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; *) N. Mursidi, peneliti pada Al-Mu`id Institute, Lasem, Jawa Tengah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-4357421977058752244?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/4357421977058752244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=4357421977058752244' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4357421977058752244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4357421977058752244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2012/01/mengungkap-fakta-pohon-ganja.html' title='Mengungkap Fakta Pohon Ganja'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-eXg3n5muKQg/TxwUxcxpzmI/AAAAAAAACMk/yZ_Fxgx4W88/s72-c/hikayat+pohon+ganja+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-6239014954070328278</id><published>2011-12-17T17:46:00.001+07:00</published><updated>2011-12-21T20:25:49.251+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku true story'/><title type='text'>Potret Keteladanan dalam Mendidik Anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gLy2kmheSCk/TuxzlRQyKsI/AAAAAAAACL4/hgEW0salnJ4/s1600/saga+no+gabai+bachan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-gLy2kmheSCk/TuxzlRQyKsI/AAAAAAAACL4/hgEW0salnJ4/s200/saga+no+gabai+bachan.jpg" width="132" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;resensi ini dimuat di &lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/content/read/potret-keteladanan-dalam-mendidik-anak/" style="color: #cc0000;"&gt;Sinar Harapan&lt;/a&gt;, Sabtu - Minggu 17-18 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku&amp;nbsp; : Saga No Gabai Baachan: Nenek Hebat dari Saga&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Yoshichi Shimada&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Kansha Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Pertama, 2011&lt;br /&gt;Tebal buku : 264 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PERANG memang kerap kali mengundang petaka dan kepedihan. Sebab warga tak berdosa -seperti kaum wanita dan anak -sering menjadi korban; meninggal dengan sia-sia, terluka bahkan mengalami trauma berkepanjangan. Kepedihan akibat perang pun seperti "leleran darah" yang tak mudah dihapus dari ingatan sejarah. Apalagi kalau perang itu telah merenggut jiwa orang yang dicintai dan menjadikan hidupnya terlunta. Perang pun akan selalu diingat sebagai prahara besar yang mewariskan setumpuk duka; melahirkan kemiskinan, penderitaan, dan kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Duka akibat perang itulah yang dialami oleh Akihiro, ketika kota Hiroshima dihancurkan oleh Sekutu dengan bom atom. Memang, ia dan keluarganya selamat. Sayang, tak lama kemudian radiasi bom atom telah merenggut jiwa ayahnya. Akihiro pun harus menelan penderitaan; dia jadi yatim dan harus bertahan hidup bersama sang ibu. Tapi jeratan kemiskinan mendera ibunya; harus menjadi wanita single parent dan berjuang keras untuk bekerja. Akibatnya, Akihiro pun tak terurus. Catatan penderitaan itu ternyata belum usai. Karena tak memiliki waktu untuk mendidik Akihiro, sang ibu kemudian mengambil keputusan pahit; ketika naik kelas 2 SD, Akihiro dititipkan ke rumah neneknya, nenek Osano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di rumah nenek Osano, Akihiro seperti semakin terhimpit duka. Sebab kehidupan sang nenek (yang tinggal di Saga itu) jauh lebih miskin. Di rumah neneknya, ia harus memasak nasi sendiri lantaran pukul 4 pagi, neneknya sudah pergi bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Universitas Saga. Lengkap sudah perjalanan hidup Akihiro; dia menjadi yatim lalu didera kemiskinan, berpisah dengan ibunya dan terakhir harus hidup bersama neneknya yang jauh lebih miskin. Tetapi di tengah deraan nasib pahit dan kemiskinan itu, neneknya tetap tegar menjalani hidup. Lebih dari itu, sang nenek tergolong cerdik dalam mendidik Akihiro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meski hidup miskin, sang nenek bisa bertahan dengan cara kreatif; memanfaatkan magnet untuk mencari sampah-sampah logam untuk kemudian ditukar dengan uang. Bahkan untuk menu sayuran, neneknya memiliki galah panjang yang bisa menghadang sayuran dan buah-buahan yang hanyut di sungai depan rumah. Sang nenek tak pernah dikalahkan keadaan. Ia punya seribu cara untuk bisa bertahan hidup dan menjalaninya dengan penuh tawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kehebatan sang nenek dalam menghadapi hidup itu, memaksa Akihiro pun menjadi anak yang kreatif dan hebat. Meski pun tak tergolong cerdas, Akihiro bukanlah anak yang mudah menyerah. Akihiro pun tumbuh besar dengan memiliki kegeguhan jiwa, dan bermental baja, bahkan dia cukup membanggakan sang nenek karena bisa menjadi kapten baseball. Walau bagaimana pun, prestasi itu tidak lepas dari didikan sang nenek yang kerap memintanya latihan lari, dan berkat latihan itu Akihiro bisa menjuarai lomba lari dan terpilih sebagai kapten baseball. Prestasi dalam olah raga itulah yang mengantarkan ia meraih beasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kisah Akihiro dan sang nenek -dalam buku ini- tak saja mengharukan tapi juga penuh hikmah dan menyimpan setumpuk pelajaran yang dapat dijadikan tauladan bagi orang tua dan para guru dalam mendidik anak. Setidaknya, ada beberapa prinsip hidup yang patut untuk direnungkan dari nenek Osano ketika ia mendidik Akihiro. Pertama, pelajaran mendidik anak dalam belitan kemiskinan. Mungkin akan lain cerita jika sang nenek kaya dan bisa memenuhi kebutuhan Akihiro. Tapi dengan keterbatasan itu, neneknya tetap tak kehilangan akal untuk mendidik Akihiro dengan cara yang cerdas, bahkan dari cara ia mengasuh Akihiro, bisa mengantarkan Akihiro tumbuh kreatif. Kedua, mewariskan mental dan cara dalam melihat kemiskinan. Meskipun sang nenek hidup miskin, ia tetap percaya diri bahkan menghadapi dengan ceria. Jarang, ada orang yang hidup dalam jurang kemiskinan tapi bisa &lt;br /&gt;tetap ceria dan tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketiga, keinginan untuk menjalani hidup yang (lebih) baik. Itulah yang membuat Akihiro menjulukinya tidak saja nenek hebat tetapi juga nenek yang baik. Meski hidup miskin, ketika ada orang yang butuh, neneknya tak segan-segan mengulurkan uang. Kemiskinan memang tidak layak untuk ditangisi. Kemiskinan --walau pahit-- haruslah dihadapi dengan ketegaran dan jika perlu dilihat sebagai peluang. Dengan melihat kemiskinan sebagai peluang, maka akan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;lahir pemikiran kreatif (cerdik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Itulah yang kemudian membuat Akihiro hidup bahagia dan sukses. Sebab dibalik duka hidup yang serba kekurangan, tersimpan pelajaran dan nilai-nilai hidup neneknya yang mengokohkan mental Akihiro. Cerita dalam buku ini sungguh sebuah kisah yang hebat; kisah tentang heroisme mendidik anak di tengah belitan kemiskinan tapi neneknya menghadapi semua itu dengan canda dan tawa. Dan buku ini adalah secuil pembayaran utang Akihiro akan tempaan hidup yang diajarkan oleh nenek Osano.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; *) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-6239014954070328278?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/6239014954070328278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=6239014954070328278' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6239014954070328278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6239014954070328278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/12/potret-keteladanan-dalam-mendidik-anak.html' title='Potret Keteladanan dalam Mendidik Anak'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gLy2kmheSCk/TuxzlRQyKsI/AAAAAAAACL4/hgEW0salnJ4/s72-c/saga+no+gabai+bachan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-8124581023686382292</id><published>2011-12-10T07:50:00.001+07:00</published><updated>2011-12-10T07:55:47.966+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>Spirit Hidup dari Sebuah Cerita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-wqm0Gcijv00/TuKtiD-ex3I/AAAAAAAACLg/HPJxWxUzufk/s1600/the+forest_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-wqm0Gcijv00/TuKtiD-ex3I/AAAAAAAACLg/HPJxWxUzufk/s200/the+forest_n.jpg" width="132" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: red;"&gt;Harian Pelita&lt;/span&gt;, Sabtu 10 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : The Forest of Hands and Teeth&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp; : Carrie Ryan&lt;br /&gt;Penerbit: Kubika, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan: Pertama, 2010&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 392 hlm.&lt;br /&gt;Harga&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 57.000,- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KEHIDUPAN di dunia ini, memang tidak abadi. Kematian menjadi semacam akhir kisah yang tidak terelakkan dan menjadi jawaban dari akhir sebuah kehidupan. Kelak -sebagaimana digambarkan dalam kitab suci berbagai agama-- manusia akan menjumpai hari akhir, dan kemudian ia akan mengalami ending. Tetapi, apa jadinya jika penduduk bumi yang sesak dan terdiri dari berbagai suku bangsa ini tiba-tiba habis, dan sebelum terjadi hari akhir itu justru tersisa segelintir orang di sebuah desa terpencil? Sungguh sebuah kehidupan yang tidak terbayangkan! &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan pada masa kepunahan umat manusia yang tinggal segelintir di kampung terpencil itulah yang digambarkan oleh Carrie Ryan dalam novel ini. Tragisnya, pada masa itu umat manusia punah tak dengan cara yang wajar, tidak mati akibat sakit atau tua, tetapi kalah bertahan hidup akibat ancaman Ternoda --bangsa zombie. Ternoda yang digambarkan tidak dapat musnah atau mati, kecuali dipenggal dan dibakar, seiring dengan perjalanan waktu: menjadi bangsa yang menghuni bumi dan bernafsu membantai umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, kehidupan manusia pun mendekati akhir. Desa sunyi dan terpencil di dekat Belantara Tangan dan Giri, konon -menurut cerita- jadi satu-satunya desa tersisa. Di desa itu, tinggal Mary, Jed (kakak Mary), Beth (istri Jed), Travis, Harry, Cas, Yakob dan penduduk lain --termasuk para biarawati yang "memegang otoritas" dalam kehidupan. Tak ada yang tahu: bagaimana desa itu jadi desa terakhir dalam kehidupan. Juga tidak ada yang tahu, bagaimana sejarahnya kehidupan bangsa Ternoda itu berasal dan bisa menguasai bumi dan mengancam umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai satu-satunya umat manusia terakhir yang menghuni bumi, warga desa itu berjuang sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup dan menurunkan generasi berikutnya -beranak-pinak. Karena itu, Mary yang mendekati usia pernikahan, mendapat mandat kelak dapat memberi anak. Ironisnya, pernikahan yang dilangsungkan di desa itu (dikendalikan para biarawati yang dipimpin oleh Suster Tabitha) didasarkan pada komitmen, bukan pada ikatan cinta. Karena itu, Mary tak dapat mengelak ketika suster Tabitha memilihkan Harry jadi calon suaminya. Padahal, ia sebenarnya mencintai Travis --adik Harry. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, untuk bertahan hidup dari serbuan Ternoda, penduduk membangun panggung perlindungan dan memagari desa. Apalagi, sudah tak terhitung korban yang tertular dan berubah jadi zombie setelah kena gigitan --termasuk ibu dan ayah Mary. Beberapa kali, bangsa zombie menyerang desa, penduduk desa masih mampu bertahan. Tapi kawanan Ternoda yang dihinggapi lapar, sehari sebelum Mary dan Harry melakukan janji pengikatan untuk jadi suami-istri, tiba-tiba menerobos desa. Penduduk kalang kabut. Semua punah, termasuk suster Tabitha kecuali: Mary, Jed (kakak Mary), Beth (istri Jed), Harry, Travis, Cash serta Yakob. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar desa diterjang. Panggung perlindungan dikepung. Untung Mary, Jed, Beth, Harry, Travis, Cash dan Yakob bisa menjangkau jalan setapak yang jadi jalan aman terakhir. Jalan itu tanpa disadar Mary ternyata menyimpan kode rahasia. Dengan jalan setapak itu mereka berjuang keras untuk dapat selamat dari serangan Ternoda. Apa mereka bisa keluar? Siapa di antara mereka yang selamat dan bisa melihat laut? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan mereka untuk selamat dari ancaman Ternoda itu diceritakan cukup mendebarkan oleh Carrie. Tak hanya mendebarkan tetapi Carrie Ryan mengajak pembaca merenungkan akan ancaman kematian dan harapan tentang keluar dari desa dengan teka-teki kode rahasia --yang ditemukan Mary dalam beberapa lempengan yang menandai jalan setapak, di pintu gerbang dan angka misterius yang digoreskan Grabiella di kaca katedral. Satu hal yang ingin dipecahkan Mary, bahwa "angka-angka" itu tentu memiliki pola dan arti. Tetapi, pengarang bisa menutupi teka-teki itu dalam sepanjang jalan cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misteri lain yang dijejalkan pengarang adalah perihal terowongan di bawah biara, rahasia biarawati yang di mata Mary menyembunyikan setumpuk hal aneh --Gabriella yang tiba-tiba muncul misterius di biara, lalu berubah jadi Ternoda. Tidak hanya itu, keberadaan desa mati di sebelah Belantara Tangan dan Gigi yang sempat disinggahi gerombolan Mary. Juga, lembaran koran dan keberadaan gedung bertingkat pada lembaran foto yang ditemukan Mary. Dengan patahan-patahan simbolisme itu, Cary seakan ingin menegaskan bahwa semua itu nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini sarat dengan gugatan akan "simbol dan otoritas keagamaan". Peran biarawati yang memegang otoritas tunggal yang mengatur kehidupan, jadi satu bukti kuat akan "kekuasaan agama" yang kerap dijadikan tameng kekuasaan dengan menjadikan simbol agama sebagai modal untuk berkuasa. Hak itulah yang dipegang para biarawati. Pada konteks ini, pengarang ingin menggugat otoritas itu, tapi dalam balutan cerita yang halus. Salah satu gugatan itu adalah adanya manusia lain di luar desa. Lebih dari itu, pengarang ingin meniupkan harapan apalagi jika itu memang dapat membawa spirit yang menguatkan jiwa meski bersumber dari cerita. Dan cerita laut yang didengar Mary dari ibunya waktu ia masih kecil itu,&amp;nbsp; seakan menjadi spirit bagi Mary untuk tetap bertahan hidup karena ia ingin melihat laut. Dan spirit Mary untuk selamat itu yang jadi spirit novel ini bahwa dalam keadaan mencekam pun, laut menjadi simbol akan kehidupan. ***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-8124581023686382292?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/8124581023686382292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=8124581023686382292' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8124581023686382292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8124581023686382292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/12/spirit-hidup-dari-sebuah-cerita.html' title='Spirit Hidup dari Sebuah Cerita'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-wqm0Gcijv00/TuKtiD-ex3I/AAAAAAAACLg/HPJxWxUzufk/s72-c/the+forest_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-6909034816543632281</id><published>2011-12-04T07:47:00.001+07:00</published><updated>2011-12-04T07:53:14.206+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku biografi'/><title type='text'>Sukses Mewujudkan Mimpi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-kbHjkhy5gO0/TtrDlM1FtDI/AAAAAAAACLQ/lCeWbweYF7M/s1600/00_mimpi+sejuta+dollar_2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-kbHjkhy5gO0/TtrDlM1FtDI/AAAAAAAACLQ/lCeWbweYF7M/s200/00_mimpi+sejuta+dollar_2.jpg" width="142" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;resensi ini dimuat di &lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/448624/" style="color: red;"&gt;Seputar Indonesia&lt;/a&gt;, Minggu 4 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku&amp;nbsp; : Mimpi Sejuta Dolar&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Alberthiene Endah&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; : Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; : Pertama, September 2011&lt;br /&gt;Tebal buku&amp;nbsp; : 388 halaman&lt;br /&gt;ISBN &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 978-979-22-7481-3&lt;br /&gt;Harga &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Rp. 63.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SUNGGUH luar biasa dan mengagumkan! Itulah ungkapan yang pas untuk disematkan di pundak Merry Riana, wanita muda Indonesia yang kini jadi miliuner, diakui sebagai pengusaha sukses, motivator dan penulis buku terlaris di Singapura. Padahal, dulu waktu kuliah di Singapura, ia harus menelan "ludah pahit". Ia menanggung utang 40 ribu dollar yang ia pinjam dari Development Bank of Singapore untuk kuliah di Nanyang Technological University, Singapura. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tapi di tengah kondisi hidup pas-pasan itu, Merry ternyata memiliki strategi bertahan hidup yang luar biasa. Bahkan, selain itu ia mampu bangkit dari keheningan kemiskinan. Ia rela meredam segala keinginan bersenang-senang, hidup sederhana bahkan hemat --dengan mengkonsumsi mie instan hampir tiap hari dan menahan lapar lantaran tidak mampu membeli lauk yang mewah. Dengan kegigihan, tekat yang kuat, disiplin yang tinggi, bahkan melibatkan Tuhan dalam bekerja, akhirnya mimpi yang ia cita-citakan itu berhasil direngkuh setelah kerja dengan keras. Ia mampu mengumpulkan uang sejuta dolar ketika masih terbilang muda, 26 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidup Merry yang penuh lika-liku itulah yang dituturkan Alberthiene Endah dengan bahasa yang mengalir lancar, indah, dan sungguh menggugah hati pembaca. Alberthiene Endah bisa mengungkap hampir setiap langkah yang dijejakkan Merry ketika mulai tantangan baru kuliah di Singapura dan harus menahan lapar hingga bisa mengukir prestasi gemilang sebagai seorang lulusan sarjana atau anak muda yang sukses lantaran mampu mewujudkan mimpinya meski dihadang keterbatasan dan kemiskinan. Apa rahasia di balik kecemerlangan prestasi Merry sehingga ia mampu meraih mimpi spektakuler dan terbebas dari belitan beban finasial di usia yang tergolong masih muda? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjalani pekerjaan demi pekerjaan, ia mendapatkan tiga hal penting dalam proses perjuangan meraih mimpi; tekat kuat, strategi terarah dan kedekatan kepada Tuhan. Merry yang sudah memulai kerja saat libur pada tahun kedua kuliah, awalnya bekerja jadi penyebar brosur di tempat umum. Lalu, pekerjaan demi pekerjaan ia lakoni seperti jadi pegawai toko bunga, pramusaji di hotel, menjajaki multilevel marketing, jual beli saham hingga menjual produk keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekat Merry begitu kuat dibuktikan dengan kerja keras yang luar biasa. Ia kerja lebih keras dari dari orang lain. Tak mustahil, jika ia dapat meraih hasil luar biasa. Sejak tahun pertama jadi sales, ia sudah mendobrak pencapaian target yang dahsyat. Padahal Merry jadi sales yang menjual produk di jalanan -di halte bus dan stasiun. Tapi, ia berhasil meraih pencapaian target terbaik di kategori sales baru, bahkan tertinggi. Dengan kiprah itu, ia dianggap berhasil memecahkan rekor di industri keuangan Singapura. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat ia tak saja menduduki jabatan manager, tapi pada 2003 ia sudah melunasi utang pendidikan sebesar 40 ribu dolar. Pada tahun itu juga, ia berhasil mengumpulkan investasi mencapai 900 ribu dollar. Prestasi yang kemudian mengantarkan Merry menjadi presiden Strat Club saat ia masih berusia 24 tahun. Jadi, ia tergolong termuda sebagai presiden Strat Club sepanjang sejarah. Usai memberi sambutan sebagai presiden Strat Club, sejumlah orang mendekati Merry untuk menyatakan kekaguman. Dan&amp;nbsp; banyak sales yang digelayuti penasaran dan "ingin tahu" di balik keberhasilan Merry. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku kerja empat belas jam sehari, tujuh hari dalam seminggu dan dua puluh kali presentasi sehari, dan ada trik-trik ringan menghadapi calon nasabah. Tapi, di atas semua itu, aku fokus pada resolusiku, aku ingin mencapai kebebasan&amp;nbsp; finansial sebelum usiaku tiga puluh," jawab Merry (hal. 277). Dan mimpi Merry itu menjadi kenyataan. Setelah ia menduduki jabatan sebagai Presiden Strat Club, keberhasilan Merry itu pun ditulis di banyak media di Singapura. Ia dikenal banyak orang. Apalagi setelah itu ia mengumpulkan sejuta dolar di usia 26 tahun. Sebuah mimpi yang indah tapi diraih tidak dengan mudah, tapi dengan kerja keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari untaian kata-kata Alberthiene Endah&amp;nbsp; yang terukir indah dalam buku ini, perjuangan Merry Riana dalam mencapai prestasi tidak saja indah untuk dikenang. Tapi dari kerja keras yang ditorehkan sarjana teknik elektro lulusan NTU Singapira ini, pembaca bisa melihat semangat Merry yang "terekam" dalam buku ini; menularkan spirit tentang kekuatan kerja keras dalam meraih impian. Sebagaimana dituturkan Alberthiene Endah, Merry mengungkapkan "kebanyakan orang memiliki cita-cita untuk sukses tapi keinginan untuk bekerja keras tidak dimiliki oleh setiap orang" (hal 279). Dan Merry telah membuktikan bahwa kerja kerasnya itu menjadikan cita-citanya bisa diraih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, buku ini seakan menegaskan kepada pembaca untuk tak meremehkan kekuatan mimpi. Sebab, mimpi itu adalah titik awal dari sebuah keberhasilan. Dan kesuksesan itu akan jatuh kepada orang yang memiliki dedikasi, disiplin, kerja keras, dan komitmen yang kuat. Kehidupan Merry ini adalah cermin bagi pembaca untuk tetap tidak menyerah. Semangat yang ditularkan Merry dalam buku ini adalah suntikan berharga. Ini sungguh bukti nyata dari prestasi yang tak bisa dianggap biasa-biasa saja. Pasalnya, Merry bekerja dengan luar biasa dan berhasil meraih hasil yang luar biasa. ***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, aktivis pada Yayasan Anak Layang-Layang, Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-6909034816543632281?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/6909034816543632281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=6909034816543632281' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6909034816543632281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6909034816543632281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/12/sukses-mewujudkan-mimpi.html' title='Sukses Mewujudkan Mimpi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-kbHjkhy5gO0/TtrDlM1FtDI/AAAAAAAACLQ/lCeWbweYF7M/s72-c/00_mimpi+sejuta+dollar_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-2917818579102756608</id><published>2011-11-22T09:32:00.001+07:00</published><updated>2011-11-23T01:02:30.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='program Indonesia menulis'/><title type='text'>Sekolah Menulis Gratis ("Program Indonesia Menulis")</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GXnwC8JKeTQ/TssMlUkdeQI/AAAAAAAACLI/IQ2lr-zbFjQ/s1600/penulis.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-GXnwC8JKeTQ/TssMlUkdeQI/AAAAAAAACLI/IQ2lr-zbFjQ/s200/penulis.jpg" width="160" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya, sudah lama aku ingin mendirikan "sekolah menulis gratis". Tapi rasa minder dan perasaan kurang percaya diri --karena dulu aku belajar menulis dari jalanan-- membuatku urung untuk mewujudkan cita-cita itu. Hingga akhirnya, aku diundang tim kreatif Apa dan Siapa (TVOne). Di akhir acara, host Apa dan Siapa yang saat itu dibawakan Indiarto Priadi bertanya,&amp;nbsp; "Setelah Anda jadi penulis, apa sumbangsih anda pada orang lain terlebih anak-anak jalanan yang mengalami nasib seperti Anda?" Dengan sedikit kikuk aku menjawab setengah bergetar, "Aku ingin mendirikan sekolah menulis gratis terutama bagi anak yang kurang mampu yang bernasib sepertiku dulu."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terus terang, "jawaban" itu aku anggap sebagai utang kemanusiaan dan membuatku dihantui pikiran berdosa jika aku tidak mewujudkan dengan segera impian tersebut. Maka dalam kesempatan kali ini aku bertekat memenuhi janjiku untuk membuka sekolah menulis gratis. Ada tiga alasan kenapa aku akhirnya berani membuka sekolah menulis gratis ini. Pertama, dahulu sewaktu aku datang ke Yogyakarta dan karena diterpa "kondisi finansial" yang kurang menguntungkan, aku akhirnya menjadi penjual koran di jalanan. Waktu itu, aku ingin sekali jadi penulis. Apalagi setelah aku menjumpai beberapa penulis yang namanya kerap muncul di halaman koran. Ketika itu, aku ingin seperti mereka; bisa menulis di koran. Tapi, aku kesulitan mencari guru menulis. Bahkan, sebagian penulis yang aku datangi merasa enggan membagi wawasan, pengetahuan dan pengalaman menulis.Aku tak ingin orang lain yang ingin jadi penulis mengalami nasib sepertiku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, sebagian besar kursus menulis tidak cuma-cuma atau gratis. Bahkan, sebagian besar sekolah menulis mematok biaya cukup tinggi --apalagi sekarang ini. Saat itu, aku yang hanya anak jalanan dan kebetulan kuliah selalu membayar SPP dengan ngutang, tentu tak bisa mengikuti kursus menulis dengan mengeluarkan uang. Dalam hati aku berpikir, bagaimana anak sepertiku bisa meraih sukses jika tidak ada yang peduli atau mengulurkan tangan? Aku pun bertekat, jika kelak aku sudah menjadi penulis, aku akan mengulurkan tangan kepada orang lain yang mengalami nasib sepertiku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, sudah hampir 13 tahun aku menekuni dunia tulis menulis --mulai dari munulis resensi buku, cerita pendek, esai, dan opini. Sudah 300 lebih tulisanku dimuat di media massa --nasional dan lokal. Dalam rentang waktu selama 13 tahun itu, tidak sedikit pengalaman yang telah aku dapatkan. Sayangnya, selama itu aku merasa belum memberi "manfaat" kepada orang lain, kecuali aku mendapat honor dan tentu itu aku nikmati sendiri. Maka kini aku merasa sudah waktunya untuk berbagi pengalaman menulis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga (3) alasan itulah yang kini membuatku berani untuk membuka sekolah menulis gratis dengan slogan "Program Indonesia Menulis". Adapun "Progam Indonesia Menulis" di sini meliputi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1). Menulis Resensi Buku &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2) Menulis Cerita Pendek&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 3) Menulis Esai dan Opini&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4) Menulis Buku dari Pengalaman Pribadi (True Story)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5) Menulis Novel&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan 5 program menulis itu, aku berharap Anda tidak sekadar jadi penulis biasa, melainkan Anda akan dibimbing bisa menulis di koran dan kelak bisa menerbitkan buku atau novel. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekolah menulis Gratis "Program Indonesia Menulis" ini memang tak dipungut biaya --alias gratis. Tapi, ada syarat yang harus dipenuhi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1) Sekolah Menulis ini diutamakan bagi mereka yang kurang mampu tetapi bisa juga bagi siapa saja yang serius ingin menjadi penulis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2) Bersedia menandatangi surat perjanjian "jika kelak Anda menjadi penulis, Anda akan membagikan ilmu, wawasan, dan pengalaman menulis" minimal kepada tiga orang (tanpa memungut biaya). Jadi dengan Program Indonesia Menulis ini diharapkan akan membentuk rantai jaringan menulis di seluruh Indonesia. Tak pelak, jika di kemudian hari akan lahir banyak penulis. Sebab ilmu dan pengalaman menulis yang dibagikan itu akan berkesinambungan dan lebih bermanfaat daripada tidak dibagi kepada siapa pun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk peserta di wilayah Jakarta, proses belajar dilakukan secara tatap muka dan online. Sementara untuk peserta di luar Jakarta, proses belajar dilakukan secara online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika Anda berminat dan berkeinginan kuat untuk menjadi penulis, silakan kirim "surat pengajuan" ke email nur_mursidi@yahoo.com cc: programindonesiamenulis@yahoo.com&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N. Mursidi &lt;br /&gt;Pendiri "Program Indonesia Menulis"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-2917818579102756608?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/2917818579102756608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=2917818579102756608' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2917818579102756608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2917818579102756608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/11/sekolah-menulis-gratis-program.html' title='Sekolah Menulis Gratis (&quot;Program Indonesia Menulis&quot;)'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-GXnwC8JKeTQ/TssMlUkdeQI/AAAAAAAACLI/IQ2lr-zbFjQ/s72-c/penulis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-8723445368924026359</id><published>2011-11-20T11:10:00.001+07:00</published><updated>2011-11-20T11:45:15.211+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='secuil proses kreatif'/><title type='text'>Sekelumit Kisah di balik acara "Apa dan Siapa" di TVOne</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lMdwDfM-mRI/Tsh93KoGiGI/AAAAAAAACLA/Ldn-dA6zgSE/s1600/acara+apa+dan+siapa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-lMdwDfM-mRI/Tsh93KoGiGI/AAAAAAAACLA/Ldn-dA6zgSE/s200/acara+apa+dan+siapa.jpg" width="155" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku --sebenarnya-- bukan siapa-siapa. Tidak ada yang istimewa. Tak ada yang patut dibanggakan. Dari SD sampai kuliah nyaris selalu digulung setumpuk kegagalan. Setelah lulus SD, tak bisa meraih impian bisa&amp;nbsp; masuk sekolah SMP favorit. Ketika lulus SMP, kembali tak lagi bisa merengkuh mimpi bisa masuk SMA unggulan. Bahkan ketika lulus SMA, dua kali gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri dan terpaksa harus menganggur selama dua tahun. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rentetan kegagalan itu kerap membuatku serasa tersingkir di luar arena. Tidak jadi apa-apa. Tidak bisa mewujudkan apa yang selama ini menjadi harapan orangtua. Akhirnya, setelah nganggur dua tahun, aku pun diimpit sesak pikiran. Hidup di sebuah kampung kecil (di daerah Lasem, Rembang Jateng) membuatku dihantam badai kegelisahan. Apalagi, setelah tiga temanku sudah menentukan pilihan. Aku tersentak&amp;nbsp; dan berpikir: kalau aku tinggal di kampung selamanya, pasti aku tak akan pernah bisa mengubah nasib. Aku kemudian memutuskan ke Yogyakarta. Di kota itulah, aku kuliah di Universitas swasta (Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, harapan indah itu berubah jadi kenestapaan. Tepat sebulan di Yogya, tiba-tiba ayahku jatuh sakit dan kondisi itu memengaruhi keuangan keluargaku. Ada dua (2) pilihan yang saat itu harus aku ambil: aku tetap kuliah dengan modal nekat atau pulang kampung. Aku memilih tetap kuliah meski dengan terlunta-lunta. Jualan koran di jalanan, sempat tidak memiliki kost (terpaksa harus numpang&amp;nbsp; kontrakan teman secara bergantian dan bergiliran), sempat tidur di jalanan (sering tidur di Malioboro dan alun-alun wetan), hidup "nomaden" dengan mengandalkan sepeda onthel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kehidupan di jalanan itu justru membuatku merasa benar menjalani kuliah yang sebenarnya. Apalagi, ketika aku tidak lagi mampu membayar biaya kuliah dan kemudian keluar.&amp;nbsp; Dari sanalah, aku tersadar dan kemudian belajar menulis; "menulis dari jalanan". Sehabis jual koran, aku pergi ke perpustakaan Daerah (di Malioboro dan Jalan Tentara Rakyat Mataram) Yogyakarta dan malam hari belajar menulis. Di saat teman-temanku pergi kuliah, aku "kuliah di jalan". Rupanya, semua itu menjadi modal bagiku untuk bangkit dan bertekat mengubah nasib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, aku memutuskan mencari kampus yang murah. Tujuanku waktu itu, agar aku tidak disuruh pulang oleh ibuku. Maka, aku pun mendaftar kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebab, jika aku di Yogyakarta hanya jualan koran, pasti ibuku akan meminta untuk pulang. "Ngapain jauh-jauh ke Yogyakarta jika hanya jualan koran?" Itulah alasanku memilih kuliah lagi. Tapi, intinya, di jalanan itulah aku justru mendapatkan pelajaran dan mata kuliah kehidupan yang sejati. Aku berkumpul dengan pegadang asongan, anak jalanan, pengamen, pencopet, dan preman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan jalanan yang keras dan bahkan kejam itu justru meneguhkanku untuk kuat dan tidak ditikam putus asa ketika tulisanku tidak dimuat di koran. Aku yang semula menulis cerpen, belajar fotografi (untuk aku kirim ke koran) kemudian beralih menulis resensi. Rupanya, "jalan" lempang dari menulis resensi itu mengawali karierku di dunia menulis --meski untuk pertama kali karyaku yang dimuat sebenarnya adalah bidang fotografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tak ada yang tahu kehidupanku di jalanan, kecuali hanya teman-teman dekatku. Wajar ketika beberapa tahun kemudian tulisanku sudah mulai sering dimuat, tidak ada penulis lain yang tahu jika aku memulai karier menulis dari jalanan. tak mustahil, ketika aku sudah pindah ke Jakarta dan kemudian Endah Sulwesi (yang ketika itu masih bekerja sebagai markom penerbit Serambi) mengundangku untuk bicara tentang dunia tulis menulis -bersama Ibu Leila S. Chudori dari Tempo- nyaris semua peserta terbelak kaget. Bahkan, Endah sendiri tak menyangka jika aku memulai karier menulis dari jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tiga hari kemudian, ketika aku bertemu dengan Endah Sulwesi di stand Serambi (di acara&amp;nbsp; Islamic Books Fair 2011), Endah berseloroh, "Tidak kusangka jika kisah hidupmu dalam dunia tulis menulis begitu menginspirasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menimpali dengan seulas senyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali menjanjikan, "Teman-teman dari Goodreads Indonesia juga ingin mengundangmu. Semoga kau tidak keberatan jika suatu hari nanti diundang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh. Tapi, sejujurnya aku tidak pernah berbicara di depan umum. Dan kemarin itu adalah pengalamanku pertama berbicara di depan umum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah terkejut dengan pengakuanku itu. Hening menguar. Tetapi, tak kusangka, tiba-tiba Endah memecah keheningan. "Rasanya, sebentar lagi kamu akan diundang salah satu stasiun televisi. Kau akan masuk TV."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika aku bisa masuk TV itu berarti semua ini bermula dari kebaikan Endah yang telah mengundangku jadi pembicara. Jadi kaulah orang yang berjasa. Karena kamu yang pertama mengawali untuk mengundangku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, aku menjawab dengan tanpa pretensi. Tetapi prediksi Endah ternyata menjadi kenyataan. Sekitar lima bulan kemudian, tiba-tiba Mas Dedi Prasetia menulis email kepadaku dan memintaku jadi narasumber di acara APA dan SIAPA di TVOne. Semula, aku merasa undangan itu hanyalah gurauan. Mana mungkin aku yang bukan siapa-siapa ini diundang untuk tampil di TVOne. Kendati demikian, dalam menjawab email itu aku memberikan nomor handphone-ku. Ketika itu, istriku sudah memasuki hari kelahiran. Maka, aku pun memesan tiket pulang (tanggal 18 Agustus 2011) ke kampung untuk menemani kelahiran istriku. Siang hari sebelum aku pulang, Mas Dedi Prasetia menghubungiku. Dia memintaku hadir di studio TVOne hari Senin, tanggal 22 Agustus 2011. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berani menjanjikan, aku pun setengah hati menyanggupi --dengan catatan jika anakku belum lahir. Sampai hari Minggu, ternyata anakku belum lahir. Maka, esok harinya, tanggal 22 Agustus 2011 aku yang saat itu sudah berada di Demak diterbangkan oleh Mas Dedi Prasetai ke Jakarta. Malam itu, aku menjalani syuting --taping-- untuk acara Apa dan Siapa di studio TVOne. Syuting berjalan lancar, dan esoknya aku kembali diterbangkan ke Semarang. Rupanya, setibaku&amp;nbsp; di Demak istriku masih belum&amp;nbsp; melahirkan&amp;nbsp; Padahal, perkiraan dokter anakku lahir tanggal 15 Agustus 2011. Akhirnya, tepat tanggal 27 Agustus 2011, anakku baru lahir. Jadi, syuting di acara Apa dan Siapa di TVOne itu sebenarnya berkah dari Tuhan untuk menyambut kelahiran anakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih tiga bulan kemudian, taping acara Apa dan Siapa itu ditayangkan, tepat pada hari Jum`at 18 November 2011 pukul 13.30-14.30 WIB. Dalam acara itu, aku diundang untuk dimintai bercerita tentang kehidupanku dulu sewaktu jadi anak jalanan dan proses perjuangan panjangku menjadi penulis. Maka titel untuk acara Apa dan Siapa itu diberi judul "Dari Jalanan Untuk Masa Depan". Semoga tayangan itu memberi asupan energi dan "inspirasi" bagi pemirsa untuk tetap optimis dengan apa pun keadaan yang dialami. Sebab Tuhan selalu mengulurkan tangan bagi hamba-Nya yang mau mengubah nasib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan itu kupersembahkan kepada anakku; sebagai bekal menatap masa depan. Dan aku? Sampai kapan pun tetap bukan siapa-siapa. Aku hanya orang biasa. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 November 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-8723445368924026359?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/8723445368924026359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=8723445368924026359' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8723445368924026359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8723445368924026359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/11/sekelumit-kisah-di-balik-acara-apa-dan.html' title='Sekelumit Kisah di balik acara &quot;Apa dan Siapa&quot; di TVOne'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-lMdwDfM-mRI/Tsh93KoGiGI/AAAAAAAACLA/Ldn-dA6zgSE/s72-c/acara+apa+dan+siapa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-8049638134140081554</id><published>2011-11-19T07:26:00.001+07:00</published><updated>2011-11-19T07:34:52.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>Meraih Kesuksesan dengan Kekuatan Otak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-hzuHKP191bI/Tsb4fFWEASI/AAAAAAAACK0/r5UOV2ExCsw/s1600/furin+kazan+2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-hzuHKP191bI/Tsb4fFWEASI/AAAAAAAACK0/r5UOV2ExCsw/s1600/furin+kazan+2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;resensi ini dimuat di &lt;a href="http://www.pelitaonline.com/read-cetak/7985/meraih-kesuksesan-dengan-kekuatan-otak/"&gt;&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;Harian Pelita&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Sabtu 19 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku: Furin Kazan&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; : Yasushi Inoue&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Kansha Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Pertama, 2010&lt;br /&gt;Tebal buku: 288 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;FAKTOR apa yang menjadikan seseorang bisa meraih kesuksesan? Jika jawaban dari pertanyaan itu adalah karena faktor kesempurnaan fisik, jelas itu tak sepenuhnya benar. Sebab tak sedikit orang-orang sukses yang sebenarnya memiliki fisik tidak sempurna, cacat dan bahkan kurang mendukung untuk bisa meraih cita-cita yang diinginkan, ternyata bisa sukses. Dengan harapan hidup, dan mimpi besar yang ingin mereka rengkuh di kelak kemudian hari, kondisi fisik yang catat itu ternyata tidak menjadi penghalang.&amp;nbsp; Itu tidak lain --karena-- mereka memanfaatkan "kekuatan" dari potensi otak. Tak salah, mereka kemudian bisa melampaui kecacatan fisik dan bisa merengkuh kesuksesan. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yamamoto Kansuke (1501-1561), salah seorang ahli stategi perang Klan Takeda adalah salah satu contoh. Padahal ia itu orang catat: buta sebelah dan pincang. Lebih dari itu, nyaris tidak ada orang yang melihat bahwa ia memiliki kelebihan. Tak salah, jika selama bertahun-tahun ia ikut Klan Imagawa, ia tidak lebih seperti orang biasa. Bahkan ia dianggap tidak penting. Tak ubahnya seperti seorang samurai anak bawang. Tapi tatkala datang kesempatan ia bisa bergabung untuk mengabdi Klan Takeda, dan ia diangkat menjadi orang kepercayaan Takeda Harunobu (yang kemudian dikenal dengan sebutan Takeda Shingen), ia justru bisa menjadi orang penting di Klan Takeda menjadi ahli strategi perang yang membawa kejayaan klan Takeda. Bendera perang Furin Kazan yang dimiliki klan Takeda pun berkibar tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kansuke memang sosok misterius. Tak ada orang yang tahu akan kelebihan yang ia miliki. Keahlian Kansuke dalam bermain pedang pun lebih serupa legenda karena ia selalu menghindar bertempur terang-terangan. Tetapi, Takeda Harunobu telah membuktikan akan kebenaran sebuah fakta: bawah Kansuke memiliki wawasan dan pengetahuan luas soal strategi perang. Beberapa kali, Takeda Harunobu harus mengakui bahwa otak Kansuke cukup cerdik. Sebab, Kansuke bisa mengubah kebuntuan perang menjadi sebuah kemenangan. Strategi penundukan benteng Toshi, perang melawan Kiso, Ina, Joshua, Bushu dan benteng-benteng lain menjadi bukti nyata bahwa Kansuke bukan sembarang orang, melainkan sang arsitek perang tangguh dan jeli. Juga cerdik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejayaan klan Takeda pun mencapai prestasi gemilang setelah Kansuke menjadi ahli strategi perang Takeda Harunobu. Tetapi soal perang demi memperluas daerah kekuasaan, memang benar tidak akan pernah ada habisnya. Habis perang menundukkan daerah satu, "ambisi" menguasai daerah lain pun menjadi target selanjutnya. Hal itulah, yang menjadikan klan Takeda pun harus berhadapan dengan klan Uesugi. Bahkan keduanya sudah seperti musuh bebuyutan. Bertahun-tahun berperang&amp;nbsp; nyaris tidak pernah menjadi perang akhir sebagai titik akhir penghabisan. Hingga suatu ketika, kedua klan itu bertemu dalam perang besar. Karena itulah, Kansuke sedari awal merancang perang itu menjadi perang terakhir yang akan ia dalangi sebelum ia tutup usia karena lanjut tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada alasan lain jika ia tidak berjuang habis-habisan. Dalam perang penentuan itu pun, Kansuke benar-benar mempertaruhkan semua yang ia kuasai. Dia pun seperti berjuang melawan nasib. Kemampuannya dalam mengatur, dan menyusun strategi perang ia kerahkan sepenuhnya. Dalam sejumlah pertempuran sebelumnya ia memang selalu sukses menguncang benteng lawan dan bisa meraih kemenangan femilang. Tetapi, kali ini yang dihadapi adalah Uesugi.&amp;nbsp; Pertempuran ini pun dicatat sejarah sebagai perang besar pada masa klan Takeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, jika novel ini pun menjadi sebuah novel sejarah dengan tokoh utama Yamamoto Kansuke. Sosok Kansuke yang misterius, juga fenomenal, menjadi daya tarik dari novel ini. Maklum, ia bukan orang yang dianugerahi kelebihan fisik sempurna, tetapi dalam sepak terjangnya dia berhasil mengukir prestasi gemilang: tercatat sebagai seorang "ahli strategi perang brilian" yang dimiliki klan Takeda. Dari sepak terjang Kansuke itu, pembaca bisa belajar banyak tentang pelajaran hidup dan perjuangan dalam menapaki masa depan demi meraih cita-cita. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-8049638134140081554?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/8049638134140081554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=8049638134140081554' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8049638134140081554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8049638134140081554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/11/meraih-kesuksesan-dengan-kekuatan-otak.html' title='Meraih Kesuksesan dengan Kekuatan Otak'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-hzuHKP191bI/Tsb4fFWEASI/AAAAAAAACK0/r5UOV2ExCsw/s72-c/furin+kazan+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-3289979788091419238</id><published>2011-10-30T12:00:00.000+07:00</published><updated>2011-11-09T23:18:18.272+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>Petualangan Berbahaya ke Tanah Suci</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--8vkt1ST_Gc/TqyrRk0yS7I/AAAAAAAACI4/oKMHHq1xa4w/s1600/buku_Orang_Kristen_Naik_Haji+2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/--8vkt1ST_Gc/TqyrRk0yS7I/AAAAAAAACI4/oKMHHq1xa4w/s200/buku_Orang_Kristen_Naik_Haji+2.jpg" width="124" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Resensi ini dimuat di &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;, Minggu 30 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku&amp;nbsp; : Orang Kristen Naik Haji&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Augustus Ralli&lt;br /&gt;Penerbit &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Serambi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; : Pertama, Agustus 2011&lt;br /&gt;Tebal buku&amp;nbsp; : 372 halaman&lt;br /&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 978-979-024-362-0&lt;br /&gt;Harga buku : Rp 49.000, -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BENARKAH ada orang Kristen yang pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji? Rasanya, pertanyaan itu mengada-ngada. Pasalnya, ibadah haji adalah ritual dalam syariat Islam (sebagai rukun Islam kelima yang digolongkan wajib bagi seorang muslim yang mampu -sekali dalam seumur hidupnya). Jadi, jika ada orang Kristen yang menunaikan ibadah haji, kisah itu sepertinya tak mungkin dan tak masuk akal. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, setelah membaca buku Orang Kristen Naik Haji karya dari Augustus Ralli ini, ternyata cerita itu benar adanya dan bukan sekadar bualan. Karena dalam catatan sejarah, sebagaimana diceritakan dalam buku ini, ternyata ada beberapa petualang Kristen yang tergerak hati pergi ke tanah suci dan menjalankan ritual haji. Ketertarikan mereka itu memang beragam. Tapi, pesona dan magnet kota suci tersebut seakan menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun ada undang-undang yang menegaskan; bahwa tak seorang pun selain orang mukmin (muslim) yang boleh menginjakkan kaki di tanah Mekah, larangan itu tidak membuat petualang Kristen itu dihimpit takut. Para petualangan Kristen itu "berani" menantang maut; tetap nekat pergi ke Mekah dan Madinah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sir Richard Burton bisa disebut sebagai salah satu petualang Kristen yang memiliki ketertarikan kuat untuk mengunjungi Mekah. Bahkan, ia memiliki ketertarikan kuat (untuk mempelajari) Islam, lebih dari sekadar motif ilmiah dan keagamaan. Tak mustahil, sebelum pergi ke tanah suci ia sempat belajar doa-doa, tuntunan shalat, membaca al-Qur`an dan segala ritual dalam syariat Islam. Karena itulah, ketika dia berangkat ke tanah suci, ia tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam menunaikan ritual haji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ia harus menempuh perjalanan darat dan laut yang melelahkan, niatnya untuk melihat Mekah tidak surut. Bahkan, ketika kakinya digigit landak laut yang beracun dan mustahil bisa melanjutkan perjalanan kecuali harus ditandu, ternyata Burton tetap tabah. Ia pun akhirnya bisa sampai ke Madinah, mengunjungi makam Nabi dan bermukim selama 5 minggu. Tetapi, dalam perjalanan dari Madinah ke Mekah, ada orang Arab yang berhasil membuka "topeng" Burton. Rupanya, nasib baik masih memihaknya. Lelaki Arab itu keesokan harinya justru mati tertusuk belati. Dan Burton pun bisa melanjutkan perjalanan ke Mekah melakukan tawaf, mencium Hajar Aswad, pergi ke Arafah, Muzdalifah, Mina; melempar Jamrah dan kemudian melepas pakaian ihram. Bahkan di sela-sela ritual haji itu, ia menuliskan cacatan perjalanannya yang cukup memukau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Sir Richard Burton, orang Kristen lainnya yang mengunjungi Mekah dengan motif melakukan penelitian antara lain Ullrich Jasper Seetzen, Badia Y Leblich, John Ludwig Burckhardt, Giovanni Finati. Peziarah Kristen lain berangkat dengan motof yang berbeda; cinta petualangan. Tapi di antara mereka, ada yang mengunjungi kota suci Islam tersebut lantaran jadi budak dan kepergian mereka itu tidak lebih mengikuti tuannya, seperti kisah yang dialami oleh Johann Wild dan Joseph Pitts. Tapi, satu hal penting yang tak bisa dimungkiri bahwa kepergian mereka ke tanah suci itu adalah perjalanan larangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, dari kisah petualangan yang dituturkan dalam buku ini, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dipetik sebagai pelajaran. Pertama, Mekah --juga Madinah—adalah kota yang memancarkan "magnet" dan mengundang daya tarik. Tidak mustahil, seorang muslim yang pernah pergi haji selalu disergap kerinduan untuk berkunjung kembali. Uniknya, hal itu tidak saja mengundang jutaan orang muslim seluruh dunia datang demi merengkuh kehausan spritual dalam ibadah haji (dan umrah) melainkan juga mengundang orang Kristen untuk ingin tahu rahasia di balik kota suci itu. Padahal, demi tuntutan rasa ingin tahu itu, mereka bisa kehilangan nyawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, karena buku ini mengisahkan petualangan orang Kristen yang sempat ke tanah suci, maka buku ini pun bisa disebut buku catatan perjalanan tentang ritual haji dari sudut pandang nonmuslim. Tak mustahil, jika dalam catatan ini pembaca bisa menangkap kesan dan pengalaman yang mereka alami tentang adat istiadat, tradisi dan keadaan kota suci Islam tersebut –termasuk kesan yang jelek tentang kota suci itu dan tentang Islam. Dalam konteks itu, dapat dipahami jika buku ini merupakan pendapat mereka tentang ritual haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sebab kisah petualangan dalam mengunjungi Mekah yang dikisahkan buku ini dilakukan kurang lebih 1 abad hingga 5 abad yang lalu, maka pembaca bisa merasakan betapa perjalanan haji pada zaman dulu sungguh menegangkan; menempuh perjalanan yang jauh lewat darat dan laut --bahkan harus bertarung dengan iklim panas dan dingin. Apalagi petualangan ini dilakukan oleh orang Kristen. Tak pelak, jika mereka pun pergi ke tanah suci dibayang-bayangi segulung ancaman; mara bahaya dan kematian. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-3289979788091419238?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/3289979788091419238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=3289979788091419238' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3289979788091419238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3289979788091419238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/10/petualangan-orang-kristen-pergi-haji.html' title='Petualangan Berbahaya ke Tanah Suci'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/--8vkt1ST_Gc/TqyrRk0yS7I/AAAAAAAACI4/oKMHHq1xa4w/s72-c/buku_Orang_Kristen_Naik_Haji+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-187825966319912023</id><published>2011-10-30T11:56:00.001+07:00</published><updated>2011-10-31T04:09:28.458+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku biografi'/><title type='text'>Kiat Sukses a la Hideyoshi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--T_cIJ4B3hw/TqzbVADnmHI/AAAAAAAACJI/Kqp9-zLHRBU/s1600/04_strategi+hideyoshi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/--T_cIJ4B3hw/TqzbVADnmHI/AAAAAAAACJI/Kqp9-zLHRBU/s200/04_strategi+hideyoshi.jpg" width="121" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;resensi dimuat di &lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/439984/"&gt;&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;Seputar Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Minggu 30 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku&amp;nbsp; : Strategi Hideyoshi: Another Story of the Swordless Samurai&lt;br /&gt;Penulis&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Tim Clark&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; : Zahir Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; : Pertama, Agustus 2011&lt;br /&gt;Tebal buku&amp;nbsp; : 278 halaman&lt;br /&gt;ISBN&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 978-979-19337-3-5&lt;br /&gt;Harga &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Rp. 59.800,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;DALAM sejarah Jepang, Toyotomi Hideyoshi adalah tokoh sepektakuler yang tidak tertandingi dalam mencapai "puncak prestasi". Ia lahir dari keluarga petani miskin, dibelit nasib pahit; berwajah jelek, pendek dan tak berpendidikan. Tapi setumpuk kemalangan hidup itu tak menjadikan Hideyoshi mengutuk nasib yang membelitnya. Kemiskinan yang menjeratnya ia ubah menjadi keberuntungan dengan mengandalkan otak daripada tubuh, akal daripada senjata, strategi (dan logistik) daripada tombak. Tak mustahil, ia kemudian mampu meraih puncak karier gemilang; ia menjadi wakil kaisar bukan berdasarkan garis keturunan, melainkan dari kecerdikan otak. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak mustahil, jika perjuangan Hideyoshi dalam meraih prestasi -dari seorang petani miskin hingga bisa jadi wakil kaisar- itu mengundang kekaguman. Tak sedikit orang Jepang, terutama dari kalangan bawah, yang ingin tahu tentang rahasia di balik kesuksesan Hideyoshi. Dan di antara orang yang ingin tahu itu adalah Jiro dan Gonsuke. Dua petani muda itu tidak ingin kelak menjadi petani lantaran ia dilahirkan dari keluarga petani. Dengan kata lain, mereka ingin mengikuti jejak Hideyoshi. Keinginan untuk mengubah nasib itulah yang kemudian membawa keduanya menemui Hideyoshi dengan tujuan ingin mencari kebijaksanaan atau menimba ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran kedua petani itu diterima Hideyoshi dengan hormat, apalagi mereka datang tidak untuk mencari pekerjaan, melainkan hendak mencari jalan menuju keberuntungan. Hideyoshi kemudian berbagi kisah perjuangan di balik kesuksesannya, dan di sela-sela kisah perjalanan hidup yang dituturkan itu, Hideyoshi membeberkan tentang kunci sederhana yang membawanya bisa sukses mencapai puncak prestasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menentukan "tujuan hidup" dengan membayangkan jalan yang akan mengantarkan ke tempat yang diinginkan. Dalam bahasa&amp;nbsp; Hideyoshi, "terbayangkan berarti terjangkau". Artinya, membayangkan sesuatu yang benar-benar mungkin; tahu apa langkah pertama yang harus . ditempuh. Ibarat seseorang yang ingin menempuh perjalanan maka ia harus memiliki tujuan. Sebab bagi Hideyoshi, kegagalan manusia lebih sering disebabkan oleh ketiadaan tujuan yang jelas dibandingkan dengan ketiadaan kemampuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, memupuk rasa bersyukur. Sebab --menurut Hideyoshi-- "rasa bersyukur" itu akan mendatangkan keberuntungan, dan perbuatan baik yang dilakukan seseorang akan mendatangkan kebaikan (balik) kepadanya. Ketiga, mengenali bakat (yang terpendam). Keberhasilan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia muncul karena pengabdian seseorang dalam mengerahkan bakat (ketrampilan) yang dia miliki dan usahanya sendiri. Padahal, seseorang tak bisa mengharapkan ia akan disegani orang lain, jika ia tidak mengembangkan dan menguatkan kemampuan yang ada dalam dirinya. Dan itu yang membuat ia meraih keberuntungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, usaha akan menentukan hasil. Usaha setengah-setengah akan membuahka hasil setengah, usaha baik membuahkan hasil baik, tapi usaha yang luar biasa akan membuahkan hasi yang luar biasa. Usaha luar biasa itulah satu cara untuk mendapatkan "keberuntungan". Kelima, kerjasama akan melahirkan keberhasilan. Sebab, di mata Hideyoshi, tak ada seseorang di dunia ini yang bisa berhasil meraih puncak prestasi dengan sendirian. Ia membutuhkan bantuan dan uluran tangan orang lain. Bahkan, seorang pemimpin pun dapat meraih jabatan tinggi, lantaran bantuan dari mitra dan bawahan. Jadi, kerjasama adalah salah satu kunci yang akan menyelamatkan seseorang dari kegagalan dan dengan kerjasama jalan keberuntungan atau keberhasilan itu bisa diraih dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hideyoshi --di mata penulis buku Strategi Hideyoshi: Another Story of the Swordless Samurai ini- memang tak pernah memaparkan jalan keberuntungan yang dialami itu secara resmi. Tapi, bagi penulis, saripati dari pernyataan dan perjalanan hidup Hideyoshi seakan menegaskan akan warisan berharga dari jalan keberuntungan tersebut. Tak diragukan, berkat rasa syukur, sadar akan bakat yang dimiliki, tujuan yang dapat dicapai, pengerahan usaha yang luar biasa dan kerjasama yang kuat untuk mencapai keberhasilan itulah yang mengantarkan Hideyoshi --lelaki kecil yang berasal dari rakyat jelata itu-- kemudian bisa mengendalikan sebuah bangsa (hal. 243)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski buku ini ditulis dalam bentuk fiksi tetapi dilandasi kisah nyata yang terjadi semasa hidup Hideyoshi. Bahkan untuk mengungkapkan kisah yang terpercaya, penulis melengkapi buku ini dengan setumpuk data; buku-buku dari penelitian beberapa sejarawan terpercaya. Sebab, hal itu untuk menjamin "keakuratan" di tengah-tengah mitos atau legenda yang sampai detik ini melingkupi kepemimpinan dan kehebatan Hideyoshi. Tapi, di balik kisah kehebatan Hideyoshi, buku ini menawarkan setumpuk prinsip, rahasia hidup yang dapat digali dari perjuangan hebat Hideyoshi dalam menapaki karier menjadi seorang wakil kaisar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, buku ini tidak sekadar cerita tentang kehidupan Hideyoshi, melainkan juga tentang prinsip-prinsip hidup dalam menapaki jalan menuju keberuntungan. Dengan prinsip-prinsip itu, tentu pembaca dapat merengkuh pelajaran berharga dari petuah-petuah yang disampaikan oleh Hideyoshi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-187825966319912023?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/187825966319912023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=187825966319912023' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/187825966319912023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/187825966319912023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/10/kiat-sukses-la-hideyoshi.html' title='Kiat Sukses a la Hideyoshi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--T_cIJ4B3hw/TqzbVADnmHI/AAAAAAAACJI/Kqp9-zLHRBU/s72-c/04_strategi+hideyoshi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-3764394783205741483</id><published>2011-10-29T22:07:00.000+07:00</published><updated>2011-10-30T11:58:28.790+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>Terorisme dan Karakter Orang Jawa</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-M_sxhe7KRBU/TqwWXjX0jkI/AAAAAAAACIw/bEGOi8kqM6s/s1600/01_orang+jawa+jadi+teroris.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-M_sxhe7KRBU/TqwWXjX0jkI/AAAAAAAACIw/bEGOi8kqM6s/s200/01_orang+jawa+jadi+teroris.jpg" width="173" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/content/read/terorisme-dan-karakter-orang-jawa/" style="color: #cc0000;"&gt;Sinar Harapan&lt;/a&gt;, ed Sabtu-Minggu, 29-30 Oktober 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Orang Jawa Jadi Teroris&lt;br /&gt;Penulis: M. Bambang Pranowo&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Alvabet dan LaKIP&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2011&lt;br /&gt;Tebal : xliii + 300 halaman&lt;br /&gt;Harga : Rp. 49.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SETELAH tragedi bom Bali I dan II, kemudian disusul bom Kuningan, bom Marriott dan peledakan "bom bunuh diri" di beberapa tempat --seperti di masjid Polresta Cirebon hingga bom bunuh diri yang terjadi baru-baru ini di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Kepunton, Solo, Jawa Tengah-- tuduhan miring tentang Islam dan terorisme tak saja sulit dipisahkan, melainkan justru muncul pertanyaan nyinyir yang tak terbantahkan lagi bahwa dari sekian banyak pelaku bom bunuh diri itu setelah ditelisik ternyata diketahui sebagian besar adalah orang Jawa. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian yang jadi pertanyaan krusial --sebagaimana diungkapkan oleh Dr Azumardi Azra-- adalah: kenapa bisa sebagian besar teroris itu berasal dari Jawa? Kenapa karakter teroris itu tak tumbuh dalam jiwa orang Sumatra atau Sulawesi yang justru berwatak keras? Setangkup rasa heran yang telah memunculkan pertanyaan itu jika dilihat dari fakta yang ada memang tak salah. Karena dari fakta yang ada, sebagian besar pelaku teroris di Bali, Jakarta, Cirebon dan Solo ternyata berasal dari Jawa. Jika ada teroris yang berasal dari daerah lain, porsinya dapat dikata kecil. Fakta itu sungguh mengherankan sebab stereotip orang Jawa kerap kali diidentikkan berperilaku suka "mengalah", berperangai halus, unggah ungguh dan penuh tepo sliro. Maka, cukup mengherankan jika orang Jawa kemudian bisa jadi teroris. Pasalnya, teroris itu identik dengan kekerasan dan bertolak belakang dengan karakter orang Jawa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berpijak dari situlah, M Bambang Pranowo -lewat buku ini- digelayuti perasaan ingin tahu dan hendak menjawab pertanyaan itu dengan menengok lebih jauh karakter orang Jawa. Ada apa dengan orang Jawa sehingga karakter orang Jawa yang selama ini diidentikkan berperangai dan berkarakter lembut dan sopan tiba-tiba menjadi brutal bahkan tega membunuh orang lain yang tidak berdosa dengan bom. Ada guratan apa di balik karakter orang Jawa yang jadi teroris itu? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasa ingin tahu itu pun kemudian menjerumuskan penulis mengkaji fenomena tersebut dengan memahami "karakter orang Jawa" lewat simbol karakter wayang Pandawa Lima. Setelah mengenal lebih jauh dengan karakter wayang Pandawa Lima, penulis pun menemukan pemikiran bahwa karakter orang Jawa itu sebenarnya tidaklah seragam. Hal itu bisa dilihat dengan jelas pada karakter Puntodewo, Nakula dan Sadewa. Ketiga tokoh pewayangan ini dikenal sebagai tokoh yang lemah lembut dan selalu mengalah. Sementara itu, Arjuna sebagai tokoh yang pandai, baik dalam diplomasi atau perang. Adapun Werkudoro diidentikkan sebagai tokoh yang lurus, pemberani, bahkan pantang menyerah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan menelisik karakter dari tokoh wayang tersebut, Bambang pun kemudian menemukan kesimpulan bahwa karakter orang Jawa itu sebenarnya sangat beragam alias tidak seragam --dengan kata lain, karakter orang Jawa itu tergantung dari "bawaan" simbol pewayangannya. Dari simbol karakter wayang Pendawa Lima itu, maka jelas tergambar bahwa karakter orang Jawa itu akan mengalah untuk tujuan jangka panjang, tapi jika lawan yang dihadapi masih keras, maka orang Jawa akan ngalih ("meminggirkan") untuk mencari strategi lain demi meraih kemenangan. Tapi jika sudah merasa diinjak-injak atau ditindas maka orang Jawa akan mengamuk. Hal itu karena memang orang Jawa menganut prinsip hidup tiga "nga": ngalah, ngalih dan ngamuk. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari prinsip itulah, maka ketika orang Jawa menjadi teroris ia sebenarnya sedang ngamuk (marah).&amp;nbsp; Dalam konteks ini, maka ketika para teroris meledakkan bom di Bali dan Jakarta, mereka dalam kungkungan amarah: ngamuk. Mereka mengamuk terhadap ketidakadilan Amerika dan sebagai orang Jawa, mereka sudah tak punya pilihan "ngalah" atau "ngalih" terhadap Amerika. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi menurut penulis buku ini, sikap ngamuk para teroris --yang notabene orang Jawa-- itu bersifat sempit dan radikal. Sebab Indonesia bukan tempat pertempuran melawan AS. Di sisi lain, Indonesia juga bukan masuk daarul harb yang bisa menjadikan orang Jawa dengan seenaknya barkata halal untuk dan merasa sah meledakkan bom atau membunuh orang lain. Apalagi, tidak sedikit orang lain yang terbunuh itu ada yang juga orang Islam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara umum. buku ini coba menjawab persoalan terorisme dalam Islam dan mengapa terorisme tumbuh dan berkembang di Indonesia, bahkan di Jawa. Padahal, orang Jawa dan Indonesia itu dikenal ramah, penuh toleransi, dan berbudaya adi luhung. Uniknya, fenomena itu dikupas penulis dengan sudut pandang sosial dan budaya (Jawa). Inilah yang menarik dari buku ini. Tapi, karena buku ini adalah buku bunga rampai (dari artikel penulis yang tersebar di berbagai media masaa sejak tahun 1990an sampai sekarang) tak salah jika buku ini memiliki tema luas meliputi tema terorisme, masalah agama, spiritual, problem sosial dan budaya bahkan ada beberapa tulisan dalam buku ini kadang tak saling terkait. Itu lantaran sebagian tulisan dalam bunga rampai ini ditulis dalam konteks waktu tertentu dan juga dalam kasus yang kebetulan mencuat saat tulisan itu ditulis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kendati demikian, buku ini tidak serta merta tercerabut dari akar kontekstual era sekarang ini -di mana Indonesia masih menjadi sasaran ancaman terorisme. Meski penulis mengangkat tema yang beragam dan tidak utuh dalam menganalis suatu persoalan, buku ini masih dapat dibaca sebagai sebuah kaledioskop. Tak salah jika buku ini mengajak pembawa berwisata ke masa lalu untuk melihat kembali dengan pikiran jernih tentang terorisme dan Islam dari sudut pandang sosial-budaya. ***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, peminat masalah sosial budaya, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-3764394783205741483?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/3764394783205741483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=3764394783205741483' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3764394783205741483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3764394783205741483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/10/terorisme-dan-karakter-orang-jawa.html' title='Terorisme dan Karakter Orang Jawa'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-M_sxhe7KRBU/TqwWXjX0jkI/AAAAAAAACIw/bEGOi8kqM6s/s72-c/01_orang+jawa+jadi+teroris.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-6044697702645619880</id><published>2011-10-22T21:42:00.001+07:00</published><updated>2011-10-22T21:45:45.787+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>Kunci Misterius dan Ironisme Sebuah Cerita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ckPuhcTEFuQ/TqLVZhYmQPI/AAAAAAAACIo/TN1WRJapZkA/s1600/cover+extremely+loud.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-ckPuhcTEFuQ/TqLVZhYmQPI/AAAAAAAACIo/TN1WRJapZkA/s200/cover+extremely+loud.JPG" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Resensi ini dimuat di &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;Harian Pelita&lt;/span&gt;, Sabtu 22 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : Extremely Loud &amp;amp; Incredibly Close (Benar-Benar Nyaring dan Sungguh-Sungguh Dekat)&lt;br /&gt;Penulis : Jonathan Safran Foer&lt;br /&gt;Penerbit : Mahda Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2010&lt;br /&gt;Tebal : 430 hlm&lt;br /&gt;Harga : 68.680,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SEBAGIAN besar cerita --dalam cerpen maupun novel-- sebenarnya sederhana. Tapi, tugas pengarang tidak sederhana. Ia harus mampu meracik dan meramu setangkup kisah yang sederhana itu menjadi luar biasa. Pengarang dituntut untuk dapat memainkan tongkat sihir supaya bisa menghidupkan serentetan peristiwa serta menciptakan tokoh yang (kelak) akan terus dikenang. Juga, pengarang harus lihai memahat latar, adegan, dan gelombang cerita di atas lembaran halaman agar pembaca merasakan seperti terseret sebuah arus dan merasakan kedahagaan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengarang yang brilian akan selalu mencoba melompat tembok realita kemudian mengolah kisah dengan capaian estetik yang memukau dan mendedahkan sebuah terobosan yang digali dari kejelian (kepiawaian) memoles bahasa serta merajut teknik penceritaan. Itulah yang dilakukan Jonathan Safran Foer dalam novel Extremely Loud &amp;amp; Incredibly Close ini. Sebuah novel yang dapat dikata 'mendobrak pagar' dan coba membangun kembali pagar yang telah runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Safran Foer menggabungkan hampir semua teknik cerita, memperlakukan novel serupa buku gambar dengan memasukkan unsur grafis, bahkan tak konsisten memakai font (karena ada font yang mengecil), sampai penggunaan judul bab yang kadang dicoret seakan tidak terpakai. Tak itu saja, pengarang satu ini memakai foto, halaman yang dihitamkan, deretan angka serupa "kode misterius" bahkan ada kata/kalimat yang sengaja dilingkari dengan tinta merah. Gebrakan Safran Foer dalam karya ini pun mengundang kontroversi. Tetapi, novel ini mendapat pujian dari sejumlah media terkenal di AS, seperti Observer, Daily Telegraph dan The Times Literary Supplement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Safran Foer membangun ironisme sebuah cerita, menyeret pembaca pada ruang rumpil nan asing, mendebarkan, penuh teka-teki. Tetapi ia mampu menjebak dengan lubang misteri. Segala sesuatu ingin dikaitkan, bahkan untuk segala perihal yang tidak urgent sekali pun. Seperti tulisan Oscar, anak berumur 9 tahun yang jadi tokoh utama novel ini. Tulisan Oscar kadang lucu, melankolis, tak penting tetapi kadang mengundang tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuh Misteri&lt;br /&gt;Cerita novel ini bergulir unik, dan penuh misteri. Pada mulanya, Oscar Schell, anak berumur 9 tahun (yang jadi tokoh utama dalam novel ini) tanpa sengaja menemukan kunci dalam sebuah vas ketika vas tersebut pecah. Dari situlah kisah petualangan Oscar -anak yang unik, cerdas dan penuh gagasan dimulai. Ia awalnya ingin menyingkap misteri kunci itu untuk membuktikan: apa kunci itu peninggalan ayahnya. Maklum, ayahnya meninggal dalam peristiwa mengenaskan 9 Septermber, saat gedung WTC hancur dan ayah Oscar menjadi salah satu korban dalam tragedi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tak mudah menemukan lubang yang pas untuk kunci tersebut. Oscar hampir dibuat linglung. Tapi, Oscar tak mudah menyerah. Ia melakukan riset, mendatangi tukang kunci karena ingin membuktikan siapa tahu ayahnya meninggalkan kunci untuk membuka brankas. Padahal, jumlah lubang kunci tak sedikit. Ia tidak patah arang, terus mencari lubang kunci tersebut dengan harapan bisa menemukan sebuah jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi belum sempat kunci misterius itu terjawab, ia menemukan sepucuk surat. Di belakang surat itu ia menemukan tulisan Black dengan tinta warna merah (huruf B ditulis dengan huruf kapital). Oscar pening. Misteri satu belum terjawab, muncul teka-teki yang lebih membingungkan. Tapi, semua itu kian merujuk pada satu hal. Oscar kemudian mencari orang bernama Black. Padahal, nama Black tidak sedikit. Dari situlah, Oscar kembali berpetualang untuk mencari nama Black, dari Black satu ke Black yang lain yang meninggalkan misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semua misteri yang disuguhkan Safran Foer itu masih belum seberapa. Safran Foer memercikkan misteri lagi, semisal misteri sektor keenam di kota New York, setelah Manhattan, Brooklyn, Queens, Staten Island dan Bronx. Bahkan soal kematian ayah Oscar, soal pemikiran Oscar yang ganjil. Setumpuk misteri dan teka-teki itu ditebarkan Safran Foer untuk membuat penasaran. Tetapi, ujung pencarian atau petualangan Oscar tidak sia-sia. Ia pun akhirnya menemukan seseorang bernama Black dan menemukan jawaban: kunci itu sebenarnya milik Black yang diwariskan oleh ayahnya bersama dengan barang-barang berharga yang lain. Tapi Black tidak tahu. Ironisnya, Black tahu setelah membaca sebuah surat tapi semua barang berharga, termasuk vas itu, sudah ia jual. Seperti pengakuan Black, "Aku membaca surat itu setelah aku menjual semua barangnya-- aku sudah menjual vas itu. Aku menjual kepada ayahmu." (hal. 321)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas, ayah Oscar tak sengaja membeli vas itu -ketika dalam perjalanan pulang melihat tanda obral. Ayah Oscar membeli vas itu untuk dijadikan hadiah buat istrinya: di hari ulang tahun pernikahannya yang jatuh tanggal 14 September. Semua terjawab gamblang. Oscar menemukan lubang kunci tersebut -setelah mendapat keterangan dari Black dan ternyata tak berhubungan dengan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diracik Tidak Sederhana&lt;br /&gt;Tak jarang sebuah pencarian memang tidak untuk menemukan jawaban yang melegakan, melainkan untuk menuruti keingintahuan dan hasrat memenuhi rasa penasaran. Dan itu yang dilakukan oleh Oscar. Ada sebuah pesan pendek dari novel ini yang bernuansa filosofis, karena hidup itu adalah satu fase pencarian akan keingintahuan dan pencarian akan kebenaran. Dengan segudang misteri, teka-teki dan cara Safran Foer menulis, novel ini bisa disebut bukan sebuah karya sastra biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang menulis tidak dengan "cara biasa". Cerita yang sederhana mampu diracik dengan tidak sederhana. Ada setumpuk teknik yang sengaja diuji-cobakan untuk diterapkan. Ada setumpuk teka-teki yang disodorkan. Ada sejumlah misteri yang ingin dipecahkan. Juga, ada setumpuk mitos yang ingin diruntuhkan. Safran Foer serasa mencampurkan semua hal itu dalam novel ini. Tak mustahil jika novel ini pun terasa berliku, alur yang digelindingkan berjalan melingkar karena alur cerita dikemas dengan "berkelok-kelok" dan bahkan mirip sebuah spiral. Cerita pun melompat-lompat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, meski setumpuk hal remeh temeh dan bahkan tidak penting sekali pun dibahas dalam novel ini dan digelindingkan dengan acak, tetapi Safran Foer mampu bercerita dengan detail. Bahkan dilengkapi dengan surat-surat. Tetapi, semua itu "diramu" dengan susunan bahasa yang memukau. Jadinya, novel ini pun patut disebut sebuah novel yang memukau. Berkat kepiawaian itu, setelah penulisan novel ini, Safran Foer menjadi profesor dalam penulisan kreatif novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan pendiri rumah baca "Anak Layang-Layang"&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-6044697702645619880?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/6044697702645619880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=6044697702645619880' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6044697702645619880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6044697702645619880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/10/resensi-ini-dimuat-di-harian-pelita.html' title='Kunci Misterius dan Ironisme Sebuah Cerita'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ckPuhcTEFuQ/TqLVZhYmQPI/AAAAAAAACIo/TN1WRJapZkA/s72-c/cover+extremely+loud.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-1703441829008765035</id><published>2011-10-01T12:08:00.000+07:00</published><updated>2011-10-01T14:14:37.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>Ending Pahit dari Perjuangan Lasmi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-I7UavQMCuLo/TcUo1dKX60I/AAAAAAAACEw/a-rRfcgd7p8/s1600/cover_lasmi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 167px; height: 156px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-I7UavQMCuLo/TcUo1dKX60I/AAAAAAAACEw/a-rRfcgd7p8/s200/cover_lasmi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603930210158766914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(204, 0, 0);" href="http://www.pelitaonline.com/read-cetak/2771/ending-pahit-dari-perjuangan-lasmi/"&gt;Harian Pelita&lt;/a&gt;, Sabtu 1 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul         buku: Lasmi&lt;br /&gt;Pengarang     : Nusya Kuswantin&lt;br /&gt;Penerbit            : Kakilangit Kencana, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan             : Pertama, November 2009&lt;br /&gt;Tebal         buku: 232 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    SEJARAH kelam peristiwa tragis 1965 seperti tak akan pernah kering untuk dijadikan sebagai latar sebuah cerita -termasuk novel. Apalagi peristiwa kelabu itu tidak saja menimbulkan "kontroversi" hingga sekarang ini, melainkan juga masih meninggalkan kenangan bahkan pengalaman pahit bagi sebagian orang yang terlibat ataupun dituduh terlibat organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia. Dari peristiwa "tragis" itu, pengarang bisa melakukan rekonstruksi bahkan memberi "tafsir baru" atas fakta di masa lalu yang kelabu. Pada sisi lain, pengarang ingin mengenang sekeping kisah dari seseorang yang pernah dituduh terlibat dalam peristiwa kelabu itu --dengan harapan kisah itu bisa menjadi bahan renungan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan, jika novel Lasmi --karya Nusya Kuswantin yang mengangkat tokoh Lasmi, korban dari peristiwa tragis 1965 lantaran dia menjadi anggota Gerwani-- ini tidak saja menjadi bahan renungan, melainkan melengkapi deretan kisah novel yang mengungkap "fagmen sejarah" buram bangsa Indonesia tahun 1965. Meski pun novel Lasmi ini bisa dikata tidak memiliki pretensi untuk mengungkap fakta baru di balik peristiwa kelabu 1965 itu, duka lara yang menyelimuti kisah Lasmi (tokoh utama dalam novel&lt;br /&gt;ini) bisa mematik kesadaran pembaca untuk merenung sejarah kelabu di masa lalu. Sebab, Lasmi telah menjadi korban dari peristiwa sejarah yang buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasmi, hanyalah prototif dari sosok wanita kampung di sebuah desa, di Malang (Jawa Timur). Meski tinggal di desa, dia ternyata memiliki jiwa moderat. Dia yang dianugerahi pengetahuan dan kebetulan lahir dari keluarga terpandang kemudian ingin membantu orang kampung dengan membangun sekolah (untuk orang tua dan anak-anak). Bersuamikan Sutikno, seorang guru --cita-cita Lasmi itu tidak menemui jalan buntu bahkan bisa berjalan dengan mulus. Mungkin, satu hal yang membuatnya terbebani, ia tak bisa menggaji guru yang ikut mengajar di sekolah. Hingga suatu hari, ia yang sedang membutuhkan guru menjahit bertemu dengan Mbak Sum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Mbak Sum ternyata mengubah jalan hidup Lasmi. Untuk memajukan sekolah, atas saran Mbak Sum, Lasmi ikut up-grading. Habis itu Lasmi memutuskan menggabungkan Taman Kanak-kanak Melati (yang ia dirikan susah payah itu) ke dalam yayasan Melati. Konsekuensi dari pilihan itu, Lasmi tercatat sebagai anggota Gerwani. Pilihan itu diambil, karena ia merasa terbebas dari beban memikirkan gaji. Tapi, sejak itu ia mulai sibuk dengan aktivitas dan rapat, bahkan tak lama kemudian menjadi ketua Gerwani tingkat desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi peristiwa tragis 1965 membuat Lasmi harus menjadi korban. Ia pun harus menanggung takdir dari pilihan hidup yang telah ia jalani. Ia bersama Sutikno (dan anaknya Gong) lalu melarikan diri untuk cari selamat.&lt;br /&gt;Deretan penderitaan harus ia alami bersama keluarga, lari dari satu desa ke desa lain, tidak lain untuk sembunyi. Tapi, pelarian itu kemudian menemui takdir akhir --sebuah ending yang nyaris tidak bisa ditebak atas apa yang dipilih Lasmi, penderitaan Gong dan akhir kisah Sutikno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, tak sedikit pengarang di negeri ini yang menggarap novel dengan sandaran setting peristiwa tragis 1965 dalam sebuah novel, termasuk Lasmi ini. Tapi, dalam novel ini nyaris tidak ada terobosan yang digemakan. Pertama, sejarah tragis 1965 seperti hanya dijadikan tempelan sehingga nyaris tak memberikan nuansa baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik permasalahan dan setting cerita (di sebuah desa di Malang). Kedua, novel sejarah sebenarnya bisa dijadikan sebuah rekonstruksi. Tetapi, dalam novel ini hampir tak ada fakta baru yang disuguhkan pengarang. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi tidak lebih sebagai korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan novel memang terletak pada kekuatan narasi. Tetapi dalam menulis novel, dikenal cara menggambarkan bukan menceritakan. Pada aras inilah, Nusya Kuswantin kerap berlaku menceritakan dan lemah dalam penggambaran. Tidak salah, novel ini pun serasa kering dan mirip catatan diary Sutikno (tokoh "aku") untuk mengenang keberadaan Lasmi, istrinya yang mati dieksekusi karena menjadi korban. Capaian estetis yang dielaborasi pengarang pun "tak mendedahkan teknik baru". Maka, cerita pun berjalan dengan datar, tidak berpilin dan tidak njelimet. Bahkan kering dialog. Padahal, keberadaan dialog bisa membangun kekuatan sebuah alur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, novel ini tetap tidak bisa dikatakan sebagai sebuah novel yang gagal atau tidak berhasil. Pengarang berhasil membangun karakter Lasmi dengan kuat. Pada akhir kisah bahkan pengarang meneguhkan bahwa pilihan Lasmi menjalani eksekusi itu sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus protes secara masif --menggugah orang untuk memikirkan tragedi pembantaian massal yang terjadi di negeri ini.  Tidak salah, kalau pengorbanan Lasmi itu sebagai bentuk anti-kekerasan. Selain itu, dalam hubungan antara suami dan istri dalam rumah tangga, novel ini terasa kuat menggelorakan emasipasi wanita --persamaan derajat. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-1703441829008765035?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/1703441829008765035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=1703441829008765035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1703441829008765035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1703441829008765035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/05/ending-pahit-dari-perjuangan-lasmi.html' title='Ending Pahit dari Perjuangan Lasmi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-I7UavQMCuLo/TcUo1dKX60I/AAAAAAAACEw/a-rRfcgd7p8/s72-c/cover_lasmi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-8756950986486475981</id><published>2011-09-18T01:14:00.007+07:00</published><updated>2011-09-18T09:07:30.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku biografi'/><title type='text'>Kenangan tentang Sisi Baik Soeharto</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-LKpEjZ9mdrU/TnTkLumnuTI/AAAAAAAACIM/tFTIaovUum4/s1600/07_the%2Buntold%2Bstories_1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 163px; height: 162px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-LKpEjZ9mdrU/TnTkLumnuTI/AAAAAAAACIM/tFTIaovUum4/s200/07_the%2Buntold%2Bstories_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653394322396526898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;, Minggu 18 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Pak Harto: The Untold Stories&lt;br /&gt;Penulis        : Donna Sita Indria dkk&lt;br /&gt;Penerbit         : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, Juni 2011&lt;br /&gt;Tebal buku    : 604 halaman&lt;br /&gt;Harga buku    : Rp 300.000, -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SEJATINYA, manusia itu bisa diibaratkan serupa (uang) koin -yang memiliki dua sisi berlainan. Pada satu sisi, dia dilekati dengan watak baik (malaikat), tapi pada sisi lain memiliki watak jahat (setan). Tak terkecuali dengan Soeharto. Ia yang pernah menjabat sebagai presiden Republik Indonesia selama kurang lebih 32 tahun, ternyata tidak lepas dari rapor dengan catatan merah. Ia ditengarai sebagai pemimpin yang meninggalkan setumpuk kontroversi. Tak salah, pasca Orde Baru tumbang, tuduhan buruk pun disematkan di pundak Soeharto--bahkan tanpa tedeng aling-aling.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di balik rapot merah itu, dia tetap sosok yang memiliki segudang kebaikan. Buku Pak Harto: The Untold Stories ini adalah rekaman kenangan akan setumpuk kebaikan Soeharto yang memuat kisah-kisah menarik dan menyentuh (human interest) dari riwayat keseharian Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, buku yang dituturkan oleh 113 narasumber yang sebagian besar pernah "dekat" Soeharto dalam rentetan suka duka ini memotret gamblang sisi baik Pak Harto yang konon tak pernah diumbar (dipublikasikan) ke hadapan publik. Karena dalam buku -yang juga disertai foto-foto pak Harto- ini tertuang kisah-kisah yang bisa disebut the untold stories dari sosok Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Orba memang telah berlalu. Tetapi Soeharto memang bukan sekadar pemimpin biasa. Tak salah, kalau sebagian besar tokoh yang dimintai pendapat dalam buku ini, memuji dan mengakui akan kepemimpinan Soeharto; sederhana, tegas, berani, tulus dan konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mien R. Uno mengaku sempat larut dengan kesederhanaan hidup Pak Harto. Secara lugas ia menobatkan Soeharto sebagai pemimpin yang memiliki "Kepribadian yang Hebat" (368-373). Kesederhanaan Pak Harto juga diakui oleh Haryono Suyono yang ketika menghadap Pak Harto ke istana; disuguhi singkong rebus ("Singkong Rebus di Istana Negara" [510-511]). BJ. Sumarlin pun melihat Pak Harto tak segan-segan makan mie instant. Hal itu diakui untuk ikut merasakan apa yang dimakan oleh rakyat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Soeryadi (ajudan Soeharto) --kurang lebih 4 tahun jadi ajudan (1981-1985)- menceritakan bahwa Pak Harto adalah pemimpin yang selalu siaga tidak saja dalam keseharian melainkan juga saat menghadapi masalah penting ("Cermat Mengolah Informasi" --hal 108-111).  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-8756950986486475981?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/8756950986486475981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=8756950986486475981' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8756950986486475981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8756950986486475981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/09/kenangan-tentang-sisi-baik-soeharto.html' title='Kenangan tentang Sisi Baik Soeharto'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LKpEjZ9mdrU/TnTkLumnuTI/AAAAAAAACIM/tFTIaovUum4/s72-c/07_the%2Buntold%2Bstories_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5049465019548838996</id><published>2011-09-17T02:56:00.000+07:00</published><updated>2011-09-17T17:50:10.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>Kisah Sukses Anak Sopir Angkot</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-rzC2AH93kg0/TmvBt80L8tI/AAAAAAAACH8/_zQUUxhWTeg/s1600/9S10A_1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-rzC2AH93kg0/TmvBt80L8tI/AAAAAAAACH8/_zQUUxhWTeg/s200/9S10A_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650823152629707474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.sinarharapan.co.id/content/read/kisah-sukses-anak-sopir-angkot/"&gt;Sinar Harapan&lt;/a&gt;, edisi Sabtu-Minggu 17-18 September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : 9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple&lt;br /&gt;Penulis        : Iwan Setyawan&lt;br /&gt;Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan      : Pertama, 2011&lt;br /&gt;Tebal buku : 221 halaman&lt;br /&gt;Harga           : 47.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;JALAN berliku seseorang dalam mengapai mimpi memang kerap mengundang orang lain untuk melongok. Pasalnya, dibalik kisah sukses itu tersimpan lempengan pelajaran yang bisa dipetik atau dijadikan bahan renungan. Apalagi jika kisah sukses itu mampu memberikan inspirasi, dan energi yang menggerakkan jiwa orang lain untuk sadar dan tersentuh. Kisah itu pun serupa cermin yang tidak saja memberikan infus semangat, tapi juga keinginan untuk bisa meraih impian yang sudah lama ingin diwujudkan dengan cara menghirup spirit untuk mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi kesuksesan itulah yang "ditawarkan" oleh Iwan Setyawan dalam novel 9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple ini. Novel yang terinspirasi dari kisah nyata kesuksesan hidup Iwan Setyawan ini mengisahkan kesuksesan anak seorang sopir angkot di kota Malang (kota Apel) yang kemudian bisa meraih "hal yang tak pernah terlintas dibenaknya" lantaran setelah berjuang dengan penuh daya tahan, ia akhirnya bisa bekerja di perusahaan besar di kota New York (the Big Apple) Amerika Serikat. Padahal, kalau ditengok dari kondisi keluarga Iwan, sebenarnya ia lahir dari keluarga yang pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya hanya sempat mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SMP. Ibunya bahkan tidak sempat lulus SD. Iwan adalah anak laki-laki satu-satunya dari 5 bersaudara--yang semuanya perempuan. Dengan kondisi rumah mungil berukuran 6 x 7 meter yang menjadi tempat bermukim bagi mereka bertujuh, terpaksa setiap malam mereka itu harus berbagi dua kamar tidur. Sebagai anak lelaki, Iwan pun kerap tidak kebagian tempat tidur dan terpaksa harus tidur di ruang tamu atau tidak jarang dia mengungsi ke rumah sang nenek. Karena itu, dia bermimpi ingin memiliki kamar sendiri yang dia bangun di atas dapur. Memang benar bahwa keluarga merupakan harta paling berharga di dunia ini. Itulah harga tak bernilai yang dimiliki oleh keluarga Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, faktor apa yang menjadikan Iwan bisa meraih sukses hingga menjadi Direktur di New York City? Tidak lain berkat kecintaan dan dukungan keluarga, terutama sang ibu. Dengan kondisi yang memprihatinkan itu, sang ibu mewanti-wanti anak-anaknya --terlebih Iwan-- untuk sekolah sampai tinggi. Untuk bisa mewujudkan niat itu, sang ibu pun tak jarang menjual barang dan utang untuk bisa membelikan Iwan buku dan Iwan sendiri pernah membantu tetangga berjualan di pasar sayur. Bahkan setelah Iwan lulus SMA, sang ayah terpaksa menjual angkotnya untuk membiayai uang kuliah Iwan yang masuk jurusan statistik (Fakultas MIPA) IPB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, perjuangan keluarga --terutama sang ibu-- itu tidak sia-sia. Meski sempat pontang-panting, akhirnya Iwan bisa lulus kuliah bahkan tercatat sebagai lulusan terbaik. Jalan lempang pun terbuka lebar. Tidak selang lama, Iwan kemudian bekerja di Jakarta di Nealsen, dan Danareksa Research Institute. Tiga tahun kemudian, ia ditawari kerja di Neilsen New York dan setelah sepuluh tahun bekerja, Iwan menduduki posisi terakhir sebagai Director, Internal Client Management (di Neilsen Consumer Research).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada dua hal penting yang menjadi "mahkota berharga" di balik kesuksesan Iwan: pendidikan dan keluarga. Lewat pendidikan, Iwan mengakui bahwa berkat pendidikan itulah kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Sementara keluarga merekatkan jalan itu untuk meraih kesuksesan. Dan Iwan dalam novel ini, tak henti-henti menegaskan akan peran ibu di balik kesuksesan yang ia raih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah inspiratif ini memang dituangkan dalam sekeping novel. Tapi jika ditilik dari segi sastrawi, novel ini mengguratkan jejak-jejak yang masih terbuka peluang untuk dikritisi sebagai sebuah novel. Setting dan latar "New York" nyaris digambarkan dengan menawan, tetapi Iwan nyaris melupakan keanggunan setting kota Malang. Padahal, kalau dielaborasi lebih jauh, kota Malang pun bisa ditampilkan dengan anggun. Pada sisi lain, masa kecil Iwan di Malang dikisahkan dengan irama cepat bahkan dalam beberapa cerita kilas balik dan nyaris kering dialog. Ujungnya, hal itu tidak cukup menguatkan cerita dengan tokoh yang memukau karena tidak ditegaskan dalam penggambaran adegan. Begitu pun dengan setting akan kota Bandung dan Jakarta, tempat Iwan pernah kuliah dan bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kekurangan itu, tidak dapat dimungkiri, ditutupi kepiawaian Iwan dalam merangkai jalinan kisah dan alur cerita yang dituturkan dengan memukau dan mengundang decak kagum. Maklum, kisah Iwan itu sendiri -tak dapat disangkal-- sudah menjadi daya tarik, dan daya pikat luar biasa yang mengundang pembaca tersentuh dan terpikat. Sebuah jalinan kisah yang berliku, bergulir dengan lancar dan "menginspirasi". Inilah kekuatan novel ini --karena mampu mengembuskan nafas baru, semangat juang dan keinginan kuat untuk meraih mimpi meskipun ditulis dengan bahasa yang ringan. Tetapi, bahasa yang ringan itu justru menjadikan novel ini bisa dikonsumsi oleh semua kalangan --tidak semata-mata oleh para penikmat sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu bisa dipahami dengan satu asumsi, lantaran sejak awal penulisan novel ini, Iwan memang meniatkan buku ini sebagai bentuk atau ruang berbagi cerita kepada keponakan dan juga memberikan inspirasi kepada orang lain --bahwa siapa pun boleh bermimpi. [*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5049465019548838996?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5049465019548838996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5049465019548838996' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5049465019548838996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5049465019548838996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/09/kisah-sukses-anak-sopir-angkot.html' title='Kisah Sukses Anak Sopir Angkot'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-rzC2AH93kg0/TmvBt80L8tI/AAAAAAAACH8/_zQUUxhWTeg/s72-c/9S10A_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-4581318185370615976</id><published>2011-07-31T08:20:00.006+07:00</published><updated>2011-07-31T09:29:35.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>Arogansi Penguasa dan Spirit Pemberotak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-aPLaLz9Se-I/TjSuskfSOTI/AAAAAAAACHU/5vZpYzLRGm4/s1600/Suikoden.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 138px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-aPLaLz9Se-I/TjSuskfSOTI/AAAAAAAACHU/5vZpYzLRGm4/s200/Suikoden.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635321114479704370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi buku ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Minggu 31 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku  : Shin Suikoden: Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air&lt;br /&gt;Penulis         : Eiji Yoshikawa&lt;br /&gt;Penerbit       : Kansha Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan       : Pertama, 2011&lt;br /&gt;Tebal buku  : 486 halaman&lt;br /&gt;Harga          : 69.800,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    BAGI Machiavelli, seseorang bisa jadi pengeran dalam sebuah negera kerajaan karena ia memang diberkahi keberuntungan. Sebab dalam (negara) kerajaan, orang diangkat jadi pengeran berdasarkan keturunan. Tetapi, tanpa didukung "kemampuan", jelas keberuntungan itu akan sirna.  Dengan kata lain, keberuntungan itu harus ditopang dengan kemampuan besar, otak genius, tahu cara memimpin, bertahan, dan bahkan bertindak demi mempertahankan kekuasaan itu. Dan tindakan kejam (meski pun tidak bermoral, dan tidak beragama), tetap dibutuhkan untuk memberikan sebuah kekuatan. Sekali pun langkah itu tidak mengantarkan sang pangeran pada kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sejarah menorehkan segudang kisah. Ketika sang pangeran (negara kerajaan) mengandalkan keberuntungan semata, pastilah akan berujung tragis --tersungkur dari tahta. Pasalnya, tatkala rakyat ditikam duka lara kelaparan, dan elite politik hanya mengurus perut sendiri, bahkan ketidakadilan teronggok di sudut-sudut kota, benih pemberontakan pun meneguhkan tindakan brutal di luar konstitusi untuk menumbangkan "kursi kekuasaan" sang pangeran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan oleh Machiavelli di atas, tidak dapat ditepis mengukuhkan ruh cerita novel Shin Suikoden karya Eiji Yoshikawa yang mengisahkan kepahlawanan 108 pendekar --yang di mata rakyat disebut-sebut pahlawan tetapi di mata penguasa disebut bandit-- untuk melakukan pemberontakan melawan "kebengisan pemerintah Dinasti Song. Cerita ini sebenarnya adalah penuturan ulang Eiji Yoshikawa terhadap kisah klasik China Suikoden (Batas Air). Tetapi, Yoshikawa mampu menorehkan tinta dengan gemulai. Tak pelak, kisah ini pun menjadi kisah yang populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keberuntungan Yang Terlukai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di masa pemerintahan kaisar Jin Sou (keturunan keempat dinasti Sou), wabah penyakit merebak dan rakyat terlilit kematian. Tidak ingin rakyat dekat dengan maut, sang kaisar memerintahkan Jenderal Kou menemui pendeta Kyo Sei di kuil Jou Sei. Tetapi, sang pendeta tahu lebih dulu sehingga ia secepat kilat memenuhi panggilan kaisar. Jadinya, Jenderal Kou tak berhasil menemui sang pendeta -meskipun misi itu telah ditunaikan pendeta. Jenderal Kou pun tidak buru-buru kembali ke istana. Sewaktu dia minta diantar melihat keadaan kuil, ada satu ruangan yang menarik rasa keingintahuannya. Sebab di pintu ruangan itu ia melihat jelas tulisan "Ruang Pengekangan Iblis". Sebenarnya, itu ruang rahasia --tidak seorang pun diizinkan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jenderal Kou memaksa untuk membuka ruangan tersebut. Karena, baginya, cerita sekelompok iblis yang dirantai itu kisah konyol. Pengurus kuil tidak kuasa menolak permintaan jenderal Kou. Ruangan itu pun dibuka dan kemudian terjadi sesuatu yang tidak terduga: 108 bintang jahat terlepas dari kekangan turun ke dunia manusia --satu demi satu bintang-bintang itu pun menjelma manusia dan membetuk benteng Ryou Zan Paku, yang di kemudian hari menjadi tempat berkumpulnya 108 jawara yang hampir menghancurkan Dinasti Sou. (hal. 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, saat tapuk kekuasaan dipegang oleh Kaisar Ki Sou (kaisar kedelapan Dinasti Sou), 108 bintang jahat itu seperti menemukan tempat berpijak. Apalagi Kaisar Ki Sou tidak menopang keberuntungan menjadi pangeran itu berpihak kepadanya dengan mendasarkan pada geniusan berpikir dan kemampuan mengelola pemerintahan. Kecintaan yang dalam pada seni dan kemegahan istana, membuat ia lengah serta abai pada rakyat. Pajak dipungut dengan tinggi yang mengakibatkan rakyat seperti dicekik. Di sisi lain, elit pemerintahan di sekeliling bertindak jahat dan semena-mena. Keberuntungan yang digenggang itu telah dilukai. Tak pelak, jika kemudian menimbulkan 108 jawara melawan kekuasaan sang kaisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para jawara penjelmaan "108 iblis jahat" itu pun kemudian digerakkan semangat untuk melawan dan satu demi satu kemudian bertemu di benteng Ryou Zan Paku. Beberapa dari jawara yang budiman itu tidak lain Shi Shin yang dikenal dengan nama si naga sembilan, Ro Chi Shin yang dijuluki si Pendeta Bunga, yang dulunya pernah menjadi polisi militer dan Cendekiawan Go --seorang guru cerdik, bijak bahkan memiliki ketajaman akal dalam membuat stategis. Berkat kecerdikannya, hadiah (ulang tahun) dari panglima Ryou Chu Sho yang hendak diberikan kepada perdana mentari Sai Kei berhasil dirampas dengan gampang. Dari situlah, Cendekiawan Go bersama komplotannya lalu berlari ke  Ryou Zan Paku, tidak lain untuk melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rumit dan Berliku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kisah dalam novel ini, tak dapat dimungkiri dibangun dengan setumpuk tokoh dan alur cerita yang cukup panjang dan berbelit. Tak salah, jika satu tokoh dengan tokoh lain yang lain --tidak saling terkait karena memang latar belakang sebagian besar tokoh dalam cerita ini lahir di daerah tertentu dan klan yang beragam. Ujungnya, dalam setiap bab seolah cerita ini tidak memiliki benang merah dan nyaris tidak memiliki kaitan antara satu bab dengan bab lain, bahkan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Maklum, cerita novel ini cukup panjang melibatkan banyak tokoh, dan itu yang membutuhkan pembaca harus kejelian dan butuh daya ingat untuk mengenali tokoh-tokoh dalam novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mendekati akhir kisah, sebagian tokoh bertemu dan menguatkan sebuah spirit perlawanan yang berujung pada berkumpulnya para jawara itu ke Ryou Zan Paku. Kendati demikian, novel ini -yang secara keseluruhan ada 4 jilid-- tidak bisa berdiri sendiri. Dengan kata lain, novel ini     menyisakan sekelumit cerita yang belum selesai, karena tidak dapat dikatakan sebagai sepanggal kisah yang bisa dipahami dengan jelas atau berdiri sendiri. Novel ini tidak bisa dipahami jika tidak digabungkan dengan jilid lain atau selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tidak dapat ditepis bahwa di tangan Eiji Yoshikawa, novel ini menjadi enak dibaca, mengalir dan renyah. Itu tidak lain karena sang pengarang menulis kisah ini dengan menumbuhkan minat pada sejarah ditopang dengan gaya penulisan yang populer, dan bahasa sederhana. Meski tak dimungkiri, banyak novelnya yang bernuansa sejarah selalu disesaki dengan setumpuk tokoh sehingga cerita pun menjadi berliku. Itu salah satu kehebatan Yoshikawa. Maka, jika ada yang patut diajungi jempol dari kerja keras Eiji Yoshikawa satu satunya adalah cara dia menumbuhkan minat baca dengan mengenalkan sejarah dalam bentuk novel. [ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-4581318185370615976?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/4581318185370615976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=4581318185370615976' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4581318185370615976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4581318185370615976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/07/arogansi-penguasa-dan-spirit-pemberotak.html' title='Arogansi Penguasa dan Spirit Pemberotak'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-aPLaLz9Se-I/TjSuskfSOTI/AAAAAAAACHU/5vZpYzLRGm4/s72-c/Suikoden.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5937055885351255146</id><published>2011-07-22T13:57:00.000+07:00</published><updated>2011-07-22T13:57:00.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>Madinah; Negara Islam?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-3o8I2Mb01XU/Tg39yoCsClI/AAAAAAAACG0/SKSwWK6fGS4/s1600/chiefdom%2Bmadinah%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 151px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-3o8I2Mb01XU/Tg39yoCsClI/AAAAAAAACG0/SKSwWK6fGS4/s200/chiefdom%2Bmadinah%2B1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624430555839597138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hidayah&lt;/span&gt; edisi 120/ Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Judul buku: Chiefdom Madinah: Salah Paham Negara Islam&lt;br /&gt;Penulis : Dr. Abdul Aziz MA&lt;br /&gt;Penerbit : Alvabet, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2011&lt;br /&gt;Tebal buku: 424 halaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SETELAH Nabi hijrah dari Makah ke Yatsrib, kota yang di kemudian hari dikenal dengan nama Madinah itu dicatat sejarah sebagai pusat pengorganisasian dakwah Islam dan peletakan dasar bangunan ideal sebuah negara. Tapi tak sedikit pemikir muslim yang mengukuhkan Madinah sebagai wujud negara Islam. Negara yang “ideal” tidak saja untuk ditengok, melainkan juga dibangun kembali dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dasar pemikiran itulah yang kemudian melahirkan “gerakan ideologis-normatif” yang menggugat bentuk negara (sekuler) di belahan dunia --termasuk di Indonesia—dan bersikeras (menggantinya dengan) membangun negara Islam. Tapi di tengah perdebatan itu, Abdul Aziz melalui buku Chiefdom Madinah: Salah Paham Negara Islam ini justru bertanya cukup menukik: apakah Madinah bisa disebut negara Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tegas, penulis yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI (2007-2012) ini menandaskan bahwa Madinah belum bisa disebut sebagai negara Islam melainkan Chiefdom Madinah. Karena masa itu, Madinah tidak lebih sebentuk pranata kekuasaan terpusat pra-negara (pre-state) dan itu menjadi cikal tata kelola masyarakat Muslim Arab di Madinah dan daearh taklukan –baik di masa Nabi maupun Khulafaur Rasyidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara praktik pengelolaan kekuasaan waktu itu pun masih mengakomodasi banyak elemen sosial-budaya setempat, bahkan bersifat sementara. Memang, menurut penulis, kehadiran Islam memberikan amunisi serta menjadi pendorong sentripetal bagi masyarakat Arab di Semenanjung Arabia dalam proses menuju suatu negara (pre-state). Tapi, harus diakui bahwa Islam bukan menjadi pemeran dan penyumbang satu-satunya karena tradisi Arab Jahiliah pun turut andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan konteks itu, penulis berkesimpulan: praktik pengorganisasian Chiefdom Madinah tak tepat disebut Negara Islam. Dengan metode interpretasi historis-sosiologis, penulis mengenalkan Madinah dalam konteks historis. Karena Islam -di Madinah- telah memberi sumbangan bagi pembentukan negara (state formation) di masa-masa awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, melihat Madinah dengan sudut pandang teori negara modern, rasanya tak adil. Sebab Chiefdom Madinah berkembang 14 abad yang lalu.  Walau bagaimana pun Madinah tetap sebentuk pranata kekuasaan modern di masa itu bahkan bisa dikata telah melampaui zamannya. [&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;n. mursidi&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5937055885351255146?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5937055885351255146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5937055885351255146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5937055885351255146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5937055885351255146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/07/madinah-negara-islam.html' title='Madinah; Negara Islam?'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-3o8I2Mb01XU/Tg39yoCsClI/AAAAAAAACG0/SKSwWK6fGS4/s72-c/chiefdom%2Bmadinah%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5620428146104521507</id><published>2011-07-20T06:08:00.003+07:00</published><updated>2011-07-20T06:13:33.680+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku biografi'/><title type='text'>Kehidupan Luar Biasa tentang Oprah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-df0R85DaEKo/TiYPR2BtPYI/AAAAAAAACHM/9nPIhklI7ac/s1600/08_oprah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 131px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-df0R85DaEKo/TiYPR2BtPYI/AAAAAAAACHM/9nPIhklI7ac/s200/08_oprah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631205183308250498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(204, 0, 0);" href="http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/67110"&gt;Koran Jakarta&lt;/a&gt;, Rabu 20 Juli 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : Oprah: Kisah Sesungguhnya Anak Miskin yang Berhasil Membangun Kerajaan Media yang Luar Biasa&lt;br /&gt;Penulis        : Kitty Kelley&lt;br /&gt;Penerbit     : Gramedia, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan      : Pertama, 2011&lt;br /&gt;Tebal buku: 632 halaman&lt;br /&gt;Harga         : Rp. 120.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    TAK sedikit orang yang lahir dari keluarga miskin yang bisa meraih sukses. Tetapi kisah sukses Oprah --yang dikenal sang ratu talkshow-- memiliki warna dan pesona lain. Ia tak saja berhasil meraih mimpi menjadi megabintang, melainkan sekaligus milyader dan ikon wanita kulit hitam Amerika yang mendobrak tembok diskriminasi untuk meraih sukses tanpa tanding. Tak salah, kalau Oprah dianggap pahlawan wanita yang dipuja dan dikagumi jutaan orang, bahkan jadi ikon budaya dengan status bak orang suci. Ia jadi cermin bagi perjuangan wanita yang bisa meraih sukses dengan jerih payah, tanpa warisan dan perkawinan. Apalagi ia pernah jadi korban pelecehan seksual dan berhasil mengalahkan kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  Tak berlebihan, jika jalan berliku yang diraih Oprah itu membuat orang lain ingin melongok. Itulah yang meneguhkan Kitty Kelley ngotot menuliskan biografi Oprah ini --meskipun Oprah tidak memberikan restu. Bahkan, Oprah menganggap tulisan Kitty Kelley ini tidak lebih mengorek-ngorek sampah. Tapi, dari jerih payah Kitty Kelley dalam menulis buku biografi ini, pembaca justru akan "mengenal sosok Oprah" secara adil, jujur, dan objektif. Sebab, Kitty Kelley dalam buku ini menulis keberhasilan Oprah, dan menguliti tanpa tedeng aling-aling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bagaimana tidak? Ketty dengan jujur mengungkapkan Oprah yang --lahir di Mississippi, 29 Januari 1954-- tidak saja sebagai anak miskin yang ditelantarkan ibunya (Vernita Lee) tapi tidak lebih sebagai "anak haram". Meski di akte kelahiran, Vernon Winfrey dicatat sebagai ayah Oprah, tapi belakangan Vernon menepis -sebab ia tahu bahwa 9 bulan sebelum Oprah lahir dia tugas militer. Awalnya, Oprah diasuh Hattie Mae, neneknya. Usia 5 tahun ia kembali hidup bersama ibunya. Tapi kemiskinan ibunya menjadikan ia telantar. Apalagi saat itu ibunya melahirkan anak perempuan lagi di luar nikah; Patricia Lee dan tak lama kemudian melahirkan anak ketiga Jeffrey Lee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kondisi pahit itu, membuat Vernita mengirim Oprah ke Vernon di Nashville. Tapi, itu tidak lama sebab Oprah kemudian dikembalikan ke Vernita. Oprah sebenarnya anak yang cerdas, tetapi kondisi ekonomi ibunya membuat dia terpuruk bahkan mengalami setumpuk nasib tragis. Dari usia 9-14 tahun, ia mengalami penganiayaan dan pemerkosaan oleh sepupunya, kekasih sepupunya bahkan pamannya sendiri. Bahkan Kitty Kelley menulis, di masa remaja Oprah suka gonta-ganti pasangan. Itu yang menjadikan Oprah harus menelan pil pahit. Saat ia kemudian tinggal bersama Vernon kembali, pada usia 15 tahun, Oprah melahirkan bayi --tapi bayi itu tak berumur panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Setelah itu, Oprah berubah. Di bawah asuhan Vernon dan Zelma, Oprah menjadi displin. Di sekolah, ia pun meraih prestasi. Lambat laun, ia manapaki jalan lempang terpilih Miss Black Nastville, lalu Five Prevention. Oprah yang tak membiarkan kehidupan menghambat ambisinya pada akhirnya bisa meraih puncak. Karier itu dimulai jadi penyiar berita di stasiun radio kulit hitam. Setelah itu, ia mewujudkan ambisinya kerja di stasiun televisi (di Nashille), menjadi pembawa acara TV di Baltimore, kemudian dipromosikan jadi pendamping pemandu acara bincang-bincang pagi (talk show) yang bernama People Are Talking. Gebrakan luar biasa ketika Oprah diminta jadi pemandu acaranya sendiri dan mampu mengalahkan Phill Donahue Show dan kemudian meraih kesuksesan puncak dalam The Oprah Winfrey Show --yang menjadi acara talk show nomer wahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tapi, sekadar jadi pembawa acara talkshow nomor satu belum cukup. Ia pun main film dan mengepakkan sayap mewujudkan mimpinya jadi taipan raksasa; punya kekaisaran media sendiri -jaringan televisi, acara radio, situs web, acara bincang, majalah dan berbagai hal di bawah label perusahaan Harpo. Di balik keberhasilan itu, tak bisa dilepaskan dari kerja keras Oprah yang luar biasa. Sejak kecil, dia sudah memiliki semua ambisi itu. Ia yakin bahwa suatu saat nanti, ia terkenal, kaya, dan dipuja. Ambisi itu, kini sudah terwujud. Bahkan jadi pahlawan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dalam buku ini, Kitty Kelley menghadirkan biografi Oprah secara telanjang. Dia tidak saja mengungkapkan prestasi Oprah tapi sekaligus beberapa kegagalan Oprah saat "menapaki karier". Di luar itu, Ketty menuturkan sisi kehidupan paling subtil "sang ratu talkshow" itu secara lengkap hubungan Oprah dengan ibunya, ayahnya, adiknya dan sahabatnya. Maka, buku ini pun berhasil mengungkap kisah cinta Oprah, pelecehan seksual yang pernah ia alami, perjuangan Oprah dalam menurunkan berat dan meraih karier sebagai wanita kaya --yang memiliki kekayaan 2,4 milyar. Itu semua menjadikan buku ini nyaris lengkap dan gamblang mengungkapkan siapa sebenarnya Oprah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Kerja keras Ketty dalam menulis buku ini, tentu patut dihargai. Apalagi, ia menulis buku ini selama 4 tahun. Dia menghimpun kehidupan Oprah yang dipublikasikan di media selama 25 tahun, dilengkapi dengan mewawancarai anggota keluarga terdekat Oprah, sahabat dan rekan-rekan bisnis Oprah. Itu masih belum cukup, Ketty masih melengkapi data-data lain seperti catatan pengadilan, akte kelahiran, catatan keuangan dan pajak yang harus dikeluarkan Oprah.     Tak pelak, jika buku ini membuat Oprah murka. Sebab buku ini merupakan buku unautorized biografi --buku yang ditulis tanpa izin atau bahkan "tanpa kontrol" Oprah. Maka buku ini disebut-sebut sebagai buku "biografi Oprah yang kontroversial". Apalagi, penulis berusaha menggali aspek kehidupan paling rahasia Oprah yang tak diketahui banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Rupanya, kerja keras Kelley membuahkan hasil. Sekalipun Oprah tidak pernah memberi restu penulisan buku ini, toh buku ini telah terbit dan bahkan dalam waktu dekat kisah Oprah yang dituangkan Kitty Kelley  dalam buku ini akan diangkat menjadi film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  *) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5620428146104521507?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5620428146104521507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5620428146104521507' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5620428146104521507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5620428146104521507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/07/kehidupan-luar-biasa-tentang-oprah.html' title='Kehidupan Luar Biasa tentang Oprah'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-df0R85DaEKo/TiYPR2BtPYI/AAAAAAAACHM/9nPIhklI7ac/s72-c/08_oprah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-1583564752831531544</id><published>2011-07-09T01:01:00.003+07:00</published><updated>2011-07-11T11:18:34.604+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku true story'/><title type='text'>Buku yang Mengisahkan tentang Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-9jyJAfifszk/TcrPM32LODI/AAAAAAAACFQ/Sk07n0Hx6cc/s1600/the%2Bman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 126px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9jyJAfifszk/TcrPM32LODI/AAAAAAAACFQ/Sk07n0Hx6cc/s200/the%2Bman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605520506272561202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Harian Pelita&lt;/span&gt;, Sabtu 9 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : The Man Who Loved Books Too Much&lt;br /&gt;Penulis         : Allison Hoover Bartlett&lt;br /&gt;Penerbit         : Alvabet, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan         : Pertama, 2010&lt;br /&gt;Tebal buku    : 300 halaman&lt;br /&gt;Harga         : Rp. 59.900,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    SECARA fisik, tidak dapat disangkal, bahwa buku hanya lembaran-lembaran kertas (yang dijilid dengan dibalut sebuah cover). Tapi, tatkala lembaran-lembaran kertas itu digores dengan tinta ilmu pengatahuan --dilengkapi setumpuk data, rangkaian alur cerita memikat, bahkan sentuhan pengalaman hidup yang bisa dikenang, buku itu pun bisa berubah menjadi barang berharga dan memiliki nilai lebih --karena buku itu telah menjadi semacam artefak dan tumpukan kenangan.  Dengan kata lain, buku tidak semata-mata berupa lembaran kertas, melainkan menyimpan "setangkup kenangan yang bisa menyimpan ingatan dari masa lalu".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai "artefak dan kumpulan kenangan", buku pun menempati kedudukan yang istimewa. Apalagi, kalau buku itu telah ditulis di masa lampu dan kemudian seiring dengan berlalunya waktu menjadi berumur ratusan tahun, ditambah lagi ditulis itu oleh seorang penulis terkemuka dan waktu diterbitan hanya dicetak terbatas, tak ditepis akan termasuk kategori buku langka. Buku yang harganya bisa melonjak naik, bahkan jauh lebih mahal daripada harga ketika buku tersebut diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada aras inilah, ada seguhan ironisme tentang cerita sebuah buku. Anggapan terhadap buku lalu menjadi berubah. Buku langka itu tidak ubahnya seperti sebuah lukisan. Harga buku dapat melonjak tidak wajar. Tentu bagi pecinta buku langka berkantong tebal, hal itu tak jadi masalah. Maka mereka rela mengeluarkan isi dompet ratusan dollar untuk mengumpulkan atau mengoleksi buku-buku langka. Tapi bagi Gilkey yang miskin, ceritanya ternyata menjadi lain. Kecintaannya pada buku (langka), membuat dia rela melakukan apa pun --demi cinta yang buta pada buku. Meski ia harus rela menebusnya dengan "dijebloskan ke dalam penjara".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kutub pertama dari cerita penggila buku yang dikisahkan Allison Hoover Bartlett dalam The Man Who Loved Books Too Much ini.     Semua itu bermula, ketika Gilkey dipenjara di Stanislaus County Jail (karena penipuan) dan dia membaca buku Booked to Die karta John Dunning -sebuah novel tentang seorang kolektor perempuan yang melakukan banyak penelitian buku langka. Dari situ, Gilkey "terilhami" untuk lebih serius dan lebih seksama lagi dalam penelitiannya mengenai buku langka dan berbuat gila: mencuri buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukan Pencuri Bodoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat Gilkey melewati batas dari pengagum jadi pencuri? Bagi Gilkey --tokoh penggila buku yang dikisahkan oleh Allison Hoover Bartlett dalam buku ini--, mencuri buku itu menjadi tindakan yang sah. Maka, dia pun nyaris tidak pernah membeli buku dengan uangnya sendiri. Karena bagi Gilkey, tidak adil rasanya dia tidak memiliki cukup uang untuk mendapat buku-buku yang dia inginkan. Karena keadilan, bagi Gilkey adalah kepuasan. Jika dia merasa puas, maka itu artinya adil (hal. 45). Maka, dia pun kemudian mencuri. Pendek kata, cara apa pun untuk mendapatkannya akan dianggap adil dan benar (hal. 225)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, Gilkey bukan pencuri bodoh yang mudah dijerat dan ditangkap. Ia dikenal sebagai pencuri buku langka yang licin nomor wahid di seantero Amerika. Berbeda dengan Libri (1803-1869), yang tercatat sebagai tukang katalog manuskrip sejarah di perpustakaan umum di Prancis dan dengan profesi itu membuat dia mendapat kemudahan untuk mencuri buku-buku langka (dengan cara menukarnya dengan buku-buku yang tidak terlalu berharga dan membawa pulang buku yang ia inginkan dengan tidak mendatanya dalam katalog). Gilkey juga tak sebodoh Blumberg, dalam melancarkan aksi pencurian dengan melompat tembok dan mencuri buku-buku langka dari perpustakaan. Gilkey berbeda dengan dua orang pencuri tersebut, karena Gilkey cerdas. Dalam melancarkan pencurian itu, dia menggunakan kartu kredit (dengan nomor kwitansi kartu kredit orang lain)- dan hanya sekali dua kali menulis cek kosong. Dengan cara itu Gilkey bisa menipu sejumlah toko buku langka di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari impian Gilkey, ia sebenarnya memiliki cita-cita luhur: ingin memiliki perpustakaan dan koleksi buku-buku utama dan langka. Paling tidak, ia ingin mengoleksi seratus buku terbaik sepanjang masa ---menurut versi Modern Library. Sayang, ia miskin dan tidak memiliki uang. Ujungnya, niat mulia itu ditempuh dengan menghalalkan segala cara demi kecintaannya pada buku. Ia menempuh jalan keliru: mencuri buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulah Gilkey itu, membuat Sanders yang dikenal sebagai bibliodick --penjual buku sekaligus merangkap sebagai detektif-- dibakar amarah. Sanders ini pun mewakili kutup kedua penggila buku. Ia yang geram dengan ulah Gilkey kemudian memburu Gilkey. Bahkan selama tiga tahun, ia mengintai, mengincar, mengejar bahkan berusaha menangkap Gilkey. Pasalnya, sejak akhir 1999 sampai 2003, Gilkey telah mencuri sejumlah buku langka dengan nilai sekitar 100.000 d0llar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, sepandai-pandai tupai melompat, tetap akan jatuh. Itulah yang akhirnya terjadi pada Gilkey. Dia akhirnya, ditangkap detektif Ken Munson yang berhasil menemukan apartemen Gilkey di Treasure Island. Gilkey digugat dengan pasal pendurian identitas dan pencurian akses kartu kredit serta kepemilikan barang curian (hal. 165).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dua Kutup Penggila Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kisah kegilaan Gilkey dan Sanders terhadap buku dan bagaimana mereka memandang buku itu ibarat "dua kutup" wajah penggila buku, tetapi keduanya menjalani kehidupan yang berbeda. Gilkey sang pencuri. Sementara itu, Sanders adalah sosok yang berjuang mati-matian mengejar Gilkey, sampai rela mengorbankan stabilitas tokonya demi menangkap Gilkey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allison Hoover Bartlett --penulis buku ini-- tidak saja mampu menuturkan dua kutup penggila buku itu dengan manawan melainkan juga sangat menakjubkan karena tidak semata-mata mengandalkan kisah Gilkey yang misterius dan penuh teka-teki. Itulah tantangan penulis ketika dia harus dihadapkan pada setumpuk rahasia Gilkey tapi ia berusaha mengorek keterangan dan melakukan investigasi di balik kehidupan misterius sang pencuri buku tersebut. Untuk tujuan penulisan buku ini, penulis tak semata-mata melakukan wawancara dengan Gilkey dan Sander melainkan juga dilengkapi wawancara dengan sejumlah kolektor buku. Dengan ketelitian, kecermatan dan kecerdikan dalam menulis petualangan Gilkey itulah, tak mengagetkan, kalau buku yang ditulis dengan serius ini pun kemudian menjadi salah satu buku terbaik 2009 versi Library Journal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, penulis mampu menggali kehidupan Gilkey dengan cukup lengkap. Kehidupan Gilkey itu, kemudian disandingkan dengan sosok Sanders yang berseberangan dalam melihat buku (langka). Kisah itu pun akhirnya menjadi kisah yang unik dan menarik karena menyimpan aroma paradoksal. Dengan keberadaan dua tokoh yang sama-sama memiliki kecintaan pada buku --tetapi keduanya berada pada jalur yang berseberangan. Dua kutub itu dikisahkan oleh penulis ibarat kucing dan tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menarik lagi, kisah dalam buku ini dituturkan dengan renyah, dan menawan. Penulis bisa menyeret pembaca tidak hanya pada dua sosok itu, melainkan lebih jauh mengajak pembaca mengenal dan memasuki dunia buku langka. Jadi, buku ini sebenarnya merupakan sebuah buku yang mengisahkan tentang buku (langka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-1583564752831531544?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/1583564752831531544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=1583564752831531544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1583564752831531544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1583564752831531544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/05/dua-kutub-penggila-buku.html' title='Buku yang Mengisahkan tentang Buku'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-9jyJAfifszk/TcrPM32LODI/AAAAAAAACFQ/Sk07n0Hx6cc/s72-c/the%2Bman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5979926488215155866</id><published>2011-06-28T02:07:00.004+07:00</published><updated>2011-06-28T02:14:57.279+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku biografi'/><title type='text'>Pemimpin yang Melayani Rakyat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-x1lzapyNzOo/TgjVsSbQJhI/AAAAAAAACGs/vYvBbf7xlA4/s1600/07_takhta%2Buntuk%2Brakyat.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 137px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-x1lzapyNzOo/TgjVsSbQJhI/AAAAAAAACGs/vYvBbf7xlA4/s200/07_takhta%2Buntuk%2Brakyat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622979091609167378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi buku ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/65450"&gt;Koran Jakarta&lt;/a&gt;, Selasa 28 Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX&lt;br /&gt;Penulis        : Mohamad Roem dkk&lt;br /&gt;Penerbit     : Gramedia, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan      : 2011&lt;br /&gt;Tebal buku: 504 halaman&lt;br /&gt;Harga         : Rp. 95.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    NYARIS tak ada raja yang punya tempat istimewa di hati rakyat sekaligus mampu melampaui wilayah kekuasaan di mana dia berkuasa. Jika ada, mungkin Sultan Hamengku Buwono IX bisa disebut perkecualian. Dia dikenal sebagai raja ("pewaris takhta"), dan pemegang gelar dalam deretan silsilah gemilang raja-raja Mataran. Tapi predikat itu masih belum cukup menggambarkan sosoknya. Karena pada sisi lain, dia dikenal pula sebagai pemimpin politik nasional yang pernah menduduki sederet jabatan menterang --di antara pernah jadi Menteri Negara, Menteri Pertahanan, Wakil Perdana Menteri, Menteri Koordinator Pembangunan, dan terakhir sebagai Wakil Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Meski dikenal sebagai raja, Sultan ternyata bukan sosok raja feodal. Justru di mata kolega dan orang-orang yang pernah dekat dengannya --sebagaimana diungkapkan kontributor dalam buku Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX ini-- mengenang (raja yang waktu kecil bernama Dorodjatun itu) sebagai pemimpin demokratis, patriot sejati, pribadi yang tegas, berani bahkan bertanggung jawab. Tak pelak, jika sederet jabatan tinggi dalam peta politik Indonesia pun pernah disandang, semata-mata lantaran diminta dan dia menjalankan "tugas dan kewajiban" itu demi panggilan jiwa untuk berbakti pada bangsa dan melayani rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa patriotisme Sultan memang tak diragukan. Saat pendudukan Jepang, dengan tegas Sultan berani menolak perintah. Hal itu berlaku juga sewaktu Belanda kembali menduduki Indonesia (agresi II), dengan lapang dada Sultan menyediakan kota Yogyakarta sebagai ibu kota. Bahkan pengaruh Sultan yang kuat di hati rakyat membuat Belanda tak mudah menduduki kembali Indonesia. Belanda pun menawari janji kekuasaan lebih luas --meliputi keluasan wilayah Jawa hingga Madura-- asal mau kooperatif. Tapi, Sultan dengan tegas menolak. Lebih dari itu, ketika rakyat dijepit kondisi pahit (saat agresi II), Sultan menguras dana pribadi untuk membayar gaji pegawai republik. Serangan Umum 1 Maret 1949 pun, ditengarai datang dari Sultan. Tak salah, kalau ada yang menyebut Sultan sebagai soko pendirian Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dia dikenal sebagai pemimpin yang suka menolong rakyat. Pernah, suatu hari Sultan mengendari jib dari Sleman dan di tengah jalan ada seorang wanita menghentikan mobilnya --berniat menumpang ke pasar Kranggan. Sultan berhenti, menaikkan dagangan milik wanita itu ke mobil dan mengantarkan. Sesampai di pasar Kranggan, Sultan menurunkan dagangan dan wanita itu pun berniat memberi ongkos. Tetapi Sultan menolak. Konon, setelah Sultan pergi dan wanita itu tahu bahwa orang yang membantunya itu tidak lain adalah Sultan, dia pun pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejuta "kesan dan kenangan" tentang sosok Sultan dan bahkan sepenggal kisah yang pernah dialami oleh orang-orang dekat Sultan --para kontributor dalam buku ini seperti Mohammad Roem, TB Simatupang, TK Critchley, A.H Nasution, Mohammad Natsir dan masih banyak lagi itulah yang dirangkum dalam buku ini. Tak berlebihan jika sosok Sultan seperti kenangan yang teringat dalam ingatan. Itu tak lain karena Sultan memang dikenal sebagai "Seorang Patriot yang Unik" (oleh T.K. Critchley), "Negarawan Berwibawa Tanpa Pamrih" (Fran Seda), "Seorang Nasionalis Sejati" (J.H. Ritman), dan "Seorang Patriot Teladan" (Sjafruddin Prawiranegara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski buku ini adalah buku biografi atau semi-biografi, tetapi tak bisa dimungkiri bahwa buku ini merupakan catatan sejarah penting dari perjalanan hidup Sultan Hamengku Buwono IX sekaligus sepenggal sejarah tentang Indonesia. Karena dari rentetan kisah hidup Sultan, "bermukim" secuil urat sejarah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*) N. Mursidi&lt;/span&gt;, alumnus Filsafat UIN, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5979926488215155866?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5979926488215155866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5979926488215155866' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5979926488215155866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5979926488215155866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/06/pemimpin-yang-melayani-rakyat.html' title='Pemimpin yang Melayani Rakyat'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-x1lzapyNzOo/TgjVsSbQJhI/AAAAAAAACGs/vYvBbf7xlA4/s72-c/07_takhta%2Buntuk%2Brakyat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-9049372364586084471</id><published>2011-06-26T08:21:00.003+07:00</published><updated>2011-06-26T08:33:22.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku true story'/><title type='text'>Cara Bijak Melihat Uang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-i0GY2jByKXo/TgaKOxHWChI/AAAAAAAACGk/8-ouOQOv1m8/s1600/07_the%2Bmoneyless%2Bman.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 140px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-i0GY2jByKXo/TgaKOxHWChI/AAAAAAAACGk/8-ouOQOv1m8/s200/07_the%2Bmoneyless%2Bman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622333171125586450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/408399/"&gt;Seputar Indonesia&lt;/a&gt;, Minggu 26 Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : The Moneyless Man: Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang&lt;br /&gt;Penulis        : Mark Boyle&lt;br /&gt;Penerbit     : Serambi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan      : Pertama, Mei 2011&lt;br /&gt;Tebal buku: 349 halaman&lt;br /&gt;Harga buku: 40.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    MANA mungkin orang bisa hidup tanpa uang? Di zaman modern seperti sekarang ini, rasanya mustahil orang bisa menjalani hidup tanpa uang di saku atau kartu kredit di dompet. Apalagi kalau fakta itu masih ditambah dengan tidak ada "tabungan" di rekening sebagai jaminan hari tua. Sungguh tak masuk akal dan sulit dipercaya. Pasalnya, nyaris tidak ada sumber kehidupan di dunia ini yang bisa didapatkan gratis atau cuma-cuma. Semua harus dibeli dengan uang. Praktis, sebagain besar orang menganggap uang ibarat nyawa kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Tapi, pandangan itu ternyata mampu dipatahkan oleh Mark Boyle. Kisah nyata yang ia tuangkan dalam buku The Moneyless Man: Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang ini tidak saja membuktikan bahwa ia bisa hidup tanpa uang tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa uang itu tidak lebih sebagai alat tukar. Uang bukan sebagai tujuan hidup. Ia yang sebelumnya pernah bekerja --sebagai manajer-- di sebuah perusahaan makanan organik, setelah menimbang-nimbang akan kompleksitas kehidupan yang diakibatkan oleh sistem keuangan global, kemudian memilih berhenti dan melakukan eksperimen gila; menjalani hidup tanpa uang selama satu tahun (sejak 29 November 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Uniknya, meski pun hidup tanpa uang, ia tak lantas hidup di gua atau jauh dari kehidupan sosial. Ia tetap hidup di tengah masyarakat. Ia hidup dengan menempati karavan yang ia taruh di lahan yang disewa dengan cara bekerja jadi relawan. Untuk pergi ke kota, dia bersepeda --selain untuk tujuan puasa bahan bakar (minyak), juga untuk mengurangi polusi udara (ramah lingkungan). Sementara itu, untuk mencukupi kebutuhan hidup, ia merakit kompor yang ramah lingkungan, menciptakan energi (tanpa bergantung pada listrik) bahkan mampu membuat kertas dari jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia pun tidak berpuasa. Ia tetap makan teratur. Untuk mencukupi kebutuhan pangan, kadang-kadang mendapatkan dengan cara "barter" ketrampilan, mencari tanaman dari alam, mendapat makanan dari toko tanpa harus mencuri bahkan untuk persediaan jangka panjang, ia memilih menanam tananan sendiri. Walau hidup tanpa uang, Mark tak pula memutuskan hubungan dengan teman-temannya, dan tak jauh dari wartawan. Ia tetap bisa menghadiri beberapa acara di kota bahkan bisa pulang ke rumahnya di Irlandia (dari tempat tinggalnya di Bristol, Inggris) di hari Natal tanpa mengeluarkan uang sepersen pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ulah Mark itu mungkin oleh sebagian orang dianggap gila. Tapi di balik eksperrimen Mark hidup tanpa uang itu bukan sebagai ungkapan kebencian pada uang. Eksperimen itu semata-mata dilandasi "gagasan" bahwa seiring perjalanan waktu, uang yang semula sebagai alat tukar telah mengalami pergeseran. Di mata Mark, uang telah menjadikan manusia terputus hubungan dari apa yang dikonsumsi dengan orang yang membuat "produk". Dengan uang, orang menjadi rakus; tak membeli berdasarkan pada apa yang dibutuhkan, tapi lebih pada hasrat terus menkonsumsi secara berlebihan. Uang berdiri di atas sistem yang dibangun pada ketidaksetaraan dan itu menjadikan kerusakan lingkungan dan tidak manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi, dengan eksperemen hidup tanpa uang, Mark pada intinya tidak mengajak orang lain membenci uang. Ia sadar hal itu adalah utopia. Apalagi, di belahan dunia ini, Mark bukanlah satu-satunya orang yang pernah menjalani hidup tanpa uang. Di Jerman, ada Heidemarie Schwerner, seorang wanita berumur 60 tahun bahkan menjalani hidup hampir tanpa uang selama 13 tahun. Ia hanya "menggunakan uang" untuk naik kereta api. Selebihnya, ia hidup tanpa uang. Sementara di Amerika, ada Daniel Suelo. Lelaki berumur 48 tahun itu bahkan menganggap uang adalah "ilusi" dan karena itu ia jauh dari uang, dan menjauh dari kehidupan. Ia pun disebut sebagai "manusia gua".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meskipun Mark, Daniel dan Heidemarie menjalani hidup tanpa uang dilatarbelakangi dengan motif berbeda tetapi ketiganya dipertautkan pada satu hal. Ketiganya ingin melihat persahabatan tumbuh di tengah masyarakat melalui tindakan sederhana dalam menebarkan kebaikan seperti semangat berbagi, memberi dan tolong menolong. Sebuah semangat yang jauh dari sentimen kerakusan dan semangat kebaikan itu, nyaris tak akan diperoleh ketika orang "diperbudak" uang. Itulah pesan dari pengalaman hidup tanpa uang yang dijalani Mark, Daniel dan Heidemarie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kisah hidup Mark yang hidup tanpa uang memang cukup mengesankan. Tak berlebihan, kalau kisah Mark yang ia ceritakan dengan apik dan menawan dalam buku ini, memberikan beberapa pesan penting bagi pembaca. Pertama, Mark telah "mengajarkan hidup" dengan elegan bahwa uang bukan segala-galanya. Maka, salah jika kebahagiaan itu ditentukan oleh uang. Bahkan Mark mengisahkan, pada awal menjalani "hidup tanpa uang" memang terasa sulit. Tapi, dalam beberapa hal lain, ia mengakui ternyata itu masa paling membahagiakan dalam hidupnya (hal 323). Karena uang bukan tujuan, melainkan sarana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kedua, jangan sampai dengan uang, "persahabatan" justru hancur lantaran uang membangun sekat berdasarkan perbedaan status sosial (kaya dan miskin). Ketiga, kisah Mark yang hidup tanpa uang telah mengajarkan eksistensi sebuah nilai sejati segala sesuatu yang ada. Dengan kata lain, tidak semua bisa dibeli dengan uang. Ada beberapa hal yang ternyata tidak bisa dibeli dengan uang. Keempat, meski pembaca tak harus meniru menjalani hidup tanpa uang sebagaimana yang dipraktekkan Mark, minimal dari kisah hidup Mark ini pembaca akan memetik pelajaran untuk bisa berhemat. Hidup berdasarkan pada kebutuhan. Karena eksperimen hidup Mark ini telah mengajarkan "cara bijak dalam melihat uang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-9049372364586084471?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/9049372364586084471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=9049372364586084471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/9049372364586084471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/9049372364586084471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/06/cara-bijak-melihat-uang.html' title='Cara Bijak Melihat Uang'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-i0GY2jByKXo/TgaKOxHWChI/AAAAAAAACGk/8-ouOQOv1m8/s72-c/07_the%2Bmoneyless%2Bman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-7463541356165426113</id><published>2011-06-25T18:53:00.006+07:00</published><updated>2011-06-26T08:35:45.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku motivasi'/><title type='text'>Menghindari Kegagalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-1xi3dRodRwg/TgXNHNYS2yI/AAAAAAAACGc/C6IykJnRSLM/s1600/manajemen%2Bpikiran%2Bdan%2Bperasaan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-1xi3dRodRwg/TgXNHNYS2yI/AAAAAAAACGc/C6IykJnRSLM/s200/manajemen%2Bpikiran%2Bdan%2Bperasaan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622125233576270626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi buku ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Bisnis Indonesia&lt;/span&gt;, Minggu 26 Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Manajemen Pikiran dan Perasaan&lt;br /&gt;Penulis        : Ikhwan Sopa&lt;br /&gt;Penerbit        : Zaman, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, 2011&lt;br /&gt;Tebal buku    : 392 halaman&lt;br /&gt;Harga        : 65.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    TAK ada satu orang pun di dunia ini yang tak ingin hidupnya sukses. Dengan kata lain, ia bermimpi kelak ia dapat mewujudkan apa yang telah dicita-citakan. Tetapi, fakta berbicara lain: tak banyak orang yang bisa mewujudkannya. Konon, hanya dua persen orang yang bisa meraih apa yang ia impikan. Selebihnya: terpuruk dalam "kegagalan". Anehnya, dalam keterpurukan itu ia bukan bangkit, malah tak jarang terjerembab dalam relung atau lumpur pikiran negatif (pola pikir yang tidak kreatif) dan melukai diri sendiri. Akhirnya, dia pun tidak beranjak dari tempat keterpurukan itu, tetap menjalani hidup yang monoton dan berujung kisah (hanya) menjadi orang biasa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin meraih sukses, tapi ironisnya tidak melakukan perubahan (sikap, kebiasaan dan perilaku) ke arah kesuksesan. Padahal, siapa pun tahu bahwa untuk meraih "kesuksesan dan keberhasilan hidup" itu dibutuhkan seperangkat penataan sikap, keputusan dan tindakan. Tapi ironisnya, tangga itu kerap diabaikan. Cita-cita yang ingin diraih pun, tak pelak, kemudian hanya menjadi impian. Hal itu tidak lain, karena abai "menata" pola pikir dan pola rasa untuk bisa meneguhkan rangkaian perjalanan ke arah kesuksesan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sebagaimana ditegaskan Ikhwan Sopa dalam buku Manajemen Pikiran dan Perasaan, dua elemen itu --pola pikir dan pola rasa-- adalah dasar dari jalinan sikap, keputusan, dan tindakan yang justru dapat mendekatkan orang bisa meraih cita-cita dan apa yang ingin diwujudkan. Pola pikir dan pola rasa itu tidak saja memang saling berkelit kelindan, melainkan juga akan saling menguatkan demi meraih sebuah cita-cita. Sebab itu, penataan pola pikir dan pola rasa tak saja menjadi bagian penting melainkan jadi "resep jitu" dalam meraih keberhasilan. Penataan pola pikir dan pola rasa itu akan menjadi jalan setapak yang bisa dijadikan peta dalam menentukan sikap, keputusan dan tindakan ke arah kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk mulia (dibandingkan dengan makhluk yang lain), lantaran ia dianugerahi "akal" oleh Tuhan sebagai kekuatan. Maka, sangat disayangkan jika kekuatan anugerah itu tidak dimanfaatkan dengan baik dan tepat. Dengan akal, manusia bisa memilah dan memilih (menentukan mana yang benar dan tidak benar). Tapi, dengan mengandalkan kekuatan akal (yang ketika bertransformasi menjadi pikiran) semata, manusia bisa menjadi kaku, rigid dan kurang berperasaan. Karena itulah, kekuatan akal itu harus pula diimbangi --disinergikan-- dengan "kekuatan perasaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ketika kekuatan perasaan itu cukup dominan atau mengusai, seseorang akan dihimpit pada sikap impulsif, kompulsif, obsesif, bahkan kerap tak logis. Tak jarang, ketika seseorang sedang dilanda masalah cinta yang berujung menjadi patah hati, dia pun kerap diliputi perasaan sedih, dendam dan bahkan merasa rendah diri. Memang wajar manusia bisa dilanda sedih, tetapi jika perasaan itu mendominasi pikiran, maka tidak mustahil akan berujung pada sikap dan tindakan yang tak membangun melainkan kerap merusak diri sendiri. Padahal, dibutuhkan porsi yang wajar dan selayaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kuncinya adalah bisa menyeimbangkan antara pikiran dan perasaan dalam memilih. Karena jika pikiran dan perasaan mendominasi pilihan (melebihi dari porsinya) maka dalam menentukan pilihan, orang itu akan menjadi sosok yang bersikap patetik (merusak). Sementara itu, jika pilihan yang mendominasi kedua elemen itu sampai melebihi porsinya, bisa disimpulkan orang itu akan menjadi sosok yang dalam memilih bersikap apatis dan lemah. Tapi, jika ada keseimbangan dan mengambil jalan tengah, maka pikiran tergolong sehat sehingga kemudian mengacu kebenaran. Perasaan pun lebih cenderung ke arah kebaikan. Itulah porsi yang ideal bagi pikiran dan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyelaraskan atau menyeimbangkan pikiran dan perasaan, maka pikiran dan perasaan itu akan menjadi alat kehidupan dalam menguatkan pilihan. Dengan kemampuan membangun pola pikir dan pola rasa seperti itu, manusia akan menjadi pribadi yang tidak "dikuasi" oleh pilihan-pilihan dalam kehidupan ini melainkan juga akan mengantarkan manusia itu menjadi sosok merdeka. Pada akhirnya, dengan kemampuan menyeimbangkan pikiran dan perasaan itu, seseorang tidak saja akan bisa meraih keberhasilan, dan kesuksan bahkan bisa meraih kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, memang "konsepsi" manajemen pikiran dan perasaan yang diajukan oleh Ikhwan Sopa --yang dikenal sebagai praktisi manajemen pikiran dan perasaan di QA Communicatiun, motivator dan trainer ini-- mudah dipahami. Tetapi untuk bisa membangun kekuatan pola pikir dan pola rasa yang seimbang itu, jelas dibutuhkan latihan dan bahkan keseriusan. Apalagi, bagi pembaca yang selama bertahun-tahun dicekam dominiasi pikiran atau dominasi perasaan dalam menentukan pilihan. Tak pelak, jika buku akan menjadi semacam peta mujarab yang akan mampu mengantarkan pada sebuah perubahan. Sebab dengan kemampuan bisa mengorganisasikan pola pikir dan pola rasa, cita-cita pun bisa "lebih mudah  diraih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, buku ini menyuguhkan "segudang ramuan" dan resep rahasia kehidupan yang akan mengantarkan pembaca tidak saja bisa mengelola pikiran dan perasaan melainkan akan mampu menciptakan kesuksesan, keberhasilan dan kebahagian. Sebab dalam buku ini, ada 35 resep yang digali dari setumpuk rahasia kehidupan yang bisa menghalau pembaca terhindar dari tekanan, stres bahkan depresi. Dengan "mempraktekkan" apa yang disuntikkan penulis dalam buku ini, pembaca akan merasakan sebuah perubahan hidup; hidup yang tidak dikendalikan pola pikir dan pola rasa yang merusak, melainkan justru membangun. [ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-7463541356165426113?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/7463541356165426113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=7463541356165426113' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7463541356165426113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7463541356165426113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/06/menghindari-kegagalan.html' title='Menghindari Kegagalan'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-1xi3dRodRwg/TgXNHNYS2yI/AAAAAAAACGc/C6IykJnRSLM/s72-c/manajemen%2Bpikiran%2Bdan%2Bperasaan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-746337510462630208</id><published>2011-06-17T14:37:00.001+07:00</published><updated>2011-06-18T19:01:07.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku motivasi'/><title type='text'>Menyingkap Rahasia Memahami Pikiran Orang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/--uwv5UAmRBA/TenhMWya9DI/AAAAAAAACGU/R1Y70vZMwdQ/s1600/membaca%2Bpikiran%2Borang.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 127px; height: 191px;" src="http://3.bp.blogspot.com/--uwv5UAmRBA/TenhMWya9DI/AAAAAAAACGU/R1Y70vZMwdQ/s200/membaca%2Bpikiran%2Borang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614266012885775410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Harian Pelita&lt;/span&gt;, Sabtu 17 Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Membaca Pikiran Orang Lewat Bahasa Tubuh&lt;br /&gt;Penulis        : Dianata Eka Putra&lt;br /&gt;Penerbit        : Kaifa, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, 2010&lt;br /&gt;Tebal buku    : 148 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    TUTUR kata, perkataan atau ucapan seseorang, kerap kali diteguhkan sebagai ungkapan atau mewakili isi pikiran dan perasaan. Padahal, semua itu tidak sepenuhnya benar, dan belum tentu menjadi jaminan sepenuhnya. Karena orang bisa saja berkata tidak jujur (bohong), mengumbar "janji-janji kosong" dan berdalih dengan seribu satu alasan melalui perkataan yang menyakinkan. Makanya, kalau hanya "mendasarkan" keabsahan kejujuran seseorang hanya lewat ucapan yang keluar dari mulut tentu akan terkecoh dan tertipu. Bahkan keterkecohan itu ujungnya memerosokkan pada jurang kepercayaan sempit, karena tanpa dilandasi kejelian dan kepekaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lalu kejelian atau kepekaan apa yang dibutuhkan kalau perkataan atau tutur kata seseorang tidak bisa dipegang? Ada sinyal atau gerakan lain yang bisa ditangkap selain mendasarkan atau memperhatikan ucapan yang terucap. Sinyal itu bisa ditangkap dari gerakan tubuh. Karena, tidak bisa disangkal bahwa bahasa tubuh (body language) itu sebenarnya merupakan selaksa bentuk komunikasi non-verbal yang lebih mewakili pribadi seseorang. Karena itu, jika tidak ingin terkecoh atau tertipu, orang harus memiliki kemampuan menangkap sinyal bahasa tubuh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisa bahasa tubuh lebih mewakili isi pikiran dan perasaan seseorang daripada apa yang dituturkan? Dianata Eka Putra, seorang praktisi pemasaran dan penulis buku Motivasi best-seller lewat buku berjudul Membaca Pikiran Orang Lewat Bahasa Tubuh ini menguraikan bahwa tubuh itu merupakan sebuah benda yang unik, di mana seluruh gerakan yang ditampilkan oleh tubuh itu adalah aplikasi dari semua yang dipikirkan oleh seseorang. Bahkan pada waktu orang tidak mengucapkan sepatah kata pun, atau diam seribu bahasa, tubuh tetap memunculkan gerakan yang sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran (dan perasaan) seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, jangan terkecoh pada perkataan dan tutur kata yang keluar dari mulut seseorang jika dari komunikasi non-verbal atau bahasa tubuh yang muncul justru menunjukkan kebalikan, atau hal yang bertolak belakang dengan apa yang terucap. Tetapi, untuk bisa menangkap sinyal atau "kode bahasa tubuh" itu dibutuhkan kepekaan atau kejelian. Lebih dari itu, juga dibutuhkan latihan yang tidak dapat dipelajari dalam semalam. Kendati demikian, bukan berarti kepakaan dan kejelian itu hanya dianugerahkan Tuhan kepada cenayang saja, melainkan sebenarnya bisa dipelajari oleh siapa pun dan untuk bisa menangkap kode bahasa tubuh itu tidaklah sulit.&lt;br /&gt;Karena semua itu bisa dilihat dari perubahan tubuh seseorang tatkala orang itu mendapat masukan atau stimulus, baik dari dalam maupun dari luar tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gerakan tubuh dan perubahan posisi seseorang itulah, dapat dilihat dengan jelas perubahan emosi yang dialami. Itu dapat ditangkap jelas, karena emosi yang timbul dari gerak perubahan direspon oleh alam bawah sadar. Sehingga orang yang berbohong dan bicara tidak jujur, alam bawah sadarnya menggerakkan tubuh untuk memberikan respon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan bisa memangkap semua itu, pastilah membuat orang tak akan mudah ditipu. Di sisi lain, kepekaan itu juga bisa mengantarkan seseorang menjadi lebih bijaksana dan bisa mengambil sikap yang arif di tengah suasana atau buruknya sebuah hubungan dengan orang lain. Lebih dari semua itu, orang yang memiliki kepakaan pada akhirnya bisa meraih kesuksesan karena kesuksesan seseorang itu sebenarnya bukan didasarkan pada segulung pengetahuan yang mengumpal di otak melainkan terletak pada sikap bagaimana ia bisa menjalin hubungan yang baik (bersosialisasi) dengan orang lain. Itulah kelebihan dari seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain lewat bahasa  tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memahami bahasa tubuh untuk bisa membaca pikiran orang (yang sedang berbohong), buku ini pun mengenalkan pada pembaca akan keragaman bahasa lain, seperti memahami orang yang sedang tertarik hatinya (jatuh cinta), membaca perasaan orang yang sedang dilingkupi kekecewaan, kemarahan, bahkan bahasa orang yang sok berkuasa. Lebih jauh, bahkan penulis mengungkap bahasa tubuh khas dari penjuru dunia. Buku ini pun, tak bisa disangkal, akan mengantarkan pembaca memiliki setangkup pengetahuan dan bisa dipraktekkan untuk membaca komunikasi baik secara oral maupun non verbal lewat bahasa tubuh (body language).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bekal itulah, pembaca tak saja akan bertambah wawasan, karena buku ini mengantarkan pembaca pada keragaman bahasa lain --selain bahasa yang terucap dari mulut. Tak salah, jika buku ini pun bisa membekali pembaca untuk bisa sukses menjalin hubungan dengan orang lain dalam pergaulan yang harmonis. Dan dengan menguasai bahasa tubuh itu, pembaca ibarat memiliki kunci (bisa) membaca pikiran orang lain. Akhirnya, dengan berbekal pengetahuan itu, pembaca pun bisa selamat dalam upaya penipuan, sukses dalam karier, dan mampu memahami orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bekal pengetahuan yang menyingkap kunci itu, maka hidup yang dijalani pun akan menjadi damai dan bahagia karena pembaca buku ini akan mampu membaca pikiran orang lain. [ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-746337510462630208?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/746337510462630208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=746337510462630208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/746337510462630208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/746337510462630208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/06/menyingkap-rahasia-memahami-pikiran.html' title='Menyingkap Rahasia Memahami Pikiran Orang'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/--uwv5UAmRBA/TenhMWya9DI/AAAAAAAACGU/R1Y70vZMwdQ/s72-c/membaca%2Bpikiran%2Borang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-1708610672679784608</id><published>2011-06-11T13:01:00.001+07:00</published><updated>2011-06-11T18:00:25.167+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi komik'/><title type='text'>Mengilustrasikan Pemikiran Darwin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Jdd6dlVTR1A/TcYyfy5ueoI/AAAAAAAACFA/C53H62L6_xI/s1600/45-10-30760.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 132px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Jdd6dlVTR1A/TcYyfy5ueoI/AAAAAAAACFA/C53H62L6_xI/s200/45-10-30760.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604222308130388610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi buku ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.sinarharapan.co.id/content/read/mengilustrasikan-pemikiran-darwin/"&gt;Sinar Harapan&lt;/a&gt;, edisi Sabtu-Minggu 11-12 Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : On The Origin of Species Karya Charles Darwin: Asal Usul Spesies&lt;br /&gt;Teks &amp;amp; Ilustrasi    : Michael Keller &amp;amp; Nicolle Rager Fuller&lt;br /&gt;Penerbit        : Gramedia, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, 2010&lt;br /&gt;Tebal         : 192 halaman&lt;br /&gt;Harga         : Rp 65.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   NAMA Charles Darwin (1809-1882) dicatat sejarah dengan tinta emas, tapi sekaligus meninggalkan goresan berwarna kelabu. Bagaimana tidak? Teori yang dia torehkan dalam sebuah buku berjudul On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of Favoured Races in the Strugle for Life tak saja telah meneguhkan dirinya sebagai biolog kenamaan melainkan pula mengundang kontroversi hingga sekarang. Sejak buku itu beredar di pasaran --pada 24 November 1859--, sebongkah teori yang ia cetuskan (buah dari pengamatan selama berlayar lima tahun dengan kapal Beagel, kemudian diperkuat dengan riset memadai dan bukti beberapa tahun kemudian) telah dipuji-puji banyak kalangan, akademisi dan ilmuwan sebagai sebuah teori yang telah mengubah arah sains.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, pada sisi lain, teori Darwin itu menyisakan goresan kelabu lantaran dianggap "menabuh genderang": menantang sekaligus berniat meruntuhkan fondasi agama. Pasalnya, dalam teori yang digemakan itu Darwin meneguhkan semua makhluk hidup berasal dari satu atau beberapa leluhur bersama pada masa lalu. Selagi waktu berlalu, seleksi alam "melestarikan" variasi paling menguntungkan dalam satu species setiap generasi. Pengumpulan ciri unggul menghasilkan species baru (hal 176). Tak pelak lagi, jika teori evolusi yang dicetuskan Darwin itu seperti menampar kaum agamawan dan kemudian melahirkan kontradiksi dengan mitos penciptaan yang ditemukan pada ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Darwin bukan tidak tahu. Muatan kontroversi dari teori Darwin itu, sebenarnya sudah diprediksi jauh oleh Darwin. Implikasi yang paling kontroversial adalah asal usul manusia. Hal itu yang menjadikan Darwin tidak segera menerbitkan buku tersebut, meski cikal bakal atau gumpalan gagasan itu sudah muncul di sudut otaknya sepulang dari berlayar pada tahun 1836. Tapi dari pengamatan dan penelitian selama 5 tahun berlayar dengan kapal Beagle mengarungi dunia: menyelusuri pantai Amerika Selatan, kepulauan Galapagos, pulau-pulau di Pacifik, juga Samudera Indonesia dan di selatan Samudera Atlantik- ia menyaksikan setumpuk keajaiban alam.  Riset itu rupanya telah membuka mata Darwin lebar-lebar, bahwa binatang dan tumbuhan tidak bersifat tetap, melainkan mengalami perubahan dalam perjalanan sejarah (geologi). Maski saat itu, dia belum sepenuhnya sadar apa yang menjadi sebab-musabab terjadinya evolusi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun lebih, setelah ia melengkapi riset dan bukti-bukti, ia baru berani menerbitkan buku tersebut. Sebuah buku yang langsung mengundang perseteruan antara sains dan agama. Perseteruan itu pun --tak dapat dimungkiri-- masih meninggalkan gaung yang masih menggema hingga sekarang ini. Ibarat sebuah genta yang ditabuh dengan keras, teori Darwin itu pun masih menggema kencang. Ironisnya, Darwin pun selalu "diidentikkan" dengan pencetus teori evolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kalau mau jujur, sebenarnya Darwin bukan penemu pertama teori evolusi. Sebab, biologi evolusioner telah berakar sejak zaman Aristoteles. Bahkan sebelum Darwin, sudah ada Jean Lamarek dan kakek Darwin, Erasmus Darwin. Satu zaman dengan Darwin, ada Alfred Russel Wallace -yang konon sempat menulis surat kepada Darwin. Bahkan ada sebuah pendapat yang mengatakan, Darwin mencuri gagasan Alfred Russel Wallace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari semua itu, nama Darwin "menjulang tinggi" melampaui mereka setelah Darwin menerbitkan buku On the Origin of Species. Pasalnya,     hipotesa mereka tak pernah diterima oleh dunia ilmu pengetahuan karena tidak mampu memberi keyakinan bagaimana dan dengan cara apa evolusi terjadi. Sementara Darwin,  sanggup menyuguhkan mekanisme dari seleksi alamiah yang mengakibatkan terjadinya evolusi alamiah dan ditunjang dengan bukti-bukti ilmiah untuk mendukung akan hipotesa tersebut. Wajar, jika buku Darwin menjadi bahan perbincangan begitu sengit. Bahkan hingga kini, buku ini pun dianggap sebagai mahakarya Darwin yang memukau, kontroversial dan karya penting sepanjang zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski "gagasan" yang dicetuskan Darwin ini ditunjang dengan bukti, ia tetaplah sebuah teori. Sebuah teori membuka peluang untuk diuji, diperdebatkan bahkan dibuktikan. Maka, tidak sedikit buku yang kemudian terbit untuk menggugat teori Darwin ini. Wajar jika buku Darwin ini pun masih meninggalkan kontorversi sepanjang zaman. Dipuji pada satu sisi, tetapi dicaci maki pada sisi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di tangan Michael Keller (seorang wartawan --yang meraih gelar sarjana sains di bidang ekologi bebas dari University of Florida dan master bidang jurnalisme dari Clombia University) teks buku Darwin itu disajikan dalam bentuk lain, yakni adaptasi grafis. Dia dibantu oleh Nocolle Rager Fuller --yang dikenal sebagai ilustrator profesional-- menyajikan riset awal Darwin yang dilengkapi surat-surat dengan sejumlah cendikiawan terkemuka pada zaman itu. Juga reaksi publik ketika buku Darwin itu terbit, sampai terobosan-terobosan terbaru masa sekarang ini mengenai teori evolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah, jika buku ini memberi sajian lain dengan cara yang tidak saja mudah dipahami, melainkan juga memikat. Pasalnya, Michael Keller dan Nocolle Rager Fuller berkolaborasi untuk mengilustrasikan pemikiran Darwin yang "tertuang" dalam buku yang mengundang kontroversi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, alumnus Filsafat UIN Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-1708610672679784608?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/1708610672679784608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=1708610672679784608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1708610672679784608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1708610672679784608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/05/mengilustrasikan-pemikiran-darwin.html' title='Mengilustrasikan Pemikiran Darwin'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Jdd6dlVTR1A/TcYyfy5ueoI/AAAAAAAACFA/C53H62L6_xI/s72-c/45-10-30760.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5776529746061386442</id><published>2011-05-31T05:44:00.004+07:00</published><updated>2011-05-31T05:54:10.101+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sejarah'/><title type='text'>Arus Balik Sejarah Dunia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-hVOv4cRubUg/TeQfuTAPlRI/AAAAAAAACGA/GZpCFo8JZIE/s1600/1453_2.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 141px; height: 193px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-hVOv4cRubUg/TeQfuTAPlRI/AAAAAAAACGA/GZpCFo8JZIE/s200/1453_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612645915846219026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi buku ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Koran Jakarta&lt;/span&gt;, Selasa 31 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim&lt;br /&gt;Penulis        : Roger Crowley&lt;br /&gt;Penerbit        : Alvabet, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, April 2011&lt;br /&gt;Tebal buku    : 408 halaman&lt;br /&gt;Harga buku    : Rp. 75.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    SEJAK dibangun pada tahun 330 M, kota Konstantinopel --yang didirikan oleh Kaisar Romawi Timur (Byzantium), Constantine I-- telah menjadi lambang kemegahan, pusat kebudayaan dan kedigdayaan Romawi. Apalagi, kota itu memang "dirancang" untuk dijadikan sebagai benteng dengan pola pertahanan yang kokoh dan rumit; dilapisi tembok tebal berlapis tiga dan dikelilingi dengan parit. Tak mustahil, jika kota megah itu pun dikenal sebagai pusat peradaban dan menjadi "kota mengagumkan" tidak saja dilihat dari letaknya yang stategis (antara batas Eropa dan Asia) tetapi juga menjadi benteng pertahanan bagi bangsa Kristen (dari serangan Islam). Hal itu tidak lain, lantaran Byzantium dikenal sebagai pewaris terakhir kekaisaran Romawi kuno sekaligus menjadi bangsa Kristen pertama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kisah seputar "kejayaan kota Konstantinopel dan kemegahan ibu kota kekaisaran kuno Byzantium sebagai benteng pertahanan" itu justru mengundang impian bangsa-bangsa lain digelayuti ambisi untuk menaklukkan atau merebut kota tersebut. Tetapi lebih seribu tahun, Konstantinopel seperti kota legenda yang dikenal tangguh dan sulit untuk ditaklukkan. Padahal, selama itu, Konstantinopel dililit "berbagai ancaman dari serangan"; menjadi kota yang menggiurkan untuk ditaklukkan dan dikepung. Tetapi, kota itu selalu dapat selamat berkat ketangguhan benteng yang dirancang dengan kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman itu ternyata tidak saja datang dari bangsa Barat. Bahkan, sebagaimana dikisahkan Roger Crowley dalam buku 1453: Detik-detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim ini, dikisahkan dengan detail bahwa dalam rentang waktu 800 tahun, kekhalifahan muslim pun sudah mengincar Konstantinopel. Maklum, "impian" umat Islam untuk menaklukkan Byzantium sudah dimulai sejak 664 M. Tetapi, sultan bangsa-bangsa muslim dari dulu tak berhasil meruntuhkan dan merebut Konstantinopel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, sang penakluk Konstantinopel itu datang. Ia tak lain adalah sultan Mehmet II. Dengan ambisi yang membara, pemuda berusia 21 tahun itu berhasil merebut Byzantium dengan gemilang, merebut kota Konstantinopel dengan mengerahkan bala tentara yang jauh lebih besar dan juga persenjataan yang jauh lebih canggih dibandingkan pasukan Kristen di bawah kepemimpinan Konstantin XI, kaisar Byzantium ke-57. Tepat pada hari Jumat, 6 April 1453 M, Sultan Mehmet II memaklumatkan serangan untuk menaklukkan kota Konstantinopel. Meski lebih canggih persenjataan dan jumlah pasukan, awalnya pasukan muslim kesulitan menembus tembok. Bahkan sultan Mehmet II nyaris frustasi melihat banyak pasukannya berjatuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ide cemerlang itu akhirnya ditemukan dan keberhasilan dapat diraih. Akhirnya, 29 Mei 1453 M, kemenangan itu tiba; pasukan sultan memasuki kota dan bendera kerajaan Islam Usmani (di bawah Mehmet II) dikibarkan. Konstantinopel pun jatuh; menandai berakhirnya kekuasaan Byzantium. Mehmet II terpikat "merebut" Konstantinopel terinspirasi aroma kekaisaran: terinspirasi Alexander Agung dan Julius Caesar. Ia merasa mengemban dua identitas: sebagai Alexander muslim yang menaklukkan dunia hingga yang paling tepi, dan sebagai kesatria gazi yang mengemban jihad melawan orang kafir. Dengan penaklukan itu, ia ingin membalik arus sejarah dunia. Jika Alexander telah menyapu timur, sekarang giliran dia membawa kemenangan bagi Timur dan Islam dengan menaklukkan Barat (hal. 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal, buku ini ditulis dengan riset yang serius. Di antara serpihan literatur tentang kejatuhan Konstantinopel --baik yang ditulis oleh orang Barat maupun mulism-- Roger Crowley tidak saja memilih cerita yang masuk akal, tetapi juga disertai dengan analisis yang tajam. Ia tak gegabah dalam memilah setumpuk dokumen. Tak berlebihan, jika buku ini mampu mengisahkan peristiwa besar dalam sejarah tentang kota Kristen yang jatuh ke tangan bangsa muslim. Kelebihan lain, penulis buku ini  menuturkan kisah tersebut dengan gaya penceritaan novel. Tak pelak, jika buku ini bisa tampil dengan memikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, buku ini menguak kenapa Konstantinopel bisa menjadi kota muslim. Dengan data yang akurat, penulis yang mantan warga Istanbul ini pun berhasil menampilkan dua karakter Sultan Mehmet II dan Kaisar Konstantin XI, dua tokoh besar yang saling bersitegang tidak saja demi memeluk erat keyakinan agama, tapi juga kursi kekuasaan. Dan perseteruan dalam dua hal itu, akhirnya mengantarkan Mehmet II membalik arus sejarah dunia. [ ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5776529746061386442?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5776529746061386442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5776529746061386442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5776529746061386442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5776529746061386442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/05/arus-balik-sejarah-dunia.html' title='Arus Balik Sejarah Dunia'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-hVOv4cRubUg/TeQfuTAPlRI/AAAAAAAACGA/GZpCFo8JZIE/s72-c/1453_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-1577422005190249416</id><published>2011-05-12T01:39:00.001+07:00</published><updated>2011-05-15T15:31:20.520+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><title type='text'>Jangan Menyerah Untuk Menulis!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-JHV6L2ROHxM/TcrYEozXSAI/AAAAAAAACFo/CJY4_4o2xLo/s1600/pembicara%2Bibf.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 182px; height: 137px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-JHV6L2ROHxM/TcrYEozXSAI/AAAAAAAACFo/CJY4_4o2xLo/s200/pembicara%2Bibf.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605530260399933442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dimuat di &lt;a href="http://www.tnol.co.id/id/index-enmyblog/8555.html"&gt;www.tnol.co.id&lt;/a&gt; Selasa, 8 Maret 2011&lt;br /&gt;Oleh: Safari Sidakaton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“SETIAP menulis harus dibuka dengan kalimat pembuka yang menarik. Jadi why nya dulu yang ditekankan,” kata Leila S. Chudori, wartawan Tempo dalam diskusi yang digelar Islamic Book Fair 2011 di Istora Senayan Jakarta, Minggu (6/3). Diskusi kali ini mengusung tema bagaimana cara menulis, baik itu cerpen, resensi atau novel yang baik sehingga bisa dimuat di media massa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalimat pembuka yang dimaksud Leila S. Chudori adalah lead yang sangat diperlukan setiap menulis. Mengingat pentingnya lead maka ketika menulis lead harus sesuatu yang menarik perhatian pembaca. Agar lead menarik maka kita bisa mengambil kata-kata dari penggambaran adegan atau pernyataan  (statement) yang menarik. Lead yang menarik juga bisa mengungkapkan atau mengambarkan dari tokoh  yang ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Leila S. Chudori, hadir juga sebagai pembicara Nur Mursidi, wartawan Majalah Hidayah yang kerap menulis resensi buku di berbagai media besar di Indonesia. Diskusi yang berlangsung dari pukul 13.00-15.00 WIB di ruang Anggrek Istora Senayan Jakarta tersebut dipandu oleh Muhammad Husnil, Chief Editor PT Serambi Ilmu Semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leila menuturkan, selain lead, ada juga hal lainnya yang penting saat menulis yaitu sinopsis. Dalam menulis sinopsis harus menggunakan kalimat sependek mungkin. Sinopsis bisa ditulis secara ringkas sehingga bisa ditulis cukup satu alinea saja. Upayakan dalam menulis kalimat sinopsis jangan memberitahu akhir tulisan, terutama jika akhir cerita adalah sebuah kejutan. Hal itu dilakukan karena pembaca Indonesia sangat anti spoiler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sinopsis biasanya penting untuk memberitahu genre buku yang sedang diresensi,” ujar Leila S. Chudori di depan para peserta diskusi yang terdiri dari Komunitas Good Reads Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini Leila juga mengungkapkan, ada beberapa standar baku sehingga setiap tulisan resensi buku atau film bisa naik cetak atau termuat di media massa. Standar yang sudah baku tersebut diantaranya adalah buku atau film yang diresensi tersebut digandrungi banyak orang. Namun bila buku atau film yang tidak layak diresensi namun banyak peminatnya maka media massa akan membuat cover story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan cover story seperti yang terjadi dalam film Catatan Si Boy. Film Catatan Si Boy tidak layak diresensi karena kontennya tidak bagus. Namun, karena peminat dari film tersebut sangat banyak dan membuat heboh maka media massa membuat cover story. Saat itu media massa yang menulis cover story adalah Majalah Tempo. Selain film Catatan Si Boy ada juga buku karya Salman Rushdie yang dibuat cover story karena mengundang kontroversi sehingga terjadi perdebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Standar yang dimiliki media massa adalah yang menarik. Selain merensesi, kita juga mengkritik sehingga buku tersebut minimal mendekati sempurna,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi yang dilakukan media massa, sambung Leila tidak bertujuan mengarahkan atau menyarankan orang atau pembaca untuk membeli buku atau malah sebaliknya agar pembaca tidak membeli buku tersebut. Karena yang dilakukan media massa ketika meresensi buku atau film lebih ke isi atau kontennya. Oleh karena itu, ketika ada penulis baru namun kontennya bagus maka akan diterima dibandingkan dengan penulis lama yang kontennya tidak menarik. ” Kami tidak pernah menganjurkan atau memberi saran untuk membeli buku atau tidak,” tegasnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu terkait dengan pertanyaan adanya tulisan-tulisan para blogger yang tidak termuat media massa, menurut Leila, karena kebanyakan tulisan yang buat blogger lebih banyak menggunakan emosi pribadi seperti kata aku atau saya ketimbang isi buku. “Yang disampaikan lebih ke emosi pribadinya sementara media besar lebih tertarik dengan bukunya bukan pribadinya,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu menurut Nur Mursidi, jika ingin mengetahui tulisannya naik atau tidak di media massa maka harus berani menelpon redaktur media massa yang bersangkutan. Dalam menulis tidak ada persyaratan khusus apakah suatu tulisan bisa naik atau tidak di media massa oleh karena itu baiknya tanyakan langsung kepada redaktur yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menulis itu adalah suatu kenikmatan baik hati maupun pikiran. Soal muat atau tidak itu soal waktu,” kata Mursidi mengutip kata-kata dari redaktur yang tidak memuat tulisannya. Namun kata-kata itulah yang menjadi mantera sehingga Mursidi bisa menulis resensi sehingga bisa dimuat di berbagai media massa nasional.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-1577422005190249416?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/1577422005190249416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=1577422005190249416' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1577422005190249416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1577422005190249416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/05/jangan-menyerah-untuk-menulis.html' title='Jangan Menyerah Untuk Menulis!'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JHV6L2ROHxM/TcrYEozXSAI/AAAAAAAACFo/CJY4_4o2xLo/s72-c/pembicara%2Bibf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-4337562296435845708</id><published>2011-05-12T01:15:00.002+07:00</published><updated>2011-05-15T15:33:37.824+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><title type='text'>Mursidi, Loper Koran yang 'Terjebak' di Dunia Menulis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-fwY-_N2_0pg/TcrVQNYumgI/AAAAAAAACFg/GH9EpBxodTU/s1600/foto_serambi_1a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-fwY-_N2_0pg/TcrVQNYumgI/AAAAAAAACFg/GH9EpBxodTU/s200/foto_serambi_1a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5605527160664005122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tulisan ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://tnol.co.id/id/special-guest/8595-mursidi-loper-koran-yang-terjebak-di-dunia-menulis.html"&gt;tnol.co.id&lt;/a&gt; Minggu, 13 Maret 2011&lt;br /&gt;oleh: &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Safari Sidakaton&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nama Nur Mursidi (36 tahun) mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda yang gemar membaca resensi buku di berbagai media nasional. Hampir sebelas tahun lelaki kelahiran Rembang, 30 Maret 1975 ini kerap menulis resensi buku dalam berbagai tema yang dimuat di media nasional. Seperti, Kompas, The Jakarta Post, Majalah Tempo, Koran Tempo, Majalah Gatra, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia dan masih banyak yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sebelumnya lelaki yang akrab disapa Mursid ini adalah seorang penjual koran alias loper koran di sekitar Terminal Umbulharjo Yogyakarta. Mursid mulai terpacu untuk membaca ketika mendapati tukang becak yang membeli korannya membaca berita koran dengan tekun. Ditambah saat membaca ada mahasiswa yang tulisannya berhasil dimuat di Kedaulatan Rakyat dan Harian Bernas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap membaca tulisan-tulisan penulis yang masih berstatus mahasiswa, otak saya serasa mendidih. Ada sekelebat mimpi di dada untuk bisa menulis dan menorehkan nama saya di koran. Dalam hati, saya berjanji suatu saat nanti harus bisa menulis di koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak itu aku pun mulai rajin membaca koran dan mempelajari tulisan yang dimuat di koran secara otodidak,” kenang Mursid yang saat itu tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Akidah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mursid mulai belajar menulis pada malam hari dan mengirimkannya ke sejumlah koran . Tapi, jalan yang dilalui tidaklah mulus karena semua tulisannya ditolak oleh redaktur media tersebut. Namun, hal tersebut tidak membuatnya patah arang. Dengan usaha keras, ditunjang kesabaran dan mental yang kuat ia tetap mengirimkan tulisannya ke berbagai media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjuang dengan keras, satu persatu, tulisannya dimuat di koran lokal hingga kemudian menembus koran nasional. Karena kepiawainnya menulis berbagai resensi buku, putra Abdul Mu’id dan Masmi’ah ini kerap menjadi pembicara dalam diskusi seputar dunia kepenulisan. Dan, TNOL berkesempatan menemui lelaki berpenampilan sederhana dengan rambut ikal agak gondrong ini saat menjadi pembicara dalam diskusi di ajang Islamic Book Fair Senayan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menjadi pembicara ia menuturkan kepada TNOL, menulis resensi buku adalah langkah untuk mengikat makna agar buku yang pernah dibaca itu tidak lupa. Tapi, kalau lupa maka tidak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir melainkan tinggal membaca resensi yang telah ditulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu, agar makna atau pemahaman kita atas sebuah buku itu tetap teringat dan terjaga, setelah membaca sebuah buku selayaknya menulis resensi (atau minimal membuat sinopsis). Itu langkah yang baik,” kata lelaki ini memberi alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mursidi, yang juga berprofesi sebagai wartawan di majalah Hidayah ini mengatakan, modal utama dalam meresensi buku adalah paham (berusaha mendekati maksud yang dikehendaki penulis buku) tentang “sebuah buku yang hendak diresensi”. Jika modal utama itu sudah digenggaman otak, maka menulis resensi tidak lagi sesuatu yang sulit. Karena hal-hal yang lain, seperti teknik menulis resensi, memilih jenis buku, dan unsur-unsur yang harus dikuasai dalam menulis resensi bisa mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Mursid mengatakan, bagi yang tidak mempunyai uang untuk membeli buku juga bukan berarti jalan untuk bisa meresensi buku kemudian tertutup rapat-rapat. Karena saat awal-awal menulis resensi buku, ia juga kerap meminjam buku dari teman jika memang tidak punya uang untuk beli buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah saya intens menulis resensi buku dan mulai kenal akrab dengan bagian promosi beberapa penerbit buku, saya tidak segan meminta buku untuk dikirimi. Apalagi sebagian besar penerbit juga menganjurkan kepada saya untuk memintanya jika ada buku yang saya kehendaki,” jelas lelaki yang pernah kuliah di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa dan Akademi Teater dan Film Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit tidak akan keberatan mengirim bukunya mengingat permintaan buku oleh peresensi bisa dikata sebanding lurus dengan promosi sebuah buku. Di sini, ada timbal balik antara penerbit dan peresensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis resensi buku, sambung Mursid, mudah atau susah itu tergantung dari kemauan atau ketekunan seseorang. Setiap ada kemauan, pastilah ada jalan. Jadi kalau ingin menulis resensi buku dan serius maka menulis resensi itu akan jadi mudah. Tapi sebaliknya, bagi orang yang malas dan mudah menyerah bahkan tak mau belajar maka menulis resensi buku itu akan menjadi sesuatu yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kunci utama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa maksimal meresensi buku, kunci utama adalah memahami isi buku. Karena itu, dibutuhkan pembacaan yang detail (menyeluruh) agar nanti dapat meresensi dengan bagus. Bisa saja, membaca buku dengan cara membaca sekilas, tapi hasil resensinya tidak akan bisa maksimal. Ada “celah dan lubang” yang tidak bisa diungkap karena membaca buku yang diresensi dengan tidak detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa unsur dalam meresensi, pertama, judul buku. Dalam membuat judul, usahakan yang menarik dan mewakili isi tulisan resensi. Kedua, data buku; meliputi judul buku, penulis, penerbit, tahun terbit, cetakan, tebal buku dan harga buku. Ketiga, pengantar atau pembuka resensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuka inilah yang cukup memiliki kekuatan muat, karena dengan pembuka yang memikat bisa dipastikan redaktur akan terpikat setidaknya untuk pertama kali membaca sebuah resensi. Keempat, mengungkap isi buku; lebih jauh lagi jika kemudian dijelaskan dengan mengikutkan “teori” yang bisa menjelaskan buku itu dengan analisis yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, kritik peresensi atas buku itu (mengungkapkan kelebihan dan kekurangan buku, tema yang diangkat, teknis penulisan dan lain). Keenam, penutup; mengungkap kontektualitas buku dikaitkan dengan kondisi kekinian, untuk siapa buku itu ditulis dan bisa ditambah lain lagi ulasan khusus tentang buku tersebut secara spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh peresensi agar resensi yang ditulis itu bisa dimuat. Pertama, adalah pilihan buku yang diresensi. Kedua, adalah siapa penulis buku itu. Karena penulis yang terkenal bisa dipastikan memiliki nilai muat yang tinggi. Ketiga adalah mengetahui kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur sebuah media yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ketiga faktor tersebut diperhatikan, maka peresensi tidak akan mengalami kesusahan untuk menembus atau bisa dimuat di media. Memang, kedekatan peresensi dengan redaktur itu bisa sedikit banyak membantu, tetapi hal itu bukanlah segalanya,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak keuntungan dalam meresensi buku. Pertama bisa belajar (dari membaca semua jenis buku), mendapat honor, mendapat buku gratis (secara berkala), dan di belakang hari akan menemukan bahwa menulis – entah itu resensi buku atau menulis genre lain adalah sebuah pertarungan, pergulatan hidup dan sekaligus menemukan jati diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun satu kerugian dalam meresensi buku yang pada ujungnya menjadikan kecanduan. Saya seperti terjebak pada genangan lumpur dan anehnya saya susah meloloskan diri,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sudah sebelas tahun lebih Mursid menjadi penulis freelance di sejumlah koran lokal dan nasional: menulis resensi buku, opini, esai sastra, esai film dan cerita pendek. Tidak kurang ada sekitar 300 tulisan resensi yang sudah dimuat di koran lokal dan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua prestasi itu seperti sebuah mimpi. Pasalnya, sejarah hidupku nyaris selalu diliputi rentetan kegagalan,” tandasnya.(Subhan)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-4337562296435845708?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/4337562296435845708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=4337562296435845708' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4337562296435845708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4337562296435845708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/05/mursidi-loper-koran-yang-terjebak-di.html' title='Mursidi, Loper Koran yang &apos;Terjebak&apos; di Dunia Menulis'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-fwY-_N2_0pg/TcrVQNYumgI/AAAAAAAACFg/GH9EpBxodTU/s72-c/foto_serambi_1a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-331805686393350802</id><published>2011-05-07T18:46:00.003+07:00</published><updated>2011-05-07T23:24:19.221+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>Kumpulan Doa Terbaik Memohon Ampunan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-HGYKyq0-zrY/TcUxz5FAptI/AAAAAAAACE4/gEuTjoqtzWs/s1600/doa%2Bmohon%2Bampunan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 109px; height: 167px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-HGYKyq0-zrY/TcUxz5FAptI/AAAAAAAACE4/gEuTjoqtzWs/s200/doa%2Bmohon%2Bampunan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5603940078897374930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;majalah Hidayah&lt;/span&gt;, edisi 117 Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul buku: Doa Terbaik Memohon Ampunan Allah: Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;Penulis : Tim Zahra&lt;br /&gt;Penerbit : Zahra, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Januari 2011&lt;br /&gt;Tebal buku: 160 halaman&lt;br /&gt;Harga : 29.900,- (disk 20%) = 23.920,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak pernah berpaling dari hamba-Nya yang meminta ampunan. Allah pun tak pernah ingkar janji. Bahkan setiap doa (permintaan) yang dipanjatkan oleh seorang hamba, dijamin akan “dikabulkan” oleh Allah. Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu’.” (QS al-Mu`min [40]: 60).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tak dapat disangkal bahwa setangkup doa yang dapat melejit dan bahkan mampu menembus pintu langit, hanya doa-doa yang sejatinya memenuhi syarat. Doa itu dipanjatkan dengan tepat, yang dibaca pada waktu yang mustajab, diungkapkan dengan sepenuh hati, disenandungkan dengan adab dan etika dalam berdoa. Dan setangkup doa yang paling baik, adalah doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan doa terbaik dalam memohon ampunan yang terhimpun dalam buku ini merupakan mutiara doa yang diajarkan oleh Rasulullah. Doa-doa ini diamalkan oleh cucu beliau: Imam Ali Zaenal Abidin as Sajjad –yang dikenal sebagai guru para sufi. Lalu doa-doa ini–oleh Imam Ali Zaenal Abidin—diajarkan pada salah satu murid terdekatnya, Abu Hamzah ats Tsumali.  Dari rentetan itu, kumpulan doa ini kemudian dikenal dengan  nama doa Abu Hamzah ats Tsumali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kumpulan mutiara doa yang diajarkan Rasulullah sebagaimana terhimpun dalam buku ini, ada setangkup doa yang sungguh luar biasa, menakjubkan serta indah lantaran memuat senandung kalimat sakral dan di balik doa itu memiliki kekuatan. Doa yang dipanjatkan dengan sayatan hati, jeritan dan penyesalan seorang hamba karena dia ingin mendapatkan ampunan dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada manusia di dunia yang bersih dan terbebas dari noda dosa. Karena itu, “memohon ampunan” kepada Allah adalah satu kewajiban yang tak bisa ditunda, apalagi dinafikan. Dengan begitu, buku ini tak saja akan merekatkan hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta tapi juga sekaligus membuka kesadaran baru dalam berdialog dan berkomunikasi dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengamalkan kumpulan doa mulia di dalam buku ini, niscaya pembaca akan merengkuh kesadaran baru, dan bisa meraih puncak pengampunan Allah. Satu hal penting lagi: mendapat ampunan. Dosa-dosa kita menjadi berkurang, dan kita mendapat berkah, rahmat dan kebahagiaan hidup. (n. mursidi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-331805686393350802?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/331805686393350802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=331805686393350802' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/331805686393350802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/331805686393350802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/05/kumpulan-doa-terbaik-memohon-ampunan.html' title='Kumpulan Doa Terbaik Memohon Ampunan'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-HGYKyq0-zrY/TcUxz5FAptI/AAAAAAAACE4/gEuTjoqtzWs/s72-c/doa%2Bmohon%2Bampunan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-815000140831599489</id><published>2011-03-07T21:05:00.006+07:00</published><updated>2011-11-09T23:39:24.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku biografi'/><title type='text'>buku panduan untuk para pemimpin</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-X1bRbxqTY2Q/TXTnjY36hfI/AAAAAAAACDA/pEtBjHAl224/s1600/Swordless%2B%2528Hard%2BCover%2529.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581340433377297906" src="http://2.bp.blogspot.com/-X1bRbxqTY2Q/TXTnjY36hfI/AAAAAAAACDA/pEtBjHAl224/s200/Swordless%2B%2528Hard%2BCover%2529.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 132px;" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2011030619201411"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Minggu 6 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : The Swordless Samurai; Pemimpinan Legendaris Jepang Abad XVI&lt;br /&gt;Penulis        : Kitami Masao&lt;br /&gt;Penerbit        : Zahir Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, Januari 2011&lt;br /&gt;Tebal buku    : 280 halaman&lt;br /&gt;Harga         : Rp. 59.800,-&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TAK banyak orang yang lahir dari keluarga miskin, bukan keturunan bangsawan, bahkan tidak mengenyam pendidikan bisa merengkuh karier gemilang. Toyotomi Hideyoshi bisa disebut contoh dari kelangkaan itu. Ia anak petani miskin, berwajah jelek, pendek, tidak punya pendidikan memadai. Apalagi, ia lahir di Jepang abad ke-16 --di zaman perang antar-klan/masa kekacauan-- yang menuntut orang lihai bermain pedang. Tak ayal, jika kondisi itu tidak memberi peluang bagi Hideyoshi untuk bisa memiliki tempat bertahan hidup dan berkarier jadi pemimpin besar. Ia seperti dilahirkan dengan dibelit setumpuk nasib buruk.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi nasib buruk itu tak membuat ia kehilangan mimpi. Ia membalik kutukan itu jadi keberuntungan. Ia bisa menjahit takdir kemiskinan jadi kemujuran. Ia tak menjadikan kekurangan itu melilit peta hidupnya. Dalam perjalanan hidupnya, ia memupuk semangat untuk jadi pemimpin dengan mengandalkan otak daripada tubuh, akal daripada senjata, strategi dan logistik daripada tombak. Ia kerja tiga kali lebih keras, dan ia berhasil menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik balik Hideyosi terjadi saat ia berusia 15 tahun, ia meninggalkan rumah lalu berjanji pada ibunya; ia tak akan pulang sebelum berhasil meraih apa yang ia impikan. Ia berpetualang, dibelit kelaparan dan jeratan penderitaan. Setelah lelah menggelandang, ia ikut klan Matshushita, lalu mengabdi Lord Nobunaga. Awal mengabdi pada Nobunaga, ia jadi pelayan pembawa sandal tapi hal itu tak mengurangi pengabdiannya. Apalagi --di matanya-- Nobunaga adalah pemimpin luar biasa dan memiliki visi ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja keras, pengabdian dan kesetiaan yang diukir Hideyoshi lambat laun membuahkan hasil. Ia menapaki jabatan; dari pembawa sandal jadi pengelola kayu bakar. Setelah dia berhasil mengubah kemustahilan jadi kenyataan saat memenuhi tantangan membangun benteng Kiyoshi, dia naik jabatan jadi prajurit. Ketika ia kembali berhasil membangun benteng Sunomata, dan berhasil menyusun strategi perang yang bisa mengalahkan beberapa lawan, ia diangkat jadi jendral. Karier Hideyoshi melesat cepat. Bahkan berhasil menjadi pemimpin. Setelah Nobunaga dibunuh Mitsuhide, ia menuntut balas, kemudian meneruskan perjuangan Nobunaga menyatukan Jepang dan kemudian jadi wakil kaisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meraih jabatan tertinggi dimulai dari bawah tak mengandalkan silsilah, melainkan otak dan kerja keras. Tetapi tak ada manusia yang sempurna. Setelah jadi wakil kaisar, dia terlena; sombong, dan lupa diri. Setelah Jepang damai, dia tidak bisa mengendalikan diri untuk mengekang obsesi menggempur Korea dan China. Itulah satu ambisi di ujung usia Hideyosi yang melukai riwayat hidupnya yang cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis Kitami Masao dalam bentuk pengakuan (dengan gaya bertutur; "aku" Hideyoshi), buku ini mengungkap cukup adil riwayat hidup Hideyoshi. Buku ini tidak hanya mengisahkan setumpuk prestasi dan keberhasilan Hideyoshi, melainkan juga setumpuk kegagalan setelah ia meraih jabatan. Dilengkapi setumpuk data; berupa lembaran surat, dokumen dan penelitian ahli sejarah, penulis pun menjamin; buku ini mendekati "akurat di tengah-tengah mitos yang melingkupi kepemimpinan Hideyoshi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, buku ini menawarkan setumpuk prinsip, rahasia hidup yang dapat digali dari perjuangan Hideyoshi dalam menapaki karier jadi wakil kaisar. Maklum, karena buku ini tak hanya sekedar cerita tentang keberhasilan Hideyoshi melainkan juga berisi prinsip, rahasia sukses dan kebijakan politik "sang pemimpin besar" yang dicatat oleh sejarah. Dengan prinsip-prinsip itu tentu pembaca bisa merengkuh pelajaran berharga dari kebijakan-kebijakan politik Hideyoshi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, buku ini terbit dalam edisi Indonesia pada saat yang tepat. Banyak elit politik yang haus kekuasaan untuk jadi pemimpin/pejabat. Karena itu, buku ini bisa jadi semacam buku panduan untuk para pemimpin. Sebab dari kepemimpinan Hidoyoshi terpantul rasa empati pada rakyat yang bisa jadi pelecut bagi elite politik di negeri ini agar tak mengesampingkan kepercayaan yang diberikan rakyat. Pasalnya di balik riwayat hidup Hideyoshi, penulis menuturkan beberapa nasehat, petuah dan bahkan kebijakan politik yang digali dari setiap lembaran hidup yang pernah ditapaki Hideyoshi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku tinggal di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-815000140831599489?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/815000140831599489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=815000140831599489' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/815000140831599489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/815000140831599489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/03/buku-panduan-untuk-para-pemimpin.html' title='buku panduan untuk para pemimpin'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-X1bRbxqTY2Q/TXTnjY36hfI/AAAAAAAACDA/pEtBjHAl224/s72-c/Swordless%2B%2528Hard%2BCover%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-848766874771212482</id><published>2011-02-11T22:02:00.004+07:00</published><updated>2011-11-09T23:25:46.984+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>[resensi]: menggapai rezeki Ilahi</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ivRxuQgfvOs/TVVQXz1dWpI/AAAAAAAACAI/3uq014_ij-A/s1600/Menggapai%2BRezeki%2BIlahi.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5572448483922500242" src="http://4.bp.blogspot.com/-ivRxuQgfvOs/TVVQXz1dWpI/AAAAAAAACAI/3uq014_ij-A/s200/Menggapai%2BRezeki%2BIlahi.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 130px;" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi buku ini dimuat di Majalah &lt;span style="color: red;"&gt;Hidayah&lt;/span&gt;, edisi 114 Februari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Menggapai Rezeki Ilahi&lt;br /&gt;Penulis        : Ust. Lukman Junaedi&lt;br /&gt;Terbit          : Pertama, Agustus 2010&lt;br /&gt;Penerbit      : Ahsan Books&lt;br /&gt;Tebal buku : 157 halaman&lt;br /&gt;Harga         : 29.800,-&amp;nbsp;&lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua orang pasti ingin dilimpahi rezeki berlimpah. Tidak ada orang yang ingin dililit utang, miskin dan ditikam kekurangan. Tetapi, ketatnya impitan hidup tak jarang menjadikan harapan itu terbentur keadaan. Akhirnya tak sedikit orang yang mengalami hidup susah. Ironisnya, ketika dirundung kesulitan itu membuat gelap mata, kemudian menghalalkan segala cara dengan melakukan sesuatu yang dilarang syariah Islam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada aras lain, tidak sedikit orang yang melupakan aspeks kekuatan doa. Padahal dalam spiritualitas Islam diyakini doa memiliki kekuatan dahsyat: yang meliputi urusan mendatangkan rezeki. Sayang, tidak semua orang tahu rahasia itu. Padahal tidak sedikit doa, amalan dan hadits nabi yang mengajarkan umat Islam mudah mendapatkan rezeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Menggapai Rezeki Ilahi ini adalah buku yang memuat doa dan amalan agar pembaca mudah mendapatkan rezeki yang berlimpah dan bahkan barokah. Tidak cuma itu, di dalam buku ini penulis juga mengeksplorasi amalan dan doa untuk memudahkan mendapatkan pekerjaan dan sukses bisnis. Intinya penulis mengajak pembaca terhindar dari kesulitan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam berdoa, ada waktu khusus, tempat dan etika yang harus diperhatikan  agar doa itu bisa menembus langit. Penjelasan tentang waktu-waktu mustajab, etika dan tempat itu pun dijelaskan dalam buku. Selain berbicara tentang rezeki berupa finansial, buku ini juga menjabarkan aspek kelimpahan rezeki lain, seperti: dianugerahi anak, kesehatan, kenaikan jabatan, ketenagan hati dan lain-lain. Doa-doa dalam buku ini pun berdasarkan rujukan hadist Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hal itu, tentu saja jika diamalkan dengan benar tak mustahil akan mudah terwujud. Allah sebagai Sang Pencipta memiliki asma ar-Razzaaq yang bermakna Yang Maha Pemberi Rezeki. Jadi, buku ini, tidak saja mengajak pembaca dekat dengan Allah, tapi merupakan solusi dan senjata bagi umat Islam dalam menghadapi segala macam problematika kehidupan dalam menggapai rezeki melimpah dan barokah.  (Ibrahim)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-848766874771212482?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/848766874771212482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=848766874771212482' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/848766874771212482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/848766874771212482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/02/resensi-menggapai-rezeki-ilahi-diskon.html' title='[resensi]: menggapai rezeki Ilahi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ivRxuQgfvOs/TVVQXz1dWpI/AAAAAAAACAI/3uq014_ij-A/s72-c/Menggapai%2BRezeki%2BIlahi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-4753617370720454543</id><published>2011-01-14T20:05:00.006+07:00</published><updated>2011-01-14T20:12:25.816+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>memoar sang pengemplang pajak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TTBK7aFdADI/AAAAAAAAB_s/g3_WAKVFCyI/s1600/catatan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 129px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TTBK7aFdADI/AAAAAAAAB_s/g3_WAKVFCyI/s200/catatan.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5562027924277493810" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di Lampung Post Minggu 26 Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku  : Catatan Harian Seorang Mafia Pajak&lt;br /&gt;Penulis     : Heri Prabowo&lt;br /&gt;Penerbit    : Edelweiss, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan     : Pertama, Agustus 2010&lt;br /&gt;Tebal buku  : 295 halaman&lt;br /&gt;Harga       : 39.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TATKALA berita Gayus Halomoan P. Tambunan --seorang pegawai pajak golongan rendah yang memiliki rekening berjumlah milyaran rupiah-- mencuat ke tengah masyarakat, pemberitaan itu pun langsung terasa menempelak semua orang. Bagaimana mungkin seorang pegawai pajak golongan III A bisa memiliki rekening segendut itu? Tudingan bahwa "kekayaan" itu didapat dari hasil korupsi atau setidaknya menggunakan wewenang jabatan untuk memperkaya diri sendiri, ternyata tidaklah sekedar isapan jempol. Apalagi, belakangan Gayus mengaku bahwa kekayaan --yang mengisi pundi-pundi-- tabungannya itu ia dapatkan dari beberapa perusahaan yang kena wajib pajak. Dengan kata lain, uang suap.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ulah Gayus itu seperti menggarami lautan tudingan yang sudah bukan rahasia lagi: bahwa kantor pajak dipenuhi oleh koruptor. Apalagi, dalam sejarahnya kasus mafia pajak --dari dulu-- seperti tidak pernah usai (dari pemberitaan korupsi). Tapi ironisnya, kebobrokan di dirjen pajak itu serupa bongkahan es, tetap menjulang tinggi dengan menawan dan mencair setitik demi setitik yang tidak meninggalkan bekas dan "pengungkapan" sampai ke akar-akarnya. Bahkan, mafia pajak kelas wahid di balik keberadaan Gayus tak bisa terendus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang terangkum dalam buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak yang ditulis Heru Prabowo ini tidak saja membenarkan (bahkan mengukuhkan) akan tudingan dan keberadaan mafia-mafia pajak itu, melainkan juga mengungkap dengan gamblang bahwa negeri ini benar-benar bobrok. Sebab selain mengungkap kasus korupsi yang dilakukan oleh pegawai-pegawai pajak (sekelas Gayus), buku ini juga mengisahkan keculasan oknum di institusi kepolisian dan kejaksaan: seputar jual beli kasus, layanan khusus di balik jeruji yang dibisniskan dan bahkan hingga sindikat mafia hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkisah tentang seorang pegawai pajak tingkat rendah, buku ini menuturkan kehidupan tokoh "aku" (Dimas Prakoso) yang tergerus arus ikut korupsi ketika ia jadi pegawai pajak di kota Surabaya. Idealisme yang dia sesap di bangku kuliah (di STAN PRODIP Departemen Keuangan) dan bahkan sempat menjadi seorang santri di sebuah ma`had ternyata tidak menjadikan dia bersiteguh, taat, dan konsisten dalam memeluk iman untuk berjiwa bersih dan hidup dengan payung dari ajaran agama. Pelajaran kosupsi yang ia temui di kantor pajak seakan membuka matanya, bahwa ada sejuta pintu mulai dari mengundurkan tanggal, permainan restitusi hingga perubahan database bagi orang pajak untuk bisa membeli mobil, rumah dan bahkan menjadi kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan, kalau dalam waktu singkat tokoh aku bisa beli rumah, mobil dan punya bisnis (multi player dan komputer). Tapi ketika bisnis yang ia bangun nyaris ambruk dan ia didesak Pak Johan (mantan atasannya) untuk mengembalikan modal (yang ditanamkan) ia digenggam kebuntuan. Ia pun kemudian tergelincir tawaran Anton untuk kerjasama guna menjual faktur pajak fiktif. Tapi kecerobohan yang ia lakukan dalam penjual faktur fiktif itu ternyata harus ia bayar mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, ketika penyidik pajak melakukan sebuah gebrakan, ia pun diciduk: dijebloskan ke tahanan (bersama Anton, Sandi, Tommi dan Huda) dengan tudingan merugikan negara sebesar empat milyar rupiah. Tetapi, di balik penangkapan itu masih menyimpan misteri. Ia tahu sepenuhnya bahwa hampir semua pegawai pajak melakukan korupsi --meski pun ada segelintir orang yang tetap bersih dan teguh memegang iman. Dari situ, itu kemudian mulai terusik: kenapa ia ditahan dan pejabat lain yang ia ketahui melakukan korupsi ratusan milyar malah aman dan tak tersentuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia melakukan pengusustan, belakangan dia tahu bahwa dia ternyata telah dikorban Pak Roy, atasannya yang ingin membangun sebuah citra (agar dianggap bersih, mendukung gerakan anti korupsi) dengan menjebloskan anak buahnya yang korupsi --untuk mengincar jabatan Dirjen Pajak atau setidaknya Sekditjen. Jadi, ia itu sebenarnya dikorbankan. Karena pajabat-pejabat tingkat atas justru selamat bahkan tak tersentuh padahal telah melakukan korupsi ratusan milyar rupiah. Lebih ironis lagi, ketika dia lagi terjerat kasus korupsi pajak, ia menjumpai beberapa oknum di kantor kepolisian dan kejaksaan menjual belikan kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang membelitnya itu pun kemudian membawanya ke jalan pertobatan. Apalagi, tatkala ia tahu istrinya sedang mengandung anak pertama dan ia tak ingin memberi makan buah hatinya dengan hasil korupsi. Sebuah ending yang tak dinafikan merupakan pesan penting dari buku ini. Apalagi dalam penjara, tokoh aku mengalami pergualatan batin yang membuka mata kita semua bahwa negeri ini benar-benar bobrok dan dililit masalah akut korupsi. Tapi kesadaran pemberantasan itu, dimulai dari kesadaran tokoh aku --yakni dari setiap pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berlebihan, jika buku ini menggedor hati nurani siapa saja untuk selalu ingat: korupsi ada di mana-mana, tapi keteguhan hati adalah kunci utama untuk "tetap berpegang teguh" --dalam melawan korupsi. Pesan penting itulah, yang menjadikan buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak ini tidak saja penting dibaca, mengingat kasus Gayus menjadi buah bibir dan menghebohkan, melainkan juga "membuka mata" semua rakyat Indonesia akan kebobrokan di tubuh dirjen pajak dan mafia pajak yang berkantor di institusi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga menggambarkan dengan gamblang bahwa pegawai pajak sekelas Gayus --yang sebenarnya bukan siapa-siapa-- tidak lebih adalah mafia pajak keroco, dan di tingkat atas ada sejumlah aktor besar yang kuat --sebagaimana Pak Roy--, tetapi ironisnya tak tersentuh hukum. Bahkan memiliki peluang untuk menjabat Dirjen Pajak atau setidaknya Sekditjen. Sungguh sebuah gambaran dari negeri korup! ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-4753617370720454543?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/4753617370720454543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=4753617370720454543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4753617370720454543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4753617370720454543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2011/01/memoar-sang-pengemplang-pajak.html' title='memoar sang pengemplang pajak'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TTBK7aFdADI/AAAAAAAAB_s/g3_WAKVFCyI/s72-c/catatan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-1913281348221246407</id><published>2010-10-10T14:08:00.002+07:00</published><updated>2011-10-31T04:14:21.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>Spirit dari Sebuah Legenda Ga`Hoole</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TLFoJLQhO3I/AAAAAAAAB9I/AkuJEE438Yk/s1600/guardians+of+ga%60hoole.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5526312724610497394" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TLFoJLQhO3I/AAAAAAAAB9I/AkuJEE438Yk/s200/guardians+of+ga%60hoole.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 239px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 157px;" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di Jawa Pos, Minggu 10 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : The Capture: Guardians of Ga`Hoole #1&lt;br /&gt;Penulis        : Kathryn Lasky&lt;br /&gt;Penerjemah    : T. Dewi Wulansari&lt;br /&gt;Penerbit     : Kubika, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan     : Pertama, 2010&lt;br /&gt;Tebal         : 338 halaman&lt;br /&gt;Harga        : 42.500,-&amp;nbsp;&lt;span style="color: #cc0000; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BURUNG hantu (owl) memiliki kehidupan yang unik. Ia tidak saja memiliki bentuk wajah yang berbeda dengan jenis burung biasa, tapi juga dalam berperilaku. Burung satu ini tergolong spesies burung nokturnal (beraktivitas di malam hari), pemalu bahkan susah ditemukan. Ia juga dianugerahi katajaman mata sehingga dapat melihat dan mengintai mangsa dari jarak yang sangat jauh. Kesan burung hantu yang hidup di malam hari itulah yang membuat spesies burung ini disebut-sebut sebagai jenis binatang yang menyeramkan: sebagai lambang burung yang jahat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  Tapi kesan itu tidak sepenuhnya benar. Dalam kepercayaan orang Yunani, burung ini justru dilambangkan sebagai burung kebijaksanaan dan memiliki sifat menolong. Setidaknya, sisi kebijaksanaan dan penolong dari burung hantu itulah yang diwakili tokoh Soren (burung hantu Barn), Gylfie (burung hantu peri), Twilight (burung hantu kelabu besar) dan Digger (burung hantu Liang) yang siap menjadi burung-burung hantu ksatria untuk memanggul tugas mulia --mengikuti jejak ksatria burung hantu di zaman Glaux (seperti dikisahkan dalam legenda Ga`Hoole) yang terbang di malam hari untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Motivasi Soren untuk memanggul tugas mulia itu, tak lepas dari kemalangan hidup yang pernah ia jalani. Saat baru berumur tiga minggu dan belum bisa terbang, ia terjatuh dari sangkar. Ia pun mengalami nasib naas. Sebab tidak lama kemudian, patroli St. Aegolius menculiknya, dan ia dibawa ke sebuah jurang atau tebing --tempat ribuan anak-anak burung hantu diculik. Di tempat yang disebut sebagai "sekolah untuk burung hantu yatim piatu" itu, Soren dan ribuan anak-anak burung hantu dididik dengan keras: tak diperkenankan untuk bertanya, dipaksa untuk bekerja, bahkan berbaris dan tidur di bawah sinar rembulan agar mengalami pembingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tak mustahil, jika efek dari peraturan itu menjadikan burung-burung hantu kecil itu bermata hampa, serupa mayat berjalan. Tapi Soren yang kemudian bersahabat dengan Gylfie tahu tipu muslihat mereka. Maka, Soren dan Gylfie yang cerdas berusaha menahan kantuk agar tak tidur di bawah sinar rembulan. Untuk bertahan dari tidur, Soren bercerita --pada Gylfie- tentang legenda Ga`Hoole sampai bulan menghilang. Akibatnya, keduanya "tidak mengalami pembingungan". Tetapi, siksaan itu belum seberapa karena pada saat tertentu, sayap dan bulu anak-anak burung hantu itu digunduli agar tidak bisa terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Setelah melakukan pengamatan dan tahu apa yang terjadi di St. Anggie, keduanya sadar: St. Anggie dibangun untuk misi rahasia dengan tujuan jahat. Patroli St Aegolius menculik -anakanak burung hantu untuk tujuan menguasai seluruh kerajaan burung hantu. Keduanya sadar segala sesuatu di St Anggie terbalik. Maka, Soren dan Gylfie berjuang untuk tidak bingung dan tetap berdiri tegak: selanjutnya, berusaha lolos dari sergapan mereka. Beruntung, keduanya kemudian bertemu dengan Hortense --burung hantu bintik-- yang juga berjuang menyelamatkan telur-telur burung hantu dari hutan kerajaan Ambala yang dicuri Patroli St Aegolius. Tapi belum sempat Soren-Gylfie berhasil lolos, Hortense terbunuh akibat ketahuan menyelamatkan telur burung hantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Soren dan Gylfie yang cerdik kemudian meminta bantuan Grimble (burung hantu boreal). Grimble (yang ditahan oleh patroli St Aegolius sebagai sandra dengan jaminan tak akan diganggu keluarganya) pun siap membantu dan bahkan mengajari Soren dan Gylfie cara terbang. Bantuan dan pertolongan Grimble ternyata tak sia-sia. Soren dan Gylfie akhirnya bisa terbang dan lepas dari sekapan tersebut, meski Grimble harus menebus dengan nyawanya --karena dibunuh Skench (burung hantu bertanduk yang menjadi jenderal Ablah St. Aegolius).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tetapi setelah Soren dan Gylfie berhasil kabur dari St Aegolius, bukan berarti semua selesai. Keduanya masih harus mencari keluarganya. Pencarian keduanya itulah yang menjadikan kedua burung hantu itu kemudian berpetualang. Apalagi, setelah bebas keduanya bertemu Twilight dan Digger. Pelarian dari St Aegolius juga menjadi titik awal untuk tugas mulia selanjutnya yang lebih berat lagi: melawan kejahatan patroli St Aegolius di bawah kekuasaan Skench.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Meski novel fantasi ini tergolong kisah fabel: dengan tokoh-tokoh burung hantu (juga dua burung elang dan seekor ular buta), tetapi buku ini ditulis dengan serius dan bahkan ditunjang penelitian yang mendalam. Semula, memang pengarang melakukan penelitian burung hantu dengan mendalami perilaku mereka: apa yang mereka makan, bagaimana mereka terbang, membuat sarang dan sebagainya untuk menulis buku non-fiksi. Tetapi saat pengarang yang kini tinggal di Cambridge (Missachusetts) ini hendak menulis buku non-fiksi, ia sadar bahwa buku yang akan dia tulis itu tidaklah mudah. Akhirnya, ia menulis kehidupan burung hantu dalam novel (fantasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Meski demikian, pengarang bisa menghidupkan tokoh-tokoh burung hantu dalam novel ini dengan gemilang. Apalagi novel ini dilengkapi dengan sekelumit sejarah, perilaku, karakter dan jenis-jenis burung hantu. Alhasil, novel ini pun menjadi "sebuah bacaan yang memikat". Kelebihan lain, Kathryn Lasky --yang telah menulis banyak buku, fiksi dan non-fiksi di antaranya: Interupted Journey: Saving Endangered Sea Turtles dan The Night Journey: Beyond the Burning Time dan mendapat sejumlah penghargaan-- mampu menulis kisah tentang kehidupan burung hantu dengan menawan, memikat meski ditulis dengan "bahasa yang sederhana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tapi kesan sederhana itu tak sepenuhnya menjadikan novel ini tidak berbobot. Karena Lasky mampu mengubah kehidupan burung hantu menjadi cerita yang unik, menarik dan menawan. Juga, ia bisa bercerita dengan lancar. Setiap jeda dari penggalan kisah dilingkupi dengan suspense sehingga meninggalkan kesan penasaran di benak pembaca. Rasanya, tidak dapat berhenti membaca jika belum sampai pada akhir halaman. Semua kelebihan itulah, yang mengantarkan novel ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul Legenda of The Guardians: The Owl of Ga`Hoole.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  *) N. Mursidi, cerpenis dan owner toko buku online www.etalasebuku.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-1913281348221246407?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/1913281348221246407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=1913281348221246407' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1913281348221246407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1913281348221246407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/10/resensi-buku-capture-guardians-of.html' title='Spirit dari Sebuah Legenda Ga`Hoole'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TLFoJLQhO3I/AAAAAAAAB9I/AkuJEE438Yk/s72-c/guardians+of+ga%60hoole.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-196303377518464869</id><published>2010-09-28T08:31:00.003+07:00</published><updated>2011-05-07T17:00:24.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>menggapai pernikahan yang barakah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TKFF_mT6MmI/AAAAAAAAB8o/YIxipTxTszw/s1600/buku+pintar+mama+dede.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 154px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TKFF_mT6MmI/AAAAAAAAB8o/YIxipTxTszw/s200/buku+pintar+mama+dede.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521771577051066978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Majalah Hidayah&lt;/span&gt;, edisi 110 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul    : Buku Pintar Membina Rumah Tangga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah Bimbingan Mama Dedeh&lt;br /&gt;Penulis       : Elie Mulyadi&lt;br /&gt;Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan    : 2010&lt;br /&gt;Tebal     : 258 halaman&lt;br /&gt;Harga    :  50.000,- (diskon 15%) = &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;42.500,-    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap pasangan (suami-istri) yang mengucap ikrar berumah tangga, pasti ingin pernikahan yang dijalani barakah. Apalagi jika keduanya setia, mencurahkan cinta dan kasih sayang, tak ada yang diharapkan kecuali meraih kehidupan yang penuh bahagia. Pernikahan dalam bingkai itu pun layak disebut rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi untuk mewujudkan pernikahan yang barakah dan rumah tangga sakinah itu tidak mudah. Sebab semua orang tahu: pernikahan adalah pertemuan dua insan yang berbeda berlatar belakang, budaya, dan setumpuk ide. Maka, tak sedikit pasangan yang tergelincir dalam perceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana mewujudkan pernikahan barakah dan rumah tangga sakinah? Jawabnya pernikahan harus dijalani dengan sabah dan dilandasi ketaqwaan. Sebab, jika problema rumah tangga tak dihadapi dengan kesabaran akan berujung keretakan. Juga, jika tak dihalau dengan taqwa, bisa tergelincir. Padahal, dengan taqwa, setiap pasangan akan dibimbing untuk mencari solusi dari problem rumah tangga yang mengancam. Dengan berpegang Qur`an dan sunnah, pasangan akan tahu cara menggapai pernikahan yang barakah dan rumah tangga sakinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, bisa dikata buku panduan yang menguraikan pernik-pernik pernikahan dengan segala problema hidup berumah tangga. Karena buku Elie Mulyadi, yang ditulis dengan bimbingan Mamah Dedeh ini tak semata mengurai teori pernikahan (seperti soal persiapan menuju gerbong pernikah, tata cara pernikahan Islami dan cara membangun keluarga sakinah), melainkan juga dilengkapi dengan tanya jawab dari orang-orang yang sering diajukan ke Mamah Dedeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, buku ini pun bisa jadi pedoman bagi pasangan yang mau melangsungkan pernikahan. Juga, jadi pengingat bagi yang tengah menapaki pintu pernikahan. Bahkan, jadi cermin bagi siapa saja yang pernah melakukan kesalahan dalam kehidupan rumah tangga di masa lalu untuk memperbaiki diri/berbenah. (n. mursidi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-196303377518464869?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/196303377518464869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=196303377518464869' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/196303377518464869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/196303377518464869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/09/menggapai-pernikahan-yang-barakah.html' title='menggapai pernikahan yang barakah'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TKFF_mT6MmI/AAAAAAAAB8o/YIxipTxTszw/s72-c/buku+pintar+mama+dede.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-7556479851711686285</id><published>2010-09-26T21:28:00.007+07:00</published><updated>2011-05-07T17:01:28.837+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>novel biografi sang proklamator</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TJ9ZDuByTNI/AAAAAAAAB8Y/m0FP56Wt7Rk/s1600/cober+buku+hatta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TJ9ZDuByTNI/AAAAAAAAB8Y/m0FP56Wt7Rk/s200/cober+buku+hatta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5521229588609518802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat d&lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010092600364455"&gt;i Lampung Post&lt;/a&gt;, Minggu26 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Hatta:Hikayat Cinta dan Kemerdekaan&lt;br /&gt;Penulis        : Dedi Ahimsa Riyadi&lt;br /&gt;Penerbit    : Edelweiss, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan     : Pertama, 2010&lt;br /&gt;Tebal buku    : vii+279 halaman&lt;br /&gt;Harga buku: 40.000,- (diskon 15%) = &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;34.000,-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    SEORANG pengarang adalah seorang penutur kehidupan. Ia bisa menuturkan peristiwa yang terjadi di masa lalu, masa sekarang bahkan peristiwa yang akan datang. Tapi tatkala seorang pengarang menulis "peristiwa di masa lalu" dengan bersandar fakta sejarah, dengan menuturkan kehidupan atau biografi tokoh ternama yang pernah menorehkan sejarah, setidaknya ia dihadapkan pada dua hal. Pertama, kebenaran faktual --dari catatan sejarah. Kedua, fiksionalisasi sejarah dalam bingkai estetika.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua hal itu, tak bisa disangkal, menjeburkan pengarang pada setumpuk data sejarah yang harus diolah dengan cermat, dan pada sisi yang lain menuntut pengarang mewartakan fakta yang pernah ada atau mungkin terjadi dengan "perenungan intelektualitas", membangun sebuah dunia yang hoheren dan kesadaran akan problem kemanusian dalam bingkai estetika. Kegagalan dalam menuturkan dua hal itu, akan menjadikan biografi seorang tokoh penting dalam sejarah yang ditulis dalam bentuk novel (karya sastra) akan menjadi karya yang kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua hal itu, pengarang buku ini mengangkat biografi/kehidupan Mohammad Hatta, sang proklamator dalam bentuk novel. Dari awal, tujuan Dedi memang mulia: ingin menerabas kekakuan tulisan biografi seorang tokoh agar tidak terjebak dua hal. Pertama, tak jarang bigrafi tokoh dalam peta sejarah kerap ditulis secara ilmiah, sehingga tak dimungkiri kerap dibaca kalangan tertentu, seperti akademisi dan peminat sejarah. Kedua, biografi pun ditulis dengan acuan metodologi sejarah, sehingga menjadikan bahasanya kaku dan berat. Pengarang buku ini --tak diingkari-- ingin menerabas kekakuan itu dan berharap buku yang ditulis tentang Mohammad Hatta ini menjadi buku yang renyah dan menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teguh Memegang Prinsip&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Hatta, salah satu dari dua tokoh proklamator Kemerdekaan Indonesia telah meninggalkan nama yang harum dalam catatan sejarah Indonesia.  Hatta bagai oase di tengah gurun padang sahara. Apalagi, di saat krisis kepemimpinan seperti sekarang,  perjuangan serta kiprah yang ditorehkan sang proklamator ini dapat menjadi cermin: bagaimana semestinya pemimpin negeri ini jadi pelayan bagi rakyat. Maklum M. Hatta dikenal sebagai pemimpin yang teguh dalam memegang prinsip. Setia pada janji yang pernah ia ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada tiga hal penting yang direkam Dedi Ahimsa Riyadi tentang sosok Hatta dalam buku ini. Pertama, ia digambarkan sebagai pemimpin yang memiliki pemikiran visioner ke depan. Hatta mencita-citakan kemerdekaan jauh-jauh hari dengan cara elegan dan mengedepankan akan pentingnya pendidikan, pengkarderan dan kesadaran rakyat akan kemerdekaan. Maka, ia menolak ketergantungan pada sosok/figur individu. Dengan tegas, ia mengobarkan semangat kemerdekaan dan selama bertahun-tahun, dia berjuang lewat tulisan dan pengkaderan di daerah-daerah untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang visioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memiliki jiwa nasionalisme yang tak terbatasi lingkup etnis, melainkan berpijak pada ke-Indonesia-an. Maka latar belakang Hatta yang dari Sumatra tak menjadikan ia terkotak-kotakan dalam bingkai golongan atau perkumpulan yang bersifat etnisitas tetapi pada bingkai nasionalisme yang luas. Ketika ia menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia, ia pun lantang berteriak menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Lalu, sepulang dari Nederland, ia melalui partai PNI, melakukan pengkaderan dan berjuang untuk kemerdekaan Indonenesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dia adalah seorang terpelajar yang mencintai buku. Kecintaan Hatta pada buku, membuatnya tak mau berpisah dengan buku. Dia pun dikisahkan mengangkut enam belas peti bukunya ke pengasingan, waktu Belanda membuang Hatta. Ketiga, Hatta dikenal sebagai seorang yang teguh memegang prinsip. Kecintaan Hatta pada Indonesia (juga pada rakyat Indonesia dan buku), menjadikan ia rela tak menikah hingga Indonesia merdeka. Semua orang pun tahu akan janji yang pernah diucapkan Hatta itu dan ternyata Hatta memenuhi janjinya itu. Ia menikah 3 bulan setelah Indonesia merdeka --18 November 1945, seminggu setelah pertempuran heroik di Surabaya. Hatta menikahi Rahmi Rachim, dan ia memberi hadiah kepada sang istri buku Alam Pemikiran Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan Hatta pada Indonesia itulah, yang menjadikan Mavin Rose menyebut Hatta dengan sebutan unik: "muslim sejati" karena Hatta beristri empat: Indonesia, rakyat Indonesia, buku dan Rahmi Rachim. Dan Hatta, memang sosok yang selalu dikenang sepanjang masa. Sosok yang hampir semua orang tidak meragukan lagi akan keteguhan, kecintaan dan perjuangan yang ia torehkan untuk kemerdekaan Indonesia. Tidak salah, jika Iwan Fals pun mengenangnya dalam sebuah lagu. Itu tak lain, karena Hatta jadi ikon dan teladan bagi rakyat Indonesia sehingga digambarkan seperti seorang sahabat yang selalu dekat di hati rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tergelincir Kehati-hatian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keteladanan Hatta itulah yang ingin direkam Dedi Ahimsa Riyadi dalam buku Hatta: Hikayat Cinta dan Kemerdekaan ini. Lebih dari itu, buku ini pun diberi titel "sebuah novel biografi". Tetapi, titel sebuah novel biografi yang sedari awal ingin mengenal sosok Hatta dalam sekeping novel ini, justru meninggalkan jejak kontroversi karena tidak didukung laku bertutur pengarang yang jalan seirama antara isi dan bentuk novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang memang berhasil menuturkan peristiwa-peristiwa penting di masa lalu yang dilalui Hatta dengan alur cerita yang tidak lurus, diawali dengan pembuka pembajakan kapal perang Belanda HNMLS De Zeven Provincien oleh awak kapal pribumi dan Eropa sebagai bentuk protes atas pemangkasan upah, lalu berkembang ke masa kecil Hatta di kampung hingga belajar ke Belanda, kemudian dilukiskan detik-detik kemerdekaan Indonesia. Habis itu, kembali ke kehidupan Hatta di Belanda, hingga ia pulang ke Indonesia, dibuang dan sekelumit kisah cinta Hatta --dengan gadis bernama Rahmi Rachim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi alur cerita yang digulirkan pengarang nyaris dingin dan kaku. Juga laku bertutur pengarang lebih bersifat naratif dari pada deskriptif. Penggarapan estetika dengan modal naratif itulah yang menjadikan karakter-karakter tokoh dalam novel ini terasa hambar bahkan dingin. Beberapa peristiwa heroik Hatta, sebenarnya bisa dielaborasi baik dengan mengedepankan teknik membangun dramatisasi dan suspense tapi pengarang seperti dihantui akan sebongkah sikap kehati-hatian kalau terjebak pada kesalahan yang fatal, mengingat yang dikisahkan adalah: tokoh besar Bung Hatta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, kekeringan estetika fiksionalisasi dengan memanfaatkan data sejarah itulah justru menjadikan buku ini yang diberi titel sebuah novel biografi ini kering. Apalagi pengarang seperti pelit mengumbar dialog. Bahkan buku ini nyaris kering dialog. Padahal, dialog memiliki kekuatan bisa menguatkan tokoh cerita. Alhasil, buku ini pun mirip biografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, keinginan mulia pengarang mengangkat sosok Hatta dalam buku ini patut disambut gembira. Buku ini bisa jadi telaga yang jernih bagi pemimpin bangsa, bahwa perjuangan Hatta untuk Indonesia layak dan patut ditiru. Sedang bagi generasi penerus bangsa, tidak bisa dipungkiri, buku ini meninggalkan jejak perjuangan Hatta yang patut dikenang sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*) N. Mursidi&lt;/span&gt;, cerpenis dan owner toko buku online etalasebuku.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-7556479851711686285?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/7556479851711686285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=7556479851711686285' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7556479851711686285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7556479851711686285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/09/novel-biografi-sang-proklamator.html' title='novel biografi sang proklamator'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TJ9ZDuByTNI/AAAAAAAAB8Y/m0FP56Wt7Rk/s72-c/cober+buku+hatta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-1821650769484794824</id><published>2010-09-24T11:35:00.003+07:00</published><updated>2010-09-24T11:47:44.654+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini di balik buku'/><title type='text'>Kiswanti: Beribadah dengan Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TJwq7jPe6AI/AAAAAAAAB8I/Uu-aq5de0WU/s1600/beribadah+dengan+buku_1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TJwq7jPe6AI/AAAAAAAAB8I/Uu-aq5de0WU/s200/beribadah+dengan+buku_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520334445810214914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tulisan ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hidayah&lt;/span&gt; ed 109/Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keterbatasan ekonomi, ternyata tak menjadi penghalang bagi wanita yang dekat dengan buku ini berbuat kebaikan --menolong sesama. Justru, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan dan hanya mengenyam pendidikan SD, lahir perasaan keperpihakan. Ia tidak segan-segan merelakan koleksi buku yang ia miliki rusak karena dipinjam orang untuk dibaca. Ia bahkan senang buku-buku yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun itu dibaca orang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada tujuan di balik kiprah mulia itu, selain ingin melakukan perubahan dan membangun kehidupan yang gemilang bagi masa depan anak-anak di Desa Pemagarsari, Parung dan sekitar dengan cara menanamkan gemar membaca. Perjuangan itulah yang diemban Kiswanti selama belasan tahun. Ia berjuang mengajak anak-anak dan warga di sekitar mencintai buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, kiprah Kiswanti itu sudah menumbuhkan anak-anak di Parung sadar akan gemar membaca. Dari kiprah itulah, kini berdiri tempat belajar bagi anak-anak usia dini (PUD), SD, SMP dan SMA yang belajar di rumahnya. Buku koleksi yang ia kumpulkan bertahun-tahun pun sudah jadi taman bacaan  Warabal. Tapi, di balik semua itu dulu ibu Kiswanti membangun dengan jerih payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putus Sekolah, Tapi Gemar Membaca&lt;br /&gt; Lahir di sebuah kampung di Bantul, Yogyakarta –4 Desember 1965-- ia tergolong anak yang tak beruntung. Keinginan terus sekolah ternyata tak sebanding lurus dengan kondisi ekonomi keluarga. Ayah Kiswanti yang jadi penarik becak menghalangi Kiswanti kecil bisa sekolah tinggi. Meski demikian, sang ayah menanamkan jiwa membaca sejak Kiswanti usia 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak saya itu bukanlah orang yang setiap minggu atau setiap bulan dapat gaji, karena bapak saya itu penarik becak. Tapi bapak itu orang pertama yang mengenalkan saya gemar baca dan cinta buku. Saat saya berumur 5 atau 6 tahun, beliau menggunting huruf-huruf di koran kemudian mengajarkan bagaimana cara membaca dari guntingan huruf koran itu,” kisah Kiswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat teman-teman sebaya masuk SD, Kiswanti pun meminta sekolah. “Waktu itu yang membuat saya bertekat minta sekolah, karena waktu itu saya ingin masuk TV ikut cerdas cermat. Jika tidak sekolah, tidak mungkin ada kesempatan masuk TV. Itulah yang membuat saya gemar membaca…” kata Kiswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, cita-cita itu kandas. Bahkan setelah lulus SD, dengan getir ia mendengar permintaan maaf sang ayah.  “Tahun 1980, saya lulus SD. Dengan berat ayah meminta maaf, karena tak bisa membiayai saya masuk SMP. Tapi ayah berpesan ‘Jika ingin pinter kau banyak-banyak baca buku. Pulang bekerja, bapak belikan buku atau koran bekas’,” kenang wanita yang henya sempat mengenyam pendidikan SD ini dengan sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah tidak ingkar janji. Ia membelikan buku-buku buat Kiswanti dan meski tak melanjutkan sekolah SMP, minat Kiswanti pada buku tak pupus. Bahkan ia mulai mengoleksi buku. Akhirnya tahun 1987 ia merantau ke Jakarta -- bekerja jadi pembantu agar bisa beli buku. “Orangtua sempat melarang. Saya tak diijinkan. Di mata orangtua, semiskin-miskinnya kita, masih ada pekerjaan lain selain itu. Tapi, saya beralasan, itu pilihan aman dan lebih terlindungi. Di sisi lain, saya yang lulusan SD tak mungkin bisa kerja di pabrik. Kebetulan, niat awal kerja ke Jakarta itu untuk menambah koleksi buku, dan majikan saya kebetulan memiliki koleksi buku banyak. Saya sempat mengajukan untuk tak digaji dengan uang, melainkan dengan buku. Itu karena saya ingin menambah buku saya yang waktu itu sudah mencapai 1500 buku. Tetapi, majikan saya menolak dan tetap menggaji saya dengan uang,” kisah Kiswanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan kemudian, Kiswanti pun menerima gaji. Sebagaimana niat awal kerja untuk menambah koleksi buku maka hasil kerja 3 bulan sebesar 120.000 ia belikan buku 95.000. Ia mendapat 45 judul buku. Dari situlah, ia terus mengoleksi buku dan jumlah buku yang ia miliki terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersepeda Onthel Meminjamkan Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1998, ibu Kurwanti pindah ke Parung. Waktu itu, Parung masih sepi tak jauh beda dengan suasana kampung halamannya. Tak sedikit anak-anak yang bermain kurang pengarahan, karena orangtua bekerja. Tapi yang lebih memprihatinkan di mata Kuswanti, ulah anak-anak usia 5-6 tahun tidak jarang saat berselisih —keluar umpatan yang comot dari isi kebun binatang, toilet dan bahkan kata-kata organ wanita yang seronok. Kuswanti mengelus dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tak menyalahkan kenapa itu terjadi, tetapi saya berusaha mencari kenapa itu terjadi? Saya tak mungkin merubah itu seperti membalik telapak tangan. Maka, saya mengajak anak-anak itu bermain. Karena kebutuhan anak-anak itu bermain dan di saat bermain itu, mereka senang. Tapi kemudian saya menerapkan syarat-syarat bagi mereka yang ingin bermain dengan saya: tak boleh mengucap loe, guwa, isi kebon binatang, isi toilet. Ada beberapa peraturan seperti itu, dan saat mereka sudah terkondisikan dan senang, saya mulai memperkenalkan buku dengan cara saya bercerita. Tetapi, cerita dari buku bacaaan itu tidak saya selesaikan, karena saya ingin tahu; apakah ada minat baca dalam diri anak-anak itu?” ujar ibu Kiswanti –yang oleh anak-anak dipanggil Bude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan mengajak anak bermain juga menanamkan minat baca itu dijalani kurang lebih empat tahun. Setelah enam tahun warga dan di sekitar ibu Kuswanti tahu akan keberadaannya dan buku yang ia miliki, hal itu membuat ibu Kuswanti ingin keluar lebih jauh. Maka, niat mengajak orang-orang yang jauh pun menjadikan ibu Kuswanti harus keliling kampung dengan sepeda onthel seraya menjual jamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena saya ingin orang yang jauh dari saya tahu tentang keberadaan saya dan buku, maka saya mengayuh sepeda onthel menawarkan buku-buku saya untuk dipinjam dengan gratis. Kebetulan orangtua saya itu pedagang jamu dan saya hanya bisa meracik kunyit asem. Akhirnya saya keliling bersepeda menjual jamu dan menawarkan kepada orang-orang untuk membaca buku-buku yang saya bawa. Maka, setiap kali saya keliling itu, saya menawarkan jamu dan buku. Siapa yang ingin sehat minum jamu. Siapa yang ingin pintar baca buku. Uang dari kalian membeli jamu, bisa saya belikan buku baru dan kalian pinjam kembali. Itu satu-satunya jalan bagi saya untuk menambah koleksi buku saya,” kisah ibu Kiswanti saat masih keliling menawarkan pinjaman buku kepada warga Parung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warabal dan Tempat Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, koleksi buku bisa dinikmati oleh warga Patung. Sebidang ruangan pun jadi Taman Bacaan yang diberi nama Warabal. Taman bacaan yang dirintis ibu Kuswanti ini pun tidak hanya jadi tempat anak-anak dan warga untuk meminjam buku, melainkan juga sekaligus jadi tempat belajar. Karena keterbatan ruang sedang animo masyarakat tak terbendung, tempat belajar pun kurang memadai. Bahkan ibu Kiswanti merelakan ruang tamunya untuk menjadi tempat belajar komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kiprah dan perjuangan tiada henti dari ibu Kiswanti. Dalam keterbatasan, ia tetap berjuang dan buku --harta berharga yang ia miliki tak segan-segan ia pinjamkan. “Saya mau sedekah uang tapi kebutuhan saya hanya cukup untuk kami sekeluarga, ingin sedekah senyum sedang saya dikasih wajah begini oleh Allah. Ya saya syukuri tapi belum tentu semua orang bisa menerima senyum saya meski saya berusaha tersenyum ikhlas. Sementara saya punya banyak buku, karena itu saya ingin mengajak mereka membaca buku-buku saya dengan gratis. Saya meminjamkan buku gratis bisa dimasukkan dalam kategori beribadah,” jelas Kiswanti ketika Hidayah bertanya tentang slogan “beribadah dengan buku” yang tertulis jelas di Warabal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah ibu Kiswanti tentu mengundang decak kagum. Kita patut berterima kasih. Apalagi jika di antara kita ada yang mau menyisihkan tenaga, pikiran dan materi untuk ikut membantu perjuangan Ibu Kiswanti ini. (n. mursidi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-1821650769484794824?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/1821650769484794824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=1821650769484794824' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1821650769484794824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1821650769484794824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/09/kiswanti-beribadah-dengan-buku.html' title='Kiswanti: Beribadah dengan Buku'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TJwq7jPe6AI/AAAAAAAAB8I/Uu-aq5de0WU/s72-c/beribadah+dengan+buku_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-290629960480391268</id><published>2010-09-10T17:09:00.003+07:00</published><updated>2010-09-10T17:13:55.921+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>jurus jitu menghimpun zakat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TIoEMVwTOzI/AAAAAAAAB6w/R0x9bbygn94/s1600/jurus+menghimpun+fulus.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 142px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TIoEMVwTOzI/AAAAAAAAB6w/R0x9bbygn94/s200/jurus+menghimpun+fulus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515225303713266482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=62118"&gt;Koran Jakarta&lt;/a&gt;, Rabu, 08 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Jurus Menghimpun Fulus: Manajemen Zakat Berbasis Masjid&lt;br /&gt;Penulis : M. Anwar Sani&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal : 157 halaman&lt;br /&gt;Harga : 45.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya, potensi zakat di Indonesia, sebagaimana pernah dikemukan oleh Dr Didin Hafidhudin, sungguh tinggi. Konon, angkanya bisa mencapai 80 triliun per tahun. Meski perhitungan itu tidak sebesar hasil riset penelitian lembaga nirlaba lain, seperti The Indonesia Magnificence of Zakat yang mengalkulasi berkisar 27,2 triliun, potensi zakat di negeri ini, tidak dinafikan, tetap besar. Ironisnya, “kalkulasi” itu sekadar hitungan di atas kertas. Sebab fakta yang terkumpul tak sebanyak itu. Pada 2009, dari potensi zakat yang bisa kumpul sebesar 19,3 triliun per tahun, hanya terhimpun dana sekitar 24 persen.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran berzakat ternyata masih jauh harapan. Lalu yang menjadi pernyataan: ke mana potensi zakat yang dalam kalkulasi di atas kertas cukup besar itu mengendap dan tak bisa tergali dengan maksimal? Buku Jurus Menghimpun Fulus: Manajemen Zakat Berbasis Masjid ini setidaknya bisa menjadi secuil jawaban. Sebab buku yang ditulis M Anwar Sani, Direktur Al- Azhar Peduli Umat, ini adalah sebuah pengalaman sukses penulis dalam menakhodai lembaga Al-Azhar Peduli Umat. Padahal, ia membangun Al- Azhar Peduli Umat dari nol, bahkan di awal-awal pendirian, ia harus turun gunung: mengedarkan proposal, keluar masuk perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lima tahun berjuang keras membesarkan lembaga zakat tersebut, buah manis pun bisa dipetik. Sekarang ini, Al-Azhar Peduli Umat sudah bisa dikatakan sukses: telah merenovasi ratusan musala, pesantren, madrasah, memiliki poliklinik gratis, mobil jenazah gratis, bahkan membangun rumah gemilang Indonesia yang menghimpun anak-anak yatim piatu bisa memiliki harapan “menjemput masa depan” yang gemilang di kelak kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, “jurus jitu” apa yang dikerahkan sampai ia bisa membangun Al- Azhar Peduli Umat, bahkan jadi besar seperti sekarang ini, dalam menghimpun fulus (zakat, infak, sedekah)? Setidaknya ada empat jurus. Pertama, membuat program yang menarik atau unik/kreatif sehingga mengundang orang tertarik menyumbang. Kedua, menyentuh hati donatur. Setelah membuat program yang menarik, selanjutnya kampanye zakat. Tujuan dari kampaye itu tidak lain adalah untuk menyentuh hati donatur bahwa zakat itu tidak mengurangi kekayaan, tapi justru akan bertambah. Karena zakat itu tidak menunjukkan kedermawanan seseorang karena memang wajib, harus dilengkapi dengan sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, memitrai perusahaan, CSR (corporate social responsibility). Saat CSR itu memunyai tanggung jawab sosial, LAZ bisa jadi mitra strategis. Keempat, membuat layanan yang excelent/baik. Dengan “pengalaman sukses” penulis menjadikan masjid basis dalam menghimpun fulus (zakat, infak dan sedekah), masjid tidak saja menjadi tempat ibadah, melainkan juga berperan atau berfungsi sebagai kegiatan sosial, bahkan pusat peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N Mursidi, alumnus pesantren An-Nur, Lasem, Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-290629960480391268?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/290629960480391268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=290629960480391268' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/290629960480391268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/290629960480391268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/09/jurus-jitu-menghimpun-zakat.html' title='jurus jitu menghimpun zakat'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TIoEMVwTOzI/AAAAAAAAB6w/R0x9bbygn94/s72-c/jurus+menghimpun+fulus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-6473375705460850318</id><published>2010-08-24T23:18:00.003+07:00</published><updated>2010-08-24T23:23:44.412+07:00</updated><title type='text'>kesaksian pembantaian Palestina</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/THPxfnbhBnI/AAAAAAAAB6g/acIUBpTd3_I/s1600/from+beirut+to+jerusalem.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 129px; height: 181px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/THPxfnbhBnI/AAAAAAAAB6g/acIUBpTd3_I/s200/from+beirut+to+jerusalem.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509012294666880626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=60749"&gt;Koran Jakarta&lt;/a&gt;, Selasa 24 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : From Beirut to Jerusalem: Kisah Pengabdian Seorang Dokter Perempuan di Kamp Pengungsian Palestina&lt;br /&gt;Penulis : dr. Ang Swee Chai&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : Agustus, 2010&lt;br /&gt;Tebal buku : 444 halaman&lt;br /&gt;Harga : 59.000,- (diskon 15%) = &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;50.150,-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PALESTINA tak henti-henti dirundung duka. Serangkaian pembantaian yang dilakukan tentara Israel terhadap warga Palestina tak cuma meninggalkan duka lara, melainkan juga mengundang keprihatinan. Karena tak sedikit wanita dan anak-anak menjadi korban --meninggal, terluka, dan mengalami trauma berkepanjangan. Kepedihan rakyat Palestina itulah, yang "mengundang" orang-orang yang memiliki empati dan hati nurani kemudian tergerak hati datang ke Palestina untuk menjadi relawan dan dr. Ang Swee Chai adalah salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, dr Ang Swee Chai tidak hanya datang sebagai seorang dokter yang memberikan sumbangsih pengabdian (merawat dan berkorban dengan segala cara), melainkan juga berani memberikan kesaksian tentang apa yang dia lihat atas kebengisan Israel. Padahal, latar belakang religius Ang sebenarnya memihak Israel tapi tuntutan profesi dokter bedah membuatnya tak bisa berpaling. Awalnya, ketika datang permintaan pengiriman dokter bedah ke Beirut, ia segera memutuskan berangkat. Ia keluar dari RS London, meninggalkan suami (Francis), lalu memutuskan mengabdikan hidup di kamp pengungsian Palestina. Anehnya, setelah di kamp itu ia justru sadar. Ia balik memihak Palestina dan kemudian memberi kesaksian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah kesaksian dr. Ang, dokter perempuan yang telah merawat para korban perang dan melihat dari dekat kekejaman Israel di negeri Lebanon. Bulan Agustus 1982 dr. Ang meninggalkan London berangkat bersama 100 tenaga medis dari berbagai negara yang disponsori PRCS (Palestina Red Crescent Society). Setiba di Beirut, ia "tersentak" menjumpai kehancuran: 20.000 keluarga kehilangan rumah, rumah sakit rusak dan ia terpaksa merawat korban di rumah sakit darurat (Lahut). Hari pertama tugas, dr. Ang harus merawat 50 pasien bahkan menjalani operasi tanpa penerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, ia bertugas di rumah sakit Gaza. Anehnya, justru di kamp pengungsian Palestina (di Sabra dan Sathila) itu, dr. Ang disadarkan dengan keadaan yang bertolak belakang dengan apa yang ia peroleh dari media Barat tentang orang Pelestina. Sebelum berangkat ke Beirut ia memihak Israel. Tapi keadaan yang ditemui di kamp pengungsian membuatnya harus memihak keadilan. "Melihat orang yang terluka di Lebanon membuatku pedih. Pertama, karena mereka telah disakiti Israel. Kedua, aku orang Kristen dan ketiga, karena aku seorang dokter" (hal. 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, ia memutuskan memihak Palestina. Ia berjuang demi rakyat Palestina yang terbuang (dari tanah air mereka) sejak tahun 1948. Karena itu, nurani dr Ang tak ingin pembantaian itu berlanjut. Dengan lantang ia (Paul Morris dan Ellen) lalu memberi "kesaksian" untuk membela Palestina di Komisi Kahen, di Tel Aviv sebelum dia pulang ke London November 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kesaksian itu tak membuat Palestina terbebas dari kekejaman, tapi jiwanya untuk memihak Palestina tidak surut. Setelah pulang ke London (1984), ia mendirikan organisasi amal medis MAP -Medical Aid for Palestina/bantuan Medis untuk Rakyat Palestina. Di bawah panji MAP, dr. Ang menyumbang obat-obatan. Pada 1985 kamp pengungsi Palestina (Bourj el-Brajneh) diserang dan dikepung (orang-orang Amal, kelompok Muslim Lebanon), ia berangkat ke Lebanon. Kepergian kali ini tak hanya bertugas sebagai dokter, tapi juga negosiator dan sopir yang mengangkut bantuan obat untuk rakyat Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam kali dr Ang ke Lebanon saat perang berkecamuk, berjuang untuk Palestina. Ia mendapat penghargaan Star of Palestina (1987) dari Yasser Arafat. The Gardian Inggris menjuluki Malaikat dengan Sayap Terbelenggu atas usaha pembebasan Pelestina itu. Sebagai pengungsi --yang lahir di Penang Malaysia- yang kini tinggal di Inggris, Ang merasakan nasib orang Palestina yang tidak punya negara. Karena itu upaya pembebasan dan kesaksian yang diberikan itu tak sekadar dukungan, juga harapan. Dari situ, dr. Ang memberi "titel" buku ini; From Beirut to Jerusalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini -seperti ditulis The Guardian- adalah kesaksian tentang pembantaian yang menukik. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, blogger buku dan owner toko buku online etalasebuku.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-6473375705460850318?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/6473375705460850318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=6473375705460850318' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6473375705460850318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6473375705460850318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/08/kesaksian-pembantaian-palestina.html' title='kesaksian pembantaian Palestina'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/THPxfnbhBnI/AAAAAAAAB6g/acIUBpTd3_I/s72-c/from+beirut+to+jerusalem.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-2270782055800256899</id><published>2010-07-25T10:31:00.007+07:00</published><updated>2010-09-24T22:41:32.831+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='secuil proses kreatif'/><title type='text'>the heike story dan spirit menulis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TEuwwUxWQeI/AAAAAAAAB2I/5cpLt-acVZE/s1600/the+heike+story+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 138px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TEuwwUxWQeI/AAAAAAAAB2I/5cpLt-acVZE/s200/the+heike+story+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497682114391720418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;The Heike Story: Kisah Epik Jepang Abad ke-12&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Penulis : Eiji Yoshikawa&lt;br /&gt;Penerbit : Zahir Books (lini Redline Publishing)&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Juni 2010&lt;br /&gt;Tebal buku: 750 halaman&lt;br /&gt;Harga  : 99.800 (diskon 20%) = &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;79.840&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sudah sebulan lebih, aku tak menulis resensi buku. Terakhir kali, aku menulis resensi buku 100 + Fakta Unik Piala Dunia (Serambi 2010). Aku mendapatkan buku itu pun, tergolong unik --karena tidak sengaja. Buku gratis hadiah dari penerbit Serambi itu, aku dapatkan saat aku bermain ke penerbit Serambi untuk janji bertemu dengan Mas Alwi (Direktur penerbit Kantera). Endah Sulwesi yang tahu aku ada di penerbit Serambi, tiba-tiba mengulurkan buku tersebut --bersamaan dengan buku Tafsir Kebahagiaan, karya Kang Jalal. Sementara dari Mas Alwi --sebelum pulang-- aku mendapat oleh-oleh buku Dead Until Death, The Dragon Scroll, dan Tokyo Underworld (semuanya diterbitkan penerbit Kantera). Rupanya, moment yang tepat ketika Piala Dunia berlangsung, menjadikan buku 100 + Fakta Unik Piala Dunia menemukan tempat (dimuat) di Koran Jakarta (17 Juni 2010) --dua hari setelah aku mengirimkan resensi tersebut ke redaksi Koran Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, memang ada beberapa buku baru yang aku baca. Tetapi, semuanya hampir bernasib tragis. Tidak ada satu pun yang berakhir jadi sebuah tulisan --lebih tepatnya tak jadi tulisan resensi buku-- meskipun aku telah berhasil membaca beberapa buku hingga tuntas. Hingga suatu malam, buku The Heike Story yang teronggok di kamarku seperti menyergap perhatianku. Buku hadiah dari Mas Haikal -Direktur penerbit Redline-- ini aku dapatkan saat aku bertandang ke kantor penerbit Redline --bersamaan dengan buku Tales of The Ronin- dan aku berjanji akan mengulasnya tidak lama lagi. Buku dengan cover kuning menyala dengan disertai sosok hitam penunggang kuda itu pun sebenarnya sudah teronggok tiga minggu di kamarku. Tapi, malam ketika aku mentok merenungkan proyek penulisan novelku yang tak kunjung menemukan titik terang, tiba-tiba karya Eiji Yoshikawa itu menjeratku dengan kuat. Aku pun mulai membaca halaman pertama dan terenggut dalam pusaran cerita yang digelindingkan Eiji Yoshikawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang "tidak sedikit buku" yang telah memberiku ide, inspirasi dan bahkan membangkitkan spiritku dalam menulis. Tetapi, buku karya Eiji Yoshikawa ini meninggalkan kenangan dan kesan tersendiri. Setidaknya, ada bebebera hal yang dapat aku petik, dan bahkan mampu membangkitkan spiritku dalam menulis --terlebih melanjutkan proyek novelku yang sempat terlunta-lunta (setelah tiga bulan yang lalu aku "memenuhi" permintaan sebuah penerbit untuk menulis sebuah buku dan kemudian penerbit kembali memintaku segera merampungkan novelku dalam waktu dekat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, novel The Heike Story ini tergolong novel gemuk dan tidak sembarang orang (pengarang) dapat dianugerahi kemampuan napas yang panjang bisa menulis novel gemuk (tebal). Karena itulah, dari sisi ketebalan halaman novel Eiji Yoshikawa ini, aku belajar menarik napas, tapi berusaha menelisik telikungan-telikungan yang dibangun Eiji Yoshikawa supaya tidak tercebur lumpur penceritaan yang sia-sia. Dan Eiji Yoshikawa berhasil bercerita dengan cukup panjang lebar, tetapi tetap memikat meski dengan ritme agak lamban dan ada beberapa bagian yang terkesan patah tetapi tidak terlihat dengan jelas. Pendek kata, Eiji Yoshikawa berhasil membangun cerita panjang dengan cukup menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dalam novel ini pengarang mampu menghadirkan setumpuk tokoh --bahkan tokoh-tokoh itu digali dari satu fase sejarah-- dengan mengagumkan. Padahal dalam menulis novel, konsistensi dalam membangun setiap tokoh harus terjaga dengan kuat dan akan menjadi "kecelakaan sebuah proses penulisan" kalau karakter tokoh dalam kisah itu terpeleset di lubang ketidaklogisan dan menyimpang dari sketsa bangunan karakter. Jujur, aku terkesima dengan Eiji Yoshikawa dalam hal ini karena telah membuka mataku lebar-lebar bagaimana membangun tokoh dalam cerita (novel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, imajinasi yang disuguhkan Eiji Yoshikawa dalam menggambarkan setting negeri Jepang sungguh memikat. Latar/tempat di mana cerita berlangsung disuguhkan di sela-sela alur cerita, menjadikan cerita The Heike Story tidak kering. Keempat, rasa penasaran sebagai jala yang ditebarkan Eiji Yoshikawa dalam menjerat pembaca, tak saja berhasil menjadikan pembaca tertegun, melainkan juga tersita untuk terus dijerat dengan jalan cerita yang diramu Eiji Yoshikawa hingga halaman akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, katika aku menuliskan catatan ini, aku belum tuntas merampungkan The Heike Story. Baru separoh, tapi aku tidak ingin segera merampungkan cerita. Aku ingin menikmati setiap detail cerita, mengenali setiap jengkal tempat dan latar yang disuguhkan dan bahkan setiap tokoh yang dimunculkan dalam novel The Heike Story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu sepenuhnya, bahwa novel ini bukanlah karya paling memikat dari Eiji Yoshikawa. Tapi, rasanya tidaklah adil kalau aku harus membandingakan The Heike Story dengan karya Eiji Yoshikawa yang lain -karena, setiap novel tak dapat disangkal memiliki latar belakang berbeda dan punya spirit unik yang tidak bisa dibandingkan. Tapi cerita ini --jujur harus aku akui-- telah mengajarkanku tentang banyak hal dan aku seperti telah menemukan peta baru dalam proses penulisan novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Heike Story, tidak bisa kusangkal, telah memberiku suntikan spirit untuk melanjutkan proyek penulisan novelku yang sempat terlunta dan terbengkalai. Aku ibarat menemukan obor, di tengah kekelaman malam yang sepi ketika aku meraba-raba ingin melangkah dalam melanjutkan sebuah perjalanan jauh. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, blogger buku, cerpenis dan owner toko buku online etalasebuku.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-2270782055800256899?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/2270782055800256899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=2270782055800256899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2270782055800256899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2270782055800256899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/07/heike-story-dan-spirit-menulis.html' title='the heike story dan spirit menulis'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TEuwwUxWQeI/AAAAAAAAB2I/5cpLt-acVZE/s72-c/the+heike+story+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-626521916312077143</id><published>2010-07-16T11:09:00.006+07:00</published><updated>2011-11-09T23:26:49.704+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>Zikir Al-Fatihah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TD_iksIsXSI/AAAAAAAAB2A/aScSPaAC7EY/s1600/Zikir-Al_Fatihah_.png"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494359190366084386" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TD_iksIsXSI/AAAAAAAAB2A/aScSPaAC7EY/s200/Zikir-Al_Fatihah_.png" style="cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 184px;" /&gt;&lt;/a&gt;Merengkuh Mukjizat Surat Al-Fatihah&lt;br /&gt;oleh: N. Mursidi *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Zikir Al-Fatihah&lt;br /&gt;Penulis          : Muhammad Alcaff&lt;br /&gt;Penerbit            : Zahra Pustaka, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan         : Pertama, Mei 2010&lt;br /&gt;Tebal buku    : 232 halaman&lt;br /&gt;Harga         : Rp 39,900.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Surat Al-Fatihah memang tergolong surat singkat dan pendek. Tapi di balik tujuh ayat surat al-Fatihah itu –berdasarkan sejumlah hadits—menyimpan banyak mukjizat. Tak salah, jika al-Fatihah menduduki tempat yang istimewa di antara surat lain dalam al-Qur`an --disebut sebagai ummul Qur`an (induk al-Qur`an) dan ummul kitab (induk al-Kitab).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kedudukan surat al-Fatihah itu, maka Rasul menganjurkan dan meminta sahabat untuk mengamalkan al-Fatihah tak saja sebagai bacaan shalat tetapi juga dalam zikir sehari-hari. Karena surat al-Fatihah menyimpan khasiat yang dapat dimanfaatkan, di antranya adalah sebagai obat segala penyakit seperti sabda Rasul, “Surat al-Fatihah adalah obat dari segala penyakit.” Tentu, sebagai obat segala penyakit itu tak hanya obat penyakit jasmani, melainkan juga bisa menjadi obat penyakit rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bisa menjadi obat dari segala penyakit, menurut penulis buku ini, khasiat lain sebagai kunci terkabulnya segala hajat. Juga, bisa menghapus jeratan kemiskinan, memperluas rezeki, menjauhkan musibah, atau mendapatkan ketenangan. Pendek kata, al-Fatihah itu raja segala obat dan kunci menuju gerbang kesuksesan, dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat buku ini, penulis tidak saja mengupas mukjizat surat al-Fatihah tetapi juga menjelaskan secara singkat tafsir al-Fatihah yang dilengkapi pandangan beberapa ulama terkait keagungan dan keistimewaan surat al-Fatihah. Bahkan, buku ini pun disusun dan disarikan oleh penulis (yang juga dikenal Pengasuh Meditasi Spiritual Tapak Sunan) dari sejumlah referensi dan kitab-kitab muktabar yang -tidak diragukan- bisa diamalkan dan dipraktekkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan sederhana sehingga apa yang ada dalam buku ini bisa dengan mudah diamalkan dan dibuktikan bahwa surat al-Fatihah bisa dijadikan sebagai zikir sehari-hari –sebagaimana diajarkan dan diamalkan Rasulullah --yang dapat mendatangkan manfaat dan khasiat dalam kehidupan ini. (nur mursidi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-626521916312077143?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/626521916312077143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=626521916312077143' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/626521916312077143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/626521916312077143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/07/zikir-al-fatihah-diskon-20.html' title='Zikir Al-Fatihah'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TD_iksIsXSI/AAAAAAAAB2A/aScSPaAC7EY/s72-c/Zikir-Al_Fatihah_.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-4905137155450768833</id><published>2010-06-27T18:56:00.004+07:00</published><updated>2010-06-27T19:02:19.614+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku motivasi'/><title type='text'>melejitkan kreativitas untuk sukses</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TCc8sebSc1I/AAAAAAAAByw/GwDHZnd8J3A/s1600/the+power.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 174px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TCc8sebSc1I/AAAAAAAAByw/GwDHZnd8J3A/s200/the+power.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5487421405753668434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010062701581561"&gt;Lampung Post&lt;/a&gt;, Minggu 27 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul         : The Power of Creativity: Mengubah yang Terbatas Menjadi Tak Terbatas&lt;br /&gt;Pengarang     : Peng Kheng Sun&lt;br /&gt;Penerbit         : Andi, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan         : Pertama, Maret 2010&lt;br /&gt;Tebal         :  xviii + 150 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    TUHAN menganugerahi hadiah istimewa berupa kreativitas yang tak terbatas kepada manusia. Maka, sangat disayangkan jika kreativitas itu kemudian disia-siakan dan tak dimanfaatkan dengan maksimal. Pasalnya, keistimewaan itu tak diberikan Tuhan kepada makhluk lain, termasuk malaikat sekali pun. Tak disangkal, jika manusia merupakan satu-satunya makhluk mulia di muka bumi ini. Dengan potensi itu, manusia kemudian dapat merancang masa depan, meraih apa yang dia harapkan, merajut impian bahkan untuk mengubah nasib atas jalan hidup yang ingin dipilihnya di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi potensi otak (yang merupakan pemicu kreativitas) itu ternyata tak sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian besar umat manusia. Dari hasil penelitian sejumlah pakar, kebanyakan orang hanya menggunakan sebagian kecil kemampuan otak, atau kurang dari 10 persen.&lt;br /&gt;SSelebihnya, 90 persen dari potensi otak tidak digunakan. Tak pelak, jika hanya sebagian kecil orang yang bisa sukses. Sebagian besar yang lain; hidup tak menguntungkan. Padahal, jika potensi otak itu dikelola dengan baik dapat melahirkan letupan kreativitas yang luar biasa dan bisa mengantarkan orang meraih sukses hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengatan untuk memanfaatkan potensi otak guna meningkatkan kreativitas itulah yang digelindingkan Peng Kheng Sun dalam buku The Power of Creativity: Mengubah yang Terbatas Menjadi Tak Terbatas ini. Peng Kheng Sun tidak menepis, bahwa kreativitas itu dapat dipelajari, dilatih dan dikembangkan. Apalagi, setiap orang --menurut Kheng Sun-- sejak lahir sudah dianugerahi secuil kreativitas. Tapi, sayangnya seiring perjalanan waktu kreativitas itu tertimbun bahkan tenggelam karena berbagai faktor. Maka lewat buku ini Kheng Sun coba membakar api kesadaaran pembaca bahwa untuk meraih sukses, tidak ada jalan lain kecuali harus menjadi manusia yang kreatif. Tidak dapat disangkal, jika kreativitas itulah yang akan mengantarkan seseorang bisa berhasil dan sukses menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukti, orang-orang yang sukses dan yang dicatat sejarah adalah orang-orang yang kreatif. Sebut misalnya Vaust (yang bisa membuat parasut berkat sketsa Leonardo da Vinci), Johann Gutenberg (penemu mesin cetak), Marconi (penemu radio transistor), Wright bersaudara (penemu pesawat terbang), Isaac Newton (penemu teori gravitasi setelah kejatuhan apel di kepala). Maka, bagi Peng Kheng Sun (yang pernah menjadi dosen di STIMIK AKI Pati ini) meneguhkan, "semakin kreatif seseorang, maka perluang untuk sukses terbentang". Pasalnya, setiap sendi kehidupan, butuh sentuhan kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, untuk bisa memanfaatkan kreativitas itu secara maksimal dibutuhkan kerja keras, latihan dan proses belajar yang tiada henti. Hal itu tak lain karena kreativitas perlu ditingkatkan dengan cara memelihara cara ingin tahu (untuk terus belajar), mencoba hal baru (bereskperimen), bersikap positif (terbuka dengan pendapat orang lain juga mengembangkan lebih jauh) dan berani menghadapi resiko. Dengan cara seperti itu, maka kreativitas akan terasah dan ide-ide segar bisa muncul hingga mengantarkan seseorang meraih sukses hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika kreativitas itu sudah ditemukan, tetap masih perlu dipelihara dengan baik. Karena zaman terus bergerak dan tanpa mengikuti perkembangan zaman, seseorang bisa akan tertinggal. Maka, cara memelihara kreativitas itu tetap terpelihara dan menemukan kemajuan tidak lain adalah dengan terus membaca (untuk menyerap informasi dan pengetahuan baru untuk santapan otak, kemudian diolah menjadi sebuah gagasan dan ide), mencatat (karena dengan mencatat itu, informasi dan pengetahuan akan tetap terjaga), meningkatkan keahlian (dalam segala bidang) dan memiliki motovasi (untuk terus maju).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terus meningkatkan dan tetap memelihara krativitas, tidak disangsikan lagi, jika seseorang ditimpa masalah: seperti terkena PHK, terjangkit penyakit, akan bisa mengatasi dengan baik. Dengan kata lain, orang yang memiliki kreativitas akan bisa mengatasi berbagai masalah yang datang dan ia tidak diombang-ambingkan oleh ujian hidup. Karena Tuhan menganugerahi kreativitas, tidak lain menjadi bekal bagi orang yang mau maju dan hidup sukses. Dengan memanfaatkan anugerah Tuhan berupa kreativitas itu, maka masa depan bisa terbentang di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangsikan, bahwa buku ini ibarat sebuah obor yang mampu memelijitkan pembaca. Karena, penulis mematikkan kesadaran bahwa untuk sukses hidup, kreativitas itu adalah pintu yang bisa mengetuk segudang masalah yang sedang melanda seseorang. Pada sisi lain, buku ini pun memiliki "pretensi" bukan sekadar menyadarkan pembaca untuk memahami konsep kreativitas (karena didengung oleh penulis bahwa kreativitas itu bisa dipelajari, dilatih dan dikembangkan) melainkan juga membuka "masa depan" pembaca karena diajak untuk memanfaatkan potensi otak secara maksimal untuk meraih kesuksesan hidup. Ironisnya, selama ini potensi otak itu sering disia-siakan dan tak dimanfaatkan dengan baik oleh banyak orang. Padahal,  potensi otak itu adalah hadiah istimewa dari Tuhan yang perlu dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan lain buku ini dilengkapi dengan pengalaman penulis dalam menapaki hidup. Jadi, tidak semata-mata sekumpulan teori mentah yang diseret dari langit begitu saja dan tanpa batu pijakan. Justru dengan secuil pengalaman hidup penulis yang dituturkan dalam buku, menjadikan buku ini siap diterapkan. Dan buku ini menjadi sebuah referensi dan bukti nyata dari kekuatan kreativitas. Karena, buku ini mengajarkan bagaimana kreativitas dimanfaatkan secara maksimal untuk mengantarkan siapa pun bisa menjadi sukses dalam segala bidang.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, blogger buku dan pekerja seni, tinggal di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-4905137155450768833?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/4905137155450768833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=4905137155450768833' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4905137155450768833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/4905137155450768833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/06/melejitkan-kreativitas-untuk-sukses.html' title='melejitkan kreativitas untuk sukses'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TCc8sebSc1I/AAAAAAAAByw/GwDHZnd8J3A/s72-c/the+power.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-2261446698986163785</id><published>2010-06-17T08:31:00.006+07:00</published><updated>2010-06-17T09:10:44.788+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku bola'/><title type='text'>kisah-kisah unik piala dunia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TBl8KPtvaBI/AAAAAAAABwA/9xTO_CPvd_Y/s1600/100+%2B+fakta+unik.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 127px; height: 175px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TBl8KPtvaBI/AAAAAAAABwA/9xTO_CPvd_Y/s200/100+%2B+fakta+unik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5483550536759207954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=54977"&gt;KORAN JAKARTA&lt;/a&gt;, Kamis 17 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : 100 + Fakta Unik Piala Dunia&lt;br /&gt;Penulis  : Asep Ginanjar &amp;amp; Agung Harsya&lt;br /&gt;Penerbit  : Serambi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan  : Pertama, 2010&lt;br /&gt;Tebal buku : 235 halaman&lt;br /&gt;Harga  : 39.000,- (diskon 20%) = &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;31.200,-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; SEJAK diselenggarakan pertama kali tahun 1930, perhelatan akbar Piala  Dunia (World Cup) selalu mengundang hingar bingar. Olah raga paling  populer sejagat itu -tak dumungkiri- menyedot perhatian penduduk bumi di seluruh  dunia. Maklum, piala dunia tidak lagi sekedar permainan. Lebih dari  itu, event piala dunia sudah melampaui batas lapangan hijau jadi simbol  dari denyut nadi perjuangan 'nasionalisme' sebuah bangsa, ritual dan  religion global. Bahkan seiring kemajuan zaman, piala dunia sudah  dikemas menjadi bisnis global.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, terlepas dari semua itu, sepak bola tetap sebuah pertandingan di  atas lapangan hijau. Maka, ketika Piala Dunia digelar menampilkan  perwakilan 32 negara, di lapangan hijau itu akan tersaji sebuah  pertunjukan serupa drama --permainan adu skill, strategi, dan kekuatan  untuk dapat menjadi pemenang. Karena ujung dari pertandingan adalah  kalah dan menang. Wajar jika dari lapangan hijau Piala Dunia itu: lahir  pahlawan bola, bintang dan selebritis lapangan.&lt;br /&gt;Juga, setumpuk kisah seputar suka duka yang tidak hanya terjadi di  lapangan, tetapi melampaui batas stadion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala dunia memang memiliki ranah unik yang mirip panggung. Dari  sejarah piala dunia pun menyisakan peristiwa menarik, heroik, lucu dan  unik yang tidak saja terjadi di lapangan, melainkan juga di balik  stadion. Giuseppe Meazza pernah meninggalkan kisah unik dalam  pertandingan semifinal Piala Dunia tahun 1938. Dalam pertandingan  melawan Brazil, Italia mendapat berkah pinalti setelah Domingos da Guia  melakukan tackle terhadap Silvio Piola. Meazza jadi eksekutor. Tapi  sebelum ia melakukan eksekusi, tali celananya putus. Penonton tertawa  geli. Ia tak peduli, menarik bagian atas celana dengan mencekeram begitu  saja. Drama itu membuat kiper Walter de Soza Goulart menahan geli.  Tetapi, Meazza yang tak peduli dan menata konsentrasi. Eksekusi sukses,  Meazza digulung senang sampai mengangkat kedua tangannya dan lupa tali  celananya putus sehingga hal itu menjadikan auratnya terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala dunia penuh kisah unik. Soal sepatu pun bisa menjadi tragedi.  Team India, pernah berangkat ke laga Piala Dunia 1950 dengan tanpa  sepatu, karena tak tahu kalau main bola di Piala Dunia harus mengenakan  sepatu. Kisah tentang sepatu juga dialami Leonidas (di Piala Dunia  1938). Saat melawan Polandia, ia sempat membuat kontroversi --masuk  lapangan tanpa sepatu. Praktis, ia diusir wasit Eklind dan diminta untuk  memakai sepatu. Tapi, saat ia mencetak gol keempat yang memastikan  kemenangan 6-5, ia tak memakai sepatu -setelah melepaskan sepatu dan  mencelupkan kakinya ke lumpur untuk mengelabuhi wasit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah soal sepatu yang tak kalah unik dialami Just Fontaine waktu harus  bertanding di Swedia 1958. Saat diputuskan untuk jadi pengganti Bliard,  ia dicekam galau. Sepatu yang ia miliki rusak dan tak bisa dipakai.  Untung, Stephane Bruey tanggap meminjamkan sepatunya. Tak disangka,  berkat sepatu pinjaman itu, Fontaine mencetak 13 gol dalam enam laga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala dunia memang permainan sepak bola, tapi tidak lepas dari unsur  politik, ideologi, ras, ekonomi, dan agama. Hal itu menjadikan piala  dunia penuh perseteruan yang tak jarang mengancam nyawa pemain. Kiper  Inggris, Gordon Banks tak bisa bermain menghadang Jerman Barat di  seperempat final (1970) justru dikabarkan karena keracunan. Luis Monti  sempat diancam kematian. Saat mewakili Argentina di Piala Dunia 1930, ia  diancam akan dibunuh jika Argentina menang. Saat mewakili Italia  (1934), ia diancam pemimpin fasis Italia --jika Italia kalah lawan  Cekoslovakia. Berbeda dengan Monti yang bisa lolos, Andreaz Escobar  mengalami kematian tragis --ditembus 12 peluru karena ulah seorang yang  kecewa: kalah di meja judi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karya Asep Ginanjar dan Agung Hasya ini, merekam kisah-kisah unik  yang pernah terjadi di piala Dunia. Setumpuk peristiwa yang mengiringi  Piala Dunia itu, diolah penulis dengan menampilkan 100 + fakta unik  -ditambah profil para pemain, pelatih, pahlawan sepak bola dalam Piala  Dunia. Juga data dan fakta historis Piala Dunia 1930 hingga 2006. Tapi,  setumpuk peristiwa dan cerita yang mengiringi sejarah Piala Dunia itu  diulas secara singkat dan pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, kisah-kisah unik dalam buku ini bisa jadi semacam  kaledioskop ringkas Piala Dunia 1930 hingga 2006. Apalagi, buku ini  dilengkapi panduan singkat Piala Dunia 2010 dan jadwal pertandingan dari  penyisihan grup hingga final. Hal itu menjadikan buku ini tidak saja  akan menambah wawasan seputar Piala Dunia, melainkan juga pas menemani  Anda dalam menoton Piala Dunia yang sekarang ini diselenggarakan di  Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, blogger buku dan penggemar bola, tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-2261446698986163785?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/2261446698986163785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=2261446698986163785' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2261446698986163785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2261446698986163785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/06/kisah-kisah-unik-piala.html' title='kisah-kisah unik piala dunia'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TBl8KPtvaBI/AAAAAAAABwA/9xTO_CPvd_Y/s72-c/100+%2B+fakta+unik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-3649480293788991401</id><published>2010-05-31T00:09:00.003+07:00</published><updated>2011-11-09T23:33:09.431+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku biografi'/><title type='text'>yoshinobu dan sejarah modernisasi jepang</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TAPuIsdpnlI/AAAAAAAABv4/4kB7AatrbQM/s1600/cover+the+last+shogun_2.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477483404954541650" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TAPuIsdpnlI/AAAAAAAABv4/4kB7AatrbQM/s200/cover+the+last+shogun_2.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 184px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi ini dimuat di &lt;span style="color: red;"&gt;Koran Jakarta&lt;/span&gt;, Senin 31 Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: The Last Shogun: Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu&lt;br /&gt;Penulis : Ryotaro Shiba&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Kantera&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, 2010&lt;br /&gt;Tebal : 352 hlm&lt;br /&gt;Harga : Rp 49.900&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;TOKUGAWA Yoshinobu --gelar yang disematkan kepada Hitotsubashi Keiki yang dicatat sejarah sebagai shogun kelima belas-- mungkin dapat dikata tak beruntung sewaktu diangkat menjadi shogun. Yoshinobu yang memiliki banyak kelebihan dan dianggap sebagai reinkarnasi Ieyasu, sedari awal direncanakan akan menjadi ahli waris Iesada (Shogun ketiga belas). Tetapi, sejarah berkata lain. Iesada meninggal tiba-tiba. Sementara itu, Hitotsubashi Keiki belum diangkat sebagai pewaris tahta. Padahal, Iesada tidak memiliki keturunan. Iemochi, akhirnya yang diangkat menjadi Shogun keempat belas --waktu itu berusia dua belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Iemochi berkuasa delapan tahun (1858-1866). Ia lemah, tak memiliki anak dan meninggal di usia muda menjadikan dewan keshogunan mendesak Hitotsubashi menjadi shogun (kelima belas). Tapi, ia diangkat menjadi Shogun pada waktu Jepang dalam keadaan bergolak. Bangsa asing --Amerika, Inggris dan Rusia-- tak henti-henti menuntut Jepang membuka diri dan tak menutup hubungan (perdagangan) dengan luar. Sementara pemerintahan otoriter yang dibangun Ieyasu telah hancur berkeping-keping. Rakyat dicekam suasana politik di tapuk dualisme kepemimpinan yang rapuh. Sedang peminpin klan --terlebih klan Satsumo dan Choshu-- berambisi menghancurkan keshogunan, melebur pemerintahan pada satu tapuk kepemimpinan di tangan kaisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana politik yang tidak menguntungkan itu, membuat Yoshinobu dihadapkan dilema. Yoshinobu yang dilahirkan di Edo, tahun 1838, dari keturunan Mito --putra Tokugawa Nariaki- mewarisi darah anti bangsa asing. Padahal, dia sadar zaman sudah memasuki era modernisasi dan Jepang sudah seharusnya membuka diri. Ia tak menolak merestorasi kekaisaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, ia berharap bisa meredam pemberontakan dengan cara perang --melawan Choshu. Tetapi, enam bulan kemudian cara kekerasan itu ia hentikan. Tapi pergolakan seperti tidak bisa dihentikan. Hingga akhirnya keadaan yang tak menguntungkan itu memucak, pada 1868, pasukan Satsuma dan Choshu berhasil menguasai kota Kyoto --dengan alasan ingin menyematkan kepemimpinan kaisar. Tidak cuma itu, pasukan Satsuma dan Choshu kemudian bergerak ke Edo menuntut Yoshinobu turun tahta. Pasukan Shogun tidak berkutik. Dalam dua pertempuan, pasukan shogun kalah dan terdesak mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pilihan lain, Yoshinobu meninggalkan Edo dan melarikan diri ke Shizuoka. Pilihan itu diambil Yoshinobu, tak lain adalah untuk menghindari pertumpahan darah. Ia melepaskan jabatan sebagai shogun kelima belas. Sejak itu, dia dicatat sebagai shogun terakhir, karena setelah itu Jepang melakukan restorasi kekaisaran dan tidak lagi ada kepemimpinan di tangan shogun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karya Ryotaro Shiba, The Last Shogun ini, tidak semata-mata mengisahkan kehidupan Shogun terakhir Yoshinobu dari kehidupan masa kecil hingga jadi shogun yang dipaksa turun pada usia tiga puluh tahun, saat ia berkuasa belum genap dua tahun. Tetapi lebih dari itu, buku ini merupakan penjelajahan historikal Jepang dalam memasuki era modern. Di mata penulis, Yoshinobu tidak semata shogun terakhir, melainkan juga seorang lelaki yang tangguh, pintar, mampu mengambil keputusan dengan cepat walau kerap dalam keadaan tak menguntungkan. Berbeda dengan shogun pendahulunya, ia sadar bahwa Jepang dapat bertahan menjadi bangsa merdeka justru ketika Jepang menerima modernisasi dan perubahan. Kebesaran dan kemegahan Jepang sekarang ini, tak bisa dilepaskan dari pemikiran Yoshinobu -yang rela melepaskan jabatan Shogun dan menerima perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Yoshinobu bisa dikatakan gagal memenuhi janji membawa tongkat keshogunan Tokugawa. Tetapi, di mata penulis buku ini, dia berhasil melakukan sebuah pekerjaan yang mustahil. Pasalnya, selama dua abad pemerintahan kaku di bawah leluhur Tokugawa membawa Jepang mengalami pasang surut dan berujung lambat (hal. 341). Yoshinobu telah melakukan revolusi kebudayaan modern di Jepang. Pantas kalau Ryotaro Shiba terpikat untuk menulis kisah kehidupan Yoshinobu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, buku karya penulis peraih anugerah Naoki (1959) dan anugerah Order of Culture (1993) ini pun sungguh memikat. Shiba berhasil mengungkap sosok Yoshinobu yang meninggal pada usia 76, pada 21 November 1913 dengan berimbang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, blogger buku dan pemerhati dunia pustaka, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-3649480293788991401?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/3649480293788991401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=3649480293788991401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3649480293788991401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3649480293788991401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/06/sejarah-modernisasi-jepang.html' title='yoshinobu dan sejarah modernisasi jepang'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/TAPuIsdpnlI/AAAAAAAABv4/4kB7AatrbQM/s72-c/cover+the+last+shogun_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-7539939681228325169</id><published>2010-05-16T21:25:00.002+07:00</published><updated>2010-05-22T22:43:32.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku ekonomi'/><title type='text'>jurus sukses kepemimpinan jack welch</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S_fpsPdbTRI/AAAAAAAABvo/tRwb-jKIY0A/s1600/the+jack.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 182px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S_fpsPdbTRI/AAAAAAAABvo/tRwb-jKIY0A/s200/the+jack.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474100818365598994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(204, 0, 0);" href="http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&amp;amp;act=view&amp;amp;id=cff4d3a598f3d4d13593cd7dda80fcc9&amp;amp;jenis=c20ad4d76fe97759aa27a0c99bff6710&amp;amp;PHPSESSID=ae660a0d74553afe638b87b1bdae7658"&gt;Surabaya Post&lt;/a&gt;, Minggu 16 Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : The Jack Welch Secret: 10 Rahasia Sukses Ceo Paling  Fenomenal di Zaman Kita&lt;br /&gt;Penulis   : Stuart Crainer&lt;br /&gt;Penerbit  : Daras Books, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan  : Pertama, 2009&lt;br /&gt;Tebal buku : 208 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JACK Welch memang pantas disebut CEO yang luar biasa. Di aula agung  pelaku bisnis kelas dunia, dan pemimpin corporat, dia menduduki posisi  kokoh --dikenal sebagai CEO paling terkenal dan kontroversial dalam  sejarah. Tak tanggung-tanggung, Jack Welch melakukan revolusi yang  dikenal tanpa kompromi dalam membangun GE (General Electric). Pola dan  strategi yang diterapkan dengan tak mengenal ampun untuk merampingkan  GE, menjadikan GE bangkit, dan kembali besar. Tahun 1999 --di bawah  kepemimpinan Jack Welch-- GE berhasil menjadi perusahaan nomor dua dalam  mendulang laba terbesar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan model kepemimpinan dan "sentuhan" pikiran Jack Welch -yang  diakui memiliki gaya kepemimpinan yang belum pernah ditemukan sebelumnya  dalam dunia bisnis-- GE mampu menjadi perusahaan hebat dalam dunia  corporat. Tak salah, kalau Jack Welch dikenal sebagai sosok hebat dan  menakjubkan dalam sejarah GE sampai sekarang. Berkat kehadiran Jack  Welch (di GE), perusahaan yang dulu merupakan titisan Edison Electric  Light Company --didirikan Thomas Alva Edison tahun 1878- itu mampu  bertahan hidup bahkan mengukir sejarah sebagai perusahaan yang bisa  "selamat dari tekanan waktu" dan mampu bertahan hidup dengan luar biasa.  Padahal, tak sedikit perusahaan besar yang tak mampu bertahan hingga  satu abad tetapi GE dicatat oleh sejarah merupakan salah satu perusahaan  awal yang masih terdaftar hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat "keberhasilan" Jack Welch membesarkan GE itulah, GE kerapkali  diidentikkan dengan Jack Welch. Sebaliknya, Jack Welch pun diidentikkan  sebagai GE. Padahal Jack Welch merupakan CEO kedelapan dalam sejarah GE.  Tetapi, kesuksesan Jack Welch dalam memimpin GE seperti tak  terbantahkan. Jack merintis karier dari bawah, tidak pernah pindah ke  perusahaan lain dan cukup loyal bekerja di GE hingga pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meninggalkan kampus dan meraih gelar Phd dalam bidang teknik  kimia dari University of Illinois, Jack bekerja di perusahaan GE --pada  divisi plastik milik GE di Pittsfield, Massachusetts --tahun 1960). Tak  ada alasan yang membuat Jack Welch kerja di GE kecuali dekat rumah  keluarganya dan gaji yang ditawarkan; 10.500 dollar. Setahun kerja, ia  sebenarnya sudah merasa tak betah --apalagi Jack muda memiliki karakter  keras kepala. Ia hendak hengkang ke International Mineral &amp;amp;  Chemicals di Skokie, Illinois dengan alasan tak suka birokrasi korporat  GE. Tapi, pimpinan Jack berhasil membujuknya untuk tak hengkang dan  berjanji akan meringankan beban birokrasi dari tanggung jawab Jack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jack bertahan di GE. Tahap demi setahap ia berhasil menapaki karier  cepat dan spektakuler. Ia bisa mengukir prestasi dengan melesat bagai  meteor, karena tahun 1968, Jack Welch menjadi General Manager termuda di  GE (ketika ia masih berusia 33 tahun). Tahun 1980 Jack Welch mencetak  prestasi menjadi CEO dan chairman GE sebagai CEO kedelapan dalam sejarah  GE dan bahkan dicatat sebagai pemimpin termuda yang pernah menduduki  kursi kepemimpinan GE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menjabat sebagai CEO itu, ia dicatat sebagai pemimpin cukup  penting dalam sejarah GE. Setelah ia diangkat jadi CEO (dari 31 Maret  1981-November 1999)&lt;br /&gt;saham GE naik dari 4 dollar AS menjadi 133 dollar AS. Juga, GE berhasil  mendulang laba cukup bombastis --dengan pendapatan bersih mencapai 1,7  miliar dollar -sehingga dikata sebagai perusahaan yang mengalami laju  pertumbuhan yang sehat&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan GE, tak bisa dimungkiri, berkat gebrakan kepemimpinan dan  manajemen Jack menahkodai kapal besar GE. Tiga gebrakan yang dilakukan  Jack tak dijalankan dengan evolusi tapi menggebrak tatanan. GE seperti  diguncang gempa akibat tingkah Jack Welch dalam melakukan perombakan  dengan jurus neutron --di awal tahun 1980-an- lantas Jack melanjutkan  lagi dengan jurus work-out tetapi setelah itu "membangun kembali" dengan  jurus six sigma. Tiga tahap pembangunan --penghancuran, penciptaan dan  kualitas-- itu ternyata berhasil membentuk ulang GE. GE tetap menjadi  perusahaan raksasa dan mengukir prestasi yang gemilang, tetapi di bawah  kepemimpinan Jack menjadi lebih langsing dan gesit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya kepemimpinan, manajemen dan trik bisnis Jack Welch yang bisa  mengukuhkan GE jadi besar dan ketat itu tidak lepas dari kepemimpinan  dan otak Jack yang gemilang. Jack --di mata penulis buku ini-- bisa  membesarkan GE setidaknya didukung oleh pendekatan dan manajemen  mumpuni. Jack tak menjadikan modal atau aset sebagai raja, melainkan  lebih menekankan pada keahlian, kemampuan dan pengetahuan manusia -yakni  SDM. Lebih dari itu, Jack selalu ingin menjadi yang pertama atau kedua  dalam merebut pasar. Tak heran jika Jack tak menyesal menjual salah satu  bisnis yang tak menguntungkan, tetapi kemudian mencari peruntungan  dalam bisnis lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Jack Welch tak mengenal basa-basi, keras dan revolusioner. Ia  melakukan perubahan drastis -memangkas birokrasi, menjadikan GE lebih  ramping. Warisan manajemen Jack Welch di GE itu tidak dimungkiri jika  sekarang ini; menjadikan GE semakin kokoh, terdepan dan unggul. Di sisi  lain Jack tak hanya dikenang sebagai CEO yang menggebrak tatanan tetapi  mampu mengubah GE kian bersinar cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang mengungkap 10 rahasia di balik keberhasilan Jack dalam  memimpin GE ini, mengajarkan jurus bahkan kiat jitu dalam menjalankan  bisnis. Tak salah, jika membaca buku ini ibarat belajar bisnis pada  Jack. Pasalnya, trik bisnis, manajemen dan gaya kepemimpinan Jack yang  dipaparkan penulis dalam buku ini, tak hanya bisa dipraktekkan dalam  bisnis corporat semata, melainkan juga dalam segala jenis kegiatan. Dan  tak dapat disangkal, jika buku ini bisa melambungkan kiprah Anda karena  dalam buku ini penulis telah membuka rahasia kesuksesan Jack Welch yang  patut Anda ikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-7539939681228325169?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/7539939681228325169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=7539939681228325169' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7539939681228325169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7539939681228325169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/05/jurus-sukses-kepemimpinan-jack-welch.html' title='jurus sukses kepemimpinan jack welch'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S_fpsPdbTRI/AAAAAAAABvo/tRwb-jKIY0A/s72-c/the+jack.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-1686501946169311155</id><published>2010-05-09T08:54:00.006+07:00</published><updated>2011-05-07T17:06:09.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku sastra'/><title type='text'>sebuah novel yang menghanyutkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S0HXig1i6II/AAAAAAAABq4/mos9i_G1-nk/s1600-h/100_5918-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 139px; height: 185px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S0HXig1i6II/AAAAAAAABq4/mos9i_G1-nk/s200/100_5918-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422852414260832386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi bini dimuat di &lt;a href="http://www.jurnalnasional.com/show/arsip?berita=129934&amp;amp;pagecomment=1&amp;amp;date=2010-5-9"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Jurnal Nasional&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Minggu 9 Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Perahu Kertas&lt;br /&gt;Penulis        : Dee (Dewi Lestari)&lt;br /&gt;Penerbit     : Bentang Pustaka, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, Agustus 2009&lt;br /&gt;Tebal buku    : 444 hal.&lt;br /&gt;Harga         : 69.000,- (diskon 15%) = &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;58.650,-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    BISA dihitung dengan jari, selebritis di negeri ini yang memiliki keahlian dalam menulis cerita. Jika ada, salah satu dari selebritis itu adalah Dee -nama pena dari Dewi Lestari. Bahkan dalam dunia kepenulisan, nama Dee tak dapat dipandang sebelah mata. Maklum, sedari awal menelurkan karya Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh kemudian disusul Supernova: Akar, Supernova: Petir, Filosofi Kopi, dan Rectoverso, kepiawaian Dee di jagat sastra tidak diragukan lagi. Karya-karya yang lahir dari ide dan imajinasi Dee dapat menjelma serupa magnet yang cukup ampuh menghipnotis perhatian pembaca.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak mustahil, kalau kekuatan magnet karya-karya Dee itu mampu mengantarkan Dee meraih prestasi dan penghargaan yang kian menjulangkan namanya. Dalam polling nasional "Penulis Perempuan Paling Dikenal Indonesia" tahun 2009 ini, Dee menduduki peringkat pertama. Selain itu, Dee pun dinobatkan sebagai Top 88 Most Influential Women in Indonesia (Globe Asia) dan juga meraih The Most Outstanding Woman 2009 (Kementerian Pembedayaan Perempuan &amp;amp; Kantor Berita Antara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, hampir semua karya yang dihasilkan pengarang kelahiran Bandung 20 Januari 1976 ini dapat dikata cukup serius. Dari awal berkiprah di jagat sastra, Dee menjejalkan ramuan pengetahuan sains, dan percikan filsafat dalam hampir semua kisah yang ia rangkai. Tapi seperti ingin melakukan terobosan baru, gaya khas Dee itu tak tertancap kuat dalam karya terbaru Dee yang berjudul Perahu Kertas ini. Dalam karya ini, Dee menulis dengan gaya pop --mengangkat tema cinta, dunia perkuliahan, anak-anak kampus dengan gaya bertutur anak muda yang konyol dan kocak tapi tetap membawa pembaca berpikir dan merenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dee tetaplah Dee. Meski Dee menulis dengan gaya pop, tetap saja novel ini melindan dengan kisah yang unik. Sebuah kisah cinta yang tak biasa antara Kugy dan Keenan. Kugy yang mungil, tidak modis, berantakan dan dikenal sebagai pengkhayal -karena terobsesi ingin menjadi penulis dongeng- bertemu dengan Keenan yang cerdas, artistik dan memiliki jiwa seni --melukis. Keduanya bagai bumi dan langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di dasar lubuk hati, keduanya yang kebetulan kuliah sekampus itu seperti tak bisa berpaling. Saling mencinta. Keduanya pun bisa mengisi sudut ide untuk berkarya. Kugy bisa menulis dongeng sepenuh curahan jiwa dengan spirit cinta pada Keenan. Sebaliknya, Keenan bisa melukis sepenuh jiwa berkat kisah-kisah Kugy. Keduanya berjuang keras untuk merengkuh impian masing-masing. Tetapi, jalan terjal menghalangi mereka mengejar mimpi itu. Setelah lulus kuliah, Kugy menjalani hidup dengan pilihan praktis --jadi copy writer. Keenan yang tidak sempat lulus sebab memilih melukis ke Bali setelah ia bertengkar dengan sang ayah, akhirnya kembali mengikuti harapan sang ayah: mengurusi perusahaan trading milik ayahnya di saat sang ayah jatuh sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya berpisah cukup lama. Kugy menjalin asmara dengan Remi, yang tak lain bos-nya di kantor. Keenan pun telah menambatkan hatinya pada gadis Bali, Luhde. Tetapi, bisikan cinta tak mampu dikekang dalam sebongkah hati. Bisikan cinta di hati Kugy dan Keenan pun tak bisa disembunyikan. Kugy tak perlu menulis keluh kesah dan perasaan cintanya kepada Neptunus di selembar kertas untuk kemudian dibentuk menjadi perahu kertas yang dihayutkan ke laut, selokan atau sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah cinta Kugy dan Keenan yang rumit itu dikisahkan Dee dengan berkelok dan cukup melankolis. Ada banyak kejutan, jejak penasaran, kekonyolan, kekecewaan bahkan rasa senang dalam hubungan kisah antar-tokoh dalam novel ini. Gabungan dari semua itu, disajikan Dee dengan kepiawaian yang gemilang dan dapat mengaduk emosi pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Dee seakan ingin meneguhkan pembaca untuk teguh menjadi diri sendiri sebagaimana yang diperankan Kugy dan Keenan -yang pada akhirnya jujur untuk membuka hati dan mengatakan cinta di lubuk hati masing-masing. Tidak salah, jika hembusan pesan yang disampaikan Dee tentang arti kejujuran, berani mengambil sikap dalam menjalani hidup dan jadi diri sendiri merupakan kekuatan yang menghipnotis para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah ini dulu pernah ditulis Dee pada tahun 1996 tapi teronggok jadi cerita yang tidak dipublikasikan. Setelah mati suri selama 11 tahun ini, Dee kemudian menulis ulang dalam waktu 55 hari. Dalam menulis kisah ini, tidak disangkal, Dee menggabungkan format cerbung dan komik drama serial. Kisah Perahu Kertas ini pun tampil dengan gaya Dee yang populer tapi tetap menghayutkan serupa perahu kertas yang hanyut dibawa arus air. Sebab kisah ini mampu menghanyutkan emosi pembaca. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Tangerang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-1686501946169311155?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/1686501946169311155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=1686501946169311155' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1686501946169311155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1686501946169311155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/01/sebuah-novel-yang-menghanyutkan.html' title='sebuah novel yang menghanyutkan'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S0HXig1i6II/AAAAAAAABq4/mos9i_G1-nk/s72-c/100_5918-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5569143846968991101</id><published>2010-05-02T09:39:00.003+07:00</published><updated>2010-05-02T09:45:12.053+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku pendidikan'/><title type='text'>jadi guru yang menginspirasi siswa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S9zmwIc7CXI/AAAAAAAABvg/d_BVth7dzAI/s1600/cover+menjadi+guru.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 159px; height: 157px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S9zmwIc7CXI/AAAAAAAABvg/d_BVth7dzAI/s200/cover+menjadi+guru.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5466497762297842034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi buku ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;JAWA POS&lt;/span&gt;, Minggu 2 Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : Menjadi Guru Inspiratif: Memberdayakan dan Mengubah Jalan  Hidup Siswa&lt;br /&gt;Penulis  : Ngainun Na`im&lt;br /&gt;Penerbit  : Pustaka Pelajar, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan  : Pertama, 2009&lt;br /&gt;Tebal buku : xvi + 289 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUNIA pendidikan kita kembali dirundung duka. Hasil dari pengumuman  ujian nasional kemarin (Senin,26/4) benar-benar mengejutkan banyak pihak  --terutama orangtua siswa, guru, kepala sekolah, dan siswa  bersangkutan. Pasalnya, jumlah siswa yang tidak lulus meningkat drastis.  Ujian nasional tingkat SMA (dan sederajat) 2010 terjun bebas mencapai  89,88% --kalau dibandingkan angka kelulusan ujian nasional 2009: 94,85%.  Tak mustahil, jika dari 1.522.162 peserta, ada 154.079 peserta yang  harus mengikuti UN ulang pada 10-14 Mei. Siapa yang patut disalahkan  dalam kasus ini?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentu ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi keterpurukan angka  kelulusan tersebut. Salah satunya adalah kopetensi guru. Memang, setiap  orang bisa menjadi guru. Tetapi, tak bisa disangkal jika tidak semua  orang mampu menjadi guru yang baik, mengobarkan semangat, memberi  inspirasi, memancarkan energi, mencerahkan, sekaligus menanamkan  pengaruh yang luar biasa sehingga bisa membekas sepanjang hidup di benak  anak didik. Padahal guru yang mampu menginspirasi dan mencerahkan  itulah yang saat ini dibutuhkan di negeri ini, karena guru semacam itu  akan mengantarkan kesuksesan siswa di kelak kemudian hari dan membawa  kemajuan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, guru yang inspiratif dan mencerahkan seperti itu tidak  banyak. Sebagian besar guru tidak jarang hanya guru kurikulum, tidak  meninggalkan kesan mendalam di benak siswa karena tidak banyak hal  penting yang diwariskan. Apa yang diberikan tak lebih sekedar  pengetahuan dan wawasan yang menjadi tugasnya --"sosok guru yang hanya  patuh pada kurikulum" sebagaimana isi buku yang ditugaskan sesuai dengan  acuan kurikulum. Guru yang sekedar mengajar tetapi tidak dapat berperan  sekaligus sebagai pendidik. Padahal, untuk mencapai kemajuan dan  kesuksesan siswa, jelas dibutuhkan guru yang tidak sekedar mengajar  sesuai kurikulum melainkan dapat menginspirasi dan mempengaruhi  sekaligus mengubah jalan hidup anak didik jadi lebih baik. Lebih ironis,  tidak jarang ada sosok guru justru tampil dengan wajah sangar,  menakutkan, dan tak menjadikan murid tumbuh semangat untuk menuntut  ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena mengenaskan tentang angka kelulusan UN tahun ini dan minimnya  guru inspiratif (dan tak sedikit guru yang menakutkan di sisi yang lain)  menjadikan buku karya Ngainun Na`im yang berjudul Menjadi Guru  Inspiratif: Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa ini patut  direnungkan. Penulis (yang juga staff pendidik di STAIN Tulungagung) tak  hanya menggugat potensi guru yang tak kompeten, melainkan juga memantik  kesadaran guru untuk menjadi "sosok yang inspiratif dan mampu mengubah"  kehidupan siswa. Karena keberadaan guru inspiratif seperti itu --di  mata penulis-- yang kini ini menempuh pendidikan S3 Islamic Studies UIN  Sunan Kalijaga Yogyakarta ini bisa mengantarkan murid meraih kehidupan  yang bermakna dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan penulis dapat dipahami, karena guru inspiratif adalah guru yang  mampu menularkan pengetahuan dan sekaligus menggerakan perubahan dan  mempengaruhi siswa. Jadi guru inspiratif bukanlah sekedar guru  kurikulum, tapi mampu mengembangkan potensi dan kemampuan siswa,  berpikir kreatif dan mampu melahirkan siswa yang tangguh dan siap  menghadapi aneka tantangan dan perubahan (hal. 73). Guru yang tidak  sekadar mengajar sebagai kewajiban seperti ditentukan kurikulum tetapi  senantiasa berusaha mengembangkan potensi, wawasan, cara pandang dan  orientasi siswa. Kesuksesan mengajar seorang guru tak diukur secara  kuantitatif dari angka-angka yang diperoleh dalam evaluasi, tetapi  bagaimana guru itu memberi sumbangsih yang berarti bagi siswa dalam  menjalani kehidupan selanjutnya setelah menyelesaikan masa studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menjadi guru yang inspiratif? Ngainun Naim sadar sepenuhnya,  menjadi guru inspiratif tidak gampang. Hal itu dikarenakan, guru  inspiratif tidak bersifat permanen. Spirit inspiratif -yang dimiliki  oleh guru inspiratif-- kadang bisa memudar. Tetapi, kalau jiwa guru itu  sudah diberkati anugerah inspiratif, yang diperlukan adalah bagaimana ia  selalu menemukan pemantik/penyulut spirit inspirasi. Untuk menyulut  kembali spirit inspirasi itu, tentu setiap guru punya cara sendiri. Tapi  bagi penulis buku ini setidaknya bisa dibangun lewat 3 elemen; komitmen  (berkomitmen selalu menginspirasi siswa), cinta (memiliki kecintaan  dalam mendidik) dan memiliki visi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan peran guru inspiratif yang memiliki komitmen, cinta dan visi  itu, murid akan mampu terbangkit potensinya dan minatnya untuk menguasai  pelajaran. Di sisi lain, memiliki sikap serta "semangat tinggi untuk  maju", kreatif, tercerahkan dan bahkan termotivasi untuk bisa sukses.  Karena guru inspiratif semacam itu memiliki semangat terus belajar,  kompeten, ikhlas dalam mengajar, mendasarkan niat mengajar pada  "landasan spiritualitas", total, kreatif, dan selalu berusaha mendorong  siswa untuk maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi kreatif itulah yang menjadikan guru inspiratif tidak pernah  kehilangan cara dan media dalam mendidik. Ia bisa membangun iklim  pembelajaran dengan seribu cara. Tak salah, jika murid akan selalu  merindukan guru semacam itu hadir di kelas hingga kadang tak terasa  pelajaran yang sudah berlangsung dua jam seperti tidak terasa. Usai  pelajaran, murid mendapat pencerahan, termotivasi dan pelajaran tertanam  dalam benak para siswa. Lebih dari itu, siswa menjadi "inspiratif"  sehingga mereka mengalami revolusi diri; berubah lebih baik, mengenal  bakat terpendam yang dimiliki dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku hasil dari pergulatan, diskusi dan perenungan penulis ini tidak  dapat disangkal memberikan sumbangsih yang berarti bagi khazanah  pendidikan di negeri ini. Apalagi tuntutan jadi guru inspiratif tidak  bisa dinafikan. Maklum, guru adalah penggerak roda peradaban bangsa dan  peran guru inspiratif akan membawa kemajuan bangsa kita ke depan. Tak  mustahil, jika buku ini patut menjadi sebagai bacaan bagi guru dan orang  yang ingin menjadi guru. Sejumlah kisah-kisah inspiratif dalam buku ini  pun, tidak ditepis bisa menjadi spirit, motivasi dan pembanding bagi  guru dalam menghadapi kasus-kasus yang dihadapi untuk menjadikan anak  didik tercerahkan dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak lagi, buku ini pun bisa mengantar setiap orang yang punya  minat untuk menjadi pendidik akan jadi "guru yang menginspirasi". Angka  kelulusan siswa pun, akan bisa didongkrak karena peran guru inspiratif  mampu menanamkan siswa terus belajar. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, alumnus pesantren An-Nur Lasem, Jateng. Kini jadi  wartawan di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5569143846968991101?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5569143846968991101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5569143846968991101' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5569143846968991101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5569143846968991101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/05/jadi-guru-yang-menginspirasi-siswa.html' title='jadi guru yang menginspirasi siswa'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S9zmwIc7CXI/AAAAAAAABvg/d_BVth7dzAI/s72-c/cover+menjadi+guru.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-2145944961310340788</id><published>2010-04-28T14:18:00.004+07:00</published><updated>2010-05-22T21:29:52.040+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku motivasi'/><title type='text'>meledakkan produktivitas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S9fhyTksKlI/AAAAAAAABvY/FDIU7pnlRAM/s1600/cover_Beyond+Productivity.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 169px; height: 230px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S9fhyTksKlI/AAAAAAAABvY/FDIU7pnlRAM/s200/cover_Beyond+Productivity.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465084927201258066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;koran Jakarta&lt;/span&gt;, Rabu 28 April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul        : Beyond Productivity&lt;br /&gt;Penulis        : Sugeng Santoso&lt;br /&gt;Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : I, Maret 2010&lt;br /&gt;Tebal buku    : 174 hlm.&lt;br /&gt;Harga        : Rp 50.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    TAK banyak orang yang bisa meraih sukses. Sebagian besar orang dapat dikata terhimpit kegagalan, dan merasa nyaman dengan kondisi hidup monoton, tak beranjak dari tempat yang membosankan kemudian jadi orang biasa. Kondisi itu, tentu meninggalkan pertanyaan menggelitik: mengapa sebagian kecil orang meraih sukses, bahagia dan bisa menjalankan bisnis dengan prestasi gemilang hingga mendapatkan penghasilan besar dibandingkan kebanyakan orang?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Pernyataan itu memicu Sugeng Santoso, penulis buku Beyond Productovity tersadar mencari jawaban. Setelah membaca buku dan belajar dari guru terbaik di dunia ia menemukan jawaban: pencapaian/produktivitas gemilang yang diraih orang sukses karena mereka memiliki kebiasaan, cara berpikir, dan cara bertindak yang berbeda dengan kebanyakan orang. Jadi, jika ingin meraih sukses maka tidak ada cara lain, kecuali mengikuti jalan hidup berbeda seperti yang ditempuh orang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah pesan yang disampaikan Sugeng dalam buku ini. Baginya, jika orang tergerak mengubah cara berpikir, kebiasaan, cara bertindak lama, maka "secara otomatis" akan meraih sukses. Karena kesuksesan, kebahagiaan dan produktivitas itu tidak kebetulan. Jika ingin meningkatkan produktivitas (juga meraih sukses dan hidup bahagia), maka "harus" mempelajari dan mempraktekkan tentang ilmu produktivitas. Semua variable tersebut terkait dengan skill dan semua skill (atau keahlian) itu dapat dipelajari (all skills are learnable).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi, hampir sebagian besar orang tidak bisa mengambil manfaat dari aktivitas belajar dan menerapkan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Tak jarang orang dihinggapi hambatan psikologis, seperti psycho sclerosis (fokus dan mencintai diri sendiri, tidak mau mendengarkan ide baru dari orang lain), merasa sudah tahu, dilanda sikap penyaring negatif (curiga orang lain tanpa alasan), tidak memiliki rencana lebih lanjut, tak sabar, tak antusias, tak terlibat 100 persen (setengah hati), tidak mau berbagi dengan mengajarkan pada orang lain. Padahal, hambatan-hambatan itu harus disingkirkan. Karena untuk dapat meningkatkan produktivitas, semua itu harus dirubah. Dengan kata lain, untuk mengubah hasil (bisa sukses), seseorang harus mengubah penyebabnya (hambatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memang meledakkan produktivitas itu tidak mudah. Dibutuhkan kesadaran yang bisa mengantarkan orang paham akan kebiasaan lama, meninggalkannya dan menjalani kebiasaan baru. Dalam proses itu, ada pemisahan kebiasaan lama yang tak mendukung kesuksesan, dikondisikan ulang sampai jadi kebiasaan. Karena -menurutnya-- perbedaan orang produktif dan orang tak produktif terkadang hanya terletak pada komitmen dan kemampuan memaksakan diri untuk terus melakukan tindakan yang membawa ke arah impian yang ingin diraih (hal. 51).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pasalnya, produktivitas itu bukan sesuatu yang dapat dilakukan sewaktu-waktu saat dibutuhkan melainkan kebiasaan. Jadi, produktivitas itu soal life management, bukan time management. Karena itulah, orang produktif memahami 2 aturan: memilih pekerjaan penting yang memberi kontribusi pendapatan besar dan  jadi lebih baik. Juga, memiliki kejelasan, mengenali kemampuan (diri), mengetahui faktor penghambat di dalam diri, kreatif, fokus, berani, dan memilih pekerjaan penting, memiliki pembimbing dan memiliki hati yang mau melayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang produktif akan bisa menentukan prioritas pekerjaan mana yang harus dipilih untuk mendapatkan pendapatan besar. Karena setiap orang tidak memiliki banyak waktu mengerjakan semua hal. Jadi, harus menentukan prioritas (dari pekerjaan) berdasarkan kategori. Ukuran yang disarankan Sugeng adalah prinsip Pareto 80/20: mendapat penghasilan 80 % dari kerja 20 %. Dengan begitu, kerja yang dikerahkan tak membuang waktu tapi berpendapatan tinggi. Pekerjaan tak penting didelegasikan pada orang lain. Alhasil, pilihan itu mampu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepet, lebih baik dan bahkan lebih berkualitas. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *) N. Mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta, kini tinggal di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-2145944961310340788?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/2145944961310340788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=2145944961310340788' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2145944961310340788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2145944961310340788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/04/meledakkan-produktivitas.html' title='meledakkan produktivitas'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S9fhyTksKlI/AAAAAAAABvY/FDIU7pnlRAM/s72-c/cover_Beyond+Productivity.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5345509345478060817</id><published>2010-04-14T12:49:00.001+07:00</published><updated>2010-06-19T02:45:44.475+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>sejarah kehidupan para sahabat nabi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S7bXWIxji6I/AAAAAAAABvQ/04daIp6U2RE/s1600/100_6054.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 157px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S7bXWIxji6I/AAAAAAAABvQ/04daIp6U2RE/s200/100_6054.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455784773918362530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hidayah&lt;/span&gt; edisi 105/Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul    : Sekolah Cinta Rasulullah&lt;br /&gt;Penulis     : Nizar Abazhah&lt;br /&gt;Penerbit     : Zaman, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan     : I, 2010&lt;br /&gt;Tebal     : 463 halaman&lt;br /&gt;Harga: 67.500,- (diskon 20%) =  &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;54.000,-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh beruntung, orang-orang muslim yang hidup di zaman Nabi. Mereka itu tak saja diberi kesempatan Allah untuk mendampingi, meneladani, menimba ilmu (dari Nabi), menjadi pembela perjuangan Nabi tapi tergolong generasi pertama peradaban Islam yang dilimpahi kecintaan yang terpancar dari jiwa Rasulullah. Dari para sahabat itulah, lahir pejuang hebat, pemimpin berani, teladan umat yang gemilang dan penerus tangguh perjuangan nabi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak salah, jika para sahabat itu mendapat tempat istimewa di hati nabi, “Jangan mencela para sahabatku. Demi Allah Yang Menggenggam jiwaku! Sekali pun seseorang mendermakan emas sebesar Bukit Uhud, nilainya tidak akan sama dengan satu mud –atau bahkan setengahnya—kebaikan yang didermakan para sahabatku.” (HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan para sahabat Nabi itu memang tidak perlu diragukan. Maklum, mereka memiliki komitmen mempertahankan iman dan rela mengorbankan diri mereka untuk menjaga keselamatan Nabi. Segulung penderitaan, caci makin, pengucilan bahkan segala bentuk intimidasi yang dilancarkan orang-orang kafir ternyata tidak menjadikan mereka lemah. Justru mereka semakin cinta kepada Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut di antara mereka: Abu bakar, Ali ibn Abi Thalib, Utsman ibn Affan, Sa`ad ibn Abu Waqqash, Zubair ibn Awam, Thalhah ibn Zubair, Abdurrahman ibn Auf. Sekali pun penderitaan harus mereka panggul dengan luka menganga yang terus datang tiada henti, tak sekejap pun mereka berpaling dari cahaya Islam. Keputusan di hati sahabat-sahabat itu untuk memeluk Islam dan membela nabi, tak tergoyahkan. Bahkan, para sahabat itu rela mengorbankan nyawa mereka demi membela Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang aslinya berjudul Fi Shuhbati al-Rasul saw –karya Nizar Abazhah-- ini sungguh apik dan mengagumkan dalam menghimpun rekaman jejak para sahabat Nabi. Penulis berhasil mengisahkan kehidupan para sahabat Nabi dengan narasi yang bernas, mengalir, dan mengaduk emosi. Wajar jika buku ini mampu menyentuh hati dan bahkan menggoreskan kesan di benak pembaca; kagum akan generasi pertama di zaman Nabi. (n. mursidi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5345509345478060817?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5345509345478060817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5345509345478060817' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5345509345478060817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5345509345478060817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/04/sejarah-kehidupan-para-sahabat-nabi.html' title='sejarah kehidupan para sahabat nabi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S7bXWIxji6I/AAAAAAAABvQ/04daIp6U2RE/s72-c/100_6054.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-9118794382034573039</id><published>2010-03-14T22:03:00.002+07:00</published><updated>2010-03-19T01:09:02.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku politik'/><title type='text'>Amerika berada di Ujung Kehancuran?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S060Gac2ytI/AAAAAAAABrA/04bP66sq5FE/s1600-h/100_5944.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 189px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S060Gac2ytI/AAAAAAAABrA/04bP66sq5FE/s200/100_5944.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426472623300594386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Jurnal Nasional&lt;/span&gt;, Minggu 14 Mar 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Zionisme dan Keruntuhan Amerika&lt;br /&gt;Penulis        : James Petras&lt;br /&gt;Penerbit    : Zahra, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : I, November 2009&lt;br /&gt;Tebal buku    : 288 halaman&lt;br /&gt;Harga: 55.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    DALAM peta geo-politik, Amerika dapat disebut sebagai negara besar bahkan tidak terkalahkan oleh kekuatan negara lain. Apalagi setelah Uni Soviet (dan kekuatan komunisme) runtuh. Praktis Amerika menjadi satu-satunya negara adidaya bahkan jadi polisi (penjaga keamanan) dunia. Tak mustahil, kalau tak ada satu pun negara yang berani menentang dan mengibarkan bendera perang menentang Amerika.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, di balik kemegahan Amerika di peta dunia, sebenarnya negara "Paman Sam" itu mengalami kerapuhan dari dalam karena sedang berada di ambang kehancuran. Sayang, fakta tersebut tak banyak yang tahu. Padahal di mata James Petras, penulis buku Zionisme dan Keruntuhan Amerika ini, pelan tapi pasti kehancuran Amerika itu sudah di depan mata. Kehancuran itu, tak lain karena kebijakan yang dibuat Gedung Putih dan cabang-cabang legislatif telah diwarnai kekuatan lobi Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lobi dan dana yang diberikan lobi Yahudi dalam kampanye pemilihan presiden, gubernur, senator di Amerika, praktis membuat kekuatan Israel yang tergabung dalam ZPC --Zionist Power Configuration atau Galangan Kekuatan Zionis-- memiliki taring menekan Kongres dan pembuat kebijakan  senior untuk mengeluarkan kebijakan yang bisa menghancurkan musuh-musuh Israel melalui sanksi ekonomi, bahkan perang. Padahal, di sisi lain, hal itu merugikan Amerika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres pun jadi semacam institusi yang dikuasai zionis. Di balik lobi dan pemberian dana yang dikucurkan ZPC dan lobi Israel, Amerika tidak ubahnya boneka Israel. Pasalnya, Israel telah mengendalikan peta politik, ekonomi dan militer negara Amerika. Ironisnya, kekuatan lobi Israel itu menjadikan Amerika lengah. Di balik invasi Amerika terhadap Irak, tidak disangsikan, jika Israel menjadi motor perang di balik itu. Lebih-lebih, dengan terpilihnya David Petraeus sebagai pemimpin perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski invasi ke Irak tak menuai keberhasilan tetapi Amerika tetap menutup mata. Bahkan sekarang Amerika ingin melancarakan perang melawan Iran -perpanjangan perang melawan Irak, Afghanistan, Somalia dan Libanon. Modus perang imperial membangun kekuatan negara, tak dapat disangkal sudah tidak zamannya lagi. Terbukti, perang yang dilancarakan Amerika atas tuntutan Israel tak saja telah melemahkan demokrasi Amerika tetapi juga merupakan pemborosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perang imperial itu, Amerika sebenarnya ingin meraih dan membuka kesempatan pasar atau menumpuk pundi-pundi keuangan sebagaimana perang di zaman dulu. Tetapi, keadaan telah berubah dan Amerika tetap memakai modus lama. Tak mustahil, jika "kesempatan emas" dalam merebut pasar dunia itu, kemudian diambil alih oleh jaringan negara investor dan perdagangan baru seperti China, Jepang, Eropa dan India. Maklum, kini imperialis pasar (ekonomi) tidak tergantung payung militerisme, tapi lebih pada posisi superior di pasar dan pembangunan yang hebat dalam kekuatan produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah, jika perang yang dilancarkan oleh Amerika demi menuruti kehendak Israel --untuk menyerang Irak, Afghanistan, Somalia dan Libanon yang akan dilanjutkan invasi ke Iran telah menjerumuskan Amerika gagal membangun kerajaan ekonomi. Militerisme yang dijadikan oleh Amerika dalam membangun kekuatan global telah menghancurkan Amerika. Fakta itu membuat Amerika terpuruk dalam posisi persaingan global. Amerika menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk membangun markas militer dan perang. Akibatnya, Amerika merosot. Pada 2008, Amerika mengalami resesi besar.  Jika serangan terhadap Iran dilaksanakan, Amerika akan dilanda krisis lebih besar. Amerika berada di ambang kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sejumlah fakta dan data, Petras mengungkap akar di balik kehancuran fondasi politik, ekonomi dan militer Amerika. Tidak dapat disangkal, jika fakta dan data itu membuka mata kita bahwa Amerika ternyata tidak lebih sebagai boneka dan telah dijajah oleh Israel. James Petras mengungkap bahwa lobi Israel dan Yahudi, tidak lain sebagai biang dari kehancuran itu. Trik dan cara kerja dari lobi Yahudi, rupanya tidak mampu membuat Amerika yang selama ini dikenal sebagai negara adidaya dan negara besar di peta dunia, punya cara ampuh untuk mengelak dari tekanan dan penjajahan Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah proyeksi Petras akan kehancuran Amerika. Jika Amerika tak bisa lepas dari tekanan Israel, pasti akan semakin terpuruk. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) N. Mursidi, pengamat dunia pustaka, tinggal di Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-9118794382034573039?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/9118794382034573039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=9118794382034573039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/9118794382034573039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/9118794382034573039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/01/fakta-di-balik-kehancuran-amerika.html' title='Amerika berada di Ujung Kehancuran?'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S060Gac2ytI/AAAAAAAABrA/04bP66sq5FE/s72-c/100_5944.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-7154514462759405539</id><published>2010-02-20T13:36:00.001+07:00</published><updated>2010-04-10T23:51:08.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>meraih ketenangan berfondasikan ma`rifatullah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S1lfGoYVN2I/AAAAAAAABrQ/sgRnh9N0zH8/s1600-h/23503.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 149px; height: 187px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S1lfGoYVN2I/AAAAAAAABrQ/sgRnh9N0zH8/s200/23503.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429475393295169378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hidayah&lt;/span&gt; edisi 103/Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Bayang-bayang Allah: Mengenal &amp;amp; Melihat Allah dengan Mata Hati&lt;br /&gt;Penulis        : Zen Muhammad al-Hadi&lt;br /&gt;Penerbit        : Zahra, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, September 2009&lt;br /&gt;Tebal buku    : 152 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Suatu hari Rasulullah ditanya seorang sahabat. “Ya Rasulullah kami telah banyak berdoa. Tapi kenapa doa kami tak dikabulkan?” Rasulullah pun menjawab “Sebab kalian berdoa kepada Tuhan yang tidak kalian kenal.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hadits nabi itu menegaskan bahwa mengenal Allah (ma`rifatullah) adalah kunci utama dari sebuah doa. Bahkan ibadah (baik itu shalat, haji maupun puasa) yang tidak disertai cinta dan ma`rifat kepada Allah, akan sia-sia. Secara syar`i memang bisa dikata sah, tapi ibadah itu akan jadi sebuah ritual yang semata-mata menggugurkan kewajiban, tak memiliki ruh. Tak meninggalkan bekas dan menimbulkan keberkahan. Hal itu tidak lain, karena ma`rifatullah adalah pengetahuan yang paling penting bagi seorang hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, problem mendasar itu banyak dihadapi umat di zaman sekarang ini. Tak salah, jika Zen Muhammad al-Hadi prihatin melihat kondisi ini -di mana tak sedikit umat yang tergantung pada materi dan kekuasaan. Sementara, Allah yang sejatinya satu-satunya Dzat yang menjamin keselamatan di dunia dan di akherat justru “dikalahkan”. Bahkan, kita –jika mau jujur—mungkin mengenal Allah hanya dalan bentuk tulisan dan ucapan yang tak mampu mengantarkan kepada pengetahuan untuk mengenal Allah yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, ma`rifatullah itu bukti keimanan seorang hamba. Lewat ma`rifatullah itu, seorang bisa memiliki cinta dan kerinduan pada Allah. Ibadah dijalani bukan karena pahala, melainkan cinta dan rindu kepada Allah. Hasil dari ma`rifatullah itu, hati akan tertanam keyakinan (iman) yang memperngaruhi instrumen hidup seorang. Maka orang bisa meraih ketanangan hidup karena ia tak lagi tergantung pada selain Allah, melainkan hanya pada Allah. Persoalan yang dihadapi pun akan diterima dengan lapang, karena ia yakin itu pilihan Allah terbaik dan akan mendekatkan dirinya kepada Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, buku ini adalah buku yang bisa membangkitkan kesadaran pembaca untuk mengenal Allah lebih dekat. Tak rugi jika pembaca menjadikan buku ini sebagai referensi untuk mempertebal keimanan. (n mursidi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-7154514462759405539?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/7154514462759405539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=7154514462759405539' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7154514462759405539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7154514462759405539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/01/meraih-ketenangan-berfondasikan.html' title='meraih ketenangan berfondasikan ma`rifatullah'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S1lfGoYVN2I/AAAAAAAABrQ/sgRnh9N0zH8/s72-c/23503.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-1954321124054159457</id><published>2010-02-15T20:41:00.005+07:00</published><updated>2010-02-15T20:49:11.282+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='secuil proses kreatif'/><title type='text'>dari penjual koran menjadi penulis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3lPITVH1jI/AAAAAAAABuY/zQdL_KLJ240/s1600-h/nulis.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 128px; height: 168px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3lPITVH1jI/AAAAAAAABuY/zQdL_KLJ240/s200/nulis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438465029072999986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Batu permata tidak bisa menjadi berkilap tanpa gesekan; demikian juga  dengan manusia; tidak akan bisa menjadi baik tanpa cobaan (William  Shakespeare [1564-1616], Sastrawan)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        Tanpa dihimpit oleh cobaan, aku mungkin tak akan pernah  menjadi penulis. Sebab cobaan yang datang tanpa pernah aku undang itu,  seperti menjerumuskanku ke jalanan yang penuh debu. Aku pun terpaksa  menjadi penjual koran di jalanan Yogyakarta ketika ayah jatuh sakit dan  tak mampu mengirimiku uang kuliah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Tetapi, dari lempeng jalanan Yogyakarta, aku justru mengenal  kehidupan. Tak salah, jika aku didewasakan oleh kehidupan keras jalanan.  Lalu dari halaman koran, aku belajar menulis. Meski tak ada guru  menulis di sampingku yang membimbing, aku merasa lembaran-lembaran koran  itu adalah guru yang bijak di tengah kehidupan jalanan sebab  lembaran-lembaran koran itu telah membakar spirit dan membuka mataku  untuk bisa menulis di kelak kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelecut Kesadaran dari Tukang Becak&lt;br /&gt;   Semua itu, berawal dari kisah yang unik. Pagi itu, tepat di hari  ketujuh aku jualan koran. Matahari bersinar dengan cerah. Itu adalah  pagi yang akan membawa berkah dan anugerah. Beda ketika hari diselimuti  mendung gelap dan turun hujan. Aku pasti hanya bisa mendekam di emperan  toko, menatap langit dengan raut sedih. Karena kemunculan mentari di  pagi itu bisa membuatku leluasa jualan koran di sepanjang jalan,  menumpang naik dari satu bus ke bus yang lain; menawarkan berita hangat  yang jadi headline koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pagi itu, aku baru saja mengambil koran di agen pasar Gading,  lantas beranjak ke tepi jalan untuk menunggu tumpangan bus dari terminal  Umbulharjo. Untung, ketika keluar dari pasar, lampu trafick light  menyala merah. Bus Mustika, bus jurusan Yogyakarta-Semarang sedang  terdampar di perempatan Gading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Aku segera berlari dan naik. Setelah di atas bus, aku pun  membagi-bagikan koran kepada para penumpang. Itu jurus jualan koran yang  biasa aku terapkan untuk menarik penumpang agar membeli. Dengan cara  itu, para penumpang bisa melihat dan membaca koran sebentar --sekitar 2  sampai 3 menit, lantas aku menarik koran yang aku bagikan itu dari  depan. Jika mereka membaca sebentar, tapi diliputi penasaran untuk  membaca lebih lanjut, maka tidak ada jalan lain kecuali harus membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Aksiku di atas bus pagi itu, ternyata membawa keberuntungan.  Tiga penumpang membeli koran Kedaulatan Rakyat yang aku jajakan. Hatiku  lega. Aku bisa memasukkan uang Rp 600.00 di sakuku. Waktu itu, tahun  1995, harga koran Kedaulatan Rakyat Rp 200.00. Dari setiap 1 eksemplar  yang aku jual, aku mendapat keuntungan separoh (Rp 100.00). Jadi, pagi  itu aku sudah mendapatkan keuntungan Rp 300.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Keuntungan di awal pagi itu, membuatku ingin jeda dan istirahat  sejenak. Aku ingin menghirup teh manis [ritual pagi yang kujalani  sebelum kenal Iqbal Dawami, seorang penulis yang gemar minum teh] dan  makan pisang goreng di warung Bu Tum, di Pojok Benteng Kulon untuk  sekadar mengganjal perut agar aku tidak terkulai lemas dan jatuh dari  bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pagi masih menggigilkan tubuhku, meski sinar mentari sudah  bersinar dari ufuk Timur. Bus masih melaju, dan aku menggelantung di  pintu bus. Tepat di Pojok Benteng Kulon, bus berhenti menaikkan  penumpang. Aku turun, lalu melangkahkan kaki ke warung Bu Tum. Perutku  melilit, tenggorokanku serasa kering. Tetapi, di saat aku melangkah  lunglai ke warung, tiba-tiba sebuah suara membuyarkan harapanku untuk  bisa segera menenggak teh hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   “Koran…, mas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Aku menoleh. Tak kulihat ada orang yang bisa aku yakini akan  membeli koranku, kecuali aku lihat tiga tukang becak yang menyandarkan  tubuhnya di atas becak masing-masing. Aku sepenuhnya tak percaya, suara  mengagetkan yang kudengar itu bersumber dari salah satu tukang becak  tersebut. Maka, aku merasa ada hantu di pagi hari itu yang sengaja iseng  menggodaku. Aku pun celingukan, ingin memastikan sumber suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tapi, dari jauh aku melihat salah satu dari tukang becak itu  melambaikan tangan ke arahku. Aku menoleh ke belakang, mengira tukang  becak itu melambaikan tangan manggil orang lain tepat di belakangku.  Lagi-lagi, tak kulihat ada orang yang dipanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   “Koran, mas…!” kembali suara misterius itu membuatku terhenyak  kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Aku menoleh, dan kulihat satu dari tiga tukang becak itu  melambaikan tangan ke arahku. Aku menunjuk ke dadaku, kemudian  mengangkat tumpukan koran yang masih menggunung di tangan kananku untuk  sekadar memastikan bahwa tukang becak itulah yang memanggilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dia ternyata menggangguk. Aku segera berlari ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   “Kamu ini jualan koran, tapi kayak orang tidak butuh duit.  Dipanggil berkali-kali, tidak menoleh. Kau boleh melihat tampangku ini  memang tukang becak, tetapi jujur aku tetap tidak mau ketinggalan berita  yang hangat di koran…” omel salah satu tukang becak itu, ketika aku  berada di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Aku tersenyum geli, tetapi aku tak peduli dengan omelan tukang  becak itu karena pada akhirnya ia membeli koran Kedaulatan Rakyat dari  tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tapi, dalam lubuk hati yang paling dalam, jujur bahwa sindiran  tukang becak itu membuat hatiku serasa tertusuk jarum yang cukup tajam.  Lebih tepatnya, aku merasa malu pada diriku sendiri.  Selama tujuh hari  jualan koran, aku tidak pernah membaca koran yang kujajakan sendiri. Aku  tak peduli dengan apa yang kujual karena yang aku inginkan adalah  koranku laku. Tak peduli, apa isi berita di koran kecuali aku melihat  sekilas berita halaman utama. Karena itu, aku berlari sekencang angin  mengejar bus; naik turun dari satu bus ke bus yang lain, numpang jualan  dari terminal Umbulharjo sampai jalan Magelang kemudian kembali ke  terminal, dan seterusnya berkali-kali. Tidak pernah aku meluangkan waktu  untuk membaca dengan detail isi berita koran yang aku jual atau aku  jajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setelah tukang becak itu membeli koran daganganku, aku  melangkahkan kakiku ke warung Bu Tum. Teh hangat porsi gelas kecil  seharga Rp 50.00 segera meluruhkan rasa haus di tenggorokanku. Sementara  itu, satu pisang goreng di atas meja pun segera kusantap dan tak lama  kemudian, perutku tak lagi terasa keroncongan. Itulah nikmatnya  mensyukuri hasil keringat di awal menjajakan koran! Tidak jarang, aku  harus menunggu koranku laku dua sampai tiga eksemplar untuk bisa minum  teh hangat dan satu pisang goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Membaca dan Menulis&lt;br /&gt;   Pengalaman pagi itu -–ada tukang becak yang membeli koran dari  daganganku dan sempat menyindirku- seperti menyadarkan pola pikirku dan  telah mengukir sejarah baru dalam kehidupan jalanan di masa laluku.  Apalagi sejak itu tukang becak yang biasa mangkal di pojok Benteng Kulon  itu menjadi langgananku; hampir tiap hari ia membeli koran dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tak pelak, jika kebiasaan tukang becak yang biasa membeli koran  dari tanganku dan membacanya di atas becak dengan muka masih kusut itu  kemudian mendorongku untuk membiasakan diri ikut membaca setumpuk koran  yang aku jual. Maka, sehabis melaksanakan ritual pagi minum teh hangat  dan makan satu pisang goreng di warung bu Tum, aku pun duduk di emperan  toko --tak jauh dari tempat mangkal tukang becak itu— untuk meluangkan  waktu sekitar setengah jam atau satu jam membaca setumpuk koran  daganganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dari kebiasaan baca koran di emperan toko [dan kadang-kadang di  bawah pohon di tepi jalan di perempatan Bugisan dan Patangpuluhan]  itulah, pada satu hari aku disadarkan tulisan yang ditulis salah seorang  mahasiswa di rubrik Opini atau Debat Mahasiswa di Kedaulatan Rakyat dan  Harian Bernas. Seketika, aku seperti tersadar dan terhenyak, ternyata  seorang mahasiswa pun bisa menulis di koran. Apalagi, ketika aku membaca  koran edisi Minggu di rubrik resensi buku, tak jarang aku menjumpai  deretan “nama penulis” dengan identitas masih mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setiap selesai membaca “tulisan-tulisan” karya dari penulis yang  masih berstatus mahasiswa itu, otakku seperti mendidih. Di sudut  otakku, selalu ada sekelebat impian untuk bisa menulis dan menorehkan  namaku di koran seperti mereka. Karena itu, dalam hati,  aku berjanji  bahwa suatu saat nanti aku harus bisa menulis di koran. Maka, aku pun  mulai rajin tak saja membaca koran yang aku jual melainkan juga  membelajari tulisan-tulisan mereka secara autodidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tak jarang, ketika aku sudah khusuk membaca koran di emper toko  dekat tempat mangkal tukang becak di pojok Benteng Kulon itu, aku  kerapkali lupa untuk berangkat kuliah dan tak jarang bolos. Pada sisi  lain, ketika tukang becak itu sepi penumpang, dan aku merasa kasihan  maka aku rela meminjamkan tumpukan koranku untuk dibaca oleh tukang  becak itu. Jadi, ia tak usah repot-repot mengeluarkan uang untuk membeli  koran dari sakunya. Tetapi, setelah hampir dua tahun aku jualan koran,  dan memutuskan untuk berhenti, ironisnya aku tak tahu siapa nama tukang  becak yang biasa mangkal di pojok Benteng Kulon itu. Padahal jasanya tak  pernah ia sadari telah mengubah jalan panjang hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jadi, dari jalanan itulah, aku mengenal kehidupan. Lalu dari  halaman koran, aku belajar menulis. Tapi jujur, aku merasa seperti  dianugerahi sepasang mata untuk melihat sekeling dengan mata yang tajam.  Dengan tanpa bimbingan, aku belajar menulis dengan jurus tanpa kitab  suci. Ibarat murid di biara Shaolin, aku belajar bela diri dengan hanya  melihat hasil lukisan tendangan atau pukulan yang terpampang di tempok  biara Shaolin lalu tengah malam gulita aku belajar untuk mempraktekkan  apa yang aku lihat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setiap pagi hari aku melakoni ritual jualan koran di jalanan,  lalu menjelang siang berangkat kuliah dengan mengayuh sepeda dari  Krapyak ke Sapen dan pada malam hari aku melatih diri untuk menulis.  Semua itu, kulakukan untuk mewujudkan janjiku; aku harus bisa menorehkan  namaku di lembaran koran, tak harus jadi penjaja koran terus. Maka,  ketika tulisan yang aku buat ditolak media massa, aku tidak patah arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Meski dalam hati, kerap pula terbesit keraguan: apakah aku akan  gagal total (gatot –memimjam istilah yang didengungkan oleh sahabat  saya; Sidik Nugroho) untuk jadi penulis? Aku memang kerap gamang!  Tetapi, usaha keras, tidak jarang membuahkan hasil. Sekeras apa pun  persaingan merebut lembaran koran, masih keras kehidupan di jalanan.  Sebab di jalanan, aku sempat diancam sebilah belati yang dihunuskan  tepat di mukaku. Di jalanan, aku juga sempat berkelahi dengan penjaja  koran lain, karena ia merasa lahannya aku rebut. Di jalanan, aku juga  harus bergaul dengan preman yang kerap mabuk dan berkelahi. Itulah  alasanku, kenapa aku tidak patah arah jika hanya berjuang untuk bisa  menembus koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang bijak, Anda adalah apa yang Anda pikirkan dan kerjakan,  sepenuhnya mengahampiri-ku. Impian itu pun akhirnya terwujud! Dari  penjual koran jalanan, akhirnya berhasil keluar dari kepompong jalanan  yang mengungkung, sebab di kelak kemudian hari; penjual koran jalanan  itu mampu mengubah hidupnya menjadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Februari 2010        &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-1954321124054159457?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/1954321124054159457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=1954321124054159457' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1954321124054159457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1954321124054159457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/02/dari-penjual-koran-menjadi-penulis.html' title='dari penjual koran menjadi penulis'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3lPITVH1jI/AAAAAAAABuY/zQdL_KLJ240/s72-c/nulis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5466490962901604948</id><published>2010-02-14T12:47:00.000+07:00</published><updated>2010-02-17T13:02:11.032+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>sejarah agung Nabi Besar Muhammad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3uFyJdu3NI/AAAAAAAABuo/alD7fL_I3lc/s1600-h/Nurul+Mustofa+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 149px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3uFyJdu3NI/AAAAAAAABuo/alD7fL_I3lc/s200/Nurul+Mustofa+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439088071560584402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;sinopsis buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. buku Nurul Musththofa (jilid 1): diawali dari perjalanan Nur Agung Beliau SAW dari sebelum adanya alam semesta hingga kelahiran Baeliau SAW yang dipenuhi dengan berbagai peristiwa dahsyat luar biasa yang menggetarkan alam malakut dan seluruh alam semesta&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. buku Nurul Mushthofa (jilid 2): Dari sejak kelahiran Beliau SAW, kemudian dalam asuhan Sayyidah Halimah yan&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3uFxjQGrwI/AAAAAAAABug/SftKW0IVJNw/s1600-h/Nurul+Mustofa+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3uFxjQGrwI/AAAAAAAABug/SftKW0IVJNw/s200/Nurul+Mustofa+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439088061302877954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;g penuh dengan berbagai keajaiban agung sebagai bukti perlindungan Allah SWT terhadap kekasih-Nya, hingga saat beliau SAW melaksanakan tugas dakwah suci menghadapi berbagai macam perlawanan dari orang-orang kafir, terutama saat menghadapi kekejaman orang-orang Thoif sampai Beliau SAW bermunajat di Hijir Ismail sebagai awal perjalanan suci Isra` Mi`raj&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. buku Nurul Mushthofa (jilid 3): mengisahkan perjalanan agung Isra` Mi`raj beliau menembus langit ke tujuh hingga Arasy yang penuh dengan aneka ragam keajaiban yang sangat dahsyat luar biasa hingga dialog langsung beliau dengan Allah SWT yang berisi tentang berbagai anugerah yang khusus dilimpahkan untuk umatnya. dan menerangkan secara gamblang tentang surga yang dipenuhi berbagai kenikmatan abadi dan keadaan neraka yang sangat pedih serta menerangkan tentang agungnya syafaat Beliau SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5466490962901604948?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5466490962901604948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5466490962901604948' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5466490962901604948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5466490962901604948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/02/sejarah-agung-nabi-besar-muhammad.html' title='sejarah agung Nabi Besar Muhammad'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3uFyJdu3NI/AAAAAAAABuo/alD7fL_I3lc/s72-c/Nurul+Mustofa+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-2390996590816599804</id><published>2010-01-30T13:26:00.000+07:00</published><updated>2010-02-17T13:32:03.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku gratis'/><title type='text'>buku gratis bulan januari 2010</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3uMmWCvn6I/AAAAAAAABuw/Ufjj0_a9lF0/s1600-h/serambi_GadisBudak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 127px; height: 188px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3uMmWCvn6I/AAAAAAAABuw/Ufjj0_a9lF0/s200/serambi_GadisBudak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439095565360013218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pagi itu, sewaktu tiba di kantor aku temukan sebuah paket untukku. Isinya buku Gadis Budak, kiriman dari penerbit Serambi (yang dikirim oleh mbak Isthi). Terima kasih atas kiriman bukunya, mbak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sinopsis buku tersebut:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apakah perempuan memang dilahirkan sebagai dan untuk menjadi budak?&lt;br /&gt;Apakah dia tidak akan pernah bebas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun wajahnya ditato bermotif daun bayam, Ogbanje Ojebeta sebenarnya masih terlihat cantik. Penampilannya semakin unik dengan masih lonceng dan kulit kerang yang berbunyi dan berayun ketika dia bergerak. Baginya, lonceng itu adalah jimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bapak dan ibunya meninggal dan dia masih berumur tujuh tahun, Ojebeta dijual oleh abangnya dengan harga cuma delapan pound sterling. Namun kakaknya berdalih ini untuk kebaikan Ojebeta karena ketika itu kampungnya sedang dilanda wabah mematikan meski alasan sebenarnya adalah karena dia butuh biaya untuk pesta akil balig demi menjaga gengsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sembilan tahun hidup sebagai budak, Ojebeta banyak belajar tentang kehidupan. Dia mengamati tingkah laku keluarga majikannya. Dia juga banyak belajar dari teman-temannya sesama budak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, novel ini memotret apa saja yang terjadi dalam sebuah masyarakat di Ibuza, Nigeria, ketika budaya asing—termasuk agama—masuk ke dalam tatanan nilai yang telah ajek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   : Gadis Budak—Kehidupan Seorang Perempuan yang Dijual Kakaknya&lt;br /&gt;Penulis : Buchi Emecheta&lt;br /&gt;Ukuran    : 13x20,5/ koran&lt;br /&gt;ISBN    : 979-979-024-186-2&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-2390996590816599804?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/2390996590816599804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=2390996590816599804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2390996590816599804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/2390996590816599804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/02/buku-gratis-bulan-januari-2010.html' title='buku gratis bulan januari 2010'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S3uMmWCvn6I/AAAAAAAABuw/Ufjj0_a9lF0/s72-c/serambi_GadisBudak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-7349474225705646114</id><published>2009-12-30T15:53:00.000+07:00</published><updated>2010-01-29T17:57:55.457+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku gratis'/><title type='text'>buku gratis bulan desember 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11fh4hg11I/AAAAAAAABuQ/TuNdOD-J_9k/s1600-h/wm.php.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 87px; height: 119px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11fh4hg11I/AAAAAAAABuQ/TuNdOD-J_9k/s200/wm.php.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430601761391957842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11fhbzKepI/AAAAAAAABuI/Ht8ydyZ7ohY/s1600-h/ddberdarah_cover.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 78px; height: 112px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11fhbzKepI/AAAAAAAABuI/Ht8ydyZ7ohY/s200/ddberdarah_cover.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430601753681361554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11fhDEKB6I/AAAAAAAABuA/WSNSxyY6JhI/s1600-h/100_5944.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 133px; height: 114px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11fhDEKB6I/AAAAAAAABuA/WSNSxyY6JhI/s200/100_5944.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430601747041748898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11dTDF9HmI/AAAAAAAABt4/KRS4hxbPUiM/s1600-h/heavens+net+is+wide_1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 102px; height: 141px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11dTDF9HmI/AAAAAAAABt4/KRS4hxbPUiM/s200/heavens+net+is+wide_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430599307507867234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Buku itu ibarat mata, yang bisa menuntun kita melihat dunua. Itulah slogan "blog etalasebuku" ini. Kenapa aku memberi slogan itu di blog ini? Ada dua (2) alasan. Pertama, buku --dalam sejarah perjalanan hidupku-- telah mengantarkanku memiliki tekat kuat -untuk meninggalkan kampung halamanku. Dari lembaran kitab-kitab kuning klasik, aku mendapat sebuah kesadaran akan pentingnya sebuah ilmu. Kedua, dari buku pula aku memiliki sebuah mimpi, kelak suatu hari akan bisa pergi keliling dunia. Aku tak hanya mendengar cerita tentang negeri di ujung dunia lewat buku saja, tetapi ingin melihat secara langsung. &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11dSzk26pI/AAAAAAAABtw/RMbwceA0i80/s1600-h/dastan_Stolen-Innocence.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 73px; height: 112px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11dSzk26pI/AAAAAAAABtw/RMbwceA0i80/s200/dastan_Stolen-Innocence.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430599303342516882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semoga!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11dSdtMrrI/AAAAAAAABto/r5J7xfbp9sM/s1600-h/dastan_Golden-Buddha.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 71px; height: 114px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11dSdtMrrI/AAAAAAAABto/r5J7xfbp9sM/s200/dastan_Golden-Buddha.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430599297471917746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;an di bulan ini, aku mulai kembali merajut mimpi meski &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;hanya baru sebatas menyusun "tumpukan buku" yang aku dapatkan (secara gratis) dari beberapa kenalan, penerbit dan teman dekat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01. Stolen Innocence, Elissa Wall &amp;amp; Lisa Pilitzer (Dastan Book, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;02. Golden Budha, Clive Cussler (Dastan Book, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;03. Dendam Dinasti Berdarah, John Simon (Akoer, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;04. Kisah Klan Otori: Heaven’s Net is Wide, Lian Hearn (Matahati, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;05. Selalu Membaca Pasar &amp;amp; Menang&lt;br /&gt;, George Soros (Daras Book, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;06. Zionisme &amp;amp; Keruntuhan Amerika, James Petras ((Daras Book, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;07. Terapi Kekuatan Pikiran, Marc Salim (Daras Book, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;08. Silver Phoenix, Cindy Pon (Mahda Books, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;09. Kasmaran: Sebuah Memoir Cinta, dituturkan kembali oleh Kafi Kurnia dan Dwitri Waluyo (Akoer, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penerbit dan teman yang telah mengirim buku-buku di atas, aku ucapkan banyak terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Condet, 30 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-7349474225705646114?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/7349474225705646114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=7349474225705646114' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7349474225705646114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7349474225705646114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/01/buku-gratis-bulan-desember-2009.html' title='buku gratis bulan desember 2009'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11fh4hg11I/AAAAAAAABuQ/TuNdOD-J_9k/s72-c/wm.php.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-3624674016903044410</id><published>2009-11-30T15:08:00.000+07:00</published><updated>2010-01-25T16:03:28.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku gratis'/><title type='text'>buku gratis bulan november 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11VV0ZODpI/AAAAAAAABtI/SQUlX79wRI8/s1600-h/01.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 75px; height: 98px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11VV0ZODpI/AAAAAAAABtI/SQUlX79wRI8/s200/01.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430590559008722578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11VVX21CAI/AAAAAAAABs4/q6NUVck7Qjc/s1600-h/zahra_The-Fifth-Victim.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 66px; height: 106px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11VVX21CAI/AAAAAAAABs4/q6NUVck7Qjc/s200/zahra_The-Fifth-Victim.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430590551348283394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11VU6H8JNI/AAAAAAAABsw/01exVxUOaEo/s1600-h/dastan_Left-To-Die.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 69px; height: 100px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11VU6H8JNI/AAAAAAAABsw/01exVxUOaEo/s200/dastan_Left-To-Die.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430590543366989010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11VUsYhSdI/AAAAAAAABso/O-7S7VzlBso/s1600-h/ijinkan-aku-jadi-perempuan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 66px; height: 101px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11VUsYhSdI/AAAAAAAABso/O-7S7VzlBso/s200/ijinkan-aku-jadi-perempuan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430590539678435794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11Ugokg1wI/AAAAAAAABsY/OOX0LA0LUBg/s1600-h/tanril.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 65px; height: 99px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11Ugokg1wI/AAAAAAAABsY/OOX0LA0LUBg/s200/tanril.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430589645301798658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11UgAeX7ZI/AAAAAAAABsI/hH8B5D6D6ZA/s1600-h/moribito_1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 83px; height: 87px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11UgAeX7ZI/AAAAAAAABsI/hH8B5D6D6ZA/s200/moribito_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430589634538630546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11UfqXv1XI/AAAAAAAABsA/MEL0EeE-VyM/s1600-h/TEJYCTqKIoesy3t28TZUv7yEo1_400.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 64px; height: 88px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11UfqXv1XI/AAAAAAAABsA/MEL0EeE-VyM/s200/TEJYCTqKIoesy3t28TZUv7yEo1_400.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430589628605257074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkan hadiah berupa kiriman buku dari seseorang atau penerbit, tentu merupakan satu hal yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Maklum, buku merupakan kekayaan yang cukup berharga buat saya. Karena itu, di bulan November ini aku tidak ingin melupakan kebaikan dari beberapa orang, beberapa penerbit dan juga kenalan yang telah mengirimkan buku ke alamat saya. Tak salah, aku mencatat buku-buku kiriman tersebut --karena aku tak inigin melupakan kebaikan orang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adapun buku-buku yang saya dapatkan di bulan NOvember ini antara lain:&lt;br /&gt;&lt;a onblur=" try=" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11UgeR9reI/AAAAAAAABsQ/t1C2tzj3OGk/s1600-h/PraharaAsmara2_Cover_Design05.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 81px; height: 114px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11UgeR9reI/AAAAAAAABsQ/t1C2tzj3OGk/s200/PraharaAsmara2_Cover_Design05.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430589642539642338" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;01. Extremely Loud &amp;amp; Incredibly Close, Jonathan Safran Foer (Mahda Books, Jakarta [dal&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11Ug6FQydI/AAAAAAAABsg/UWNpD4LPrgk/s1600-h/6687091.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 67px; height: 106px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11Ug6FQydI/AAAAAAAABsg/UWNpD4LPrgk/s200/6687091.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430589650002561490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;am bentuk dummy])&lt;br /&gt;02. Moribito, Nahoko Uehashi (Matahati, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;03. Prahara Asmara [buku ke-2], Zara Zettira ZR (Akoer, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;04. Tanril: Novel Silat-Epik Ho Wuan Siang, Nafta S. Meika (Akoer, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;05. Burger, Pizza &amp;amp; Semur Jengkol, Wibi AR (Akoer, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;06. Ijinkan Aku Menjadi Perempuan, Lely Noormindha (Akoer, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;07. Left To Die, Lisa Jackson (Dastan Book, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;08. The Fifth Victim, Beverly Barton (Dastan Book, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;09. The Ikon, Gary Van Haas (Dastan Book, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;10. Conspiracy 365, Gabrielle Craig Lord (Dastan Book, Jakarta 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, jumlah buku gratis di bulan November ini bisa menolong keuangan saya. Saya tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menambah koleksi buku, karena di bulan ini sudah tertolong dapat kiriman buku gratis 10 exemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Condet, 30 NOvember 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-3624674016903044410?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/3624674016903044410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=3624674016903044410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3624674016903044410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3624674016903044410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/01/buku-gratis-bulan-november-2009.html' title='buku gratis bulan november 2009'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S11VV0ZODpI/AAAAAAAABtI/SQUlX79wRI8/s72-c/01.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-504731595156219323</id><published>2009-11-24T11:02:00.004+07:00</published><updated>2009-11-24T11:12:37.619+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>menyingkap rahasia dan keajaiban shalawat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SwtcpEtcSpI/AAAAAAAABp4/f7HeKdnKu4c/s1600/SapuJagat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 109px; height: 168px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SwtcpEtcSpI/AAAAAAAABp4/f7HeKdnKu4c/s200/SapuJagat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407517638297143954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hidayah&lt;/span&gt; edisi 100/Des 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Shalawat Sapujagat&lt;br /&gt;Penulis        : Habib Ahmad bin Muhammad al Muhdar&lt;br /&gt;Penerbit    : Zahra Pustaka, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, Agustus 2009&lt;br /&gt;Tebal buku    : 292 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Shalawat Nabi SAW diyakini oleh sebagian besar umat Islam, memiliki kekuatan luar biasa, keajaiban serta bisa mendatangkan berkah yang konon tidak pernah diduga-duga. Tak salah, jika kiai di beberapa pesantren kerapkali menasehati santrinya untuk banyak-banyak membaca shalawat Nabi, semisal untuk mendatangkan rezeki berlimpah, keselamatan dalam perjalanan dan sejumlah hajat yang ingin diraih.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maklum, shalawat nabi itu bukanlah sekedar bacaan shalawat serta salam tetapi merupakan jalinan cinta pada kekasih Allah. Amalan shalawat itu begitu agung, sampai-sampai Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi sebagai tanda cinta, rahmat dan penghormatan. Tak disangkal, jika shalawat itu memiliki keajaiban dan diyakini sebagai amalan yang sungguh mujarab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia di balik keajaiban shalawat itulah yang disingkap oleh Habib Ahmad bin Muhammad al Muhdar dalam buku Shalawat Sapujagat ini. Buku yang memuat berbagai shalawat sapujagat yang disusun sesuai huruf hijaiyah –mulai dari Alif sampai Ya—merupakan buku yang memuat berbagai shalawat sapujagat. Buku ini pun memiliki berbagai keistimewaan kalau dibandingkan dengan shalawat lain mengingat kandungan buku ini meliputi untaian-untaian shalawat yang mencakup metode keimanan, ideologi, keyakinan, panutan dan pendidikan akhlak yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, untaian shalawat nabi yang terhimpun di dalam buku ini memuat berbagai shalawat sapujagat yang bisa dibaca untuk amalan yang mendatangkan berkah dan keajaiban; untuk segala kebutuhan mulai dari menarik rezeki, meminta terkabulnya hajat, terkabulnya doa/permohonan, menghapus dosa, mendatangkan ampunan Ilahi, menghilangkan penyakit, musibah serta meraih surga. Tidak salah, jika tak sedikit cerita menakjubkan dari orang-orang yang mengamalkan shalawat mendapat keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang disusun dengan sistematis dan rapi dalam mengumpulkan “untaian-untaian” shalawat sapujagat ini dapat dikatakan sungguh menakjubkan. Hampir seluruh tatanan gubahan shalawat dalam buku ini, bisa dikata sungguh puitis. Karena itu, buku ini akan membimbing pembaca tidak saja sekedar menyingkap rahasia, keajaiban dan menjabarkan makna, hakekat serta manfaat besar shalawat nabi melainkan juga akan mengantarkan pembaca dapat mudah mengamalkan tips-tips meraih keberkahan hidup dengan bershalawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan panduan dan tata cara yang praktis dan mudah diikuti, tentunya buku ini bisa membawa pembaca mendapatkan cahaya keagungan berkat kecintaan kepada nabi Muhammad. Akhir kata, buku ini layak menjadi bacaan yang kemudian diamalkan. (nur mursidi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-504731595156219323?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/504731595156219323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=504731595156219323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/504731595156219323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/504731595156219323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/11/menyingkap-rahasia-dan-keajaiban.html' title='menyingkap rahasia dan keajaiban shalawat'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SwtcpEtcSpI/AAAAAAAABp4/f7HeKdnKu4c/s72-c/SapuJagat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-7490710764485761162</id><published>2009-11-15T13:52:00.000+07:00</published><updated>2010-03-05T18:01:29.314+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wawancara dan sosok di media'/><title type='text'>Nur Mursidi: Dijuluki Spesialisasi Meresensi Buku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S5CraMlinHI/AAAAAAAABvI/qdDGVgb0LG0/s1600-h/Foto018.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 154px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S5CraMlinHI/AAAAAAAABvI/qdDGVgb0LG0/s200/Foto018.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445040416034561138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dimuat di koran &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Analisa&lt;/span&gt; Medan, Minggu 15 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah cukup lama saya kagum dengan sosok penulis yang satu ini. Setiap saya mengirimkan email berisi pertanyaan, permintaan kritik-saran, atau pun permohonan untuk mengupas karya-karya saya, doi selalu membalas dengan cepat dan tidak tanggung-tanggung….balasannya bisa mencapai berlembar-lembar! Sangat teliti dan detil! Senang sekali ketika mengetahui bahwa seorang penulis yang telah memiliki nama, tapi tetap low profile,  mau meluangkan waktu, dan serius membahas karya-karya kita, di sela-sela kesibukannya yang sudah pasti sangat padat-dat-dat!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Sobat muda, doi adalah Nur Mursidi (Mursid), pria kelahiran Rembang, 30 Maret 1975. Bagi Mursid, menjadi penulis adalah pilihan hidup. “Maka, jika pekerjaan itu telah dipilih, sudah semestinya kita merasa nyaman dan cinta pada pekerjaan yang kita tekuni,” tutur  Mursid memulai percakapan.  “Lebih dari itu, bagi saya menulis adalah kerja psikologis dan pikiran. Pada tataran psikologis, menulis bisa ‘membebaskan diri’ dari tekanan dan beban hidup. Sementara kerja pikiran, menulis berarti ‘memberi makanan’ ruhani pada jiwa,” jelas pria berambut ikal ini. Ya, tak dimungkiri,  dengan menulis, ada proses belajar pada satu sisi dan menyebarkan ilmu pada sisi lain. Hmmm….setuju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aktivitas Mursid sebagai reporter (di majalah Hidayah) dan reporter tidak tetap di dua majalah lain, tentu banyak menguras waktu. Namun  sesekali di waktu luang, Mursid masih menyempatkan menulis cerpen, esai sastra, dan resensi buku di sejumlah media massa. Bahkan  tahun 2008 lalu, putra Abdul Mu’id dan Masmi’ah ini mengukir prestasi bergengsi seputar dunia kepenulisan. Iseng-iseng Mursid mengikutkan blognya (http://etalasebuku.blogspot.com)  dalam Lomba Blog Buku yang diselenggarakan oleh Pesta Buku Jakarta 2008. Awalnya Mursid pesimis bisa memenangkan lomba tersebut karena ada persyaratan yang ditentukan panitia, nyaris tak bisa ia penuhi. Namun tiada disangka, ia malah sukses meraih  juara I! Hadiah uang jutaan rupiah pun mengalir ke koceknya! “Saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku, bahkan juga proses kreatif menulis. Semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain, baru membuat blog justru pada saat diadakan lomba blog tersebut,” tegas Mursid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berbicara mengenai topik menulis resensi buku, boleh dikata  Mursid-lah pakarnya! Di kalangan teman-teman, Mursid lebih dikenal sebagai peresensi buku  daripada penulis cerpen atau esai. Mengapa demikian? “Menulis resensi buku adalah sejarah awal saya mulai menulis. Pertama kali saya menulis resensi buku, langsung dimuat di harian Kedaulatan Rakyat. Setelah itu, rentetan peristiwa lain menyusul, menumbuhkan ‘kegilaan’ saya akan membaca buku, kemudian meresensinya. Bertahun-tahun saya menggeluti dunia ini. Akhirnya teman-teman  menjuluki saya spesialisasi menulis resensi buku  karena saking lamanya saya berkecimpung di dunia ini!” kenang pria lulusan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, tersenyum. Bayangkan Sobat muda, 11 tahun! Kompas, The Jakarta Post, Gatra, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, dan sederet media nasional lainnya telah memuat resensi buku karya Mursid.  Ingin tahu resepnya? Yuk, mari kita intip!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Membaca pada dasarnya adalah menyelami sebuah buku untuk dikuak lebih jauh tentang perihal  yang disampaikan oleh si penulis buku. Tetapi ingatan seorang pembaca itu tak jarang terbentur pada keterbatasan; lupa. Karena itu, bagi saya menulis resensi buku adalah langkah untuk ‘mengikat makna’ –meminjam istilah Hernowo—agar konten buku yang pernah dibaca,  tidak menguap begitu saja. Toh kalau seandainya terjadi, kita tak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir,  melainkan tinggal melirik resensi yang telah ditulis,” jelas Mursid tentang pentingnya arti resensi sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagaimana cara menulis resensi buku yang baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Wah, sebenarnya kalau ditanya pertanyaan ini, saya selalu susah menjawab. Kebetulan saya belajar menulis secara otodidak, tidak punya guru menulis,’ ujar Mursid merendah.  “Tapi baiklah, saya coba ya. Pertama, jika saya ingin tulisan saya dimuat di media A, maka saya akan membeli media A, mempelajarinya dengan seksama; mulai dari kecenderungan tema resensi buku yang biasa dimuat, sistematika tulisan resensi bahkan sampai pada hal-hal  kecil lain. Kedua, sepanjang pengalaman saya menulis resensi buku di sejumlah media massa, ada 3 hal penting yang harus diperhatikan peresensi: a) pilihan buku yang akan diresensi  b) penulis buku c) kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur media bersangkutan,” papar pria yang pernah mengecap  pendidikan di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa dan Akademi Teater dan Film Indonesia ini, panjang lebar. Intinya Sobat muda, agar resensi buku yang kita tulis bisa menetas optimal, bacalah bukunya secara menyeluruh dan pahami benar isinya! Ohya, ada tambahan nih, sebaiknya buku-buku yang akan diresensi untuk media adalah buku-buku baru. Biasanya redaktur menetapkan, resensi buku yang dimuat, paling tidak umurnya 6 bulan dari terbitnya buku. Catat ya!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Berdasarkan pengalaman  Mursid, kalau kita rutin menulis resensi buku dan dimuat di media, selain menangguk honor lumayan, penerbit juga akan mengirimkan buku-buku gratis secara berkala. Hmmm…bukankah buku ibarat harta karun bagi para penulis? Senangnya!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Dulu, berbagai cemoohan kerap menghampiri saya karena saya menekuni dunia tulis menulis. Profesi ini dianggap ‘aneh’ dan tidak menjanjikan. Tapi saya tidak terpuruk. Saya justru semakin bersemangat! Setelah tulisan-tulisan saya terbit di media, lalu bekerja menjadi wartawan, akhirnya saya bisa membuktikan eksistensi profesi kepenulisan saya. Jadi, jika kita ingin berkiprah di bidang ini, kuncinya hanya dua: kerja keras dan tak pernah putus asa!” demikian pesan penulis yang berencana naik pelaminan dalam waktu dekat ini,  kepada remaja Medan.*** Haya Aliya Zaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Agustus 2009&lt;br /&gt;(beberapa kalimat dalam artikel ini dikutip dari http://indonesiabuku.com  atas seijin nara sumber bersangkutan)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-7490710764485761162?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/7490710764485761162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=7490710764485761162' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7490710764485761162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7490710764485761162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2010/03/nur-mursidi-dijuluki-spesialisasi.html' title='Nur Mursidi: Dijuluki Spesialisasi Meresensi Buku'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/S5CraMlinHI/AAAAAAAABvI/qdDGVgb0LG0/s72-c/Foto018.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-483222248214712462</id><published>2009-10-31T10:28:00.001+07:00</published><updated>2010-01-04T19:57:47.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku pernikahan'/><title type='text'>merengkuh surga kebahagiaan dalam keluarga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SvJIH4jlvZI/AAAAAAAABpo/Y8ZBzQZKI08/s1600-h/2_100_5850.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 219px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SvJIH4jlvZI/AAAAAAAABpo/Y8ZBzQZKI08/s200/2_100_5850.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400458203448589714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;KORAN JAKARTA&lt;/span&gt;, Sabtu 31 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Sekali Berkeluarga, Selamanya Bahagia&lt;br /&gt;Penulis : Mashuri Kartubi&lt;br /&gt;Penerbit : Al-Ghazali Center, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Agustus 2009&lt;br /&gt;Tebal buku : 207 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tengah kemajuan zaman, pernikahan dianggap tidak lagi sebagai “ikatan suci” yang memiliki aspeks spiritualitas. Tak salah jika pernikahan dianggap tak lebih sebagai berakhirnya masa lajang. Lebih dari itu, dengan pernikahan dua orang lawan jenis “sah” memadu kasih, mengumpulkan harta, beranak pinak. Tak mustahil, lembaga pernikahan sekarang ini pun digugat dan dikritik telah mengebiri kebebasan hidup setiap pasangan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, jika orang modern kemudian memilih “hidup bersama” (di luar ikatan perkawinan) daripada diikat “tali pernikahan”. Dengan cara seperti itu, dua orang lawan jenis bebas “hidup dalam satu atap” tanpa ada ikatan atau aturan yang mengikat, kecuali hanya atas dasar suka sama suka. Padahal, pernikahan itu memiliki “misi suci” yang tak sekedar sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan memiliki dimensi spiritual dan bahkan menyimpan ladang amal dan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimensi spiritual yang menyimpan seribu ladang amal dan ibadah dalam ikatan pernikahan itulah yang dibentangkan penulis dalam buku Sekali Berkeluarga Selamanya Bahagia ini. Mashuri Kartubi (lahir di Grobogan 6 Februari 1967) menegaskan bahwa pernikahan tak sekedar pemenuhan hasrat seksual. Karena dalam Islam, pernikahan itu menyimpan ladang ibadah -demi menjaga kesucian dan kehormatan. Karena pernikahan yang dibangun di atas tali cinta dan taqwa, bisa melahirkan ketenangan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, konsep pernikahan itu, dikenal dengan rumah tangga yang sakinah (ketenagan hati), mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang). Karena Rumah tangga seperti itu merupakan sebuah cita-cita pernikahan. Dengan membangun rumah tangga di atas fondasi cinta dan berpijak pada landasan tauhid, setiap gerak dan kegiatan yang dilakukan suami maupun istri akan dinilai oleh Allah sebagai ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan memadu kasih dalam pernikahan pun, Islam memandang sebagai ibadah. Dalam sebuah hadits, nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya pada kemaluan salah seorang dari kamu adalah sedekah (berpahala sedekah). Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apakah salah seorang dari kami melampiaskan shahwatnya mendapatkan pahala?”, beliau menjawab, “Bagaimana pandanganmu dalam dia meletakkannya di tempat yang haram (bukan istrinya) Adakah ia mendapatkan dosa? Maka demikian juga apabila ia menempatkan pada tempat yang halal (istrinya sendiri), maka mendapatkan pahala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan amal ibadah itu, maka pernikahan patut dipertahankan. Setiap pasangan dituntut saling melengkapi dan menutupi kekurangan masing-masing. Dengan cara itu, kebahagiaan bisa direngkuh suami dan istri. Sebab dengan pernikahan yang sakinah, mawaddah dan rahmah itu, setiap pasangan mendapatkan ketenangan dan setiap gerak akan dinilai ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, kebahagiaan rumah tangga seperti itu menjadi dambaan setiap pasangan. Karena keluarga bisa diibaratkan surga dan barang siapa yang mendapat kebahagiaan dalam keluarga, maka ia mendapatkan surga dunia. Lewat buku ini, penulis memberikan gambaran dan tips meraih kebahagiaan berumah tangga yang layak untuk diperhatikan. (n mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-483222248214712462?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/483222248214712462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=483222248214712462' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/483222248214712462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/483222248214712462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/11/merengkuh-surga-kebahagiaan-dalam.html' title='merengkuh surga kebahagiaan dalam keluarga'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SvJIH4jlvZI/AAAAAAAABpo/Y8ZBzQZKI08/s72-c/2_100_5850.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-8961427651559549879</id><published>2009-10-30T14:21:00.002+07:00</published><updated>2010-01-14T13:11:25.201+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku gratis'/><title type='text'>buku gratis bulan oktober 2009</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyvKIu0cgI/AAAAAAAABqg/sp4X0IURx7w/s1600-h/100_5884+%28edit%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 176px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyvKIu0cgI/AAAAAAAABqg/sp4X0IURx7w/s200/100_5884+%28edit%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412393440869904898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah buntulan buku dari penerbit Daras menghampiri kontrakanku. Aku buka dan isi buntelan itu tidak lain adalah buku The Jack Welch Secrets : 10 Rahasia Sukses CEO Paling Fenomenal di Zaman Kita. Buku ini membuka mata saya tentang hal ihwal kepemimpinan gaya seorang CEO kelas dunia. Aku baca buku ini dengan santai dan kemudian aku buat pula resensinya! Tapi maaf, kali ini saya belum bisa menampilkan resensi buku ini dalam blog ini...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The Jack Welch Secrets : 10 Rahasia Sukses CEO Paling Fenomenal di Zaman Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis        : STUART CRAINER&lt;br /&gt;Penerbit     : Daras Books&lt;br /&gt;terbit         : September - 2009&lt;br /&gt;Jumlah Halaman     : 208&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINOPSIS BUKU - The Jack Welch Secrets : 10 Rahasia Sukses CEO Paling Fenomenal di Zaman Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jack Welch adalah salah satu CEO yang paling sukses sekaligus paling kontroversial di dunia. Ketika memimpin GE, usianya baru 45 tahun—CEO termuda dalam sejarah GE. Secara revolusioner, Jack Welch mengangkat GE dari keterpurukan, membuatnya bangkit dan kembali besar. Langkah-langkah serta strategi dramatis dan revolusionernya membuat ia dijuluki sebagai “Bos Paling Keras di Amerika” oleh majalah Fortune. Program-program perubahannya yang luar biasa telah menjadi benchmark bagi bisnis modern abad ke-21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jack Welch adalah sosok luar biasa di dunia bisnis modern; CEO nomor satu di zaman kita. Kegeniusan dan pola kepemimpinan tanpa komprominya telah menjadikan ia sebagai salah satu CEO tersukses di Planet Bumi. Visi bisnis serta gaya kepemimpinannya yang khas telah membuat Jack Welch menjadi seorang CEO yang sangat unik; gayanya dalam memimpin GE belum pernah ditemukan sebelumnya di dunia bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik-teknik bisnis, manajemen, dan pola kepemimpinan Jack Welch tidak diajarkan dan tidak akan Anda temukan di sekolah-sekolah bisnis. Namun, buku ini akan mengungkap trik-trik bisnis dan pola kepemimpinan Jack Welch—10 rahasia suksesnya yang bisa diterapkan di bisnis apa pun dan di semua jenis pekerjaan atau karier:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Investasi pada manusia.&lt;br /&gt;- Dominasi pasar Anda... atau keluar.&lt;br /&gt;- Hapus birokrasi.&lt;br /&gt;- Revolusi, jangan perubahan bertahap.&lt;br /&gt;- Buat kesalahan.&lt;br /&gt;- Rencanakan suksesi.&lt;br /&gt;- Dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan buku ini di tangan, Anda telah menggenggam rahasia sukses fenomenal Jack Welch dan GE-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian-pujian_________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa pun yang Anda lakukan, sederhanakan. Komunikasi sederhana. Ukuran sederhana. Tujuan sederhana. Sistem sederhana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hal yang penting di toko kelontong juga sama pentingnya dalam mesin atau sistem medis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga hal terpenting yang Anda harus ukur di dalam bisnis adalah: kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan, dan cash flow.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perubahan bertahap adalah hal yang menggoda tetapi bisa merugikan. Lompatan besar lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ide yang mengalir dari semangat manusia tidak terbatas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Condet, 30 mOktober 2009)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-8961427651559549879?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/8961427651559549879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=8961427651559549879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8961427651559549879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8961427651559549879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/12/buku-gratis-bulan-oktober-2009.html' title='buku gratis bulan oktober 2009'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyvKIu0cgI/AAAAAAAABqg/sp4X0IURx7w/s72-c/100_5884+%28edit%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-8669730452099147329</id><published>2009-10-21T09:59:00.001+07:00</published><updated>2009-10-27T23:37:04.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku anak'/><title type='text'>mengenalkan islam sejak dini pada anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/Stfh95NszjI/AAAAAAAABpY/Y3JESRrdaCg/s1600-h/100_5758_3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 183px; height: 166px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/Stfh95NszjI/AAAAAAAABpY/Y3JESRrdaCg/s200/100_5758_3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393027532246011442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anggun&lt;/span&gt; edisi 10/II/Nov 09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Buku Pintar Anak Sholeh&lt;br /&gt;Penulis        : M. Thobroni&lt;br /&gt;Penerbit    : Lafal Indonesia, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, Agustus 2009&lt;br /&gt;Tebal buku    : 144 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh di kelak kemudian hari. Maklum, orang tua yang memiliki anak sholeh ibarat memiliki tabungan atau aset cukup berharga baik ketika di dunia maupun di akherat nanti. Sebab anak sholeh akan menjadi kebanggaan bagi keluarga; patuh pada Allah dan orangtua. Di akherat nanti, anak yang sholeh itu pun bisa menolong orangtuanya karena “amalan dan doa” dari anak sholeh itu –sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits-- akan terus mengalir meskipun orangtuanya sudah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan harapan itulah, orang tua dituntut untuk mengenalkan sejak dini pada anak tentang ajaran Islam. Dengan cara menanamkan ajaran Islam sejak dini itu, pengetahuan, wawasan dan ilmu keIslaman akan lebih melekat dan meninggalkan jejak di hati. Karena momori atau ingatan anak kecil akan gampang mengingat pelajara atau materi (agama), dibandingkan ketika anak itu sudah beranjak dewasa. Pengenalan ajaran Islam sejak dini itu tentu menjadi bekal bagi kehidupan si anak di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Pintar Anak Soleh ini merupakan sebuah “buku sedehana dan praktis” yang memang disiapkan untuk mengenalkan sejak dini pada anak tentang ajaran Islam yang berisi beragam pengetahuan ajaran Islam mulai paling mendasar yang wajib diketahui oleh anak. Pelajaran mendasar yang wajib dikehui itu antara lain; asmaul husna, sifat-sifat wajib Allah, seputar al-Qur`an, nama-nama nabi/rasul, rukun iman, rukun Islam, soal bersuci, hukum dalam Islam hingga sejarah Wali Songo yang telah dicatat sejarah sebagai penyebar Islam di tanah Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski buku ini tak mengupas dengan detail, upaya pengenalan Islam sejak dini pada anak dengan mengajarkan hal-hal paling mendasar sebagaimana dikupas penulis dalam buku ini, setidaknya dapat mengantarkan anak tumbuh besar menjadi anak yang sholeh dan cerdas. Karena buku ini, sedari awal memang dimaksudkan menjadi sahabat bagi anak dalam mengenal ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, meski pun buku ini tidak cukup detail mengupas ajaran Islam karena buku ini cukup sederhana dan simpel, tetapi buku ini bisa menjadi buku inspiratif yang akan mematik kesadaran anak untuk membuka buku-buku induk yang berbicara tentang tema yang sama. Dengan kata lain, buku ini bisa menjadi pintu masuk untuk membawa sang anak menjadi haus akan ilmu agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, buku sederhana yang ditujukan untuk mendampingi anak menjadi anak sholeh ini ditulis dengan gaya bahasa yang kurang menjiwai kemampuan anak. Dengan kata lain, bahasa yang ditulis masih tergolong berat bagi sang anak. Tapi hal itu tak akan menjadi kendala atau masalah sebab orangtua yang mendampingi anak akan membantu untuk menerangkan lebih detail dan gamblang jika anak bertanya lebih jauh. Di sisi lain, buku ini dilengkapi cara jitu bagaimana melatih anak agar rajin mengerjakan shalat dan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah kalau buku ini sepatutnya dimiliki orangtua jika memang menghendaki anak yang dilahirkan kelak akan menjadi anak sholeh dan cerdas. (n. mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-8669730452099147329?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/8669730452099147329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=8669730452099147329' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8669730452099147329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/8669730452099147329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/10/mengenalkan-islam-sejak-dini-pada-anak.html' title='mengenalkan islam sejak dini pada anak'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/Stfh95NszjI/AAAAAAAABpY/Y3JESRrdaCg/s72-c/100_5758_3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-6409181434302071463</id><published>2009-10-16T10:05:00.004+07:00</published><updated>2009-10-27T23:33:43.235+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku how to'/><title type='text'>tampil cantik dengan perawatan di rumah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/StfjYIfAaQI/AAAAAAAABpg/CKgr4X2D1nE/s1600-h/100_5572_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 179px; height: 189px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/StfjYIfAaQI/AAAAAAAABpg/CKgr4X2D1nE/s200/100_5572_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393029082533357826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anggun&lt;/span&gt; edisi 9/II/okt 09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Buku Pintar Merawat Kecantikan di Rumah: Kumpulan Tips Praktis dan Murah Merawat Kecantikan dari Ujung Rambut Hingga Ujung Kaki&lt;br /&gt;Penulis        : Windya Novita&lt;br /&gt;Penerbit     : PT GPU, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, 2009&lt;br /&gt;Tebal buku    : xii + 224 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan tidak menciptakan setiap perempuan yang lahir di muka bumi ini dengan cara main-main atau sekedar iseng. Maka setiap perempuan yang lahir pasti dianugerahi kecantikan. Tugas perempuan selanjutnya, adalah mensyukuri anugerah kecantikan itu dengan telaten; merawat, menjaga dan memelihara kondisi tubuh, rambut, wajah, kaki dan tangan agar tetap memesona dan menawan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keinginan perempuan untuk tampil cantik, memang tidak salah. Bahkan, hal itu sudah jadi tuntutan hidup. Tetapi ironisnya, sebagian besar kaum hawa kemudian tidak sadar dan ingin “melampaui kodrat Ilahi”. Maka, cara instan untuk tampil cantik dengan berbagai cara pun ditempuh –seperti menggunakan produk dan perawatan kecantikan modern-- meskipun mereka harus mengeluarkan uang tidak sedikit. Padahal, cara instan untuk tampil cantik seperti itu, tak jarang bisa menimbulkan efek samping seperti iritasi dan kanker kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windya Novita, seorang ibu rumah tangga, wartawati sebuah majalah dan juga dikenal sebagai penulis mengajak kaum hawa untuk kembali sadar akan kecantikan yang dimiliki oleh setiap perempuan dengan memanfaatkan kekayaan alam (back to nature) demi menjaga dan memelihara kecantikan –mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada beberapa hal yang bisa diperoleh kaum hawa tatkala mereka memakai sumber alam untuk merawat kecantikan; selain tak perlu mengeluarkan uang banyak, mudah didapat, dijamin tidak akan menimbulkan efek sampung juga bisa menawarkan kecantikan yang maksimal --jika dilakukan dengan rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa cantik dengan “memanfaatkan” aneka tumbuhan, penulis memetakan lima perawatan kecantikan yakni kecantikan seputar wajah, rambut, riasan wajah, tubuh dan tangan serta kaki. Dengan pemetaan itu, penulis memerinci lagi detail dan rincian anggota tubuh dari kaum perempuan untuk diperhatikan dengan cara kembali ke alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang lahir dari keprihatian penulis terhadap model instan yang ditawarkan oleh produk kecantikan dan perawatan kecantikan modern ini sungguh bermanfaat dan berguna bagi kaum hawa. Dengan gaya penulisan yang ringan, mudah dipahami dan tak berbelit, kaum perempuan diajak untuk menjadi cantik dengan tak perlu mengeluarkan kocek banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kelebihan bagi kaum hawa yang mempraktekkan apa yang dianjurkan dalam buku ini setidaknya bisa merawat kecantikan ala nature di saat-saat luang, tidak perlu menyita banyak waktu dan tergolong murah. Karena, perawatan yang ditawarkan penulis dapat dilakukan di rumah, di kala mau beranjak tidur atau sedang tidak keluar rumah. Pendek kata, penulis mengajak kaum hawa untuk jadi cantik dengan cara alami dan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah, jika penulis dalam kata pengantar buku ini menulis, “untuk menjadi cantik tak harus mahal karena bahan alami yang berasal dari alam justru lebih aman dan berkhasiat.” Jika memang untuk cantik itu, tidak butuh biaya mahal; kenapa Anda tidak segera bergegas mempraktekkan anjuran dalam buku ini? (n. mursidi, blogger terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-6409181434302071463?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/6409181434302071463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=6409181434302071463' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6409181434302071463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/6409181434302071463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/10/tampil-cantik-dengan-perawatan-di-rumah.html' title='tampil cantik dengan perawatan di rumah'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/StfjYIfAaQI/AAAAAAAABpg/CKgr4X2D1nE/s72-c/100_5572_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5713568589863684527</id><published>2009-09-30T11:22:00.001+07:00</published><updated>2009-12-07T11:38:04.504+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku gratis'/><title type='text'>buku gratis bulan september 2009</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyDUzgR-WI/AAAAAAAABqA/9UwQRWKi2Rc/s1600-h/redline_Live-Through-This.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 115px; height: 175px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyDUzgR-WI/AAAAAAAABqA/9UwQRWKi2Rc/s200/redline_Live-Through-This.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412345245638719842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bulan ini, buntelan buku dari penerbit Mahda Books datang seperti memberi kejutan. Sebuah buntelan yang setelah saya buka ternyata: sebuha buku berjudul Live Through This, Debra Gwartney (Mahda Books, Jakarta). Untuk memberikan apresiasi, saya kutipkan sinopsis dan bahkan komentar dari beberapa orang tentang buku ini&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Live Through This (Kekuatan Cinta Seorang Ibu)&lt;br /&gt;Penulis    : Debra Gwartney&lt;br /&gt;Terbit     : Agustus 2009&lt;br /&gt;Penerbit: Redline Publishing &lt;br /&gt;Halaman    : 376&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa besar cinta seorang ibu… terkadang kita menganggap ibu kita membenci kita, tetapi sebenarnya dia sangat mencintai kita. Dalam buku Live Through This kita akan banyak mengetahui bahwa cinta Ibu sangat mendalam, dan kita tidak akan pernah dapat mengetahui sampai kita menjadi orang tua. Walaupun kita tau bahwa mereka mencintai kita, tetapi begitu kita menjadi orang tua kita akan lebih mengetahui bahwa cinta mereka jauh lebih besar dari apa yang kita bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam buku ini selain kita dapat mengetahui betapa besar cinta ibu, kita juga dapat belajar bagaimana seharusnya berinteraksi dengan anak supaya mereka tidak salah sangka. Sungguh sebuah bacaan yang sungguh sayang untuk di lewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah sinopsisnya:&lt;br /&gt; Sejak bercerai dari suaminya, dua anaknya yang pertama, Amanda dan Stephani, selalu membuat masalah, mulai dari menyulut kebakaran di sekolah sampai akhirnya keduanya melarikan diri dan hidup di jalanan. Mereka menjalani kehidupan jalanan yang bebas dengan segala keburukannya. Sang ibu harus berjuang dengan segala keterbatasannya sebagai orangtua tunggal dan pencari nafkah, untuk melindungi dan membawa anaknya kembali pulang.&lt;br /&gt; Live Through This merupakan lukisan tentang usaha habis-habisan Gwartney untuk menemukan kembali puteri-puterinya yang begitu dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Buku inspiratif yang layak untuk disimak."&lt;br /&gt; - Dewi Lestari (Penulis Bestseller Supernova &amp;amp; Recto Verso)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Sebuah kisah yang menyentuh …"&lt;br /&gt; - Hernadi Tanzil (Moderator Komunitas Pasar Buku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Ada banyak hal untuk bahan perenungan dalam buku ini"&lt;br /&gt; - Fla Tofu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Mampu membawa emosi kita …"&lt;br /&gt; - Miranty Abidin (Founder Fortune PR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "… Memoar yang luar biasa"&lt;br /&gt; - Amang Suramang (Moderator Goodreads Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Wajib baca!"&lt;br /&gt; - Sherina Munaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ciputat, 30 September 2009)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5713568589863684527?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5713568589863684527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5713568589863684527' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5713568589863684527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5713568589863684527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/12/buku-gratis-bulan-september-2009.html' title='buku gratis bulan september 2009'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyDUzgR-WI/AAAAAAAABqA/9UwQRWKi2Rc/s72-c/redline_Live-Through-This.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-3390316526178850046</id><published>2009-09-10T18:58:00.001+07:00</published><updated>2009-09-11T19:06:06.875+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku politik'/><title type='text'>Di Balik Penerimaan NU terhadap Pancasila</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/Sqo8H4dqODI/AAAAAAAABpQ/We18bhRhCk4/s1600-h/100_5707_3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 174px; height: 206px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/Sqo8H4dqODI/AAAAAAAABpQ/We18bhRhCk4/s200/100_5707_3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380178810961016882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : NU dan Pancasila: Sejarah dan Peranan NU dalam Perjuangan Umat Islam di Indonesia dalam Rangka Penerimaan Pancasila Sebagai Satu-satunya Asas&lt;br /&gt;Penulis  : Einar Martahan Sitompul&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan  : Kedua, 1996&lt;br /&gt;Tebal buku : 271 halaman (termasuk indeks)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       Dalam panggung sejarah nasional, peranan Nahdhatul Ulama (NU) yang dikenal sebagai organisasi sosial keagamaan atau jam`iyah keagamaan terbesar di Indonesia ini memang telah monorehkan konstribusi tidak sedikit bagi bangsa Indonesia. Organisasi Islam yang berdiri tahun 1926 ini bahkan dicatat memiliki andil besar dalam perjuangan kemerdekaan dan sejarah bangsa pasca-kemerdekaan. Organisasi ini tak hanya bergerak di bidang keagamaan, pendidikan dan sosial, tetapi dalam sejarahnya pernah memasuki kancah politik nasional. Pendek kata, NU menyimpan sejarah panjang dan penuh warna.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan dalam kancah politik praktis setelah memisahkan diri dari Masyumi –pada tahun 1952--, NU kemudian mengikuti pemilu 1955. NU yang memiliki anggota besar, ternyata berhasil meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Tetapi di era Orde Baru NU menggabungkan diri dengan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) pada tanggal 5 Januari 1973 karena desakan penguasa. Sempat mengikuti pemilu pada tahun 1977 dan 1982 (bersama PPP), akhirnya muktamar NU di Situbondo menjadikan NU “Kembali ke Khittah 1926” untuk tidak berpolitik praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tapi, eksistensi NU dalam spektrum yang luas seperti tidak pernah dapat ditepis. Dalam kancah politik, NU memiliki kekuatan atau posisi bargaining cukup kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maklum, NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. NU memiliki kontribusi besar dalam penyusunan Pancasila dan UUD 1945. Sejarah mencatat pada tahun 1945, NU turut menerima dan merumuskan Pancasila dan UUD 1945 –konon dihadiri oleh KHA Wahid Hasyim, KH Masykur dan Zainul Arifin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sejarah NU –sebagai organisasi keagamaan—ketika berhadapan dengan negara, ternyata tidak sepenuhnya terjalin harmonis sepanjang masa. Dalam sejarah, ternyata NU dicatat pernah “berjuang” dalam majlis Konstituante mendirikan negara Islam dan di era pemerintahan Soeharto, NU ternyata tidak keberatan menerima Pancasila sebagai dasar negara. Ada apa di balik penerimaan NU terhadap Pancasila itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Buku NU dan Pancasila ini berusaha mengeksplorasi sejarah NU dalam rentang sejarah mulai dari latar belakang berdirinya organisasi NU, juga pergulatan NU dalam gelanggang perpolitikan nasional hingga sikap penerimaan NU terhadap asas Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Di zaman pemerintahan Soekarno NU pernah berjuang mewujudkan negara Islam tetapi setelah tidak menemui titik terang kemudian Soekarno mengeluarkan Dekrit, NU tak keberatan menerima UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Lalu, di era Soeharto, penguasa bertangan dingin itu pun memaksakan semua organisasi untuk menjadikan Pancasila sebagai asas satu-satunya organisasi. NU sebagai organisasi keagamaan pun mau menerima keberadaan Pancasila. Perubahan sikap yang diperankan NU itu, tidak sedikit orang yang kemudian mengangap NU tidak konsisten. Padahal, di balik keputusan itu ada alasan dan pemikiran yang melatar belakangi sebuah keputusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Memang, pada tahun 1945, NU menerima adanya negara berideologi Pancasila, Itu karena NU melihat negara Indonesia dalam kategori negara yang tergolong dar sulh (negara damai atau sangga), bukan negara Islam dan tidak pula negara yang menentang Islam.  NU menerima konteks Republik Indonesia sebagai dar sulh, sedang perjuangan di Konstitutante sebagai komitmen dar Islam, gagasan untuk mengaplikasikan syari`ah melalui legalisasi Undang-Undang Negara. Komitmen untuk mendirikan negara Islam, sewaktu NU bersama Masyumi berjuang di Majelis Konstituante 1958-1959 memang itu merupakan tuntutan atau perintah dari agama yang harus diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tapi begitu jalan untuk mendirikan negara Islam itu menemui jalan buntu, dan sidang tidak menemukan titik terang. Di tengah kebuntuan itu, Soekarno mengeluarkan Dekrit presiden 5 Juli 1959 --membubarkan Konstituante bahkan menetapkan kembali UUD 1945 dan NU pun mendukung dekrit sekali pun dengan dekrit presiden itu praktis usulan negara Islam tersingkirkan jauh-jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan penerimaan itu, adalah dar sulh (negara damai) --mau tidak mau—harus diterima dengan sepenuh hati. Alasan tentang hal itu didasarkan kaidah fiqh, “ma la yudraku kulluh la yutraku julluh (apa yang tidak mungkin terwujud seluruhnya, tidak boleh ditinggalkan yang terpenting (di dalamnya). Jadi, sedari awal memang cita-cita negara Islam yang diharapkan untuk berdiri tapi ketika jalan itu tidak berhasil, dan yang berdiri Republik Indonesia, kenyataan itu harus diterima yang penting di dalamnya –adanya negara yang memungkinkan melaksanakan ajaran agama (Islam) secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sejarah selanjutnya adalah ketika Soeharto berkuasa dan pada tahun 1983-1984, penguasa rezim Orba memaksakan Pancasila sebagai satu -satunya asas bagi organisasi politik dan organisasi kemasyrakatan. Kondisi ini menghadapkan NU sebagai organisasi besar umat Islam dihadapkan pada sebuah dilema. Tapi, untuk mengatasi permasalahan itu, NU tidak keberatan menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas dan sekaligus kembali ke khittah 1926 –sebagai organisasi keagamaan (jamaah diniyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, ada tiga alasan kenapa NU mau menerima Pancasila. Pertama, NU menerima Pancasila berdasarkan kekayinan bahwa Islam agama fitrah yang mengakui adanya nilai-nilai yang baik dalam masyarakat dan yang dapat disempurnakan melalui pendalaman agama. Kedua, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila dilihat oleh NU sebagai hal yang sama dengan ajaran tauhid dalam Islam. Ketiga, kaum muslimin telah turut merumuskan Pancasila sebagai dasar negara sejak semula dan oleh sebab itu Pancasila itu adalah sah dan merupakan bentuk terakhir dalam perjuangan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan itu, dapat disimpulkan NU adalah organisasi keagamaan yang fleksibel terhadap perbaikan dan perubahan. Tetapi satu hal yang bisa dicatat, bahwa keputusan yang diambil NU kembali ke khittah merupakan keputusan bijak apalagi di era sekarang ini, tidak sedikit orang yang berusaha menyeret NU untuk terlibat dalam arena politik. Padahal, keterlibatan NU dalam politik tak jarang menjadikan NU terkerangkeng dalam sebuah permainan politik yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tanpa terlibat politik, NU tetaplah merupakan jangkar kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Dalam sejarah, NU adalah kekuatan umat dan organisasi keagamaan yang mampu menjaga nilai-nilai persatuan dan kebangsaan. Karena itulah dalam kiprah NU selanutnya, harus diabdikan sepenuhnya kepada bangsa dan kontribusi NU terhadap bangsa ini akan diusahakan akan membangun kekuatan sosial untuk kemajuan rakyat dan umat Islam. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * ) Nur Mursidi, pemerhati dunia buku tinggal di Ciputat, Tangerang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-3390316526178850046?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/3390316526178850046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=3390316526178850046' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3390316526178850046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/3390316526178850046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/09/di-balik-penerimaan-nu-terhadap.html' title='Di Balik Penerimaan NU terhadap Pancasila'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/Sqo8H4dqODI/AAAAAAAABpQ/We18bhRhCk4/s72-c/100_5707_3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-9222451105294954244</id><published>2009-08-30T11:30:00.000+07:00</published><updated>2009-12-07T11:37:37.045+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku gratis'/><title type='text'>buku gratis bulan agustus 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyFi4gLKbI/AAAAAAAABqQ/vmCrpT6aPSA/s1600-h/24824.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 93px; height: 146px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyFi4gLKbI/AAAAAAAABqQ/vmCrpT6aPSA/s200/24824.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412347686521874866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyFivphqrI/AAAAAAAABqI/VNdolbwGyic/s1600-h/24819.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 89px; height: 148px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyFivphqrI/AAAAAAAABqI/VNdolbwGyic/s200/24819.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412347684145179314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyFjDCP7mI/AAAAAAAABqY/I6I4C79fxa8/s1600-h/edelweiss_street-boy.gif"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 96px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyFjDCP7mI/AAAAAAAABqY/I6I4C79fxa8/s200/edelweiss_street-boy.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412347689349148258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seuntai kata, pasti akan memiliki makna. Lantas bagaimana dengan kata yang terangkup dalam sebuah buku? Sudah pasti, tak terhitung dan berjibun makna. Dan aku beruntung, dalam buku ini aku mendapatkan 9 buku gratis. Semoga buku-buku yang ada di bawah ini bisa bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;01. Children of Rose, Rehad Rajby, (Adelweiss, Jakarta)&lt;br /&gt;02. Street Boys; Kisah 7 Anak Jalanan (Adelweiss, Jakarta)&lt;br /&gt;03. Misteri Puncak Ararat, Mahardhika Zifana (Adelweiss, Jakarta)&lt;br /&gt;04. Dahsyatnya Salawat, Ali Khamseh-i Qazwaini (Zahra Pustaka, Jakarta)&lt;br /&gt;05. Buku Pintar Anak Soleh, M Thobroni (Lafal Indonesia, Yogyakarta)&lt;br /&gt;06. Rahsia Sukses Tembus Ujian TPA, Hasnah May Ziadah (Parasmu, Yogyakarta)&lt;br /&gt;07. Melawan dan Mencegah Diabetes, dr Hasan Badani (Araska, Yogyakarta)&lt;br /&gt;08. The Master: Rahasia Permainan Sulap dari Para Pesulap terkenal Dunia (Parasmu, Yogyakarta)&lt;br /&gt;09. 40 Resep Kopi Paling Favorit, Berliana Mahadewi (Araska, Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ciputat, 30 Agustus 2009)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-9222451105294954244?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/9222451105294954244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=9222451105294954244' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/9222451105294954244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/9222451105294954244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/12/buku-gratis-bulan-agustus-2009.html' title='buku gratis bulan agustus 2009'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SxyFi4gLKbI/AAAAAAAABqQ/vmCrpT6aPSA/s72-c/24824.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-1187939479175581532</id><published>2009-08-27T00:01:00.000+07:00</published><updated>2009-08-27T00:00:08.701+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku politik'/><title type='text'>pancasila dan UUD 1945 di era reformasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SpVeklqiMAI/AAAAAAAABo4/ML8mljuye2E/s1600-h/logo+pancasila12.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 122px; height: 183px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SpVeklqiMAI/AAAAAAAABo4/ML8mljuye2E/s200/logo+pancasila12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374305713015369730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;a style="color: rgb(255, 0, 0);" href="http://www.dutamasyarakat.com/artikel-22416-pancasila-dan-uud-1945-di-era-reformasi.html"&gt;duta masyarakat&lt;/a&gt;, kamis 27 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Pancasila dan UUD `45 dalam Paradigma Reformasi&lt;br /&gt;Penulis        : H Subandi Al Marsudi&lt;br /&gt;Penerbit    : Rajawali Pers, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Edisi revisi, 2008&lt;br /&gt;Tebal buku    : xii + 364 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        GELOMBANG reformasi yang bergulir sebelas tahun lalu, memang mengusung setumpuk agenda yang siap ditancapkan untuk membangun kembali Indonesia menjadi negeri yang kokoh atau tidak bopeng. Tak salah, jika agenda reformasi yang digulirkan oleh rakyat itu pun menuntut perubahan di segala bidang, tidak hanya sekedar suksesi kepemimpinan melainkan juga tuntutan perubahan di bidang ekonomi, hukum bahkan politik --tidak terkecuali reformasi sistem ketatanegaraan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;    Salah satu tuntutan reformasi sistem tata negara adalah perubahan/amandemen UUD 1945. Untuk memenuhi tuntutan itu (selama waktu 1999-2002), UUD 1945 telah diamandemen sebanyak empat kali. Tahap-tahap perubahan itu tak bisa ditepis; cermin tuntutan reformasi akan perubahan cara pandang, nilai dan prinsip dalam memecahkan persoalan dan mengantisipasi kebutuhan bangsa dan negara Indonesia di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di sisi lain, latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 itu, di era Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR (bukan di tangan rakyat), kekuasaan yang sangat besar pada Presiden, adanya pasal-pasal yang terlalu luwes (sehingga bisa menimbulkan multitafsir), dan kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Buku Pancasila dan UUD 1945 dalam Paradigma Reformasi karya H. Subandi Al Marsudi bisa dijadikan sebagai referensi dalam menelusuri perubahan-perubahan yang cukup mendasar terhadap UUD 45. Di sisi lain, penulis mengupas keberadaan Pancasila. Sayang, di buku ini, penulis tak mengupas sejarah Pancasila yang sempat menimbulkan perdebatan sengit semisal Piagam Jakarta, sidang Majelis Konstituante yang menjadikan Soekarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli dan Indonesia kembali ke UUD 1945. Di sisi lain, penulis tidak  menyoroti Pancasila di era reformasi yang kerap dijadikan kambing hitam, akibat kekuasaan Orba menafsirkan Pancasila dan membatasi tafsir lain yang berbeda. Adapun satu hal yang baru dari buku ini adalah penjelasan yang detail seputar tahap-tahap amandemen UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    UUD 1945 merupakan hukum dasar tertulis (basic law), konstitusi pemerintahan negara RI. UUD 1945 pun memiliki sejarah panjang. Disahkan sebagai UUD negara oleh PPKI 18 Agustus 1945, UUD 45 sempat digantikan dengan UUD lain sebab 27 Desember 1949 Indonesia memberlakukan Konstitusi RIS dan 17 Agustus 1950 memakai UUDS 1950. Dekrit Presiden 5 Juli 1959, UUD 1945 pun diberlakukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sejak reformasi bergulir, selama 1999-2002, UUD 1945 sudah mengalami 4 kali perubahan (amandemen). Ada beberapa perbedaan sebelum dan sesudah amandemen. Sebelum amandemen UUD 1945 terdiri Pembukaan, Batang Tubuh (16 bab, 37 pasal, 65 ayat (16 ayat berasal dari 16 pasal yang hanya terdiri dari 1 ayat dan 49 ayat berasal dari 21 pasal yang terdiri dari 2 ayat atau lebih), 4 pasal Aturan Peralihan, dan 2 ayat Aturan Tambahan), serta Penjelasan. Setelah 4 kali perubahan, UUD 1945 mencakup; 20 bab, 73 pasal, 194 ayat, 3 pasal Aturan Peralihan, serta 2 pasal Aturan Tambahan. Juga, penjelasan UUD 45 telah ditiadakan (diadakan pencabutan secara diam-diam/implicit), lahirnya lembaga-lembaga baru seperti DPD (lihat Bab VIIA pasal 22C dan 22D) Komisi Yudisial (Pasal 24B), Mahkamah Konstitusi (lihat Pasal 24C) dan dihapusnya lembaga lama, yakni DPA (Bab IV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selain itu, perbedaan lain setelah diamandemen adalah berkurangnya kekuasaan dam wewenang (juga berubahnya) kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, yakni tidak lagi tak terbatas, tidak lagi menetapkan GBHN (Pasal 3 ayat (1), tidak lagi memilih Presiden dan  Wakil Presiden (lihat Pasal 6A ayat (1),). Dengan kata lain, MPR menjadi lembaga negara biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tuntutan reformasi 98 adalah adanya perubahan UUD 1945. Tujuan perubahan itu menyempurnakan aturan dasar, seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi negara demokrasi dan negara hukum, dan hal-hal lain yang sesuai perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Perubahan UUD 1945 itu, tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, tetap mempertahankan susunan kenegaraan (staat structuur) kesatuan atau selanjutnya lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mempertegas sistem pemerintahan presidensiil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perubahan yang telah dilakukan sebayak 4 (empat) kali (sejak tahun 1999-2002) terhadap UUD 1945, tak bisa disangkal telah mewarnai kehidupan ketatanegaraan. Dari hasil amandemen UUD 1945 itu, setidaknya telah membawa implikasi perubahan yang cukup signifikan terhadap sistem perpolitikan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi, jika dikritisi secara komprehensif, amandemen UUD 1945 yang dilakukan MPR  itu dapat dikata belum sepenuhnya jadi problem solving penyelesaian masalah ketatanegaraan bangsa Indonesia selama kurang lebih enam dasawarsa di bawah UUD 1945 sebelum amandemen. Selain itu, amandemen UUD 1945 masih jauh dari semangat reformasi Mei 1998, yakni semangat membangun negeri Indonesia ke arah kehidupan ketatanegaraan yang demokratis dan semangat untuk menata kelembagaan negara serta hubungan antar-lembaga negara yang sesuai dengan prinsip saling mengontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Meski amandement sudah memberikan warna lain, tapi masih belum memenuhi tuntutan rakyat secara terang benderang. Ada tiga faktor yang menjadi penyebab kenapa hasil amandemen UUD 1945 masih belum memberikan titik terang benderang. Pertama, MPR yang menjadi satu-satunya institusi negara mendapat mandat rakyat dan memiliki kewenangan melakukan amademen UUD 1945 sesuai dengan Pasal 37 UUD 1945, tetapi dalam melakukan amandemen UUD 45 tak punya paradigma perubahan dan kerangka kerja (framework) yang jelas, sehingga menjadikan hasil amandemen UUD 1945 parsial, tak komprehensif, memenuhi pesanan kekuasaan, berdasarkan keadaan dan kebutuhan. Pendek kata, amandemen hanya sepotong-sepotong atau tidak lebih tambal sulam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kedua, adanya tarik-menarik dan tawar-menawar (bargaining politic) elit politik. Ketiga, aspirasi rakyat yang nyaris tak mendapat wadah, karena minimnya keikutsertaan rakyat dalam proses amandemen UUD 1945. MPR tak maksimal dan sungguh-sungguh memberi ruang pada rakyat untuk berpartisipasi dalam proses amandemen. Perjaringan aspirasi rakyat hanya formalitas guna memenuhi mekanisme dan prosedur. Padahal, hal ini jadi bagian penting dalam proses amandemen UUD 45 terutama dalam membangun sense of belonging dan keyakinan rakyat pada hukum dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    UUD 1945 sudah diamandemen 4 kali. Tetapi, berbagai problem ketatanegaraan muncul satu per satu mewarnai ketatanegaraan Indonesia. Tak salah, jika agenda untuk melakukan amandamen kelima tidak lagi sebagai hal tabu.  ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * ) Nur Mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-1187939479175581532?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/1187939479175581532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=1187939479175581532' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1187939479175581532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/1187939479175581532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/08/pancasila-dan-uud-1945-di-era-reformasi.html' title='pancasila dan UUD 1945 di era reformasi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SpVeklqiMAI/AAAAAAAABo4/ML8mljuye2E/s72-c/logo+pancasila12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-5722267178295163778</id><published>2009-08-23T21:33:00.001+07:00</published><updated>2009-08-26T23:23:04.024+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku biografi'/><title type='text'>meski catat tetap mengukir prestasi gemilang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SowQh3M-rBI/AAAAAAAABoY/5g_rRkOGOos/s1600-h/100_5193.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 127px; height: 182px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SowQh3M-rBI/AAAAAAAABoY/5g_rRkOGOos/s200/100_5193.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371686629486275602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi buku ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Anggun&lt;/span&gt; edisi 8/II/Sep 09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul        : Footnotes: Hidup Tanpa Batas&lt;br /&gt;Penulis        : Lena Maria&lt;br /&gt;Penerbit    : Dastan, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, Mei 2009&lt;br /&gt;Tebal buku    : 248 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Lahir dengan kondisi fisik catat, bagi sebagian besar orang, pasti akan dianggap sebagai kutukan. Pasalnya kecatatan fisik itu dianggap sebagai penghalang untuk meraih kesuksesan hidup. Apa yang bisa dilakukan orang normal, bisa jadi tidak bisa ia lakukan. Alhasil, orang yang lahir dalam keadaan cacat itu pun kemudian lebih mengutuk dirinya daripada mensyukuri apa bisa ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagi Lena Maria tidak demikian. Wanita luar biasa ini ternyata bisa sukses menjadi pemenang 4 medali emas dan bisa hidup mandiri sebagaimana orang normal, meski ia terlahir tanpa tangan dan hanya memiliki satu kaki yang tumbuh normal, sebab kaki kiri hanya tumbuh setengah kaki kanan. Kekuatan apa di balik semua itu, sehingga Lena bisa mengukir prestasi gemilang meski fisiknya cacat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lebih suka mensyukuri apa yang bisa aku lakukan, bukannya meratapi apa yang tak bisa kulakukan,” demikian pengakuan jujur Lena --sebagaimana diungkapkan buku Footnotes: Hidup Tanpa Batas ini. Di samping itu, Lena juga tak pernah menyesali keadaan dirinya yang lahir tidak normal, melainkan merasa hidup sebagaimana orang normal. Tak mustahil, jika Lena kemudian menjalani hidup dengan senang dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, saat Lena lahir ke dunia, orangtuanya sempat dihadapkan keprihatinan karena menjumpai sang buah hati lahir cacat. Tetapi, itu tidak berlangsung lama karena orangtua Lena kemudian memutuskan untuk bersikap bijak; ia tidak menitipkan Lena di institusi khusus untuk anak-anak cacat melainkan mengasuk sendiri Lena dengan kasih sayang, perhatian penuh dan mengembangkan bakat yang dimiliki Lena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah jika Lena menceritakan bahwa masa kecilnya dilewati dengan bahagia, merasa aman, dan selalu melihat masa depan dengan tanpa melihat kekurangan yang ia miliki karena orangtua Lena selalu menekankan, “Kelebihanku dilihat dari jiwaku dan bukan dari penampilanku.” Semua faktor itulah, yang pada akhirnya mengantarkan Lena selalu positif dalam menjalani hidup; tidak minder, menjalani sekolah dengan mandiri dan kemudian meraih prestasi cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat latihan renang yang diberikan oleh orangtuanya saat Lena berusia 3 tahun pada akhirnya, Lena terpilih sebagai wakil kelas dalam lomba renang. Umur 18 tahun, ia memenangkan tiga medali perak, dan itu mengantarnya menjadi atket nasional Swedia. Karier puncak Lena, adalah ketika ia mengikuti Paralympic Games 1988 di Seoul, Korea Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain renang, Lena juga menekuni bidang lain. Ia bisa bermain piano, menyetir mobil, menulis, menyulam, memasak, melukis dan aktivitas lain seperti yang dilakukan orang normal. Dalam bidang musik, Lena sudah melakukan konser di sejumlah negara dan bahkan sudah merilis 15 album.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang bisa disebut sebuah momoir ini tak bisa disangkal, cukup menyentuh hati. Ditulis dengan runtut, mulai dari Lena kecil, remaja bahkan masa memprihatinkan yang harus dilalui Lena, dapat dipastikan jika buku ini akan memberikan inspirasi pada pembaca. Pasalnya, Lena yang lahir catat saja bisa sukses mengukir prestasi gemilang, bagaimana dengan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, buku ini juga layak dibaca para orangtua sebab buku ini memberikan pelajaran penting dalam mendidik anak. Karena buku ini, memberikan kiat, pengalaman dan bentuk kasih sayang dalam mendidik anak cacat. Karena bagiamana pun anak cacat itu tetaplah manusia, yang tak harus dikutuk melainkan sudah semestinya diberi perhatian dan kasih sayang. (n. mursidi, peresensi buku tinggal di Ciputat Tangerang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-5722267178295163778?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/5722267178295163778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=5722267178295163778' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5722267178295163778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/5722267178295163778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/08/meski-catat-tetap-mengukir-prestasi.html' title='meski catat tetap mengukir prestasi gemilang'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SowQh3M-rBI/AAAAAAAABoY/5g_rRkOGOos/s72-c/100_5193.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-277852625459930799</id><published>2009-08-20T12:30:00.002+07:00</published><updated>2009-08-20T15:12:19.986+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kabar seputar dunia buku'/><title type='text'>diskusi "Kerasnya Jalan Berdebu, Lembutnya Kasih Ibu" dan launching buku Live Through This</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SowpOwRTb5I/AAAAAAAABoo/q5irUzb_VcU/s1600-h/5969_1186607218313_1022260384_597522_4419177_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 385px; height: 232px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SowpOwRTb5I/AAAAAAAABoo/q5irUzb_VcU/s200/5969_1186607218313_1022260384_597522_4419177_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371713788998545298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sabtu Sore, 8 Agustus 2009. Komunitas Goodreads Indonesia bekerja sama dengan RedLine Organiz&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SozkAwVTlSI/AAAAAAAABow/gVIkEM5dtM4/s1600-h/cover+buku+live+through+this.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 152px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SozkAwVTlSI/AAAAAAAABow/gVIkEM5dtM4/s200/cover+buku+live+through+this.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371919157171557666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;er menggelar acara diskusi "Kerasnya Jalan Berdebu, Lembutnya Kasih Ibu" dan launching buku Live Through This -yang bertempat di Gedung Gramedia Matraman, lantai 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Acara yang digelar pukul 15.00-17.00 WIB itu boleh dikata mampu menyedot perhatian komunitas &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;buku dan pengunjung dari berbagai kalangan. Tak mustahil, kursi pengunjung yang disedikan oleh panitia nyaris penuh --dihadiri kurang lebih sekitar 40 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum acara diskusi "Kerasnya Jalan Berdebu, Lembutnya Kasih Ibu" dimulai, Mhd. Haikal --pemilik Redline Publishing yang menjadi payung penerbit Mahda Books memberikan sambutan dengan membawa buku terjemahan Live Through This bersampul putih dengan gambar seorang perempuan mudu duduk menatap ke belakang. Usa&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;i MHd Haikal memberikan sambutan, acara diskusi "Kerasnya Jalan Berdebu, Lembutnya Kasih Ibu" dimulai. Diskusi yang menghadirkan Soesilo (Rektor Sekolah Otonom Sanggar Akar, Jakarta), Layli Dayanti (dari Goodreads Indonesia dan Psikolog) serta Miranty Abidin (pengusaha dan seorang ibu) membincangkan problem  kehidupan orangtua (terutama ibu) dan anak mulai dari peran yang harus diemban oleh seorang ibu, cara menghadapi seorang anak ketika dalam masalah, dan bagaimana membangun hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak agar tercipta sebuah komunikasi yang saling menghargai dan menyejukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela diskusi itu, Susilo yang sudah lama berkecimpung mengurusi anak-anak di jalan mengisahkan suka duka dan pengalaman cukup mengesankan tentang anak-anak asuh yang ia didik. Sementara Layli Dayanti menyoroti berbagai masalah seputar hubungan orangtua-anak dari sisi psikologis. Adapun Miranty Abidin menekannya adanya keterbukaan seorang ibu dan anak. Karena  adanya komunikasi yang terjalin, saling terbuka dan berbagi cerita bisa menjadikan "sekat" itu tidak lagi menjadi penghalang jika anak punya masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum acara diskusi usai, Rosmi Julitasari --selaku moderator- meminta pendapat dari narasumber untuk mengungkapkan kesan yang didapatkan dari buku Live Through This. Buku karya Debra Gwartney itu, tidak dimungkiri oleh tiga narasumber akan memberikan sumbangan bagi hubungan orangtua dan anak. Maklum, karena buku Live Through This tersebut mengisahkan petualangan dan kisah cinta seorang ibu yang dengan susah payah upaya berusaha menemukan kedua anaknya yang meninggal rumah dan memilih hidup di jalanan Amerika, bersahabat dengan narkotika, dan terlibat begitu banyak hal yang tidak terbayangkan pada diri Debra sebelumnya. Setelah 9 tahun, pada akhirnya usaha Debra mencari kedua anaknya yang lari mendapatkan jawaban. Itulah sekelumit kisah biografis yang terangkum dalam buku "Live Through This" terbitan Redline Publishing, bulan Agustus 2009 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara semakin meriah, karena cermin tanya jawab mendapat sambutan yang hangat dari hadirin. Apalagi, dalam kesempatan kali itu panitia memberikan hadiah buku untuk tiga penanya. Selain itu, hadiah buku juga diberikan pada hadirin yang berhasil terpilih untuk mengungkapkan ungkapan cinta yang cukup mengesankan panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ditutup sekitar pukul 17.15 WIB tapi sebelum penutupan itu, diakhiri dengan pembacaan sepenggal kisah buku Live Through This.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-277852625459930799?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/277852625459930799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=277852625459930799' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/277852625459930799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/277852625459930799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/08/diskusi-kerasnya-jalan-berdebu.html' title='diskusi &quot;Kerasnya Jalan Berdebu, Lembutnya Kasih Ibu&quot; dan launching buku Live Through This'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SowpOwRTb5I/AAAAAAAABoo/q5irUzb_VcU/s72-c/5969_1186607218313_1022260384_597522_4419177_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-355482410590994580</id><published>2009-08-20T08:51:00.000+07:00</published><updated>2009-08-20T08:40:18.862+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku politik'/><title type='text'>potret hubungan Islam dan Negara di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SowSQ1HLX3I/AAAAAAAABog/F8bO5HIyfHE/s1600-h/cover+ISLAM_DAN_PANCASILA.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 148px; height: 222px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SowSQ1HLX3I/AAAAAAAABog/F8bO5HIyfHE/s200/cover+ISLAM_DAN_PANCASILA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371688535890550642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;duta masyarakat&lt;/span&gt;, kamis 20 agustus 09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara; Studi tentang Perdebatan dalam Konstituante&lt;br /&gt;Penulis        : Ahmad Syafi`i Ma`arif&lt;br /&gt;Penerbit    : Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : (Edisi Revisi) Pertama, 2006&lt;br /&gt;Tebal buku    : xxi + 228 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Hubungan antara agama dan negara dalam konteks Indonesia -tidak dimungkiri-  kerap menjadi perdebatan sengit, bahkan dalam suasana stigmatis. Perdebatan itu tak hanya terjadi di tingkat wacana, melainkan telah diikuti tuntutan riil tentang konsep negara Islam yang perlu dibumikan di Indonesia. Sejarah mencatat, sejak Indonesia merdeka tuntutan untuk menjadikan Islam sebagai ideologi dan dasar negara itu seperti tidak pernah surut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Silang perdebatan dalam menerapkan syari`at Islam secara total dalam menata kehidupan sosial-politik, setidaknya dapat ditengok sejak mula Indonesia mendapatkan anugerah kemerdekaan. Dengan belum tersedianya seperangkat aturan dan sistem yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, beberapa pemimpin umat Islam berupaya mendesakkan syari`at Islam untuk diterapkan. Tuntutan itu pun sempat terakomodir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi, tuntutan yang semula terakomodir dengan perkataan… “dengan kewajiban menjalankan syari`at Islam bagi pemeluk-pemeluknya… yang tertuang di mukadimah dan pasal 29 UUD 1945 ternyata tidak berlangsung lama. Pada tanggal 18 Agustus 1945, setelah melewati saat-saat kritis, perkataan itu pun dicoret. Meski kemudian modifikasi sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu dapat dikata jadi jalan tengah yang diilhami dari konsep tauhid tapi wakil-wakil umat Islam masih merasa keberatan dengan formula baru Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Usai pemilu 1955, tuntutan untuk memperjuangkan dasar negara Islam seperti mendapatkan momentum kembali. Sejarah mencatat, sidang Majelis Konstituante di bawah kepemimpina Ir Soekarno untuk menentukan dasar negara Islam atau pancasila, tak mencapai keputusan final. Perdebatan sengit selama sidang antara partai-partai Islam dan pendukung Pancasila dalam mengokohkan dasar negara menemui jalan buntu. Selama kurang lebih dua puluh bulan --November 1957 sampai Juni 1959— tidak ada kata sepakat. Konstitusi menemui jalan buntu serius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di tengah kebuntuan itu, Soekarno sebagai penguasa yang didukung militer lalu melakukan intervensi. Soekarno mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959. Dengan keluarnya Dekrit Presiden itu, Soekarno membubarkan Konstituante dan menetapkan kembali UUD 1945 dan menyingkirkan usulan dasar Islam. Tentu, rekam jejak saat-saat genting perdebatan sidang Majelis Konstituante tentang dasar negara itu sangat menarik untuk dicermati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi Komprehensif&lt;br /&gt; Buku Ahmad Syafi`i Ma`arif yang berjudul Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara; Studi tentang Perdebatan dalam Konstituante ini coba merekam “perdebatan antara wakil-wakil partai Islam yang menghendaki Islam sebagai dasar negara dan wakil partai nasionalis yang mendukung Pancasila. Buku terjemahaan dari desertai penulis di Chicago Universy ini, cukup kompatibel jadi referensi tentang perdebatan sengit dasar negara Indonesia dalam sidang Majelis Konstituante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam Majelis Konstitusi,  pada awalnya ada tiga rancangan (draf) tentang dasar negara yang diajukan oleh tiga fraksi. Ketiga rancangan itu adalah; Pancasila, Islam dan Sosial-Ekonomi (diajukan Partai Murba dan Partai Buruh). Tetapi, draf Sosial Ekonomi tersebut seperti kehilangan gaung. Sementara perdebatan sengit dari wakil partai Islam –yang menginginkan Islam sebagai dasar negara- dan partai nasionalis yang mendukung Pancasila mewarnai sidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wakil dari partai Islam meneguhkan bahwa tuntutan untuk membumikan Islam sebagai dasar negara itu, tidak lain merujuk realitas kehidupan sejarah di masa nabi saat membangun Madinah. Tapi di mata Syafi`i, Islam cita-cita yang terbangun di masa nabi itu kerap tidak dipisahkan oleh para penggagas negara Islam yang berada dalam dimensi Islam sejarah. Padahal sebagaimana diungkapkan Fazlur Rahman, antara Islam cita-cita dan dan Islam sejarah, “Harus ada kaitan positif dan dapat dipahami agar gerak maju dari yang riil menjadi mungkin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Umat Islam Indonesia, tak bisa ditepis memiliki idealisme itu. Sayang, sebagian besar dari mereka –di mata Syafi`i—masih kekurangan visi yang cukup dan kemampuan intelektual dalam memahami jiwanya yang dinamik dan kreatif. Tetapi –sekali pun tak berhasil— perjuangan umat Islam Indonesia dalam menegakkan dasar Islam di sidang Majelis Konstituante tahun 1950-an, adalah bagian dari upaya membumikan Islam cita-cita dalam konteks politik kenegaraan sebagaimana yang dipahami wakil partai Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain merujuk kehidupan zaman nabi, wakil partai Islam merujuk teori politik Islam sebagaimana yang digagas Jamal ad-Din al-Afghani, Abduh, Rasyid Ridha, dan lain-lain. Dari modernisme Islam yang diwariskan para pendahulu itu, wakil-wakil Islam seperti Tjokroaminoto, Agus Salim, Sukiman dan Natsir hendak membangun pilar Islam sebagai dasar negara di bumi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sayang, konteks Indonesia yang kemudian menjadikan Pancasila sebagaimana digagas untuk merangkup kebhinnekaan nusantara itu lebih menguat di bawah tangan Soekarno. Soekarno yang sedari awal memuja sekularisme Turki, membubarkan Sidang Konstituante yang waktu itu tidak menghasilkan kesepakatan, sehingga keluarlah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dengan Dekrit itu, Indonesia mengukuhkan sistem politik baru --dikenal dengan Demokrasi Terpimpin –sehingga tertutup pintu untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab Tantangan Zaman&lt;br /&gt; Meski kajian yang ditulis oleh mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini adalah terjemahan disertasi dan pernah diterbitkan tahun 1985, tapi tema buku ini masih tetap memiliki relevansi dengan kondisi Indonesia saat ini. Memang, isu tentang negara Islam tak mengeras lagi, tapi isu negara Islam seperti tak pernah padam. Sayangnya, tuntutan yang kerap didegungkan kelompok Islam garis keras lebih memilih jalan undergroun dengan jalan melakukan teror, bukan lewat jalur partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keinginan membumikan negara Islam itu, semata-mata dilatarbelakangi beban sejarah untuk mengembalikan “harkat dan martabat umat Islam” yang terpuruk akibat penindasan politik dan ekonomi Barat. Sayang jihad melawan Barat itu bukan membuat Islam menjadi cemerlang, melainkan justru mendapat citra yang kian jauh darai kesan damai karena Islam ditengarai agama yang tidak membawa misi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di sisi lain, kekuatan PKS yang solid dan berjuang lewat jalan partai jika ditelisik lebih jauh juga bukan karena mengangkat isu negara Islam melainkan lebih pada konsep yang dijual ingin yang menjadi partai yang bersih. Jadi upaya untuk mengangkat lagi isu negara Islam sudah tidak lagi menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apalagi, dalam teks al-Qur`an maupun hadits nabi, penulis tak menemukan pola teori tentang negara yang harus diikuti umat Islam di berbegai negara, dengan catatan asal prinsip syura dijalankan dan dihormati. Teori politik Islam yang dikembangkan pemikir muslim, seperti al-Baqillani dan al-Mawardi tidak lebih usaha intelektual untuk menjawab tantangan zaman. (Nur Mursidi, alumnus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-355482410590994580?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/355482410590994580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=355482410590994580' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/355482410590994580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/355482410590994580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/08/potret-hubungan-islam-dan-negara-di.html' title='potret hubungan Islam dan Negara di Indonesia'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SowSQ1HLX3I/AAAAAAAABog/F8bO5HIyfHE/s72-c/cover+ISLAM_DAN_PANCASILA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-7682225558690620963</id><published>2009-08-17T14:36:00.003+07:00</published><updated>2009-08-17T16:43:46.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku agama'/><title type='text'>Menyingkap Rahasia Ayat Kursi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SokLFwnelgI/AAAAAAAABoQ/4LbELPwnNfc/s1600-h/100_5176_2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 189px; height: 164px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SokLFwnelgI/AAAAAAAABoQ/4LbELPwnNfc/s200/100_5176_2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370836224193762818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Resensi ini dimuat di majalah &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;hidayah&lt;/span&gt; edisi 97 sept 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Rahasia Ayat Kursi&lt;br /&gt;Penulis        : Muhammad Alcaff&lt;br /&gt;Penerbit    : Zahra Pustaka, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, Juni 2009&lt;br /&gt;Tebal buku    : 204 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Ayat Kursi bukanlah ayat yang asing bagi umat Islam. Hampir semua umat Islam bisa dipastikan mengetahui dan mengenal ayat Kursi. Bahkan tak sedikit dari mereka itu kerap kali membaca ayat Kursi dan hapal di luar kepala. Maklum ayat Kursi menduduki posisi yang istimewa dan merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mustajab dalam khazanah Islam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  Tetapi, tidak sedikit dari umat Islam yang sudah membaca berkali-kali dan hapal ayat Kursi tersebut bisa jadi tidak tahu akan rahasia dan keagungan yang dikandungnya. Padahal, dalam ayat kursi itu tersimpan berkah, keampuhan, dan keajaiban bagi umat Islam untuk bisa dijadikan sebagai obat dan bahkan sebagai solusi untuk memecahkan masalah atau problem kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Keajaiban, keampuhan dan berkah dari ayat Kursi itulah yang coba diselami dan dibongkar Muhammad Alcaff dalam buku Rahasia Ayat Kursi ini. Sebab bagi penulis, ayat Kursi menyimpan rahasia yang bisa menjadi sebuah kunci, solusi dan jawaban dari sejumlah persoalan hidup dengan menjadikan ayat Kursi itu sebagai zikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Hal itu tidak lain karena ayat Kursi mengandung makrifat dan ilmu yang agung bahkan dalam. Makrifat yang dapat memancarkan berkah karena di dalam ayat tersebut terdapat makna tauhid yang murni yang diwakili oleh kalimat Allahu la ilaaha illa huwa (Allah, tiada Tuhan yang patut disembah selain Dia). Selain itu, dalam ayat Kursi itu juga menunjukkan akan kekuasaan dan kemandirian mutlak Allah, di mana seluruh asma Allah selain asma Zat-Nya kembali kepadanya (hal. 61). Tidak salah, jika ayat Kursi itu kemudian disebut-sebut sebagai penghulu al-Qur`an sebab merupakan ayat yang paling agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dengan kandungan makrifat (tauhid), ilmu, tanda kekuasaan dan kemandirian Allah itulah, tidak mustahil jika ayat Kursi mengandung keajaiban dan bahkan mukjizat yang jika diamalkan bisa mengatasi berbagai masalah. Sebagaimana dijelaskan penulis, keagungan ayat Kursi itu ketika digunakan bisa mengatasi berbagai masalah, seperti bisa memudahkan rezeki, mengobati penyakit,  menghilangkan kesedihan, menghindar dari  bencana dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Salah satu hadits nabi terkait keberkahan ayat Kursi adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa nabi Muhammad pernah bersabda, “Wahai Ali, engkau harus membaca ayat Kursi. Sebab dalam setiap huruf dari ayat Kursi itu terdapat seribu keberkahan dan seribu rahmat, di mana dengan membacanya engkau akan mendapatkan semua itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Apa yang diungkap penulis seputar rahasia ayat Kursi tersebut didasarkan pada  referensi khazanah keislaman. Penulis mengungkap rahasia “keagungan ayat Kursi” itu dari kumpulan hadits, riwayat dari para sahabat dan tabi`in bahkan pengalaman ulama-ulama besar. Bahkan, penulis “berani” menjamin kitab hadits dan tafsir yang dijadikan sebagai sandaran itu tergolong muktabar di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dengan sandaran hadits dan riwayat itulah, tidak diragukan lagi jika rahasia ayat Kursi yang diungkap oleh penulis dalam buku ini bisa dijadikan sebagai buku pegangan untuk dibaca, kemudian dipraktekkan. (n mursidi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-7682225558690620963?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/7682225558690620963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=7682225558690620963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7682225558690620963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/7682225558690620963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/08/menyingkap-rahasia-ayat-kursi.html' title='Menyingkap Rahasia Ayat Kursi'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SokLFwnelgI/AAAAAAAABoQ/4LbELPwnNfc/s72-c/100_5176_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-634617071104767842</id><published>2009-08-14T20:32:00.004+07:00</published><updated>2009-08-14T20:42:08.373+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi buku politik'/><title type='text'>menyegarkan kembali pemahaman dan reposisi pancasila</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SoVpNafSUjI/AAAAAAAABoI/4ecC4alSmdE/s1600-h/cover+buku+negara+pancasila.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SoVpNafSUjI/AAAAAAAABoI/4ecC4alSmdE/s200/cover+buku+negara+pancasila.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369813809878946354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;resensi ini dimuat di &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;duta masyarakat&lt;/span&gt;, Kamis 13/08/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : Negara Pancasila; Jalan Kemaslahatan Berbangsa&lt;br /&gt;Penulis        : As`ad Said Ali&lt;br /&gt;Penerbit    :  Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan        : Pertama, Februari 2009&lt;br /&gt;Tebal buku    :  xxxii + 340 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Sudah enam puluh empat tahun Indonesia merdeka. Tapi, negeri yang dibangun di atas pijakan jiwa, ruh dan keluhuran budi kebhinnekaan nusantara oleh para pendiri bangsa ini, seperti “kehilangan pegangan”. Memang, Indonesia sudah berkali-kali ganti rezim. Sayang, setiap rezim yang berkuasa seperti terjerumus dalam kubangan lumpur tafsir sepihak ketika menafsirkan Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Kelahiran era reformasi yang diharapkan oleh banyak pihak bisa mengembalikan kemudi perjalanan sejarah bangsa Indonesia, ternyata tak seperti yang diharapkan. Elit politik kerap mengambil jalan pintas yang pragmatis dan Pancasila yang sudah dijadikan sebagai dasar negara pun kembali digugat. Di sisi lain, pertarungan ideologi dunia hadir “mengepung” tanggul Pancasila yang sudah enam puluh empat tahun dijadikan sebagai ideologi. Padahal, Pancasila menyimpan energi dan kekuatan besar untuk mengantarkan bangsa Indonesia sebagai negara besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Di tengah kebimbangan bangsa Indonesia dalam memegang teguh dasar negara itu, As`ad Said Ali –lewat buku ini—ingin meneguhkan kembali akan kemudi perjalanan bangsa Indonesia untuk memeluk era-erat Pancasila sebagai kompas atau rambu-rambu dalam menyelenggarkan negara agar tidak melenceng dari nilai-nilai dan norma-norma yang telah dijadikan sebagai kontrak sosial bersama sejak Indonesia merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sebab di mata penulis buku ini, Pancasila merupakan “pilihan ideologi” yang pas buat Indonesia. Pancasila digagas para pendiri bangsa dengan semangat yang cemerlang karena hasil kesepakatan dari beberapa pilihan yang pas sebagai dasar negara. Pilihan itu pun bisa dikatakan tidak serampangan karena didasarkan karakter bangsa untuk jadi sebuah negara modern yang tidak sekuler dan juga tidak sebagai negara agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tapi ruang terbuka untuk menafsirkan Pancasila itu seperti tak bisa menjejakkan kaki yang kuat dalam membawa “kemudi” bangsa Indonesia.  Tarsir yang dilakukan oleh rezim berkuasa kerap terseret pada sebuah kepentingan. Pada paruh kedua tahun 1950-an misalnya, Pancasila menjadi simbol kelompok nasionalis. Kelompok Islam, sekali pun turut berperan merumuskan Pancasila, seakan tak berhak memilikinya. Bahkan sempat ada perselisihan gagasan dalam Konstituante. Kemudian Pancasila diambil alih negara. Pada era Demokrasi Terpimpin, Soekarno memonopoli tafsir dan meletakkan Pancasila sebagai “benda keramat”, di mana “Pancasila adalah “Azimat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tidak beda jauh di era Soekarno, di masa Soeharto Pancasila kembali dijadikan sebagai “azimat” yang tak bisa diganggu gugat. Soeharto tidak memberi ruang tafsir lain di luar versi negara. Untuk mendukung ambisi tersebut, Soeharto kemudian menjadikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) sebagai satu-satunya tafsir resmi negara. Pancasila dijadikan sebagai alat legitimasi kekuasaan Soeharto. Tak disangkal, jika ada yang menafsirkan Pancasila secara berbeda, pastilah dituding anti-Pancasila. Setelah Soeharto jatuh, Pancasila ironisnya dijadikan sebagai kambing hitam. Pancasila seakan identik dengan Orba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pancasila sudah semestinya dijadikan sebagai kompas, rambu-rambu atau filter budaya terhadap pengaruh dari luar. Tetapi, Pancasila yang cukup longgar memberikan ruang tafsir, ternyata ditafsirkan secara sepihak berdasarkan kepentingan politik jangka pendek oleh golongan tertentu. Tak pelak, saat Orde Baru menjadikan Pancasila sebagai payung untuk bertindak represif, hal itupun kemudian berakibat fatal. Tatkala Orde baru tumbang, Pancasila yang menjadi kristalisasi dari setiap tindakan represif itu dianggap tumbang dan runtuh. Alhasil, rakyat seperti kehilangan pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kondisi di atas, kian meneguhkan rakyat untuk “melupakan” Pancasila. Padahal, tindakan melupakan Pancasila akan membuat bangsa Indonesia kembali pada titik nol. Karena itu, melalui buku ini As`ad (yang menjadi Wakil Kepala BIN sejak tahun 2001) mengajak pembaca menyegarkan kembali pemahaman dan reposisi terhadap Pancasila. Bagi penulis, setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa digarisbawahi dalam rangka menyegarkan kembali pemahaman dan reposisi terhadap Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pertama, Pancasila tak semestinya diperlakukan sebagai ideologi komprehensif seperti ideologi-ideologi besar dunia yang dapat mengatur semua hal, melainkan sebuah ideologi yang “belum jadi”. Tak salah, jika kemudian terbuka ruang tafsir dan karena itu  Pancasila sebagai “ideologi terbuka”. Kedua, karena sebagai “ideologi terbuka” maka tak ada satu pun yang boleh melakukan hegemoni atau monopoli tafsir. Tidak ada pilihan lain, kecuali Pancasila harus dikembalikan pada posisi semula sebagai konsensus dasar atau kontrak sosial dari seluruh elemen masyarakat. Ketiga, Pancasila harus diletakkan sebagai ideologi dan dasar negara. Pancasila haruslah diletakkan dalam ruang publik, di mana setiap kelompok masyarakat dapat saling mengisi ataupun berinteraksi memenuhi kebutuhan kolektif berlandas kebangsaan kenegaraan. (hal. 311-312)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan menyegarkan kembali pemahaman dan reposisi Pancasila sebagaimana digagas oleh para pendiri bangsa zaman kemerdekaan dulu, tidak ada harapan lain bagi penulis buku ini kecuali ingin menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang sesuai dengan karakter kebhinnekaan yang dimiliki oleh rakyat Indonesia. Apalagi, Pancasila lahir dari jiwa dan ruh kebangsaan. Tidak mustahil, ketika energi Pancasila itu dikelola dengan benar, tak pelak lagi; bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan disegani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jika elite politik kita sadar dan kemudian mau memahami kembali pemahaman Pancasila sebagai ideologi dan dasar negera, kekuatan yang dikandung dalam butir-butir Pancasila itu tidak disangkal lagi merupakan  sebuah energi besar yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.  Karena pancaran dari Pancasila itu bisa menjadi semacam cita-cita bersama berbangsa dan bernegara yang siap menjadi penerang bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Buku setebal 340 halaman ini, selain menjelentrehkan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, juga membahas dengan detail kaitan antara Pancasila dengan agama. Juga, menjelaskan sila-sila dari Pancasila, bahkan mendedahkan ancaman dari ideologi-ideologi lain yang lagi “mengepung” benteng Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Benang merah yang bisa dipetik dari ulasan buku ini tak lain bahwa penulis ingin mengembalikan kemudi perjalanan bangsa Indonesia ke rel yang sejak awal digagas oleh para pendiri bangsa. Sebab itu, penulis mencoba menyegarkan kembali pemahaman dan reposisi Pancasila. Penulis berharap Pancasila kembali dijadikan kompas/rambu-rambu dalam menyelanggerakan negara, sehingga perjalanan bangsa “mengarungi” masa depan nanti tidak lagi kehilangan kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Nur Mursidi, alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8639582617682449655-634617071104767842?l=etalasebuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://etalasebuku.blogspot.com/feeds/634617071104767842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8639582617682449655&amp;postID=634617071104767842' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/634617071104767842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8639582617682449655/posts/default/634617071104767842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://etalasebuku.blogspot.com/2009/08/menyegarkan-kembali-pemahaman-dan.html' title='menyegarkan kembali pemahaman dan reposisi pancasila'/><author><name>n. mursidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03370284454704913973</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-gs2XNONe6hM/TXhKQXd7nFI/AAAAAAAACDQ/gVICDoxy7oQ/s220/foto_serambi_1a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SoVpNafSUjI/AAAAAAAABoI/4ecC4alSmdE/s72-c/cover+buku+negara+pancasila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8639582617682449655.post-7996845209395324997</id><published>2009-08-01T20:12:00.003+07:00</published><updated>2009-08-02T01:29:55.377+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='secuil proses kreatif'/><title type='text'>pengalaman pahit pertama mengirim tulisan lewat e-mail</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SnRAP6jy_yI/AAAAAAAABno/A4fKkP4FufQ/s1600-h/100_4295_2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 126px; height: 177px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_U0aeF5WySi0/SnRAP6jy_yI/AAAAAAAABno/A4fKkP4FufQ/s200/100_4295_2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364983698266717986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Teknologi internet diciptakan oleh manusia dengan satu tujuan; agar aktivitas hidup bisa dijalani dengan mudah. Tidak terkecuali dengan keberadaan email (singkatan dari elektronik mail). Sebelum adanya ema
