....

Jumat, 27 Juni 2008

tidur berbantal buku

Lahir sebagai anak dari keluarga pedagang (kaki lima), buku merupakan barang langka yang nyaris tak mendapatkan tempat istimewa di rumah kami. Hampir setiap sudut rumah kami, sejauh mata memandang, dipenuhi tumpukan barang dagangan; baju, seragam sekolah, dan kaos.

Tidak ada rak buku. Tak ada tumpukan buku. Tidak ada koran harian yang diantar tukang loper koran ke rumah kami. Tetapi, kontras dengan pemandangan itu, di salah satu sudut rumah kami, ironisnya ada setumpuk koran bekas. Setumpuk koran itulah yang membuat kami --kakakku, aku dan adikku-- memiliki hiburan. Tak jarang, setelah ayah membeli berkilo-kilo koran bekas, kami rebutan menggunting koran bekas tersebut untuk kami jadikan sebagai kliping.

Setumpuk koran bekas itu, memang dibeli oleh ayah untuk membungkus barang dagangan. Tetapi kami memanfaatkannya dengan cara lain. Meski hanya setumpuk koran bekas, tetap tidak menghalangi kami untuk membacanya. Praktis, dari setumpuk koran bekas itulah, kami bisa mengintip bahkan mengenal dunia. Karena untuk menunjang sekolah -terus terang-, kami hanya dibekali ayah dengan dua sampai tiga buku pelajaran. Buku-buku pelajaran itu pun nyaris tidak pernah kami keluarkan bahkan selalu tersimpan rapi di dalam tas (kami).

Keadaan menyedihkan itu, ironisnya berlangsung hingga aku lulus SMA. Tidak betah tinggal di rumah --setelah lulus SMA-- akhirnya aku melanglang buana ke Yogyakarta. Tidak ada niat untuk kuliah, kecuali hanya sekedar lari dari rumah untuk mencari pekerjaan. Tetapi kota Yogja ternyata mampu menghipnotis-ku. Tanpa pikir panjang lagi, aku memutuskan untuk kuliah setelah eksotisme kota Gudeg tersebut membuatku betah. Tak pernah kusangka, keputusan itu kemudian menjerumuskanku bisa mencintai buku (padahal aku lahir dari keluarga yang nyaris tak mengajarkan kami semua untuk dekat atau mencintai buku), bahkan mengantarkanku untuk menjadi penulis.

Akhirnya, Jadi Peresensi
Perkenalanku dengan buku, diawali dengan serentetan kisah-kisah unik. Bermula dari cerita menakutkan sejak pertama aku tinggal di rumah tua yang aku kontrak bersama teman-teman di daaerah Krapyak, Yogyakarta. Setelah kami membayar uang kontrakan, ternyata kami mendapat kabar jika rumah itu tergolong angker. Aku yang memiliki jiwa usil, seketika itu dibuat penasaran; ada apa dengan rumah itu? Maka, tepat hari pertama aku tinggal, aku langsung menelisik semua bagian rumah tersebut dan saat aku temukan sebuah bangunan kamar di belakang rumah, aku pun ditikam penasaran. Aku pun mengintip ke dalam kamar itu lewat lubang kunci.

Tak kuduga sebelumnya, ternyata di dalam kamar itu tersimpan bertumpuk-tumpuk buku. Tidak sabar lagi, aku pun mencongkel kunci kamar tersebut. Setelah berhasil membuka pintunya, aku lalu menghampur ke dalam dan langsung meraih sebuah buku yang tergeletak sia-sia di lantai. Tak pernah kubayangkan jika buku yang kuraih itu adalah novel Bukan Pasar Malam, karya Pramodya Ananta Toer. Pantas, aku yang waktu itu belum pernah membaca buku --maksudku; selain buku pelajaran sekolah-- langsung terpana sejak membaca halaman pertama. Terus terang, novel itu pula yang telah membuka mataku untuk mengenal sastra.

Kenapa aku bisa terjerat dan tertarik dengan buku-buku sastra --terutama novel-- daripada buku-buku bertema lain? Pertama, buku sastra, terlebih novel tatkala dibaca melibatkan emosi atau perasaan pembaca. Tak mustahil, jika buku sastra (baca: novel) bisa mengaduk perasaan pembaca dan bahkan bisa membuatnya menitikkan air mata, karena hanyut kisah tragis yang dirangkai oleh sang pengarang. Karena itu, tak jarang ada cerita dari seorang pembaca berubah setelah membaca novel lantaran dia mendapatkan spirit yang dibangun dari konflik yang diracik oleh sang pengarang. Juga berkat selarik pesan yang dihembuskan sebuah novel.

Dari konteks inilah, wajar kalau tidak sedikit para pembaca novel seperti Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi merasa tercerahkan. Kendati demikian, tak sedikit juga novel yang mencemaskan, membahayakan dan mencelakakan --sampai-sampai dilarang terbit, disweeping bahkan dibakar.

Kedua, buku-buku sastra khususnya novel ditulis sang pengarang dengan kekuatan imajinasi. Sementara imajinasi itu, bisa melambungkan seseorang meraih cita-cita, mewujudkan impian pembaca yang nyaris tidak mungkin terwujudkan. Tak salah, jika Albert Einstein pernah berkata, "Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan." Apa yang dikatakan Eintein itu, memang tidak salah. Dari sebuah imajinasi, novel lahir. Dari sebuah imajinasi, sebuah teori kemudian bergulir. Dari sebuah imajinasi, apa pun yang kita inginkan bisa menjadi kenyataan.

Sejak perjumpanku dengan novel karya sastrawan kelahiran Blora itu, aku diam-diam sering kali bersembunyi di kamar belakang itu melahap hampir semua buku yang ada. Setelah buku-buku di kamar itu habis kubaca, aku pun kehabisan bacaan. Tidak ada lagi buku yang aku baca, menjadikanku disergap bingung. Wajar, ketika esok harinya aku kuliah, dan tidak sengaja bertemu Arief Syarwani --temanku sekampus-- yang kebetulan menenteng novel Satu Hari di Yogya karya N. Marewo, mataku seperti berbinar. Aku pun langsung meminjamnya.

"Jika ini bukuku, pasti aku tidak keberatan meminjamkannya padamu. Tetapi, buku ini juga aku pinjam dari seorang teman dan aku telah berjanji untuk meresensinya di media massa."

Aku yang waktu itu masih awam dengan dunia tulis-menulis, jelas tak paham apa itu resensi buku. Maka aku dengan lugunya segera mencercanya dengan setumpuk pertanyaan untuk menjelaskan apa itu resensi buku, bagaimana cara membuat resensi buku dan kemudian mengirimkannya ke media massa. Di hadapan temanku itu, aku seperti orang dungu. Orang dari kampung yang tidak tahu peta buku dan seluk-beluk menulis. Untung, dia mau menjelaskan dengan gamblang dan tidak segan-segan memberikan saran jika aku berminat mau menulis resensi buku dan mengirim ke media massa.

Rasa penasaran ingin mencoba, membuatku kehilangan harga diri. Maka, dengan "memaksa" aku minta dia tidak keberatan merelakan buku itu aku bawa pulang, "Bagaimana kalau aku yang meresensi buku itu lebih dulu. Aku berjanji, dua hari lagi buku itu aku kembalikan..."

Seperti kejatuhan durian, aku hanya terpana saat dia mengulurkan novel itu untuk aku bawa pulang. Maka semalam suntuk, aku melahap buku itu. Esoknya, aku pun resensinya. Sebagaimana saran yang ia berikan, aku lalu mengirim resensi itu ke harian Kedaulatan Rakyat. Dua minggu kemudian, keberuntungan itu tiba; resensiku dimuat. Seketika itu, aku bangga. Karena, sebelumnya aku telah berkali-kali menulis cerpen. Tragisnya, tak ada satu pun yang dimuat. Jadi, tulisan resensi itu adalah tulisan pertamaku yang dimuat di media massa.

Rupanya, tulisan pertama-ku itu merupakan jalan lempang bagiku untuk menjadi peresensi. Setelah itu, resensiku sering dimuat di media massa. Akhirnya, setelah bertahun-tahun aku menulis resensi buku, aku pun mendapatkan keuntungan. Setidaknya, ada tiga keuntungan yang didapat dari meresensi buku. Pertama, mendapatkan honor dari media massa bersangkutan. Kedua, mendapatkan buku (kiriman gratis) dari penerbit, dan tidak jarang masih ditambahi dengan bonus berupa uang sebagai tanda terima kasih. Ketiga, dengan menulis resensi, pembaca bisa belajar tak sekadar jadi pembaca pasif, melainkan bisa mengungkapkan apa yang telah dibaca, mengkritisi, dan bahkan membantah buku tersebut.

Tidur Berbantal Buku
Seiring dengan perjalanan waktu, setelah aku menulis sejumlah resensi buku, terus terang, berkah paling menyenangkan adalah datangnya buku-buku baru yang dialamatkan ke tempat tinggalku. Wajar, ketika aku masih tinggal di Yogja, kamar kost-ku sudah dipenuhi dengan buku-buku kiriman dari penerbit. Ada beberapa buku yang dikirim sebagai hadiah setelah aku meresensi buku. Ada juga beberapa buku yang aku dapatkan dari penerbit, tetapi tidak sebagai bonus resensi melainkan lebih pada jalinan kerjasama timbal-balik. Artinya, aku dikirimi buku itu dengan catatan nanti diminta untuk mempublikasikan ke media dalam bentuk resensi buku. Di samping itu, ada juga buku-buku yang aku dapatkan dari beberapa teman yang kebetulan jadi penulis, atau bekerja di salah satu penerbit sebagai editor.

Dengan datangnya buku-buku gratis kiriman dari penerbit itu, tak mustahil kamarku banjir buku. Jika dahulu rumahku dipenuhi dengan barang dagangan, dan sepanjang mata memandang nyaris dipenuhi baju, seragam sekolah, kaos dan sejumlah pakaian, pemandangan itu telah berubah seratus delapan puluh derajat dan nyaris bertolak belakang. Sejak masih tinggal di kota Gudeg, hampir di setiap sudut kamarku nyaris dipenuhi dengan buku. Maklum, selain sering mendapatkan buku kiriman gratis dari penerbit, tak jarang aku membeli beberapa buku setelah mendapat honor dari menulis.

Dengan bertumpuknya buku di kamarku, aku pernah memiliki kebiasaan unik. Hal itu bermula saat aku masih tinggal di Yogja dan bisa disebut keranjingan menulis resensi buku. Tuntutan untuk membaca serius sebelum meresensi buku, membuatku kerapkali harus tidur sampai larut malam. Tetapi ketika mataku sudah disergap rasa kantuk, tiba-tiba setumpuk buku yang ada di sampingku kemudian tak sengaja kujadikan sebagai bantal. Setelah bangun, aku baru tersadar kalau semalaman aku tidur berbantalkan setumpuk buku.

Meski setelah bangun dari tidur leherku seperti terkilir, anehnya kebiasaan itu tak dapat aku hilangkan. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu dan aku sudah pindah ke Jakarta, memiliki pekerjaan tetap, bahkan sudah bisa membeli bantal, uniknya kebiasaan itu masih kerap terjadi.

Apakah yang aku lakukan itu dapat dikatakan sebagai penghinaan terhadap buku lantaran aku menjadikannya sebagai bantal untuk tidurku?

Sampai sekarang, aku tak pernah tahu; apa kebiasaanku itu buruk atau justru tergolong kurang ajar. Untuk itu, aku senang jika ada pembaca blog ini yang bisa membantuku untuk memberi jawaban yang melegakan! ***

(Ciputat, 26 Juni 2008)

29 komentar:

FAJAR S PRAMONO mengatakan...

Haha... itu namanya soulmate, Mas Nur! Melebihi kebiasaan banyak pasangan hidup, yang belum tentu tidur bareng setiap malam! Hahaha..

Aku pikir, nggak ada yang salah. Cinta buku tak bisa diartikan secara sempit dengan hanya "merawat" buku secara fisik, atau selalu menjadikan buku itu licnin mengkilap tanpa lipatan dan noda sedikitpun.

Kalo hanya seperti itu, jadilah kolektor buku yang sebenar-benar kolektor, yang selalu rajin menambah koleksi buku, tanpa merasa harus membacanya sampai paham tuntas, dan lebih banyak meletakkannya dalam "sarang" buku yang cantik! Hahaha...

Teruskan kebiasaan itu, Mas! Biar aku ada teman juga... hahaha.

Salam buku,
Kita ketemu du pesta buku? :)

Fajar S Pramono

Yosandy L. mengatakan...

Mas Nur, terima kasih berkenan menjadikan blog saya sebagai link blog.Tulisan Mas Nur kali ini tentang perjalanan asmaranya dengan kekasihnya, buku-buku, hehehe. Paragraf terakhir justru menunjukkan kecintaan yang sejati terhadap buku-buku. Perlakuan yang secintanya terhadap kekasih, tidur bersama ! Sang kekasih ... buku-buku pasti bahagia !

Yosandy L. mengatakan...

Mas Nur, "tidur berbantal buku" membuat saya terinspirasi menulis "cintaku di rumah buku". Komentari ya Mas !

n. mursidi mengatakan...

mas fajar, terima kasih. saya gak nyangka, jika kebiasaan buruk saya itu ternyata di mata mas, justru sebuah kecintaan thdp buku, bahkan mas menganggap buku telah menjadi kekasih saya. he 3x

semoga kita bisa ketemu di pesta buku nanti, mungkin saya datang di hari2 akhir. maklum, masih banyak kerjaan....

n mursidi mengatakan...

mas yosandy, saya gak nyangka jk tulisan saya tdur berbantal buku menginspirasi mas. ok, selamat berkarya. aku tunggu tulisan bersambungnya atau kelanjutannya.

pu2ng mengatakan...

wah....sepertinya buku sudah menjadi kekasih buat mas Nur. sampai-sampai tidurpun harus selalu disamping buku.
mungkin itu juga yang menjadi faktor kenapa mas nur dapat dengan mudah membedah isi dalam buku.
karena ruh dalam buku itu merasuk ke dalam pikiran mas Nur.
Salam sukses. jangan pernah berhenti berkarya

achmad sunjayadi mengatakan...

Wah, saya jadi ingat masa silam. Saya bertahun-tahun 'bobol bareng' dengan buku-buku. Baik di sisi kiri maupun kanan tapi tidak pernah menindihnya. Seperti yang Mas Nur tuliskan kepala bisa pusing.
Sekarang buku-buku tersebut telah mendapatkan tempat yang layak karena menurut saran dari salah seorang teman posisi buku yang baik adalah berdiri. Jadi berdirilah buku-buku itu di beberapa rak. Sesekali sih masih 'bobok bareng' dengan beberapa buku. Iseng sambil menunggui anak bermain, beberapa buku saya. Maka bergeletaklah buku-buku di berbagai sudut ruangan. Kalau Bung Hatta mengetahui perlakuan saya terhadap buku pasti beliau marah sangat. Lha wong baca buku harus berpakaian rapi kalau saya cukup sarungan plus kaos oblong he...he...he...

Salam,
as

res96 mengatakan...

Bagi saya "Buku adalah wisata akal & hati'. Silahkan baca Sang Alkemis - Paulo Coelho. Pada paragraf-paragraf awal akan mudah ditemukan bagaimana tokoh utama sesosok anak gembala yang baru untuk pertamakalinya bersinggungan dengan buku ;) . Kemudian coba lanjutkan dengan menelaah 'Naga Sastra & Sabuk Inten - S.H. Mintardja' serta 'Senopati Pamungkas - Arswendo' - goresan kata-kata mereka tidak hanya menarik namun juga penuh kelembutan & menyejukkan hati.

Bahkan dalam sudut imajiner dan ruang harap tersempit , saya berani menggantungkan harapan nantinya buku bisa menjadi pilar membuat manusia jauh lebih manusiawi.

http://masres.multiply.com/reviews/item/11

salam buku,
res

mahali mengatakan...

buku jendela hati tiap orang yang mencintanya,kr cinta itulah kita memperlakukan dia seindah dan sebaiknya.dalam tataran tatakrama kita harus memulyakan semua atau apa saja yang kita cintai,,,,,,,,,,,,mas memang mencintai buku-buku tersebut hanya sebagai sumber penghidupan dunia dan ketenaran semata sehingga melupakan rasa cinta yang sebenarnya.tanpa ada balas jasa terhadap apa yang memberikan jasa tersebut,,,,,,,yaitu buku yang mas tiduri.........mungkin saya bangga terhadap semua karya mas tapi bagaimana dengan buku-buku itu................!

yani mengatakan...

kalo menurut aku, sah-sah aj koq klo misal buku jadi bantal (asal jgn kena iler aj yah .. sayang soalnya )..heheheh
Tapi yang pasti pernyataan dari aku..
"Jangan cuma berpikir bagaimana kita memperlakukan buku itu... tapi, apa yang kita dapat dari buku itu"
itu lebih penting...

Jadi mas Mur, jgn bingung itu penghinaan ato bukan.. ga ad yg larang koq.
Tetep tulis resensi yah.

opungregar mengatakan...

Mas Nur! Telah berhasil menjadikan kegiatan Gemar-Membaca Mengasyikkan dan Membuat Hidup Mas Nur lebih Bermakna. Ini yang paling penting.

Lalu Mas Nur, juga telah melakukan apa yang mesti dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan.

Kemudian Mas Nur, menemukan pencerahan karena kemampuan Mas Nur memadukan Kecerdasan Intelektual dengan Kecerdasan Emosional. Itu artinya Mas Nur berhasil dan sukses menggunakan belahan otak kanan dan otak kiri.

Mas saya pikir tidak ada kebahagian terbesar sepanjang hidup kita, ketika kita bergulat meraih sukses dan menikmati keberhasilan itu. Dan ketika kita sadar terhadap apa pun pilihan hidup kita, maka itulah yang terbaik menurut hitungan dan pertimbangan Sang Maha Pencipta.
Good Luck Mas Nur.

Salam Pencinta Buku.

Opung RegaR (Bukittinggi)

opungregar mengatakan...

Mas Nur, teruslah berkarya, karena berbagi pengetahuan pengalaman dengan orang yang membutuhkan, akan memperkuat nalar dan imajinasi kita. Trim's
Opung RegaR, Bukittinggi

Sofyardi Rahmat mengatakan...

Salam saya untuk mas mursidi, sangat menarik tulisan anda yang berjudul Tidur berbantal buku, bagi saya tidak salah apabila kita tidur berbantal buku. Saya pun melakukannya sama seperti mas. Buat saya ysng lebih penting adalah bagaimana buku-buku itu bisa bermakna dalam hidup anda, bagaimana anda mengambil pelajaran dari buku2 itu. Ketika anda sudah memahami dan memaknai buku2 itu maka anda sah2 saja tidur berbantal buku. Tidur berbantal buku bagi saya tidak melanggar etika penghormatan terhadap buku. Lagipula diartikel anda secara tersirat menyatakan bahwa anda tidak sengaja tidur berbantal buku. Jadi saya ucapkan Selamat tidur berbantal buku.

Salam dari saya Sofyardi Rahmat

Anonim mengatakan...

kebiasaan tidur berbantal buku seperti itu menimbulkan berbagai komentar. menurut saya, kebiasaan itu buruk jika dilihat dari segi kesehatan. buktinya leher anda terasa sakit kan setelah bangun? kalau dari segi si "buku" itu sendiri jika diperhatikan dari sudut imajinasi, mungkin dia juga kesakitan menahan berat kepala anda apalagi tidak dapat bernafas. he3...
nah, kalau dilihat dari sudut penyerang tengah (?) , kebiasaan itu menunjukkan bahwa anda memang sangat mencintai buku sampai-sampai tidur juga harus ditemani buku. akan tetapi kalau boleh saya usul, jangan sampai buku buat handukan setelah mandi. he333...
maksut saya, alangkah baiknya jika sebelum tidur, buku diletakkan pada tempatnya walaupun anda sudah sangat ngantuk sekali. terima kasih.

mustatho mengatakan...

Suhu,....

di samping anda seorang pejuang sejati, anda adalah satu dari sedikit orang yang mengerti dan mampu mensiasati dengan apik hidup ini.

"Tidur Berbantul Buku" yang anda ketengahkan adalah sebuah bentuk kegigihan dari mensiasati kehidupan itu.

Dari awal cerita "ghirah" anda sudah tampak, yang membentuk anda sampai sekarang ini adalah masa lalu itu.

tidur berbantal buku sendiri adalah proses kesekian
dari keakraban (atau mungkin mencoba mengakrabi)dunia yang hendak anda bentuk.

Dengan sedikit hiperbolik, "Tidur berbantal buku" menurut saya adalah hal yang lumrah, namun saya sepakat dalam hal ini, bahwa keakraban (dengan buku) yang anda tunjukkan, adalah sens yang harus dibangun semenjak dari awam; tentu langkahnya; "mengakrabi, mencintai dan menjadi", seperti saat ini atau mungkin lebih.

saya lebih salut dengan tindakan cinta "pengetahuan dan sastra" yang anda buktikan dengan mensisihkan (mengkliping) koran-koran bekas yang seharusnya dipakai untuk jualan Bapak, Ibu anda. apakah Bapak/Ibu anda tidak merasa merugi, seandainya semua korannya habis karena ulah gunting yang menuruti keinginan anda?.....he..he.. kasihan lombok, tomat,...yang tidak kebungkus, pasti kedinginan!.

saranku,...
Jangan pernah berhenti, titik yang anda pijak saat ini hanyalah titik kecil yang akan menghantarkan anda kepada samudra tanpa titik, lebur terhanyut dan "menjadi".

Salam sejahtera,

"Pejuang tidak mengharapkan kemenangan, hanya satu yang dituju, pembuktian cinta" (cinta pada ilmu pengetahuan dan kehidupan tercerahkan".

kita ketemu di jagad luas, sebagai insan bermata pena.

Mustatok.

Anonim mengatakan...

Salam kenal dari Doha!
Saya ingin berkomentar bukan karena ada tawaran buku gratis dari anda, tawaran yg saya saya beri respek sangat tinggi dan mudah2an orang lain yg mendapatkannya ketimbang saya, kalau pun saya yg dapat, Alhamdulillah! Hehehe .. saya ingin nimbrung justru karena di benua lain saya temukan banyak pecinta buku yg dalam satu hal pasti kegilaan pada buku ada kemiripannya dengan saya. Baiklah tanpa harus banyak komentar yg tak berhubungan, saya ingin memaparkan gimana cara saya menghormati buku yg nantinya mas Nur bisa melihatnya apakah cocok untuk ditiru atau tidak untuk mengatasi tumpukan buku yg jadi bantal tidur.

Mas Nur, di dunia ini buku adalah salah satu harta tak ternilai bagi saya setelah iman Islam saya, keberadaan saudara2 saya dan isteri serta anak saya. Gila baca saya dimulai sejak saya pandai baca di SD. Yang namanya perpustakaan sekolah dari SD, SMP, SMA dan bangku kuliah semua buku yg menjadi kesukaan saya habis saya baca. Tidak cukup di situ saja, di mana saja saya menetap tinggal langsung saya melamar jadi anggota perpustakaan yg ada di kota tersebut. Setelah saya bekerja saya mulai membeli buku satu persatu kalau ada duit sisa gaji, setelah buku mulai banyak saya menempah lemari kusus yg saya disain kusus buat menyimpan buku2 yg sdh saya beli. Setiap buku yg saya baca baik dari meminjam atau beli sendiri selalu sebisanya saya usahakan setelah membaca kondisi buku bisa tetap 100% sebagaimana awalnya saya pegang. Makanya ketika saya tahu ada org yg begitu remeh dengan buku, misal setelah membaca buku dibiarin saja bukan di tempat yg seharusnya, saya cenderung tidak suka dengan kebiasaan orang tersebut. Tentu saja kebiasaan saya adalah mengingatkan agar setelah membaca buku org lain terutama dalam keluarga saya, supaya menyimpan buku yg habis dibaca diletakkana pada tempatnya. Kalau ada orang lain teman atau siapa yg meminjam buku saya, terus terang saya mewanti2 dia untuk bisa mengembalikan buku saya sebagaimana keadaan dia menerima awalnya dari saya. Saya paling gondok kalau buku saya pada halamannya ada bekas tanda lipatan (dilipat untuk tanda halaman mana yg sedang dibaca - kebiasaan banyak org)dan cacat-cacat lainnya.

Terus terang mas Nur, menjadikan buku sebagai bantal bagi saya boleh terjadi hanya untuk keadaan insidental atau sekali-kali saja saat kepepet tanpa kita sadari, selanjutnya kebiasaan ini tentu tidak baik. Kalau memang itu sering anda lakukan, maaf bagi saya hal itu masih menunjukkan anda bukan pecinta buku sejati. Anda hanya masih taraf senang melahap dan membaca saja, belum pada kecintaan pada buku.

Mengapa saya begitu konsern menjaga agar buku bisa utuh selama mungkin, sebab cinta-cita saya suatu saat koleksi buku saya bakal dijadikan warisan ke anak-cucu kelak sehingga mereka masih bisa menikmati buku yg kondisinya bagus. Kalaupun tidak untuk anak-cucu, saya ingin orang yg menerima buku itu sebagai hibah seperti perpustakaan akan senang melihat kenyataan betapa setelah puluhan tahun buku yg saya hibahkan masih looks like new! :-) Membuat orang lain senang dengan kehadiran buku, itu adalah kebahagiaan saya yg tak ternilai bagi saya.

Jadi hentikanlah menjadikan buku sebagai bantal, mas Nur.

Salam,
Winale

SELAMAT DATANG DI SITUS MUSTATHOK mengatakan...

"Prose yang Panjang"

seabrek komentar telah ak rankaikan. kehendak hati menghiasi komentar dengan bunga-bungan kreasi, namun entah kenapa.., pintalan tulisku (komentar) raib berbareng keberhasilan yang masih belum menyata didalamnya.

proses panjang ini akhirnya hanya bisa digambarkan dengan idiomatik "Mari Budayakan Buku sebagai alternatif bantalan Tidur Bangsa Indonesia".

bangsa ini hanya bisa cerdas, terdidik dan bermutu, jika smua rakyatnya mencintai Buku, hal ini Mungkin mesti dilalui dengan mentradisikan buku-buku sebagai bantal.

Anonim mengatakan...

Yang namanya cinta, pengorbanan adalah hal kecil tapi berdampak besar, ngak salah kok kalau tidur berbantalkan buku, kalau 'ia ' bisa bicara dan bergerak, buku itu akan mengatakan i love you too..ia akan membelai dan mengecup mesra siapapun yang mencintainya, walaupun ia harus hancur, setidaknya ia telah memberi saripatinya pada orang yang telah mencintainya. Daripada hanya menjadikannya pajangan tanpa disentuhm itu jauh lebih menyakitkan, kalau hanya sebagai pajangan.

adrayna mengatakan...

Konon, di dunia ini, beredar tips singkat supaya pinter: bakar buku sampe tinggal abu, trus abunya dicampur aer dan diminum. Nah, ini mungkin salah satu cara pinter juga yang lebih bukuwi.

arionovembri mengatakan...

wah itu namanya menjaga cinta agar selalu bersemi samapai akhir waktu seperti saya yang pengantin baru hihii selalu berdua dengan istri

"cintailah bukumu seperti istrimu" maksa (mode on)

Anonim mengatakan...

ass. ah bagiku itu lebih menenangkan perasaanku mas ... sejak jadi mahasiswa hingga jadi ibu rumah tangga kini, aku juga masih senang berbantal buku gitu. haa.. haa... apa masalhnya coba? ketika aku malas baca buku,dan aku tertidur dengan bantalan buku, saat terbangun kan masih bengong tu?? na iseng-isenga aja buka buku itu. nah! jadi deh satu dua deret paragraf yang sering nyantol di pikiran. kalo mudnya keterusan jadi deh berlembar-lembar. gitu...

Rati mengatakan...

Saya hanya heran, kok leher anda tidak sakit ya berbantal buku? Kalau tidur disamping buku-buku yang sedang dibaca mungkin biasa ya buat pembaca berat, tapi tidur berbantal buku...
Mungkin lebih baik kebiasaan itu dihentikan, untuk alasan kesehatan dan keutuhan buku.
Caranya, sebelum dibaca, sampullah buku itu dengan plastik, kemudian pajang di rak buku dengan rapi. Jika akan tidur, ambil maksimal 2 buku saja dan letakkan di samping.
Jika perlu, belilah buku lux/hardcover yang anda merasa sayang untuk menjadikannya bantal karena harganya sangat mahal...

denny ardiansyah mengatakan...

Saya sering marah jika melihat ada yang tidur dengan buku sebagai bantal. Pun suara saya akan mengeras kalau mata saya menemukan buku sebagai alas untuk mouse komputer.

"Kamu tahu, berapa banyak waktu yang dihabiskan, berapa liter keringat yang dikucurkan, berapa rupiah yang telah digelontorkan, berapa sering keakraban yang sudah ditinggalkan oleh penulis buku itu?", kata saya. Selalu seperti itu saat ada orang lain di sekitar yang menggunakan buku untuk bantal, alas mouse komputer, ganjal pintu atau duduk diatas tumpukan buku. Saya juga selalu akhiri teguran itu dengan, "Cobalah, hargai sedikit saja si penulis buku itu. Buku itu representasi otak penulisnya"

Tapi, itu adalah keseringan yang dahulu. Sudah lama sekali saya tinggalkan perilaku menegur seseorang yang menggunakan buku dengan tak semestinya.

Tepatnya, perilaku itu mulai saya jauhkan dari diri ini tatkala makin asyik dengan hobi menulis resensi buku. Saya sempat merenung. Saya pernah membawa buku dalam tas, bercampur dengan celana dalam, sikat gigi, odol, sabun, baju, celana dan perkakas untuk tubuh lainnya. Lantas, kenapa saya harus marah jika ada yang menggunakan buku untuk alas kepala saat tidur? Saya tak perlu marah, akhirnya saya sadar.

Selama buku diberi perlakuan yang membuat kita masih bisa membaca isinya, menurut saya sah-sah saja. Tapi, memang cukup riskan jika kita punya kebiasaan ngiler saat tidur; bisa-bisa kebiasaan itu bikin buku yang jadi alas kepala jadi basah oleh....(hehe, isi sendiri ya.)

Selama buku tak dibakar, tak direndam dalam air, tak dikubur dalam tanah, tak dirobek...Selama perlakuan kita kepada benda itu masih bisa membawa faedah dalam hidup ini, tak ada yang salah; tak ada yang harus marah.

Sebab kejahatan terbesar yang dilakukan manusia kepada buku adalah tidak membacanya; entah itu pendapat siapa, tapi saya setuju.

Bravo buat Mas Nur!!!

tabik;

dhe

Agus mengatakan...

Jadi ingat syair nya Slank " ... ku tak bisa jauh ... jauh ... dari mu ( kalo mas Mursidi jauh dari buku maksudnya ).

Asal bukan Mushaf Al Qur'an aja yang dijadikan bantal. Insya Alloh tidak apa-apa.

Aku dan Buku. Tanpa adanya buku, mungkin tidak ada blog ini ( ya ... nggak ? ) dari mana belajar IT nya, misalnya.

Tetapi saya sendiri belum pernah melakukannya. Kalau jualan buku sich masih hingga sekarang (baik terima pesanan maupun "gambling" beli dulu baru tawarin ke kira-kira yang mau aja (sudah tahu sasarannya ).

salam

Agus Rasyidi
www.hace16.wordpress.com

Anonim mengatakan...


Dear Mas Mursidi,


Salam kenal dari Yathi, saya member di penulislepas. Disini saya ingin megajukan pendapat saya tentang kebiasaan Mas Mursidi tidur berbantal buku. Sebelumnya saya minta maaf jika apa yang akan saya sampaikan nanti tidak berkenan di hati Mas Mursidi.



Menurut saya tidak ada yang bisa melarang Mas Mursidi tidur berbantal buku, itu merupakan hak pribadi Mas Mursidi sendiri. Tapi, dari sisi kesehatan, apakah kebiasaan itu merupakan hal yang baik atau buruk, lebih baik Mas Mursidi berkonsultasi kepada dokter, saya khawatir diam-diam kebiasaan itu bisa menjadi bumerang bagi kesehatan Mas Mursidi di masa yang akan datang.


Kemudian, dari sisi pandangan orang yang melihat, pastilah beda orang beda pendapat. Ada yang menganggap sama sekali tidak masalah, ada yang senyum-senyum memaklumi, ada yang heran, ada yang menganggap unik, namun mungkin juga ada yang menganggap Mas Mursidi berlebihan.


Menurut saya jauh lebih baik jika Mas Mursidi memiliki rak buku yang cukup untuk menampung semua buku yang sudah ada dan menyediakan spare rak buku untuk buku-buku baru. Susun buku Mas Mursidi serapi mungkin. Jika Mas Mursidi pernah kerja di pabrik, mungkin sempat mengenal istilah 5S atau jika di Indonesia disebut 5K. Karena saya tidak tahu apakah Mas Mursidi memahami masalah 5K atau tidak maka saya akan menguraikan konsep dasar 5K dalam penataan buku secara singkat sebagai berikut :


Konsep dasar 5S dalam penataan buku.

1. SEIRI / KERAPIAN
Memperjelas dan memisahkan buku yang akan dipakai dalam waktu dekat (belum dibaca, akan diresensi dll) dan yang tidak akan dipakai dalam waktu dekat (telah selesai dibaca, telah selesai diresensi dll).


2. SEITON / KETERATURAN
Meletakkan buku yang akan dipakai dalam waktu dekat dengan baik agar mudah diambil saat hendak dipakai, serta mengklasifikasikan dan memberinya identitas pada rak buku agar mudah dan cepat saat mencari.


3. SEISO / KEBERSIHAN
Rajin membersihkan rak buku (akan lebih bagus jika rak buku memiliki pintu kaca geser).


4. SEIKETSU / KELESTARIAN
Menjaga kebersihan buku dengan memberinya sampul, tidak ada corat-coret yang tidak perlu dll.


5. SHITSUKE / KEDISIPLINAN
Mematuhi tata letak buku yang telah ditetapkan, berdisiplin dalam menjaga kerapian, keteraturan dan kebersihan buku dan rak buku.


Bayangkan Mas Mursidi memiliki kamar yang rapi, bersih dan teratur. Jika Mas Mursidi merasa kondisi itu lebih baik maka tidak ada ruginya mencoba menerapkan 5K.


Nah, mengenai pertanyaan Mas Mursidi ‘Apakah yang aku lakukan itu dapat dikatakan sebagai penghinaan terhadap buku lantaran aku menjadikannya sebagai bantal untuk tidurku? Sampai sekarang, aku tak pernah tahu; apa kebiasaanku itu buruk atau justru tergolong kurang ajar?’ jawaban saya sebagai berikut :

1. Perbuatan itu tergantung niatnya. Jika Mas Mursidi tidak ada niat menghinakan buku itu (penulis/isi buku/penerbitnya) maka saya tidak setuju jika ada yang menganggap Mas Mursidi melakukan penghinaan buku karena menjadikannya bantal, dan saya rasa, meskipun saya tidak kenal Mas Mursidi, entah mengapa saya yakin bahwa Mas Mursidi tidak ada niat sedikitpun menghinakan buku itu dengan menjadikannya bantal. Hanya saja, menurut saya tindakan seperti itu sebaiknya tidak perlu. Saya juga sering membaca sebelum tidur, begitu saya merasa mengantuk, saya tutup buku, saya letakkan di samping bantal saya, lalu tidur. Tapi karena saya tidurnya tidak banyak gerak maka ketika bangun buku itu masih tetap ditempatnya, di bawah kepala saya pun cuma ada bantal, tidak ditambah tumpukan buku, he...he....

2. Apakah kebiasaan itu buruk atau kurang ajar? Saya pribadi merasa tidak punya hak untuk menilai apakah itu buruk atau kurang ajar. Saya kembalikan kepada Mas Mursidi lagi. Apakah Mas Mursidi nyaman dengan kebiasaan itu? Saya sebagai orang lain (orang di luar diri Mas Mursidi) yang bahkan tidak kenal Mas Mursidi, bisa merasakan kecemasan Mas Mursidi atas kebiasaan itu. Jadi, mungkin Mas Mursidi sendiri tidak ingin melanjutkan kebiasaaan itu.


Selanjutnya, saya akan beralih kepada hal lain yaitu mengenai latar belakang hidup dan pencapaian Mas Mursidi sampai saat ini. Bagi saya, Mas Mursidi (juga kakak dan adik Mas Mursidi) adalah contoh baik. Sangat memberi inspirasi. Saya bisa merasakan semangat Mas Mursidi. Meskipun Mas Mursidi tidak menyatakan, tapi saya tahu Mas Mursidi hidup penuh dengan harapan. Harapan itulah yang membangkitkan semangat Mas Mursidi meraih mimpi dan mengatasi masalah yang menghadap di tengah jalan. Sukses selalu untukmu, saya tahu mimpimu masih jauh, harapanmu masih banyak, pencapaian yang ingin kau raih masih tak terhitung. Mas Mursidi memang harus meraih mimpi dengan ‘berbantal’ setumpuk buk

salam sukses selalu untukmu

yathi

Anonim mengatakan...

Assalamu’alaikum Mas Nur…
Menurut pendapat saya, jika melihat kasus ‘tidur berbantal buku’, maka ada dua poin yang mesti dilihat, yaitu Buku yang dijadikan bantal dan Mas Nur sendiri. Memang ini merupakan sebuah kebiasaan yang unik, atau bisa juga disebut bahwa hidup Mas sendiri sudah menyatu dengan buku, yang mana membuat saya kagum dengan Mas Nur, saya sendiri tidak menganggap ini merupakan sebagai penghinaan kepada buku tersebut, kecuali buku-buku tersebut diinjak-injak. Namun saya khawatir dengan dampak yang diterima oleh buku-buku itu. Mungkin buku-buku itu akan cepat rusak, sobek, dan akhirnya tidak bisa bertahan lama. Padahal kan buku-buku itu sebenarnya masih dapat berguna untuk orang lain yang ingin membacanya. Kedua adalah dampak bagi Mas Nur sendiri, seperti yang disebutkan sebelumnya adalah Mas Nur sering mengeluh leher terkilir setiap bangun tidur. Bukankah itu menyakitkan diri Mas sendiri? Dan Allah swt tidak menyukai orang yang menyakiti diri sendiri. Bukan bermaksud menggurui, tapi bukankah kita harus selalu melakukan hal-hal yang lebih banyak manfaat daripada mudharatnya. Saya yakin Mas Nur bisa mengambil kesimpulan atas kebiasaan itu, apakah lebih banyak manfaat atau mudharatnya.
Terlepas atas masukan yang saya berikan kepada Mas Nur, tulisan Mas Nur diatas telah memberikan inspirasi kepada saya. Saya mengirimkan sebuah tulisan ke email Mas Nur. Jika memang ada waktu Mas Nur, saya berharap dapat dibaca.
Terima Kasih sebelumnya.
-Syaiful Anam-

oRiDo™ mengatakan...

hmmm...
Mas Nur termasuk orang yang bookaholic rupanya...
:)

menurut aku ada positif negatif nya..
sisi positif nya adalah mas Nur dapat mengetahui berbagai macam informasi dari semua buku2 bacaan yang itu. InsyaAllah semua bacaan itu akan berguna setidak nya mas Nur memiliki dasar pemikiran dalam mengkritisi berbagai tulisan.. apalagi apa2 yang sudah dibaca itu mas Nur sharing, sehingga berguna juga utk orang lain..
tertidur dengan berbantal buku, itu hanya sebuah kebiasaan saja..

sedikit masukan dari saya utk sisi negatifnya, coba lah utk mengurangi bookaholic nya, terutama apabila sampai2 mempengaruhi mas Nur dalam kaitannya dengan hubungan dengan manusia (hablum minannas) dan hubungan dengan Tuhan (hablum minallah)..

tetap semanget..
;-)

- oRiDo™ -

Anonim mengatakan...

Mas Mursidi, Sang Penjegal sudah ada di tangan saya. Terima kasih. Oh, ya daftar buku bekas yang mau dijual beserta harganya ada? Yathi

n. mursidi mengatakan...

buat mbak yathi, sama juga jika buku kiriman sudah diterima. untuk buku2 bekas, saya belum mengkategorikan, masih menyusun kekuatan. jadi jika nanti sudah siap, akan dilounching........