....
Tampilkan postingan dengan label opini di balik buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini di balik buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 September 2010

Kiswanti: Beribadah dengan Buku

tulisan ini dimuat di majalah Hidayah ed 109/Agustus 2010

Keterbatasan ekonomi, ternyata tak menjadi penghalang bagi wanita yang dekat dengan buku ini berbuat kebaikan --menolong sesama. Justru, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan dan hanya mengenyam pendidikan SD, lahir perasaan keperpihakan. Ia tidak segan-segan merelakan koleksi buku yang ia miliki rusak karena dipinjam orang untuk dibaca. Ia bahkan senang buku-buku yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun itu dibaca orang.

Tak ada tujuan di balik kiprah mulia itu, selain ingin melakukan perubahan dan membangun kehidupan yang gemilang bagi masa depan anak-anak di Desa Pemagarsari, Parung dan sekitar dengan cara menanamkan gemar membaca. Perjuangan itulah yang diemban Kiswanti selama belasan tahun. Ia berjuang mengajak anak-anak dan warga di sekitar mencintai buku.

Kini, kiprah Kiswanti itu sudah menumbuhkan anak-anak di Parung sadar akan gemar membaca. Dari kiprah itulah, kini berdiri tempat belajar bagi anak-anak usia dini (PUD), SD, SMP dan SMA yang belajar di rumahnya. Buku koleksi yang ia kumpulkan bertahun-tahun pun sudah jadi taman bacaan Warabal. Tapi, di balik semua itu dulu ibu Kiswanti membangun dengan jerih payah.

Putus Sekolah, Tapi Gemar Membaca
Lahir di sebuah kampung di Bantul, Yogyakarta –4 Desember 1965-- ia tergolong anak yang tak beruntung. Keinginan terus sekolah ternyata tak sebanding lurus dengan kondisi ekonomi keluarga. Ayah Kiswanti yang jadi penarik becak menghalangi Kiswanti kecil bisa sekolah tinggi. Meski demikian, sang ayah menanamkan jiwa membaca sejak Kiswanti usia 5 tahun.

“Bapak saya itu bukanlah orang yang setiap minggu atau setiap bulan dapat gaji, karena bapak saya itu penarik becak. Tapi bapak itu orang pertama yang mengenalkan saya gemar baca dan cinta buku. Saat saya berumur 5 atau 6 tahun, beliau menggunting huruf-huruf di koran kemudian mengajarkan bagaimana cara membaca dari guntingan huruf koran itu,” kisah Kiswanti.

Saat teman-teman sebaya masuk SD, Kiswanti pun meminta sekolah. “Waktu itu yang membuat saya bertekat minta sekolah, karena waktu itu saya ingin masuk TV ikut cerdas cermat. Jika tidak sekolah, tidak mungkin ada kesempatan masuk TV. Itulah yang membuat saya gemar membaca…” kata Kiswanti.

Tetapi, cita-cita itu kandas. Bahkan setelah lulus SD, dengan getir ia mendengar permintaan maaf sang ayah. “Tahun 1980, saya lulus SD. Dengan berat ayah meminta maaf, karena tak bisa membiayai saya masuk SMP. Tapi ayah berpesan ‘Jika ingin pinter kau banyak-banyak baca buku. Pulang bekerja, bapak belikan buku atau koran bekas’,” kenang wanita yang henya sempat mengenyam pendidikan SD ini dengan sedih.

Sang ayah tidak ingkar janji. Ia membelikan buku-buku buat Kiswanti dan meski tak melanjutkan sekolah SMP, minat Kiswanti pada buku tak pupus. Bahkan ia mulai mengoleksi buku. Akhirnya tahun 1987 ia merantau ke Jakarta -- bekerja jadi pembantu agar bisa beli buku. “Orangtua sempat melarang. Saya tak diijinkan. Di mata orangtua, semiskin-miskinnya kita, masih ada pekerjaan lain selain itu. Tapi, saya beralasan, itu pilihan aman dan lebih terlindungi. Di sisi lain, saya yang lulusan SD tak mungkin bisa kerja di pabrik. Kebetulan, niat awal kerja ke Jakarta itu untuk menambah koleksi buku, dan majikan saya kebetulan memiliki koleksi buku banyak. Saya sempat mengajukan untuk tak digaji dengan uang, melainkan dengan buku. Itu karena saya ingin menambah buku saya yang waktu itu sudah mencapai 1500 buku. Tetapi, majikan saya menolak dan tetap menggaji saya dengan uang,” kisah Kiswanti.

Tiga bulan kemudian, Kiswanti pun menerima gaji. Sebagaimana niat awal kerja untuk menambah koleksi buku maka hasil kerja 3 bulan sebesar 120.000 ia belikan buku 95.000. Ia mendapat 45 judul buku. Dari situlah, ia terus mengoleksi buku dan jumlah buku yang ia miliki terus bertambah.

Bersepeda Onthel Meminjamkan Buku

Sekitar tahun 1998, ibu Kurwanti pindah ke Parung. Waktu itu, Parung masih sepi tak jauh beda dengan suasana kampung halamannya. Tak sedikit anak-anak yang bermain kurang pengarahan, karena orangtua bekerja. Tapi yang lebih memprihatinkan di mata Kuswanti, ulah anak-anak usia 5-6 tahun tidak jarang saat berselisih —keluar umpatan yang comot dari isi kebun binatang, toilet dan bahkan kata-kata organ wanita yang seronok. Kuswanti mengelus dada.

“Saya tak menyalahkan kenapa itu terjadi, tetapi saya berusaha mencari kenapa itu terjadi? Saya tak mungkin merubah itu seperti membalik telapak tangan. Maka, saya mengajak anak-anak itu bermain. Karena kebutuhan anak-anak itu bermain dan di saat bermain itu, mereka senang. Tapi kemudian saya menerapkan syarat-syarat bagi mereka yang ingin bermain dengan saya: tak boleh mengucap loe, guwa, isi kebon binatang, isi toilet. Ada beberapa peraturan seperti itu, dan saat mereka sudah terkondisikan dan senang, saya mulai memperkenalkan buku dengan cara saya bercerita. Tetapi, cerita dari buku bacaaan itu tidak saya selesaikan, karena saya ingin tahu; apakah ada minat baca dalam diri anak-anak itu?” ujar ibu Kiswanti –yang oleh anak-anak dipanggil Bude.

Perjuangan mengajak anak bermain juga menanamkan minat baca itu dijalani kurang lebih empat tahun. Setelah enam tahun warga dan di sekitar ibu Kuswanti tahu akan keberadaannya dan buku yang ia miliki, hal itu membuat ibu Kuswanti ingin keluar lebih jauh. Maka, niat mengajak orang-orang yang jauh pun menjadikan ibu Kuswanti harus keliling kampung dengan sepeda onthel seraya menjual jamu.

“Karena saya ingin orang yang jauh dari saya tahu tentang keberadaan saya dan buku, maka saya mengayuh sepeda onthel menawarkan buku-buku saya untuk dipinjam dengan gratis. Kebetulan orangtua saya itu pedagang jamu dan saya hanya bisa meracik kunyit asem. Akhirnya saya keliling bersepeda menjual jamu dan menawarkan kepada orang-orang untuk membaca buku-buku yang saya bawa. Maka, setiap kali saya keliling itu, saya menawarkan jamu dan buku. Siapa yang ingin sehat minum jamu. Siapa yang ingin pintar baca buku. Uang dari kalian membeli jamu, bisa saya belikan buku baru dan kalian pinjam kembali. Itu satu-satunya jalan bagi saya untuk menambah koleksi buku saya,” kisah ibu Kiswanti saat masih keliling menawarkan pinjaman buku kepada warga Parung.

Warabal dan Tempat Belajar

Kini, koleksi buku bisa dinikmati oleh warga Patung. Sebidang ruangan pun jadi Taman Bacaan yang diberi nama Warabal. Taman bacaan yang dirintis ibu Kuswanti ini pun tidak hanya jadi tempat anak-anak dan warga untuk meminjam buku, melainkan juga sekaligus jadi tempat belajar. Karena keterbatan ruang sedang animo masyarakat tak terbendung, tempat belajar pun kurang memadai. Bahkan ibu Kiswanti merelakan ruang tamunya untuk menjadi tempat belajar komputer.

Itulah kiprah dan perjuangan tiada henti dari ibu Kiswanti. Dalam keterbatasan, ia tetap berjuang dan buku --harta berharga yang ia miliki tak segan-segan ia pinjamkan. “Saya mau sedekah uang tapi kebutuhan saya hanya cukup untuk kami sekeluarga, ingin sedekah senyum sedang saya dikasih wajah begini oleh Allah. Ya saya syukuri tapi belum tentu semua orang bisa menerima senyum saya meski saya berusaha tersenyum ikhlas. Sementara saya punya banyak buku, karena itu saya ingin mengajak mereka membaca buku-buku saya dengan gratis. Saya meminjamkan buku gratis bisa dimasukkan dalam kategori beribadah,” jelas Kiswanti ketika Hidayah bertanya tentang slogan “beribadah dengan buku” yang tertulis jelas di Warabal.

Kiprah ibu Kiswanti tentu mengundang decak kagum. Kita patut berterima kasih. Apalagi jika di antara kita ada yang mau menyisihkan tenaga, pikiran dan materi untuk ikut membantu perjuangan Ibu Kiswanti ini. (n. mursidi)

baca lebih lanjut...?

Minggu, 15 Juni 2008

geliat sepak bola dalam buku

opini di balik buku ini dimuat di jawa pos, minggu 15 juni 2008


PERTANDINGAN sepak bola Euro 2008 kembali digelar. Meski kali ini UEFA memilih dua (2) negara yang tergolong kecil, Austria dan Swiss sebagai tuan rumah, tapi tak menghalangi perhelatan empat tahun sekali itu menyedot perhatian dunia. Praktis, ''dunia'' seakan-akan telah disimpulkan dalam sepetak lapangan. Apalagi olahraga paling pupuler sejagat itu tak sekadar permainan melainkan sudah jadi tontonan hasrat kuno manusia: adu kekuatan untuk mempertontonkan skill, kerja sama, inisiatif, dan perang strategi untuk bisa menjadi pemenang.

Seiring perjalanan sejarah, sepak bola memang tak lagi sekadar gerak tubuh untuk kebugaran fisik, melainkan telah melampaui dinding stadion. Sepak bola sudah jadi semacam ''ritual'' (Claude Levi Strauss), bahkan ''religion global'' (Tom Hundley). Sebab, di balik pertandingan sepak bola kerap muncul agregasi etnis, nasionalisme, dan agama yang sudah berabad-abad. Bahkan sepak bola kini jadi bisnis global yang kental muatan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan filsafat.

Dari konteks yang sudah tak lagi sekadar permainan gerak tubuh itu, sepak bola lant
as diletakkan sebagai subjek dan variabel yang jadi bahan kajian dari berbagai sudut pandang; kajian psikologi, budaya, sejarah, antropologi, agama, dan bahkan politik. Tidak salah, jika dalam buku Politik dan Sepak Bola (2004), Srie Agustina Palupi mencatat kelahiran sepak bola Indonesia lebih sebagai sarana menumbuhkan nasionalisme (politik) daripada keinginan orang menjadi bugar.

Muatan politik juga disinggung Paul Theroux dalam buku The Old Patagonian Express (1989) yang sekilas menyinggung kerusuhan yang berkaitan dengan sepak bola di San Salvador, dan Ryszard Kapuscinski dalam buku The Soccer War (1992) menuturkan eksplorasi perang El-Savador dan Honduras yang tak lain akibat sepak bola. Buku lain yang lebih luas menyoroti sepak bola bisa ditengok How Soccer Explains the World: An Un Likely Theory of Globalization (2004) karya Franklin Poer. Meski berpijak pengalaman tour Poer di sejumlah negara, buku itu telah menjelenterehkan sepak bola yang mencerminkan kekuatan global, politik, dan budaya. Dalam buku itu, Poer berkisah menteri dalam negeri pemerintahan Slobodan Milosevic duduk di dewan tim sepak bola dan merekrut kaum nasionalis penggemar Red Star untuk suatu operasi militer.

Tak dimungkiri sepak bola kini telah menjadi olahraga paling populis di dunia. Tapi, tidak di Amerika Serikat. Di sana sepak bola kalah populer dibanding American Football atau basket. Dilihat dari sisi budaya, buku Offside: Soccer and American Exceptionalisme (2001) karya dari Andrei S. Markovits dan Steven L. Hellerman menjelaskan bahwa pada saat budaya olahraga berkembang di Amerika Serikat pada abad 19 dan awal abad 20, nativisme dan nasionalisme mulai membentuk citra diri Amerika yang khas bentrok dengan olahraga yang bukan brasal dari Amerika. Akibatnya, sepak bola kalah dengan football, basket, dan hoki.

Padahal, dunia sepak bola memiliki ranah unik yang mirip panggung hiburan. Sebab itu, dari lapangan hijau itu lahir ''pahlawan-pahlawan'' besar yang dapat melambungkan negara sang pemain dan bisa menjadikan ia selebritis yang terkenal melebihi popularitas presidennya. Sebut misalnya David Bekcham. Dari popularitas di lapangan, membuat suami Victoria itu dikenal dan mengantarkan ia menulis buku My Side (2003). Buku biografi bintang bola lain adalah Biografi Zidane (2006) karya Imam ''Gem'' Sufaat, biografi David Bekcham (2005) dan Ronaldo (2007) karya Sandiantoro, biografi Jaap (bek yang dijuluki si buas Stam) dalam Head to Head (2002) yang ditulis oleh Jaap Stam dan Jeremy Butler, buku biografi Pele, Maradona, serta bintang-bintang top bernomor punggung 10; The Prefect 10 karya Richards Williams.

Walau pada ujungnya permainan sepak bola itu soal kalah atau menang, ia tetap sebuah fenomena yang kompleks. Mungkin benar, dunia tidak akan seru jika tak ada sepak bola. Dalam konteks ini, sepak bola bisa jadi memberi inspirasi bagi lahirnya novel. Umut Ozturk adalah satu dari sekian penulis yang mengisahkan tentang sepak bola --tim Inggris-- dengan mengangkat Josh Roark (kiper) yang ''heroik'' dan mampu membawa Inggris menjuarai Piala Dunia. Novel lain yang berseting sepak bola bisa di antaranya; The Wild Soccer Kids (Joachim Masonnek) dan Boy Over Board (Morris Gleiitzman).

Tentu, masih banyak lagi buku yang mengupas dan berbicara tentang sepak bola. Tetapi satu hal yang tidak bisa ditepis, sepak bola di era sekarang bukan sekadar permainan. Karena itulah, ada dua hal yang perlu digarisbawahi terkait dengan keberadaan sepak bola dan buku.

Sepak bola bukan lagi sekadar olah fisik untuk kebugaran tubuh melainkan telah menjadi sebuah dunia unik yang memiliki peta, sejarah, hukum, aturan, dan budaya. Karena itu, ia menjadi ''subyek kajian'' yang bisa disentuh dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu, sehingga lahir sejumlah buku yang mendokumentasikan sepak bola.

Kedua, meski tak sepenuhnya mewakili kehidupan nyata, dunia secara sederhana dapat disimpulkan serupa lapangan hijau. Buku How Soccer Explains the World: An Un Likely Theory of Globalization (2004), karya Franklin Poer --edisi Indonesia diterbitkan penerbit Marjin Kiri, dan diberi judul Memahami Dunia Lewat Sepak Bola-- seakan menegaskan dunia memang mirip dengan lapangan bola. Di tengah lapangan, siapa yang tak mematuhi hukum dan aturan pasti akan dikenai sanksi. Ada perangkat nilai, moral, dan hukum yang mengikat untuk dipatuhi setiap pemain, pelatih, penonton, dan negara peserta.

Sisi moralitas di lapangan itulah yang membuat Albert Camus berujar, ''Jika berbicara moral dan tanggung jawab, aku sungguh berhutang pada sepak bola.'' Dan buku, tidak dapat dimungkiri jadi jendela untuk mengenal dunia dan juga sepak bola. (*)

*) N. Mursidi, cerpenis dan penggemar bola, tinggal di Ciputat, Tangerang

baca lebih lanjut...?

Minggu, 25 Mei 2008

merindukan novel pendobrak

esai ini dimuat di Seputar Indonesia, Minggu 25 Mei 2008

Dunia perbukuan masih diwarnai kelatahan para penulis dan penerbit. Lantas harapan membaca buku-buku berkualitas pun berbuah kekecewaan.

Sebab,buku-buku yang beredar di pasar dan dijajar rapi di sejumlah toko buku untuk dijual ke pasaran nyaris dipenuhi dengan buku-buku yang tak bagus (meski tak seluruhnya) alias mutunya masih jauh dari harapan.Wajar jika teman saya, saat saya antar untuk membeli buku—mungkin juga sebagian besar pembaca di Indonesia— kemudian merasa kecewa dan geram.

Kegeraman teman saya itu tidak lain karena dunia perbukuan kita lagi dijangkiti penyakit akut berupa kelatahan.Pertama,demi meraup untung semata, sebagian penerbit latah menerbitkan buku asal-asalan serta kurang menggugah. Semisal, setelah buku Jakarta Undercover (Moammar Emka) meraih sukses, penerbit lain ikut menerbitkan buku serupa.

Kedua, kelatahan lain pun juga terjadi pada pilihan judul buku. Salah satu kasus,ketika penerbit Qisthi Press berhasil meraih penjualan buku La Tahzan (Aidh Al- Q a r n i ) secara fantastis, penerbit lain lalu ikut-ikutan menerbitkan buku dengan judul nyaris serupa, seperti La Taghdhab (Jangan Marah), La Takhaf (Jangan Takut), La Tanza (Jangan Lupa).

Bahkan, belakangan, novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata menjadi kiblat meniru sukses sebuah buku. Selain penerbit, pengusung ide (sang penulis buku) parahnya tak mampu mendobrak kebuntuan itu. Penulis latah karena hanya ingin menjadi penulis, kemudian asal menulis (meskipun saya tahu tidak sepenuhnya penulis demikian), untuk numpang nama dan mencari status sosial.

Dengan konteks itu, wajar jika kemudian buku-buku yang beredar dan berjejer di rak-rak toko adalah setumpuk buku yang dipenuhi buku-buku kurang bermutu. Sungguh menyedihkan! Karena itu, tidak disangsikan lagi, dibutuhkan ketajaman melihat arus perubahan zaman,baik bagi penerbit maupun penulis, supaya tak sekadar menerbitkan buku-buku yang laku di pasaran, tetapi harus diimbangi dengan kualitas dan mutu yang baik.

Meski begitu, di balik ketajaman itu, tidak semestinya hanya terjebak pada kerinduan semata, tanpa ada “jalan keluar” bagaimana melahirkan buku bermutu, terlebih buku yang bisa mendobrak pasar sekaligus bisa langgeng (abadi).

Menyiasati Kejenuhan
Di tengah kejenuhan pembaca setelah digencar dengan karya-karya serupa hasil investigasi seks karya Moammar Emka, lantas buku-buku fiksi yang berbau seks dan menggoda syahwat seperti novel Saman (Ayu Utami) dan Jangan Bermain-main dengan Kelaminmu (Djenar Maesa Ayu), dunia penerbitan Tanah Air kita boleh lega dengan kehadiran sastrawan Habiburrahman El-Shirazy—yang merilis novel dengan corak lain, Islami, bahkan mampu mendobrak kejenuhan pasar.Kehadiran novel Ayat-Ayat Cinta pun seakan mengisi kehausan minat pembaca.

Alhasil,novel dengan setting Mesir yang memesona itu pun meraih sukses. Akan tetapi, “dobrakan” El Shirazy itu harus diakui baru sebatas kejelian membangun warna baru dari kecenderungan pasar yang sudah digelontor warna novel-novel bertema seks. Bisa dipahami jika sambutan pembaca serupa diguyur air tatkala pasar sudah lama digantangi dengan terik panasnya buku-buku berbau seks sehingga novel Ayat-Ayat Cinta seakan membawa “angin surga”yang menawarkan kesejukan dan pencerahan.

Tapi sayang, seiring hal itu, lagilagi kelatahan penerbit,juga penulis, di Negeri Indonesia tidak serta-merta tersadarkan. Justru fenomena keberhasilan Ayat-Ayat Cinta itu kian melengkapi kelatahan penerbitan buku di Tanah Air ini. Kalau sebelumnya kasus kepiawaian Moammar Emka sempat mendobrak kejenuhan pasar, kini pasar itu seperti digeser dengan demam Ayat-Ayat Cinta.

Kelatahan pun bergulir terjadi, penerbit dan penulis ikut-ikutan menerbitkan novel bertema sama dengan corak Ayat- Ayat Cinta.Ketika demam Ayat-Ayat Cinta itu usai, kini demam novel dengan warna dan corak Laskah Pelangi.

Mendobrak dan Langgeng
Dobrakan El Zhirazy dalam merilis Ayat-Ayat Cinta itu memang patut diacungi jempol.Tapi, apakah dobrakan ide yang digemakan El Zhirazy itu akan tetap mendobrak dan bahkan luar biasa setelah satu abad kemudian? Jelas,belum tentu.

Sebab,saya melihat dobrakan yang dilakukan Kang Abik—Habiburrahman El Zhirazy— hanya sebatas tawaran baru saat sastra Indonesia lagi diramaikan tema seks, tapi ide tersebut tanpa disertai pemikiran yang baru (seperti dari tinjauan sejarah, sosiologi, atau ilmu pengetahuan).

Karena itu, ide dari El Zhirazy masih tidak dapat menyandingi kebesaran karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang mampu mendobrak dan langgeng. Sebab, sebagian besar novel Pramoedya, selain mendobrak, punya mutu, ternyata juga memiliki bobot yang langgeng.

Pramoedya tidak saja menawarkan novel yang enak dibaca, tetapi juga menawarkan ide serta gagasan baru—merekonstruksi sejarah dan menawarkan sastra aliran realisme sosialis di Indonesia.Tidak berlebihan jika Pramoedya sempat dicalonkan masuk nominasi mendapatkan hadiah Nobel meski sampai ajal menjemput hal itu tidak pernah menjadi kenyataan.

Kendati demikian, meski Pramoedya sudah meninggal dunia, hingga kini novel-novel karya pengarang kelahiran Blora itu masih terus didekap dan dibaca banyak orang. Namun,saat ini memang tidak mudah menemukan buku atau novel yang bermutu setaraf karya Pramodeya. Terkadang saat ada buku (novel) yang punya pengaruh luas dan mendobrak, belum tentu buku (novel) itu dapat langgeng.

Itu persoalannya. Lagi-lagi kelatahan pun akan terus menjadi fenomena yang menjangkiti dunia penerbitan di Tanah Air kita jika tidak lahir pengarang baru yang menggantikan Pramoedya karena pengarang kelahiran Blora itu harus diakui mampu melahirkan buku pendobrak, sekaligus langgeng (abadi)!(*)

*) N Mursidi, cerpenis dan esais, tinggal di Ciputat, Tangerang.

baca lebih lanjut...?

Jumat, 02 November 2007

Novel Tebal dan dilema Sebuah Pesan

(esai ini dimuat Surya, Minggu 22 April 2007)

TIGA tahun lalu ketika saya masih kuliah di Yogyakarta, ada seorang teman yang datang ke kontrakan hendak meminjam novel Arus Balik karya monumental Pramoedya Ananta Toer. Sebelumnya, ia memang tak tahu tentang novel itu karena pengetahuannya tentang buku boleh dikata masih "minim". Ia ingin meminjam novel Arus Balik itu lantaran "dikompori" oleh teman-teman. "Novel itu sangat bagus dan cukup mengagumkan, rugi jika kamu tidak sempat membaca novel itu." Karena "penasaran", dengan sembunyi-sembunyi dia datang ke kontrakan saya dan mengaku ingin meminjam karya Pramoedya itu.

Dengan ringan tangan, saya mengambil novel itu dari rak buku dan menyodorkan kepadanya. Tapi anehnya, buku Arus Balik itu tidak dia sentuh. Dia justru melontarkan perkataan yang membuatku tertawa geli. "Hah... tebal banget! Kapan aku akan merampungkan buku setebal itu? Bisa-bisa, aku tak merampungkannya, justru malah menjadikan novel itu sebagai bantal." Ia tidak jadi memasukkan Arus Balik itu ke dalam sebuah tas yang sudah dia siapkan dari rumah. Ia celingukan, lalu melirik buku lain, novel Bukan Pasar Malam. Dan di luar dugaanku, novel Bukan Pasar Malam itu yang kemudian ia pinjam dan ia bawa pulang ke rumah.

Padahal, novel Arus Balik itu tak setebal bantal. Novel yang ditulis oleh Pramodya sewaktu dipenjara di Pulau Buru itu masih tergolong sedang-sedang saja. Tebalnya sekitar 700 halaman, tidak cukup berat jika dibaca dengan santai. Dengan kata lain, novel itu tak seberapa tebal jika dibanding dengan buku atau novel karya pengarang luar yang tebalnya seribu halaman lebih, seperti; A Suitable Boy (Vikram Seth), War and Peace (Leo Tolstoy) dan Invinite Jest (David Foster Vallace).

Memang bagi orang yang tak gila buku, membaca buku sastra yang tebal seperti Arus Balik seakan-akan melihat "hantu" (monster). Jangankan membacanya sampai tuntas, melihatnya saja sudah membuat takut, merinding dan bergidik. Karena itulah, sepulang temanku itu saya bertanya-tanya; jika novel tebal membuat orang yang tak gila buku merasa enggan membaca, lantas kenapa buku setebal itu harus ditulis? Apa yang diinginkan oleh pengarang dengan menulis buku setebal itu jika isi atau pesan di dalam buku tersebut hanya dibaca segelintir orang saja? Apakah mereka ingin gagah-gagahan saja dan tak peduli dengan pasar atau pembaca?

Saya tak ragu untuk mengatakan, bahwa pengarang sekaliber Pramoedya, Vikram Seth, Leo Tolstoy dan David Foster Vallace adalah pengarang yang tahu betul bahwa tulisan yang bagus adalah tulisan yang padat serta simpel. Karena dalam menulis sebuah buku dikenal adagium lama "tulisan yang baik adalah tulisan yang padat, simpel dan berisi, namun mengenai sasaran." Tapi persoalannya, saya yakin tidaklah sesepele itu dan mereka seakan lupa dengan "pandangan yang sudah jamak" itu. Dengan kata lain, tentunya ada motif dan keinginan dibalik menulis buku sastra setebal itu.

Karena diakui atau tidak, menulis "buku tebal" itu sebenarnya adalah sebuah "kecelakaan" sekaligus anugrah. Saya katakan kecelakan karena menulis serta menerbitkan novel tebal itu memiliki potensi mencelakakan. Pertama, novel tebal itu memiliki "dilema" ketika hendak diterbitkan. Penerbit memang ingin sukses menerbitkan buku tebal, tapi juga dihantui ketakutan kalau buku itu malah jeblok di pasar. Sebab biaya untuk produksi buku tebal lebih besar, maka tidak jarang penerbit memilih cara menolak menerbitkan "buku tebal". Dengan pertimbangan itulah, buku tebal terganjal di penerbit dan tak bisa sampai di tangan pembaca.

Potensi mencelakaan itu yang juga membuat penerbit di Indonesia ini "enggan" menerbitkan atau menerjemahkan buku-buku tebal karya dari luar, kecuali jika buku itu memang sangat monumental --seperti Harry Potter yang memang mampu menghipnotis pembaca. Karena itu, meski karya JK. Rolling itu belum rampung, pastilah sejumlah penerbit sudah berebut mau menerbitkan dan menerjemahkannya demi meraup keuntungan yang memang cukup menjanjikan.

Kedua, buku setebal apapun toh pada intinya merupakan rangkaian kata yang mengantarkan pembaca bisa mengerti isi (baca: pesan) yang ditulis. Karena itulah, saya sempat manggut-manggut dan mengangguk ketika seorang teman yang telah menulis novel setebal 500 halaman lebih, berkata dengan nyinyir, "Saya yakin, kalau Arus balik itu ditulis John Steinbeck, pasti akan jadi lebih ringkas sekitar 300-400 halaman. Sebab Steinbeck bisa menggambarkan setting dan alur cerita dengan cukup detail tanpa harus kehilangan kejelasan."

Di sini saya dapat menyimpulkan; untuk apakah menulis buku sastra tebal dan "bertele-tele" jika sebenarnya novel itu dapat diringkas lebih pendek lagi? Ini jelas satu "kecelakaan" yang mungkin tidak disengaja dan tanpa disadari oleh penulis novel tebal. Persoalan ini, jelas lain kalau buku tebal itu jenis ensiklopedi atau kamus. Di sisi lain, jelas karena ada alasan prestise dan idealisme pengarang yang tak bisa diukur daru kalkulasi untung dan rugi belaka.

Karena, walau bagaimanapun menulis novel tebal itu adalah anugrah yang tidak dapat diraih oleh semua penulis. Dengan kata lain, hanya penulis besar dan berkompeten yang mampu menulis novel tebal. Proses menulis novel tebal itu, dibutuhkan keseriusan, ketekunan dan nafas yang panjang. Saya tidak bisa membayangkan ketekunan Karl Marx saat menulis buku Das Capital sampai-sampai buku itu ditulis selama kurun waktu 18 tahun dan bahkan pantatnya ditumbuhi bisul. Apa yang dikerjakan Marx dengan tekun itu, memang tidak sia-sia. Marx akhirnya dikenal telah menulis buku tebal dan buku itu pun dicatat sejarah sebagai buku yang "menghebohkan".

Kendati demikian, satu hal yang perlu dicatat adalah; ketebalan novel sebenarnya tidaklah terlalu penting sebab yang terpenting dari novel adalah isi (pesan). Tak jarang buku tipis yang ditulis dengan luapan dan pikiran brilian malah bisa menggetarkan dan mengubah (sejarah) dunia. Karena itu, bagi saya, menulis "novel tebal" itu adalah satu kecelakaan dan sekaligus juga sebuah anugrah.***

*) N. Mursidi, cerpenis dan peneliti pada Pusat Pemajuan Kebudayaan, Jakarta.

baca lebih lanjut...?

Rabu, 24 Oktober 2007

Perang, Tradisi dan Sastra (Palestina)

(Esai ini dimuat di Surya dan penerbit alvabet, Minggu 10 Des 07)

KARYA sastra yang bagus kerap menyeruak dari celah keadaan zaman yang bergolak, adat yang mengungkung, situasi perang, kesengsaraan akibat pendudukan dan serinai "kesengsaraan hidup" yang mencekam. Karena itu, tak jarang sebuah karya sastra lahir dari gejolak perang, hegemoni adat istiadat yang memihak kaum lelaki dan kesengsaraan akibat pendudukan. Dengan kondisi zaman yang timpang itu, pengarang seakan dipanggil untuk bersuara lantang lewat karya sastra.

Lewat karya-karya itu, tidak ada misi lain yang ingin didengungkan oleh pengarang, kecuali menyuarakan keadilan, kebenaran dan berpihak kepada yang lemah. Bisa dimaklumi, kenapa pengarang harus bersuara lantang? Pertama, pengarang adalah penutur kehidupan. Ia memiliki sikap jujur, empati serta hati nurani yang mudah tersentuh tatkala zaman mengonyak rasa kemanusiaan. Kedua, pengarang adalah pembawa obor kebenaran. Jadi, apa yang menurutnya tidak sesuai dengan kebenaran --entah itu berdasar ajaran agama, hak asasi manusia, atau nurani-, maka ia akan memberontak lewat tulisan.

Kondisi zaman itulah, yang mau tidak mau, melahirkan pengarang-pengarang Palestina yang sepanjang sejarahnya nyaris tak pernah sepi dari "gejolak perang" untuk menuliskan apa yang dilihat, apa yang diterima dan apa yang dirasa atas perang dan adat yang mengungkung. Itu satu keniscayaan. Jadi, kelahiran pengarang seperti Mourid Barghouti dan Souad adalah "tuntutan zaman". Artinya jika tidak lahir kedua pengarang tersebut, Pelestina pun akan memberikan "ruang terbuka" bagi pengarang lain untuk tetap bersuara lantang guna menuntut keadilan, keberpihakan pada manusia yang lemah dan sebuah kehidupan yang lebih baik.


Menentang Perang
Di dalam novel I Saw Ramallah, Barghouti menuturkan negeri Palestina yang merana akibat pendudukan Israel. Tidak saja, negeri itu tak tertulis di dalam peta, atau tidak diakui sebagai sebuah negara, justru penduduk Palestina harus sengsara, tercerai berai atau berpisah dengan keluarga. Dan nasib tragis itulah yang dialami oleh Mourid Barghouti ketika Israel mencaplok negeri Palestina, sejak 5 Juni 1967.

Memang, Palestina seperti tidak pernah sepi dari gejolak. Sejarah Palestina mungkin adalah potret buram sejarah perang selama bertahun-tahun mulai dari perang salib, pertempuran Hattin 1187 dan pendudukan Israel. Dan sejak Palestina diduduki Israel 1967, Barghouti seperti tak lagi memiliki Palestina. Meski Palestina adalah tanah kelahirannya tetapi Israel melarang ratusan pemuda Palestina yang ada di luar negeri pulang ke Palestina, termasuk dirinya yang pada saat itu kuliah di Universitas Kairo.

Akibatnya, dia jadi orang naziheen (terbuang). Tak diizinkan masuk ke negerinya, terpisah dari keluarga dan selalu berpindah tempat tinggal. Ia baru bisa pulang setelah tiga puluh tahun hidup tanpa kewarganegaraan yang jelas. Setelah mengalami duka lara akibat dilarang pulang, akhirnya dia bisa berkumpul dengan keluarga di Palestina. Kisah I Saw Ramallah ini adalah perjalanan getir selama tiga puluh tahun itu sebagai orang terbuang.

Seperti Hemingway, Pramoedya dan juga masih banyak pengarang lain di dunia yang sempat turun ke medan pertempuran, Barghouti adalah pengarang yang merasakan hidup getir akibat perang. Maka tak salah jika perang menjadi semacam momok kehidupan yang harus ditolak. Hamingway pernah jadi tentara dan apa yang dirasakan dari perang kemudian dia kisahkan dalam Pertempuran Terakhir. Nasib sama dialami Pramordya. "Pahit getir" pada masa perang dapat ditengok dalam karya-karyanya. seperti Cerita dari Blora, Larasati, dan Perburuan.

Pendek kata, tak ada pengarang dunia manapun yang tak menolak perang. Karena pengarang memiliki semacam kewajiban untuk bersuara lantang dan tak ada cara lain lagi yang digunakan kecuali harus melakukan pemberontakan lewat tulisan, semisal novel. Dan Barghouti mendapat panggilan itu!


Ketidakadilan Tradisi
Palestina, rupanya, tidak hanya negeri yang masih dilanda kecamuk perang. Persoalan adat yang tidak adil masih juga mengungkung masyarakat Palestina, terutama di daerah-daerah pedalaman. Souad (nama samaran), dalam novel Burned Alive, menuturkan kisah yang dialami akibat tradisi yang memihak kaum lelaki, bahkan nyaris merenggut nyawanya.

Dikisahkan, di tempat Souad dilahirkan (Tepi Barat, Palestina), perempuan masih dianggap tak lebih dari keledai. Kelahiran anak perempuan adalah kutukan. Toh, kalau tidak dibunuh saat lahir maka diperlakukan tak adil, tak mendapat kesempatan seperti anak lelaki dan lebih tragis lagi; hukum menetapkan bahwa membunuh perempuan itu bukan "dosa." Apalagi, jika perempuan itu dicap sebagai charmuta (pelacur), maka atas nama kehormatan, adat telah menghalalkan perempuan itu dibunuh!

Nasib itu yang dialami Souad. Karena ia tidak direstui orangtuanya untuk menikah lantaran masih ada kakak perempuannya yang belum dilamar orang, maka dia yang sudah hamil duluan terpaksa dibunuh. Kenapa dibunuh? Karena, keluarga tidak mau menanggung malu. Dan, tindakan membunuh itu justru jadi hukum adat, dan pembunuh akan dijuluki sebagai "pahlawan". Hanya takdir yang kemudian menyelamatkan Souad dan pada akhirnya menuntun ia menulis novel kisah hidupnya ini supaya tradisi yang menghalalkan pembunuhan atas nama kehormatan itu diketahui penduduk dunia.

Masa Depan (Sastra) Palestina

Dari kedua novel yang ditulis oleh kedua pengarang asal Palestina itu, dapat digarisbawahi bahwa tema yang diangkat memang masih dalam kubangan sastra-kolonial dan masih belum "beranjak" dari bayang-bayang tradisi. Kenyataan itu dapat dipahami, karena Palestina hingga kini dalam gejolak perang. Kehadiran Barghouti seakan mewakili pengarang Palestina untuk menyuarakan keadaan negeri yang menjadi tanah kelahiran meraka dan mau tidak mau harus diperjuangkan.

Pada sisi lain, Palestina masih merupakan negara ketiga yang cukup kuat memegang tradisi. Dan salah satu kekuatan pendobrak yang mengikis kungkungan tradisi itu adalah mengulirkan gugatan yang dihembuskan lewat karya sastra. Kehadiran karya Souad, diakui atau tidak adalah jalan lempang bagi kemajuan Palestina, terutama bagi kaum perempuan supaya bisa terlepas dari jeratan radisi dan mendapat perlakuan adil seperti soal pendidikan dan tidak disamakan seperti keledai.

Satu hal lagi, masa depan sastra Palestina tak akan bisa mengalami perkembangan dan juga kemajuan selama perang masih bergejolak. Dengan kata lain, kemajuan sastra Palestina dengan begitu tergantung dari kemerdekaan Palestina. Tetapi, sayang seribu sayang. Sampai kapan rakyat Palestina akan menghirup udara bebas? Untuk itu, lewat sastra, Barghouti dan Souad berjuang untuk membuka "jalan lempang" bagi kemerdekaan Palestina dan juga kemajuan sastra Palestina.

Di sini bisa dibandingkan dengan kondisi pra-kemerdekaan Indonesia. Kehadiran sastrawan seperti Taufik Ismail dan Chaeril Anwar yang dapat mengobarkan semangat perjuangan guna melawan penjajahan adalah pintu awal dari sebuah perubahan. Juga kehadiran karya era Balai Pustaka seperti; Adab dan Sengsara, yang kemudian bisa membuat tradisi, lambat laun mulai ditinggalkan dengan satu catatan sepanjang adat itu mengungkung kehidupan manusia. Dan, apa yang dituturkan oleh Barghouti dan Souad, jelasnya diharap dapat mengubah keadaan bahwa kedua karya itu memang sebuah "potret buram negeri Palestina". ***

*) n_mursidi, adalah cerpenis, tinggal di Jakarta.


baca lebih lanjut...?

Selasa, 02 Oktober 2007

Selebritas dan Buku Sastra

(esai ini dimuat di Sinar harapan, Sabtu 8 April 2006)


"Writers are born, not made", begitulah pemahaman orang awam terhadap sosok penulis. Padahal sosok penulis adalah manusia biasa, bukanlah malaikat. Kalau toh akhir-nya bisa jadi penulis, itupun lantaran menempa hidup dengan latihan. Untuk menyebut sebagian kecil penulis kawakan; Pramoedya, Muchtar Lubis dan Aswendo Atmowiloto, harus dicatat bahwa sebelum mereka dikenal sebagai penulis besar, dulu sempat mengalami susah dan duka untuk mendapat predikat sebagai penulis.

Dengan fakta itu berarti tak ada alasan bahwa penulis itu dilahirkan. Bukalah sejumlah buku teori kepenulisan! Di situ, bakat memang diakui sangat menunjang, tetapi yang lebih penting adalah kemauan, displin dan kerja keras. Tanpa tiga elemen itu, tidak mungkin orang akan jadi penulis. Siapa pun bisa jadi penulis asal mau belajar. Sebab menulis adalah suatu ketrampilan seperti renang, berpacu kuda dan sepak bola yang butuh proses belajar tak hanya dalam hitungan hari dan bulan, melainkan bertahun-tahun.

Secuil fakta lain, juga membuktikan bahwa seorang penulis tidak mesti lahir dari keluarga penulis. Sebutlah Hans Christian Anderson, penulis cerita anak asal Denmark, ternyata hanyalah anak dari seorang pembuat sepatu. Karena itu, tak cukup mengejutkan kalau selebritas pun mau disemati predikat sebagai penulis lalu ramai-ramai menerbitkan buku. Tentunya, "itu sah-sah saja". Kita tidak perlu kebakaran jenggot, dan menuduh sebagai aji mumpung, selain karena popularitas yang sudah direngkuh kalangan artis, akhirnya membuat buku-buku mereka laris manis bak kacang goreng.

Popularitas memang sebuah anugerah besar. Orang yang dikelilingi oleh popularitas tentunya akan mudah merambah ke bidang lain. Kasus nyata, adalah Michael Jordan, sang bintang bola basket. Setelah sukses di lapangan, ia bisa dengan mudah menjadi bintang iklan sepatu dan sempat bermain film. "Prestasi" yang cukup mencengangkan justru dialami Arnold, si bintang Hollywood yang di ujung karier justru terpilih jadi gubernur California.

Fenemena lain, sekarang artis ramai berkiprah di dunia kepengarangan. Sebuat nama Melly Goeslow, yang setahun lalu telah menerbitkan 10 Arrrrrgh... (kumpulan cerpen), Rieke Diah Pitaloka menerbitkan Renungan Kloset (kumpulan puisi) serta Kekerasan Negara (semula tesis S2). Dalam waktu dekat, Gramedia malah akan menerbitkan buku ketiga pemeran Oneng dalam senetron Bajaj Bajuri yang berjudul Ups. Artis lain, Ingrid Widjanarko --presenter-- menulis Surat untuk Rumput (kumpulan cerpen) dan akan terbit buku kedua Sex & The Cookies. Juga, Tamara Geraldine, beberapa waktu lalu telah menerbitkan buku Kamu Sadar Saya Punya Alasan untuk Selingkuh Kan Sayang?

Semarak artis terjun ke dunia kepengarangan bukanlah hanya terjadi di negeri ini. Di Barat ada nama Madonna yang menulis buku-buku anak sampai lima jilid; English Roses, Yakov and the Seven Thieves, Mr. Peabody`s Apples, The Adventure of Abdi dan Lotsa de Casha. Lain Madonna, artis Ethan Hawke menulis novel The Hottest State (1997) dan Ash Wednesday (2003).

Sebenarnya, kiprah selebritas menulis buku bukanlah hal baru. Karena, pemain gaek opera sabun Dinasty, Joan Henrietta Collins sudah menulis bukunya Past Perfect pada 1985.
Sementara untuk artis Indonesia dimulai dari gebrakan Dewi Lestari yang meluncurkan Supernova tahun 2001. Setelah itu, ramai-ramai kaum selebritas di Indonesia menulis (menerbit) buku. Uniknya, hampir semua buku yang ditulis artis dilirik pembaca. Lebih dipicu karena ketenaran nama, untuk buku pertama Madonna sempat diterbitkan dalam 42 bahasa serta beredar di 100 negara. Sedang, buku Melly dalam waktu kurang dari setahun sudah dicetak ulang 10 kali. Padahal, buku Melly sebelum diterbitkan Gagas Media, sempat "ditolak" sebuah penerbit. Kisah lain, juga dialami Rieke. Buku Renungan Kloset, awalnya ditolak penerbit, sehingga dia mengelurkan jurus dengan merogoh kocek dari kantong sendiri. Di luar dugaan, buku puisi yang di negeri ini tak laku ternyata untuk karya Rieke terjual 3 ribu eksemplar lebih.

Kiranya tak disangkal, larisnya sebuah buku pada hakekatnya ditopang oleh dua hal. Pertama, faktor isi/ide. Buku yang bisa terjual laris tak lepas dari ide yang bagus, isi yang menggugah dan mencerahkan. Buku dengan kategori itu, selain dicari-cari pembaca juga melampui penulisnya, sebab akan dikenang terus sekali pun sang penulis sudah wafat. Tak salah, kalau buku Das Capital sampai kini masih "dikeloni" oleh pembaca di seantero dunia.

Kedua, nama si penulis. Dalam kaitan larisnya buku-buku artis, karena nama artis itu terang telah memiliki nilai jual. Artis telah menduduki tempat istimewa dimata publik sehingga pembaca tak akan lagi memperhatikan buku yang ditulis seorang artis. Pendek kata, kalau artis itu sudah menjadi idola, maka akan dibeli tanpa pertimbangan. Karena, daya dorong beli bukanlah tergantung mutu, melainkan emotional yang digerakkan oleh kultus terhadap artis.

Dengan fenomena itu, beberapa pihak lalu menuduh artis memanfaatkan aji mumpung, sebab mutu buku yang dihasilkan memang tak memadai. Tapi, saya tidak berani menilai semua buku artis masuk dalam nominasi seperti itu. Sebab saya masih menaruh minat terhadap buku Kekerasan Negara karya Rieke dan buku Supernova Dewi Lestari. Untuk karya Dewi, sebab selain cukup bagus, juga ada gebrakan yang diusung dalam hal corak estetika. Bahkan, banyak kritikus yang menilai kepiawaian Dewi dalam hal lompatan sastra sains yang telah dicapai.

Akhirnya, kenapa kita perlu geram? Biarlah buku-buku karya artis itu memenuhi pasar. Sebab, setelah sebuah buku terbit, ia tidak lagi milik sang penulis. Ia milik pembaca. Karena pengarang sudah mati dan karya itulah yang nantinya akan diuji sejarah. Apakah ia sekedar sebuah catatan iseng atau buku bermutu yang memang layak disimpan di rak buku!***

*) n_mursidi, cerpenis asal Lasem, Jateng.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 23 September 2007

Buku Berbau Lendir dan Moralitas Penulis

Tanggapan utk Ahmad Fatoni
Oleh Nur Mursidi *)

HARI itu, Sabtu 18 Juni 2005. Jakarta masih sesak dengan denging mobil dan kemacetan saat saya turun dari bus dan menginjakkan kaki persis di depan toko buku Gramedia, Matraman. Di akhir pekan seperti itu, saya biasa "melanglang buana" untuk melepas kejenuhan sejak lima bulan bekerja di Jakarta. Sebelum kuputuskan untuk masuk ke toko buku Gramedia, saya melangkahkan kaki ke kios koran. Kubuka Sinar Harapan terbitan hari itu, dan ketika membaca kolom budaya berjudul "Melirik Buku-Buku Berbasis Lendir" (Sabtu, 18/06/05) karya Ahmad Fatoni, seketika saya dibuat tercengang dan kaget.

Kekagetan saya itu semata-mata bukan karena tulisan Fatoni itu bagus dan mematik polemik, tetapi tak lebih dilatari dua hal. Pertama, tulisan Fatoni berjudul "Melirik Buku-Buku Berbasis Lendir" itu pernah dimuat Jawa Pos, Minggu 24/10/2004. Anehnya, dari segi isi maupun judul, tidak ada yang dirubah. Artinya, tulisan yang di Sinar Harapan itu ternyata sama persis dan tidak ada perbedaan sama sedikitpun dengan tulisan di Jawa Pos --yang dimuat hampir setahun lalu.

Kedua, setelah dimuat tulisan Ahmad Fatoni di Jawa Pos, seminggu kemudian saya menanggapi dan memberikan argumen kalau di balik seksualitas tetaplah ada nilai positif yang diambil pembaca dan kita tak semena-mena mengutuk buku semacam itu sebagai sampah semata. Saya tunggu-tunggu juga tanggapan balik Fatoni dan ternyata tak juga muncul sehingga saya berkesimpulan kalau tulisan itu sudah tidak lagi menjadi polemik.

Tetapi, kenapa setelah hampir satu tahun sejak dimuat di Jawa Pos itu, kini tulisan Ahmad Fatoni yang sama persis (judul dan isinya) masih dikirim (dimuat) lagi di Sinar Harapan?

Kritik di Level Permukaan
Tatkala saya membaca ulang tulisan Ahmad Fatoni, saya memang memahami betul "kegelisahan" yang dirasa Fatoni berkaitan dengan terbitnya buku esek-esek yang menjamur setelah era reformasi. Sebab tak sedikit buku berbau lendir membanjiri pasar dan pembaca juga memberi respon. Tak salah jika Fatoni geram dan mengutuk moralitas penulis. Karena itu, Ahamd fatoni dalam tulisannya itu kemudian menuduh para penulis buku berbau lendiri, antara lain; pertama, sudah ditikam kuatnya aroma kapitaslisme sehingga menulis tak lebih hanya tuntutan untuk mencari uang semata. Fatoni dalam tulisan itu menuduh Muhidin menulis seperti berak! Apalagi, tanpa tedeng aling-aling mencoba mengungkap seksualitas, pornografi dan detil tubuh agar laku di pasar.

Kedua, penulis sengaja memilih judul-judul untuk bukunya juga dengan bau lendir, dengan alasan yang sama setidaknya untuk menarik pembaca. Maka, kita bisa menjumpai judul buku semisal Wajah Sebuah Vagina, Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur, Selingkuh Itu Indah, Jangan Main-Main dengan Kelaminmu dan juga masih banyak lagi.

Tapi bagi saya, Fatoni cuma menyentuh level permukaan. Artinya, Fatoni hanya menyingkap judul dan tidak melihat isi detal buku. Sebab, buku-buku di atas jika dibandingkan dengan buku-buku dari karangan Ayu Utami, Djenar dan kawan-kawannya masih belum seberapa. Apalagi, Fatoni dalam tulisannya hanya menyoroti buku Muhidin dan Naning Pranoto yang bagi saya tak ada apa-apanya. Dua buku itu biasa dan sama sekali tidak menyinggung soal seks, esek-esek apalagi detail tubuh intim wanita.

Karena itu, bagi saya Fatoni hanya melancarkan kiritik dan geram di level permukaan.

Moralitas Penulis
Selain kegeraman seperti di atas, Fatoni juga menyingggung masalah moralitas penulis buku esek-esek. Sebab, baginya seorang penulis selain memiliki tanggung jawab moral juga dipaksa untuk memerikan pesan dalam sebuah tulisan yang digarap. Saya sepakat dengan hal ini, namun yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah.... Ia menilai Muhidin dan Naning Pranoto tidak lagi mempertimbangkan moral. Alasannya apa?

Pertama, apakah Ahmad Fatoni memang sengaja c ulas dan curang dengan mengirimkan tulisan itu setahun kemudian, karena saya sebagai seorang penulis juga pernah mengalami saat-saat sulit dan kadang hal itu membuat penulis yang terjebit berbuat kurang sopan dengan mengirimkan tulisan yang sudah pernah dimuat di satu media, ke media yang lain.

Kedua, ataukah redakturnya memang lupa dan ketelengsut sehingga tulisan yang mungkin di kirimkan oleh Ahmad Fatoni setahun lalu baru ditemukan dan merasa bagus sehingga dimuat. Sebab, saya sendiri pernah mengalami sebuah tulisan dimuat setahun kemudian dari pengiriman. Anehnya, tulisan tersebut saya anggap tidak dimuat

*) n. mursidi, esais dan cerpenis.

baca lebih lanjut...?

Selasa, 04 September 2007

Esai: Ada Apa dengan Buku Berbau Lendir

(Tanggapan untuk Ahmad Fatoni/ dimuat di Jawa Pos, Minggu, 31 Okt 04)

Oleh Nur Mursidi *)

MEMBACA tulisan Ahmad Fatoni (Melirik Buku-Buku Berbasis Lendir, Jawa Pos, 24/10/2004) saya melihat ada keprihatinan yang ingin disampaikan berkaitan dengan maraknya buku-buku yang bersinggungan "kehidupan esek-esek" serta penyimpangan seksual. Apalagi, setelah Orde Baru tumbang, yang secara seporadis diikuti dengan pertumbuhan "dunia penerbitan" dan kemunculan buku bertema seks, ternyata menjadi idola pembaca. Tidak berlebihan jika kemudian Ahmad Fatoni menyayangkan fenomena itu. Dia tampaknya sangat geram!

Menurut kaca mata Ahmad Fatoni, buku-buku berbasis lendir itu (untuk menyebutkan buku-buku berbau seks) termasuk buku-buku "sampah" yang tak layak terbit, apalagi dijual ke pasaran. Lebih dari itu, ia juga mengecam pilihan judul yang memang kadang sengaja sensual demi tuntutan pasar. Seperti yang dicontohkan antara lain Selingkuh Itu Indah, Garis Tepi Seorang Lesbian, Jangan Main-main dengan Kelaminmu, Sex in the Kost, Pantat Bangsaku, Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur dan Wajah Sebuah Vagina.

Sayang, Ahmad Fatoni seperti lupa kalau buku Pantat Bangsaku karya Islah Gusmian dimasukkan juga dalam kategori buku dengan judul yang berbau "lendir". Padahal, kalau mau jujur, buku itu adalah buku bertemakan politik dan pilihan judul itu tak lebih sebagai sarkasme terhadap kebobrokan mental elite politik di negeri ini yang tak punya malu. Untuk itulah, kasus isi dan pilihan judul buku Pantat Bangsaku jelas beda sekali dengan buku karya Muhidin M. Dahlan, yang berjudul Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur maupun buku Naning Pranoto yang berjudul Wajah Sebuah Vagina, yang boleh dikata sungguh "saru" untuk masyarakat kita yang menjunjung bahasa dan etika ketimuran karena tidak dimaksud menyindir (dengan simbolisme).

Selain masalah judul yang diklaim saru, soal tanggung jawab maupun "tugas suci" penulis sebagai penyampai pesan moral juga tak luput dari gugatan dan cacian. Tak pelak, karena buku Muhidin dianggap berbasis lendir, makanya Ahmad Fatoni ikut mengutuk "niat" yang ingin dicari penulis, yang tak lebih sekadar untuk mencari uang. Terlepas dari hal itu, saya yang sempat bermain ke rumah Muhidin agak terperanjat. Saya dulu mengenal Muhidin ke sana-kemari selalu memakai sepeda butut dan ia hidup sederhana (kenyataan ini sempat dikisahkan Muhidin dalam buku Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta). Namun kini ia sudah mampu menyewa rumah di perumahan asri dengan ada sedikit perabotan elit. Dia kini juga mengendarai sepeda motor.

Selain itu, Muhidin juga dituduh telah terjebak dalam niat yang tak terhormat, karena menulis seperti berak saja. Apa saja ditulisnya. Tanpa ada sebuah perenungan, karena keluar begitu saja. Bahkan lebih ekstrim, Muhidin dituduh telah murtad setelah menulis buku Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur. Kritik pedas dan kecaman serupa juga diterima Naning Pranoto atas buku Wajah Sebuah Vagina. Karena alasan itulah, dua buku tersebut dianggap buku murahan, kacangan, dan menjijikkan. Ujungnya, tak layak dibaca, dan sebaiknya "dibuang" saja. Benarkah?

Saya tidak meragukan kalau Ahmad Fatoni sudah membaca dan memahami betul isi buku Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur maupun Wajah Sebuah Vagina. Bisa jadi, saya yakin ia membacanya berkali-kali. Tapi, terus terang, pembacaan dan pemahaman saya terhadap dua buku tersebut ada perbedaan prespektif. Bagi saya, buku Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur adalah sebuah buku sastra/novel yang menggelorakan nada pemberontakan dengan diselipi renungan akan percikan pemikiran filosofis. Sebab dari kisah yang dituturkannya akan nasib tragis Nidah Kirani (tokoh utama), Muhidin tidak lebih cuma menjadikan kisah itu sebagai wadah belaka. Dengan kata lain, dia menggunakan "style of philoshopy" dengan menjadi sastra sebagai media dalam penguraian/pengukuhan pemikiran filosofis. Tak salah, jika dalam buku itu, pengarang cukup berani menggugat konsep kenabian, dosa, dan juga moralitas. Hal senada bisa ditilik dalam Sabda Zarathustra karya filsuf agung berkebangsaan Jerman, Nietzsche.

Sementara dalam buku Wajah Sebuah Vagina, siapa pun memang tak dapat menyangkal kalau buku itu tergolong novel berbau seks. Tetapi dengan menulis novel itu, Naning bukan berarti tidak tahu batas nilai dan pesan yang harus disampaikan pada pembaca. Dalam cerita novel itu memang seperti tanpa ada tedeng aling-aling. Semua dituturkan apa adanya. Vagina digambarkan dengan leleran lendir dan darah, akibat sebuah pemerkosaan. Tapi satu hal yang tak boleh dilupakan adalah adanya gugatan terhadap kekuasaan laki-laki atas kaum hawa.

Tak pelak novel ini berbau gerakan "feminisme" karena membicarakan filosofi vagina sebagai mahkota wanita. Karena, menurut Naning, vagina bisa membuat si pemiliknya terperosok jika tidak bisa menjaganya dengan baik, sekaligus bisa memuliakan si wanita jika vagina itu dijaga dengan baik. Untuk itulah, di balik dua novel itu sebenarnya tidak sekadar nilai kejujuran yang disampaikan. Sebagaimana pengakuan Muhidin, dengan jujur ia mengatakan bahwa ia menulis novel itu tidak lebih sebagai olok-olok atas kemunafikan manusia. Itu sangat masuk akal, sebab baik kisah novel Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur, maupun Wajah Sebuah Vagina bisa dikatakan berangkat dari sebuah kisah nyata. Kisah yang ada di dunia ini. Namun, kenapa harus diingkari?

Haruslah diakui bahwa sastra merupakan arsip sosial yang coba merekam kondisi masyarakat sesuai dengan tempat dan waktunya. Karena itulah tak salah jika sastra yang baik seringkali diukur dari seberapa "kuat" karya itu mampu merekam tradisi, adat, moral dan juga pernik-pernik persoalan satu masyarakat tertentu. Alasan dewan juri memilih Saman karya Ayu Utami sebagai pemenang sayembara bisa jadi didasarkan nilai "arsip sosial" yang digambarkan pengarang dalam masa pergolakan di akhir pemerintahan Soeharto yang memang cukup piawai dilukiskan oleh Ayu. Padahal novel Saman lebih "jorok" daripada novel Muhidin dan Naning.

Senada dalam mengeksploitasi seks seperti yang digemakan Ayu, para penulis perempuan seperti Clara NG, Djenar Maesa Ayu dan sekawanan kelompok mereka malah lebih berani menghadirkan adegan syur dengan cukup detail, dan cukup vulgar. Mungkin Muhidin dan Naning belumlah seberapa jika dibanding dengan mereka. Lalu, apa di balik dari semua itu? Apa pula "tujuan" mereka harus susah-susah menulis sebuah buku atau novel yang berbau seks? Ada baiknya di sini saya sebutkan Marquis de Sade, satrawan Prancis yang cukup dikenal jorok dalam karya-karyanya. Sampai begitu joroknya dalam mengumbar detail tubuh dan organ kelamin, Sade pernah dipenjara dan diusir dari Prancis. Sebab ia mengambarkan kejahatan dan seks secara terang-terangan, brutal, dan tanpa basa-basi.

Salah satu dari roman karya Sade Justine ou les Malheurs de la vertu menggambarkan kejahatan dan kecabulan cukup mengerikan sehingga usai terbit, kecaman keras langsung datang. Malah pemerintah Prancis kala itu sempat pula menerbitkan selebaran bahwa, "Mereka yang belum dewasa dilarang membacanya, sementara yang telah dewasa dan dapat membedakan yang baik dan buruk dan tak mudah tergoda disarankan untuk membuangnya segera setelah usai membaca."

Tetapi, benarkah Sade benar-benar menganjurkan pembaca untuk cabul dan bertindak jahat? Dalam kata-kata persembahan di salah satu novelnya yang ditujukan Constance, ia mengatakan bahwa dengan mendedahkan kejahatan secara berlebihan, begitu "telanjang" dan provokatif, ia ingin pembaca muak, mual, dan jijik, lalu berpikir menyimpang untuk kembali ke arah kebaikan.

Sade pun dalam menulis novel-novelnya tak mengharap dunia ini semakin buruk, tapi dalam keterpencilan hidup masih mengharapkan dunia yang lebih baik, untuk kehidupan semua orang. Ia bukan penghamba seks dan kejahatan meskipun seks dan kejahatan selama bertahun-tahun telah jadi sahabatnya yang paling setia, juga telah menjadikan sebuah inspirasi untuk mengubah dunia.

Untuk itu, open yuor mind untuk buku-buku berbasis lendir. Untuk apa harus takut membaca dan sampai membuang segala! Tanpa membaca karya berjenis seperti itu, bagaimana kita tahu keadaan sekitar dan dunia? Karena, di balik kehidupan seks, tetap ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran untuk sebuah kebaikan.[]

*) Nur Mursidi, cerpenis, kelahiran Rembang, Jateng.

baca lebih lanjut...?

Senin, 27 Agustus 2007

penulis, mana sumbanganmu pada peradaban?

(esai ini dimuat di Suara Pembaruan, Minggu 18, Juli 2004)


Orang boleh kecewa dengan lahirnya reformasi yang tidak membawa angin perubahan di bidang politik. Sebab, tumbangnya Orde Baru ternyata tak serta-merta membuat tatanan pemerintahan lebih baik, bersih, dan negara bisa maju sebagaimana agenda reformasi yang dihembuskan sejak enam tahun lalu. Bisa dikatakan, korupsi malah merajalela dan tampil dengan vulgar. Ya, reformasi di bidang politik mengalami stagnan. Juga reformasi hukum masih menunjukkan anomali keadilan. Lebih parah lagi, ekonomi tak semakin membaik, malah kian menggelisahkan perut rakyat.

Tetapi siapa yang kecewa dengan angin reformasi yang telah membuka kran kebebasan di bidang pers dan penerbitan buku? Hampir tak ada yang dapat menyangkal jika kebebasan pers menunjukkan "buah manis" yang menggembirakan.

Pasalnya, kebebasan pers yang dahulu dipasung dengan adanya SIUPP penguara, kini "dialihkan" ke pengadilan sehingga ada wajah baru demokrasi pers.

Tak jauh beda dengan nasib pers dunia perbukuan juga menghirup udara bebas. Buku-buku yang dulu dilarang terbit, kini bisa dengan mudah didapat. Fenomena itu yang bisa diamati dari terbitnya buku-buku Pramodya Ananta Toer yang di era Orde Baru dilarang terbit, karena dianggap penguasa mengajarkan marxisme-leninisme. Kini buku-buku karya sastrawan kelahiran Blora itu mulai diterbitkan ulang di samping buku-buku "kiri" lainnya.

Hanya, yang patut dicatat dari fenomena "kebebasan" penerbitan buku itu jika dihubungkan dengan angin reformasi setidaknya bisa dikemukakan dua periode yang kemudian bisa menandai konfigurasi baru dunia penerbitan di Indonesia.

Pertama, periode lima tahun pertama pascareformasi (1998-2004), yang dapat disebut periode euforia. Periode kedua, periode lima tahun kedua, 2004-2009, yang bisa disebut periode tantangan.

Buku Seks Jadi Idola
Pada periode pertama pasca-reformasi, 1998-2004 dunia buku di negeri ini ditandai dengan euforia dengan maraknya buku yang diterbitkan.

Sebagian memang hasil terjemahan, tetapi karya penulis lokal juga tak bisa dinafikan. Untuk karya penulis lokal, jika dibandingkan dengan dunia penerbitan di masa Orde Baru, di masa pertama pasca-reformasi, dunia buku Indonesia bisa dikata menuai pertumbuhan.

Ada euforia yang telah melahirkan para penulis muda yang tak segan untuk menulis. Di antara para penulis muda itu adalah Muhidin M Dahlan, Nur Khalik Ridwan, Eka Kurniawan dan penulis-penulis muda lain yang hadir dengan buku yang semula skripsi.

Kecenderungan lain, ada warna baru tentang kebenaran yang dituliskan oleh para penulis seolah euforia ini merupakan kesempatan emas untuk membuat sejarah baru. Sangat beralasan jika buku-buku sejarah dan politik membanjiri pasaran.

Ada suara sumbang yang coba didengungkan untuk mengungkap "sejarah" yang dulu dibenamkan penguasa Orba, kini "ditulis" kembali untuk diluruskan. Di antara buku-buku seperti ini semisal sejarah pelurusan pemberontakan PKI.

Kecenderungan lain lagi, adalah gereget nuansa baru yang seolah-olah tanpa tedeng aling-aling untuk berani merekam dan menyuarakan fenomena seks yang dulu dianggap tabu, kini diumbar habis-habisan dan bahkan cukup detail.

Itu tak hanya merebak di ranah buku-buku sastra seiring dengan lahirnya para penulis perempuan, malahan telah menjadi seperti tren pada masa euforia ini kalau "tema seks" adalah tema yang digandrungi dan jadi kecenderungan pasar yang tak terbantahkan.

Di antara buku-buku sastra karya penulis perempuan itu antara lain Saman dan Larung (Ayu Utami), Tujuh Tahun Semusim (Clara NG), Djenar Maesa Ayu (Jangan Main-Main dengan Kelaminmu), Herlinatiens (Garis Tepi seorang Lesbian).

Memang menghadirkan adegan syur atau mengumbar seks bukanlah jadi ukuran kalau karya itu kemudian bisa diklaim murah. Buktinya, terlepas dari pesan moral yang ingin disampaikan, karya-karya di atas dapatlah digolongkan karya sastra bermutu.

Saman, karya Ayu Utami malah menjuarai sayembara. Juga untuk cerpen Waktu Naela karya dari Djenar Maesa Ayu terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas tahun 2003.

Tak kalah dengan buku sastra yang mengumbar seks, buku-buku populer bertema seks juga jadi idola pembaca. Misalnya, Jakarta Under Cover (Muammar Emka), Seks in the kost, Pemerkosaan atas Nama Cinta, Campus "Fresh Chicken" (Iip Wijayanto), Pelacur Yogya (Wahyudin) dan masih banyak lagi.

Anehnya, buku "bertema seks" seperti Jakarta Under Cover malah laris manis di pasaran dengan terjual 50 ribu eksemplar dalam waktu lima bulan sejak diterbitkan. Juga, buku Seks in The Kost laku sekitar 10 ribu eksemplar. Sebuah fenomena yang cukup mengiris-iris akal. Yang jadi pertanyaan besar; ada apa di balik realitas seks di negeri ini sehingga buku bertema seks jadi idola pembaca?

Memang, mengumbar dan mengeksploitasi seks memang tak salah dan itu adalah hak penulis ketika harus diungkap dalam sebuah buku. Di Prancis saja, ada penulis Marquis de Sade, dengan Les 120 journees de Sodome, yang menulis orgy seks sampai pada tindakan yang tak mungkin terbayangkan.

Dalam Justine ia menulis Juliette yang digauli 128 kali dengan cara yang sama, 128 kali dengan cara berbeda, dan seorang korban kaum biarawan Sainte-Marie-de-Bois, wanita muda yang hamil 3 bulan, yang mereka perkosa berkasurkan duri dan dedaunan mawar, yang setiap darah yang mencul dari tunas luka mereka cecapi dengan gairah yang luar biasa. Tragis!

Meski demikian, seks tak selamanya dilihat sebagai seks belaka. Ada pemikir kenamaan, Michael Fouchaul yang melihat seks dalam kaitannya dengan sejarah yang ia tuangkan dalam The History of Sexuality.

Anthony Gidden yang dikenal sebagai sosiolog juga meneropong seks dan erotisme dalam masyarakat modern dilihat dari kaca maca sosiologi yang bisa dibaca dalam karyanya The Transformation of Intimacy.

Tapi di Indonesia, "seks" ternyata hanya sebagai realitas yang direkam untuk diutarakan, kecuali mungkin hanya buku karya Otto Sukatno, Seks Para Priyayi yang bisa dikata sebagai sebuah buku ilmiah.

Warisan
Pada periode lima tahun kedua, 2004-2009 mungkin akan terasa berbeda sekali dengan masa lima tahun sebelumnya. Kenapa? karena, pada masa 5 tahun ini, adalah masa tantangan di mana sejarah akan membuat siapa (penulis) yang akan tetap berkarya dan buku-buku "apa" yang akan dibutuhkan di pasaran demi masa depan bangsa ini.

Memang soal buku-buku terjemahan sudah lama mulai nampak kecenderungan masih kurang dikerjakan serius pada masa 5 tahun pascareformasi (1998-2004). Hal itu bisa diamati dari terbitnya buku terjemahan (terutama yang diterbitkan penerbit Yogyakarta) yang mulai gencar digugat.

Tapi kini sudah ada koreksi dan selektivitas yang menggembirakan. Sebab, pada masa tantangan ini mulai jelas bahwa buku terjemahan yang jelek pasti tidak akan laku di pasaran.

Pada masa lima tahun ini kecenderungan menurunnya euforia tidak bisa dinafikan sudah kentara. Artinya, baik penulis maupun penerbit sudah mulai tumbuh sikap kritis dan selektif dalam membaca pasar.

Itu karena dalam masa lima tahun pertama pasca-reformasi, telah dijadikan "cermin" untuk berbenah dalam melakukan koreksi. Tak pelak, kini sudah lahir sebuah kesadaran bahwa menerbitkan buku tak semata untuk urusan bisnis (mencari keuntungan), tetapi satu keharusan di mana buku adalah warisan berharga bagi generasi mendatang.

Dengan begitu, mutu dan kualitas buku menjadi sebuah kebutuhan yang tak bisa dibantah. Sebab, maju tidaknya sebuah bangsa dapat "diukur" dengan buku yang dihasilkan dan seberapa besar minat baca dalam mengapresiasi buku untuk bekal di masa depan.

Hanya saja, yang menjadi pertanyaan; apa itu akan jadi sebuah kesadaran yang benar-benar bisa tumbuh di Indonesia. Hanya niat dan kesungguhan yang bisa membuat sejarah baru penerbitan buku di Indonesia.
Dengan kata lain, buku akan tetap jadi warisan berharga selama buku ditulis dengan limpahan pikiran, nurani dan akal yang memihak pada kebenaran dan tuntutan zaman.

Selebihnya, masa depan buku akan jadi dunia yang penuh keintiman di mana dialog antara penulis dan pembaca dapat membangun bangsa ini dengan aneka pengetahuan dan ilmu.

Meski hadirnya buku-buku karya penulis penjaja seks tidak sepenuhnya mati, buku-buku berbobot akanlah lahir pada masa ini karena buku tak bisa dimungkiri akan dilihat sebagai "warisan berharga" demi masa depan anak cucu kita demi perkembangan peradaban.

Sehingga kita tak akan lagi mendengar sebuah pertanyaan, seperti yang pernah penulis dengar dari seorang pembicara dalam pertemuan penulis Mizan: "penulis, mana sumbanganmu pada peradaban?"

*) n_mursidi, peresensi buku dan cerpenis, tinggal di Yogyakarta.

baca lebih lanjut...?