....

Sabtu, 21 Februari 2009

blogger buku dicari penerbit

Oleh: Yayat Cipasang
(sumber: www.inilah.com)

Jakarta- Berkembangnya dunia internet khususnya blog telah membuat industri buku di Tanah Air ikut kecipratan dampaknya.

Industri perbukuan kini tidak harus memasang iklan mahal untuk mempromosikan buku, tetapi cukup memajang di dunia maya atau blog, baik blog milik sendiri atau milik orang lain.

Sebelum berkembang blog, penerbit buku kerap harus meminta 'bantuan' atau 'menyewa' perensi andal agar ulasan bukunya bisa mejeng di sebuah koran nasional. Atau kalau tidak menyewa, bekerja sama dengan redaktur koran tersebut agar bukunya tampil dalam rubrik ulasan buku di koran tersebut.

Kini, eranya lain dan sudah bergeser. Penerbit buku tidak lagi ngotot agar ulasan bukunya tampil di koran nasional. Mereka malah lebih senang menggunakan jasa peresensi amatir dan ada juga yang profesional untuk mengulas bukunya di blog pribadi masing-masing penulis.

Budayawan Taufik Rahzen termasuk yang mengakui eksistensi peresensi amatir dalam blog pribadi tersebut. Menurut Taufik dalam sebuah acara di Indonesia Boekoe, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, blogger buku merupakan sarana demokratisasi pemaknaan buku.

Kini, kata Taufik Rahzen, tafsiran buku tidak lagi didominasi media-media besar yang harus melalui proses editorial. Tepat atau tidak resensi yang dilakukan para blogger terhadap buku-buku yang terbit tidak menjadi soal. Desentralisasi pendapat itu yang akan memberikan kontribusi besar dalam masa depan dunia buku.

Endah Sulwesi, pemilik blog buku perca.blogdrive.com menyatakan, penerbit buku sekarang dengan senang hati meminta blogger ini untuk merensinya. Artinya mereka membaca kemudian memberikan pendapatnya.

Namun diakui Endah, memberikan penilaian itu kadang-kadang mengandung risiko. Apalagi jika dia kenal dengan penulisnya. Namun tetap kejujuran penulis blogger inilah yang akan memberikan makna lebih jauh arti sebuah buku.

Penerbit buku Gramedia, Mizan, Serambi, Ufuk Press termasuk yang menyambut gembira kehadiran para blogger buku ini. Setiap terbit buku baru, saat itu juga para blogger buku dikirimi sejumlah buku.

Pemilik blogger buku lainnya yang kerap menerima buku-buku baru dari penerbit seperti Gramedia dan Mizan adalah H. Tanzil. Peresensi asal Bandung ini memuat ulasan buku yang dimuat di media konvensional atau ada yang hanya untuk kepuasan sendiri di blog pribadinya dengan alamat bukuygkubaca.blogspot.com

Tanzil sejatinya adalah seorang akuntan perusahaan partikelir di Bandung. Namun hobinya menulis dan membaca telah mengantarkannya sebagai salah satu penulis ulasan buku paling produktif. Sejumlah ulasan bukunya pernah dimuat di Koran Tempo dan media lokal lainnya.

Peresensi lainnya adalah Nur Mursidi yang memiliki blog etalasebuku.blogspot.com. Selain blogger, Mursidi juga dikenal sebagai peresensi profesional. Ulasan bukunya bertebaran di media nasional dan lokal. Belum lama ini blog bukunya dikukuhkan sebagai juara pertama Lomba Blog Buku dalam Pesta Buku Jakarta 2008.

Kehadiran blogger buku tidak hanya menyuburkan wacana dalam dunia tulis-menulis dan demokrasi dalam berpendapat tetapi juga memberikan sumbangsih yang tidak sedikit atas maraknya industri perbukuan nasional. [L1]

13 komentar:

Sidik Nugroho mengatakan...

wah, asyik benar. jadi kian mantap saya ingin menulis resensi -- lebih dan lebih baik lagi.

trims, pak mursidi.

n. mursidi mengatakan...

ok, semoga tambah sukses bung!

M.Iqbal Dawami mengatakan...

Kang Murshid, sudah saatnya anda minggir,skr yang muda tampil hehe...Sukses bung!

n. mursidi mengatakan...

he 3xxx. rupanya, sampeyan sdh bisa membaca pikiranku! memang, sdh sejak awal tahun 2009 ini, aku minggir ke tepi. Makanya aku ingin "tinggal" di lereng gunung. Kn aku bingung, bgmn bs menjaga blog etalasebuku ini bisa tetap dikunjungi orang meskipun aku sudah tidak meresensi buku lagi, apa ada usul???

h_tanzil mengatakan...

jangan 'minggir' mas
terus menulis resensi karena sy masih butuh baca resensi Anda untuk belajar menulis resensi yg baik

n. mursidi mengatakan...

mas tanzil, aku emang tdk minggir scr total. Sesekali msh meresensi buku, meski tidak intent spt dulu (melainkan demi menjaga blog ini). Atau mungkin, aku akan menulisnya dlm bentuk opini bk. Selanjutnya, aku jg akan menyusun bbrp tulisan berkala (dlm blog ini) ttg TIPS2 MERESENSI BUKU yg akan kuolah dg pengalaman2 menarik utk memberi motivasi bagi penulis lain. Aku merasa berhutang byk pada pembaca blog ini, krn dgn kehadiran mereka aku bs meraih juara blog bk. Utk itu, aku perlu mbalas mereka sbg wujud rasa terima kasih-ku. trm kasih untuk perhatian Anda!

salam buku

FAJAR S PRAMONO mengatakan...

Aku setuju Bung Tanzil, Mas! Jangan "minggir"! Hidup di "lereng gunung" pun tak bisa jadi alasan minggir.

Ahmad Tohari tak harus ke kota untuk tetap kritis menulis.

Mas Nur tak perlu larut dalam hingar bingar komunitas apapun, bahkan pekerjaan apapun, untuk bisa tetap berkarya.

Bukan begitu?

n. mursidi mengatakan...

wah, msh banyak orang yang menaruh perhatian besar padaku, termasuk mas fajar. thanks, atas atensi-nya

M.Iqbal Dawami mengatakan...

Aku maklumi kalau Kang Murshid pengen hidup di lereng gunung. Kalo gak salah sampeyan kan asli pesisir hehe... iya gak kang?

n. mursidi mengatakan...

mungkin, kali. rmh-ku memang dekat pantai, jadi panas.... ingin suasana damai dan sejuk. setiap mata melihat bs membuat hati tenang dan tentram. he 3x

Raden mengatakan...

aku sudah mulai menulis lagi ne kang... setelah 4tahun lebih tidak pernah.. nyuwun izin untuk belajar dari tulisan2mu ya.. amin...

n. mursidi mengatakan...

selamat menulis kembali.... makasih telah berkunjung ke blog ini

Anonim mengatakan...

Ya, mungkin karena itu