....

Jumat, 01 Maret 2013

dari penjual koran menjadi penulis

Pengantar untuk buku "Tidur Berbantal Koran" (Elex Media: 2013)


Batu permata tidak bisa menjadi berkilap tanpa gesekan; demikian juga dengan manusia; tidak akan bisa menjadi baik tanpa cobaan (William Shakespeare [1564-1616], Sastrawan)

Tanpa dihimpit oleh cobaan, aku mungkin tak akan pernah menjadi penulis. Sebab cobaan yang datang tanpa pernah aku undang itu, seperti menjerumuskanku ke jalanan yang penuh debu. Aku pun terpaksa menjadi penjual koran di jalanan Yogyakarta ketika ayah jatuh sakit dan tak mampu mengirimiku uang kuliah.

Tetapi, dari lempeng jalanan Yogyakarta, aku justru mengenal kehidupan. Tak salah, jika aku didewasakan oleh kehidupan keras jalanan. Lalu dari halaman koran, aku belajar menulis. Meski tak ada guru menulis di sampingku yang membimbing, aku merasa lembaran-lembaran koran itu adalah guru yang bijak di tengah kehidupan jalanan sebab lembaran-lembaran koran itu telah membakar spirit dan membuka mataku untuk bisa menulis di kelak kemudian hari.

Pelecut Kesadaran dari Tukang Becak
Semua itu, berawal dari kisah yang unik. Pagi itu, tepat di hari ketujuh aku jualan koran. Matahari bersinar dengan cerah. Itu adalah pagi yang akan membawa berkah dan anugerah. Beda ketika hari diselimuti mendung gelap dan turun hujan. Aku pasti hanya bisa mendekam di emperan toko, menatap langit dengan raut sedih. Karena kemunculan mentari di pagi itu bisa membuatku leluasa jualan koran di sepanjang jalan, menumpang naik dari satu bus ke bus yang lain; menawarkan berita hangat yang jadi headline koran.

Pagi itu, aku baru saja mengambil koran di agen pasar Gading, lantas beranjak ke tepi jalan untuk menunggu tumpangan bus dari terminal Umbulharjo. Untung, ketika keluar dari pasar, lampu trafick light menyala merah. Bus Mustika, bus jurusan Yogyakarta-Semarang sedang terdampar di perempatan Gading.

Aku segera berlari dan naik. Setelah di atas bus, aku pun membagi-bagikan koran kepada para penumpang. Itu jurus jualan koran yang biasa aku terapkan untuk menarik penumpang agar membeli. Dengan cara itu, para penumpang bisa melihat dan membaca koran sebentar --sekitar 2 sampai 3 menit, lantas aku menarik koran yang aku bagikan itu dari depan. Jika mereka membaca sebentar, tapi diliputi penasaran untuk membaca lebih lanjut, maka tidak ada jalan lain kecuali harus membeli.

Aksiku di atas bus pagi itu, ternyata membawa keberuntungan. Tiga penumpang membeli koran Kedaulatan Rakyat yang aku jajakan. Hatiku lega. Aku bisa memasukkan uang Rp 600.00 di sakuku. Waktu itu, tahun 1995, harga koran Kedaulatan Rakyat Rp 200.00. Dari setiap 1 eksemplar yang aku jual, aku mendapat keuntungan separoh (Rp 100.00). Jadi, pagi itu aku sudah mendapatkan keuntungan Rp 300.00.

Keuntungan di awal pagi itu, membuatku ingin jeda dan istirahat sejenak. Aku ingin menghirup teh manis [ritual pagi yang kujalani sebelum kenal Iqbal Dawami, seorang penulis yang gemar minum teh] dan makan pisang goreng di warung Bu Tum, di Pojok Benteng Kulon untuk sekadar mengganjal perut agar aku tidak terkulai lemas dan jatuh dari bus.

Pagi masih menggigilkan tubuhku, meski sinar mentari sudah bersinar dari ufuk Timur. Bus masih melaju, dan aku menggelantung di pintu bus. Tepat di Pojok Benteng Kulon, bus berhenti menaikkan penumpang. Aku turun, lalu melangkahkan kaki ke warung Bu Tum. Perutku melilit, tenggorokanku serasa kering. Tetapi, di saat aku melangkah lunglai ke warung, tiba-tiba sebuah suara membuyarkan harapanku untuk bisa segera menenggak teh hangat.

“Koran…, mas!”

Aku menoleh. Tak kulihat ada orang yang bisa aku yakini akan membeli koranku, kecuali aku lihat tiga tukang becak yang menyandarkan tubuhnya di atas becak masing-masing. Aku sepenuhnya tak percaya, suara mengagetkan yang kudengar itu bersumber dari salah satu tukang becak tersebut. Maka, aku merasa ada hantu di pagi hari itu yang sengaja iseng menggodaku. Aku pun celingukan, ingin memastikan sumber suara itu.

Tapi, dari jauh aku melihat salah satu dari tukang becak itu melambaikan tangan ke arahku. Aku menoleh ke belakang, mengira tukang becak itu melambaikan tangan manggil orang lain tepat di belakangku. Lagi-lagi, tak kulihat ada orang yang dipanggil.

“Koran, mas…!” kembali suara misterius itu membuatku terhenyak kaget.

Aku menoleh, dan kulihat satu dari tiga tukang becak itu melambaikan tangan ke arahku. Aku menunjuk ke dadaku, kemudian mengangkat tumpukan koran yang masih menggunung di tangan kananku untuk sekadar memastikan bahwa tukang becak itulah yang memanggilku.

Dia ternyata menggangguk. Aku segera berlari ke arahnya.

“Kamu ini jualan koran, tapi kayak orang tidak butuh duit. Dipanggil berkali-kali, tidak menoleh. Kau boleh melihat tampangku ini memang tukang becak, tetapi jujur aku tetap tidak mau ketinggalan berita yang hangat di koran…” omel salah satu tukang becak itu, ketika aku berada di dekatnya.

Aku tersenyum geli, tetapi aku tak peduli dengan omelan tukang becak itu karena pada akhirnya ia membeli koran Kedaulatan Rakyat dari tanganku.

Tapi, dalam lubuk hati yang paling dalam, jujur bahwa sindiran tukang becak itu membuat hatiku serasa tertusuk jarum yang cukup tajam. Lebih tepatnya, aku merasa malu pada diriku sendiri. Selama tujuh hari jualan koran, aku tidak pernah membaca koran yang kujajakan sendiri. Aku tak peduli dengan apa yang kujual karena yang aku inginkan adalah koranku laku. Tak peduli, apa isi berita di koran kecuali aku melihat sekilas berita halaman utama. Karena itu, aku berlari sekencang angin mengejar bus; naik turun dari satu bus ke bus yang lain, numpang jualan dari terminal Umbulharjo sampai jalan Magelang kemudian kembali ke terminal, dan seterusnya berkali-kali. Tidak pernah aku meluangkan waktu untuk membaca dengan detail isi berita koran yang aku jual atau aku jajakan.

Setelah tukang becak itu membeli koran daganganku, aku melangkahkan kakiku ke warung Bu Tum. Teh hangat porsi gelas kecil seharga Rp 50.00 segera meluruhkan rasa haus di tenggorokanku. Sementara itu, satu pisang goreng di atas meja pun segera kusantap dan tak lama kemudian, perutku tak lagi terasa keroncongan. Itulah nikmatnya mensyukuri hasil keringat di awal menjajakan koran! Tidak jarang, aku harus menunggu koranku laku dua sampai tiga eksemplar untuk bisa minum teh hangat dan satu pisang goreng.

Belajar Membaca dan Menulis
Pengalaman pagi itu -–ada tukang becak yang membeli koran dari daganganku dan sempat menyindirku- seperti menyadarkan pola pikirku dan telah mengukir sejarah baru dalam kehidupan jalanan di masa laluku. Apalagi sejak itu tukang becak yang biasa mangkal di pojok Benteng Kulon itu menjadi langgananku; hampir tiap hari ia membeli koran dariku.

Tak pelak, jika kebiasaan tukang becak yang biasa membeli koran dari tanganku dan membacanya di atas becak dengan muka masih kusut itu kemudian mendorongku untuk membiasakan diri ikut membaca setumpuk koran yang aku jual. Maka, sehabis melaksanakan ritual pagi minum teh hangat dan makan satu pisang goreng di warung bu Tum, aku pun duduk di emperan toko --tak jauh dari tempat mangkal tukang becak itu— untuk meluangkan waktu sekitar setengah jam atau satu jam membaca setumpuk koran daganganku.

Dari kebiasaan baca koran di emperan toko [dan kadang-kadang di bawah pohon di tepi jalan di perempatan Bugisan dan Patangpuluhan] itulah, pada satu hari aku disadarkan tulisan yang ditulis salah seorang mahasiswa di rubrik Opini atau Debat Mahasiswa di Kedaulatan Rakyat dan Harian Bernas. Seketika, aku seperti tersadar dan terhenyak, ternyata seorang mahasiswa pun bisa menulis di koran. Apalagi, ketika aku membaca koran edisi Minggu di rubrik resensi buku, tak jarang aku menjumpai deretan “nama penulis” dengan identitas masih mahasiswa.

Setiap selesai membaca “tulisan-tulisan” karya dari penulis yang masih berstatus mahasiswa itu, otakku seperti mendidih. Di sudut otakku, selalu ada sekelebat impian untuk bisa menulis dan menorehkan namaku di koran seperti mereka. Karena itu, dalam hati, aku berjanji bahwa suatu saat nanti aku harus bisa menulis di koran. Maka, aku pun mulai rajin tak saja membaca koran yang aku jual melainkan juga membelajari tulisan-tulisan mereka secara autodidak.

Tak jarang, ketika aku sudah khusuk membaca koran di emper toko dekat tempat mangkal tukang becak di pojok Benteng Kulon itu, aku kerapkali lupa untuk berangkat kuliah dan tak jarang bolos. Pada sisi lain, ketika tukang becak itu sepi penumpang, dan aku merasa kasihan maka aku rela meminjamkan tumpukan koranku untuk dibaca oleh tukang becak itu. Jadi, ia tak usah repot-repot mengeluarkan uang untuk membeli koran dari sakunya. Tetapi, setelah hampir dua tahun aku jualan koran, dan memutuskan untuk berhenti, ironisnya aku tak tahu siapa nama tukang becak yang biasa mangkal di pojok Benteng Kulon itu. Padahal jasanya tak pernah ia sadari telah mengubah jalan panjang hidupku.

Jadi, dari jalanan itulah, aku mengenal kehidupan. Lalu dari halaman koran, aku belajar menulis. Tapi jujur, aku merasa seperti dianugerahi sepasang mata untuk melihat sekeling dengan mata yang tajam. Dengan tanpa bimbingan, aku belajar menulis dengan jurus tanpa kitab suci. Ibarat murid di biara Shaolin, aku belajar bela diri dengan hanya melihat hasil lukisan tendangan atau pukulan yang terpampang di tempok biara Shaolin lalu tengah malam gulita aku belajar untuk mempraktekkan apa yang aku lihat tersebut.

Setiap pagi hari aku melakoni ritual jualan koran di jalanan, lalu menjelang siang berangkat kuliah dengan mengayuh sepeda dari Krapyak ke Sapen dan pada malam hari aku melatih diri untuk menulis. Semua itu, kulakukan untuk mewujudkan janjiku; aku harus bisa menorehkan namaku di lembaran koran, tak harus jadi penjaja koran terus. Maka, ketika tulisan yang aku buat ditolak media massa, aku tidak patah arah.

Meski dalam hati, kerap pula terbesit keraguan: apakah aku akan gagal total (gatot –memimjam istilah yang didengungkan oleh sahabat saya; Sidik Nugroho) untuk jadi penulis? Aku memang kerap gamang! Tetapi, usaha keras, tidak jarang membuahkan hasil. Sekeras apa pun persaingan merebut lembaran koran, masih keras kehidupan di jalanan. Sebab di jalanan, aku sempat diancam sebilah belati yang dihunuskan tepat di mukaku. Di jalanan, aku juga sempat berkelahi dengan penjaja koran lain, karena ia merasa lahannya aku rebut. Di jalanan, aku juga harus bergaul dengan preman yang kerap mabuk dan berkelahi. Itulah alasanku, kenapa aku tidak patah arah jika hanya berjuang untuk bisa menembus koran.

Kata orang bijak, Anda adalah apa yang Anda pikirkan dan kerjakan, sepenuhnya mengahampiri-ku. Impian itu pun akhirnya terwujud! Dari penjual koran jalanan, akhirnya berhasil keluar dari kepompong jalanan yang mengungkung, sebab di kelak kemudian hari; penjual koran jalanan itu mampu mengubah hidupnya menjadi penulis.

Jakarta, 14 Februari 2010

2 komentar:

lalaendut mengatakan...

Jadi pengen cari bukunya mas.. Salam kenal

Nur Mursidi mengatakan...

salam kenal kembali, sy senang jk mau membaca buku sy, thanks