....

Sabtu, 17 Desember 2011

Potret Keteladanan dalam Mendidik Anak

resensi ini dimuat di Sinar Harapan, Sabtu - Minggu 17-18 Desember 2011

Judul buku  : Saga No Gabai Baachan: Nenek Hebat dari Saga
Penulis        : Yoshichi Shimada
Penerbit     : Kansha Books, Jakarta
Cetakan     : Pertama, 2011
Tebal buku : 264 halaman

PERANG memang kerap kali mengundang petaka dan kepedihan. Sebab warga tak berdosa -seperti kaum wanita dan anak -sering menjadi korban; meninggal dengan sia-sia, terluka bahkan mengalami trauma berkepanjangan. Kepedihan akibat perang pun seperti "leleran darah" yang tak mudah dihapus dari ingatan sejarah. Apalagi kalau perang itu telah merenggut jiwa orang yang dicintai dan menjadikan hidupnya terlunta. Perang pun akan selalu diingat sebagai prahara besar yang mewariskan setumpuk duka; melahirkan kemiskinan, penderitaan, dan kepedihan.

Duka akibat perang itulah yang dialami oleh Akihiro, ketika kota Hiroshima dihancurkan oleh Sekutu dengan bom atom. Memang, ia dan keluarganya selamat. Sayang, tak lama kemudian radiasi bom atom telah merenggut jiwa ayahnya. Akihiro pun harus menelan penderitaan; dia jadi yatim dan harus bertahan hidup bersama sang ibu. Tapi jeratan kemiskinan mendera ibunya; harus menjadi wanita single parent dan berjuang keras untuk bekerja. Akibatnya, Akihiro pun tak terurus. Catatan penderitaan itu ternyata belum usai. Karena tak memiliki waktu untuk mendidik Akihiro, sang ibu kemudian mengambil keputusan pahit; ketika naik kelas 2 SD, Akihiro dititipkan ke rumah neneknya, nenek Osano.

Di rumah nenek Osano, Akihiro seperti semakin terhimpit duka. Sebab kehidupan sang nenek (yang tinggal di Saga itu) jauh lebih miskin. Di rumah neneknya, ia harus memasak nasi sendiri lantaran pukul 4 pagi, neneknya sudah pergi bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Universitas Saga. Lengkap sudah perjalanan hidup Akihiro; dia menjadi yatim lalu didera kemiskinan, berpisah dengan ibunya dan terakhir harus hidup bersama neneknya yang jauh lebih miskin. Tetapi di tengah deraan nasib pahit dan kemiskinan itu, neneknya tetap tegar menjalani hidup. Lebih dari itu, sang nenek tergolong cerdik dalam mendidik Akihiro.

Meski hidup miskin, sang nenek bisa bertahan dengan cara kreatif; memanfaatkan magnet untuk mencari sampah-sampah logam untuk kemudian ditukar dengan uang. Bahkan untuk menu sayuran, neneknya memiliki galah panjang yang bisa menghadang sayuran dan buah-buahan yang hanyut di sungai depan rumah. Sang nenek tak pernah dikalahkan keadaan. Ia punya seribu cara untuk bisa bertahan hidup dan menjalaninya dengan penuh tawa.

Kehebatan sang nenek dalam menghadapi hidup itu, memaksa Akihiro pun menjadi anak yang kreatif dan hebat. Meski pun tak tergolong cerdas, Akihiro bukanlah anak yang mudah menyerah. Akihiro pun tumbuh besar dengan memiliki kegeguhan jiwa, dan bermental baja, bahkan dia cukup membanggakan sang nenek karena bisa menjadi kapten baseball. Walau bagaimana pun, prestasi itu tidak lepas dari didikan sang nenek yang kerap memintanya latihan lari, dan berkat latihan itu Akihiro bisa menjuarai lomba lari dan terpilih sebagai kapten baseball. Prestasi dalam olah raga itulah yang mengantarkan ia meraih beasiswa.

Kisah Akihiro dan sang nenek -dalam buku ini- tak saja mengharukan tapi juga penuh hikmah dan menyimpan setumpuk pelajaran yang dapat dijadikan tauladan bagi orang tua dan para guru dalam mendidik anak. Setidaknya, ada beberapa prinsip hidup yang patut untuk direnungkan dari nenek Osano ketika ia mendidik Akihiro. Pertama, pelajaran mendidik anak dalam belitan kemiskinan. Mungkin akan lain cerita jika sang nenek kaya dan bisa memenuhi kebutuhan Akihiro. Tapi dengan keterbatasan itu, neneknya tetap tak kehilangan akal untuk mendidik Akihiro dengan cara yang cerdas, bahkan dari cara ia mengasuh Akihiro, bisa mengantarkan Akihiro tumbuh kreatif. Kedua, mewariskan mental dan cara dalam melihat kemiskinan. Meskipun sang nenek hidup miskin, ia tetap percaya diri bahkan menghadapi dengan ceria. Jarang, ada orang yang hidup dalam jurang kemiskinan tapi bisa
tetap ceria dan tertawa.

Ketiga, keinginan untuk menjalani hidup yang (lebih) baik. Itulah yang membuat Akihiro menjulukinya tidak saja nenek hebat tetapi juga nenek yang baik. Meski hidup miskin, ketika ada orang yang butuh, neneknya tak segan-segan mengulurkan uang. Kemiskinan memang tidak layak untuk ditangisi. Kemiskinan --walau pahit-- haruslah dihadapi dengan ketegaran dan jika perlu dilihat sebagai peluang. Dengan melihat kemiskinan sebagai peluang, maka akan lahir pemikiran kreatif (cerdik).

Itulah yang kemudian membuat Akihiro hidup bahagia dan sukses. Sebab dibalik duka hidup yang serba kekurangan, tersimpan pelajaran dan nilai-nilai hidup neneknya yang mengokohkan mental Akihiro. Cerita dalam buku ini sungguh sebuah kisah yang hebat; kisah tentang heroisme mendidik anak di tengah belitan kemiskinan tapi neneknya menghadapi semua itu dengan canda dan tawa. Dan buku ini adalah secuil pembayaran utang Akihiro akan tempaan hidup yang diajarkan oleh nenek Osano.

*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta

5 komentar:

okeyzz mengatakan...

Iya novel ini emang inspiratif sekali..

n. mursidi mengatakan...

ya, nih ceritanya sungguh inspiratif dan mengharukan. thanks

Yayun Riwinasti mengatakan...

jd pengen baca

n. mursidi mengatakan...

ini buku bagus yg harus dibaca, kisahnya menyentuh banget --tak salah jk kemarin buku ini dibagi2 di acara kick andy

H. ABDUL RAZAK, S.Pd.I mengatakan...

tak salah...info resensi buku bagusnya...ditunggu buku2 bagus yang lainnya mas biyung