....

Minggu, 07 Oktober 2007

Catatan Harian Seorang Naziheen

(resensi ini dimuat di Media Indonesia, Senin 7 Agustus 06)

I Saw Ramallah; Akhirnya Kulihat Ramallah, Mourid Barghouti, Pustaka Alvabet, Jakarta, 2006


SEJARAH tentang pendudukan tak pernah meninggalkan kenangan manis. Bahkan pendudukan selalu menyisakan kegelapan, dan kengerian, seperti segumpal kabut yang sulit disingkap bagi penduduk suatu negeri yang kalah.

Tak ada kebebasan dan klaim sebagai tanah jajahan, tak jarang membuat 'bulu kuduk berdiri' serta masa depan bangsa pun menjadi samar-samar, tidak jelas dan tak tentu. Anak-anak kecil menjadi telantar dan wanita-wanita tidak berdosa pun kerap menjadi korban. Lebih tragis, sebagian warga negeri yang kalah bahkan harus terusir dari tanah kelahiran dan terpisah dari keluarga.

Nasib tragis itulah yang dialami oleh Mourid Barghouti ketika Israel mencaplok negeri Palestina, sejak 5 Juni 1967. Praktis, sejak itu Palestina seperti tidak lagi menjadi miliknya. Palestina tak seperti tanah kelahiran yang menyimpan masa kanak-kanak dan remaja Mourid. Karena Israel dengan sewenang-wenang telah mencegah ratusan pemuda Palestina yang berada di luar negeri pulang ke Palestina, termasuk dirinya yang saat itu sedang kuliah di Universitas Kairo. Akibatnya, ia menjadi orang naziheen (terbuang). Tak diizinkan masuk ke negerinya, terpisah dari keluarga dan selalu berpindah tempat tinggal.

Setelah mengalami duka lara akibat dilarang pulang dan akhirnya bisa berkumpul kembali ke Palestina, dia mengisahkan perjalanan getir selama tiga puluh tahun sebagai orang terbuang itu dalam buku I Saw Ramallah.

Sebuah catatan perjalanan yang penuh kengerian, kecemasan dan ketakmenentuan tentang perjalanan hidupnya yang dibayang-bayangi kerinduan, juga ketakutan. Karenanya, ketika dia diizinkan menyeberangi jembatan kayu yang memisahkan antara Palestina dan Amman (Yordania), ia menjadi tertegun. Dalam perjalanan pulang ke kota Ramallah, Palestina yang telah ditinggalkan selama tiga puluh tahun, seperti sebuah tempat yang tak lagi ia kenali kecuali kenangan dan secuil ingatan di masa remaja dulu.

Hati Maurid tersayat. Palestina yang dulu dibayangkan dalam 'ingatan' masa remaja, rupanya tinggal menjadi gagasan tentang Palestina. Palestina yang dulu diselimuti oleh pepohonan dan semak-semak serta bunga liar, telah menjadi tandus dan telanjang. Apalagi setelah ia tiba di Ramallah dan bertemu dengan Abu Hazim, tak ada yang terlintas dalam benak Mourid kecuali keinginan untuk membangun dan memajukan Palestina.

Buku catatan perjalanan orang naziheen ini memang cukup mencekam sekaligus menggelisahkan. Tidak salah jika buku ini tidak lebih dari goresan luka, kegetiran hidup, kerunyaman nasib dan malapetaka akibat dari pendudukan Israel. Dipenuhi dengan bahasa puitis yang menyentuh, catatan perjalanan dari seorang penyair asal Palestina yang berpisah dari keluarga dan terbuang selama tiga puluh tahun ini, boleh dikatakan sepenggal kisah tentang penderitaan dan ketertindasan warga Palestina.

Walau mencekam, Mourid menuangkan kisah itu dengan bahasa subtil dan tidak dilaburi dengan dendam kesumat yang membarakan api dendam. Ada goresan kemanusiaan meski dari cerita yang dituangkan itu diliputi dengan ketersiksaan.
*) n_mursidi, cerpenis dan pengelola blog sastra

Tidak ada komentar: