....

Sabtu, 11 Februari 2012

Kebangkitan Sebuah Dinasti Besar di China

resensi buku ini dimuat di Koran Jakarta, Sabtu 11 Februari 2012

Judul buku    : Dinasti Manchu: Awal Kebangkitan (1616-1735)
Penulis        : Michael Wicaksono
Penerbit        : Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan        : Pertama, 2012
Tebal buku    : 292 halaman
Harga buku    : Rp. 49.800,-

DALAM waktu dua puluh lima tahun terakhir ini, China seperti tidak henti-henti membuat gebrakan. Pertumbuhan ekonomi China terus merangkak naik--dan bahkan telah menjadi kekuatan ekonomi Asia. Wajah ekonomi China yang telah dibelokkan seratus delapan puluh derajat oleh Deng Xiaoping --dari cengkraman komunisme Mao Zedong-- telah membawa China tampil di percaturan dunia dengan wajah baru. China tidak lagi terpuruk tetapi lahir sebagai macan ekonomi yang cukup diperhitungkan di percaturan dunia. Bahkan pada masa mendatang, ekonomi China dapat dipastikan akan menggilas dan melampuai Amerika, Jerman, Inggris dan Prancis.

Tentu kebesaran China sekarang ini tak dapat dilepaskan dari sejarah masa lalu China. Sebagai bangsa besar, China sudah dikenal sebagai bangsa maju dan berperadaban bahkan sebelum bangsa-bangsa lain mengenal tulisan. Meski dulu China silih berganti dinasti, tetapi setiap dinasti itu menanamkan fondasi dan kekuatan bagi kejayaan China. Tak terkecuali ketika bangsa China ada dibawah kekuasaan dinasti Qing (Manchu), dinasti besar terakhir yang mampu menyatukan seluruh China bahkan dengan luas wilayah yang lebih luas daripada China daratan sekarang ini.

Buku Dinasti Manchu Awal Kebangkitan (1616-1735) karya Michael Wicaksono ini adalah potret dari kebangkitan bangsa China di bawah dinasti Qing (Manchu). Secara runtut, Penulis buku ini (yang sempat mengenyam pendidikan pasca sarjana di Zhejiang Chinese Medicine University di Hangzhou, China selama 3 tahun) memotret kebangkitan dinasti Qing dimulai dari keruntuhan dinasti Ming. Penulis -yang memiliki ketertarikan pada budaya dan sejarah China- menulis buku ini dengan dikompilasi dari berbagai sumber tentang dinasti besar dan penting di China, yang tak bisa dinafikan dalam sejarah China.

Dinasti Qing adalah sebuah dinasti yang didirikan Nurhaci, kepala suku Jurchen --yang kemudian dikenal dengan Manchu-- dari wilayah Jianzhou. Dengan kekayaan dan pengaruh yang ia miliki, ia semula membentuk pasukan (panji-panji atau Delapan Bendera) lalu berupaya merebut China. waktu itu, dinasti Ming dalam keterpurukan akibat bencana, kelaparan dan pemberontakan. Sepeninggal Nurhaci, sang putra Huangtaiji naik tahta -memperkuat pasukan dan mengikat perjanjian dengan suku-suku minoritas di luar tembok besar sehingga mendapat dukungan. Tapi sebelum sempat merebut China, ia keburu meninggal sehingga digantikan oleh Fulin (putra kedelapan) yang dikenal kaisar Shunzhi.

Shunzhi masih dibawah umur. Pemerintahan dikendalikan oleh Dorgon sebagai waliraja. Dorgon berhasil membujuk jendela Wu Sangui yang menjaga benteng Shanhai untuk menyerah pada Qing dan membuka gerbong dan bangsa Manchu pun berhasil menduduki ibu kota. Shunzhi berumur pendek lalu digantikan Kangxi. Di masa pemerintahannya, dia mempersatukan China. Sepeninggalnya tapuk kekuasaan dipegang Yinzhen yang dikenal dengan kaisar Yongzheng. (hal. 9).

Michael Wicaksono di dalam buku ini hanya mengisahkan awal kebangkitan dinasti Qing, tatkala China berada di bawah lima orang awal dinasti Qing. Tapi Dinasti Qing berkuasa kurang lebih 268 tahun. Di bawah dinasti Qing, China dikenal sebagai bangsa besar. Tetapi sayang, China di akhir masa dinasti Qing kurang gesit membaca zaman. Dinasti Qing tak menutup mata geliat perubahan global yang terjadi, tapi melihat perubahan itu. Hanya saja, terlambat melakukan antisipati. Tak salah jika China di bawah dinasti tergerus zaman yang berubah cepat akibat modernitas.

Tetapi, China di bawah kekuasaan dinasti Qing, setidaknya dicatat sejarah memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, dinasti Qing dicatat sebagai dinasti kedua dan terakhir yang didirikan oleh suku minoritas--didirikan suku Jurchen (Manchu). Kedua, dinasti Qing adalah dinasti terakhir di China yang menjadi penutup sejarah monarkhi feodal yang memiliki umur panjang bahkan setua sejarah China. Ketiga, dinasti Qing "berkuasa di era revolusi industri Eropa yang pada masa itu mengubah wajah Eropa jadi kekuatan ekonomi dan militer dan ekspansinya tidak mampu dibendung bangsa-bangsa Timur kuno. Keempat, pada masa dinasti Qing, China meletakkan dasar "peletakan wilayah nasional" China --Utara dari Manchuria, Mongolia Dalam dan Xinjiang sampai selatan ke Tibet, Yunan dan pulau-pulau di pesisir Timur, termasuk Taiwan.

Meski buku ini tidak cukup tebal (untuk kategori buku sejarah), tetapi buku ini bisa dikatakan sebagai buku yang layak dijadikan referensi. Sebab buku ini coba memotret sepenggal kisah pada masa awal kelahiran dan kebangkitan bangsa Manchu yang kemudian mendedikasikan sebagai dinasti Qing di China. Apalagi dinasti Qing dalam lipatan sejarah merupakan dinasti besar terakhir
 yang kemudian mengubah China. Meskipun pada akhirnya harus tergerus zaman, tapi di bawah kekuasaan dinasti Qing, China telah meletakkan dasar fundamental bagi kebesaran China.

Tidak salah, kalau buku ini layak dijadikan sebagai pelajaran. Bangsa Indonesia (Nusantara) yang dahulu dikenal sebagai "bangsa dengan sistem monarki feodal" setidaknya dapat belajar dari bangsa China. Sebab, kebesaran China sekarang ini --diakui atau tidak-- tak bisa dilepaskan dari kebesaran China di masa lalu.

*) N. Mursidi, peneliti pada Al-Mu`id Institute, Lasem, Jawa Tengah

Tidak ada komentar: