....

Minggu, 20 Januari 2013

Rekam Jejak Sang Pemburu Berita

resensi ini dimuat di Jurnal Nasional, Minggu 20 Januari 2013

Judul Buku : Karni Ilyas: Lahir untuk Berita
Penulis      : Fenty Effendy
Penerbit    : Kompas, Jakarta
Cetakan    : Pertama, 2012
Tebal buku: 416 halaman
ISBN        : 978-979-709-67-1-7
Harga       : Rp 86.000,-

PAGI itu, 40 tahun yang lalu, Karni Ilyas datang ke kantor harian Suara Karya. Berbekal surat rekomendasi dari Novyan Kaman, teman ayahnya yang menjadi anggota MPR/DPR mewakili Sumatra Barat, Karni berniat menemui Rahman Tolleng. Tujuan Karni tak lain ingin melamar menjadi wartawan. Hampir seharian, Karni Ilyas menunggu sang pemimpin redaksi Suara Karya itu. Tapi ketika orang yang ditunggu itu datang, dan Karni masuk ke ruangannya, Karni harus menelan perasaan kecut. Sebab, setelah menyerahkan "surat" dari Novyan Kaman, dan menyebutkan keinginannya untuk jadi reporter, Rahman Tolleng membuang surat itu ke tong sampah lalu memutar kursinya menghadap tembok, "Tidak ada lowongan di sini," jawab Rahman Tolleng.


Jika Karni saat itu tidak cerdik, mungkin perjalanan hidupnya akan lain. Bisa jadi, dia tak jadi wartawan. Tapi Karni ternyata jeli "Pak, saya sudah membaca Suara Karya. Menurut saya, ada berita yang tidak masuk di situ." Rupanya, siasat Karni itu membuat Tolleng memutar-balik kursinya. Dengan mata melotot, dia bertanya, "Berita apa?" Karni menjawab, tidak ada berita hukum di Suara Karya. Jawaban itu ternyata membuka jalan panjang Karni sebagai wartawan. Sebab setelah lama diam dan melotot, Rahman Tolleng kemudian memberikan kesempatan kepada Karni. "...Kalau saya kalah mental waktu itu dan pilih pulang, habislah. Enggak jadi apa-apa saya. 'Ya udah, kamu kerja mulai besok!' katanya" (hal. 37-38).

Sejak itu, Karni jadi wartawan. Mimpinya jadi kenyataan. Cita-citanya untuk bisa terkenal, sebagaimana yang diucapkan Karni saat ditanya sepupunya dari Jakarta akhirnya terjawab. Apalagi, setelah dia berjuang, bekerja keras dan pontang-panting memburu "berita" telah mengantarkan dia dikenal luas ketika tampil menjadi host Indonesia Lawyers Club di TvOne. Tetapi semua itu tidak dilalui dengan mudah. Lewat buku Karni Ilyas Lahir untuk Berita ini, Fenty Effendy mengisahkan bagaimana perjalanan hidup Karni yang penuh tantangan dan suka duka untuk meraih mimpi menjadi wartawan.

Saat masih kecil, Karni sudah hidup di jalanan. Karena itulah, Karni menganggap dirinya adalah anak jalanan sebab, ia bisa bertahan hidup sebelum benar-benar "makan sekolahan" (hal. 21). Dalam usia yang masih belia, kemalangan datang beruntun. Pertama, teror perang dan rusaknya rumah cantik Amai Ibah. Kedua, kebakaran rumah di Kampung Jao. Ketiga, --yang paling pahit dari segala pahit-- adalah meninggalnya sang ibu untuk selama-lamanya (hal. 13).

Sejak itu, kehidupan Karni berubah seratus delapan puluh derajat. Padahal, waktu itu dia baru naik kelas dua SD, dan usianya belum genap delapan tahun. Tetapi, dia harus hidup kesepian dan mandiri. Demi membiayai sekolah, Karni pernah jualan apa saja. Dia pernah jualan koran, rokok, permen, kaos kaki, minyak rambut hingga kode buntut yang bisa disebut "BT". Bahkan, dia pernah mencari uang dengan mengumpulkan debu emas dari trotoar di depan toko emas di pasar Goan Hoat Padang. Lebih tragis lagi, dia pernah nyaris putus sekolah lantaran tidak punya uang untuk membayar uang ujian akhir semasa duduk di bangku SMEA 1 Padang.

Tetapi, semua itu memberi "bekal" dan pengalaman bagi Karni untuk tidak menyerah. Itu dibuktikan ketika dia kemudian hijrah ke Jakarta dan kuliah di perguruan Tinggi Publisistik (STP). Demi tuntutan hidup, sambil kuliah Karni memilih pilihan realistik" jadi wartawan. Apalagi, Karni sudah mahir menulis sejak belum diterima sebagai mahasiswa publisistik. Dia memulai karier reporter di harian Suara Karya (1972-1978), kemudian di majalah Tempo, hingga menjabat redaktur pelaksana Kompartemen Hukum dan Kriminal (1978-1994), lantas pemimpin redaksi majalah FORUM Keadilan (1992-1999), Direktur Pemberitaan dan Hubungan Korporat SCTV (1999-2005), Direktur Pemberitaan, Olahraga, dan Komunikasi Kor­porat antv (2005-2008) hingga Direktur/Pemimpin Redaksi tvOne sejak 2008.                                     

Kini, Karni sudah terkenal. Dia kerap tampil di televisi baik ketika turun langsung meliput "berita eksklusif" maupun membawakan acara Indonesia Lawyers Club. Buku Karni Ilyas: Lahir untuk Berita ini memotret 40 tahun "perjalanan karier" Karni Ilyas sebagai wartawan -mulai dari reporter Suara Karya hingga jadi Direktur/Pemimpin Redaksi tvOne sejak 2008. Sebuah karier yang tidak bisa dibilang pendek. Tak salah, jika dari buku ini, pembaca --setidaknya-- tidak saja dapat "menimba" ilmu sukses untuk meniti karier sebagai wartawa dari perjalanan hidup Karni Ilyas, tetapi di balik perjuangan dan kerja keras Karni dalam meraih mimpinya, Karni memberikan asupan inspirasi bagi siapa pun untuk menjadi wartawan. Tetapi syaratnya harus kerja keras, kerja keras, dan kerja keras.

Selain itu, dari perjalanan hidup Karni (sebagaimana yang dikisahkan dengan apik oleh Fenty Effendy), buku ini seakan meneguhkan adagium yang sudah cukup populer tentang perjuangan untuk mengejar mimpi. Dan, Karni membuktikan adagium itu. Dulu dia sewaktu datang dari kampung untuk merantau ke Jakarta, Karni harus diakui bukanlah siapa-siapa. Bahkan, dia berkali-kali sempat harus berjalanan kaki ke kampus dan kantor Suara Karya demi tuntutan menulis berita karena tidak punya uang untuk naik bus.

Inilah rekam jejak sang pemburu berita. Benar-benar kisah wartawan yang tangguh dan tahan banting! ***

*) N. Mursidi, blogger buku dan cerpenis, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar: