....

Minggu, 07 April 2013

Ensiklopedia Selir

resensi ini dimuat di Koran Tempo, Minggu 7 April 2013

Judul buku  : Wanita Simpanan: Kontroversi Selingkuhan Tokoh-Tokoh Dunia, dari Orang Suci hingga Politisi, dari Zaman Kuno hingga Era Kini
Penulis       : Elizabeth Abbott
Penerbit    : Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan    : Pertama, Februari 2013
Tebal buku: 632 halaman
ISBN         : xxvi + 978-602-9193-26-8
Harga buku: Rp 99.900,00

WANITA simpanan, selir dan gundik begitu mudah kita temui dalam buku sejarah. Hampir setiap peradaban pada masa lalu, memiliki pembenaran bagi para pemimpin besar untuk mengambil istri lebih dari satu. Penelitian Elizabeth Abbott yang tertuang dalam buku ini menyingkap banyak tabir kehidupan tokoh-tokoh terkenal bahkan orang-orang suci yang memiliki wanita simpanan.


Abbott, sejarawan dengan minat khusus dalam isu-isu perempuan, keadilan sosial dan lingkungan, tak membuat kesimpulan sederhana dan hitam putih soal fenomena ini. Menurut dia, tak sedikit kehadiran wanita simpanan, selir atau gundik justru menopang pernikahan.

Menurut penulis, di banyak kebudayaan Timur, keberadaan selir sifatnya mengutuhkan pernikahan, bukannya tidak penting atau paralel dan tugas para selir disebutkan dalam hukum atau adat istiadat masyarakat setempat (hal. xxi). Di Timur, bahkan juga di zaman Romawi dan kerajaan Eropa, kehadiran selir itu dibutuhkan karena tak sedikit permaisuri atau ratu yang tak bisa melahirkan anak laki-laki. Padahal, kelahiran anak laki-laki sebagai "pewaris" tahta itu dibutuhkan.

Lebih dari itu, memiliki selir juga dianggap menunjukkan prestise. Karena, memiliki selir itu sama halnya dianggap bermartabat tinggi. Semakin banyak jumlah selir, maka makin baik. Para selir diberikan sebagai hadiah untuk pejabat tinggi atau pengantin pria (hal. 32). Bahkan, banyak wanita dijadikan selir sebagai sebuah tanda penaklukan suatu kawasan.

Tetapi berbeda dengan di Timur, Romawi dan era kerajaan Eropa, di lingkungan sosial di mana perubahan belum berjalan, kehadiran wanita simpanan ditutup "rapat-rapat". Salah satunya, di Gereja Katolik Roma. Konon, kewajiban pembujangan ternyata tidak mampu menghalangi keinginan biologis para pengabdi Gereja. Akhirnya, mereka punya wanita simpanan. Inilah yang membuat buku ini menjadi kontroversial.

Kehidupan seks paus yang dianggap suci pun menjadi ironis lantaran terkuak punya anak haram. Itu diakui Paus Innocent VIII (1484-1492). Bahkan sejak abad ke-9 hingga pertengahan abad ke-11, kekasih para paus Theodora Theophylact dan putrinya, Morosia (hal. 177-181), dan keturunan mereka memiliki pengaruh sangat besar sehingga kepausan pada era mereka dikenal sebagai "pornocrasi". 

Boleh dibilang, sejarah wanita simpanan memang cukup panjang dan kompleks. Hal itu terus berlangsung, tidak saja ketika terjadi perluasan wilayah seperti yang dipraktekkan para penakluk Spanyol, masa kolonial Amerika, penaklukan Asia, tetapi berlangsung pada hubungan seksual antar-ras (antara budak kulit hitam dan tuan kulit putih), bahkan hingga hubungan gelap dalam kehidupan orang-orang Yahudi pada masa Hitler.

Jadi, ada beragam "motif" dan latar belakang yang membuat wanita-wanita simpanan "rela" menyerahkan tubuh, termasuk kehadiran wanita-wanita simpanan bagi seniman yang bisa disebut obor untuk menumbuhkan inspirasi. Bahkan, kehadiran wanita simpanan tak bisa dilepaskan dari kehidupan politik modern di gedung Putih. Bahkan, Marilyn Monroe (hal. 461-475) sempat menjadi wanita simpanan sebagai boneka kebanggaan John F Kennedy.

Tuntutan akan persamaan hak bagi perempuan telah mengubah cara pandang orang dalam melihat wanita simpanan. Bahkan, pada era sekarang, perbedaan antara wanita simpanan dan kekasih semakin menjadi kabur. Pada poin inilah, sebenarnya "definisi" penulis tentang wanita simpanan yang dijadikan acuan dalam buku ini (wanita simpanan itu adalah seorang perempuan yang sukarela, atau terpaksa memiliki hubungan seksual yang relatif lama dengan seorang istri yang biasanya sudah beristri), bisa memercikkan api perdebatan. Apalagi, ketika penulis tidak membedakan antara wanita simpanan dan selir. Padahal, bagi orang Timur, selir dan wanita simpanan itu berbeda.

Tetapi, penelitian Elizabeth Abbott dalam buku ini patut diajungi jempol. Ia berhasil menguak "tabir gelap" kehadiran wanita simpanan dalam lintasan sejarah wanita-wanita yang dekat dengan kaisar, raja dan pejabat penting di dunia. Ia berhasil menelusuri kisah selir kaisar China di Timur hingga gundik raja Eropa di Barat --dari Siti Sarah di zaman kuno hingga Marilyn Monroe di masa modern, bahkan wanita-wanita gelap dalam kehidupan paus. Kerja brilian dan spektakuler itu --tak dimungkiri-- seperti membuka mata pembaca bahwa tidak sedikit raja, orang suci, politisi besar, dan bahkan seniman pun takluk ketika nafsu seks lebih bergejolak mengalahkan akal.

*) N. Mursidi, cerpenis dan penulis buku Tidur Berbantal Koran (Elex Media 2013)

Tidak ada komentar: