....

Minggu, 30 Maret 2014

Jembatan Perdamaian Kristen-Islam

resensi buku ini dimuat di Jawa Pos, Minggu 30 Maret 2014

Judul buku: Santo dan Sultan: Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib
Penulis      : Paul Moses
Penerbit    : Alvabet, Jakarta   
Cetakan   : Pertama, Desember 2013
Tebal buku: 440 halaman
ISBN        : 978-602-9193-40-4

SETIAP perang yang berkecamuk, sejarah selalu mencatat duka dan penderitaan panjang yang membekas--hingga tahun-tahun mendatang. Tak terkecuali Perang Salib yang telah berlangsung ratusan tahun lalu. Tetapi selalu ada "sosok heroik" yang mampu mewarnai tragedi kelam itu dengan memercikkan teladan yang layak direnungi karena kiprah dan perjuangan yang dilakukan dengan luar biasa. Sosok heroik dalam Perang Salib V itu, bisa disebutkan, salah satunya adalah Santo Fransiskus. Sekalipun Kardinal Pelagius, pemimpin pasukan Kristen sudah memperingatkan biarawan bertubuh ringkih itu agar tidak menempuh perjalanan sia-sia, dan bodoh, dia tetap nekat.


St. Fransiskus seperti tidak takut akan mati. Biarawan dari Assisi itu nekat menyeberangi sungai untuk menemui Sultan Malik al-Kamil. Tujuannya hanya dua; menawarkan perdamaian dan minta sultan memeluk Kristen. Meskipun khotbah dan perundingan yang dilakukan itu bisa dikata gagal tapi misi yang dilakukan itu mulia; merajut perdamaian antara Kristen dan Islam. Sayang, cerita heroik St. Fransiskus dalam membangun jembatan perdamaian itu --seiring perjalanan sejarah-- seperti ditutup-tutupi. 

Buku Santo dan Sultan: Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib ini, berusaha menyibak kabut gelap itu. Paul Moses menelusuri setumpuk data, dokumentasi, dan ratusan cerita seputar Perang Salib V dan perihal diplomasi damai antara St. Fransiskus dan Sultan. Karena, bagi penulis --yang memperoleh gelar Master Fine Arts di Inggris dari University of Fine Arts di Inggris dari University of Massachusetts di Amherst dan tinggal di Brooklyn, NY ini- misi mulia yang diperjuangkan oleh St Fransiskus telah mengalami "setumpuk" distorsi. Dari sebuah pertemuan yang penuh perdamaian menjadi sebuah benturan peradaban yang diwarnai kekerasan (hal. 168).

St Fransiskus memiliki masa lalu yang kelam dalam perang dan hal itu meninggalkan trauma. Saat masih muda, dia pernah ikut terlibat pertempuran sengit antara Assisi (kota kediamannya) dengan kota tetangganya, Perugia. Assisi kalah, dan hal itu berakibat buruk bagi St. Fransiskus. Dia diseret dari hutan, menyebrangi sungai dan mendaki ke bukit Perugia, dan dijebloskan ke dalam penjara kurang lebih selama satu tahun. Setelah itu, dia melakukan pertobatan dan permenungan. Dia pun seiring waktu kemudian mengalami kebangkitan spiritual (hal 18-20). Bahkan, dia setelah itu memulai hidup baru sebagai seorang santo.

Wajar, dari pengalaman tragis dan permenungan itu, dia kemudian menentang perang, termasuk Perang Salib. Maka, ketika perang Salib V berlangsung, ia memutuskan pergi ke Mesir. Ia diperkirakan pergi ke Mesir menumpang kapal Perang Salib setelah pertempuran 31 Juli 1219. Saat melihat secara langsung mayat-mayat bergelimpangan sepanjang perjalanan menuju benteng pasukan Kristen, hati St Fransiskus serasa sedih. Sebenarnya pemimpin pasukan muslim, Sultan Malik telah menawarkan kesepakatan damai terkait pengembalikan Yerusalem. Tapi Kardinal Pelagius -yang memegang kendali pasukan Kristen- keras kepala. Sekali pun bala bantuan dari Kaisar Frederick II tak kunjung datang, Pelagius tetap tak mau kesepakatan damai yang ditawarkan Sultan itu, dan bersikeras ingin menundukkan seluruh Mesir (137-138).

St Fransiskus diambang dilema. Pada satu sisi, dia tak mau menentang otoritas gereja yang diwakili oleh Peligus, tapi ia merasa harus mengukuti hati nuraninya. Ia akhirnya memilih bisikan hati; kemudian mengajak Illuminatus menempuh perjalanan penuh mara bahaya bahkan bisa disebut ingin mati karena memutuskan menemui Sultan Malik. Tetapi, itulah yang harus dilakukan. Dia hanya ingin menjalin tali kasih dan membangun jembatan "perdamaian" Kristen-Islam.

Dengan berupaya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam dialog perdamaian antara Frassiskus dan Sultan Malim, dan seputar peristiwa yang melatarbelakangi perang Salib V dan juga ditambah dengan mengisahkan kehidupan dua tokoh sentral dalam buku ini, yakni Fransiskus dan Sultan Malik al-Kamil, penulis ingin menjadi peristiwa heroik itu sebagai teladan untuk membangun konteks yang lebih luas; menjalin hubungan harmonis antara Kristen-Islam.

Penulis ingin upaya St Fransiskus untuk campur tangan dalam Perang Salib Kelima menjadi satu teladan dalam "menjalin" hubungan baik antara Kristen dan Islam tidak saja dalam membingkai sejarah Perang Salib, tetapi juga bagaimana membangun tali kasih dan hubungan yang lebih baik ke depan nantinya. Apalagi setelah tragedi 11 September 2001 yang meluluhkan gedung kembar WTC, harus diakui telah melahirkan benturan perabadan baru antara Kristen dan Islam radikal. Penulis berharap besar, sosok St Fransiskus menjadi teladan bagi umat Kristen. Sebeliknya, Sultan Malik menjadi teladan umat Islam untuk membangun kesepakatan damai antara Kristen dan Islam.

Sebab, dari pertemuan penting antara St Fransiskus dan Sultan itu, jika direnungkan, bisa membuka cakrawala baru bagi umat Kristen dan Islam. Kisah dua orang juru damai itu telah memberi "inspirasi" bagi umat Kristen dan Islam di seluruh dunia bahwa jalan damai adalah jalan yang terbaik daripada memandang umat lain penuh kecurigaan dan kebencian. Untuk tujuan itulah, Paul MOses merasa perlu menceritakan kisah St Fransiskus dan Sultan Malik lewat buku ini. Ia berupaya menulis episode sejarah yang ditutup-tutupi, dan mengajak merenung untuk membangun perdamaian melalui dialog agama --bukan lewat peperangan.

*) N. Mursidi, penulis buku Tidur Berbantal Koran (Elex Media; 2013)

3 komentar:

Wahyudi Kaha mengatakan...

Menarik, Mas. Informatif dan penuh motivasi. Terimakasih :)

Wahyudi Kaha mengatakan...

Tulisan menarik. Informatif dan penuh motivasi. Makasih, Mas Nur.. :)

Nur Mursidi mengatakan...

trm kasih atas kunjungannya mas. salam kreatif