....

Jumat, 05 Oktober 2007

Menelusuri Jejak Rasisme

(resensi ini dimuat Sinar Harapan Sabtu 20 Mei 06)

Judul : Rasisme; Sejarah Singkat
Judul asli : Racism: A Short History
Penulis : George M. Fredrickson
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2005
Tebal : xvii + 270 halaman

TERLAHIR sebagai manusia dengan ciri-ciri fisik, seperti warna kulit hitam, hidung pesek dan rambut keriting haruslah diakui bukan sebagai satu kesalahan atau "dosa turunan". Manusia mana pun tak pernah punya pilihan ketika dilahirkan, termasuk lahir dengan kondisi "cacat secara fisik". Semua itu semata-mata merupakan takdir Tuhan. Artinya, bentuk fisik dan warna kulit manusia adalah hak prerogatif Tuhan yang tak bisa ditolak. Sebaliknya, dengan keragaman dan perbedaan warna kulit itu harus dipahami sebagai kemajemukan ras, bukan menunjukkan satu superioritas. Sebab semua manusia diciptakan Tuhan setara dan dianugrahi hak-hak individu yang berasal dari alam dan akal.

Tetapi celah perbedaan dan keragaman itu, ternyata ditafsirkan secara salah. Tak pelak, kalau dalam rentang sejarah muncul "klaim" terhadap manusia yang berkulit hitam dengan" cap" sebagai manusia yang bodoh, kurang beradab dan terbalakang. Sejarah akan pembantaian serta pembunuhan secara kejam oleh tentara Nazi Jerman terhadap orang Yahudi, juga sejarah kelam orang kulit hitam di bawah rezim rasis di Amerika Selatan pada era Jim Crow dan di Afrika Selatan era rezim Apartheid setidaknya menjadi bukti akan sejarah gelap dari rasisme.


Memang, istilah rasisme itu sendiri baru pertama kali digunakan sekitar tahun 1930-an, ketika istilah tersebut diperlukan untuk menggambarkan "teori-teori rasis" yang dipakai orang-orang Nazi dalam melakukan pembantaian terhadap orang Yahudi. Kendati demikian, bukan berarti jauh-jauh hari sebelum itu bentuk rasisme tak ada. Telepas dari istilah rasisme yang dianggap sebagai ide modern yang khas serta tidak memiliki preseden historis, setidaknya fenomena tribalisme dan xenofobia bisa menjadi titik berangkat --meski hal itu bukanlah rasisme-- dalam menelusuri jejak sejarah rasisme. Penelusuran akan jejak rasisme dalam rentang sejarah itulah yang disajikan oleh George M. Fredrickson dalam buku ini.


Sejarah memang bukan lembaran peristiwa yang sepenuhnya suci dari bercak darah. Bahkan sejarah agama-agama, menurut Fredrikson sempat ternoda bercak rasisme yang diliputi dengan adanya pembantain dan perang dikarenakan serpihan pemikiran akan klaim keyakinan yang dianutnya. Sikap orang-orang Kristen Eropa terhadap bangsa Yahudi yang dituduh telah membunuh Kristus dan meracuni sumber mata air untuk melenyapkan pengikut Kristus, dalam kaca mata Fredrickson adalah satu landasan bagi rasisme yang berkembang di kemudian hari.


Orang-orang Kristen --setidaknya belajar dari sejarah Islam-- kemudian "mengaitkan" warna kulit dengan status perbudakan. Dari konteks itulah, orang-orang Afrika sub-sahara diklaim terlahir sebagai budak karena kutukan (biblikal) dari dosa yang telah diperbuat Ham. Akibat dari dosa Ham itu, orang-orang Afrika diklaim telah ditakdirkan sebagai ras budak. Klaim itu anehnya terus diakui kebenarannya dan kemudian menjadi justifikasi rasisme.


Sejarah awal rasisme --sebagaimana dilacak M. Fredrickson-- setidaknya bisa ditelusuri dari Spanyol. Pada abad 12 sampai 13, pengikut Islam, Yahudi dan Kristen bisa hidup berdampingan. Tapi di akhir abab 14 dan awal 15, timbulnya konflik dengan orang Moor lalu memercikkan diskriminasi terhadap Islam dan Yahudi. Di sini tampak kebencian yang bersifat sektarian lalu menjadi kebencian yang bersifat rasial dalam bentuk pengusiran. Setelah Spanyol dibersihkan dari orang-orang Yahudi dan Moor, kemudian menjajah "dunia baru" (Amerika) dan menemukan jenis perbedaan baru --orang-orang primitif dan kurang beradab.


Pembauran dengan orang berdab itu dirasa sebagai sesuatu yang mustahil. Karena itulah, keyakinan sebagai bangsa yang unggul berkembang dengan bentuk merasialisasikan orang-orang yang tidak beradab dan terbelakang sebagai budak. Timbulnya keyakinan itu pula yang kemudian jadi sumber utama di pihak sebagian besar bangsa Jerman dengan berpandangan mustahil melakukan pembauran dengan orang Yahudi. Ketika itu, menurut M. Fredickson, rasialisme secara biologis belum diterapkan kepada bangsa Yahudi di Jerman sampai kemudian digunakan untuk merasionalisasi sikap orang Amerika terhadap orang kulit putih. (hal. 98).


Dari pandangan itu, orang Amerika merasialkan orang lain dan menganggap dirinya paling manusiawi. Puncak supremasi kulit putih itu lalu mencapai perkembangan ideologis yang paling lengkap terjadi di Amerika Serikat bagian Selatan antara tahun 1890-an hingga 1950-an. Sementara itu, orang Jerman melengkapi dirinya sendiri dengan identitas rasial sehingga merasa perlu untuk menyingkirkan orang lain dari identitas ras unggul Kaukasia-bangsa Arya. Adapun puncak antisemitisme Jerman itu memuncak pada tahun 1933 dan 1945.


Walau buku tipis ini hanya memberikan ulasan secara ringkas sejarah rasisme, tetapi bukan berarti tidak memiliki kekuatan otoritatif yang memadai. Setidaknya, dengan "batasan rentang waktu" pembahasan tentang transisi intoleransi keagamaan pada abad pertengahan (di Spanyol), munculnya rasisme modern pada abad 18-19 (di Jerman dan Amerika Serikat) serta kemundurannya pada abad 20 sampai pada pembahasan yang bersifat spekulatif akan nasib rasisme di abad sekarang, buku ini bisa dikata mencakup jangkauan yang cukup luas.


Memang, kajian dari Fredrickson akan lebih memiliki warna jika dia melihat sejarah rasisme dengan prespektif dunia -sebagaimana usulan Profesor Constantin Fasolt dari Universitas Chicago. Tetapi, entah karena apa, Fredrickson tidak memenuhi harapan itu. Mungkin, hal itu semata-mata karena buku sejarah rasisme ini tak lebih dari kajian yang dikembangkan Fredickson dari dasar materi rangkaian kuliah yang diberikan penulis di Universitas Princeton. Meski demikian, buku ini tak bisa dipandang sebelah mata karena buku ini cukup kredibel dan kapabel sebagai sebuah buku perbandingan yang memadai untuk khazanah pengetahuan dan riset tentang rasisme.***


*) n_mursidi, alumnus Filsafat UIN Yogya.



4 komentar:

Muhammad Faris mengatakan...

Bisa beli dmna buku ini??d jogja semua toko buku habis

Nur Mursidi mengatakan...

mas bs menghubungi penerbit-nya, bentang pustaka di jogja.... smg msh ada

Rizky Erzi Andwika mengatakan...

mas nur ada gak buku ini mas? saya di bdg, semua toko buku gk ada mas, saya beli mau gak mas? help mas, bwt skripsi saya mas. nuhun

Nur Mursidi mengatakan...

mgkn mas bs tanyakan ke penerbitnya di bentang utk beli buku ini. smg msh ada, jk tdk ada, mas bs menghubungi saya lwt email: nur_mursidi@yahoo.com