....

Jumat, 26 Oktober 2007

Menggapai Kesadaran Spiritualitas Lewat Seks

resensi buku

Judul buku : Sexual Quotient: Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra
Penulis : Anand Krishna
Penerbit : One Earth Media, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal buku : viii + 106 halaman


SILANG pendapat kebanyakan orang dalam melihat persoalan seks, setidaknya membangun konfigurasi pemikiran yang dapat dikata amat paradoks. Pada satu pihak, orang berpandangan seks itu tak lain sebagai sebuah wilayah pelampiasan nafsu dan untuk mencapai kenikmatan serta kesenangan belaka. Sedang pada pihak yang lain, orang menganggap seks itu sebagai hal yang menjijikkan, porno dan bahkan "dosa". Karena itu, seks harus dijauhi. Pun, tidak patut dibicarakan di tempat umum.

Padahal, seks itu adalah hal alamiah yang sudah dianugrahkan Tuhan kepada setiap manusia sejak lahir untuk kelangsungan hidup umat manusia di dunia. Maka mau tak mau, seks pun harus diakui sebagai bagian inherent manusia yang tidak bisa dinafikan. Tapi sayangnya, orang sering salah dalam memandang dan memaknai seks.

Kesalahpahaman orang dalam memaknai seks itulah yang coba diluruskan Anand dalam buku terbarunya Sexual Quotient: Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra ini. Dengan menggali "nilai-nilai" filosofis dari ajaran Kamasutra dan Tantra, Anand --pendiri Komunitas Lintas Agama Anand Ashram-- memberi pemaknaan baru atas seks yang menurutnya layak ditempatkan pada ruang privat yang benar. Dengan kata lain, seks tak dirayakan demi sebuah kenikmatan semata, juga tidak dianggap sebagai hal yang tabu.

Bagi pria keturunan India yang lahir di Solo pada 1956 ini, seks justru bisa menjadi sarana untuk mencapai "anak tangga" kesadaran yang lebih tinggi, bukan semata-mata urusan di atas ranjang. Dengan "menafsirkan" teks Kamasutra, Anand mengajarkan bahwa seks itu dapat menjadi anak tangga pertama dalam mengenali jati diri. Dibalik aktivitas seks ada energi yang bisa diolah. Dari nafsu, seks diolah jadi cinta, dan cinta itu kemudian diolah jadi kasih. Akhirnya, aktivitas seks pun tidak sekadar sebuah persenggamaan yang dimaksudkan demi kenikamatan semata melainkan juga memberi kepuasan bagi pasangan dan sekaligus menjinakkan sifat hewani.

Kalau dalam Kamasutra, seks menjadi anak pertama untuk mengenali jati diri, dalam Tantra seks lebih jauh ditempatkan sebagai anak tangga mencapai kesadaran spiritual. Seks tak sekedar jadi ritual sepasang dua anak manusia yang berpadu, tapi saling mengasihani dan diniatkan sebagai bentuk persembahan. Caranya, seks dijadikan sebagai wadah "melting hug" (melebur) guna memasuki wilayah kasih, sekaligus sebagai bentuk persembahan dan menjadi bagian dari alam.

Kesadaran itu tak mengajarkan kenikmatan sesaat karena seks akan menjadi persetubuhan yang menghasilkan kebahagiaan yang telah mengikutsertakan lapisan psikis. Jadinya, kenikmatan yang didapat tidak bersifat semu, tetapi sebuah kebahagiaan yang tak terkatakan. Suatu kebahagiaan yang menghantar "dua jiwa" mencapai kesadaran spiritual, menyatu dengan alam karena seks dimaksudkan sebagai persembahan.

Sungguh luar biasa! Karena, seks yang selama ini dilakukan dengan telanjang ternyata bisa mengantarkan sepasang manusia mencapai kesadaran. Berbeda dengan seks yang dilakukan demi suatu kenikmatan sesaat, seks yang dilakukan dengan niat persembahan akan membawa pada puncak "kasih". Sebuah spiritual dan kehidupan dalam ketenangan karena ia telah memberikan sesuatu yang bermakna pada kehidupan di atas ranjang.

Apa yang dipaparkan Anand dalam buku ini memang bukan hal baru karena tidak lebih dari tafsir Anand atas ajaran Kamasutra dan Tantra. Hanya, Anand melaburi ajaran dalam buku ini dengan hal yang menyegarkan dan meretas pengertian baru yang digali dari seks. Tidak salah, kalau buku ini oleh Anand diberi titel Sexual Quotient. Karena, selama ini orang hanya mengenal IQ, EQ, SQ serta ESQ, sementara itu orang tak pernah menyangka jika ritual seks yang layak ternyata bisa menjadikan seseorang bisa beradab dan mencapai kesadaran spiritual.

Dalam buku ini, ada pesan penulis yang layak dicatat bahwa urusan seks bisa jadi "cermin" dari kehidupan seseorang. "Urusi dulu selangkanganmu, jika itu beres maka banyak masalah yang akan teratasi," demikian kata Vadsayana dalam Kamasutra. Dengan petuah itu, Anand yakin kalau kehidupan seks seseorang itu layak uji, maka ia akan menjadi orang yang berprilaku baik, tak munafik dan tidak dikuasai nafsu. Sebab "ritual seks" yang dilakukan dengan semangat persembahan akan mengantarkan manusia hidup beradab.

Buku yang secara "teknis" ini merupakan kelanjutan dari buku Jalan Kesempurnaan Melalui Kamasutra dilengkapi teknik-teknik dan latihan-latihan dalam menjalani ritual seks demi persembahan, yang bisa menuntut pembaca menjadi manusia berkesadaran dan bukan jadi binatang. Karena baginya, menempatkan seks demi kenikmatan dan menjauhinya adalah kekerdilan dikarenakan seks itu memiliki potensi yang bisa meningkatkan kesadaran spiritual seseorang.***

*) n_mursidi, alumnus Filsafat UIN, Yogya. E-mail: n_mursidi@plasa.com

1 komentar:

elfizonanwar mengatakan...

Karena itu, Islam memposisikan masalah seks itu wukud kesucian, ketulusan dan ibadah juga. Setiap orang yang akan menikmati seks dia harus melalui gerbang perkawinan, sehingga baik laki-laki maupun perempuan yang akan berhubungan seks akan selalu berada di dalam kejelasan tanggungjawabnya.

Dampak konkrit dari seks ya selain merupakan peningkatan kesadaran spiritualitas, juga tidak lain akan mewujudkan warisan keturunan yaktiu anak. Proses pertemuan, pembuahan dan persemaian si anak yang terlebih bersemayan dalam 'rahim'-nya wanita atau isteri kita.

Wajarlah, jika dalam Islam kita dilarang untuk mempermainkan seks atau katakanlah kita berbuat zina, jangankan berzina mendekati zina pun agar diupayakan untuk kita jauhkan supaya tidak kebablasan. Jadi, spiritualitas lewat seks menurut Islam amat mulia bagi kedua insan manusia, ya isteri dan suami masing-masing.