....

Jumat, 18 Januari 2008

menggugat fundamentaliesme agama yang bopeng

resensi ini dimuat MATABACA vol. 6/no. 5/Jan 08

--------------------------------
Judul buku : Jihad Terlarang: Cerita dari Bawah Tanah
Pengarang : Mataharitimoer
Penerbit : Kayla Pustaka, Jakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2007
Tebal buku : 365 halaman
--------------------------------

TIDAK sedikit, ide novel yang digali dari ceruk kehidupan nyata pengalaman religius yang pahit dan getir. Tapi jika hendak dibandingkan dengan novel bertema kehidupan religius lain dalam khazanah kesusastraan Indonesia, tentu novel Jihad Terlarang: Cerita dari Bawah Tanah ini meninggalkan "kesan" yang membekas dan menggugah. Sebab novel ini menyuguhkan pergulatan religius yang menukik dengan tiga obsesi literer yang dibangun pengarang dengan telak terhadap gerakan Islam garis keras.

Pertama, novel ini mengisahkan masa lalu pengarang yang sempat terlibat "pergerakan bawah tanah" kelompok Islam garis keras yang mencita-citakan negara Islam Indonesia. Di tengah kabar silang sengkarut tentang pergerakan bawah tanah, pengarang berani "membuka tabir" pergerakan underground dengan "membuka kebobrokan" di tubuh organisasi, dan imam-imam harakah (gerakan) yang selama ini terlipat dalam jaringan yang tersembunyi dengan rapat.

Kedua, melalui novel ini pengarang hendak membangun konsep jihad untuk meluruskan 'tafsir' sepihak yang kerapkali menghalalkan kekerasan atas nama Tuhan. Ketiga, dengan menohok pengarang menggugat klaim kebenaran tunggal harakah (Islam garis keras), seraya menyuguhkan jalan sunyi yang dipilih Royan.
***

AGAK mencengangkan, mengapa pengarang "menggugat fundamentalisme agama". Pergulatan masa lampau Royan yang dilingkupi traumatis rupanya menjadi jawaban dari lecut gugatan itu. Pasalnya masa lalu Royan cukup getir. Saat masih bocah, berusia 13 tahun, Royan sudah dihadapkan takdir pahit karena ayahnya tewas dibatai tentara seusai menghadiri pengajian akbar di Tanjung Priok, 1984. Belum pupus rasa belasungkawa, beberapa hari kemudian, ibunya juga meninggal sebab tak kuat menanggung duka lara.

Tak tahu lagi ke mana harus mengadu, akhirnya ia dendam pada Tuhan dan tentara. Tak lagi punya orangtua, dia terpaksa putus sekolah dan hidup di terminal, berjualan koran untuk menyambung hidup. Selama empat tahun menjalani hidup getir di jalanan, bergaul dengan preman, kian meneguhkan Royan jauh dari agama. Kehidupan Royan berubah drastis setelah dia diajak Supar aktif di masjid Kubah Emas dan dia menemukan kedamaian hati. Pun, ia tak perlu lagi susah-susah jualan koran. Pasalnya, di masjid itu kehidupan Royan ditanggung harakah.

Di bawah bimbingan para ustadz yang militan, Royan digembleng untuk direkrut menjadi kader gerakan Islam garis keras. Alih-alih Royan sadar kalau otaknya dicuci, justru Royan dapat memupus rasa dendam pada Tuhan dan menemukan keluarga baru di bawah tali Islam. Maklum Royan tak lagi memiliki sanak saudara dan misi gerakan yang memperjuangkan keadilan, persamaan dan persaudaran membuat Royan direngkuh kedamaian. Pun Royan sadar bahwa hidup harus memperjuangkan cita-cita pergerakan untuk mendirikan negara Islam!

Demi cita-cita itu, Royan bergerilya hingga diincar intel. Tak lagi aman, dia pun meninggalkan Masjid Kubah Emas dan bergerilya dari kota ke kota. Tapi setelah empat tahun aktif menjadi kader dan tokoh gerakan, ia justru terseret luka. Seiring peningkatan level di gerakan, ia menjumpai kebobrokan harakah, seperti arogansi pimpinan, tuntutan anggota agar patuh pemimpin (meskipun salah), larangan jatuh cinta, nikah internal, dan moralitas pimpinan yang ternyata jauh dari ajaran Islam. Sontak, Royan kaget dan mempertanyakan kebobrokan itu.

Tetapi pertanyaan kritis Royan itu justru membuatnya dimutasi. Tak mendapat tempat lagi di harakah, ia bersama Panji, Arafat dan Ikhwan lantas mendirikan LSM Lingkaran Kecil dan ia menangani jurnal kebudayaan. Lewat jurnal itu ia mengkritik kebobrokan pimpinan. Ulah Royan mengundang geram pimpinan dan dia ditudung indisipliner, bahkan difatwa halal jika dibunuh. Ia tidak gentar, maju terus melancarkan kritik.

Alih-alih, orang-orang di level atas menjadi sadar, justru geram. Tak berlebihan, orang-orang level atas berusaha memberi uang sogokan agar ia bungkam. Tetapi Royan tidak goyah. Akibatnya, dia difitnah dan berujung diculik. Meski akhirnya, dilepaskan tapi Royan dihinggapi trauma. Dia keluar dari harakah, dan menggelandang ke beberapa kota menempuh jalan sunyi kebenaran yang diajarakan Islam, bukan kebenaran yang ditawarkan harakah.
***

JALAN cerita yang disuguhkan novel ini, menyiratkan maklumat gugatan atas klaim kebenaran sepihak yang didedahkan gerakan Islam garis keras, yang dahulu jadi tempat bernaung Royan. Memang, pengarang tidak secara terang menyebut identitas harakah. Tapi, maklumat kebenaran tunggal sebagai tafsir atas ajaran agama (baca: Islam) yang disalahpahami harakah tempat Royan bernaung, jelas tidak seirama dengan ruh al-Qur`an. Ada semacam keterputusan pemahaman akan pesan agama dengan real jihad.

Alih-alih, lahir "rasa persaudaraan" dalam wadah Islam di bawah bendera kitab suci dan hadits, justru tak jarang menuduh kelompok lain (di luar harakah itu) sebagai orang kafir yang harus diperangi. Ironis lagi, dengan dalih jihad atas nama Tuhan dengan memerangi kelompok lain lewat cara kekerasan yang digemakan itu, justru bukan menghiasi melainkan mencoreng wajah Islam.

Tak pelak, setelah keluar dari harakah dengan diliputi trauma, pengarang mengetuk kesadaran pembaca dengan menerbitkan novel ini agar kader pergerakan tahu dengan siapa mereka berpetualang, dan di mana mereka berkubang. Karena di mata pengarang, cita-cita harakah itu tak lebih hanya mimpi yang mengatasnamakan dan menjual agama. Pemimpin harakah mencita-citakan tumbangnya Orde Baru justru saat Soeharto jatuh, tak satu pun dari mereka yang terlibat. Justru mengeruk keuntungan dengan cara memaksa anggota membayar iuran yang melangit
***

SAYANG, novel yang menggebu-gebu "membuka aib" gerakan Islam garis keras lewat sekeping novel ini, justru tidak didukung laku bertutur pengarang yang jalan seirama antara isi dan bentuk novel. Alur cerita melaju lurus, datar, tidak berkelok, tidak meliuk-liuk apalagi berpilin-pilin. Alur cerita nyaris dingin dan bahkan bangunan dialog yang seharusnya mengukuhkan karakter tokoh-tokoh di dalam novel, terasa hambar dan dingin. Padahal, ada sejumlah kisah yang dapat dituturkan dengan dramatis.

Tetapi, dramatisasi peristiwa itu (semisal saat Royan diintai intel lalu kabur dari Masjid Kubah Emas dan peristiwa penculikan), ternyata tak dielaborasi dengan teknik penuturan yang membuat darah mendidih. Jika peristiwa menegangkan itu dirangkai baik, tentu membuat novel yang tak menujumkan kualitas sastrawi ini akan lebih menyentuh. Apalagi, kekuatan "pesan novel" ini, nyaris kental "diliputi" nuansa pemberontakan.

Meski pesan novel yang menggebu-gebu hendak menjungkalkan fondasi jihad dari Islam garis keras di tengah realitas keberagamaan yang bopeng ini mengesankan, tapi kekuatan teks yang diusung semata-mata hanya mengantarkan pesan pengarang, dan melupakan cara bertutur yang menggelorakan, tidak dapat ditepis kalau novel ini hanya menjadikan sastra sebagai "tunggangan" gagasan dari gugatan pengarang atas fundamentalisme agama yang bopeng. Patut disayangkan!***

*) Nur Mursidi, cerpenis asal Lasem, Jawa Tengah.

Tidak ada komentar: