....

Minggu, 08 Juni 2008

potret kehidupan di tepi sungai nipah

resensi buku

Judul buku : Peri Kecil di Sungai Nipah
Pengarang : Dyah Merta
Penerbit : Koekoesan, Depok
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal buku : v + 293 halaman

SEBUAH karya sastra akan disebut bagus dan berkualitas jika karya itu mampu menjadi cermin dari keadaan suatu masyarakat. Tak pelak, karya itupun tak berpretensi hanya merekam keadaan sosial (dari sisi sosiologis, antropologis dan historis) tetapi juga menggambarkan pandangan hidup (filsafat), adat-istiadat, tradisi dan bahkan mitologi yang berkembang di tengah masyarakat.

Tetapi capaian estetis dengan menggabungkan hal tersurat dari realitas sekaligus kemampuan merengkuh relung terdalam yang tak nampak (mitologi) tentu bukan saja mengundang dilema dari aspek sastrawi melainkan juga dapat dianggap melanggar logika (rasio) khazanah sastra negeri ini yang sering dijejali dengan model sastra realis.

Tak salah jika novel Peri Kecil di Sungai Nipah karya novelis pemula Dyah Merta ini akan terasa mengibarkan "bendera lain" dalam jagat sastra Indonesia. Apalagi dengan "alur cerita" yang berbelit dan berpilin, tetapi tak melupakan detail, masih ditambah aroma realisme magis, novel ini pun menawarkan terobosan dan kejutan. Padahal, novel ini hasil besutan pengarang pemula yang namanya masih asing di gelanggang sastra Indonesia.

***

DESAIN novel ini digarap dengan tragis dilatari luka genetis dari percikan sperma lelaki pemilik kebun tebu dan pande besi di Sangir, bernama Karyo Petir. Padahal, dengan istri lumayan cantik (Dalloh) dan kekayaan yang dimiliki, Karyo Petir cukup bahagia. Apalagi tak lama setelah menikah, Dalloh hamil. Tetapi, saat Dalloh hamil tua, Karyo Petir ternyata tak kuat membendung nafsu. Dia tergilas kecantikan Wasti, anak janda pemilik warung di luar desa Sangir lalu menjalin "asmara" dan meninggalkan benih.

Setelah Dalloh melahirkan Dagu, kemudian disusul Gora (anak kedua), Karyo Petir seolah lupa dengan Wasti. Padahal, benih yang ditinggalkan di perut Wasti itu berbuah Kulung. Wasti menanggung malu karena Karyo Petir tak pernah datang, apalagi menikahi Wasti. Pantas, orang mencibir Wasti dan menyebut sundal. Tak kuat menanggung malu, Wasti bunuh diri. Kulung kemudian diantarkan neneknya ke rumah Karyo Petir.

Tapi kedatangan Kulung di rumah itu rupanya menjadi awal bencana bagi keluarga Karyo Petir. Rumah yang semula tentram, mendadak suram. Tak ada lagi percakapan di meja makan, bahkan Karyo Petir harus bersitegang dengan Dulloh --bahkan Dulloh menyebut Kulung sebagai anak babi. Tak nyaman di rumah, Karyo Petir menghabiskan waktu mengunjungi pasar malam dan adu ayam. Sebaliknya, Dalloh membalas dendam berselingkuh dengan Mandor Jarot. Keluarga Karyo Petir pun seakan kena kutuk.

Setelah rumah Karyo Petir dihinggapi burung gagak, secara beruntun "kutukan" itu tiba. Genuk (pembantu Dalloh) hamil --diperkosa Mandor Jarot. Tetapi anehnya, ketika kehamilan Genuk menginjak 9 bulan, mendadak bayi di perut Genuk hilang. Peristiwa aneh itu, diikuti kejadian musykil lain yang tak masuk akal. Genuk meninggal. Juga, Karyo Petir pun dijemput maut tanpa sakit. Lima bulan setelah itu, Dagu diculik, sebab dianggap provokator demonstrasi lantas dipancang. Tubuh Dagu kemudian dilempar ke Waduk besar (di sungai Nipah).

Jenazah Dagu itu melengkapi desas-desus keberadaan "hantu" di Sungai Nipah setelah jenazah Wong (perempuan keturunan Cina yang jadi simpanan Koh Asun) diperkosa secara massal lantas dibunuh dan dikabarkan menjelma jadi perempuan berkulit putih setelah dilempar ke Sungai Nipah, menggenapi raibnya seratus lima puluh buruh yang tenggelam di Sungai Nipah pasca aksi penuntutan kenaikan gaji.

Rumah Karyo Petir lama tertutup bahkan untuk kulung, dan tak bertuan saat Dalloh meninggal. Gora --anak Dalloh yang tersisa-- memilih tinggal bersama kerabat ayahnya dan sesekali, Kulung datang ke rumah itu menatap dari jauh, mengenang kenangan manis bersama Gora ketika seluruh keluarga tak menerima kahadirannya, tapi secara diam-diam Gora justru jatuh hati.

***

NOVEL Peri Kecil di Sungai Nipah ini menghadirkan keadaan sosial, antropologis juga geografis desa Sangir sekaligus mengungkap pandangan hidup dan mitologi yang berkembang di Sangir, yang dulu tidak berpenghuni hingga kini menjadi maju berkat Sungai Nipah, tanaman tebu, pabrik gula dan pabrik sirup. Dengan memanfaatkan bahan sejarah, mitologi, dan foklore, pengarang mencampur aduk materi tersebut menjadi sebuah cerita yang berpilin, gelap dan tak mudah ditebak. Apalagi, pengarang meracik nuansa magis yang masih berkembang di sekitar Sungai Nipah.

Cara melihat realitas yang dipadu dengan cara lain atas realitas yang selama ini dianggap tidak rasional, tak logis, dan supernatural menjadikan novel ini kental dengan 'aroma surealisme' yang dipadu dengan sejarah dan filsafat --sebagaimana aroma yang diracik oleh Franz Kafka dan juga Gabriel Garcia Marquez. Tak salah, kalau novel ini beraroma realisme magis.

Dengan jeli, pengarang mengungkap aspek-aspek keseharian warga desa Sangir dan hal-hal di sekitar yang aneh, misterius dan juga menakutkan seperti burung gagak, Surip yang kesurupan, raibnya janin dari kandungan dan hantu yang muncul di Sungai Nipah). Memamg, Dyah Merta tidak memasukkan elemen fantastik dalam alur cerita, tapi ingin menunjukkan bahwa 'ada cara pandang lain' untuk melihat hal keseharian yang merupakan bagian tak terpisahkan baik dalam teks atau 'hidup keseharian'. Dengan kata lain, pengarang hendak mengakui "yang irasional" sebagai bagian dari realitas keseharian sebagai perbaduan antara realitas yang rasional dengan magis.

Dengan corak penceritaan itu, bentuk Peri Kecil di Sungai Nipah ini menampilkan gaya realisme magis, meski hanya setengah hati. Dengan metode ini, pengarang memasukkan banyak hal dan gagasan baru pada periode sejarah dari pinggir, hingga tak ada dilema pula tatkala pengarang berkisah kegilaan di kepala Kulung yang menuntut balas segala dendam kepada keluarga Karyo Petir.

***

SEBAGAI pendatang baru, kehadiran Dyah Merta dengan menerbitkan novel ini memang "patut" disambut gembira. Ia menawarkan bentuk estetika estetika yang tak lazim, seperti yang pernah diusung Eka Kurniawan dalam novel Cantik Itu Luka dengan mengadopsi model estetika gaya Amerika Latin.

Selain itu, laku penuturan Dyah Merta dalam memilih alur cerita yang diramu berpilin-pilin, tak lempeng, gelap, samar dan melompat-lompat dengan ending susah ditebak. Dia "tidak setia" memegang teguh kronologis cerita tapi mengembangkan keliaran bertutur dengan tetap "meninggalkan" jejak yang terlewat kemudian melangkah maju, lantas mundur lagi. Ditambah, motif balas dendam yang jadi grand tema dari chaos yang dibangun pengarang sejak halaman awal dengan alur tak runtut, compang-camping dan membingungkan. Tapi pengakuan Kulung di akhir kisah jadi jawaban dari chaos yang tidak menentu sehingga novel ini masih bisa dipahami.

Sayang, kelebihan tersebut tak didukung bangunan dialog yang kuat (kering dialog). Tak salah, novel ini serasa ngelangut, nyaris sunyi dan bernuansa mistis. Padahal jika dikembangkan dengan dialog yang kuat --sebagaimana dikatakan Anthony Trolloppe-- pasti memberi kontribusi pengisahan cerita dan membangun penokohan. Satu hal yang nyaris kurang mendapatkan perhatian dari pengarang.***

*) N. Mursidi, cerpenis asal Lasem, Jateng. Kini, tinggal di Ciputat, Tangerang.

9 komentar:

Benni Setiawan mengatakan...

Salam kenal Mas Mursidi, saya sering baca ulasan buku, cerpen, dan tulisan sastra sampeyan. Selamat.

n. mursidi mengatakan...

salam kenal balik, mas benni. saya juga srg baca tulisan anda. thanks

Rahib mengatakan...

beberapa kawan juga bilang kalau novel ini njelimet, saya blm baca, masih tersimpan dengan rapih di rak buku saya...hehehehe

edyfirmansyah mengatakan...

Trimakasih sudah mampir di rumah maya saya, mas N. Mursidi. senang dikunjungi Penulis berbakat seperti anda. TABIK!

n. mursidi mengatakan...

terima kasih, rahib. novel ini memang memakai gaya bertutur yang tidak biasa, jadi agak susah dicerna, tetapi jk dibaca dengan pelan, pasti akan menemukan titik terang. thanks!

n. mursidi mengatakan...

mas edy, terima kasih! jadi, tersanjung aku! padahal, aku bukan siapa-siapa....

Ni'amul Ausath mengatakan...

P.Nur, makasih ya sudah nuliskan namaku di blog-sampeyan...., jadi pingin rajin nge-blog.., nuwun

Anonim mengatakan...

Hallo,
aku belum pernah melihat buku ini di toko buku barangkali aku kurang keluyuran ke toko buku, hehe.
Thanks telah berkunjung ke blogku the other day.
Good luck for ur future.

Nana Podungge
http://nanas-readings.blogspot.com

n mursidi mengatakan...

buku peri kecil di tepi sungai nipah sudah beredar tahun 2007 lalu. he 3x. bukan tidak sempat keluyuran, ttp mungkin memang belum ketemu.... thanks jg telah mampir....