....

Minggu, 15 Juni 2008

geliat sepak bola dalam buku

opini di balik buku ini dimuat di jawa pos, minggu 15 juni 2008


PERTANDINGAN sepak bola Euro 2008 kembali digelar. Meski kali ini UEFA memilih dua (2) negara yang tergolong kecil, Austria dan Swiss sebagai tuan rumah, tapi tak menghalangi perhelatan empat tahun sekali itu menyedot perhatian dunia. Praktis, ''dunia'' seakan-akan telah disimpulkan dalam sepetak lapangan. Apalagi olahraga paling pupuler sejagat itu tak sekadar permainan melainkan sudah jadi tontonan hasrat kuno manusia: adu kekuatan untuk mempertontonkan skill, kerja sama, inisiatif, dan perang strategi untuk bisa menjadi pemenang.

Seiring perjalanan sejarah, sepak bola memang tak lagi sekadar gerak tubuh untuk kebugaran fisik, melainkan telah melampaui dinding stadion. Sepak bola sudah jadi semacam ''ritual'' (Claude Levi Strauss), bahkan ''religion global'' (Tom Hundley). Sebab, di balik pertandingan sepak bola kerap muncul agregasi etnis, nasionalisme, dan agama yang sudah berabad-abad. Bahkan sepak bola kini jadi bisnis global yang kental muatan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan filsafat.

Dari konteks yang sudah tak lagi sekadar permainan gerak tubuh itu, sepak bola lant
as diletakkan sebagai subjek dan variabel yang jadi bahan kajian dari berbagai sudut pandang; kajian psikologi, budaya, sejarah, antropologi, agama, dan bahkan politik. Tidak salah, jika dalam buku Politik dan Sepak Bola (2004), Srie Agustina Palupi mencatat kelahiran sepak bola Indonesia lebih sebagai sarana menumbuhkan nasionalisme (politik) daripada keinginan orang menjadi bugar.

Muatan politik juga disinggung Paul Theroux dalam buku The Old Patagonian Express (1989) yang sekilas menyinggung kerusuhan yang berkaitan dengan sepak bola di San Salvador, dan Ryszard Kapuscinski dalam buku The Soccer War (1992) menuturkan eksplorasi perang El-Savador dan Honduras yang tak lain akibat sepak bola. Buku lain yang lebih luas menyoroti sepak bola bisa ditengok How Soccer Explains the World: An Un Likely Theory of Globalization (2004) karya Franklin Poer. Meski berpijak pengalaman tour Poer di sejumlah negara, buku itu telah menjelenterehkan sepak bola yang mencerminkan kekuatan global, politik, dan budaya. Dalam buku itu, Poer berkisah menteri dalam negeri pemerintahan Slobodan Milosevic duduk di dewan tim sepak bola dan merekrut kaum nasionalis penggemar Red Star untuk suatu operasi militer.

Tak dimungkiri sepak bola kini telah menjadi olahraga paling populis di dunia. Tapi, tidak di Amerika Serikat. Di sana sepak bola kalah populer dibanding American Football atau basket. Dilihat dari sisi budaya, buku Offside: Soccer and American Exceptionalisme (2001) karya dari Andrei S. Markovits dan Steven L. Hellerman menjelaskan bahwa pada saat budaya olahraga berkembang di Amerika Serikat pada abad 19 dan awal abad 20, nativisme dan nasionalisme mulai membentuk citra diri Amerika yang khas bentrok dengan olahraga yang bukan brasal dari Amerika. Akibatnya, sepak bola kalah dengan football, basket, dan hoki.

Padahal, dunia sepak bola memiliki ranah unik yang mirip panggung hiburan. Sebab itu, dari lapangan hijau itu lahir ''pahlawan-pahlawan'' besar yang dapat melambungkan negara sang pemain dan bisa menjadikan ia selebritis yang terkenal melebihi popularitas presidennya. Sebut misalnya David Bekcham. Dari popularitas di lapangan, membuat suami Victoria itu dikenal dan mengantarkan ia menulis buku My Side (2003). Buku biografi bintang bola lain adalah Biografi Zidane (2006) karya Imam ''Gem'' Sufaat, biografi David Bekcham (2005) dan Ronaldo (2007) karya Sandiantoro, biografi Jaap (bek yang dijuluki si buas Stam) dalam Head to Head (2002) yang ditulis oleh Jaap Stam dan Jeremy Butler, buku biografi Pele, Maradona, serta bintang-bintang top bernomor punggung 10; The Prefect 10 karya Richards Williams.

Walau pada ujungnya permainan sepak bola itu soal kalah atau menang, ia tetap sebuah fenomena yang kompleks. Mungkin benar, dunia tidak akan seru jika tak ada sepak bola. Dalam konteks ini, sepak bola bisa jadi memberi inspirasi bagi lahirnya novel. Umut Ozturk adalah satu dari sekian penulis yang mengisahkan tentang sepak bola --tim Inggris-- dengan mengangkat Josh Roark (kiper) yang ''heroik'' dan mampu membawa Inggris menjuarai Piala Dunia. Novel lain yang berseting sepak bola bisa di antaranya; The Wild Soccer Kids (Joachim Masonnek) dan Boy Over Board (Morris Gleiitzman).

Tentu, masih banyak lagi buku yang mengupas dan berbicara tentang sepak bola. Tetapi satu hal yang tidak bisa ditepis, sepak bola di era sekarang bukan sekadar permainan. Karena itulah, ada dua hal yang perlu digarisbawahi terkait dengan keberadaan sepak bola dan buku.

Sepak bola bukan lagi sekadar olah fisik untuk kebugaran tubuh melainkan telah menjadi sebuah dunia unik yang memiliki peta, sejarah, hukum, aturan, dan budaya. Karena itu, ia menjadi ''subyek kajian'' yang bisa disentuh dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu, sehingga lahir sejumlah buku yang mendokumentasikan sepak bola.

Kedua, meski tak sepenuhnya mewakili kehidupan nyata, dunia secara sederhana dapat disimpulkan serupa lapangan hijau. Buku How Soccer Explains the World: An Un Likely Theory of Globalization (2004), karya Franklin Poer --edisi Indonesia diterbitkan penerbit Marjin Kiri, dan diberi judul Memahami Dunia Lewat Sepak Bola-- seakan menegaskan dunia memang mirip dengan lapangan bola. Di tengah lapangan, siapa yang tak mematuhi hukum dan aturan pasti akan dikenai sanksi. Ada perangkat nilai, moral, dan hukum yang mengikat untuk dipatuhi setiap pemain, pelatih, penonton, dan negara peserta.

Sisi moralitas di lapangan itulah yang membuat Albert Camus berujar, ''Jika berbicara moral dan tanggung jawab, aku sungguh berhutang pada sepak bola.'' Dan buku, tidak dapat dimungkiri jadi jendela untuk mengenal dunia dan juga sepak bola. (*)

*) N. Mursidi, cerpenis dan penggemar bola, tinggal di Ciputat, Tangerang

6 komentar:

dhe mengatakan...

Mas, matur nuwun buat infonya via sms jam 9 pagi hari minggu ini.
Selamat buat tulisan yang di Jawa Pos ini.
Saya jadi aneh, kenapa ya tiap acara sepakbola gak pernah ada sedikit pun perayaan terkait buku--yahhh...katakanlah menghadirkan komentator dari dunia perbukuan untuk bicara soal buku dan sepakbola (seperti yang Mas Nur tulis ini). Padahal, buku sudah kasih terlalu banyak halaman buat mendokumentasikan sepakbola.
Oh, mungkin semua karena televisi takut saingan abadinya yang bernama buku itu jadi dicintai masyarakat....

n. mursidi mengatakan...

sama-sama, selamat untuk suksesmu belakangan ini, karena tulisanmu sering nongol di koran..... he 3x.

FAJAR S PRAMONO mengatakan...

Pilihan tema yang cerdas, Mas Nur!
Dengan isi yang --tentu-- tak kalah cerdas. Salut en selamat!

n. mursidi mengatakan...

mas, fajar terima kasih untuk komentarnya. he 3x

laila F mengatakan...

Salam kenal Mas Mursidi...

Sebenarnya saya nggak sengaja mampir ke blog ini setelah baca-baca ulasan tentang bola dari beberapa penulis. Kupikir tulisan ini juga memuat tentang prediksi atau analisis tentang Piala Eropa yang sedang marak saat ini. Maklum Mas, saya termasuk penggemar baru dalam dunia 'si kulit bundar' ini. Makanya harus banyak-banyak baca tentang bola, untuk menambah referensi sebagai modal dalam perbincangan seputar bola dengan temen-temen kantor yang pada dimabuk bola (bola-bali bal-balan: itu kata Dagadu Jogja).

Dan setelah baca tulisan Mas Mursidi, meski awalnya tidak sesuai dengan apa yang saya cari, ternyata banyak hal yang bisa saya petik dari tulisan ini. Setidaknya memberikan pencerahan bahwa bola ternyata tidak hanya seputar lapangan, suporter, pemain, taruhan, dll. Tapi lebih jauh bisa dilihat dari sudut pandang ekonomi, ras, budaya, agama, life style, nasionalisme, bahkan yang lebih gila Filsafat. Luar biasa...

Mungkin itu dulu ya Mas komentar perkenalan saya. Btw, jagoin siapa neh di ajang Piala Eropa 2008 ini??

regards


Laila F

n. mursidi mengatakan...

terima kasih sudah mampir di blog saya dan kasih komentar. saya jagoin siapa ya??? belanda kali, ya.... he 3x