....

Minggu, 11 Januari 2009

halusinasi seorang wanita single parent

resensi ini dimuat di majalah Anggun edisi 6/bulan Januari 2009

Judul buku : Dream
Pengarang : Joannes Rhino
Penerbit : Dastan Books, Jakarta
Cetakan : Pertama, Desember 2008
Tebal buku : 252 halaman
Harga : 39.900, -

SETELAH ditinggal pergi Reza, mendiang suaminya untuk selama-lamanya (akibat serangan kanker), Anita hijrah dari Jakarta untuk tinggal di kota Magelang. Meski setelah itu ia menjadi single parent dan mengajar di SD Santo Markus, ternyata hal itu tidak menghalangi Anita untuk mencurahkan kasih sayang pada kedua anaknya, Ami dan Sarah. Apalagi, ia tinggal tidak jauh dari Nency (ibunya) yang kadang bisa datang untuk menjenguk.

Tentu, kehidupan pasca kepergian Reza itu, bisa dikatakan tidak kurang dari satu apa pun. Tapi kehidupan di Magelang itu seperti terenggut pusaran waktu dalam satu dunia yang mirip mimpi. Karena di sisi lain, Anita memiliki dunia yang harus dijalani; dunia di Jakarta, di mana ia jadi seorang wanita karier sebagai pegawai bank (Fisrt Merchants Bank) dan sedang menjalin hubungan akrab dengan Michael, atasan Anita.

Dua kehidupan yang harus dijalani Anita (di dua kota) itu membuat Anita seperti terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sayang, Anita tak bisa membedakan mana yang mimpi dan yang nyata (real). Maka Anita merasa mengidap gangguan otak dan memutuskan menemui psikiater. Tapi, baik di Jakarta maupun di Magelang, sekali pun kedua dokter yang menangani Anita sudah berjuang keras memulihkan ingatan Anita, tetap saja ia tak bisa membedakan dua dunia tersebut.

Hingga akhinya Anita sakit. Meski hanya sakit panas, Michael tidak tega melihat ia hidup sendiri di rumahnya tanpa ada yang merawat. Michael merawat Anita bahkan rela tak pulang ke rumah sebelum Anita sembuh. Tapi kejadian yang tak terduga terjadi. Tatkala menemani Anita itu, Michael menemukan kotak di bawah kolong ranjang Anita.

Setelah membuka kotak itu dan membaca buku harian Anita (yang ada di kotak tersebut), Michael tahu Anita ternyata mengalami stres pascatrauma akibat kebakaran yang menimpa rumahnya di Magelang setahun yang lalu. Dalam kebakaran itu, kedua anaknya (Ami dan Sarah) serta ibunya (Nency) meninggal. Michael minta Anita untuk menghadapi kenyatan, hidup di Jakarta dan tidak perlu dihantui penyesalan. Rupanya, “buku harian” itu menyadarkan Anita. Ia bisa memiliki ingatan lagi!

Novel karya Joannes Rhino, si pendatang baru dalam “jagat sastra” ini, memang menjulangkan ide brilian. Pengarang mengangkat “dunia” Anita yang mengidap stres pascatrauma dengan jurus bertutur yang bisa membuat pembaca tersesap pusaran halusinasi dan kenyataan. Lebih jeli, Joannes membuka tabir kesadaran Anita setahap demi setahap sehingga pembaca seperti digiring penasaran. Tak pelak jika pembaca, seperti tidak bisa berhenti hingga halaman akhir.

Sayang, capaian estetis Joannes dalam merangkai kata masih tergolong gagap. Sebagai pendatang baru, Joannes kurang kuat menggambaran setting dan latar cerita. Juga, dialog yang dibangun terasa datar. Padahal, kalau tiga kompenen itu diterapkan Joannes dengan piawai, tak mustahil novel ini akan jauh lebih memikat.

Tetapi, tak ada gading yang tak retak. Apalagi, kekurangan Joannes itu ternyata bisa ditutupi kejelian memilih tema. Sebab kekuatan ide novel ini bisa menutupi kekurangan tersebut, lantaran pembaca serasa digiring mensesap dunia mimpi yang ganjil dan tidak masuk akal. Maka, tidak rugi Anda membaca buku ini. Mata Anda akan terbuka melihat kehidupan Anita –halusinasi seorang wanita single parent-- yang ditinggal pergi oleh ibu dan kedua anaknya tercinta. (n. mursidi, cerpenis tinggal di Ciputat, Tangerang).

2 komentar:

Penikmat Buku mengatakan...

Kalo baca reviewnya, cerita tentang kebingungan tokoh antara nyata dan mimpi, jadi inget dengan sinopsis Bintang Bunting: Valiant Budi. Pernah baca pak? apakah setipe?

n. mursidi mengatakan...

aku belum bc bintang bunting, tapi sekilas dr beberapa review yg pernah kubaca, ada perbedaan baik dari segi alur cerita terutama penyakit yang diderita ke2 tokoh dalam 2 novel tsb