....

Rabu, 14 Januari 2009

kapan kau menulis buku? (1)

DI awal tahun 2009 ini, aku tidak lagi memiliki greget tinggi untuk menulis. Sepanjang malam aku lebih kerap menghabiskan waktu untuk membaca, dan sama sekali tak tersentuh hasrat untuk menulis. Karena itu, pernah di ujung malam yang kian menua, aku terpikir untuk keluar dari tempatku bekerja, mengepak barang-barang dan buku-buku yang aku miliki kemudian hijrah ke sebuah lereng gunung yang sejuk dan asri. Lantas, di gunung itu aku ingin bertani, bercocok tanam dan menuai padi.

Apakah di lereng gunung itu, aku nanti akan tetap menulis? Aku tidak tahu! Aku sadar, aku bukan lahir dari keluarga penulis, apalagi keluarga yang menghargai buku. Tetapi kenapa aku harus bersusah payah menyimpang dari tradisi keluargaku dalam menjatuhkan pilihan; menekuni dunia tulis menulis?

Sekelumit kisah di masa lalu, mungkin kalau aku runut, bisa menjadi semacam sebuah pemicu atau secuil motivasi terpendam yang kemudian menjerumuskanku jadi penulis. Saat itu, aku duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Selama dua tahun sekolah, aku nyaris tidak mampu menempa diri untuk "meraih prestasi yang membanggakan". Jangankan menduduki rangking 10 besar, aku bahkan belum bisa membaca dan menulis meski aku sudah duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar.

Suatu hari, aku masih ingat, tanpa ada angin dan gelegar petir, tiba-tiba ibu guruku yang sekaligus wali kelas mengadakan ulangan (ujian) dadakan. Aku yang semalam tidak belajar, saat itu tidak dihantui sedikit pun perasaan takut untuk tidak bisa mengerjakan soal-soal ulangan. Tapi di siang itu, aku justru dihantui kebingungan --lantaran aku masih belum bisa menulis namaku sendiri di kertas ulangan yang nantinya harus aku kumpulkan! Maka, pelan-pelan kusodorkan lembaran kertasku kepada teman yang duduk sebangku denganku; aku minta agar dia menuliskan namaku di atas lembar kertas ulanganku.

Kebiasaan memalukan dan mengiris hati itu, tentu saja membuat teman-ku kesal. Maklum, dua tahun aku duduk di sebelahnya, aku selalu merepotkannya; hanya sekedar memintanya menuliskan namanku di lembar kertas ujian (ulangan). Tak seperti biasanya, selama dua tahun aku duduk di sebelahnya, di siang itu, ia menulis dengan menggerutu. Ia menggerutu cukup keras, sehingga gerutuan temanku itu mengundang kecurigaan ibu guruku.

Seketika itu, beliau beranjak dari tempat duduk untuk mendekati ke arah meja kami.

"Kenapa kalian ribut?" tanya ibu guruku pada kami berdua.

"Dia memintaku untuk menulis namanya di lembar ini!" jawab teman sebangkuku, dengan suara ketakutan.

"Kembalikan," bentak ibu guruku, "Biar dia menulis namanya sendiri!"

Pandangan semua teman sekelasku mengarah ke arahku. Aku kemudian menarik kertas ulanganku dengan kesal. Ibu guruku kembali ke mejanya, dan sepanjang ulangan berlangsung beliau mengawasiku seakan aku ini; pencuri yang tertangkap basah. Sepanjang waktu ulangan berlangsung itu, aku tidak mengerjakan apa pun. Waktu seperti dilipat dalam ruang rumpil, yang menyudutkanku seperti seorang yang sesak napas. Aku keringatan, basah kuyup, kepalaku diliputi dendam.

Hingga tidak terasa, waktu ulangan selesai. Semua murid-murid mengumpulkan kertas ulangan di depan kelas (di atas meja ibu guru) dengan wajah memendam senyum, sementara aku; beranjak dari kursi dengan malas karena di siang itu aku mengumpulkan kertas ulanganku sepenuhnya masih bersih, putih, kosong, bahkan "tidak tertera namaku" di atas kertas ulangan tersebut. Sewaktu aku maju ke depan mengumpulkan kertas ulangan, dalam hati aku memendam perasaan "suatu hari nanti, aku harus bisa membuktikan diri untuk bisa menulis namaku dengan tinta yang harum".

Beberapa tahun kemudian, sewaktu aku memasuki bangku kuliah, dendam-ku ternyata terbukti! Aku dapat menulis namaku tercetak di atas lembaran koran. Sebuah foto yang aku kirimkan ke harian "Kedaulatan Rakyat" dengan obyek jepretan palang rel kereta api yang sudah tertutup dimasuki oleh pengendara sepeda motor yang "menerabas" masuk palang. Di depan pengendara itu, kereta api melaju dengan cepat melintasi rel. Itulah karya pertamaku (bukan sebuah tulisan melainkan hasil jepretan foto) yang terpampang di koran. Tidak lama berselang, barulah kemudian disusul pemuatan tulisanku.

Kini, aku sudah terjerumus menjadi penulis akibat dendam kesumatku untuk bisa membuktikan diri (bisa menulis namaku dengan tinta yang harum). Tidak salah, setiap kali aku "bertemu" dengan beberapa temanku, kini pertanyaan yang diajukan hampir seragam, "Kapan kau menulis buku?"

Aku tidak pernah menjawab --kecuali hanya dengan balasan senyum yang terasa pahit seperti adonan kopi tanpa gula. Aku sadar bahwa sampai kini aku memang belum menulis secuil pun buku. Tak salah, jika beberapa temanku lantas mengajukan pertanyaan tersebut.

Malam semakin menua, tatkala aku sadar dengan pertanyaan tersebut. Aku seperti diingatkan dengan suasana siang keparat sewaktu aku masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar dulu. Tetapi aku tidak tersentuh untuk segera menulis buku. Bahkan di awal tahun 2009 ini, aku berencana ingin hidup di lereng gunung yang sejuk; bertani, bercocok tanam, dan menuai padi! Aku ingin menulis di atas daun, dan di ranting pepohonan atau rerumputan. Bahkan bila perlu, aku ingin menulis di atas tanah agar kelak; apa yang aku tulis itu menjadi harta karun bagi anak cucuku.

"Ah, dasar gila!" jawab salah seorang temanku ketika aku bercerita tentang rencanaku ini!

Ciputat, 14 Januari 2009

16 komentar:

eep mengatakan...

Ayo, ente bisa buat buku. Katanya, pengen punya rumah megah dan mobil mewah, ya caranya harus nulis buku. Ngandalin nulis resensi di media massa atau gaji dari kantor ma gak ada apa-apanya heee...

Eh, ngapain tinggal di gunung? Orang gunung aja pengen tinggal sama kamu, maksudnya di kota. Kalau cita-cita sih boleh setinggi gunung.

Akhirnya, sekarang kamu bisa membuktikan ya pada guru dan teman-temanmu bahwa kamu bisa menulis. Tidak sekedar bisa menulis, tapi juga sudah mulai mengajarkan bagaimana cara menulis yang baik itu. Jadi, sekarang keadaannya terbalik. Betul begitu, Pak Mursyid!

n. mursidi mengatakan...

ya, tuh! Aku pingin punya rumah dan mobil mewah, sebagaimana harapanmu! tapi hasrat untuk tinggal di gunung, dan bertani seperti tidak bisa aku bendung..... he 3x di kota jakarta sdh penuh dg pendatang, aku mau yg lain..... selamat buatmu yang mau beli mobil!!!!

M.Iqbal Dawami mengatakan...

Cicil aja kang kalau pengen menulis buku.Tau sendiri kan gak ada waktu ideal. Belum tentu juga tinggal di gunung terus bisa nulis buku. Masalahnya akan lain lagi lho. Pasti ada saja alasan yang kita buat-buat. So, Start small and act now!!!

Tapi, sama Kang aku juga punya cita2 untuk tinggal di pegunungan.Kebetulan aku sudah sering nginap di daerah pegunungan dieng (wonosobo), tempat kakekku (dari Bapak).Asyik banget. Hawanya memang cocok untuk menulis.Aku sering menulis catatan harian di ladang kentang, kol, dan tembakau sambil menyesap teh hangat.belum lagi pemandangannya yang eksotis. Kalau mau, nanti kita jalan2 kesana.Yakin, ditanggung puas..

Ayo, saatnya kang Murshid menulis buku!

merpatisunyi mengatakan...

hahahaha... rupanya penulis terbaik negeri ini sudah mulai terkena virus bosan dengan kata dan pena. Jangan gitu lah kawan, masih banyak orang yang ingin baca lebih banyak, masih banyak generasi muda yang ingin tersihir oleh cerpen dan puisimu.
Eh, ngikut lomba blog nggak? ada lomba blogger yang diadakan bugiakso.com. coba kau ikut siapa tahu kamu menang lagi. lumayan lho hadiahnya...

Musthafa Amin mengatakan...

Wah, aku sepakat bang. Setidaknya bila buku anda terbit, saya bisa meresensinya. Hehehe.
Saya melihat (sejauh penglihatan saya) bang Mursyidi adalah manusia penuh talenta. Barangkali (dugaan saya aja)anda kebingungan untuk memfokuskan di mana. Hehe, maaf ini hanya tafsir diri, smoga saya tidak sesat pikir.
Maaf baru bisa jalin silaturahmi kembali, sibuk revisi, bentar lagi ujian.
Bukunya saya tunggu...

eep mengatakan...

Alhamdulillah ada yang doain saya mau beli mobil. Mudah-mudahan gak lama lagi heee...

Ngomong-ngomong, kamu jadi petani bisa gak? Ujung-ujung pengen berprofesi kaya bapak saya. Kamu 'kan bisanya megang pulpen, pensil, komputer untuk ngetik. Bukan megang cangkul atau karapan kerbau heee....

Tapi, gak masalah sih. Soalnya, banyak kok petani yang bisa beli mobil mewah dan rumah bagus. Jadi, kapan nih buat bukunya?

Oya, saya tunggu "Kapan Kau Menulis Buku?" Jilid 2

n. mursidi mengatakan...

buat eep: he 3x. meledek, aku bisa pegang cangkul, waktu KKN dulu aku khan juga menggarap sawah dan ladang hingga dpt makan gratis hampir tiap hari.

aku tulis "KAPAN KAU MENULIS BUKU? (2)" kira2 sebulan lagi, sewaktu kamu sudah lupa. he 3x

n. mursidi mengatakan...

buat iqbal dawami--> terima kasih, jg aku sdh mengincar daerah wonosobo untuk bermukim di gunung, nantinya! Terima, atas tips-nya!

n. mursidi mengatakan...

buat merpati sunyi (anam)--> wah, ya nih, sudah bosan tinggal di jakarta, tapi untuk bosan nulis, ya belum! he 3x! Terima kasih untuk info lomba blog-nya! Aku kangen kamu, kapan aku bisa ke yogya ya?????

n. mursidi mengatakan...

buat musthafa amin--> ok, aku senang jika kamu juga sepakat mo tinggal di gunung.... terima kasih, mungkin benar katamu, aku kurang fokus!!!

eep mengatakan...

Gak lha, kamu 'kan special one kayak Efri gitu, mana mungkin aku lupa. Aku baru lupa kalau rumbutmu sudah dicukur habis heee...

Syid....syid...kamu kok hidupnya prihatin terus. Saat kelas dua gak bisa nulis, agak besar jadi tukang cangkul pengen dapat makan gratis. Skrg malah pengen uzlah ke gunung, bukan uzlah ke istana presiden, heee....lagi.

Btw, komentar di tulisanmu ini sudah mulai bermunculan, nih.

n. mursidi mengatakan...

buat eep--> aku kira kamu lupa, kini aku yakin sepenuhnya; bahwa kamulah sang alvino yang selama ini kamu idam-kan!!! halo alvino!!!

Sidik Nugroho mengatakan...

Semoga, bila suatu saat Pak Mursidi menulis buku, buku itu, meminjam sebuah slogan, bisa tampil dulce et utile, indah dan bermanfaat, seperti tulisan-tulisan Bapak selama ini.

Salam kenal,
Sidik Nugroho

RIDWAN KAUTSAR mengatakan...

Kapan kamu berhenti nulis dan benar-benar jadi petani? Kapan kamu punya keberanian membuang pena, lantas menggantinya dengan seperangkat pacul dan garu? Tak mungkin ada keberanian. Sebab petani itu sakit. Pacul, garu, lumpur dan pegunungan itu..hanya sebatas obyek untuk sejuta bahan tulisanmu. Jangan bermimpi untuk jadi petani jika kau masih sayang dengan penamu,..kawan..

n. mursidi mengatakan...

buat sidig nugroho--> salam kenal balik, semoga saya bisa memenuhi harapan anda, menulis dengan dulce et utile, indah dan bermanfaat

n. mursidi mengatakan...

buat ridwan kautsar---> ah, kamu itu bisanya meledek dan menghina, tidak puaskah kamu aku kalahkan dalam main catur???? OK, doamu aku tunggu, jika aku nanti hidup d lereng gunung, aku kirimi kau beras 1 jt ton biar kamu kenyang!!!