....

Minggu, 30 Oktober 2011

Petualangan Berbahaya ke Tanah Suci

Resensi ini dimuat di Jawa Pos, Minggu 30 Oktober 2011

Judul buku  : Orang Kristen Naik Haji   
Penulis        : Augustus Ralli
Penerbit      : Serambi, Jakarta
Cetakan      : Pertama, Agustus 2011
Tebal buku  : 372 halaman
ISBN          : 978-979-024-362-0
Harga buku : Rp 49.000, -

BENARKAH ada orang Kristen yang pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji? Rasanya, pertanyaan itu mengada-ngada. Pasalnya, ibadah haji adalah ritual dalam syariat Islam (sebagai rukun Islam kelima yang digolongkan wajib bagi seorang muslim yang mampu -sekali dalam seumur hidupnya). Jadi, jika ada orang Kristen yang menunaikan ibadah haji, kisah itu sepertinya tak mungkin dan tak masuk akal.

Tetapi, setelah membaca buku Orang Kristen Naik Haji karya dari Augustus Ralli ini, ternyata cerita itu benar adanya dan bukan sekadar bualan. Karena dalam catatan sejarah, sebagaimana diceritakan dalam buku ini, ternyata ada beberapa petualang Kristen yang tergerak hati pergi ke tanah suci dan menjalankan ritual haji. Ketertarikan mereka itu memang beragam. Tapi, pesona dan magnet kota suci tersebut seakan menjadi daya tarik tersendiri. Meskipun ada undang-undang yang menegaskan; bahwa tak seorang pun selain orang mukmin (muslim) yang boleh menginjakkan kaki di tanah Mekah, larangan itu tidak membuat petualang Kristen itu dihimpit takut. Para petualangan Kristen itu "berani" menantang maut; tetap nekat pergi ke Mekah dan Madinah

Sir Richard Burton bisa disebut sebagai salah satu petualang Kristen yang memiliki ketertarikan kuat untuk mengunjungi Mekah. Bahkan, ia memiliki ketertarikan kuat (untuk mempelajari) Islam, lebih dari sekadar motif ilmiah dan keagamaan. Tak mustahil, sebelum pergi ke tanah suci ia sempat belajar doa-doa, tuntunan shalat, membaca al-Qur`an dan segala ritual dalam syariat Islam. Karena itulah, ketika dia berangkat ke tanah suci, ia tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam menunaikan ritual haji.

Meski ia harus menempuh perjalanan darat dan laut yang melelahkan, niatnya untuk melihat Mekah tidak surut. Bahkan, ketika kakinya digigit landak laut yang beracun dan mustahil bisa melanjutkan perjalanan kecuali harus ditandu, ternyata Burton tetap tabah. Ia pun akhirnya bisa sampai ke Madinah, mengunjungi makam Nabi dan bermukim selama 5 minggu. Tetapi, dalam perjalanan dari Madinah ke Mekah, ada orang Arab yang berhasil membuka "topeng" Burton. Rupanya, nasib baik masih memihaknya. Lelaki Arab itu keesokan harinya justru mati tertusuk belati. Dan Burton pun bisa melanjutkan perjalanan ke Mekah melakukan tawaf, mencium Hajar Aswad, pergi ke Arafah, Muzdalifah, Mina; melempar Jamrah dan kemudian melepas pakaian ihram. Bahkan di sela-sela ritual haji itu, ia menuliskan cacatan perjalanannya yang cukup memukau.

Selain Sir Richard Burton, orang Kristen lainnya yang mengunjungi Mekah dengan motif melakukan penelitian antara lain Ullrich Jasper Seetzen, Badia Y Leblich, John Ludwig Burckhardt, Giovanni Finati. Peziarah Kristen lain berangkat dengan motof yang berbeda; cinta petualangan. Tapi di antara mereka, ada yang mengunjungi kota suci Islam tersebut lantaran jadi budak dan kepergian mereka itu tidak lebih mengikuti tuannya, seperti kisah yang dialami oleh Johann Wild dan Joseph Pitts. Tapi, satu hal penting yang tak bisa dimungkiri bahwa kepergian mereka ke tanah suci itu adalah perjalanan larangan.

Tetapi, dari kisah petualangan yang dituturkan dalam buku ini, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dipetik sebagai pelajaran. Pertama, Mekah --juga Madinah—adalah kota yang memancarkan "magnet" dan mengundang daya tarik. Tidak mustahil, seorang muslim yang pernah pergi haji selalu disergap kerinduan untuk berkunjung kembali. Uniknya, hal itu tidak saja mengundang jutaan orang muslim seluruh dunia datang demi merengkuh kehausan spritual dalam ibadah haji (dan umrah) melainkan juga mengundang orang Kristen untuk ingin tahu rahasia di balik kota suci itu. Padahal, demi tuntutan rasa ingin tahu itu, mereka bisa kehilangan nyawa.

Kedua, karena buku ini mengisahkan petualangan orang Kristen yang sempat ke tanah suci, maka buku ini pun bisa disebut buku catatan perjalanan tentang ritual haji dari sudut pandang nonmuslim. Tak mustahil, jika dalam catatan ini pembaca bisa menangkap kesan dan pengalaman yang mereka alami tentang adat istiadat, tradisi dan keadaan kota suci Islam tersebut –termasuk kesan yang jelek tentang kota suci itu dan tentang Islam. Dalam konteks itu, dapat dipahami jika buku ini merupakan pendapat mereka tentang ritual haji.

Ketiga, sebab kisah petualangan dalam mengunjungi Mekah yang dikisahkan buku ini dilakukan kurang lebih 1 abad hingga 5 abad yang lalu, maka pembaca bisa merasakan betapa perjalanan haji pada zaman dulu sungguh menegangkan; menempuh perjalanan yang jauh lewat darat dan laut --bahkan harus bertarung dengan iklim panas dan dingin. Apalagi petualangan ini dilakukan oleh orang Kristen. Tak pelak, jika mereka pun pergi ke tanah suci dibayang-bayangi segulung ancaman; mara bahaya dan kematian.
   
*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar: