....
Tampilkan postingan dengan label resensi buku anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2009

mengenalkan islam sejak dini pada anak

resensi ini dimuat di majalah Anggun edisi 10/II/Nov 09

Judul buku : Buku Pintar Anak Sholeh
Penulis : M. Thobroni
Penerbit : Lafal Indonesia, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2009
Tebal buku : 144 halaman

Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh di kelak kemudian hari. Maklum, orang tua yang memiliki anak sholeh ibarat memiliki tabungan atau aset cukup berharga baik ketika di dunia maupun di akherat nanti. Sebab anak sholeh akan menjadi kebanggaan bagi keluarga; patuh pada Allah dan orangtua. Di akherat nanti, anak yang sholeh itu pun bisa menolong orangtuanya karena “amalan dan doa” dari anak sholeh itu –sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits-- akan terus mengalir meskipun orangtuanya sudah meninggal dunia.

Untuk mewujudkan harapan itulah, orang tua dituntut untuk mengenalkan sejak dini pada anak tentang ajaran Islam. Dengan cara menanamkan ajaran Islam sejak dini itu, pengetahuan, wawasan dan ilmu keIslaman akan lebih melekat dan meninggalkan jejak di hati. Karena momori atau ingatan anak kecil akan gampang mengingat pelajara atau materi (agama), dibandingkan ketika anak itu sudah beranjak dewasa. Pengenalan ajaran Islam sejak dini itu tentu menjadi bekal bagi kehidupan si anak di kemudian hari.

Buku Pintar Anak Soleh ini merupakan sebuah “buku sedehana dan praktis” yang memang disiapkan untuk mengenalkan sejak dini pada anak tentang ajaran Islam yang berisi beragam pengetahuan ajaran Islam mulai paling mendasar yang wajib diketahui oleh anak. Pelajaran mendasar yang wajib dikehui itu antara lain; asmaul husna, sifat-sifat wajib Allah, seputar al-Qur`an, nama-nama nabi/rasul, rukun iman, rukun Islam, soal bersuci, hukum dalam Islam hingga sejarah Wali Songo yang telah dicatat sejarah sebagai penyebar Islam di tanah Jawa.

Meski buku ini tak mengupas dengan detail, upaya pengenalan Islam sejak dini pada anak dengan mengajarkan hal-hal paling mendasar sebagaimana dikupas penulis dalam buku ini, setidaknya dapat mengantarkan anak tumbuh besar menjadi anak yang sholeh dan cerdas. Karena buku ini, sedari awal memang dimaksudkan menjadi sahabat bagi anak dalam mengenal ajaran Islam.

Di sisi lain, meski pun buku ini tidak cukup detail mengupas ajaran Islam karena buku ini cukup sederhana dan simpel, tetapi buku ini bisa menjadi buku inspiratif yang akan mematik kesadaran anak untuk membuka buku-buku induk yang berbicara tentang tema yang sama. Dengan kata lain, buku ini bisa menjadi pintu masuk untuk membawa sang anak menjadi haus akan ilmu agama Islam.

Sayang, buku sederhana yang ditujukan untuk mendampingi anak menjadi anak sholeh ini ditulis dengan gaya bahasa yang kurang menjiwai kemampuan anak. Dengan kata lain, bahasa yang ditulis masih tergolong berat bagi sang anak. Tapi hal itu tak akan menjadi kendala atau masalah sebab orangtua yang mendampingi anak akan membantu untuk menerangkan lebih detail dan gamblang jika anak bertanya lebih jauh. Di sisi lain, buku ini dilengkapi cara jitu bagaimana melatih anak agar rajin mengerjakan shalat dan puasa.

Tak salah kalau buku ini sepatutnya dimiliki orangtua jika memang menghendaki anak yang dilahirkan kelak akan menjadi anak sholeh dan cerdas. (n. mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta 2008)

baca lebih lanjut...?

Selasa, 14 April 2009

mendidik anak dengan sentuhan cinta

resensi ini dimuat di majalah Anggun edisi 4/II/april 09

Judul buku : Teaching With Love
Penulis : Nanang Fatchurochman
Penerbit : PT Senama Sejahtera Utama + Lendean Pustaka
Cetakan : Pertama, Desember 2008
Tebal buku : 203 halaman

Pendidikan anak sejak dini adalah hal mutlak yang tidak dapat ditawar. Maklum, anak adalah “aset masa depan” bagi orang tua, bahkan merupakan generasi penerus bangsa. Tetapi, tidak sedikit orangtua yang justru abai pada pendidikan anak. Dengan menitipkan anak pada lembaga pendidikan (semacam sekolah atau pesantren), orang tua kemudian merasa sudah tak lagi memiliki tanggung jawab. Padahal tidak sedikit lembaga pendidikan hanya mengedepankan praktek mengajar daripada mendidik.

Tak mustahil, tidak sedikit anak-anak di negeri ini yang tercerabut dari lingkungan dan terjerumus dunia kriminal; seperti tawuran, terseret narkoba, seks bebas dan bahkan pembunuhan. Lalu, apa yang salah dengan pendidikan di negeri ini? Menurut Nanang Fatchurochman, pengamat sekaligus praktisi pendidikan, karena tidak ada “sentuhan cinta dan kasih sayang” dalam pendidikan.

Dengan kondisi yang memprihatinkan itulah, maka Nanang mengharap konsep teaching with love yang digemakan dalam buku Teaching With Love: Pendekatan Cinta dan Akhlah Mulia dalam Pembelajaran ini bisa menjadi semacam sumbangsih terhadap dunia pendidikan di negeri ini. Karena bagi Nanang, sentuhan cinta adalah hal urgent dalam pendidikan anak.

Memang, “cinta dan kasih sayang” –menurut Nanang-- bukan segalanya. Tetapi, pendidikan tanpa sentuhan cinta dan kasih sayang, tentu saja akan menghasilkan anak yang secara intelektual mumpuni tetapi kering spiritualitas, tidak bermoral, tidak memiliki tata krama bahkan juga tidak berperadaban. Padahal, sentuhan cinta dan kasih yang diberikan oleh orangtua dan guru bagi anak sejak dini, tidak dimungkiri akan membantu perkembangan anak. Selain itu, sentuhan cinta dan kasih sayang dalam pendidikan jadi dasar peletakan watak dan kepribadian anak --yang dimulai dari lingkungan terkecil di mana manusia hidup; lingkungan keluarga dan sekolah (hal 20). Di lingkungan keluarga, orang tua dituntut menjadikan rumah sebagai surga (baiti jannati).

Semua orangtua mendamba anak bisa meraih masa depan dalam pendidikan. Karena itu, menurut Nanang orang tua harus menanamkan pendidikan akhlak sejak dini. Selain itu, orang tua dituntut mendoakan dan tidak henti-henti mendidik anak dengan suasana penuh cinta. Suasana cinta itu bisa diwujudkan orangtua dengan cara seperti menebarkan senyum, memberi penghargaan, penuh perhatian, bersahabat, memberi tauladan dan menjalin komunikasi yang harmonis.

Sementara di lingkungan sekolah, guru harus dapat menjadi pengganti orangtua sehingga dalam praktek belajar mengajar, guru tak hanya sebagai pengajar tetapi juga pendidik. Pendidikan dengan sentuhan cinta yang diusung Nanang, sebenarnya sudah diajarkan nabi berabad-abad lalu. Tetapi, anjuran nabi untuk mencintai anak sebagai modal pendidikan penuh cinta, rupanya sudah banyak dilupakan orang, terutama oleh sebagian besar orangtua dan guru.

Tidak mustahil, jika terbitnya buku ini akan memberikan semacam energi baru di dunia pendidikan kita. Penulis memang tak memberikan konsep dan teori pendidikan yang njelimet melainkan sentuhan cinta dalam pendidikan anak yang bisa dipraktekkan dan digali dengan gampang. Apalagi, buku ini ditulis dengan bahasa sederhana dan bernas. Tak salah, jika buku ini layak dimililiki oleh orang tua dan guru sebagai panduan dalam mendidik anak . (n. mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta buku Jakarta 2008)

baca lebih lanjut...?