....
Tampilkan postingan dengan label wawancara dan sosok di media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wawancara dan sosok di media. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

Nur Mursidi: Memoar Raja Resensi


Oleh: Andi Sapto Nugroho, wartawan Jurnal Nasional
(dimuat di Jurnal Nasional, Kamis 14 Maret 2013)

NUR MURSIDI (38) suntuk dengan komentar teman-temannya di facebook, malam itu. Banyak yang mengapresiasi buku pertamanya terbit, Tidur Berbantal Koran (2013). Buku itu bukanlah sekedar novel, lebih tepatnya sebuah memoar tentang hidupnya hingga menembus jagad perbukuan.

baca lebih lanjut...?

Senin, 26 Maret 2012

Nur Mursidi: Mencintai Buku Seperti Kekasih

Dimuat di wasathon.com hari Senin, 26 Maret 2012

Tak peduli berapa banyak buku yang Anda baca dan diresensi? Tokoh kita ini pasti melakukannya lebih banyak lagi. Kira-kira begitulah kiprah Nur Mursidi, blogger buku, penulis cerpen, peresensi kawakan sekaligus penulis opini di berbagai media massa

baca lebih lanjut...?

Minggu, 20 November 2011

Sekelumit Kisah di balik acara "Apa dan Siapa" di TVOne



Aku --sebenarnya-- bukan siapa-siapa. Tidak ada yang istimewa. Tak ada yang patut dibanggakan. Dari SD sampai kuliah nyaris selalu digulung setumpuk kegagalan. Setelah lulus SD, tak bisa meraih impian bisa  masuk sekolah SMP favorit. Ketika lulus SMP, kembali tak lagi bisa merengkuh mimpi bisa masuk SMA unggulan. Bahkan ketika lulus SMA, dua kali gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri dan terpaksa harus menganggur selama dua tahun.

baca lebih lanjut...?

Kamis, 12 Mei 2011

Jangan Menyerah Untuk Menulis!

dimuat di www.tnol.co.id Selasa, 8 Maret 2011
Oleh: Safari Sidakaton

“SETIAP menulis harus dibuka dengan kalimat pembuka yang menarik. Jadi why nya dulu yang ditekankan,” kata Leila S. Chudori, wartawan Tempo dalam diskusi yang digelar Islamic Book Fair 2011 di Istora Senayan Jakarta, Minggu (6/3). Diskusi kali ini mengusung tema bagaimana cara menulis, baik itu cerpen, resensi atau novel yang baik sehingga bisa dimuat di media massa.

Kalimat pembuka yang dimaksud Leila S. Chudori adalah lead yang sangat diperlukan setiap menulis. Mengingat pentingnya lead maka ketika menulis lead harus sesuatu yang menarik perhatian pembaca. Agar lead menarik maka kita bisa mengambil kata-kata dari penggambaran adegan atau pernyataan (statement) yang menarik. Lead yang menarik juga bisa mengungkapkan atau mengambarkan dari tokoh yang ditulis.

Selain Leila S. Chudori, hadir juga sebagai pembicara Nur Mursidi, wartawan Majalah Hidayah yang kerap menulis resensi buku di berbagai media besar di Indonesia. Diskusi yang berlangsung dari pukul 13.00-15.00 WIB di ruang Anggrek Istora Senayan Jakarta tersebut dipandu oleh Muhammad Husnil, Chief Editor PT Serambi Ilmu Semesta.

Leila menuturkan, selain lead, ada juga hal lainnya yang penting saat menulis yaitu sinopsis. Dalam menulis sinopsis harus menggunakan kalimat sependek mungkin. Sinopsis bisa ditulis secara ringkas sehingga bisa ditulis cukup satu alinea saja. Upayakan dalam menulis kalimat sinopsis jangan memberitahu akhir tulisan, terutama jika akhir cerita adalah sebuah kejutan. Hal itu dilakukan karena pembaca Indonesia sangat anti spoiler.

“Sinopsis biasanya penting untuk memberitahu genre buku yang sedang diresensi,” ujar Leila S. Chudori di depan para peserta diskusi yang terdiri dari Komunitas Good Reads Indonesia.

Dalam kesempatan ini Leila juga mengungkapkan, ada beberapa standar baku sehingga setiap tulisan resensi buku atau film bisa naik cetak atau termuat di media massa. Standar yang sudah baku tersebut diantaranya adalah buku atau film yang diresensi tersebut digandrungi banyak orang. Namun bila buku atau film yang tidak layak diresensi namun banyak peminatnya maka media massa akan membuat cover story.

Penulisan cover story seperti yang terjadi dalam film Catatan Si Boy. Film Catatan Si Boy tidak layak diresensi karena kontennya tidak bagus. Namun, karena peminat dari film tersebut sangat banyak dan membuat heboh maka media massa membuat cover story. Saat itu media massa yang menulis cover story adalah Majalah Tempo. Selain film Catatan Si Boy ada juga buku karya Salman Rushdie yang dibuat cover story karena mengundang kontroversi sehingga terjadi perdebatan.

“Standar yang dimiliki media massa adalah yang menarik. Selain merensesi, kita juga mengkritik sehingga buku tersebut minimal mendekati sempurna,” jelasnya.

Resensi yang dilakukan media massa, sambung Leila tidak bertujuan mengarahkan atau menyarankan orang atau pembaca untuk membeli buku atau malah sebaliknya agar pembaca tidak membeli buku tersebut. Karena yang dilakukan media massa ketika meresensi buku atau film lebih ke isi atau kontennya. Oleh karena itu, ketika ada penulis baru namun kontennya bagus maka akan diterima dibandingkan dengan penulis lama yang kontennya tidak menarik. ” Kami tidak pernah menganjurkan atau memberi saran untuk membeli buku atau tidak,” tegasnya lagi.

Sementara itu terkait dengan pertanyaan adanya tulisan-tulisan para blogger yang tidak termuat media massa, menurut Leila, karena kebanyakan tulisan yang buat blogger lebih banyak menggunakan emosi pribadi seperti kata aku atau saya ketimbang isi buku. “Yang disampaikan lebih ke emosi pribadinya sementara media besar lebih tertarik dengan bukunya bukan pribadinya,” jelasnya.

Sementara itu menurut Nur Mursidi, jika ingin mengetahui tulisannya naik atau tidak di media massa maka harus berani menelpon redaktur media massa yang bersangkutan. Dalam menulis tidak ada persyaratan khusus apakah suatu tulisan bisa naik atau tidak di media massa oleh karena itu baiknya tanyakan langsung kepada redaktur yang bersangkutan.

“Menulis itu adalah suatu kenikmatan baik hati maupun pikiran. Soal muat atau tidak itu soal waktu,” kata Mursidi mengutip kata-kata dari redaktur yang tidak memuat tulisannya. Namun kata-kata itulah yang menjadi mantera sehingga Mursidi bisa menulis resensi sehingga bisa dimuat di berbagai media massa nasional.

baca lebih lanjut...?

Mursidi, Loper Koran yang 'Terjebak' di Dunia Menulis

tulisan ini dimuat di tnol.co.id Minggu, 13 Maret 2011
oleh: Safari Sidakaton

Nama Nur Mursidi (36 tahun) mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda yang gemar membaca resensi buku di berbagai media nasional. Hampir sebelas tahun lelaki kelahiran Rembang, 30 Maret 1975 ini kerap menulis resensi buku dalam berbagai tema yang dimuat di media nasional. Seperti, Kompas, The Jakarta Post, Majalah Tempo, Koran Tempo, Majalah Gatra, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia dan masih banyak yang lain.

Padahal, sebelumnya lelaki yang akrab disapa Mursid ini adalah seorang penjual koran alias loper koran di sekitar Terminal Umbulharjo Yogyakarta. Mursid mulai terpacu untuk membaca ketika mendapati tukang becak yang membeli korannya membaca berita koran dengan tekun. Ditambah saat membaca ada mahasiswa yang tulisannya berhasil dimuat di Kedaulatan Rakyat dan Harian Bernas.

“Setiap membaca tulisan-tulisan penulis yang masih berstatus mahasiswa, otak saya serasa mendidih. Ada sekelebat mimpi di dada untuk bisa menulis dan menorehkan nama saya di koran. Dalam hati, saya berjanji suatu saat nanti harus bisa menulis di koran.

“Sejak itu aku pun mulai rajin membaca koran dan mempelajari tulisan yang dimuat di koran secara otodidak,” kenang Mursid yang saat itu tercatat sebagai Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Akidah ini.

Mursid mulai belajar menulis pada malam hari dan mengirimkannya ke sejumlah koran . Tapi, jalan yang dilalui tidaklah mulus karena semua tulisannya ditolak oleh redaktur media tersebut. Namun, hal tersebut tidak membuatnya patah arang. Dengan usaha keras, ditunjang kesabaran dan mental yang kuat ia tetap mengirimkan tulisannya ke berbagai media.

Setelah berjuang dengan keras, satu persatu, tulisannya dimuat di koran lokal hingga kemudian menembus koran nasional. Karena kepiawainnya menulis berbagai resensi buku, putra Abdul Mu’id dan Masmi’ah ini kerap menjadi pembicara dalam diskusi seputar dunia kepenulisan. Dan, TNOL berkesempatan menemui lelaki berpenampilan sederhana dengan rambut ikal agak gondrong ini saat menjadi pembicara dalam diskusi di ajang Islamic Book Fair Senayan Jakarta.

Usai menjadi pembicara ia menuturkan kepada TNOL, menulis resensi buku adalah langkah untuk mengikat makna agar buku yang pernah dibaca itu tidak lupa. Tapi, kalau lupa maka tidak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir melainkan tinggal membaca resensi yang telah ditulis

“Karena itu, agar makna atau pemahaman kita atas sebuah buku itu tetap teringat dan terjaga, setelah membaca sebuah buku selayaknya menulis resensi (atau minimal membuat sinopsis). Itu langkah yang baik,” kata lelaki ini memberi alasan.

Menurut Mursidi, yang juga berprofesi sebagai wartawan di majalah Hidayah ini mengatakan, modal utama dalam meresensi buku adalah paham (berusaha mendekati maksud yang dikehendaki penulis buku) tentang “sebuah buku yang hendak diresensi”. Jika modal utama itu sudah digenggaman otak, maka menulis resensi tidak lagi sesuatu yang sulit. Karena hal-hal yang lain, seperti teknik menulis resensi, memilih jenis buku, dan unsur-unsur yang harus dikuasai dalam menulis resensi bisa mengikuti.

Lebih lanjut Mursid mengatakan, bagi yang tidak mempunyai uang untuk membeli buku juga bukan berarti jalan untuk bisa meresensi buku kemudian tertutup rapat-rapat. Karena saat awal-awal menulis resensi buku, ia juga kerap meminjam buku dari teman jika memang tidak punya uang untuk beli buku.

“Setelah saya intens menulis resensi buku dan mulai kenal akrab dengan bagian promosi beberapa penerbit buku, saya tidak segan meminta buku untuk dikirimi. Apalagi sebagian besar penerbit juga menganjurkan kepada saya untuk memintanya jika ada buku yang saya kehendaki,” jelas lelaki yang pernah kuliah di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa dan Akademi Teater dan Film Indonesia ini.

Penerbit tidak akan keberatan mengirim bukunya mengingat permintaan buku oleh peresensi bisa dikata sebanding lurus dengan promosi sebuah buku. Di sini, ada timbal balik antara penerbit dan peresensi.

Menulis resensi buku, sambung Mursid, mudah atau susah itu tergantung dari kemauan atau ketekunan seseorang. Setiap ada kemauan, pastilah ada jalan. Jadi kalau ingin menulis resensi buku dan serius maka menulis resensi itu akan jadi mudah. Tapi sebaliknya, bagi orang yang malas dan mudah menyerah bahkan tak mau belajar maka menulis resensi buku itu akan menjadi sesuatu yang sulit.

Kunci utama
Untuk bisa maksimal meresensi buku, kunci utama adalah memahami isi buku. Karena itu, dibutuhkan pembacaan yang detail (menyeluruh) agar nanti dapat meresensi dengan bagus. Bisa saja, membaca buku dengan cara membaca sekilas, tapi hasil resensinya tidak akan bisa maksimal. Ada “celah dan lubang” yang tidak bisa diungkap karena membaca buku yang diresensi dengan tidak detail.

Ada beberapa unsur dalam meresensi, pertama, judul buku. Dalam membuat judul, usahakan yang menarik dan mewakili isi tulisan resensi. Kedua, data buku; meliputi judul buku, penulis, penerbit, tahun terbit, cetakan, tebal buku dan harga buku. Ketiga, pengantar atau pembuka resensi.

Pembuka inilah yang cukup memiliki kekuatan muat, karena dengan pembuka yang memikat bisa dipastikan redaktur akan terpikat setidaknya untuk pertama kali membaca sebuah resensi. Keempat, mengungkap isi buku; lebih jauh lagi jika kemudian dijelaskan dengan mengikutkan “teori” yang bisa menjelaskan buku itu dengan analisis yang tajam.

Kelima, kritik peresensi atas buku itu (mengungkapkan kelebihan dan kekurangan buku, tema yang diangkat, teknis penulisan dan lain). Keenam, penutup; mengungkap kontektualitas buku dikaitkan dengan kondisi kekinian, untuk siapa buku itu ditulis dan bisa ditambah lain lagi ulasan khusus tentang buku tersebut secara spesifik.

Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh peresensi agar resensi yang ditulis itu bisa dimuat. Pertama, adalah pilihan buku yang diresensi. Kedua, adalah siapa penulis buku itu. Karena penulis yang terkenal bisa dipastikan memiliki nilai muat yang tinggi. Ketiga adalah mengetahui kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur sebuah media yang bersangkutan.

“Kalau ketiga faktor tersebut diperhatikan, maka peresensi tidak akan mengalami kesusahan untuk menembus atau bisa dimuat di media. Memang, kedekatan peresensi dengan redaktur itu bisa sedikit banyak membantu, tetapi hal itu bukanlah segalanya,” jelasnya.

Ada banyak keuntungan dalam meresensi buku. Pertama bisa belajar (dari membaca semua jenis buku), mendapat honor, mendapat buku gratis (secara berkala), dan di belakang hari akan menemukan bahwa menulis – entah itu resensi buku atau menulis genre lain adalah sebuah pertarungan, pergulatan hidup dan sekaligus menemukan jati diri.

“Adapun satu kerugian dalam meresensi buku yang pada ujungnya menjadikan kecanduan. Saya seperti terjebak pada genangan lumpur dan anehnya saya susah meloloskan diri,” paparnya.

Kini, sudah sebelas tahun lebih Mursid menjadi penulis freelance di sejumlah koran lokal dan nasional: menulis resensi buku, opini, esai sastra, esai film dan cerita pendek. Tidak kurang ada sekitar 300 tulisan resensi yang sudah dimuat di koran lokal dan nasional.

“Semua prestasi itu seperti sebuah mimpi. Pasalnya, sejarah hidupku nyaris selalu diliputi rentetan kegagalan,” tandasnya.(Subhan)

baca lebih lanjut...?

Minggu, 15 November 2009

Nur Mursidi: Dijuluki Spesialisasi Meresensi Buku

dimuat di koran Analisa Medan, Minggu 15 November 2009

Sudah cukup lama saya kagum dengan sosok penulis yang satu ini. Setiap saya mengirimkan email berisi pertanyaan, permintaan kritik-saran, atau pun permohonan untuk mengupas karya-karya saya, doi selalu membalas dengan cepat dan tidak tanggung-tanggung….balasannya bisa mencapai berlembar-lembar! Sangat teliti dan detil! Senang sekali ketika mengetahui bahwa seorang penulis yang telah memiliki nama, tapi tetap low profile, mau meluangkan waktu, dan serius membahas karya-karya kita, di sela-sela kesibukannya yang sudah pasti sangat padat-dat-dat!

Sobat muda, doi adalah Nur Mursidi (Mursid), pria kelahiran Rembang, 30 Maret 1975. Bagi Mursid, menjadi penulis adalah pilihan hidup. “Maka, jika pekerjaan itu telah dipilih, sudah semestinya kita merasa nyaman dan cinta pada pekerjaan yang kita tekuni,” tutur Mursid memulai percakapan. “Lebih dari itu, bagi saya menulis adalah kerja psikologis dan pikiran. Pada tataran psikologis, menulis bisa ‘membebaskan diri’ dari tekanan dan beban hidup. Sementara kerja pikiran, menulis berarti ‘memberi makanan’ ruhani pada jiwa,” jelas pria berambut ikal ini. Ya, tak dimungkiri, dengan menulis, ada proses belajar pada satu sisi dan menyebarkan ilmu pada sisi lain. Hmmm….setuju!

Aktivitas Mursid sebagai reporter (di majalah Hidayah) dan reporter tidak tetap di dua majalah lain, tentu banyak menguras waktu. Namun sesekali di waktu luang, Mursid masih menyempatkan menulis cerpen, esai sastra, dan resensi buku di sejumlah media massa. Bahkan tahun 2008 lalu, putra Abdul Mu’id dan Masmi’ah ini mengukir prestasi bergengsi seputar dunia kepenulisan. Iseng-iseng Mursid mengikutkan blognya (http://etalasebuku.blogspot.com) dalam Lomba Blog Buku yang diselenggarakan oleh Pesta Buku Jakarta 2008. Awalnya Mursid pesimis bisa memenangkan lomba tersebut karena ada persyaratan yang ditentukan panitia, nyaris tak bisa ia penuhi. Namun tiada disangka, ia malah sukses meraih juara I! Hadiah uang jutaan rupiah pun mengalir ke koceknya! “Saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku, bahkan juga proses kreatif menulis. Semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain, baru membuat blog justru pada saat diadakan lomba blog tersebut,” tegas Mursid.

Berbicara mengenai topik menulis resensi buku, boleh dikata Mursid-lah pakarnya! Di kalangan teman-teman, Mursid lebih dikenal sebagai peresensi buku daripada penulis cerpen atau esai. Mengapa demikian? “Menulis resensi buku adalah sejarah awal saya mulai menulis. Pertama kali saya menulis resensi buku, langsung dimuat di harian Kedaulatan Rakyat. Setelah itu, rentetan peristiwa lain menyusul, menumbuhkan ‘kegilaan’ saya akan membaca buku, kemudian meresensinya. Bertahun-tahun saya menggeluti dunia ini. Akhirnya teman-teman menjuluki saya spesialisasi menulis resensi buku karena saking lamanya saya berkecimpung di dunia ini!” kenang pria lulusan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, tersenyum. Bayangkan Sobat muda, 11 tahun! Kompas, The Jakarta Post, Gatra, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, dan sederet media nasional lainnya telah memuat resensi buku karya Mursid. Ingin tahu resepnya? Yuk, mari kita intip!

“Membaca pada dasarnya adalah menyelami sebuah buku untuk dikuak lebih jauh tentang perihal yang disampaikan oleh si penulis buku. Tetapi ingatan seorang pembaca itu tak jarang terbentur pada keterbatasan; lupa. Karena itu, bagi saya menulis resensi buku adalah langkah untuk ‘mengikat makna’ –meminjam istilah Hernowo—agar konten buku yang pernah dibaca, tidak menguap begitu saja. Toh kalau seandainya terjadi, kita tak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir, melainkan tinggal melirik resensi yang telah ditulis,” jelas Mursid tentang pentingnya arti resensi sebuah buku.

Bagaimana cara menulis resensi buku yang baik?

“Wah, sebenarnya kalau ditanya pertanyaan ini, saya selalu susah menjawab. Kebetulan saya belajar menulis secara otodidak, tidak punya guru menulis,’ ujar Mursid merendah. “Tapi baiklah, saya coba ya. Pertama, jika saya ingin tulisan saya dimuat di media A, maka saya akan membeli media A, mempelajarinya dengan seksama; mulai dari kecenderungan tema resensi buku yang biasa dimuat, sistematika tulisan resensi bahkan sampai pada hal-hal kecil lain. Kedua, sepanjang pengalaman saya menulis resensi buku di sejumlah media massa, ada 3 hal penting yang harus diperhatikan peresensi: a) pilihan buku yang akan diresensi b) penulis buku c) kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur media bersangkutan,” papar pria yang pernah mengecap pendidikan di Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa dan Akademi Teater dan Film Indonesia ini, panjang lebar. Intinya Sobat muda, agar resensi buku yang kita tulis bisa menetas optimal, bacalah bukunya secara menyeluruh dan pahami benar isinya! Ohya, ada tambahan nih, sebaiknya buku-buku yang akan diresensi untuk media adalah buku-buku baru. Biasanya redaktur menetapkan, resensi buku yang dimuat, paling tidak umurnya 6 bulan dari terbitnya buku. Catat ya!

Berdasarkan pengalaman Mursid, kalau kita rutin menulis resensi buku dan dimuat di media, selain menangguk honor lumayan, penerbit juga akan mengirimkan buku-buku gratis secara berkala. Hmmm…bukankah buku ibarat harta karun bagi para penulis? Senangnya!

“Dulu, berbagai cemoohan kerap menghampiri saya karena saya menekuni dunia tulis menulis. Profesi ini dianggap ‘aneh’ dan tidak menjanjikan. Tapi saya tidak terpuruk. Saya justru semakin bersemangat! Setelah tulisan-tulisan saya terbit di media, lalu bekerja menjadi wartawan, akhirnya saya bisa membuktikan eksistensi profesi kepenulisan saya. Jadi, jika kita ingin berkiprah di bidang ini, kuncinya hanya dua: kerja keras dan tak pernah putus asa!” demikian pesan penulis yang berencana naik pelaminan dalam waktu dekat ini, kepada remaja Medan.*** Haya Aliya Zaki

Awal Agustus 2009
(beberapa kalimat dalam artikel ini dikutip dari http://indonesiabuku.com atas seijin nara sumber bersangkutan)

baca lebih lanjut...?

Jumat, 31 Juli 2009

Nur Mursidi, Juara Blog Buku karena Daya Tahan

(sumber: http://indonesiabuku.com 23 juni 2009)

Nur Mursidi. Lahir di Rembang, 30 Maret 1975. Kini tinggal di Tangerang. Sarjana Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja ini sudah 11 tahun membaca dan meresensi buku. Pelbagai tema tentu saja dirambah. Ia akan berbagi pengalamannya selama satu dasawarsa lebih. Sebaiknya kita tanyakan dulu apa dan bagaimana dunia resensi itu kepada wartawan tetap majalah Hidayah dan kontributor majalah Anggun dan majalah Variasari ini.

Wawancara yang dilakukan Muhidin M Dahlan via e-mail ini kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah proses kreatifnya. Sesi kedua adalah bagaimana tips-tips meresensi [sini].

BAGIAN I


Saya denger dari teman, blogmu pernah menjadi juara untuk blog resensi buku di Jakarta Islamic Book Fair. Diceritakan ya….

Blog saya (http://etalasebuku.blogspot) memang pernah meraih juara pertama lomba blog buku yang diadakan Pesta Buku Jakarta 2008. Ceritanya, waktu itu (tahun 2008) Pesta Buku Jakarta 2008 menggelar beberapa lomba di antaranya adalah lomba blog buku. Karena saya kebetulan memiliki blog buku yang semula saya jadikan sebagai “dokumentasi resensi-resensi buku” yang pernah dimuat di media massa, maka saya pun iseng-iseng mengikutkan blog saya dalam lomba tersebut.

Tetapi di luar dugaan, ternyata blog saya itu meraih juara pertama. Padahal, sejak awal saya ikut lomba sudah tidak yakin kalau bisa menjuarai lomba, apalagi persyaratan yang ditentukan panitia nyaris tak bisa saya penuhi. Jika pada akhirnya blog saya bisa meraih juara, saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku bahkan juga proses kreatis menulis dan semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain; baru membuat blog justru pada saat diadakan lomba blog tersebut.

Sejak awal saya ikut lomba hanya iseng, maka saya pun melupakan lomba blog tersebut. Anehnya, justru saya meraih juara dan saya tahu jika saya meraih juara justru dari seorang teman saya kebetulan pada waktu itu hadir di Pesta Buku Jakarta sewaktu pengumuman pemenang blog diumumkan panitia. Cerita yang lucu…!

Mengapa dirimu mencintai buku sepenuh2nya. Bisa diceritakan latarnya?

Keluarga saya adalah keluarga yang jauh dari buku. Perkenalan saya dengan buku diawali dengan kisah yang unik. Bermula dari cerita menakutkan sejak tinggal di rumah tua yang saya kontrak bersama beberapa teman di Krapyak, Yogyakarta di masa awal kuliah dulu. Tak tahunya, rumah itu angker. Saya yang memiliki jiwa usil, dibuat penasaran; ada apa dengan rumah itu? Tepat hari pertama, saya langsung menelisik rumah itu dan saat saya temukan kamar di belakang rumah, saya ditikam penasaran. Di kamar itu, ternyata tersimpan bertumpuk-tumpuk buku.

Tidak sabar, saya mencongkel kunci kamar tersebut. Setelah berhasil membuka pintu, saya menghampur ke dalam dan langsung meraih sebuah buku yang tergeletak di lantai. Tak pernah kubayangkan jika buku yang saya raih itu adalah novel Bukan Pasar Malam, karya Pramodya Ananta Toer. Pantas, saya yang waktu itu belum pernah baca buku –maksud saya; selain buku pelajaran sekolah– langsung terpana sejak membaca halaman pertama. Jujur, novel itu pula yang membuka mata saya mengenal sastra.

Sejak perjumpan saya dengan novel karya sastrawan kelahiran Blora itu, diam-diam saya sering bersembunyi di kamar belakang itu melahap hampir semua buku yang ada. Setelah buku-buku di kamar itu habis saya baca, saya kehabisan bacaan. Tidak ada lagi buku yang saya baca, menjadikan saya disergap bingung. Wajar, ketika esok harinya saya kuliah, dan tak sengaja bertemu Arief Syarwani –teman sekampus– yang kebetulan menenteng novel Satu Hari di Yogya karya N. Marewo, mata saya seperti berbinar.

Buku itu kemudian saya pinjam. Meski dia sendiri meminjam buku tersebut dari Muhammad Rifa`i, ternyata ia tak keberatan meminjamkan buku itu padaku. Ia bahkan mengajari saya menulis resensi buku untuk buku tersebut. Dua hari, buku itu saya baca lalu saya resensi–untuk saya kirimkan ke Kedaulatan Rakyat. Tidak pernah saya duga, kalau resensi saya itu pada akhirnya dimuat. Rentetan “peristiwa-peristiwa” itulah yang membuat saya mencintai buku sepenuhnya, apalagi setelah saya “menerjunkan diri jadi peresensi buku”. Ada kegilaan untuk membaca, membaca dan membaca.

Untuk apa orang menyuntuki buku. Apa yang bisa dicari di sana. Bagaimana suka dukamu jadi pembaca yang sekaligus penulis resensi buku?

Orang menyukai buku, karena lewat buku orang bisa melihat dunia. Ada banyak hal yang dapat dicari seseorang lewat buku, tetapi bagi saya pribadi, setidaknya saya bisa belajar dari buku tentang banyak hal, ilmu dan pengetahuan yang sebelumnya tidak saya ketahui. Lebih dari itu, lewat buku saya mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hidup setelah melakukan semacam kontemplasi dan perenungan lebih jauh dan dalam.

Adapun cerita sukanya menjadi pembaca dan sekaligus peresensi buku tidak lain adalah saat mendapatkan kiriman “hadiah buku dan honor” dari menulis resensi. Meski buku dan honor itu bukan segala-galanya, karena membaca dan menulis resensi itu bagi saya adalah satu proses belajar yang menyenangkan sekaligus sebagai media terapi dari keterasingan hidup, tapi kiriman buku gratis dan honor itu tetap menjadi motivasi yang tak bisa dinafikan.

Sementara untuk cerita duka menjadi pembaca sekaligus peresensi buku adalah saat kita salah melakukan penafsiran atas sebuah buku. Karena pada dasarnya membaca dan menulis resensi itu adalah proses menafsrikan dan menilai sebuah buku. Tentu, ada kritik yang kadang dikemukakan oleh orang (pembaca) lain yang kemudian menanggapi hasil pembacaan kita, jika kita memang salah menimbang sebuah buku.

Sudah berapa buku di rak? Dari mana saja (sebagian besar) asalnya kalau boleh tahu? Gratis dari penerbit atau beli sendiri???

Saya mungkin termasuk penulis yang tidak setia memelihara dan merawat buku. Karena itu, saya tidak tahu berapa jumlah buku yang saya miliki. Tak sedikit buku-buku saya yang dipinjam orang lain, ternyata tak kembali ke rak buku saya. Bahkan, sebagian besar buku saya masih saya titipkan seorang teman di Yogyakarta.

Terlepas dari semua itu, buku-buku yang saya miliki sebagian adalah hadiah dari penerbit dan sebagian yang lain saya beli dari uang honor menulis. Apalagi tatkala saya dulu gemar memburu buku-buku bekas dari penampung barang-barang bekas (rongsok) di mana saya banyak membeli buku dengan cara kiloan. Hampir tiap hari saya mendapat buku loak dengan harga murah karena saya membeli kiloan.

baca lebih lanjut...?

Kamis, 30 Juli 2009

daya tahan meresensi buku

(sumber: http://indonesiabuku.com 23 juni 2009)

Nur Mursidi. Lahir di Rembang, 30 Maret 1975. Kini tinggal di Tangerang. Sarjana Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja ini sudah 11 tahun membaca dan meresensi buku. Pelbagai tema tentu saja dirambahnya. Ia akan berbagi pengalamannya selama satu dasawarsa lebih. Sebaiknya kita tanyakan dulu apa dan bagaimana dunia resensi itu kepada wartawan tetap majalah Hidayah dan kontributor majalah Anggun dan majalah Variasari ini.

Wawancara yang dilakukan Muhidin M Dahlan via e-mail ini kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah proses kreatifnya [di sini]. Sesi kedua adalah bagaimana tips-tips meresensi.

BAGIAN II

Ada orang membaca buku hanya sekadar membaca. Tapi ada juga orang menuliskan resensinya. Bagaimana menurutmu yang baik?
Membaca pada dasarnya adalah menyelami sebuah buku untuk dikuak lebih jauh tentang apa yang disampaikan oleh si penulis buku. Tetapi ingatan seorang pembaca itu tak jarang terbentur pada keterbatasan; lupa. Karena itu, bagi saya menulis resensi buku adalah langkah untuk “mengikat makna” –meminjam istilah Hernowo—agar buku yang pernah dibaca itu tidak lupa. Toh kalau lupa, tak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir melainkan tinggal membaca resensi yang telah ditulis.

Karena itu, menurut saya, agar makna atau pemahaman kita atas sebuah buku itu tetap teringat dan terjaga, setelah membaca sebuah buku selayaknya menulis resensi (atau minimal membuat sinopsis). Itu langkah yang baik.

Apa modal utama dalam meresensi buku?
Modal utama meresensi buku itu, bagi saya adalah paham (berusaha mendekati maksud yang dikehendaki penulis buku) tentang “sebuah buku yang hendak diresensi”. Jika modal utama itu sudah digenggaman otak, maka menulis resensi tidak lagi sesuatu yang sulit. Karena hal-hal yang lain, seperti teknik menulis resensi, memilih jenis buku, dan unsur-unsur yang harus dikuasai dalam menulis resensi bisa mengikuti.

Buku apa baiknya kita resensi. Lama atau baru?
Untuk menulis resensi buku, jika sedari awal memang ditargetkan untuk dimuat di media maka buku yang diresensi hendaknya buku baru. Palagi ada redaktur resensi buku yang memang menetapkan; dia akan memuat resensi buku; setidaknya 6 bulan dari terbitnya buku.

Kalau kita nggak punya uang beli buku baru, langkah2 taktis apa yang kita lakukan? Apa penerbit mau ngasih kalau kita minta???
Tidak punya uang untuk membeli buku bukan berarti jalan untuk bisa meresensi buku kemudian tertutup rapat-rapat. Dulu, waktu saya masih awal-awal menulis resensi buku, saya kerap meminjam buku dari teman jika memang tidak punya uang untuk beli buku. Setelah saya intens menulis resensi buku dan mulai kenal akrab dengan bagian promosi beberapa penerbit buku, jika memang ada buku baru yang bagus saya tak segan meminta untuk dikirimi karena sebagian besar penerbit tak jarang menganjurkan pada saya untuk meminta buku jika ada buku yang saya kehendaki.

Jadi, penerbit tak keberatan mengirim buku jika memang buku yang diminta itu kemudian diresensi, karena permintaan buku oleh peresensi bisa dikata sebanding lurus dengan promosi sebuah buku. Di sini, ada timbal balik antara penerbit dan peresensi.

Ada yang bilang meresensi itu mudah. Tetapi, ada juga yang bilang sulit. Bagaimana itu?
Bagi saya pribadi, menulis resensi buku itu tak seperti yang dibayangkan banyak orang. Mudah atau susah itu tergantung dari kemauan atau ketekunan seseorang. Setiap ada kemauan, pastilah ada jalan. Jadi kalau ingin menulis resensi buku dan serius, maka menulis resensi itu akan jadi mudah. Tapi sebaliknya, bagi orang yang malas dan mudah menyerah bahkan tak mau belajar, maka menulis resensi buku itu akan menjadi sesuatu yang sulit.

Bagaimana baiknya meresensi. Baca semua isinya atau asal-asalan saja. Baca pendahuluan misalnya, langsung diresensi. Bagaimana itu?
Untuk bisa maksimal meresensi buku, kunci utama adalah memahami isi buku. Karena itu, dibutuhkan pembacaan yang detail (menyeluruh) agar nanti dapat meresensi dengan bagus. Bisa saja, membaca buku dengan cara membaca sekilas, tapi saya berani jamin; hasil resensi itu tidak akan bisa maksimal. Ada “celah dan lubang” yang tidak bisa diungkap karena membaca buku yang diresensi dengan tidak detail.

Apa saja unsur dalam meresensi?
Unsur-unsur dalam meresensi buku itu sebenarnya simpel. Pertama, judul resensi. Dalam membuat judul, usahakan yang menarik dan mewakili isi tulisan resensi. Kedua, data buku; meliputi a) judul buku, b) penulis, c) penerbit, d) tahun terbit, e) cetakan, f) tebal buku dan g) harga buku (jika memang diperlukan).

Ketiga, pengantar atau pembuka resensi. Pembuka inilah yang cukup memiliki kekuatan muat, karena dengan pembuka yang memikat bisa dipastikan redaktur akan terpikat setidaknya untuk pertama kali membaca sebuah resensi. Keempat, mengungkap isi buku; lebih jauh lagi jika kemudian dijelaskan dengan mengikutkan “teori” yang bisa menjelaskan buku itu dengan analisis yang tajam. Kelima, kritik peresensi atas buku itu (mengungkapkan kelebihan dan kekurangan buku, tema yang diangkat, teknis penulisan dan lain). Keenam, penutup; mengungkap kontektualitas buku dikaitkan dengan kondisi kekinian, untuk siapa buku itu ditulis dan bisa ditambah lain lagi ulasan khusus tentang buku tersebut secara spesifik.

Sepanjang apa sih meresensi buku. Maksudnya jumlah halaman???
Jika resensi itu “ditargetkan” untuk dikirim ke media massa, panjang pendeknya resensi harus menyesuaikan space atau kolom yang disediakan media yang akan dikirimi naskah resensi. Misal di Kompas, resensi bisa panjang sekitar 7500 karakter, sementara di media yang lain bisa sekitar 6000-6500 karakter.

Setelah meresensi, di kemanakan resensi itu?
Setelah menulis resensi, biasanya saya mengirimnya ke media. Karena sejak awal menulis resensi dulu (waktu itu memang belum ada blog) saya sudah menargetkan nulis untuk dimuat di media massa. Baru jika kemudian tidak dimuat di koran atau majalah, saya mempublikasikan resensi tersebut di blog (saya).

Bagaimana caranya resensi menembus media massa. Perlu gak ndekatin redakturnya?
Sepanjang pengalaman saya menulis resensi buku di sejumlah media massa, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh peresensi agar resensi yang ditulis itu bisa dimuat. Pertama, adalah pilihan buku yang diresensi. Kedua, adalah siapa penulis buku itu. Karena penulis yang terkenal bisa dipastikan memiliki nilai muat yang tinggi. Ketiga adalah mengetahui kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur sebuah media yang bersangkutan.

Kalau ketiga faktor tersebut diperhatikan, maka peresensi tidak akan mengalami kesusahan untuk menembus atau bisa dimuat di media! Memang, kedekatan peresensi dengan redaktur itu bisa sedikit banyak membantu, tetapi hal itu bukanlah segalanya.

Selama 11 tahun meresensi apa saja untung dan ruginya?
Keuntungan saya selama sebelah tahun meresensi buku tidaklah sedikit. Pertama adalah saya bisa belajar (dari membaca semua jenis buku), mendapat honor, mendapat buku gratis (secara berkala), dan di belakang hari saya menemukan bahwa menulis – entah itu resensi buku atau menulis genre lain adalah sebuah pertarungan, pergulatan hidup dan sekaligus menemukan jati diri.

Adapun satu kerugian yang saya alami; menulis resensi seperti mata rantai yang pada ujungnya menjadikan kecanduan. Saya tak tahu; apakah ini dialami oleh peresensi lain atau tidak. Tetapi setelah saya menceburkan diri untuk intens menulis resensi, saya seperti terjebak pada genangan lumpur dan anehnya saya susah meloloskan diri. Kenapa bisa demikian?

Kiriman buku-buku gratis kerapkali tak memberi ruang bagi saya untuk punya kebebasan. Ada beban moral jika saya tidak meresensi ketika saya mendapatkan kiriman buku gratis dan itu seperti sebuah mata rantai yang susah untuk dilepaskan. Selain itu, keranjingan membaca tak jarang menuntut saya dihinggapi perasaan rugi jika kemudian tak menulis dalam bentuk resensi buku setelah saya membaca sebuah buku. Untungnya, sudah satu tahun ini saya bisa membebaskan diri; untuk intens menulis cerpen, esai dan novel. Saya menulis tidak terpaku pada resensi buku. Dengan cara itu, sekarang saya tak lagi terkooptasi lingkaran dunia resensi buku. Pendek kata, ada hal lain yang jauh lebih penting yang memang harus saya kejar!

Di koran mana saja resensi Anda dimuat? Sebutkan rincinya ya. Nama-nama korannya saja?
Selama rentang waktu sebelas tahun, resensi saya sudah dimuat di hampir semua media nasional dan lokal, di antaranya Kompas, The Jakarta Post, Majalah Tempo, Koran Tempo, Majalah Gatra, Majalah Mata Baca, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Bisnis Indonesia, Majalah Gamma, Forum Keadilan, Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, Keadaulatan Rakyat,
Bernas, Wawasan, Suara Merdeka, Solo Pos, Bengawan Post, Riau Mandiri, Majalah Hidayah, Majalah Anggun dan lain-lain.

baca lebih lanjut...?