....
Tampilkan postingan dengan label resensi buku sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Maret 2014

Jembatan Perdamaian Kristen-Islam

resensi buku ini dimuat di Jawa Pos, Minggu 30 Maret 2014

Judul buku: Santo dan Sultan: Kisah Tersembunyi tentang Juru Damai Perang Salib
Penulis      : Paul Moses
Penerbit    : Alvabet, Jakarta   
Cetakan   : Pertama, Desember 2013
Tebal buku: 440 halaman
ISBN        : 978-602-9193-40-4

SETIAP perang yang berkecamuk, sejarah selalu mencatat duka dan penderitaan panjang yang membekas--hingga tahun-tahun mendatang. Tak terkecuali Perang Salib yang telah berlangsung ratusan tahun lalu. Tetapi selalu ada "sosok heroik" yang mampu mewarnai tragedi kelam itu dengan memercikkan teladan yang layak direnungi karena kiprah dan perjuangan yang dilakukan dengan luar biasa. Sosok heroik dalam Perang Salib V itu, bisa disebutkan, salah satunya adalah Santo Fransiskus. Sekalipun Kardinal Pelagius, pemimpin pasukan Kristen sudah memperingatkan biarawan bertubuh ringkih itu agar tidak menempuh perjalanan sia-sia, dan bodoh, dia tetap nekat.

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 30 Juni 2012

Kota Istambul dalam Lintasan Sejarah


resensi ini dimuat di Koran Jakarta, Sabtu 30 Juni 2012


Judul buku: Istanbul: Kota Kekaisaran
Penulis : John Freely
Penerbit   : Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2012
Tebal       : 476 halaman
Harga : 67.000,-

KOTA Istanbul bisa disebut satu dari sekian banyak kota besar dan tua yang menyimpan sejarah panjang. Tetapi, dilihat dari sudut sejarah, kota Istanbul tidak saja tergolong unik, melainkan juga merekam jejak tiga kekaisaran besar dunia. Sebab, kota Istanbul secara berurutan pernah dijadikan ibu kota kekaisaran Byzantium, Romawi hingga Usmani. Lebih dari itu, Istanbul tak bisa ditepis adalah kota legenda dunia, terletak di dua benua --dibelah oleh Bosporus, selat indah yang memisahkan Eropa dan Asia antara Marmara dan Laut Hitam.

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 11 Februari 2012

Kebangkitan Sebuah Dinasti Besar di China

resensi buku ini dimuat di Koran Jakarta, Sabtu 11 Februari 2012

Judul buku    : Dinasti Manchu: Awal Kebangkitan (1616-1735)
Penulis        : Michael Wicaksono
Penerbit        : Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan        : Pertama, 2012
Tebal buku    : 292 halaman
Harga buku    : Rp. 49.800,-

DALAM waktu dua puluh lima tahun terakhir ini, China seperti tidak henti-henti membuat gebrakan. Pertumbuhan ekonomi China terus merangkak naik--dan bahkan telah menjadi kekuatan ekonomi Asia. Wajah ekonomi China yang telah dibelokkan seratus delapan puluh derajat oleh Deng Xiaoping --dari cengkraman komunisme Mao Zedong-- telah membawa China tampil di percaturan dunia dengan wajah baru. China tidak lagi terpuruk tetapi lahir sebagai macan ekonomi yang cukup diperhitungkan di percaturan dunia. Bahkan pada masa mendatang, ekonomi China dapat dipastikan akan menggilas dan melampuai Amerika, Jerman, Inggris dan Prancis.

baca lebih lanjut...?

Selasa, 31 Mei 2011

Arus Balik Sejarah Dunia

resensi buku ini dimuat di Koran Jakarta, Selasa 31 Mei 2011

Judul buku : 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim
Penulis : Roger Crowley
Penerbit : Alvabet, Jakarta
Cetakan : Pertama, April 2011
Tebal buku : 408 halaman
Harga buku : Rp. 75.000,-

SEJAK dibangun pada tahun 330 M, kota Konstantinopel --yang didirikan oleh Kaisar Romawi Timur (Byzantium), Constantine I-- telah menjadi lambang kemegahan, pusat kebudayaan dan kedigdayaan Romawi. Apalagi, kota itu memang "dirancang" untuk dijadikan sebagai benteng dengan pola pertahanan yang kokoh dan rumit; dilapisi tembok tebal berlapis tiga dan dikelilingi dengan parit. Tak mustahil, jika kota megah itu pun dikenal sebagai pusat peradaban dan menjadi "kota mengagumkan" tidak saja dilihat dari letaknya yang stategis (antara batas Eropa dan Asia) tetapi juga menjadi benteng pertahanan bagi bangsa Kristen (dari serangan Islam). Hal itu tidak lain, lantaran Byzantium dikenal sebagai pewaris terakhir kekaisaran Romawi kuno sekaligus menjadi bangsa Kristen pertama.

Kisah seputar "kejayaan kota Konstantinopel dan kemegahan ibu kota kekaisaran kuno Byzantium sebagai benteng pertahanan" itu justru mengundang impian bangsa-bangsa lain digelayuti ambisi untuk menaklukkan atau merebut kota tersebut. Tetapi lebih seribu tahun, Konstantinopel seperti kota legenda yang dikenal tangguh dan sulit untuk ditaklukkan. Padahal, selama itu, Konstantinopel dililit "berbagai ancaman dari serangan"; menjadi kota yang menggiurkan untuk ditaklukkan dan dikepung. Tetapi, kota itu selalu dapat selamat berkat ketangguhan benteng yang dirancang dengan kokoh.

Ancaman itu ternyata tidak saja datang dari bangsa Barat. Bahkan, sebagaimana dikisahkan Roger Crowley dalam buku 1453: Detik-detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim ini, dikisahkan dengan detail bahwa dalam rentang waktu 800 tahun, kekhalifahan muslim pun sudah mengincar Konstantinopel. Maklum, "impian" umat Islam untuk menaklukkan Byzantium sudah dimulai sejak 664 M. Tetapi, sultan bangsa-bangsa muslim dari dulu tak berhasil meruntuhkan dan merebut Konstantinopel.

Hingga akhirnya, sang penakluk Konstantinopel itu datang. Ia tak lain adalah sultan Mehmet II. Dengan ambisi yang membara, pemuda berusia 21 tahun itu berhasil merebut Byzantium dengan gemilang, merebut kota Konstantinopel dengan mengerahkan bala tentara yang jauh lebih besar dan juga persenjataan yang jauh lebih canggih dibandingkan pasukan Kristen di bawah kepemimpinan Konstantin XI, kaisar Byzantium ke-57. Tepat pada hari Jumat, 6 April 1453 M, Sultan Mehmet II memaklumatkan serangan untuk menaklukkan kota Konstantinopel. Meski lebih canggih persenjataan dan jumlah pasukan, awalnya pasukan muslim kesulitan menembus tembok. Bahkan sultan Mehmet II nyaris frustasi melihat banyak pasukannya berjatuhan.

Tapi ide cemerlang itu akhirnya ditemukan dan keberhasilan dapat diraih. Akhirnya, 29 Mei 1453 M, kemenangan itu tiba; pasukan sultan memasuki kota dan bendera kerajaan Islam Usmani (di bawah Mehmet II) dikibarkan. Konstantinopel pun jatuh; menandai berakhirnya kekuasaan Byzantium. Mehmet II terpikat "merebut" Konstantinopel terinspirasi aroma kekaisaran: terinspirasi Alexander Agung dan Julius Caesar. Ia merasa mengemban dua identitas: sebagai Alexander muslim yang menaklukkan dunia hingga yang paling tepi, dan sebagai kesatria gazi yang mengemban jihad melawan orang kafir. Dengan penaklukan itu, ia ingin membalik arus sejarah dunia. Jika Alexander telah menyapu timur, sekarang giliran dia membawa kemenangan bagi Timur dan Islam dengan menaklukkan Barat (hal. 51)

Tidak dapat disangkal, buku ini ditulis dengan riset yang serius. Di antara serpihan literatur tentang kejatuhan Konstantinopel --baik yang ditulis oleh orang Barat maupun mulism-- Roger Crowley tidak saja memilih cerita yang masuk akal, tetapi juga disertai dengan analisis yang tajam. Ia tak gegabah dalam memilah setumpuk dokumen. Tak berlebihan, jika buku ini mampu mengisahkan peristiwa besar dalam sejarah tentang kota Kristen yang jatuh ke tangan bangsa muslim. Kelebihan lain, penulis buku ini menuturkan kisah tersebut dengan gaya penceritaan novel. Tak pelak, jika buku ini bisa tampil dengan memikat.

Pada sisi lain, buku ini menguak kenapa Konstantinopel bisa menjadi kota muslim. Dengan data yang akurat, penulis yang mantan warga Istanbul ini pun berhasil menampilkan dua karakter Sultan Mehmet II dan Kaisar Konstantin XI, dua tokoh besar yang saling bersitegang tidak saja demi memeluk erat keyakinan agama, tapi juga kursi kekuasaan. Dan perseteruan dalam dua hal itu, akhirnya mengantarkan Mehmet II membalik arus sejarah dunia. [ ]

*) N. Mursidi, alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 28 Oktober 2007

sejarah ekspedisi china menemukan dunia

Resensi buku

Judul buku: 1421: Saat China Menemukan Dunia
Penulis: Gavin Menzies
Penerbit: Pustaka Alvabet,
Cetakan: Pertama, 2006
Tebal buku : xviii + 505 halaman

BANGSA mana yang pertama kali mengarungi lautan sampai ke ujung dunia, dan menemukan Dunia Baru? Banyak orang, pasti akan menjawab; bangsa Eropa. Karena, setiap orang sudah mengenal kisah pelayaran para pelaut Eropa --yang dicatat sejarah-- sebagai penjelajah tangguh dunia.

Bartolomeu Diaz (1450-1500) dicatat meninggalkan Portugal 1487 sebagai "orang pertama" yang mengelilingi Tanjung Harapan. Pelayaran Diaz itupun, 10 tahun kemudian diikuti Vasco Da Gamma (1469-1525) menyebrangi Samudra Hindia menuju India; membuka jalur perdagangan rempah-rempah pertama lewat laut. Selain dua pelaut itu, Columbus juga dianggap 'orang pertama' yang melihat Dunia Baru, daratan Bahama modern, menjelajahi Asia, menemukan kepulauan Karibia serta Amerika Tengah. Pun Magellan dicatat sebagai orang yang menemukan selat antara lautan Atlantik dan Pasifik.

Tapi, jika pertanyaan itu diajukan kepada Gavin Menziez, maka ia akan menjawab lain. Bagi mantan perwira British Royal Navy ini, Diaz, Gama, Columbus dan Magellan tidak menemukan "daratan baru". Saat berlayar, mereka telah membawa petunjuk yang dipetakan bangsa China tujuh puluh tahun sebelum Columbus dan seabad sebelum pelayaran Magellan. Tesis Menziez itulah yang ditulis di dalam buku 1421; Saat China Menemukan Dunia ini.
***

DI bawah kekuasaan Zhu Di, China telah menemukan titik balik peradaban. Setelah Zhu Di menumbangkan Zhu Yunwen (1402), ia memproklamirkan diri sebagai kaisar dan ingin mengembalikan kejayaan China. Dia lalu memindahkan ibu kota Nanjing ke Beijing, membangun Kota Terlarang, kanal utama, memperbaiki ratusan mil Tembok Besar (menjadi 14.000 km), membangun armada kapal untuk tujuan perdagangan laut yang sudah dirintis dinasti Song dan Yuan sejak abad kesembilan.

Meski mengalami banyak kendala, cita-cita Zhu Di bisa terwujud. Pada tahun baru China, 2 Februari 1421, ibu kota baru diresmikan. Usai proyek peresmian itu, untuk menunjukkan kuasa Zhu Di, ia mengirim armada kapal mengarungi lautan sampai ke ujung dunia. Cheng Ho ditunjuk sebagai ketua delegasi, karena tangan kanan Zhu Di itu, sudah pernah berlayar tahun 1405, 1407, 1409-1411, 1113 dan 1417-1419. Tapi, dalam pelayaran ini (berangkat pada Maret 1421), Cheng Ho memimpin pelayaran ke Samudra Hindia kemudian pulang. Seterusnya, empat armada di bawah laksamana Hong Bao, Zhou Man, Zhou Wen dan Yang Qing membawa mandat Zhu Di memetakan dunia, menyebarkan Confusiusme, membangun koloni di "daratan baru" dan demi perdagangan

Meski jejak keempat armada China itu meninggalkan misteri, tapi dari petunjuk peta, bagan kuno, bukti artefak yang ditemukan di Karibia dan Amerika Selatan, Menziez "berani" berkesimpulan bahwa armada laut China itu terpisah oleh arus. Laksamana Zhou Wen, berlayar ke barat laut melalui Karibia ke Amerika Utara. Laksamana Hong Bao, dan Shou Man mengambil jalur arus katulistiwa barat menuju Amerika Selatan (hal. 99). Laksamana Yang Qing menghabiskan pelayaran di Samudra Hindia. Tak banyak menjelajah, tapi pelayaran Yang Qing itu telah menyempurnakan metode penentuan garis bujur.

Dari keempat armada China itu, Menzies yakin seluruh dunia sudah dipetakan bangsa China. Di antara tempat-tempat yang dikunjungi itu adalah; Samudra Hindia, Afrika Timur, Atlantik, Tanjung Harapan, Karibia, Florida, Virginia California, New England, Massachusetts, Boston, Mississippi Atas, British Colombia, Washington State, Arzona, New Mexico, Texas, Oklahoma, Arkansas, Colorado, Oregon, California, Azores, Meksiko, Panama, Venezuela, Peru, Brazil, Patagonia, Selat Magellan, dan Greenland ke Kutub Utara melintasi Arktik dan Selat Bering, Antartika, Pasifik, Selandia Baru, Australia, Filipina dan Indonesia.

Ironisnya prestasi Hong Bao, Zhou Man, Zhou Wen, Yang Qing itu tak dibalas penghargaan saat mereka pulang (di musim gugur Oktober 1423). Justru, kepulangan mereka ditolak oleh penguasa China ketika itu, Zhu Ghaozi. Putra mahkota Zhu Di itu lebih tertarik urusan dalam negeri, tak tertarik soal militer. Tragisnya lagi, prestasi Cheng Ho itu dianggap tak berarti. Catatan perjalanan Cheng Ho dihancurkan. Warisan maritim China itu pun tak membekas dalam ingatan orang China dan pulau-pulau asing yang pernah ditemukan terabaikan. Ketika China undur diri, bangsa Portugis --Eropa-- merebut obor tersebut. Padahal sejarah pelayaran bangsa Eropa itu adalah warisan armada laut China.

***

PENELITIAN Menziez untuk menguak sejarah pelayaran China diawali dari penemuan peta kuno di perpustakaan James Ford Bell Universitas Minnesota. Peta itu adalah "peta tahun 1424" yang ditandatangani Zuane Pizzigano asal Venesia. Dalam peta itu, ia menemukan gambar empat pulau asing; Antilia, Satanazez, Saya, dan Ymana. Setelah mencocokkannya dengan peta modern, terungkap bahwa Antilia dan Santanazes itu adalah kepulauan Karibia, Puerto Rico dan Guadeloupe.

Jika peta itu benar, maka ia yakin telah ada orang yang lebih dahulu menjelajahi kepulauan tersebut tujuh puluh tahun sebelum Columbus singgah di Karibia. Siapakah pelaut itu? Setelah melacak sejarah abad pertengahan, Menziez yakin pelaut itu adalah orang-orang dari bangsa China.

Tetapi ia dihadang sejumlah bukti yang harus ditemukan. Tidak salah kalau untuk menyusun buku ini, penulis membutuhkan waktu 50 tahun, mengunjungi 120 negara, lebih dari 900 museum serta perpustakaan dan sejumlah pelabuhan di akhir abad pertengahan untuk mengais bukti yang valid. Dan dengan prasasti Cheng Ho di teluk muara Yangtze, catatan yang selamat dari pembakaran Wu Pei Chi, catatan Ma Huan; The Overall Survey of the Ocean Shores, bangkai kapal, artefak serta bukti-bukti lain, Menziez pun semakin kokoh dengan tesis buku ini.

Kini apa Anda masih percaya Columbus orang pertama yang "menemukan" Amerika dan Cook adalah penjelajah pertama yang singgah di Australia?***

*) n. mursidi, cerpenis dan peneliti pada Pusat Pemajuan Kebudayaan (PPK), Jakarta.

baca lebih lanjut...?

Jumat, 05 Oktober 2007

Menelusuri Jejak Rasisme

(resensi ini dimuat Sinar Harapan Sabtu 20 Mei 06)

Judul : Rasisme; Sejarah Singkat
Judul asli : Racism: A Short History
Penulis : George M. Fredrickson
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2005
Tebal : xvii + 270 halaman

TERLAHIR sebagai manusia dengan ciri-ciri fisik, seperti warna kulit hitam, hidung pesek dan rambut keriting haruslah diakui bukan sebagai satu kesalahan atau "dosa turunan". Manusia mana pun tak pernah punya pilihan ketika dilahirkan, termasuk lahir dengan kondisi "cacat secara fisik". Semua itu semata-mata merupakan takdir Tuhan. Artinya, bentuk fisik dan warna kulit manusia adalah hak prerogatif Tuhan yang tak bisa ditolak. Sebaliknya, dengan keragaman dan perbedaan warna kulit itu harus dipahami sebagai kemajemukan ras, bukan menunjukkan satu superioritas. Sebab semua manusia diciptakan Tuhan setara dan dianugrahi hak-hak individu yang berasal dari alam dan akal.

Tetapi celah perbedaan dan keragaman itu, ternyata ditafsirkan secara salah. Tak pelak, kalau dalam rentang sejarah muncul "klaim" terhadap manusia yang berkulit hitam dengan" cap" sebagai manusia yang bodoh, kurang beradab dan terbalakang. Sejarah akan pembantaian serta pembunuhan secara kejam oleh tentara Nazi Jerman terhadap orang Yahudi, juga sejarah kelam orang kulit hitam di bawah rezim rasis di Amerika Selatan pada era Jim Crow dan di Afrika Selatan era rezim Apartheid setidaknya menjadi bukti akan sejarah gelap dari rasisme.


Memang, istilah rasisme itu sendiri baru pertama kali digunakan sekitar tahun 1930-an, ketika istilah tersebut diperlukan untuk menggambarkan "teori-teori rasis" yang dipakai orang-orang Nazi dalam melakukan pembantaian terhadap orang Yahudi. Kendati demikian, bukan berarti jauh-jauh hari sebelum itu bentuk rasisme tak ada. Telepas dari istilah rasisme yang dianggap sebagai ide modern yang khas serta tidak memiliki preseden historis, setidaknya fenomena tribalisme dan xenofobia bisa menjadi titik berangkat --meski hal itu bukanlah rasisme-- dalam menelusuri jejak sejarah rasisme. Penelusuran akan jejak rasisme dalam rentang sejarah itulah yang disajikan oleh George M. Fredrickson dalam buku ini.


Sejarah memang bukan lembaran peristiwa yang sepenuhnya suci dari bercak darah. Bahkan sejarah agama-agama, menurut Fredrikson sempat ternoda bercak rasisme yang diliputi dengan adanya pembantain dan perang dikarenakan serpihan pemikiran akan klaim keyakinan yang dianutnya. Sikap orang-orang Kristen Eropa terhadap bangsa Yahudi yang dituduh telah membunuh Kristus dan meracuni sumber mata air untuk melenyapkan pengikut Kristus, dalam kaca mata Fredrickson adalah satu landasan bagi rasisme yang berkembang di kemudian hari.


Orang-orang Kristen --setidaknya belajar dari sejarah Islam-- kemudian "mengaitkan" warna kulit dengan status perbudakan. Dari konteks itulah, orang-orang Afrika sub-sahara diklaim terlahir sebagai budak karena kutukan (biblikal) dari dosa yang telah diperbuat Ham. Akibat dari dosa Ham itu, orang-orang Afrika diklaim telah ditakdirkan sebagai ras budak. Klaim itu anehnya terus diakui kebenarannya dan kemudian menjadi justifikasi rasisme.


Sejarah awal rasisme --sebagaimana dilacak M. Fredrickson-- setidaknya bisa ditelusuri dari Spanyol. Pada abad 12 sampai 13, pengikut Islam, Yahudi dan Kristen bisa hidup berdampingan. Tapi di akhir abab 14 dan awal 15, timbulnya konflik dengan orang Moor lalu memercikkan diskriminasi terhadap Islam dan Yahudi. Di sini tampak kebencian yang bersifat sektarian lalu menjadi kebencian yang bersifat rasial dalam bentuk pengusiran. Setelah Spanyol dibersihkan dari orang-orang Yahudi dan Moor, kemudian menjajah "dunia baru" (Amerika) dan menemukan jenis perbedaan baru --orang-orang primitif dan kurang beradab.


Pembauran dengan orang berdab itu dirasa sebagai sesuatu yang mustahil. Karena itulah, keyakinan sebagai bangsa yang unggul berkembang dengan bentuk merasialisasikan orang-orang yang tidak beradab dan terbelakang sebagai budak. Timbulnya keyakinan itu pula yang kemudian jadi sumber utama di pihak sebagian besar bangsa Jerman dengan berpandangan mustahil melakukan pembauran dengan orang Yahudi. Ketika itu, menurut M. Fredickson, rasialisme secara biologis belum diterapkan kepada bangsa Yahudi di Jerman sampai kemudian digunakan untuk merasionalisasi sikap orang Amerika terhadap orang kulit putih. (hal. 98).


Dari pandangan itu, orang Amerika merasialkan orang lain dan menganggap dirinya paling manusiawi. Puncak supremasi kulit putih itu lalu mencapai perkembangan ideologis yang paling lengkap terjadi di Amerika Serikat bagian Selatan antara tahun 1890-an hingga 1950-an. Sementara itu, orang Jerman melengkapi dirinya sendiri dengan identitas rasial sehingga merasa perlu untuk menyingkirkan orang lain dari identitas ras unggul Kaukasia-bangsa Arya. Adapun puncak antisemitisme Jerman itu memuncak pada tahun 1933 dan 1945.


Walau buku tipis ini hanya memberikan ulasan secara ringkas sejarah rasisme, tetapi bukan berarti tidak memiliki kekuatan otoritatif yang memadai. Setidaknya, dengan "batasan rentang waktu" pembahasan tentang transisi intoleransi keagamaan pada abad pertengahan (di Spanyol), munculnya rasisme modern pada abad 18-19 (di Jerman dan Amerika Serikat) serta kemundurannya pada abad 20 sampai pada pembahasan yang bersifat spekulatif akan nasib rasisme di abad sekarang, buku ini bisa dikata mencakup jangkauan yang cukup luas.


Memang, kajian dari Fredrickson akan lebih memiliki warna jika dia melihat sejarah rasisme dengan prespektif dunia -sebagaimana usulan Profesor Constantin Fasolt dari Universitas Chicago. Tetapi, entah karena apa, Fredrickson tidak memenuhi harapan itu. Mungkin, hal itu semata-mata karena buku sejarah rasisme ini tak lebih dari kajian yang dikembangkan Fredickson dari dasar materi rangkaian kuliah yang diberikan penulis di Universitas Princeton. Meski demikian, buku ini tak bisa dipandang sebelah mata karena buku ini cukup kredibel dan kapabel sebagai sebuah buku perbandingan yang memadai untuk khazanah pengetahuan dan riset tentang rasisme.***


*) n_mursidi, alumnus Filsafat UIN Yogya.



baca lebih lanjut...?