....
Tampilkan postingan dengan label resensi buku agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Oktober 2011

Petualangan Berbahaya ke Tanah Suci

Resensi ini dimuat di Jawa Pos, Minggu 30 Oktober 2011

Judul buku  : Orang Kristen Naik Haji   
Penulis        : Augustus Ralli
Penerbit      : Serambi, Jakarta
Cetakan      : Pertama, Agustus 2011
Tebal buku  : 372 halaman
ISBN          : 978-979-024-362-0
Harga buku : Rp 49.000, -

BENARKAH ada orang Kristen yang pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji? Rasanya, pertanyaan itu mengada-ngada. Pasalnya, ibadah haji adalah ritual dalam syariat Islam (sebagai rukun Islam kelima yang digolongkan wajib bagi seorang muslim yang mampu -sekali dalam seumur hidupnya). Jadi, jika ada orang Kristen yang menunaikan ibadah haji, kisah itu sepertinya tak mungkin dan tak masuk akal.

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 29 Oktober 2011

Terorisme dan Karakter Orang Jawa

resensi ini dimuat di Sinar Harapan, ed Sabtu-Minggu, 29-30 Oktober 11

Judul   : Orang Jawa Jadi Teroris
Penulis: M. Bambang Pranowo
Penerbit: Pustaka Alvabet dan LaKIP
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : xliii + 300 halaman
Harga : Rp. 49.000,-

SETELAH tragedi bom Bali I dan II, kemudian disusul bom Kuningan, bom Marriott dan peledakan "bom bunuh diri" di beberapa tempat --seperti di masjid Polresta Cirebon hingga bom bunuh diri yang terjadi baru-baru ini di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Kepunton, Solo, Jawa Tengah-- tuduhan miring tentang Islam dan terorisme tak saja sulit dipisahkan, melainkan justru muncul pertanyaan nyinyir yang tak terbantahkan lagi bahwa dari sekian banyak pelaku bom bunuh diri itu setelah ditelisik ternyata diketahui sebagian besar adalah orang Jawa.

baca lebih lanjut...?

Jumat, 22 Juli 2011

Madinah; Negara Islam?

resensi ini dimuat di majalah Hidayah edisi 120/ Agustus 2011


Judul buku: Chiefdom Madinah: Salah Paham Negara Islam
Penulis : Dr. Abdul Aziz MA
Penerbit : Alvabet, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal buku: 424 halaman

SETELAH Nabi hijrah dari Makah ke Yatsrib, kota yang di kemudian hari dikenal dengan nama Madinah itu dicatat sejarah sebagai pusat pengorganisasian dakwah Islam dan peletakan dasar bangunan ideal sebuah negara. Tapi tak sedikit pemikir muslim yang mengukuhkan Madinah sebagai wujud negara Islam. Negara yang “ideal” tidak saja untuk ditengok, melainkan juga dibangun kembali dewasa ini.

Dasar pemikiran itulah yang kemudian melahirkan “gerakan ideologis-normatif” yang menggugat bentuk negara (sekuler) di belahan dunia --termasuk di Indonesia—dan bersikeras (menggantinya dengan) membangun negara Islam. Tapi di tengah perdebatan itu, Abdul Aziz melalui buku Chiefdom Madinah: Salah Paham Negara Islam ini justru bertanya cukup menukik: apakah Madinah bisa disebut negara Islam?

Dengan tegas, penulis yang menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI (2007-2012) ini menandaskan bahwa Madinah belum bisa disebut sebagai negara Islam melainkan Chiefdom Madinah. Karena masa itu, Madinah tidak lebih sebentuk pranata kekuasaan terpusat pra-negara (pre-state) dan itu menjadi cikal tata kelola masyarakat Muslim Arab di Madinah dan daearh taklukan –baik di masa Nabi maupun Khulafaur Rasyidin.

Sementara praktik pengelolaan kekuasaan waktu itu pun masih mengakomodasi banyak elemen sosial-budaya setempat, bahkan bersifat sementara. Memang, menurut penulis, kehadiran Islam memberikan amunisi serta menjadi pendorong sentripetal bagi masyarakat Arab di Semenanjung Arabia dalam proses menuju suatu negara (pre-state). Tapi, harus diakui bahwa Islam bukan menjadi pemeran dan penyumbang satu-satunya karena tradisi Arab Jahiliah pun turut andi.

Dengan konteks itu, penulis berkesimpulan: praktik pengorganisasian Chiefdom Madinah tak tepat disebut Negara Islam. Dengan metode interpretasi historis-sosiologis, penulis mengenalkan Madinah dalam konteks historis. Karena Islam -di Madinah- telah memberi sumbangan bagi pembentukan negara (state formation) di masa-masa awal.

Tapi, melihat Madinah dengan sudut pandang teori negara modern, rasanya tak adil. Sebab Chiefdom Madinah berkembang 14 abad yang lalu. Walau bagaimana pun Madinah tetap sebentuk pranata kekuasaan modern di masa itu bahkan bisa dikata telah melampaui zamannya. [n. mursidi]

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 07 Mei 2011

Kumpulan Doa Terbaik Memohon Ampunan

resensi ini dimuat di majalah Hidayah, edisi 117 Mei 2011

Judul buku: Doa Terbaik Memohon Ampunan Allah: Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW
Penulis : Tim Zahra
Penerbit : Zahra, Jakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2011
Tebal buku: 160 halaman
Harga : 29.900,- (disk 20%) = 23.920,-

Allah tidak pernah berpaling dari hamba-Nya yang meminta ampunan. Allah pun tak pernah ingkar janji. Bahkan setiap doa (permintaan) yang dipanjatkan oleh seorang hamba, dijamin akan “dikabulkan” oleh Allah. Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, “Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu’.” (QS al-Mu`min [40]: 60).

Tetapi, tak dapat disangkal bahwa setangkup doa yang dapat melejit dan bahkan mampu menembus pintu langit, hanya doa-doa yang sejatinya memenuhi syarat. Doa itu dipanjatkan dengan tepat, yang dibaca pada waktu yang mustajab, diungkapkan dengan sepenuh hati, disenandungkan dengan adab dan etika dalam berdoa. Dan setangkup doa yang paling baik, adalah doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah.

Kumpulan doa terbaik dalam memohon ampunan yang terhimpun dalam buku ini merupakan mutiara doa yang diajarkan oleh Rasulullah. Doa-doa ini diamalkan oleh cucu beliau: Imam Ali Zaenal Abidin as Sajjad –yang dikenal sebagai guru para sufi. Lalu doa-doa ini–oleh Imam Ali Zaenal Abidin—diajarkan pada salah satu murid terdekatnya, Abu Hamzah ats Tsumali. Dari rentetan itu, kumpulan doa ini kemudian dikenal dengan nama doa Abu Hamzah ats Tsumali.

Dari kumpulan mutiara doa yang diajarkan Rasulullah sebagaimana terhimpun dalam buku ini, ada setangkup doa yang sungguh luar biasa, menakjubkan serta indah lantaran memuat senandung kalimat sakral dan di balik doa itu memiliki kekuatan. Doa yang dipanjatkan dengan sayatan hati, jeritan dan penyesalan seorang hamba karena dia ingin mendapatkan ampunan dari Allah.

Tidak ada manusia di dunia yang bersih dan terbebas dari noda dosa. Karena itu, “memohon ampunan” kepada Allah adalah satu kewajiban yang tak bisa ditunda, apalagi dinafikan. Dengan begitu, buku ini tak saja akan merekatkan hubungan seorang hamba dengan Sang Pencipta tapi juga sekaligus membuka kesadaran baru dalam berdialog dan berkomunikasi dengan Allah.

Dengan mengamalkan kumpulan doa mulia di dalam buku ini, niscaya pembaca akan merengkuh kesadaran baru, dan bisa meraih puncak pengampunan Allah. Satu hal penting lagi: mendapat ampunan. Dosa-dosa kita menjadi berkurang, dan kita mendapat berkah, rahmat dan kebahagiaan hidup. (n. mursidi)

baca lebih lanjut...?

Jumat, 11 Februari 2011

[resensi]: menggapai rezeki Ilahi

Resensi buku ini dimuat di Majalah Hidayah, edisi 114 Februari 2011

Judul Buku : Menggapai Rezeki Ilahi
Penulis : Ust. Lukman Junaedi
Terbit : Pertama, Agustus 2010
Penerbit : Ahsan Books
Tebal buku : 157 halaman
Harga : 29.800,- 

Semua orang pasti ingin dilimpahi rezeki berlimpah. Tidak ada orang yang ingin dililit utang, miskin dan ditikam kekurangan. Tetapi, ketatnya impitan hidup tak jarang menjadikan harapan itu terbentur keadaan. Akhirnya tak sedikit orang yang mengalami hidup susah. Ironisnya, ketika dirundung kesulitan itu membuat gelap mata, kemudian menghalalkan segala cara dengan melakukan sesuatu yang dilarang syariah Islam.

Pada aras lain, tidak sedikit orang yang melupakan aspeks kekuatan doa. Padahal dalam spiritualitas Islam diyakini doa memiliki kekuatan dahsyat: yang meliputi urusan mendatangkan rezeki. Sayang, tidak semua orang tahu rahasia itu. Padahal tidak sedikit doa, amalan dan hadits nabi yang mengajarkan umat Islam mudah mendapatkan rezeki.

Buku Menggapai Rezeki Ilahi ini adalah buku yang memuat doa dan amalan agar pembaca mudah mendapatkan rezeki yang berlimpah dan bahkan barokah. Tidak cuma itu, di dalam buku ini penulis juga mengeksplorasi amalan dan doa untuk memudahkan mendapatkan pekerjaan dan sukses bisnis. Intinya penulis mengajak pembaca terhindar dari kesulitan ekonomi.

Tapi dalam berdoa, ada waktu khusus, tempat dan etika yang harus diperhatikan agar doa itu bisa menembus langit. Penjelasan tentang waktu-waktu mustajab, etika dan tempat itu pun dijelaskan dalam buku. Selain berbicara tentang rezeki berupa finansial, buku ini juga menjabarkan aspek kelimpahan rezeki lain, seperti: dianugerahi anak, kesehatan, kenaikan jabatan, ketenagan hati dan lain-lain. Doa-doa dalam buku ini pun berdasarkan rujukan hadist Rasulullah Saw.

Semua hal itu, tentu saja jika diamalkan dengan benar tak mustahil akan mudah terwujud. Allah sebagai Sang Pencipta memiliki asma ar-Razzaaq yang bermakna Yang Maha Pemberi Rezeki. Jadi, buku ini, tidak saja mengajak pembaca dekat dengan Allah, tapi merupakan solusi dan senjata bagi umat Islam dalam menghadapi segala macam problematika kehidupan dalam menggapai rezeki melimpah dan barokah. (Ibrahim)

baca lebih lanjut...?

Selasa, 28 September 2010

menggapai pernikahan yang barakah

Resensi ini dimuat di Majalah Hidayah, edisi 110 Oktober 2010

Judul : Buku Pintar Membina Rumah Tangga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah Bimbingan Mama Dedeh
Penulis : Elie Mulyadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2010
Tebal : 258 halaman
Harga : 50.000,- (diskon 15%) = 42.500,-

Setiap pasangan (suami-istri) yang mengucap ikrar berumah tangga, pasti ingin pernikahan yang dijalani barakah. Apalagi jika keduanya setia, mencurahkan cinta dan kasih sayang, tak ada yang diharapkan kecuali meraih kehidupan yang penuh bahagia. Pernikahan dalam bingkai itu pun layak disebut rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah.

Tapi untuk mewujudkan pernikahan yang barakah dan rumah tangga sakinah itu tidak mudah. Sebab semua orang tahu: pernikahan adalah pertemuan dua insan yang berbeda berlatar belakang, budaya, dan setumpuk ide. Maka, tak sedikit pasangan yang tergelincir dalam perceraian.

Lantas bagaimana mewujudkan pernikahan barakah dan rumah tangga sakinah? Jawabnya pernikahan harus dijalani dengan sabah dan dilandasi ketaqwaan. Sebab, jika problema rumah tangga tak dihadapi dengan kesabaran akan berujung keretakan. Juga, jika tak dihalau dengan taqwa, bisa tergelincir. Padahal, dengan taqwa, setiap pasangan akan dibimbing untuk mencari solusi dari problem rumah tangga yang mengancam. Dengan berpegang Qur`an dan sunnah, pasangan akan tahu cara menggapai pernikahan yang barakah dan rumah tangga sakinah.

Buku ini, bisa dikata buku panduan yang menguraikan pernik-pernik pernikahan dengan segala problema hidup berumah tangga. Karena buku Elie Mulyadi, yang ditulis dengan bimbingan Mamah Dedeh ini tak semata mengurai teori pernikahan (seperti soal persiapan menuju gerbong pernikah, tata cara pernikahan Islami dan cara membangun keluarga sakinah), melainkan juga dilengkapi dengan tanya jawab dari orang-orang yang sering diajukan ke Mamah Dedeh.

Maka, buku ini pun bisa jadi pedoman bagi pasangan yang mau melangsungkan pernikahan. Juga, jadi pengingat bagi yang tengah menapaki pintu pernikahan. Bahkan, jadi cermin bagi siapa saja yang pernah melakukan kesalahan dalam kehidupan rumah tangga di masa lalu untuk memperbaiki diri/berbenah. (n. mursidi)

baca lebih lanjut...?

Jumat, 10 September 2010

jurus jitu menghimpun zakat

Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, Rabu, 08 September 2010

Judul : Jurus Menghimpun Fulus: Manajemen Zakat Berbasis Masjid
Penulis : M. Anwar Sani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun : I, Juni 2010
Tebal : 157 halaman
Harga : 45.000

Sebenarnya, potensi zakat di Indonesia, sebagaimana pernah dikemukan oleh Dr Didin Hafidhudin, sungguh tinggi. Konon, angkanya bisa mencapai 80 triliun per tahun. Meski perhitungan itu tidak sebesar hasil riset penelitian lembaga nirlaba lain, seperti The Indonesia Magnificence of Zakat yang mengalkulasi berkisar 27,2 triliun, potensi zakat di negeri ini, tidak dinafikan, tetap besar. Ironisnya, “kalkulasi” itu sekadar hitungan di atas kertas. Sebab fakta yang terkumpul tak sebanyak itu. Pada 2009, dari potensi zakat yang bisa kumpul sebesar 19,3 triliun per tahun, hanya terhimpun dana sekitar 24 persen.

Kesadaran berzakat ternyata masih jauh harapan. Lalu yang menjadi pernyataan: ke mana potensi zakat yang dalam kalkulasi di atas kertas cukup besar itu mengendap dan tak bisa tergali dengan maksimal? Buku Jurus Menghimpun Fulus: Manajemen Zakat Berbasis Masjid ini setidaknya bisa menjadi secuil jawaban. Sebab buku yang ditulis M Anwar Sani, Direktur Al- Azhar Peduli Umat, ini adalah sebuah pengalaman sukses penulis dalam menakhodai lembaga Al-Azhar Peduli Umat. Padahal, ia membangun Al- Azhar Peduli Umat dari nol, bahkan di awal-awal pendirian, ia harus turun gunung: mengedarkan proposal, keluar masuk perusahaan.

Setelah lima tahun berjuang keras membesarkan lembaga zakat tersebut, buah manis pun bisa dipetik. Sekarang ini, Al-Azhar Peduli Umat sudah bisa dikatakan sukses: telah merenovasi ratusan musala, pesantren, madrasah, memiliki poliklinik gratis, mobil jenazah gratis, bahkan membangun rumah gemilang Indonesia yang menghimpun anak-anak yatim piatu bisa memiliki harapan “menjemput masa depan” yang gemilang di kelak kemudian hari.

Lalu, “jurus jitu” apa yang dikerahkan sampai ia bisa membangun Al- Azhar Peduli Umat, bahkan jadi besar seperti sekarang ini, dalam menghimpun fulus (zakat, infak, sedekah)? Setidaknya ada empat jurus. Pertama, membuat program yang menarik atau unik/kreatif sehingga mengundang orang tertarik menyumbang. Kedua, menyentuh hati donatur. Setelah membuat program yang menarik, selanjutnya kampanye zakat. Tujuan dari kampaye itu tidak lain adalah untuk menyentuh hati donatur bahwa zakat itu tidak mengurangi kekayaan, tapi justru akan bertambah. Karena zakat itu tidak menunjukkan kedermawanan seseorang karena memang wajib, harus dilengkapi dengan sedekah.

Ketiga, memitrai perusahaan, CSR (corporate social responsibility). Saat CSR itu memunyai tanggung jawab sosial, LAZ bisa jadi mitra strategis. Keempat, membuat layanan yang excelent/baik. Dengan “pengalaman sukses” penulis menjadikan masjid basis dalam menghimpun fulus (zakat, infak dan sedekah), masjid tidak saja menjadi tempat ibadah, melainkan juga berperan atau berfungsi sebagai kegiatan sosial, bahkan pusat peradaban.

*) N Mursidi, alumnus pesantren An-Nur, Lasem, Jawa Tengah

baca lebih lanjut...?

Jumat, 16 Juli 2010

Zikir Al-Fatihah

Merengkuh Mukjizat Surat Al-Fatihah
oleh: N. Mursidi *)

Judul buku : Zikir Al-Fatihah
Penulis : Muhammad Alcaff
Penerbit : Zahra Pustaka, Jakarta
Cetakan : Pertama, Mei 2010
Tebal buku : 232 halaman
Harga : Rp 39,900.00

Surat Al-Fatihah memang tergolong surat singkat dan pendek. Tapi di balik tujuh ayat surat al-Fatihah itu –berdasarkan sejumlah hadits—menyimpan banyak mukjizat. Tak salah, jika al-Fatihah menduduki tempat yang istimewa di antara surat lain dalam al-Qur`an --disebut sebagai ummul Qur`an (induk al-Qur`an) dan ummul kitab (induk al-Kitab).

Dengan kedudukan surat al-Fatihah itu, maka Rasul menganjurkan dan meminta sahabat untuk mengamalkan al-Fatihah tak saja sebagai bacaan shalat tetapi juga dalam zikir sehari-hari. Karena surat al-Fatihah menyimpan khasiat yang dapat dimanfaatkan, di antranya adalah sebagai obat segala penyakit seperti sabda Rasul, “Surat al-Fatihah adalah obat dari segala penyakit.” Tentu, sebagai obat segala penyakit itu tak hanya obat penyakit jasmani, melainkan juga bisa menjadi obat penyakit rohani.

Selain bisa menjadi obat dari segala penyakit, menurut penulis buku ini, khasiat lain sebagai kunci terkabulnya segala hajat. Juga, bisa menghapus jeratan kemiskinan, memperluas rezeki, menjauhkan musibah, atau mendapatkan ketenangan. Pendek kata, al-Fatihah itu raja segala obat dan kunci menuju gerbang kesuksesan, dan kebahagiaan.

Lewat buku ini, penulis tidak saja mengupas mukjizat surat al-Fatihah tetapi juga menjelaskan secara singkat tafsir al-Fatihah yang dilengkapi pandangan beberapa ulama terkait keagungan dan keistimewaan surat al-Fatihah. Bahkan, buku ini pun disusun dan disarikan oleh penulis (yang juga dikenal Pengasuh Meditasi Spiritual Tapak Sunan) dari sejumlah referensi dan kitab-kitab muktabar yang -tidak diragukan- bisa diamalkan dan dipraktekkan.

Apalagi, buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan sederhana sehingga apa yang ada dalam buku ini bisa dengan mudah diamalkan dan dibuktikan bahwa surat al-Fatihah bisa dijadikan sebagai zikir sehari-hari –sebagaimana diajarkan dan diamalkan Rasulullah --yang dapat mendatangkan manfaat dan khasiat dalam kehidupan ini. (nur mursidi)

baca lebih lanjut...?

Rabu, 14 April 2010

sejarah kehidupan para sahabat nabi

resensi ini dimuat di majalah Hidayah edisi 105/Mei 2010

Judul : Sekolah Cinta Rasulullah
Penulis : Nizar Abazhah
Penerbit : Zaman, Jakarta
Cetakan : I, 2010
Tebal : 463 halaman
Harga: 67.500,- (diskon 20%) = 54.000,-

Sungguh beruntung, orang-orang muslim yang hidup di zaman Nabi. Mereka itu tak saja diberi kesempatan Allah untuk mendampingi, meneladani, menimba ilmu (dari Nabi), menjadi pembela perjuangan Nabi tapi tergolong generasi pertama peradaban Islam yang dilimpahi kecintaan yang terpancar dari jiwa Rasulullah. Dari para sahabat itulah, lahir pejuang hebat, pemimpin berani, teladan umat yang gemilang dan penerus tangguh perjuangan nabi.

Tak salah, jika para sahabat itu mendapat tempat istimewa di hati nabi, “Jangan mencela para sahabatku. Demi Allah Yang Menggenggam jiwaku! Sekali pun seseorang mendermakan emas sebesar Bukit Uhud, nilainya tidak akan sama dengan satu mud –atau bahkan setengahnya—kebaikan yang didermakan para sahabatku.” (HR Muslim).

Kebaikan para sahabat Nabi itu memang tidak perlu diragukan. Maklum, mereka memiliki komitmen mempertahankan iman dan rela mengorbankan diri mereka untuk menjaga keselamatan Nabi. Segulung penderitaan, caci makin, pengucilan bahkan segala bentuk intimidasi yang dilancarkan orang-orang kafir ternyata tidak menjadikan mereka lemah. Justru mereka semakin cinta kepada Nabi.

Sebut di antara mereka: Abu bakar, Ali ibn Abi Thalib, Utsman ibn Affan, Sa`ad ibn Abu Waqqash, Zubair ibn Awam, Thalhah ibn Zubair, Abdurrahman ibn Auf. Sekali pun penderitaan harus mereka panggul dengan luka menganga yang terus datang tiada henti, tak sekejap pun mereka berpaling dari cahaya Islam. Keputusan di hati sahabat-sahabat itu untuk memeluk Islam dan membela nabi, tak tergoyahkan. Bahkan, para sahabat itu rela mengorbankan nyawa mereka demi membela Nabi.

Buku yang aslinya berjudul Fi Shuhbati al-Rasul saw –karya Nizar Abazhah-- ini sungguh apik dan mengagumkan dalam menghimpun rekaman jejak para sahabat Nabi. Penulis berhasil mengisahkan kehidupan para sahabat Nabi dengan narasi yang bernas, mengalir, dan mengaduk emosi. Wajar jika buku ini mampu menyentuh hati dan bahkan menggoreskan kesan di benak pembaca; kagum akan generasi pertama di zaman Nabi. (n. mursidi)

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 20 Februari 2010

meraih ketenangan berfondasikan ma`rifatullah

resensi ini dimuat di majalah Hidayah edisi 103/Maret 2010

Judul buku : Bayang-bayang Allah: Mengenal & Melihat Allah dengan Mata Hati
Penulis : Zen Muhammad al-Hadi
Penerbit : Zahra, Jakarta
Cetakan : Pertama, September 2009
Tebal buku : 152 halaman

Suatu hari Rasulullah ditanya seorang sahabat. “Ya Rasulullah kami telah banyak berdoa. Tapi kenapa doa kami tak dikabulkan?” Rasulullah pun menjawab “Sebab kalian berdoa kepada Tuhan yang tidak kalian kenal.”

Hadits nabi itu menegaskan bahwa mengenal Allah (ma`rifatullah) adalah kunci utama dari sebuah doa. Bahkan ibadah (baik itu shalat, haji maupun puasa) yang tidak disertai cinta dan ma`rifat kepada Allah, akan sia-sia. Secara syar`i memang bisa dikata sah, tapi ibadah itu akan jadi sebuah ritual yang semata-mata menggugurkan kewajiban, tak memiliki ruh. Tak meninggalkan bekas dan menimbulkan keberkahan. Hal itu tidak lain, karena ma`rifatullah adalah pengetahuan yang paling penting bagi seorang hamba.

Ironisnya, problem mendasar itu banyak dihadapi umat di zaman sekarang ini. Tak salah, jika Zen Muhammad al-Hadi prihatin melihat kondisi ini -di mana tak sedikit umat yang tergantung pada materi dan kekuasaan. Sementara, Allah yang sejatinya satu-satunya Dzat yang menjamin keselamatan di dunia dan di akherat justru “dikalahkan”. Bahkan, kita –jika mau jujur—mungkin mengenal Allah hanya dalan bentuk tulisan dan ucapan yang tak mampu mengantarkan kepada pengetahuan untuk mengenal Allah yang sesungguhnya.

Padahal, ma`rifatullah itu bukti keimanan seorang hamba. Lewat ma`rifatullah itu, seorang bisa memiliki cinta dan kerinduan pada Allah. Ibadah dijalani bukan karena pahala, melainkan cinta dan rindu kepada Allah. Hasil dari ma`rifatullah itu, hati akan tertanam keyakinan (iman) yang memperngaruhi instrumen hidup seorang. Maka orang bisa meraih ketanangan hidup karena ia tak lagi tergantung pada selain Allah, melainkan hanya pada Allah. Persoalan yang dihadapi pun akan diterima dengan lapang, karena ia yakin itu pilihan Allah terbaik dan akan mendekatkan dirinya kepada Sang Khalik.

Akhir kata, buku ini adalah buku yang bisa membangkitkan kesadaran pembaca untuk mengenal Allah lebih dekat. Tak rugi jika pembaca menjadikan buku ini sebagai referensi untuk mempertebal keimanan. (n mursidi)

baca lebih lanjut...?

Minggu, 14 Februari 2010

sejarah agung Nabi Besar Muhammad

sinopsis buku

1. buku Nurul Musththofa (jilid 1): diawali dari perjalanan Nur Agung Beliau SAW dari sebelum adanya alam semesta hingga kelahiran Baeliau SAW yang dipenuhi dengan berbagai peristiwa dahsyat luar biasa yang menggetarkan alam malakut dan seluruh alam semesta

2. buku Nurul Mushthofa (jilid 2): Dari sejak kelahiran Beliau SAW, kemudian dalam asuhan Sayyidah Halimah yang penuh dengan berbagai keajaiban agung sebagai bukti perlindungan Allah SWT terhadap kekasih-Nya, hingga saat beliau SAW melaksanakan tugas dakwah suci menghadapi berbagai macam perlawanan dari orang-orang kafir, terutama saat menghadapi kekejaman orang-orang Thoif sampai Beliau SAW bermunajat di Hijir Ismail sebagai awal perjalanan suci Isra` Mi`raj

3. buku Nurul Mushthofa (jilid 3): mengisahkan perjalanan agung Isra` Mi`raj beliau menembus langit ke tujuh hingga Arasy yang penuh dengan aneka ragam keajaiban yang sangat dahsyat luar biasa hingga dialog langsung beliau dengan Allah SWT yang berisi tentang berbagai anugerah yang khusus dilimpahkan untuk umatnya. dan menerangkan secara gamblang tentang surga yang dipenuhi berbagai kenikmatan abadi dan keadaan neraka yang sangat pedih serta menerangkan tentang agungnya syafaat Beliau SAW.

baca lebih lanjut...?

Selasa, 24 November 2009

menyingkap rahasia dan keajaiban shalawat

resensi ini dimuat di majalah Hidayah edisi 100/Des 2009

Judul buku : Shalawat Sapujagat
Penulis : Habib Ahmad bin Muhammad al Muhdar
Penerbit : Zahra Pustaka, Jakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2009
Tebal buku : 292 halaman

Shalawat Nabi SAW diyakini oleh sebagian besar umat Islam, memiliki kekuatan luar biasa, keajaiban serta bisa mendatangkan berkah yang konon tidak pernah diduga-duga. Tak salah, jika kiai di beberapa pesantren kerapkali menasehati santrinya untuk banyak-banyak membaca shalawat Nabi, semisal untuk mendatangkan rezeki berlimpah, keselamatan dalam perjalanan dan sejumlah hajat yang ingin diraih.

Maklum, shalawat nabi itu bukanlah sekedar bacaan shalawat serta salam tetapi merupakan jalinan cinta pada kekasih Allah. Amalan shalawat itu begitu agung, sampai-sampai Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi sebagai tanda cinta, rahmat dan penghormatan. Tak disangkal, jika shalawat itu memiliki keajaiban dan diyakini sebagai amalan yang sungguh mujarab.

Rahasia di balik keajaiban shalawat itulah yang disingkap oleh Habib Ahmad bin Muhammad al Muhdar dalam buku Shalawat Sapujagat ini. Buku yang memuat berbagai shalawat sapujagat yang disusun sesuai huruf hijaiyah –mulai dari Alif sampai Ya—merupakan buku yang memuat berbagai shalawat sapujagat. Buku ini pun memiliki berbagai keistimewaan kalau dibandingkan dengan shalawat lain mengingat kandungan buku ini meliputi untaian-untaian shalawat yang mencakup metode keimanan, ideologi, keyakinan, panutan dan pendidikan akhlak yang mulia.

Lebih dari itu, untaian shalawat nabi yang terhimpun di dalam buku ini memuat berbagai shalawat sapujagat yang bisa dibaca untuk amalan yang mendatangkan berkah dan keajaiban; untuk segala kebutuhan mulai dari menarik rezeki, meminta terkabulnya hajat, terkabulnya doa/permohonan, menghapus dosa, mendatangkan ampunan Ilahi, menghilangkan penyakit, musibah serta meraih surga. Tidak salah, jika tak sedikit cerita menakjubkan dari orang-orang yang mengamalkan shalawat mendapat keajaiban.

Buku yang disusun dengan sistematis dan rapi dalam mengumpulkan “untaian-untaian” shalawat sapujagat ini dapat dikatakan sungguh menakjubkan. Hampir seluruh tatanan gubahan shalawat dalam buku ini, bisa dikata sungguh puitis. Karena itu, buku ini akan membimbing pembaca tidak saja sekedar menyingkap rahasia, keajaiban dan menjabarkan makna, hakekat serta manfaat besar shalawat nabi melainkan juga akan mengantarkan pembaca dapat mudah mengamalkan tips-tips meraih keberkahan hidup dengan bershalawat.

Dengan panduan dan tata cara yang praktis dan mudah diikuti, tentunya buku ini bisa membawa pembaca mendapatkan cahaya keagungan berkat kecintaan kepada nabi Muhammad. Akhir kata, buku ini layak menjadi bacaan yang kemudian diamalkan. (nur mursidi)

baca lebih lanjut...?

Senin, 17 Agustus 2009

Menyingkap Rahasia Ayat Kursi

Resensi ini dimuat di majalah hidayah edisi 97 sept 2009

Judul buku : Rahasia Ayat Kursi
Penulis : Muhammad Alcaff
Penerbit : Zahra Pustaka, Jakarta
Cetakan : Pertama, Juni 2009
Tebal buku : 204 halaman

Ayat Kursi bukanlah ayat yang asing bagi umat Islam. Hampir semua umat Islam bisa dipastikan mengetahui dan mengenal ayat Kursi. Bahkan tak sedikit dari mereka itu kerap kali membaca ayat Kursi dan hapal di luar kepala. Maklum ayat Kursi menduduki posisi yang istimewa dan merupakan salah satu amalan yang paling agung dan mustajab dalam khazanah Islam.

Tetapi, tidak sedikit dari umat Islam yang sudah membaca berkali-kali dan hapal ayat Kursi tersebut bisa jadi tidak tahu akan rahasia dan keagungan yang dikandungnya. Padahal, dalam ayat kursi itu tersimpan berkah, keampuhan, dan keajaiban bagi umat Islam untuk bisa dijadikan sebagai obat dan bahkan sebagai solusi untuk memecahkan masalah atau problem kehidupan.

Keajaiban, keampuhan dan berkah dari ayat Kursi itulah yang coba diselami dan dibongkar Muhammad Alcaff dalam buku Rahasia Ayat Kursi ini. Sebab bagi penulis, ayat Kursi menyimpan rahasia yang bisa menjadi sebuah kunci, solusi dan jawaban dari sejumlah persoalan hidup dengan menjadikan ayat Kursi itu sebagai zikir.

Hal itu tidak lain karena ayat Kursi mengandung makrifat dan ilmu yang agung bahkan dalam. Makrifat yang dapat memancarkan berkah karena di dalam ayat tersebut terdapat makna tauhid yang murni yang diwakili oleh kalimat Allahu la ilaaha illa huwa (Allah, tiada Tuhan yang patut disembah selain Dia). Selain itu, dalam ayat Kursi itu juga menunjukkan akan kekuasaan dan kemandirian mutlak Allah, di mana seluruh asma Allah selain asma Zat-Nya kembali kepadanya (hal. 61). Tidak salah, jika ayat Kursi itu kemudian disebut-sebut sebagai penghulu al-Qur`an sebab merupakan ayat yang paling agung.

Dengan kandungan makrifat (tauhid), ilmu, tanda kekuasaan dan kemandirian Allah itulah, tidak mustahil jika ayat Kursi mengandung keajaiban dan bahkan mukjizat yang jika diamalkan bisa mengatasi berbagai masalah. Sebagaimana dijelaskan penulis, keagungan ayat Kursi itu ketika digunakan bisa mengatasi berbagai masalah, seperti bisa memudahkan rezeki, mengobati penyakit, menghilangkan kesedihan, menghindar dari bencana dan lain-lain.

Salah satu hadits nabi terkait keberkahan ayat Kursi adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa nabi Muhammad pernah bersabda, “Wahai Ali, engkau harus membaca ayat Kursi. Sebab dalam setiap huruf dari ayat Kursi itu terdapat seribu keberkahan dan seribu rahmat, di mana dengan membacanya engkau akan mendapatkan semua itu.”

Apa yang diungkap penulis seputar rahasia ayat Kursi tersebut didasarkan pada referensi khazanah keislaman. Penulis mengungkap rahasia “keagungan ayat Kursi” itu dari kumpulan hadits, riwayat dari para sahabat dan tabi`in bahkan pengalaman ulama-ulama besar. Bahkan, penulis “berani” menjamin kitab hadits dan tafsir yang dijadikan sebagai sandaran itu tergolong muktabar di kalangan umat Islam.

Dengan sandaran hadits dan riwayat itulah, tidak diragukan lagi jika rahasia ayat Kursi yang diungkap oleh penulis dalam buku ini bisa dijadikan sebagai buku pegangan untuk dibaca, kemudian dipraktekkan. (n mursidi)

baca lebih lanjut...?

Selasa, 21 Juli 2009

Mengungkap Rahasia Keberkahan Ayat Kursi

Resensi ini dimuat di majalah Hidayah edisi 95 Juli 2009

Judul buku : Zikir Ayat Kursi
Penulis : Muhammad Ridha Wafa`i dan Nadir Muradi Paynawandi
Penerbit : Zahra, Jakarta
Cetakan : Pertama, Mei 2009
Tebal buku : 240 halaman

Ayat Kursi bisa dikata menempati posisi tinggi serta mulia, kalau dibandingkan dengan ayat-ayat al-Qur`an yang lain. Pasalnya, dalam ayat itu diterangkan pembahasan berhubungan dengan mengenal Allah. Di sisi lain, ayat Kursi itu turun untuk menolak keyakinan kaum Yahudi yang “sesat” memahami kekuasaan Allah. Padahal, kekuasaan Allah itu tak terbatas. Allah tidak mengalami letih atau lelah sehabis menciptakan langit dan bumi --sebagaimana dikatakan oleh kaum Yahudi.

Hal itu seperti difirmankan Allah, “…Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi dan Mahabesar.” Dalam konteks itulah, penulis buku ini kemudian menegaskan bahwa ayat Kursi adalah ayat al-Qur`an yang agung. Bahkan ayat al-Qur`an yang paling agung adalah ayat 255 dari surat al-baqarah, yang tidak lain adalah ayat Kursi.

Tapi, tidak semua orang muslim mengetahui rahasia di balik keistimewaan ayat Kursi. Juga berkah yang dikandung ayat Kursi dan amalan yang bisa dipraktekkan agar mendapatkan kemuliaan di dunia dan akherat kelak. Dalam konteks itu, lewat buku ini penulis mengungkap rahasia keberkahan dan khasiat ayat Kursi.

Tak bisa disangkal, ayat Kursi itu memiliki kekhususan. Adapun kekhususan itu antara lain; sebagai ayat teragung, ayat pemuka al-Qur`an dan sumber kebaikan dan berkah. Dengan kekhususan sebagai sumber kebaikan dan berkah itulah, tidak salah jika menurut penulis, ayat Kursi memiliki rahasia keberkahan dan khasiat yang luar biasa, seperti untuk terkabulnya doa, untuk mendatangkan kesembuhan, meluaskan reziki, menghapus kefakiran, melipatgandakan pahala, meraih kebahagiaan dunia dan akherat.

Tentu, keberkahan itu akan bisa didapat dengan menjadikan ayat Kursi sebagai zikir. Tidak sedikit pendapat ulama dan hadits nabi yang meneguhkan keberkahan ayat Kursi itu. Dalam sebuah hadits, rasul bersabda, “Barang siapa pada saat hendak tidur membaca ayat Kursi, maka Allah akan mengutus dua malikat untuk menjaganya dari berbagai gangguan dan keburukan sampai masuk pagi.” Sedang Imam Muhammad al-Baqir berkata, “Barang siapa tengah menghadapi bencana lalu membaca ayat Kursi, maka Allah akan menolongnya sehingga ia terbebas dari bencana.”

Selain mengupas rahasia keberkahan, khasiat luar biasa ayat Kursi, buku ini juga menjelaskan tata cara mengamalkan zikir ayat Kursi. Juga, mengupas berbagai manfaat zikir ayat Kursi.

Memang dalam berbagai ritual keagamaan, tak jarang umat Islam membaca ayat Kursi. Tapi kerapkali amalan itu hanya sebatas bacaan yang disenandungkan semata dan tak diketahui secara detail kandungan dan keberkahan ayat Kursi. Karena itu terbitnya buku ini akan jadi pintu mengenal keberkahan, khasiat dan manfaat ayat Kursi.

Akhir kata, buku ini akan menuntun para pembaca dalam merengkuh kehidupan dengan amalam zikir ayat Kursi. Apalagi, buku ini disertai setumpuk pendapat ulama dan hadits yang membicarakan tentang ayat Kursi. Tidak diragukan, kalau buku ini akan membimbing pembaca mengarungi lautan keberkahan yang dikandung ayat Kursi dan keagungan dari mukjizat ayat Kursi. (n. mursidi)

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 16 Agustus 2008

merengkuh karunia Allah lewat zikir

resensi ini dimuat di Hidayah edisi 85 Sep 2008

Judul buku : Zikir 1001 Asma`ul Husna dan Fadhilah Surat Yasin
Penulis : Tim Zahra & Abu Muhammad
Penerbit : Zahra, Jakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2008
Tebal buku : 296 halaman

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS. Al-Ahzab: 41-42)

Dalam ayat al-Quran di atas, Allah secara tegas memerintahkan kepada orang yang beriman untuk berzikir --dengan menyebut nama-- Allah sebanyak-banyaknya. Karena di balik perintah itu, Allah menjamin hati dapat tentram (QS. Ar-Ra`d: 28), mendapat ampunan dan pahala yang besar (QS. Ahzab: 35), dan agar memperoleh keberuntungan (QS. Anfal: 45).

Di samping itu, tak sedikit hadits nabi yang juga menganjurkan umat Islam untuk berzikir (ingat) pada Allah. Selain bisa membuat hati tenang, zikir memang memiliki banyak manfaat dan dampak yang dahsyat dalam hidup seseorang.

Buku berjudul Zikir 1001 Asma`ul Husna dan Fadhilah Surat Yasin ini adalah kumpulan doa dan zikir 1001 Asma`ul Husna yang menyiratkan akan setumpuk manfaat dan keutamaan zikir tersebut. Dengan mendasarkan zikir 1001 Asma`ul Husna, kumpulan zikir dalam buku ini bisa disebutkan sebagai kumpulan amalan terbaik. Pasalnya, zikir ini terdiri atas 1001 Asma`ul Husna yang tidak lain adalah untaian mutiara asma-asma Allah yang indah dan mulia.

Di antara manfaat zikir 1001 Asma`ul Husna, buku ini menyebutkan untuk menolak bala, mendapatkan keluasan rezeki, menyelesaikan masalah, mengusir kemiskinan, serta merengkuh kesuksesan. Tidak salah, zikir 1001 Asma`ul Husna ini disebut mengandung manfaat yang mengagumkan. Sebab itu, ada juga orang yang menamainya sebagai zikir mustajab dunia dan akhirat.

Selain memuat manfaat 1001 Asma`ul Husna, buku ini juga menjelaskan 75 fadhilah dari surat Yasin. Di antaranya, untuk menolak kefakiran, memohon anak, memperoleh keagungan/kemuliaan di mata manusia, menyembuhkan segala penyakit dan tentu masih banyak lagi karena surat Yasin adalah amalan yang dilimpahi setumpuk fadhilah.

Dua amalan zikir 1001 Asma`ul Husna dan surat Yasin ini, tentu saja dapat mengantarkan para pembaca bisa merengkuh karunia Allah. Dengan zikir 1001 Asma`ul Husna, tak menutup pintu jika setiap kebutuhan orang yang memohon pada Allah akan terkabul lantaran kasus atau masalah yang menghimpit itu tak lain akan langsung ditangani oleh Allah.

Buku ini bisa dikata kumpulan zikir Asma`ul Husna yang lengkap. Apalagi buku ini detail mengungkap 100 manfaat 1001 Asma`ul Husna dan 75 fadhilah surat Yasin, dan berupaya menggabungkan dua amalan penting itu dalam satu buku. Karena itu, tujuan diterbitkannya buku ini tak lain adalah untuk mengantar pembaca merengkuh kanunia Allah lewat zikir. (n. mursidi)

baca lebih lanjut...?

Minggu, 10 Februari 2008

pandangan islam tentang seks

resensi ini dimuat majalah Hidayah edisi 79/Februari 2008


--------------------------------
Judul buku : Panduan Seks Islami
Penulis : Dr Hasan Hathout dkk
Penerbit : Zahra Pustaka, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal buku : 328 halaman
--------------------------------

Orang berbeda pendapat memandang seks. Sebagian orang, melihat seks sebagai pelampiasan nafsu demi mencapai kenikmatan dan kesenangan semata. Sedang sebagian orang yang lain, menganggap seks sebagai hal yang menjijikkan, kotor, tabu dan bahkan dosa. Karena itulah, seks harus dijauhi dan tak patut untuk dibicarakan.

Padahal seks itu -pada hakekatnya-- adalah hal alamiah yang dianugrahkan Allah pada setiap umat manusia sejak ia lahir demi kelangsungan hidupnya. Maka, mau tidak mau, seks harus diakui sebagai bagian inherent manusia yang tidak bisa dinafikan dan dimungkri keberadaannya. Lantas, bagaimanakah Islam (sesuai aturan yang telah ditetapkan al-Qur`an dan hadits) melihat persoalan seks?

Islam ternyata memandang seks dengan pandangan lain. Tidak seperti beberapa agama lain (seperti Kristen dan Budha) atau aliran filsafat tertentu, Islam --tulis Majida Tufail dalam buku Panduan Seks Islami ini-- tidak memandang seks sebagai syahwat daging yang penuh dosa dan karena itu jiwa harus menundukkannya. Islam menganggap seks sebagai suatu hal yang suci, fitrah dari setiap manusia dan bahkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Karena, jika “seks” dipraktekkan dalam kerangka yang sesuai dengan syaraiat Islam, tentu sepasang suami-istri bukan semata-mata untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan seksual melainkan juga mendapat pahala dari Allah.

Kenapa? Karena seks dalam ikatan pernikahan dipandang Islam sebagai wujud sedekah dan juga ibadah. Seperti diungkapkan oleh Rasulullah, bahwa “dalam hubungan yang dilakukan oleh pasangan yang sah, ada sedekah”. Bahkan dalam satu hadits lain, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa ingin melihat Allah dalam kesucian, hendaklah dia menemui-Nya dengan istrinya. Tetapi jika seks itu dipraktekkan di luar ikatan pernikahan, Islam (QS. al-Isra` [17]: 32) jelas-jelas akan mengutuk karena hal itu termasuk perbuatan zina yang dilarang ajaran Islam.

Meski Islam menganggap seks sebagai hal yang suci, tetapi ada adab dan aturan yang tak bisa dilanggar. Islam menganjurkan pasangan tidak sampai mempraktekkan seks a la binatang, melainkan seks yang me”manusia”kan setiap pasangan. Karena itu, nabi bersabda “Janganlah di antara kalian mendatangi istrinya seperti binatang. Adalah lebih patut baginya untuk mengirimkan pesan sebelum melakukannya.” (HR Dailami).

Jadi Islam menganjurkan seks dalam koridor untuk “memanusiakan”, bukan seks yang merendahkan derajat manusia. Karena itulah, Islam melarang suami mendatangi istrinya yang sedang menstruasi.

Buku ini boleh dikata cukup lengkap mengupas persoalan seputar seks dilihat dari sudut pandang ajaran Islam sesuai dengan al-Qur`an dan hadits. Tak salah jika buku ini juga mengupas adab bersetubuh, hukum masturbasi, hukum oral seks, hukum anal seks, persoalan aborsi, inces, masalah kontrasepsi, dan bahkan tentang poligami.

Karena itulah, buku ini patut untuk dimiliki dan dibaca setiap pasangan suami-istri, bukan sekadar untuk menikmati “keindahan hidup” dalam ikatan sakral pernikahan, melainkan juga agar suami-istri tidak terjerumus hal-hal yang dilarang syariat Islam dan dapat merengkuh kenikmatan seks dalam rangka sedekah dan ibadah. (n mursidi)

baca lebih lanjut...?

Selasa, 15 Januari 2008

menyingkap kontroversi ke-ummi-an nabi muhammad

resensi buku

Judul buku : Nabi Muhammad Buta Huruf atau Genius; Mengungkap Misteri "Keummian" Rasulullah
Penulis : Syekh Al-Maqdisi
Penerbit : Nun Publisher, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal buku : 130 halaman

TIDAK diragukan lagi dalam al-Qur`an dan sejumlah hadits, nabi Muhammad disebut nabi yang ummi. Tapi apakah sebutan ummi untuk rasul terakhir itu bisa dimaknai sebagai satu fakta bahwa nabi Muhammad itu buta huruf atau tak bisa baca-tulis?

Sebagian besar umat Islam, dan ulama berani meneguhkan bahwa dalil al-Qur`an dan hadits terkait kata 'ummi' itu sebagai bukti nyata bahwa nabi Muhammad buta huruf. Dengan memaknai kata ummi dalam arti tidak bisa membaca-menulis (buta huruf), fakta itu tidak saja meneguhkan bahwa al-Qur`an tak diragukan lagi merupakan kalamullah, melainkan juga karena nabi Muhammad buta huruf, maka al-Qur`an --dengan demikian-- bukan hasil karya atau rekayasa nabi Muhammad.

Tetapi bagi Syekh Al-Maqdisi, teori kebutahurufan nabi itu ternyata tidak dapat dipertanggung jawabkan. Karena, menurutnya, nabi bukan buta huruf, melainkan genius. Tidak salah, Syekh Al-Maqdisi berusaha 'menyanggah' tuduhan itu. Melalui buku Nabi Muhammad Buta Huruf atau Genius; Mengungkap Misteri "Keummian" Rasulullah ini, dengan dalil al-Qur`an, hadits dan argumen sejarah dia membuktikan dan menepis bahwa nabi Muhammad benar-benar bukan buta huruf.

Klaim yang sering dijadikan umat Islam menegaskan bahwa nabi Muhammad adalah buta huruf itu didasarkan pada dalil QS Al-A`raf 157 dan 158 yang secara tegas menyebut nabi Muhammad sebagai "nabi yang ummi". Juga, ayat lain yang secara tidak terang seperti QS. Al-Ankabut: 48, QS. Al-Jumu`ah: 2. Tetapi menurut Syekh Al-Maqdisi, kata ummi itu ternyata disalahpahami. Kata ummi diartikan "tidak bisa membaca dan menulis. Padahal kata "ummi" bisa juga merujuk kata umm (ibu kandung). Atau bisa dimaknai orang yang belum membaca kitab suci sebelumnya dan mereka itu belum kedatangan seorang nabi dengan segenap ajarannya. Karena itulah, wajar al-Quran mengatakan Allah mengutus nabi kepada kalangan yang ummi (hal. 29-30).

Dengan konteks arti ummi itulah, Syekh Al-Maqdisi menolak nabi disebut buta huruf. Apalagi, QS. Al-A`raf 157 dan 158 yang dijadikan "klaim kebutahurufan" nabi itu, menurutnya, memiliki "makna metaforis". Karena, merujuk ayat sebelum dan sesudahnya, Al-Qur`an menerangkan dialog Musa dengan Tuhan dan tak ada sangkut paut dengan nabi Muhammad. Karena itu, bagi penulis, klaim kebutahurufan nabi tak punya dasar yang kuat karena al-Qur`an, hadits dan bukti sejarah justru menyanggah hal itu.

Isyarat al-Qur`an yang menyanggah kebutahurufan nabi itu dapat dilihat dalam QS. Al-Ankabut 48. Ayat ini sering dijadikan dasar sebagai ayat yang membuktikan nabi buta huruf. Tetapi menurutnya, justru sebaliknya. Karena ayat tersebut tak menafikan kemungkinan nabi mampu baca-tulis tetapi hanya menafikan pembacaan dan penulisan langsung oleh nabi. Sebab bagi penulis nabi memang bukan dukun. Juga, dalam QS. Al-Alaq 1-5 yang jelas menegaskan sebuah kesia-sian, jika Allah menyapa nabi dengan perintah membaca (padahal nabi buta-huruf). Ayat lain lagi adalah QS Ali Imron: 164 dan QS Al-Jumu`ah 2 yang secara tegas mengatakan nabi "membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya".

Selain itu, tidak sedikit riwayat menyanggah mitos kebuta-hurufan nabi. Salah satunya riwayat dari Aisyah "Saat sakitnya mulai mengeras, nabi berkata kepada Abdurrahman bin Abu Bakar; 'Ambilkan aku secarik kertas atau lembaran, sehingga aku dapat menulis sesuatu untuk Abu Bakar, sebuah kitab yang tak akan membuat persengketaan di kemudian hari." Bagaimana mungkin nabi dapat disebut buta huruf jika dalam riwayat itu meminta secarik kertas untuk menulis? Jelas, nabi tidak buta huruf.

Nabi disebut ummi karena nabi itu orang Makkah dan Mekkah adalah induk dari perkampungan (ummul qura). Bahkan tak diragukan, bahwa nabi "punya pengetahuan dan wawasan luas". Sejarah telah mencatat, sebelum diangkat jadi rasul, nabi Muhammad dikenal sebagai pedagang yang mahir. Dari situ Khadijah kemudian menyewa nabi Muhammad untuk memimpin kafilah dagang. Tentu kafilah dagang itu butuh perhutungan teliti. Fakta itu jelas menampik tuduhan nabi buta huruf. Tak mustahil pula, berkat pengalaman berdagang itu, nabi mengerti banyak keragaman dialek bahasa Arab dan bahasa non-Arab.

Kekuatan dalil al-Qur`an, hadits juga didukung argumen sejarah yang diungkapkan oleh Syekh Al-Maqdisi dalam buku ini, jelas tidak menempatkan nabi sebagai seorang buta huruf. Dengan ketelitian penulis menggali akar kata "ummi", buku ini menjadi satu bukti kepiawaian Syekh Al-Maqdisi menyoroti sosok nabi Muhammad dalam baca-tulis mengenai manusia genius pengubah sejarah yang mustahil tidak bisa membaca dan menulis. Karena, dalam sebuah hadits diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari Auf, "Nabi Muhammad tidak wafat, kecuali beliau telah mampu membaca dan menulis."

Tetapi, sayang! Fakta itu justru tidak disadari sebagian umat Islam dan justru merasa bangga dengan kebutahurufan nabi. Padahal kebutahurufan nabi itu jelas bisa menjadi satu kekurangan. Karena sebagai utusan Allah, nabi telah dijaga (ma`sum) dari sifat-sifat buruk, tidak terkecuali dari kebodohan akibat tidak bisa baca-tulis.

Di bagian akhir buku ini, pihak penerbit juga menyertakan beberapa pandangan ulama tentang ke-ummi-an nabi Muhammad seperti pendapat dari Fakhrur Razi, Sayyid Al-Murtadha dan Dr Muhammad Syahrur. Pendapat tiga ulama tersebut sepakat bahwa nabi tak buta huruf. Penerbit menyertakan ketiga pendapat ulama itu, tidak ada maksud lain kecuali untuk meneguhkan pendapat Al-Maqdisi sebagaimana dikupas di buku ini; menepis keraguan pembaca. Karena itu, setelah pembaca digulung dengan dalil-dalil Al-Qur`an dan argumen sejarah yang dikemukan Syekh Al-Maqdisi dalam buku ini, masihkah ada setritik keraguan bahwa nabi Muhammad itu buta Huruf?***

*) n. mursidi, alumnus Filsafat UIN, Yogyakarta

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 08 September 2007

Purifisme Islam dan Ketimpangan Sebuah Nalar

resensi buku


Judul buku : Agama Borjuis; Kritik atas Nalar Islam Murni
Penulis : Nur Khalik Ridwan
Penerbit: Ar-Ruzz, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2004
Tebal buku : 460 halaman

TAFSIR atas ajaran agama (baca: Islam), masih kerap menunjukkan adanya keterputusan pemahaman akan pesan agama dengan tindakan etis dan real pembebasan. Agama masih seringkali dimaknai dalam kerangka "tameng" belaka, simbol kesalehan saja dan jauh dari praktek keberpihakan terhadap kaum papa. Padahal secara historis, kelahiran Islam selain membawa misi pembebasan juga ditengarai terbuka ruang tafsir yang memunculkan pluralitas. Tak salah, jika dalam sejarah Islam kemudian muncul aneka sekte (kalam dan fiqih) yang bisa disimpulkan; bahwa Islam adalah agama yang menyejarah (karena lahir 15 abad lalu di Makkah dan menyebar ke wilayah lain sehingga terjadi akulturasi) dan mengakui adanya perbedaan.

Tetapi, hal itu tampaknya dipahami secara sempit oleh gerakan Islam murni model Muhammadiyah dan Persis. Dua gerakan pemurnian itu yang mendapat pengaruh dari Wahabi (Arabia) dan pembaruan dalam dunia Islam (Abduh-Rasyid Ridha) selain mengusung wacana kebenaran tunggal (tafsir) bahwa Islam adalah agama final sehingga dalam memecahkan masalah harus kembali ke al-Qur`an dan sunnah, juga mengidealisasikan kehidupan nabi. Karenanya, Islam murni tidak memberi ruang adanya praktek populer dan budaya lokal. Sebab, kedua hal itu dianggap bid`ah. Lebih parah lagi, ada semacam pemaksaan bahwa keberagamaan Islam murni sebagai satu-satunya jalan "keselamatan" yang harus diikuti.

Nalar yang diusung oleh gerakan Islam Murni itulah yang dikritik dan disingkap adanya tabir ideologi dibalik metamorfosis gagasan dan nalar model Islam murni, karena ditengarai penulis selain meninggalkan problem inheren, juga telah menempatkan Islam dalam fakta a-historis. Lebih parah, ternyata ideologi Islam murni, di mata penulis, mementingkan kesalehan individual dan tidak mengapresiasikan "perubahan sosial" kaum miskin. Tak salah, kalau bagi penulis (alumnus Fak. Syariah IAIN Sunan Kalijaga ini), ideologi Islam murni itu dibaptis sebagai (ke)agama(an) kaum borjuis.
***

ADA beberapa kritik yang dilancarkan Khalik berkaitan cara berpikir, gagasan dasar dan metamorfosis dari gagasan Islam murni. Pada level terbaca, di antara kritik yang dilancarkan Khalik berkaitan pemahaman Islam yang oleh Islam murni dipandang statis. Padahal pemahaman Islam di mana pun tak pernah satu. Ia selalu berdialog dengan sejarah dan kesempurnaan Islam jika merujuk surat al-Maidah 3 haruslah dipahami bahwa; kesempurnaan Islam terletak dalam konteks generik (moral) bukan pada aspek legal-institusional. Pemahaman itu, muncul sebab "teks" ditafsirkan secara "leterlek". Tanpa melihat konteks dan menyejarahkan teks, jelas akan membawa agama justru untuk Tuhan, bukan untuk manusia.

Juga, ketika Tuhan digambarkan secara abstrak, sebagai Sang Penguasa dan Yang Berkehendak tanpa pernah ada kejelasan lebih lanjut. Jelas hal itu, selain tidak membumikan dan menyejarahkan Tuhan, lebih jauh juga memberikan "tembang kenangan" bagi kaum miskin untuk menjadikan agama sebagai nina bobo saja. Apalagi saat gagasan dasar yang diusung oleh Islam Murni; diklaim yang paling benar dan satu-satunya jalan keselamatan setelah kembali ke al-Qur`an dan sunnah.

Tak berlebihan, jika gerakan Islam murni kemudian dengan semena-mena menuduh ritual dan praktek lokal (seperti mitoni, selamatan, maulid nabi dan diba`an) dianggap bid`ah dan sesat. Jelas saja, kenyataan itu menurut Khalik berarti telah menafikan adanya tafsir lain dan "kebenaran lain" pada aliran yang berbeda dengan Islam murni. Padahal, kebenaran Islam itu tidak tunggal, juga ritual agama itu adalah masalah individual dan yang lebih penting lagi; semua kebenaran itu datang dari Tuhan! Karenanya klaim sepihak itu merupakan kecerobohan mendasar.

Dilihat dari basis sosial dengan memandaskan kelahiran dan eksisnya Islam murni yang dipeluk orang perkotaan dari pedagang dan pegawai, Khalik melihat bahwa cara berpikir Islam murni; selain tidak berupaya "membebaskan" kaum papa, juga menjadi alat ampuh bagi kelompok borjuis; untuk melindungi kepentingannya dengan baju sakralitas keberagamaan. Sebab, agama hanya pada dataran simbolisme belaka dan bahkan tidak dijadikan elemen pembebasan bagi wong cilik.

Apalagi ditopang mobilitas sosial berupa sekolah formal, media massa dan keterlibatan berpolitik. Tidak salah, gerakan Islam murni dalam bangunan relasi ditengarai Khalik kerap "tak akur" dengan proletar Marhaen, proletar komunis dan proletar santri. Sebaliknya, dengan borjuis-kolonial-Belanda dan borjuis-Cina-Pariah malah kerap akur dan terjadi simbiosis. Jelas saja, itu merupakan tantangan baru bagi generasi (keempat) dari kaum santri baru baik dari Muhammadiyah, NU, Kelompok Usroh, maupun kalangan santri radikal (untuk lebih jelasnya akan tantangan ini bisa dibaca dalam buku karya penulis yang baru berjudul "Santri Baru" [Gerigi Pustaka; 2004]).
***

SAYANGNYA, buku yang ditulis dengan menabuh genderang kritikan yang menohok ini lebih menitikberatkan gagasan pemurnian Muhammmadiyah dibanding dengan Persis. Padahal, dalam gerakan pemurnian Islam sendiri penulis telah menyebutkan pula gerakan lain seperti Padri, Sumatra Thawalib, Serikat Islam (SI) dan Masyumi. Bisa jadi mungkin benar, karena Persis tidaklah lama eksis sebagai sebuah gerakan. Juga, keberadaan SI dan Masyumi lebih pada wilayah atau ke akses politik daripada sebagai paham keagamaan.

Selain itu, kekurangan lain dari buku karya penulis yang "menderita" ini adalah tak fair-nya dalam memberikan balance sebagai penyeimbang dalam kritik yang dilancarkan. Dengan kata lain, Khalik sama sekali tak menelusuri akar sejarah perkembangan dan pertumbuhan Muhammadiyah dan Persis melainkan lebih menitikberatkan pada ketokohan Ahmad Dahlan dan A. Hasan. Tak pelak, sumbangan besar Muhammadiyah dan Persis dalam kesejahteraan umat, kemudian seolah-olah terkuburkan.

Meski begitu, buku yang secara teknis merupakan kelanjutan dari buku Islam Borjuis Islam Proletar (2002) ini telah membentangkan satu pengertian bahwa kebenaran akan logika tunggal seperti yang diusung gerakan Islam murni merupakan pilihan tidak mengenal pluralitas, membunuh kreativitas beragama, mematikan nalar dan menempatkan wahyu pada ruang a-historis. Karenanya, bagi khalik, purifikasi adalah satu bentuk kekerdilan dikarenakan Islam merupakan kekuatan plural.***

*) Nur Mursidi, alumnus Filsafat UIN Yogyakarta

baca lebih lanjut...?

Senin, 27 Agustus 2007

Dimensi Rasionalitas Tasawuf Al-Ghazali

Resensi ini dimuat di KOMPAS Sabtu 23 Nov 02

Judul Buku: Intelektualisme Tasawuf; Studi Intelektualisme Tasawuf Al-Ghazali
Penulis: Prof Dr Amin Syukur, MA dan Drs Masyharuddin, MA
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2002
Tebal buku: xi + 249 halaman

KEBIMBANGAN tampaknya bisa menjadi salah satu faktor bagi seseorang untuk kemudian tenggelam ke dalam relung tasawuf demi memetik sebuah kedamaian hati. Setidaknya, itulah yang dialami oleh Al-Ghazali, salah satu tokoh besar Islam yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan "Hujjatul Islam". Sebab, setelah pengembaraannya dalam belantara ilmu kalam, fiqih, dan filsafat tak mendapatkan banyak hal bahkan justru mengalami kebimbangan dan sakit fisik yang berat, Al-Ghazali --setelah sembuh-- kemudian menempuh jalan hidup menjadi seorang sufi.

Ketertarikan Al-Ghazali pada tasawuf tidak saja telah membuatnya memperoleh pencerahan dan ketenangan hati. Lebih jauh lagi, justru dia memiliki peran yang cukup signifikan dalam peta perkembangan tasawuf.

Jika pada awal pembentukan tasawuf-berupaya menenggelamkan diri pada Tuhan-dimeriahkan dengan tokoh-tokohnya seperti Hasan Basri (khauf), Rabi`ah Al-Adawiyah (hub al-ilah), Abu Yazaid Al-Busthami (fana`), Al-Hallaj (hulul), dan kemudian berkembang dengan munculnya tasawuf falsafi dengan tokoh-tokohnya Ibn Arabi (wahdat al-wujud), Ibn Sabi`in (ittihad), dan Ibn Faridl (cinta, fana', dan wahdat at-shuhud) yang mana menitikberatkan pada hakikat serta terkesan mengenyampingkan syariah, kehadiran Al-Ghazali justru telah memberikan warna lain; dia telah mampu melakukan konsolidasi dalam memadukan ilmu kalam, fiqih, dan tasawuf yang sebelumnya terjadi ketegangan.

Kendatipun sumbangan Al-Ghazali dalam tasawuf bisa dikatakan cukup besar dan telah memberikan warna baru, dan berusaha merilis satu jalan ruhani menuju Tuhan dengan mendasarkan Al Quran dan hadits, selain secara epistemologi berusaha menemukan kebenaran dengan jalan intuisi (dzauqiyah), toh oleh banyak kalangan (Barat) tasawuf tetap dianggap antirasionalitas. Bahkan yang lebih parah lagi adalah adanya satu tuduhan di mana karena tasawuflah, umat Islam mengalami kemunduran.

Adanya tuduhan itu, memang tak lepas dari gencarnya serangan yang dilakukan Al-Ghazali kepada filsuf-filsuf Muslim, di mana akhirnya secara sepihak dimenangkan oleh Al-Ghazali. Dengan demikian, Al-Ghazali pun kemudian kena satu klaim sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas kemunduran (umat) Islam tersebut.

***

BUKU Intelektualisme Tasawuf; Studi Intelektualisme Tasawuf Al-Ghazali ini memang tidak berpretensi untuk menjawab tuduhan di atas dan melakukan pembelaan terhadap Al-Ghazali. Akan tetapi, buku yang ditulis oleh Amin Syukur dan Masyharuddin-dua orang ilmuwan Muslim yang memiliki perhatian besar terhadap masalah-masalah tasawuf-ini jelas ingin menunjukkan dan membuktikan dengan disertai argumen yang meyakinkan bahwa rumusan tasawuf yang dikembangkan Al-Ghazali bukanlah suatu rumusan tasawuf yang sepi dari adanya penalaran (rasionalitas).

Adanya segi-segi penalaran mengenai konsepsi tasawuf Al-Ghazali, dalam buku ini ditunjukkan dari hasil lacakan melalui dasar-dasar ontologis tasawuf Al-Ghazali yang mengakui otoritas jiwa/akal sebagai substansi yang berdiri sendiri dan merupakan tempat bersemayamnya pengetahuan-pengetahuan intelektual. Selain itu, Al-Ghazali juga mengakui metafisika cahaya (nur), yang mana Allah sebagai asal-usul segala cahaya serta hubungannya dengan dunia ciptaan yang menerima cahaya dari-Nya.

Begitu juga tentang moral, dapatlah dikatakan bahwa tasawufnya bersifat religius dan sufistik, mesti tidak berarti Al-Ghazali menolak prinsip etika yang berasal dari sumber lain, yakni rasio/filsafat. Dari situ, sebenarnya sudah tampak sikap Al-Ghazali yang tidak menafikan peranan akal dalam konsepsi tasawufnya.

Meski demikian, hal itu masih kurang memadai. Lebih lanjut, Masyharuddin dalam bagian kedua buku ini kemudian melakukan analisis atas rasionalitas dari sisi epistemologi. Ditinjau dari dimensi rasionalitas, dia melihat konsepsi tasawuf Al-Ghazali berdasarkan epistemologi yang dikembangkan tampak tercermin pada; 1) penggunaan logika yang tetap dalam memahami tasawuf maupun perumusannya, sehingga bangunan konsepsi tasawufnya memiliki segi pemikiran logis dan rasional, 2) penggunaan analog-analog secara tepat dalam mengomunikasikan pemikiran tasawufnya, dan 3) sikap apresiatifnya terhadap akal, sehingga pemikiran tasawufnya tidak menolak akal sama sekali. (hlm. 227)

***

AKHIR kata, apa yang telah diupayakan Al-Ghazali dengan rumusan tasawufnya telah menandai satu titik puncaknya dengan keberhasilan gemilang yang telah diraihnya-selain Al-Qusyairi dan Al-Hawari-karena telah mengembalikan tasawuf pada landasan Al Quran dan hadits. Selain itu, Al-Ghazali juga telah menawarkan teori tasawuf baru (ma`rifat) sebagai pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah) tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya yang mana itu telah mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan tasawuf sesudahnya, sehingga Al-Ghazali dikatakan seorang sufi yang bisa meredam perseteruan yang tidak harmonis antara ilmu kalam, fiqih, dan filsafat.

Namun di sisi lain, tak bisa dipungkiri, ternyata apa yang telah diupayakan oleh Al-Ghazali tersebut telah melahirkan implikasi dan ekses yang tak bisa dibendung. Pemikiran tasawufnya mengalami kemandulan dalam periode sesudahnya.

Adanya kemandulan pemikiran tasawuf pasca-Al-Ghazali itu, tak lain karena tasawuf telah didistorsi dalam bentuk tarekat-tarekat yang lebih menyerupai agama dalam agama. Akibatnya, tasawuf yang sebenarnya sarat dengan muatan intelektual-sebagaimana yang dirumuskan Al-Ghazali-mengalami pereduksian dimensi kognitif dan berubah menjadi rutinitas ritual di bawah para syeikh/mursyid tarekat dengan segala implikasinya, seperti pemujaan wali, pencarian berkah, dan sebagainya. Dengan demikian, apakah Al-Ghazali salah dan harus bertanggung jawab terhadap kemunduran umat Islam? Semua itu tentunya dibutuhkan kecermatan yang tidak serampangan!

*) n. mursidi, mahasiswa filsafat IAIN aunan kalijaga, Yogya

baca lebih lanjut...?

itikad memahami pesan Tuhan

resensi ini dimuat di majalah Tempo, edisi 31/XXXI 30 Sep02 (arsip baru ditemukan)

Judul buku : Hermeneutika Qur'ani: Antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi
Penulis : Fakhruddin Faiz
Penerbit : Qalam, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2002
Tebal : ix + 147 halaman

Diturunkan 15 abad yang lalu, Al-Quran diyakini umat Islam sebagai sumber utama, tempat semua masalah hidup disandarkan. Zaman terus berlalu. Islam berkembang ke wilayah-wilayah yang memiliki perbedaan dengan kondisi sosial-historis di saat Al-Quran diturunkan. Akselerasi zaman ini melahirkan pula berbagai masalah kontemporer yang membutuhkan jawaban. Untuk itu, diperlukan interpretasi atau penafsiran Al-Quran secara kontekstual.

Fakhruddin Faiz, staf pengajar Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, mencoba menelaah karya Rasyid Ridha dan Abduh (dalam tafsir Al-Manar) serta Hamka (dalam tafsir Al-Azhar) untuk menyusuri seberapa jauh metode interpretasi dari kedua tafsir itu memuat unsur-unsur hermeneutika.

Pelacakan Faiz menemukan bahwa kedua tafsir tersebut cukup kuat dalam melakukan penafsiran dengan cara hermeneutika. Dengan mengolah teks, misalnya, baik Ridha, Abduh, maupun Hamka telah berupaya menggali makna Al-Quran secara operatif fungsional. Mereka berupaya agar Al-Quran itu dapat dijadikan petunjuk nyata bagi kehidupan umat Islam.

Ada sikap rasional dalam mengolah teks dari ketiga penulis di atas—walau bukan tanpa kelemahan. Menurut Faiz, mereka lebih menekankan aspek langue (bahasa) daripada aspek parole (kata-kata). Dalam tafsir Al-Manar, misalnya, Abduh berusaha mengubah pandangan orang karena ia menolak poligami (An-Nisa': 3), yang dia nilai tidak adil terhadap perempuan. Sementara itu, Hamka, dalam menafsirkan surat Muhammad: 4, tampak teguh berpendapat bahwa Nabi pernah pula memberikan hukuman kepada tawanannya, meski ia memiliki sifat welas asih.

Penelusuran penulis buku ini sampai pada kesimpulan bahwa kedua tafsir tersebut bercorak hermeneutik. Faiz melihat aspek teks, konteks, dan kontekstualisasi dari kedua tafsir tersebut amatlah kental. Namun, tak dapat diingkari bahwa ketiga aspek itu masih jarang bisa berjalan secara bersama-sama. Kendati demikian, upaya Ridha, Abduh, dan Hamka dalam menggali makna teks untuk memahami pesan Tuhan itu setidaknya merupakan satu itikad yang patut dihargai.

Nur Mursidi, Peneliti Lembaga Pantheon, Yogyakarta

baca lebih lanjut...?