....
Tampilkan postingan dengan label resensi buku motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 April 2013

Terobosan Dahlan Iskan Menahkodai BUMN

resensi buku ini dimuat di Jurnal Nasional, Minggu 14 April 2013

Judul buku: Manufacturing Hope: Bisa! Impian dan Gagasan Segar Dahlan dalam Mengelola BUMN
Penulis      : Dahlan Iskan
Penerbit    : Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal buku: 278 halaman
Cetakan    : Pertama, 2012
ISBN        : 978-602-00-3398-3
Harga buku: Rp. 52.800,-

DALAM jajaran kabinet Indonesia Bersatu jilid II, sosok Dahlan Iskan mungkin bisa disebut salah satu menteri yang unik. Ia tampil dengan gaya kepemimpinan lain daripada menteri yang lain. Dengan basic yang ia miliki sebagai wartawan dan pernah jadi CEO sebuah media, dia masih memiliki kepekaan mata hati dan insting bisnis yang kuat sehingga hal itu yang membuat dia beda. Dia mampu menerobos belitan birokrasi untuk bergerak mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan brilian.

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 19 Januari 2013

Meraih Sukses dengan Kecerdasan Hoki

resensi ini dimuat di harian Detik, Sabtu 19 Januari 2013

Judul buku: Hoki Intelligence; Mengapa Kecerdasan Hoki Lebih Menentukan Dibandingkan IQ dan EQ dalam Menggapai Kesuksesan Nyata?
Penulis   : Leman Yap
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan   : Pertama, 2012
Tebal buku: 258 halaman
Harga        : Rp. 60.000,-

Dulu, tak dimungkiri bahwa IQ (intelligence Quotient --kecerdasan intelektual) dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan seseorang. Tapi, seiring dengan perjalanan waktu, ternyata anggapan itu runtuh. Sebab, tidak sedikit orang yang dibekali kecerdasan dan bakat cemerlang justru bisa terpeleset gagal. Apalagi, setelah Daniel Goleman (1994) mengenalkan EQ (Emotional Intelligence/kecerdasan emosi) sebagai faktor (kunci) kesuksesan seseorang. IQ sebagai barometer keberhasilan pun pupus. Bahkan, Daniel Goleman menyimpulkan: kesuksesan seseorang itu 80 % ditentukan EQ dan sisanya 20% ditentukan IQ.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 09 September 2012

Melejitkan Kemampuan Otak untuk Sukses

resensi buku ini dimuat di Jurnal Nasional Minggu 9 September 2012

Judul buku    : The Winner's Brain: Kiat Jitu Mengembangkan Otak Pemenang untuk Mencapai Sukses
Penulis        : Jeff Brown & Mark Fenske
Penerbit    : Gemilang (Kelompok Pustaka Alvabet), Jakarta
Cetakan        : Pertama, 2012
Tebal buku    : 296 halaman
ISBN        : 978-602-19854-1-0

SEBAGIAN besar orang beranggapan bahwa orang sukses itu adalah mereka yang sejak lahir sudah ditakdirkan Tuhan untuk meraih keberhasilan. Maka, mereka yang sukses itu dipandang sebagai orang yang beruntung karena dianugerahi dengan otak yang cerdas atau cemerlang. Jika tidak, bisa jadi mereka itu dilahirkan di tengah keluarga kaya yang memiliki kekayaan berlimpah atau hidup di antara orang-orang yang tepat sehingga mendukung keberhasilan itu dengan mudah.

baca lebih lanjut...?

Jumat, 24 Agustus 2012

Mengenal Graphoselling untuk Meraih Sukses

resensi buku ini dimuat di Koran Jakarta, Jumat 24 Agustus 2012

Judul buku  : Kaya dengan Graphoselling
Penulis        : Yosandy L.S
Penerbit      : PT Visi Media, Jakarta
Cetakan      : Pertama, 2012
Tebal         : xiv + 170 halaman
Harga buku : Rp. 38.000,-

BAGI sebagian besar orang, bentuk tulisan tangan -mungkin-- dianggap tak memiliki kaitan dengan karakter, atau perilaku orang yang bersangkutan. Tak berlebihan, jika mereka berpendapat bahwa bentuk tulisan tangan itu sama sekali tak bersinggungan dengan sukses ataupun tidaknya seseorang. Dengan kata lain, mereka menilai di balik goresan tulisan tangan itu tidak tersimpan rahasia atau pesan apa pun yang bisa dikuak.

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 25 Juni 2011

Menghindari Kegagalan

resensi buku ini dimuat di Bisnis Indonesia, Minggu 26 Juni 2011

Judul buku : Manajemen Pikiran dan Perasaan
Penulis : Ikhwan Sopa
Penerbit : Zaman, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal buku : 392 halaman
Harga : 65.000,00

TAK ada satu orang pun di dunia ini yang tak ingin hidupnya sukses. Dengan kata lain, ia bermimpi kelak ia dapat mewujudkan apa yang telah dicita-citakan. Tetapi, fakta berbicara lain: tak banyak orang yang bisa mewujudkannya. Konon, hanya dua persen orang yang bisa meraih apa yang ia impikan. Selebihnya: terpuruk dalam "kegagalan". Anehnya, dalam keterpurukan itu ia bukan bangkit, malah tak jarang terjerembab dalam relung atau lumpur pikiran negatif (pola pikir yang tidak kreatif) dan melukai diri sendiri. Akhirnya, dia pun tidak beranjak dari tempat keterpurukan itu, tetap menjalani hidup yang monoton dan berujung kisah (hanya) menjadi orang biasa.

Ia ingin meraih sukses, tapi ironisnya tidak melakukan perubahan (sikap, kebiasaan dan perilaku) ke arah kesuksesan. Padahal, siapa pun tahu bahwa untuk meraih "kesuksesan dan keberhasilan hidup" itu dibutuhkan seperangkat penataan sikap, keputusan dan tindakan. Tapi ironisnya, tangga itu kerap diabaikan. Cita-cita yang ingin diraih pun, tak pelak, kemudian hanya menjadi impian. Hal itu tidak lain, karena abai "menata" pola pikir dan pola rasa untuk bisa meneguhkan rangkaian perjalanan ke arah kesuksesan itu.

Padahal, sebagaimana ditegaskan Ikhwan Sopa dalam buku Manajemen Pikiran dan Perasaan, dua elemen itu --pola pikir dan pola rasa-- adalah dasar dari jalinan sikap, keputusan, dan tindakan yang justru dapat mendekatkan orang bisa meraih cita-cita dan apa yang ingin diwujudkan. Pola pikir dan pola rasa itu tidak saja memang saling berkelit kelindan, melainkan juga akan saling menguatkan demi meraih sebuah cita-cita. Sebab itu, penataan pola pikir dan pola rasa tak saja menjadi bagian penting melainkan jadi "resep jitu" dalam meraih keberhasilan. Penataan pola pikir dan pola rasa itu akan menjadi jalan setapak yang bisa dijadikan peta dalam menentukan sikap, keputusan dan tindakan ke arah kesuksesan.

Manusia adalah makhluk mulia (dibandingkan dengan makhluk yang lain), lantaran ia dianugerahi "akal" oleh Tuhan sebagai kekuatan. Maka, sangat disayangkan jika kekuatan anugerah itu tidak dimanfaatkan dengan baik dan tepat. Dengan akal, manusia bisa memilah dan memilih (menentukan mana yang benar dan tidak benar). Tapi, dengan mengandalkan kekuatan akal (yang ketika bertransformasi menjadi pikiran) semata, manusia bisa menjadi kaku, rigid dan kurang berperasaan. Karena itulah, kekuatan akal itu harus pula diimbangi --disinergikan-- dengan "kekuatan perasaan".

Sebaliknya, ketika kekuatan perasaan itu cukup dominan atau mengusai, seseorang akan dihimpit pada sikap impulsif, kompulsif, obsesif, bahkan kerap tak logis. Tak jarang, ketika seseorang sedang dilanda masalah cinta yang berujung menjadi patah hati, dia pun kerap diliputi perasaan sedih, dendam dan bahkan merasa rendah diri. Memang wajar manusia bisa dilanda sedih, tetapi jika perasaan itu mendominasi pikiran, maka tidak mustahil akan berujung pada sikap dan tindakan yang tak membangun melainkan kerap merusak diri sendiri. Padahal, dibutuhkan porsi yang wajar dan selayaknya.

Jadi, kuncinya adalah bisa menyeimbangkan antara pikiran dan perasaan dalam memilih. Karena jika pikiran dan perasaan mendominasi pilihan (melebihi dari porsinya) maka dalam menentukan pilihan, orang itu akan menjadi sosok yang bersikap patetik (merusak). Sementara itu, jika pilihan yang mendominasi kedua elemen itu sampai melebihi porsinya, bisa disimpulkan orang itu akan menjadi sosok yang dalam memilih bersikap apatis dan lemah. Tapi, jika ada keseimbangan dan mengambil jalan tengah, maka pikiran tergolong sehat sehingga kemudian mengacu kebenaran. Perasaan pun lebih cenderung ke arah kebaikan. Itulah porsi yang ideal bagi pikiran dan perasaan.

Dengan menyelaraskan atau menyeimbangkan pikiran dan perasaan, maka pikiran dan perasaan itu akan menjadi alat kehidupan dalam menguatkan pilihan. Dengan kemampuan membangun pola pikir dan pola rasa seperti itu, manusia akan menjadi pribadi yang tidak "dikuasi" oleh pilihan-pilihan dalam kehidupan ini melainkan juga akan mengantarkan manusia itu menjadi sosok merdeka. Pada akhirnya, dengan kemampuan menyeimbangkan pikiran dan perasaan itu, seseorang tidak saja akan bisa meraih keberhasilan, dan kesuksan bahkan bisa meraih kebahagiaan.

Secara sederhana, memang "konsepsi" manajemen pikiran dan perasaan yang diajukan oleh Ikhwan Sopa --yang dikenal sebagai praktisi manajemen pikiran dan perasaan di QA Communicatiun, motivator dan trainer ini-- mudah dipahami. Tetapi untuk bisa membangun kekuatan pola pikir dan pola rasa yang seimbang itu, jelas dibutuhkan latihan dan bahkan keseriusan. Apalagi, bagi pembaca yang selama bertahun-tahun dicekam dominiasi pikiran atau dominasi perasaan dalam menentukan pilihan. Tak pelak, jika buku akan menjadi semacam peta mujarab yang akan mampu mengantarkan pada sebuah perubahan. Sebab dengan kemampuan bisa mengorganisasikan pola pikir dan pola rasa, cita-cita pun bisa "lebih mudah diraih".

Lebih dari itu, buku ini menyuguhkan "segudang ramuan" dan resep rahasia kehidupan yang akan mengantarkan pembaca tidak saja bisa mengelola pikiran dan perasaan melainkan akan mampu menciptakan kesuksesan, keberhasilan dan kebahagian. Sebab dalam buku ini, ada 35 resep yang digali dari setumpuk rahasia kehidupan yang bisa menghalau pembaca terhindar dari tekanan, stres bahkan depresi. Dengan "mempraktekkan" apa yang disuntikkan penulis dalam buku ini, pembaca akan merasakan sebuah perubahan hidup; hidup yang tidak dikendalikan pola pikir dan pola rasa yang merusak, melainkan justru membangun. [ ]

*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta

baca lebih lanjut...?

Jumat, 17 Juni 2011

Menyingkap Rahasia Memahami Pikiran Orang

resensi ini dimuat di Harian Pelita, Sabtu 17 Juni 2011

Judul buku : Membaca Pikiran Orang Lewat Bahasa Tubuh
Penulis : Dianata Eka Putra
Penerbit : Kaifa, Bandung
Cetakan : Pertama, 2010
Tebal buku : 148 halaman

TUTUR kata, perkataan atau ucapan seseorang, kerap kali diteguhkan sebagai ungkapan atau mewakili isi pikiran dan perasaan. Padahal, semua itu tidak sepenuhnya benar, dan belum tentu menjadi jaminan sepenuhnya. Karena orang bisa saja berkata tidak jujur (bohong), mengumbar "janji-janji kosong" dan berdalih dengan seribu satu alasan melalui perkataan yang menyakinkan. Makanya, kalau hanya "mendasarkan" keabsahan kejujuran seseorang hanya lewat ucapan yang keluar dari mulut tentu akan terkecoh dan tertipu. Bahkan keterkecohan itu ujungnya memerosokkan pada jurang kepercayaan sempit, karena tanpa dilandasi kejelian dan kepekaan.

Lalu kejelian atau kepekaan apa yang dibutuhkan kalau perkataan atau tutur kata seseorang tidak bisa dipegang? Ada sinyal atau gerakan lain yang bisa ditangkap selain mendasarkan atau memperhatikan ucapan yang terucap. Sinyal itu bisa ditangkap dari gerakan tubuh. Karena, tidak bisa disangkal bahwa bahasa tubuh (body language) itu sebenarnya merupakan selaksa bentuk komunikasi non-verbal yang lebih mewakili pribadi seseorang. Karena itu, jika tidak ingin terkecoh atau tertipu, orang harus memiliki kemampuan menangkap sinyal bahasa tubuh itu.

Mengapa bisa bahasa tubuh lebih mewakili isi pikiran dan perasaan seseorang daripada apa yang dituturkan? Dianata Eka Putra, seorang praktisi pemasaran dan penulis buku Motivasi best-seller lewat buku berjudul Membaca Pikiran Orang Lewat Bahasa Tubuh ini menguraikan bahwa tubuh itu merupakan sebuah benda yang unik, di mana seluruh gerakan yang ditampilkan oleh tubuh itu adalah aplikasi dari semua yang dipikirkan oleh seseorang. Bahkan pada waktu orang tidak mengucapkan sepatah kata pun, atau diam seribu bahasa, tubuh tetap memunculkan gerakan yang sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran (dan perasaan) seseorang.

Karena itu, jangan terkecoh pada perkataan dan tutur kata yang keluar dari mulut seseorang jika dari komunikasi non-verbal atau bahasa tubuh yang muncul justru menunjukkan kebalikan, atau hal yang bertolak belakang dengan apa yang terucap. Tetapi, untuk bisa menangkap sinyal atau "kode bahasa tubuh" itu dibutuhkan kepekaan atau kejelian. Lebih dari itu, juga dibutuhkan latihan yang tidak dapat dipelajari dalam semalam. Kendati demikian, bukan berarti kepakaan dan kejelian itu hanya dianugerahkan Tuhan kepada cenayang saja, melainkan sebenarnya bisa dipelajari oleh siapa pun dan untuk bisa menangkap kode bahasa tubuh itu tidaklah sulit.
Karena semua itu bisa dilihat dari perubahan tubuh seseorang tatkala orang itu mendapat masukan atau stimulus, baik dari dalam maupun dari luar tubuhnya.

Dari gerakan tubuh dan perubahan posisi seseorang itulah, dapat dilihat dengan jelas perubahan emosi yang dialami. Itu dapat ditangkap jelas, karena emosi yang timbul dari gerak perubahan direspon oleh alam bawah sadar. Sehingga orang yang berbohong dan bicara tidak jujur, alam bawah sadarnya menggerakkan tubuh untuk memberikan respon.

Kepekaan bisa memangkap semua itu, pastilah membuat orang tak akan mudah ditipu. Di sisi lain, kepekaan itu juga bisa mengantarkan seseorang menjadi lebih bijaksana dan bisa mengambil sikap yang arif di tengah suasana atau buruknya sebuah hubungan dengan orang lain. Lebih dari semua itu, orang yang memiliki kepakaan pada akhirnya bisa meraih kesuksesan karena kesuksesan seseorang itu sebenarnya bukan didasarkan pada segulung pengetahuan yang mengumpal di otak melainkan terletak pada sikap bagaimana ia bisa menjalin hubungan yang baik (bersosialisasi) dengan orang lain. Itulah kelebihan dari seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain lewat bahasa tubuh.

Selain memahami bahasa tubuh untuk bisa membaca pikiran orang (yang sedang berbohong), buku ini pun mengenalkan pada pembaca akan keragaman bahasa lain, seperti memahami orang yang sedang tertarik hatinya (jatuh cinta), membaca perasaan orang yang sedang dilingkupi kekecewaan, kemarahan, bahkan bahasa orang yang sok berkuasa. Lebih jauh, bahkan penulis mengungkap bahasa tubuh khas dari penjuru dunia. Buku ini pun, tak bisa disangkal, akan mengantarkan pembaca memiliki setangkup pengetahuan dan bisa dipraktekkan untuk membaca komunikasi baik secara oral maupun non verbal lewat bahasa tubuh (body language).

Dengan bekal itulah, pembaca tak saja akan bertambah wawasan, karena buku ini mengantarkan pembaca pada keragaman bahasa lain --selain bahasa yang terucap dari mulut. Tak salah, jika buku ini pun bisa membekali pembaca untuk bisa sukses menjalin hubungan dengan orang lain dalam pergaulan yang harmonis. Dan dengan menguasai bahasa tubuh itu, pembaca ibarat memiliki kunci (bisa) membaca pikiran orang lain. Akhirnya, dengan berbekal pengetahuan itu, pembaca pun bisa selamat dalam upaya penipuan, sukses dalam karier, dan mampu memahami orang lain.

Dengan bekal pengetahuan yang menyingkap kunci itu, maka hidup yang dijalani pun akan menjadi damai dan bahagia karena pembaca buku ini akan mampu membaca pikiran orang lain. [ ]

*) N. Mursidi, cerpenis tinggal di Jakarta

baca lebih lanjut...?

Minggu, 27 Juni 2010

melejitkan kreativitas untuk sukses

resensi ini dimuat di Lampung Post, Minggu 27 Juni 2010

Judul : The Power of Creativity: Mengubah yang Terbatas Menjadi Tak Terbatas
Pengarang : Peng Kheng Sun
Penerbit : Andi, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2010
Tebal : xviii + 150 halaman

TUHAN menganugerahi hadiah istimewa berupa kreativitas yang tak terbatas kepada manusia. Maka, sangat disayangkan jika kreativitas itu kemudian disia-siakan dan tak dimanfaatkan dengan maksimal. Pasalnya, keistimewaan itu tak diberikan Tuhan kepada makhluk lain, termasuk malaikat sekali pun. Tak disangkal, jika manusia merupakan satu-satunya makhluk mulia di muka bumi ini. Dengan potensi itu, manusia kemudian dapat merancang masa depan, meraih apa yang dia harapkan, merajut impian bahkan untuk mengubah nasib atas jalan hidup yang ingin dipilihnya di kemudian hari.

Tapi potensi otak (yang merupakan pemicu kreativitas) itu ternyata tak sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian besar umat manusia. Dari hasil penelitian sejumlah pakar, kebanyakan orang hanya menggunakan sebagian kecil kemampuan otak, atau kurang dari 10 persen.
SSelebihnya, 90 persen dari potensi otak tidak digunakan. Tak pelak, jika hanya sebagian kecil orang yang bisa sukses. Sebagian besar yang lain; hidup tak menguntungkan. Padahal, jika potensi otak itu dikelola dengan baik dapat melahirkan letupan kreativitas yang luar biasa dan bisa mengantarkan orang meraih sukses hidup.

Sengatan untuk memanfaatkan potensi otak guna meningkatkan kreativitas itulah yang digelindingkan Peng Kheng Sun dalam buku The Power of Creativity: Mengubah yang Terbatas Menjadi Tak Terbatas ini. Peng Kheng Sun tidak menepis, bahwa kreativitas itu dapat dipelajari, dilatih dan dikembangkan. Apalagi, setiap orang --menurut Kheng Sun-- sejak lahir sudah dianugerahi secuil kreativitas. Tapi, sayangnya seiring perjalanan waktu kreativitas itu tertimbun bahkan tenggelam karena berbagai faktor. Maka lewat buku ini Kheng Sun coba membakar api kesadaaran pembaca bahwa untuk meraih sukses, tidak ada jalan lain kecuali harus menjadi manusia yang kreatif. Tidak dapat disangkal, jika kreativitas itulah yang akan mengantarkan seseorang bisa berhasil dan sukses menjalani hidup.

Terbukti, orang-orang yang sukses dan yang dicatat sejarah adalah orang-orang yang kreatif. Sebut misalnya Vaust (yang bisa membuat parasut berkat sketsa Leonardo da Vinci), Johann Gutenberg (penemu mesin cetak), Marconi (penemu radio transistor), Wright bersaudara (penemu pesawat terbang), Isaac Newton (penemu teori gravitasi setelah kejatuhan apel di kepala). Maka, bagi Peng Kheng Sun (yang pernah menjadi dosen di STIMIK AKI Pati ini) meneguhkan, "semakin kreatif seseorang, maka perluang untuk sukses terbentang". Pasalnya, setiap sendi kehidupan, butuh sentuhan kreativitas.

Tentu, untuk bisa memanfaatkan kreativitas itu secara maksimal dibutuhkan kerja keras, latihan dan proses belajar yang tiada henti. Hal itu tak lain karena kreativitas perlu ditingkatkan dengan cara memelihara cara ingin tahu (untuk terus belajar), mencoba hal baru (bereskperimen), bersikap positif (terbuka dengan pendapat orang lain juga mengembangkan lebih jauh) dan berani menghadapi resiko. Dengan cara seperti itu, maka kreativitas akan terasah dan ide-ide segar bisa muncul hingga mengantarkan seseorang meraih sukses hidup.

Tapi ketika kreativitas itu sudah ditemukan, tetap masih perlu dipelihara dengan baik. Karena zaman terus bergerak dan tanpa mengikuti perkembangan zaman, seseorang bisa akan tertinggal. Maka, cara memelihara kreativitas itu tetap terpelihara dan menemukan kemajuan tidak lain adalah dengan terus membaca (untuk menyerap informasi dan pengetahuan baru untuk santapan otak, kemudian diolah menjadi sebuah gagasan dan ide), mencatat (karena dengan mencatat itu, informasi dan pengetahuan akan tetap terjaga), meningkatkan keahlian (dalam segala bidang) dan memiliki motovasi (untuk terus maju).

Dengan terus meningkatkan dan tetap memelihara krativitas, tidak disangsikan lagi, jika seseorang ditimpa masalah: seperti terkena PHK, terjangkit penyakit, akan bisa mengatasi dengan baik. Dengan kata lain, orang yang memiliki kreativitas akan bisa mengatasi berbagai masalah yang datang dan ia tidak diombang-ambingkan oleh ujian hidup. Karena Tuhan menganugerahi kreativitas, tidak lain menjadi bekal bagi orang yang mau maju dan hidup sukses. Dengan memanfaatkan anugerah Tuhan berupa kreativitas itu, maka masa depan bisa terbentang di depan mata.

Tak disangsikan, bahwa buku ini ibarat sebuah obor yang mampu memelijitkan pembaca. Karena, penulis mematikkan kesadaran bahwa untuk sukses hidup, kreativitas itu adalah pintu yang bisa mengetuk segudang masalah yang sedang melanda seseorang. Pada sisi lain, buku ini pun memiliki "pretensi" bukan sekadar menyadarkan pembaca untuk memahami konsep kreativitas (karena didengung oleh penulis bahwa kreativitas itu bisa dipelajari, dilatih dan dikembangkan) melainkan juga membuka "masa depan" pembaca karena diajak untuk memanfaatkan potensi otak secara maksimal untuk meraih kesuksesan hidup. Ironisnya, selama ini potensi otak itu sering disia-siakan dan tak dimanfaatkan dengan baik oleh banyak orang. Padahal, potensi otak itu adalah hadiah istimewa dari Tuhan yang perlu dikembangkan.

Kelebihan lain buku ini dilengkapi dengan pengalaman penulis dalam menapaki hidup. Jadi, tidak semata-mata sekumpulan teori mentah yang diseret dari langit begitu saja dan tanpa batu pijakan. Justru dengan secuil pengalaman hidup penulis yang dituturkan dalam buku, menjadikan buku ini siap diterapkan. Dan buku ini menjadi sebuah referensi dan bukti nyata dari kekuatan kreativitas. Karena, buku ini mengajarkan bagaimana kreativitas dimanfaatkan secara maksimal untuk mengantarkan siapa pun bisa menjadi sukses dalam segala bidang.***

*) N. Mursidi, blogger buku dan pekerja seni, tinggal di Jakarta

baca lebih lanjut...?

Rabu, 28 April 2010

meledakkan produktivitas

resensi ini dimuat di koran Jakarta, Rabu 28 April 2010

Judul : Beyond Productivity
Penulis : Sugeng Santoso
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Maret 2010
Tebal buku : 174 hlm.
Harga : Rp 50.000,-

TAK banyak orang yang bisa meraih sukses. Sebagian besar orang dapat dikata terhimpit kegagalan, dan merasa nyaman dengan kondisi hidup monoton, tak beranjak dari tempat yang membosankan kemudian jadi orang biasa. Kondisi itu, tentu meninggalkan pertanyaan menggelitik: mengapa sebagian kecil orang meraih sukses, bahagia dan bisa menjalankan bisnis dengan prestasi gemilang hingga mendapatkan penghasilan besar dibandingkan kebanyakan orang?

Pernyataan itu memicu Sugeng Santoso, penulis buku Beyond Productovity tersadar mencari jawaban. Setelah membaca buku dan belajar dari guru terbaik di dunia ia menemukan jawaban: pencapaian/produktivitas gemilang yang diraih orang sukses karena mereka memiliki kebiasaan, cara berpikir, dan cara bertindak yang berbeda dengan kebanyakan orang. Jadi, jika ingin meraih sukses maka tidak ada cara lain, kecuali mengikuti jalan hidup berbeda seperti yang ditempuh orang sukses.

Itulah pesan yang disampaikan Sugeng dalam buku ini. Baginya, jika orang tergerak mengubah cara berpikir, kebiasaan, cara bertindak lama, maka "secara otomatis" akan meraih sukses. Karena kesuksesan, kebahagiaan dan produktivitas itu tidak kebetulan. Jika ingin meningkatkan produktivitas (juga meraih sukses dan hidup bahagia), maka "harus" mempelajari dan mempraktekkan tentang ilmu produktivitas. Semua variable tersebut terkait dengan skill dan semua skill (atau keahlian) itu dapat dipelajari (all skills are learnable).

Tapi, hampir sebagian besar orang tidak bisa mengambil manfaat dari aktivitas belajar dan menerapkan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Tak jarang orang dihinggapi hambatan psikologis, seperti psycho sclerosis (fokus dan mencintai diri sendiri, tidak mau mendengarkan ide baru dari orang lain), merasa sudah tahu, dilanda sikap penyaring negatif (curiga orang lain tanpa alasan), tidak memiliki rencana lebih lanjut, tak sabar, tak antusias, tak terlibat 100 persen (setengah hati), tidak mau berbagi dengan mengajarkan pada orang lain. Padahal, hambatan-hambatan itu harus disingkirkan. Karena untuk dapat meningkatkan produktivitas, semua itu harus dirubah. Dengan kata lain, untuk mengubah hasil (bisa sukses), seseorang harus mengubah penyebabnya (hambatan).

Memang meledakkan produktivitas itu tidak mudah. Dibutuhkan kesadaran yang bisa mengantarkan orang paham akan kebiasaan lama, meninggalkannya dan menjalani kebiasaan baru. Dalam proses itu, ada pemisahan kebiasaan lama yang tak mendukung kesuksesan, dikondisikan ulang sampai jadi kebiasaan. Karena -menurutnya-- perbedaan orang produktif dan orang tak produktif terkadang hanya terletak pada komitmen dan kemampuan memaksakan diri untuk terus melakukan tindakan yang membawa ke arah impian yang ingin diraih (hal. 51).

Pasalnya, produktivitas itu bukan sesuatu yang dapat dilakukan sewaktu-waktu saat dibutuhkan melainkan kebiasaan. Jadi, produktivitas itu soal life management, bukan time management. Karena itulah, orang produktif memahami 2 aturan: memilih pekerjaan penting yang memberi kontribusi pendapatan besar dan jadi lebih baik. Juga, memiliki kejelasan, mengenali kemampuan (diri), mengetahui faktor penghambat di dalam diri, kreatif, fokus, berani, dan memilih pekerjaan penting, memiliki pembimbing dan memiliki hati yang mau melayani.

Orang produktif akan bisa menentukan prioritas pekerjaan mana yang harus dipilih untuk mendapatkan pendapatan besar. Karena setiap orang tidak memiliki banyak waktu mengerjakan semua hal. Jadi, harus menentukan prioritas (dari pekerjaan) berdasarkan kategori. Ukuran yang disarankan Sugeng adalah prinsip Pareto 80/20: mendapat penghasilan 80 % dari kerja 20 %. Dengan begitu, kerja yang dikerahkan tak membuang waktu tapi berpendapatan tinggi. Pekerjaan tak penting didelegasikan pada orang lain. Alhasil, pilihan itu mampu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepet, lebih baik dan bahkan lebih berkualitas. ***

*) N. Mursidi, blogger buku terbaik dalam Pesta Buku Jakarta, kini tinggal di Jakarta

baca lebih lanjut...?