....
Tampilkan postingan dengan label resensi buku sosial budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku sosial budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Ensiklopedia Selir

resensi ini dimuat di Koran Tempo, Minggu 7 April 2013

Judul buku  : Wanita Simpanan: Kontroversi Selingkuhan Tokoh-Tokoh Dunia, dari Orang Suci hingga Politisi, dari Zaman Kuno hingga Era Kini
Penulis       : Elizabeth Abbott
Penerbit    : Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan    : Pertama, Februari 2013
Tebal buku: 632 halaman
ISBN         : xxvi + 978-602-9193-26-8
Harga buku: Rp 99.900,00

WANITA simpanan, selir dan gundik begitu mudah kita temui dalam buku sejarah. Hampir setiap peradaban pada masa lalu, memiliki pembenaran bagi para pemimpin besar untuk mengambil istri lebih dari satu. Penelitian Elizabeth Abbott yang tertuang dalam buku ini menyingkap banyak tabir kehidupan tokoh-tokoh terkenal bahkan orang-orang suci yang memiliki wanita simpanan.

baca lebih lanjut...?

Sabtu, 01 September 2012

Membangun Kembali Kejayaan Bahari Indonesia

resensi buku ini dimuat di Harian Pelita, Sabtu 1 September 2012

Judul buku    : Tahun 1511 - Lima Ratus Tahun Kemudian
Penulis        : Y. Didik Heru Purnomo dkk
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan        : Pertama, Desember 2011
Tebal buku    : 276 halaman
Harga buku    : Rp. 65.000,-

INDONESIA adalah negeri yang dilimpahi dengan setumpuk anugerah kekayaan. Sebagai negeri kepulauan terbesar, Indonesia memiliki kurang lebih 17.840 pulau, dan luas wilayah lautan sebesar 5,8 juta km2 dengan panjang garis pantai 95.000 km --bahkan terpanjang kedua setelah Kanada. Tak berlebihan, jika kondisi itu menjadikan Indonesia cukup berpeluang menjadi negeri yang mampu mengeruk keuntungan besar dari lalu lintas perdagangan internasional melalui laut. Tapi Indonesia telah melupakan laut yang dianugerahkan Tuhan. Sekali pun memiliki laut yang luas, tapi Indonesia menganggap laut seperti "anak tiri" dan mencurahkan segenap pikiran ke daratan.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 12 Februari 2012

Dua Tangis demi Pabrik Setrum

resensi ini dimuat di Jawa Pos, Minggu 12 Februari 2012)

Judul buku : Dua Tangis dan Ribuan Tawa
Penulis       : Dahlan Iskan
Penerbit     : Elex Media, Jakarta
Cetakan     : Pertama, November 2011
Tebal buku : 364 halaman
Harga        : Rp. 64.800,-

SETELAH dipanggil presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk dipercaya sebagai menteri BUMN, Dahlan Iskan tiba-tiba menitikkan air mata di hadapan wartawan. Ketika ia memberikan keterangan pres di depan kantor Presiden, ia seperti tak kuasa menahan sedih yang menggumpal di hati. Tentu, kesedihan Dahlan Iskan mengundang tanda tanya. Ada apa ia menangis? Apa terharu atau benar-benar sedih? Tidak lama kemudian, segumpal rasa penasaran itu pun terjawab. Dahlan Iskan mengaku sedih, lantaran ia harus meninggalkan PLN. Padahal, waktu itu ia --dan seluruh jajaran PLN-- sedang bersemangat bekerja demi memajukan PLN.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 22 Januari 2012

Mengungkap Fakta Pohon Ganja

resensi buku ini dimuat di Bisnis Indonesia Minggu 22 Januari 2012

Judul     : Hikayat Pohon Ganja; 12000 Tahun Menyuburkan Peradaban Manusia
Penulis  : Tim LGN
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2011
Tebal     : 386 halaman
Harga    : Rp. 75,000

Benarkah pohon ganja itu merupakan tanaman "terkutuk" yang harus dijauhi? Sebagian besar orang,  pasti akan menjawab “ya” disertai dengan anggukkan kepala. Sebab, pemerintah memang telah menetapkan ganja sebagai "tanaman terlarang". Bahkan, institusi agama pun pernah dengan tegas mengutuk tanaman ganja -atau ganjika dalam bahasa Sansekerta- lantaran dikatergorikan pohon haram –barang memabukkan, dan dapat merusak generasi muda. Lebih dari itu, tanaman ganja pun digembor-gemborkan secara negatif oleh beberapa lembaga penelitian.

baca lebih lanjut...?

Kamis, 05 Maret 2009

Cara Picik Meraih dan Mempertahankan Kekuasaan

Resensi buku

Judul buku : Il Principle (Sang Pengeran)
Penulis : Nicollo Machiavelli
Penerbit : Narasi, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal buku : 184 halaman

KEKUASAAN itu bisa diibaratkan serupa emas. Ia menyilaukan mata siapa pun, dan mengundang orang terpikat untuk merengkuhnya. Wajar sebagian orang seperti terhipnotis ingin meraih empuknya kursi kekuasaan. Tapi ironisnya, demi kekuasaan itu sebagian orang kadang gelap mata. Maka, untuk meraihnya, tak jarang ia buta, tak memiliki belas kasihan juga tuntunan agama dan iman. Ujungnya, dia menghalalkan segala cara. Tidak salah, kalau sejarah dunia tidak pernah sepi dari kisah-kisah penguasa yang beringas dan tiran. Padahal dibalik tindakan itu --tak lain-- hanya untuk merengkuh dan mempertahankan kekuasaan semata.

Tetapi bagi Nicollo Machiavelli, meski tindakan kejam itu tidak dapat digolongkan sebagai tindakan bermoral dan memiliki agama, namun dapat memberikan kekuatan. Dengan kata lain, kekuatan itu dibutuhkan pangeran, jika dia ingin meraih dan mempertahankan kekuasaan. Di mata Machiavelli, orang bisa jadi pengeran dalam sebuah negera kerajaan lantaran ia diberkahi dengan keberuntungan. Sebab dalam negara kerajaan, orang bisa diangkat jadi pengeran berdasarkan keturunan. Tapi, tanpa didukung kemampuan, jelas keberuntungan itu pasti sirna. Keberuntungan tidak cukup tanpa ditopang kemampuan besar, genius, tahu bagaimana cara memimpin, bertahan dan bertindak demi mempertahankan kekuasaan itu.

Kisah kesuksesan pemimpin-pemimpin besar, seperti Musa, Cyrus, Romulus dan Theseus adalah satu contoh para pangeran yang diberkahi keberuntungan, dan kemampuan besar. Kalau semata sekadar mengandalkan keberuntungan, tentunya bisa berakhir lain. Cesare Borgia (Duke Velentine) misalnya. Awalnya, Cesare menduduki dudukan berkat pengaruh ayahnya. Tapi kemudian dia kehilangan kekuasaan ketika pengaruh ayahnya tak lagi bertahan. Padahal, dia sebenarnya bisa jadi satu contoh jika dia tak melakukan satu tindakan buruk terkait pengangkatan Paus Julius II. Rupanya ia telah melakukan tindakan salah. Meski ia sebenarnya bisa menghalangi diangkatnya paus yang tak ia kehendaki, tapi itu tidak dia lakukan.

Selain didukung dengan kemampuan dan keberuntungan, Nicollo Machiavelli melihat seseorang bisa menjadi pangeran dengan cara lain, bahkan untuk sebuah negara republik. Pertama, dengan cara yang licik serta penuh tipu muslihat. Kedua, berkat bantuan teman-temannya warga sipil. Agatholes sebelum menjadi raja Syracuse bukan hanya berasal dari kalangan rendah, bahkan hina. Keberhasilan Agatholes, di mata Machiavelli, tidak semata ditopang kebertungan; bukan berkat bantuan siapa pun melainkan kekuatan pasukan militernya yang dikembangkan melalui kerja keras bahkan jerih payahnya sendiri dan ketika ia menduduki posisi pangeran ia dapat mempertahankan posisinya --setelah itu-- dengan sebuah keberanian; membunuh sahabat seperjuangan, mengkhianati teman-teman sendiri, tidak memiliki iman, tak memiliki rasa kasihan, juga tak memiliki agama (hal. 67).

Bagi Machiavelli, memang semua itu tidak dapat digolongkan bermoral tapi metode itu dapat memberi kekuatan, sekali pun juga tidak mengantarkan pada kemuliaan. Setali tiga uang dengan cara yang ditempuh Agatholes, dapat disebutkan Oliverotto da Fermo. Dia membunuh Giovanni, dan setelah itu menangkap para pejabat kemudian mengangkat dirinya sebagai raja.

Setelah para pengeran meraih kekuasaan, lantas bagaimana para pangeran itu mempertahankan kekuasaan yang diduduki? Dengan pondasi undang-undang serta pertahanan pasukan yang bagus. Tetapi lebih penting dari itu, menurut Machiavelli, penguasa harus membangun sebuah kesan dicintai, dan ditakuti di mata rakyat. Tetapi, lantaran dua hal itu sulit berjalan berbarengan maka Machiavelli merasa lebih aman apabila sang pengeran ditakuti daripada dicintai. Pasalnya manusia (rakyat) tak segan-segan membela yang ditakuti daripada yang dicintai karena rasa cinta diikat tali kewajiban, tapi rasa takut dipertahankan hukuman menakutkan yang tidak pernah gagal (hal. 119).

Machiavelli memandang, sekali pun sang pengeran itu kejam, ditakuti bahkan tidak dicintai oleh rakyatnya, tetapi jangan pernah sang pengeran menimbulkan "kebencian" di hati rakyat. Karena tujuan pangeran tak lain kecuali berusaha menguasai dan mempertahankan kekuasaan, dan tindakannya itu harus selalu dianggap terhormat bahkan terpuji. Maka, pangeran harus menghidari untuk dibenci dan dihina. Adapun bagaimana agar ia tak dibenci dan dipandang hina, tidak ada cara lain ia harus tegas berpendirian, berani dan kuat.

Lantaran buku Il Principle ini dengan gamblang dan jujur mengumbar rencana dan cara busuk bagi para pengeran dan penguasa dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan maka buku yang ditulis oleh Nicollo Machiavelli ini sering disebut-sebut sebagai buku kontroversial. Ditulis tahun 1513, buku ini semula dihadiahkan Machiavelli kepada "keluarga Medici" yang telah kembali ke atas tahta setelah sebelumnya harus terusir dari Florence. Ceritanya, saat republik Florence digulingkan dan keluarga Medici kembali berkuasa, Machiavelli sempat ditangkap atas tuduhan berkomplot. Tetapi ia bersikeras mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah dan kemudian dibebaskan.

Tidak lama kemudian Machiavelli pensiun dan mengasingkan diri di sebuah perkebunan kecil, di daerah Casciano untuk menulis buku Il Principle ini dan kemudian mempersembahkan pada keluarga Medici. Tapi, Machiavelli tak pernah membayangkan, jika buku karyanya ini kemudian justru menjadi semacam kitab suci bagi para diktator. Dalam buku ini, ia dengan detail menjelaskan metode-metode yang diterapkan para pangeran yang pernah berkuasa dalam sejarah, tapi menganalisis kelemahan dan kelebihan dari para pangeran itu untuk kemudian dijadikan pelajaran bagi para diktator agar tidak bisa ditumbangkan.

Tak pelak, jika buku ini pun disebut oleh Michael H. Hart (penulis buku The 100 a Ranking of The Most Influence Persons in History) sebagai buku pedoman para diktator. Pasalnya, pengarang buku Il Principle ini mengajarkan para pangeran untuk bertindak kejam bahkan beringas demi meraih dan mempertahankan kekuasaan, sekali pun hal itu tidak mengantarkan pada kemuliaan. ***

*) N. Mursidi, alumnus Filsafat UIN, Yogyakarta.

baca lebih lanjut...?

Jumat, 02 November 2007

Pemikiran Kritis Aried Budiman

(resensi ini dimuat di Sinar Harapan, Sabtu 24 Feb 07)


Judul: Kebebasan, Negara, Pembangunan
Penulis : Arief Budiman
Penerbit : Kerjasama Pustaka Alvabet dan Freedom Institute
Cetakan : Pertama, Agustus 2006
Tebal buku: xiii + 446 halaman


Intelektual sejati, kerap diibaratkan seperti begawan yang hidup di atas menara gading. Ia tak terikat, netral dan tak memiliki kepentingan dalam berpihak. Tapi jika kemudian ia harus berpihak, dia akan punya tanggung jawab moral memihak kebenaran dan keadilan. Dengan tanggung jawab itu, tidak pantas seorang intelektual harus "dicekam" rasa takut untuk bersuara lantang. Dengan kata lain, seorang intelektual harus berani dan bersikap kritis.

Sebagai intelektual bahkan juga aktivis, Arief Budiman tahu tentang tanggung jawab itu. Ia tak berpaling, tak mau dikungkung oleh kekuasaan, berkiblat keadilan serta teguh memegang "prinsip kebenaran". Dilahirkan dari sebuah keluarga minoritas Cina yang mengalami diskriminasi, juga sempat mengalami hidup pahit pada zaman otoritarianisme Soekarno (1959-1965) dan Soeharto (1965-1998), ternyata kungkungan itu membawa Arief menyadari akan pentingnya arti kebebasan manusia—dalam hubungannya dengan negara-- sebagai persoalan krusial. Tak berlebihan, setelah ia menjadi ilmuwan, ia pun menicita-citakan adanya kebebasan di negeri ini

Bertolak dari teori struktural, kakak kandung Soe Hok Gie ini mencita-citakan "kebebasan" manusia dalam bangunan masyarakat madani (civil society) tatkala berhadapan dengan negara.

Dalam konsep ini, Ketua Program Indonesia pada Melbourne University ini melihat masyarakat madani akan menjadi balance karena hal itu berperan sebagai mitra yang kritis. Dengan teori struktural itu pula, ia lantas mengkritisi pola pembangunan negara ketiga (sebagaimana Indonesia) dalam kaitannya dengan proyek pengentasan kemiskinan.

Ia tidak setuju dengan pendekatan universal yang didengungkan oleh pendukung teori modernisasi yang melihat akar masalah kemiskinan negara ketiga, disebabkan karena ketertinggalan negara itu sendiri (faktor inherent) sehingga jawaban yang tepat adalah memodernisasi negara yang bersangkutan.

Menurut Arief, akar masalah kemiskinan adalah ketergantungan pada negara maju, campur tangan dari luar (negara-negara kapitalis) sehingga kemudian "menghalangi" kemajuan negara berkembang. Dengan perspektif itu, Arief lantas mengajukan pendekatan lain karena setiap negara itu—menurutnya—memiliki keunikan sendiri dan ciri khas yang tidak bisa digebyah-uyah atau disamakan.

Tak pelak lagi, karena teori Arief dianggap beraroma kiri (Marxis), pandangan Arief itu mendapat serangan dari sejumlah intelektual, seperti Ignas Kleden, Amin Rais, M. Dawam Rahadjo, Mochtar Pabottingi, Adi Sasono, Hidayat Nataatmaja, Sritua Arief, dan Soedjatmoko. Dapat dimaklumi jika mereka menuduh Arief cenderung kiri atau sosialis.

Pasalnya, teori ketergantungan yang disempal dari varian teori struktural itu adalah hasil adopsi dari pandangan liberal dan sosialis (Raul Prebisch dan Paul Baran).

Kendati demikian, karakter "pemikiran kritis" Arief tidak dapat dikata lemah. Arief justru memiliki konsistensi yang kokoh dalam mengemukakan argumentasi dan bahkan teguh dalam memegang prinsip.

Sebagai ilmuwan sosial, ia berperan besar mengenalkan teori struktural ini setelah dia pulang studi dari Harvard. Sebelum itu ia lebih konsens menggulirkan isu seputar seni-budaya, sosial-politik dan psikologi. Pertengahan tahun 1980-an, ia bahkan sempat menggulirkan isu tentang polemik sastra kontekstual.

Konsep yang digelindingkan ini sebagai bentuk penolakan terhadap universalisme sastra yang menilai setiap orang memiliki "citra rasa" yang sama dalam mengapresiasi sastra. Padahal setiap orang, daerah dan zaman, menurutnya, punya nilai-nilai sendiri yang tidak bisa disamakan. Karena itu, sastra universal, baginya, kehilangan arti dan tidak lagi menjadi patokan umum.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Arief Budiman (dari makalah, tulisan pengantar untuk buku dan artikel yang bersebaran di sejumlah media massa) dalam rentang waktu tahun 1965 sampai 2005. Tidak salah, jika buku ini memiliki tema yang luas, bahkan kadang tidak saling terkait. Buku ini ditulis dalam konteks waktu tertentu dan dalam kasus yang kebetulan mencuat saat tulisan itu ditulis.

Di antara tema yang diangkat, antara lain adalah masalah politik, filsafat, sosial, budaya, seni dan psikologi. Bisa dimaklumi kalau kemudian tulisan dalam buku ini tidak membangun konfigurasi pemikiran Arief secara utuh sebagaimana dalam buku Arief yang lain; Negara dan Pembangunan (1991) Teori Negara: Negara, Kekuasaan dan Ideologi (1997) dan Teori Pembangunan Negara Ketiga (1995).

Kendati mengangkat tema beragam, buku ini masih bisa dibaca sebagai sebuah kaledioskop pemikiran kritis Arief Budiman. Karena garis besar buku ini masih tak jauh dari tiga tema besar yang selama ini jadi perhatiannya; kebebasan, negara, dan pembangunan.

Mungkin kalau pun ada kelemahan, dapat dikata buku ini tidak lagi memiliki kontekstualisasi untuk sekarang ini. Walau begitu, kerangka "teori struktural" yang dijadikan pijakan Arief tetap menjadi semacam kunci yang bisa dijadikan alat dalam mengamati negeri ini sampai detik ini. n

*) Penulis adalah alumnus Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

baca lebih lanjut...?

Kejahatan Jurnalisme Media AS

(resensi ini dimuat di Suara Merdeka, Minggu 11 Feb 07)

Judul buku: Dosa-dosa Media Amerika
Penulis : Jerry D. Gray
Penerbit : Ufuk Press, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal buku : xxviii + 251 hlm

DI tengah kemajuan teknologi dan sains seperti sekarang ini, keberadaan media --entah itu televisi, radio dan koran-- nyaris bak sebuah jendela yang dapat membuka mata orang untuk mengenal dunia. Bagaimana tidak, dengan membaca koran atau duduk di depan tv, orang sudah bisa mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan bumi. Pendek kata, media telah menjadi semacam tas kecil yang bisa menyimpan sekaligus menumpahkan "isi" dunia.

Anehnya, setiap orang nyaris percaya bahwa kebenaran yang disajikan media adalah fakta. Padahal, tak semua media patut dijadikan jendela yang bisa dipercaya untuk melongok dunia, terlebih lagi media Amerika. Adanya kekuatan pemilik modal, dominasi kekuasaan serta kerapuhan "iman" para jurnalis, rupanya telah menggiring media di Amerika melupakan prinsip-prinsip jurnalisme. Akibatnya, media Amerika tak lebih hanya alat propaganda pemerintahan Bush.

Gambaran keberadaan media yang cuma menjadi corong Bush itulah yang kini dialami media Amerika, seperti diungkapkan Jerry D. Gray dalam buku Dosa-dosa Media Amerika ini. Jerry menguak berita-berita yang dilansir Fox News, CNN serta The Weekly Standar, tak saja telah menjadi corong Bush melainkan juga berat sebelah, bahkan mencuci otak. Lelaki muallaf kelahiran Weisbaden Jerman ini mencontohkan, dulu sebagai orang Barat, dia telah salah menilai Islam karena media Amerika telah mencitrakan umat Islam itu jahat, ekstrim dan pengacau bagi perdamaian dunia. Padahal, citra itu tak benar!

Media, menurut Jerry, sudah seharusnya menyajikan fakta atau gambar berbagai peristiwa tanpa harus diberi label interpretasi (opini). Tetapi. media AS yang memegang teguh jurnalisme, jujur dan berani mengontrol pemerintahan, kini seperti mimpi di "siang bolong". Karena itu, wajar Berstein (yang sempat bekerjasama dengan Bod Woodward mengangkat skandal Watergate dan mengakibatkan mundurnya presiden Nixon) berkomentar, "Dewasa ini, kebanyakan media telah jadi gosip, sensasional dan kontroversi yang direncanakan."

Kenapa? Jerry menilai bahwa media AS telah menjadi corong dusta pemerintah. Tak salah, bukan kebenaran yang kemudian disajikan dari berita, tapi sebuah konspirasi. Di antara skandal teori konspirasi yang disebutkan Jerry, semisal; serangan WTC 11 September 2001. Tapi, Amerika melalui kekuatan media, tanpa bukti menuduh Osamah bin Laden serta jaringan Al-Qaida sebagai 'tersangka'. Padahal, tragedi itu skandal Amerika. Pasalnya, ada investasi Silverstein yang akan mengeruk untung pasca-tragedi.

Jauh sebelum tragedi WTC, musibah Oklahoma 1995 yang menewaskan 186 orang pun telah membawa media Amerika tak lagi independent. Dengan menuduh Timothy McVeight dan Terry Nicholas sebagai pelaku, media AS masih mengaitkan kedua orang itu dengan jaringan Al-Qaida dan Irak. Juga kebohongan perdagangan opium di Afghanistan, "penyiksaan" tahanan di Abu Ghrib serta Guantanamo. Tetapi kebohongan besar dari media Amerika yang tidak bisa dinafikan adalah kasus Saddam Husein dan tuduhan AS terhadap Irak yang diduga memiliki senjata pemusnah massal. Padahal, tuduhan Bush --lewat media-- terhadap Irak itu tak terbukti.

Pemberitaan itupun tak lebih skandal untuk menjustufikasi invasi ke Irak. Dengan kata lain, Bush telah berbohong pada penduduk bumi. Karena dibalik invasi Irak itu ada maksud untuk mengeruk keuntungan minyak Irak lewat Halliburton -milik Deck Cheney- dan dendam Bush untuk menumbangkan Saddam, bukan untuk menjadikan Irak sebagai negara demokrasi.

Selain kebohongan di area politik-ekonomi, media di Amerika telah dijadikan pemerintahan Bush sebagai alat mendistorsi fakta guna mengungkapkan asal AIDS, soal fluorida, fenilpropanolamin dan aspartam. Tetapi, kenapa Media Amerika tak memberitakan yang seharusnya diberitakan? Kenapa media Amerika tidak menyampaikan kebenaran dan Persatuan Pers Geduh Putih pun mati suri di bawah ketiak Bush? Karena itulah, dengan sejumlah kebohongan tersebut, Jerry --mantan US Air Force dan wartawan Metro TV & CNBC Asia-- berpendapat bahwa dunia, kini penuh dengan kebohongan. Karena media yang seharusnya membawa kebenaran telah menjadi corong penguasa, memelintir, berat sebelah dan mencuci otak.

Disarikan dari "data dan fakta-fakta" yang disarikan Jerry dari internet, buku ini memang bukan hasil investigasi. Tetapi, buku ini tetap memiliki bobot serta keakuratan data yang bisa dilacak dan diverifikasi. Sayang, di dalam mengungkap fakta kebohongan media AS, Jerry -yang dikenal pula sebagai master instruktur selam- kurang memberikan balance keberadaan media-media lain di Amerika yang tidak jadi corong Bush. Jika buku ini ada balance seperti itu, maka kekuatan dari sibakan Jerry jelas akan lebih menarik dan tak hitam-putih meski hampir seluruh umat dunia paham bahwa media AS berat sebelah dan menerapkan standart ganda dalam melihat negara yang berpenduduk muslim.

Kendati demikian, kehadiran buku ini telah membuka mata pembaca untuk mengetahui dusta media Amerika sekaligus belang pemerintahan Bush. Karena, Amerika yang selama ini dikenal sebagai negara demokratis ternyata memiliki karakter busuk dan menjadikan media sebagai "alat propaganda" belaka untuk menipu penduduk dunia.***

*) N. Mursidi, alumnus Filsafat UIN, Yogyakarta.

baca lebih lanjut...?

Jumat, 26 Oktober 2007

Menggapai Kesadaran Spiritualitas Lewat Seks

resensi buku

Judul buku : Sexual Quotient: Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra
Penulis : Anand Krishna
Penerbit : One Earth Media, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2006
Tebal buku : viii + 106 halaman


SILANG pendapat kebanyakan orang dalam melihat persoalan seks, setidaknya membangun konfigurasi pemikiran yang dapat dikata amat paradoks. Pada satu pihak, orang berpandangan seks itu tak lain sebagai sebuah wilayah pelampiasan nafsu dan untuk mencapai kenikmatan serta kesenangan belaka. Sedang pada pihak yang lain, orang menganggap seks itu sebagai hal yang menjijikkan, porno dan bahkan "dosa". Karena itu, seks harus dijauhi. Pun, tidak patut dibicarakan di tempat umum.

Padahal, seks itu adalah hal alamiah yang sudah dianugrahkan Tuhan kepada setiap manusia sejak lahir untuk kelangsungan hidup umat manusia di dunia. Maka mau tak mau, seks pun harus diakui sebagai bagian inherent manusia yang tidak bisa dinafikan. Tapi sayangnya, orang sering salah dalam memandang dan memaknai seks.

Kesalahpahaman orang dalam memaknai seks itulah yang coba diluruskan Anand dalam buku terbarunya Sexual Quotient: Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra ini. Dengan menggali "nilai-nilai" filosofis dari ajaran Kamasutra dan Tantra, Anand --pendiri Komunitas Lintas Agama Anand Ashram-- memberi pemaknaan baru atas seks yang menurutnya layak ditempatkan pada ruang privat yang benar. Dengan kata lain, seks tak dirayakan demi sebuah kenikmatan semata, juga tidak dianggap sebagai hal yang tabu.

Bagi pria keturunan India yang lahir di Solo pada 1956 ini, seks justru bisa menjadi sarana untuk mencapai "anak tangga" kesadaran yang lebih tinggi, bukan semata-mata urusan di atas ranjang. Dengan "menafsirkan" teks Kamasutra, Anand mengajarkan bahwa seks itu dapat menjadi anak tangga pertama dalam mengenali jati diri. Dibalik aktivitas seks ada energi yang bisa diolah. Dari nafsu, seks diolah jadi cinta, dan cinta itu kemudian diolah jadi kasih. Akhirnya, aktivitas seks pun tidak sekadar sebuah persenggamaan yang dimaksudkan demi kenikamatan semata melainkan juga memberi kepuasan bagi pasangan dan sekaligus menjinakkan sifat hewani.

Kalau dalam Kamasutra, seks menjadi anak pertama untuk mengenali jati diri, dalam Tantra seks lebih jauh ditempatkan sebagai anak tangga mencapai kesadaran spiritual. Seks tak sekedar jadi ritual sepasang dua anak manusia yang berpadu, tapi saling mengasihani dan diniatkan sebagai bentuk persembahan. Caranya, seks dijadikan sebagai wadah "melting hug" (melebur) guna memasuki wilayah kasih, sekaligus sebagai bentuk persembahan dan menjadi bagian dari alam.

Kesadaran itu tak mengajarkan kenikmatan sesaat karena seks akan menjadi persetubuhan yang menghasilkan kebahagiaan yang telah mengikutsertakan lapisan psikis. Jadinya, kenikmatan yang didapat tidak bersifat semu, tetapi sebuah kebahagiaan yang tak terkatakan. Suatu kebahagiaan yang menghantar "dua jiwa" mencapai kesadaran spiritual, menyatu dengan alam karena seks dimaksudkan sebagai persembahan.

Sungguh luar biasa! Karena, seks yang selama ini dilakukan dengan telanjang ternyata bisa mengantarkan sepasang manusia mencapai kesadaran. Berbeda dengan seks yang dilakukan demi suatu kenikmatan sesaat, seks yang dilakukan dengan niat persembahan akan membawa pada puncak "kasih". Sebuah spiritual dan kehidupan dalam ketenangan karena ia telah memberikan sesuatu yang bermakna pada kehidupan di atas ranjang.

Apa yang dipaparkan Anand dalam buku ini memang bukan hal baru karena tidak lebih dari tafsir Anand atas ajaran Kamasutra dan Tantra. Hanya, Anand melaburi ajaran dalam buku ini dengan hal yang menyegarkan dan meretas pengertian baru yang digali dari seks. Tidak salah, kalau buku ini oleh Anand diberi titel Sexual Quotient. Karena, selama ini orang hanya mengenal IQ, EQ, SQ serta ESQ, sementara itu orang tak pernah menyangka jika ritual seks yang layak ternyata bisa menjadikan seseorang bisa beradab dan mencapai kesadaran spiritual.

Dalam buku ini, ada pesan penulis yang layak dicatat bahwa urusan seks bisa jadi "cermin" dari kehidupan seseorang. "Urusi dulu selangkanganmu, jika itu beres maka banyak masalah yang akan teratasi," demikian kata Vadsayana dalam Kamasutra. Dengan petuah itu, Anand yakin kalau kehidupan seks seseorang itu layak uji, maka ia akan menjadi orang yang berprilaku baik, tak munafik dan tidak dikuasai nafsu. Sebab "ritual seks" yang dilakukan dengan semangat persembahan akan mengantarkan manusia hidup beradab.

Buku yang secara "teknis" ini merupakan kelanjutan dari buku Jalan Kesempurnaan Melalui Kamasutra dilengkapi teknik-teknik dan latihan-latihan dalam menjalani ritual seks demi persembahan, yang bisa menuntut pembaca menjadi manusia berkesadaran dan bukan jadi binatang. Karena baginya, menempatkan seks demi kenikmatan dan menjauhinya adalah kekerdilan dikarenakan seks itu memiliki potensi yang bisa meningkatkan kesadaran spiritual seseorang.***

*) n_mursidi, alumnus Filsafat UIN, Yogya. E-mail: n_mursidi@plasa.com

baca lebih lanjut...?

Minggu, 16 September 2007

Menolak Ambiguitas Acara Televisi

resensi buku

Judul buku : Menolak nonton TV
Penulis : Kun Sri Budiasih
Penerbit : Dar Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, 2005
Tebal buku : 192 halaman

TELEVISI -diakui atau tidak- merupakan kotak ajaib yang membuat kita terhipnotis. Tak salah saat kita berada di depan layar televisi, kita seakan lupa waktu. Apalagi setelah di negeri ini lahir stasiun TV swasta yang tidak kurang 15 chanel. Televisi, kemudian menjadi sahabat atau teman yang menemani kita di kala duka dan suka. Bagaimana tidak? Dari pagi sampai malam, TV hadir untuk menghibur dan memberi sajian menarik seperti film, berita, pengetahuan, dan seabrek acara hiburan.

Tetapi, tak dapat diingkari dari siaran yang disajikan TV itu, sungguh bersifat ambigu. Sebab, di satu sisi, TV memang sebuah "jendela pengetahuan" karena dari berita dan informasi yang dibeberkan bisa membuat kita mengetahui dunia. Bayangkan saja, peristiwa yang terjadi di negara lain, ketika itu juga bisa kita ketahui dari layar kaca. Sementara pada sisi lain, televisi --tidak bisa dibantah lagi-- adalah kotak dungu yang membuat kita jadi bodoh. Sebab, tak jarang acara yang disajikan kerap diwarnai kekerasan, seks dan pornografi yang tidak membawa pengalaman baru atau hal baru.

Tak salah, jika "ambuguitas" siaran televisi itu kemudian mengundang kecaman sekaligus "pujian". TV digandrugi sekaligus dicaci maki. TV dikutuk sekaligus disenangi. Dari situlah, sangat beralasan kalau kemudian mengundang rasa prihatin banyak pihak. Sebab, dampak dari tanyangan TV tak bisa dibantah bisa meracuni anak-anak karena tak sedikit acara yang ditayangkan memang "tak mendidik". Apalagi, jika hal itu ditilik dari segi moral dan agama.

Buku Menolak Nonton TV karya Kun Sri Budiarsih ini lahir dari adanya rasa keprihatinan itu. Sebab di mata penulis meski TV memberikan pengetahuan, di sisi lain juga memiliki "dampak buruk". Ditulis oleh seorang yang memiliki rasa peduli dan keprihatinan mendalam akan dampak tayangan TV dengan memakai sudut pandang etika, penulis mengajak pembaca untuk kritis "memilih acara" yang disajikan. Selain itu, penulis memperlakukan TV bukanlah sebagai dewa, melainkan tak lebih sebagai tontonan yang sekaligus juga tuntunan (dakwah).

Pada awal sejarahnya, kehadiran TV memang dimaksudkan sebagai media komunikasi. Tak salah jika dari telusuran penulis tentang "sejarah televisi" ditemukan bahwa lahirnya TV memang didesain untuk media berkomunikasi. Bahkan sebelum ada TV, dulunya orang melakukan komunikasi menggunakan "bahasa asap" (bangsa India), obor (bangsa Romawi), memukul genderang (bangsa Afrika) dan kentongan (bangsa Indonesia). Lalu dengan berkembangnya zaman, ditemukanlah radio.

Tetapi, kehadiran radio itu diterpa tampilan visual TV yang ditemukan sekitar tahun 1930-an. Kendati demikian, stasiun TV percobaan yang dibuat di Amerika baru bisa beroperasi 4 tahun kemudian. Bahkan ketika perang dunia II (1942) meletus, stasiun TV itu terhambat lagi, karena Jepang menyerang Pearl Harbour dan baru tahun 1945 stasiun TV itu kembali "tayang" dan sejak itulah keberadaan radio digeser kekuasaan siaran TV.

Sementara, di negeri kita kelahiran televisi terjadi tahun 1962. Saat itu, baru lahir stasiun TVRI. Lalu sekitar tahun 1980-an, berkibar stasiun TV swasta dan kian tahun bertambah dan kini tak kurang dari 15 stasiun TV swasta yang mengudara. Anehnya, semakin banyak stasiun TV swasta yang siaran, justru menu acara yang disajikan ternyata tak proporsional. Sebab, di mata penulis, banyak sajian yang selain tidak tepat waktu "jam" tayangnya, juga tak jarang kurang mendidik, sehingga tak ubahnya menjadi racun.

Dari bermacam acara yang bersifat tak mendidik itu, Kun menyebutkan semisal; Dunia Lain, Kisah Misteri, Hantu dan acara yang menjadikan perempuan sebagai "obyek eksploitasi". Juga, acara gosip (seperti KISS), dan kriminal (semisal PATROLI, SERGAP, BIDIK, LACAK dan TKP). Sedang, untuk acara dialog keluarga, kesehatan dan mengelola rumah tangga boleh dikata minim.

Tak salah lagi jika penulis berang atas sajian yang tak proporsional itu. Sebab di mata Kun, sajian TV boleh dikata memenuhi standart dan memberi tauladan hanyalah saat bulan Ramadhan. Di bulan itu, TV menyadari pentingnya proporsi rohani, pendidikan dan dakwah. Sebut misalnya, sinetron "Jalan Lain ke Sana", "PadaMU Kubersimpuh", feature semisal Jazirah Nabi (TransTV) yang dapat "membuka" mata kita akan dunia Islam di masa lalu, meski masih juga ada beberapa tayangan yang tetap kurang layak seperti Variety Show.

Sebab, menurut penulis buku ini, televisi tetap tidak bisa lepas dari 6 prinsip untuk menjaga keseimbangan dalam memberikan informasi dan hiburan. Adapun 6 prinsip itu, pertama adalah jujur. Anehnya, banyak "sajian hiburan" gosip artis yang ditayangkan sekadar mencari sensasi. Kedua, tepat sasaran. Di sini Kun menyadari kalau banyak acara yang ternyata tidak tepat. Ketiga, bersifat obyektif. Di sini, penyampaian informasi dan berita harus obyektif dan tidak memihak. Keempat, dengan menggunakan bahasa mulia. Tapi kita sering mendengar bahasa yang digunakan para pembawa acara, kerap tak sopan. Kelima, mengajak kebaikan dan yang keenam, adalah memilih kata-kata yang baik dalam menyampaikannya.

Jika kita mau memegang enam prinsip itu, bukan saja telah menjadikan tameng diri untuk memilih acara mana yang perlu ditonton dan acara mana yang perlu diacuhkan, tetapi juga bisa kritis. Karena itu, buku ini harus diakui memiliki misi agung mengingat penulis mengajak kita bijak dalam memilih acara TV yang baik. Lebih dari itu, kita juga tak akan terhipnotis serta menjadikan TV seperti dewa.

Hanya saja, buku ini ditulis dengan cara sederhana dan tanpa didukung dengan kelengkapan referensi memadai. Tak salah, kalau kita tidak menemukan "daftar pustaka" di akhir buku ini, meski penulis tetap memakai rujukan tak seberapa banyak. Lebih dari itu, penulis dalam memberikan ulasan dan analisis juga kurang karena kering teori ilmu komunikasi dan pertelevisian.

Kendati demikian, sudut pandang yang dipakai penulis dengan memakai etika dan agama sebagai pijakan tak bisa dipungkiri justru memiliki kelebihan sebab bisa membuat kita sadar pentingnya moral di tengah gejolak zaman adalah keniscayaan. Tentunya, agar kita tak buta hati dan jiwa.***

*) Nur Mursidi, alumnus Filsafat UIN, Yogyakarta. Kini, jadi wartawan majalah Hidayah.

baca lebih lanjut...?

Selasa, 11 September 2007

Mengajak Remaja Kritis Nonton

(Resensi ini dimuat di Solo Pos, 13 Februari 2005)


Judul buku : Remaja Doyan Nonton; Why Not?
Penulis : Ekky Al-Malaky
Penerbit : Dar Mizan! Bandung
Catakan : Pertama, 2004
Tebal buku : 144 halaman

FILM sebagai satu hiburan -tak pelak lagi- sudah merupakan hal yang tak asing bagi masyarakat, terutama kaum remaja. Bahkan dapat dikata, hampir semua remaja doyan nonton film. Itu terbukti, dengan fenomena semarak dunia film Indonesia yang akhir-akhir ini diputar di gedung-gedung bioskop, selain selalu dipenuhi penonton kaum remaja, juga telah menjadi tonggak kebangkitan film nasional. Sebut misalnya; film Ada Apa dengan Cinta, Eiffel... I'm in Love, Cinta 24 Karat, 30 Hari Mencari Cinta, Mengejar Matahari dan satu film yang baru-baru ini jadi polemik, Buruan Cium Gue.

Tidaklah salah jika Garin Nugroho menilai kalau remaja sebagai "raja penonton" dalam dunia menonton film nasional. Itu karena, kaum remaja sudah menganggap dunia film adalah hiburan dan sosok yang omnipresent. Tapi sayang seribu sayang, ternyata banyak di antara kalangan remaja ternyata seringkali berbondong-bondong pergi ke bioskop lebih sebagai hiburan dan terpesona pada sosok sang bintang pujaan serta sekedar ikut-ikutan teman. Dengan kata lain, mereka jarang sekali mau mengapresiasi untuk mencari pelajaran dari "pesan" yang disampaikan, apalagi untuk memperkaya siraman batin demi merengkuh satu pencerahan.

Untuk itu, Ekky Al-Malaky (penulis buku Remaja Doyan Filsafat: Why Not?) sangat menyanyangkan akan hal itu. Tak pelak, kalau buku Remaja Doyan Nonton; Why Not? ini ditulis oleh Ekky untuk menyapa kaum remaja agar saat nonton film, mereka tidak sekadar mencari hiburan belaka, melainkan menonton dengan nilai lebih dengan jalan mencari "hikmah", pelajaran dan bahkan untuk pencerahan batin. Sebab di balik "pemutaran" film, menurut Ekky, ada sesuatu yang sebenarnya bisa diambil, diteladani dan dijadikan pelajaran untuk hidup ini. Sebab nonton film itu, dapat juga membuka pikiran dan memberikan sebuah inspirasi.

Selain itu, buku ini ditulis Ekky dikarenakan di tengah masyarakat dan keluarga Islam kerap mengeluarkan semacam fatwa larangan bagi anak-anak mereka --remaja-- untuk nonton. Alasan yang kerap dikemukakan adalah nonton itu sesuatu yang tak ada manfaatnya, sia-sia belaka, buang-buang waktu serta bisa melupakan kewajiban dan ditengarai juga -untuk film Hollywood-- merusak citra Islam dengan opini massa penyebaran ideologi sesat lewat misi tertentu (zionisme), seks bebas dan kekerasan.

Padahal pandangan yang didasarkan pada alasan di atas, menurut Ekky, belum tentu benar. Sebab film, sebagaimana dikutip Ekky dari pendapat Yusuf Qardhawi, merupakan karya cipta seni dan budaya sebagai alat komunikasi yang sangat vital untuk mengarahkan dan memberikan hiburan. Kedudukannya netral, seperti "alat atau pisau". Dengan kata lain, tergantung penggunanya. Apakah akan menggunakannya untuk jalan kebaikan atau kemaksiatan. Jadi film maupun bioskop, menurut Ekky, hukumnya halal dan baik. Status hukum film tergantung pada penggunanya --dalam hal ini dari tujuan dibuatnya film atau tujuan kita menontonnya (hal. 32).

Jadi bukan soal perkara hukum Islam atau fiqhnya, tetapi dampak yang ditimbulkannya. Malahan sebaliknya, karena film bersifat memberi hiburan dan manusia hidup di dunia butuh kesenangan, maka hal itu sudah menjadi fitrah. Sah-sah saja dan tak ada yang salah. Apalagi, jika film itu merupakan sarana dakwah, semisal dalam film diketengahkan "nilai buruk" narkoba dan perbuatan zina, maka itu merupakan amar ma'ruf nahi munkar. Karenanya, bukan langkah "bijak" dengan melarang nonton tanpa sebelumnya mengkritisi terlebih dahulu. Apalagi jika larangan nonton itu dimaklumatkan tanpa tahu isi film. Alangkah baiknya, kalau melawan karya film dengan karya film. Dengan jalan, membuat film tandingan.

Sebab, bagi Ekky, film adalah "arsip sosial" yang merekam pernyataan hidup masyarakat sesuai dengan waktu dan tempatnya. Tak salah, jika di balik tanyangan film pastilah ada yang bisa direngkuh dari pesan yang disampaikan si pembuat film. Untuk itu, nonton film harus dinikmati serius, diapresiasi dan kritis. Sebab nonton film (dengan kritis) akan memperoleh banyak manfaat dan tahu pula mana yang buruk dan baik, sehingga pada akhirnya bisa menjaga diri dari pengaruh negatifnya.

Syukur-syukur, jika saat nonton bisa mengkritisi dengan menafsirkan film hingga detail sampai keseluruhan unsur film. Dengan langkah itu, lalu ditindaklanjuti dengan menulis resensi dan kritik film, tak saja mendapatkan keuntungan dengan "menggali makna" yang bermanfaat, tetapi sekaligus menolak hal-hal yang tak asyik. Bahkan lebih dari itu, menurut Ekky, kita sudah ikut berdakwah lewat tulisan (hal. 40) dan juga mendapatkan imbalan honor. Itulah yang sebenarnya dianjurkan Ekky saat dan sesudah nonton film, bukan sekedar mencari hiburan, lantas pesan film dilupakan begitu saja.

Meski buku ini tergolong tipis, namun cukup padat dan bernas penulis memberikan penjelasan tentang dunia film dan seluk beluknya. Bahkan, dalam hal sejarah film, Ekky (yang kini sedang bersiap untuk ujian tesis Jurusan Filsafat UI) malah bisa sampai detail menelisik "awal kelahiran film" sampai perkembangannya di zaman sekarang ini, termasuk sejarah perkembangan film di negeri ini. Lebih dari itu, Ekky mengungkap pula apa yang terlibat di balik film, termasuk keberadaan dan tugas sutradara, produser serta kru-kru lain.

Juga, soal sistematika tulisan buku, bisa dikata tersusun rapi, urut dan detail. Berbeda dengan buku Remaja Doyan Filsafat; Why Not yang terkesan cukup amburadul, dalam buku ini tampaknya Ekky sudah membenahi dengan cukup teliti masalah itu. Buku ini tak lagi tampil apa adanya, tapi runtut, logis, dan bahkan berbobot untuk ukuran buku, jika ditengok buku ini sasaran utama yang ingin dibidik adalah kaum remaja.

Selain itu, gaya tutur yang dipilih Ekky dengan mencomot idiom-idiom remaja dan bahasa ngepop, menjadikan buku ini tak cuma mudah dipahami, tapi juga punya daya greget yang cukup kuat untuk menggugah kepekaan kaum remaja yang doyan nonton, agar mereka tak sekedar nonton untuk mencari hiburan saja tapi nonton guna menemukan nilai lebih; "mengapresiasi film", serta terlebih lagi jika sampai pada upaya menulis resensi film atau kritik film.***

*) Nur Mursidi, cerpenis dan peminat film, tinggal di Yogyakarta.

baca lebih lanjut...?

Senin, 03 September 2007

simbiosis kiai-blater

resensi ini dimuat di majalah Tempo, edisi 30/XXXIII 20 September 2004

Judul buku: Menabur Kharisma Menuai Kuasa: Kiprah Kiai dan Blater sebagai Rezim Kembar di Madura
Penulis: Abdur Razaki
Penerbit: Pustaka Marwa, Yogyakarta
Cetatakan: Pertama, 2004
Tebal: xxvi + 214 halaman

Madura adalah koeksistensi dua kekuatan: para kiai yang punya kredibilitas religius, dan para blater (jagoan) yang menguasai dunia hitam. Madura, seperti dicitrakan sosiolog Kuntowidjojo, lebih banyak dilekatkan dengan Syaikhona Kholil, masjid, dan pesantren. Namun, buku Menabur Kharisma Menuai Kuasa: Kiprah Kiai dan Blater sebagai Dua Rezim Kembar di Madura ini memberi gambaran lebih lengkap.

Ada blater yang menyukai sabung ayam, judi, ilmu kebal, dan tak berkompromi jika sudah bertalian dengan "kehormatan diri". Dan buku itu—tesis pengarang pada Pascasarjana UGM—tidak berhenti di situ. Ia mengurai relasi kuasa kiai dan blater dalam dinamika masyarakat Madura.

Mereka dari dunia berbeda, tapi dalam praksisnya terjadi dialektika cukup rumit dan unik. Masing-masing, misalnya, mengakui kewalian Kiai Cholil berdasarkan kepentingan sendiri. Kiai mengikat batin, meruap berkah, dan memperoleh pengukuhan keulamaannya. Blater tak suka khoul, tapi suka bersemadi di makam Kiai Kholil demi kemampuan magis. Kini, pola relasi yang semula bersifat kultural itu lalu berkembang secara ekonomi-politik.

Ada kalanya koeksistensi malah saling meneguhkan. Demi perlindungan, seorang anak blater sengaja dipilih sebagai kepala sekolah agama. Wakil blater ada di dalam sekolah, tapi proses belajar-mengajar tak terusik. Pemilihan klebun (kepala desa) didominasi blater, tapi restu kiai dibutuhkan untuk menarik suara warga. Sebaliknya, kiai yang punya akses partai politik dalam pemilihan bupati juga membutuhkan beking keamanan dari blater.

Ya, di mata pengarang, hubungan keduanya simbiosis yang cukup kompleks, unik, bahkan menegangkan. Tapi, tak salah jika adanya motif ekonomi-politik telah melibatkan kiai-blater bersama-sama meraih kekuasaan dan kekayaan. Di wilayah ekonomi-politik ini, tampak kesucian kiai dilucuti. Namun, yang penting, buku ini menyenandungkan pemikiran baru atas koeksistensi kiai-blater sebagai elite sosial yang sudah mengakar di Madura

Nur Mursidi
peminat masalah sosial-keagamaan

baca lebih lanjut...?

Senin, 27 Agustus 2007

Menepis Mitos, Mengajak Berpikir Realistis

(Resensi ini dimuat di Sinar Harapan, Jumat 7 Februari 2003)


INDONESIA dalam tahun-tahun belakangan ini adalah sebuah negeri yang gelisah. Kegelisahan itu tak lain sebagai akibat dari semrawutnya tatanan kehidupan (pemerintahan) di negeri ini yang memang tak kunjung dapat terselesaikan. Krisis ekonomi masih belum pulih bahkan menjalar menjadi krisis multidimensi yang semakin akut. Sementara di sisi lain, disintegrasi telah mengancam kesatuan bangsa. Belum cukup dua masalah itu teratasi, justru diperparah lagi soal anarki hukum. Hukum yang seharusnya dijunjung tinggi telah dicabik-cabik. Supremasi hukum bukan lagi memperjuangkan kebenaran, melainkan lebih memihak pada kekuasaan (penguasa).

Sejarah Indonesia memang sudah seharusnya berubah. Tak salah jika reformasi kemudian lahir di tengah kepongahan negeri dan Soeharto harus tumbang. Namun, lahirnya reformasi yang dalam sketsa awalnya menginginkan perubahan dalam segala hal ternyata tak mampu menjadi obat mujarab dalam mengobati luka dan penyakit yang diderita bangsa ini. Reformasi pun kemudian menjadi semacam perjalanan sejarah yang tanpa arah. Karena ia tak berhasil mengubah semuanya, ia justru melahirkan orde-orde berikutnya yang tak jauh berbeda dengan cara dan gaya Orde Baru.

Buku Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas ini adalah sebuah refleksi kritis dan analisis yang cukup tajam dari Kuntowijoyo—seorang dosen, sastrawan, budayawan, kolumnis dan aktivis gerakan—atas kegelisahan negeri ini akibat kebopengan dan kepongahan tersebut. Dengan berpijak pada sejarah, pengalaman dan kesadaran (baca: akal dan nurani), Kunto membongkar berbagai kebobrokan di berbagai segi kehidupan negeri ini atas perkembangan mutahir yang bukan saja bersangkutan dalam masalah politik, melainkan pula dalam ranah yang lebih luas, yakni budaya bangsa.

Dalam Kubangan Mitos
Dari kecermatan analisisnya, Kunto menyadari bahwa sebagai bangsa, ternyata Indonesia masih berada dalam kubangan mitos. Tak hanya soal cara berpikir, di mana adanya kepercayaan pada mitos masih menggelayut di benak sebagian rakyat, seperti ketika ketiban "sial" harus perlu dihadapi dengan acara semisal ruwatan. Soal konkret pun, seperti perilaku politik misalnya, ternyata tak terbantahkan adanya mitos tentang tokoh agung. Makanya, ketika krisis melanda negeri ini, yang dibutuhkan adalah tokoh sakti sebagai pemimpin bangsa. Karena diharapkan—nantinya—bisa terhindar dari malapetaka yang menimpa bangsa ini.

Padahal, dengan mengangkat tokoh-tokoh karisma itu, ternyata tak membuktikan Indonesia lebih baik, melainkan mitos sang mesias itu dalam sejarah berikutnya dijungkalkan dengan lahirnya mitos Fir`aun. Tatkala Soekarno berkuasa, rakyat pun mengagungkannya sebagai sang Ratu Adil (digelari Pemimpin Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat dan Seniman Agung) yang bisa mengatasi krisis dari keterjajahan menuju kemerdekaan. Begitu pun dengan Soeharto (Bapak Pembangunan), dianggap mampu membawa negeri ini hengkang dari keterbelakangan menuju pembangunan. Tetapi ketika "pulung" itu telah pudar, yang terjadi adalah kecaman yang tak ubahnya seperti pada Fir`aun.

Tak cuma dua tokoh itu, naiknya Abdurrahman Wahid pun oleh Kunto juga dinilai tak lepas dari mitos. Dia yang dimitoskan sebagai wali oleh para pengikutnya, setelah ditengarai dari dua celah kerentanan Habibie dan Megawati, akhirnya menjadi sang mitos nomor satu di negeri ini. Tak sampai masa baktinya usai, ia pun dijatuhkan. Begitu pun soal kemenangan PDIP, tak bisa dilepas dari mitos pula. Tak bisa dingkari oleh para pemilihnya bahwa PDIP diyakini membawa pulung kerajaan murca (menghilang sementara) yang dimiliki oleh keluarga Soekarno. Selain itu juga karena mitos tumbal (korban 27 Juli). Tak beda dengan PDIP yang dihinggapi mitos, partai-partai lain juga lahir sebagai reinkarnasi dari partai-partai terdahulu.

Upaya Demitologisasi
Pendeknya, Kunto dengan serentetan bukti membeberkan sejumlah mitos yang tak cuma ditepisnya, tetapi ingin ditiadakan (demitologisasi). Karena baginya, masalah yang menimpa negeri ini harus dihadapi dengan realistis dan tidak dengan cara berpikir berdasarkan mitos. Dan untuk melakukan demitologisasi itu, Kunto lewat buku ini mengajukan empat upaya sebagai kekuatan pendukungnya.

Pertama, dengan memperkenalkan ilmu pengetahuan (Barat). Karena dengan cara itu, orang tidak lagi berpikir berdasarkan mitos, seperti terjadinya gerhana bulan tidak akan mungkin dijelaskan dengan mitos raksasa yang coba memakan matahari.

Kedua, lahirnya gerakan puritanisme dalam agama. Sebab, gerakan puritanisme jelas-jelas menolak mitos. Lahirnya Muhammadiyah, misalnya, sejak mula telah melakukan agenda utama pemberantasan taklid, bid`ah dan khurafat, di mana semua itu dianggapnya sebagai mitos.
Selain itu, yang ketiga adalah dengan analisis sejarah. Dengan cara itu, manusia akan berpikir kritis kepada mitos dan gejala mitologisasi. Analisis sejarah yang rasional dan faktual terhadap mitos akan menjadikan sejarawan tak lagi menjadi partisipan, tetapi mampu melihat dari suatu jarak. Keempat adalah melalui seni. Jika dalam mitologisasi telah terjadi abstraksi dari yang konkret, maka menurut Kunto, seni adalah sebaliknya, konkretisasi dari yang abstrak. Karena lewat seni, semua nilai-nilai dikonkretisasikan (hal. 96-97).

Dengan keempat upaya demitologisasi itu, manusia akan menjadi sadar akan realitas dan kekonkretan masalah sesungguhnya. Jika orang masih berpikir berdasarakan mitos, menurut Kunto, tidaklah akan bisa menghadapi kenyataan. Seperti halnya keruwetan yang dihadapi bangsa ini, haruslah dihadapi dengan cara berpikir realistis tidak dengan cara berpikir berdasarakan mitos. Sebab yang dihadapi bangsa ini adalah konkret (keterpurukan ekonomi, disintegrasi bangsa dan anarki hukum) dan hal itu—tak bisa tidak—harus dihadapi dengan cara berpikir secara realistis.

*) n. mursidi adalah pecinta buku, tinggal di Yogyakarta.

baca lebih lanjut...?