....
Tampilkan postingan dengan label resensi buku pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 September 2012

Setumpuk Kritik dan Solusi Pendidikan di Indonesia

resensi buku ini dimuat di Jawa Pos, Minggu 9 September 2012

Judul buku  : Calak Edu: Esai-Esai Pendidikan 2008-2012 (jilid 1 & 2)
Penulis        : Ahmad Boedowi
Penerbit    : Pustaka Alvabet
Tebal buku : 260 + 272 halaman
ISBN         : 978-602-9193-06-0
Harga        : Rp 89.500

DUNIA pendidikan kita seperti tak henti-henti dirundung duka dan prahara. Bahkan, setumpuk persoalan pelik pendidikan di negeri ini seperti benang kusut yang sulit diurai. Bagaimana tidak? Saat didengung-dengungkan Ujian Nasional (UN) sebagai standart baku untuk mengukur dan melejitkan prestasi anak didik, ternyata di balik itu justru mengundang anak didik tak jujur dan berbuat curang, seperti mencontek semata-mata demi mendapatkan nilai yang bagus. Hal itu masih belum lagi ditambah dengan slogan pendidikan gratis dari pemerintah, tapi yang terjadi di lapangan banyak pungutan liar, jual beli bangku, korupsi dana BOS, standart guru yang tidak kompetent, hingga carut marut sistem dan manajement pendidikan di negeri ini.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 02 Mei 2010

jadi guru yang menginspirasi siswa

resensi buku ini dimuat di JAWA POS, Minggu 2 Mei 2010

Judul buku : Menjadi Guru Inspiratif: Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa
Penulis : Ngainun Na`im
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal buku : xvi + 289 halaman

DUNIA pendidikan kita kembali dirundung duka. Hasil dari pengumuman ujian nasional kemarin (Senin,26/4) benar-benar mengejutkan banyak pihak --terutama orangtua siswa, guru, kepala sekolah, dan siswa bersangkutan. Pasalnya, jumlah siswa yang tidak lulus meningkat drastis. Ujian nasional tingkat SMA (dan sederajat) 2010 terjun bebas mencapai 89,88% --kalau dibandingkan angka kelulusan ujian nasional 2009: 94,85%. Tak mustahil, jika dari 1.522.162 peserta, ada 154.079 peserta yang harus mengikuti UN ulang pada 10-14 Mei. Siapa yang patut disalahkan dalam kasus ini?

Tentu ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi keterpurukan angka kelulusan tersebut. Salah satunya adalah kopetensi guru. Memang, setiap orang bisa menjadi guru. Tetapi, tak bisa disangkal jika tidak semua orang mampu menjadi guru yang baik, mengobarkan semangat, memberi inspirasi, memancarkan energi, mencerahkan, sekaligus menanamkan pengaruh yang luar biasa sehingga bisa membekas sepanjang hidup di benak anak didik. Padahal guru yang mampu menginspirasi dan mencerahkan itulah yang saat ini dibutuhkan di negeri ini, karena guru semacam itu akan mengantarkan kesuksesan siswa di kelak kemudian hari dan membawa kemajuan bangsa.

Sayangnya, guru yang inspiratif dan mencerahkan seperti itu tidak banyak. Sebagian besar guru tidak jarang hanya guru kurikulum, tidak meninggalkan kesan mendalam di benak siswa karena tidak banyak hal penting yang diwariskan. Apa yang diberikan tak lebih sekedar pengetahuan dan wawasan yang menjadi tugasnya --"sosok guru yang hanya patuh pada kurikulum" sebagaimana isi buku yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum. Guru yang sekedar mengajar tetapi tidak dapat berperan sekaligus sebagai pendidik. Padahal, untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan siswa, jelas dibutuhkan guru yang tidak sekedar mengajar sesuai kurikulum melainkan dapat menginspirasi dan mempengaruhi sekaligus mengubah jalan hidup anak didik jadi lebih baik. Lebih ironis, tidak jarang ada sosok guru justru tampil dengan wajah sangar, menakutkan, dan tak menjadikan murid tumbuh semangat untuk menuntut ilmu.

Fenomena mengenaskan tentang angka kelulusan UN tahun ini dan minimnya guru inspiratif (dan tak sedikit guru yang menakutkan di sisi yang lain) menjadikan buku karya Ngainun Na`im yang berjudul Menjadi Guru Inspiratif: Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa ini patut direnungkan. Penulis (yang juga staff pendidik di STAIN Tulungagung) tak hanya menggugat potensi guru yang tak kompeten, melainkan juga memantik kesadaran guru untuk menjadi "sosok yang inspiratif dan mampu mengubah" kehidupan siswa. Karena keberadaan guru inspiratif seperti itu --di mata penulis-- yang kini ini menempuh pendidikan S3 Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini bisa mengantarkan murid meraih kehidupan yang bermakna dan berkualitas.

Harapan penulis dapat dipahami, karena guru inspiratif adalah guru yang mampu menularkan pengetahuan dan sekaligus menggerakan perubahan dan mempengaruhi siswa. Jadi guru inspiratif bukanlah sekedar guru kurikulum, tapi mampu mengembangkan potensi dan kemampuan siswa, berpikir kreatif dan mampu melahirkan siswa yang tangguh dan siap menghadapi aneka tantangan dan perubahan (hal. 73). Guru yang tidak sekadar mengajar sebagai kewajiban seperti ditentukan kurikulum tetapi senantiasa berusaha mengembangkan potensi, wawasan, cara pandang dan orientasi siswa. Kesuksesan mengajar seorang guru tak diukur secara kuantitatif dari angka-angka yang diperoleh dalam evaluasi, tetapi bagaimana guru itu memberi sumbangsih yang berarti bagi siswa dalam menjalani kehidupan selanjutnya setelah menyelesaikan masa studi.

Bagaimana menjadi guru yang inspiratif? Ngainun Naim sadar sepenuhnya, menjadi guru inspiratif tidak gampang. Hal itu dikarenakan, guru inspiratif tidak bersifat permanen. Spirit inspiratif -yang dimiliki oleh guru inspiratif-- kadang bisa memudar. Tetapi, kalau jiwa guru itu sudah diberkati anugerah inspiratif, yang diperlukan adalah bagaimana ia selalu menemukan pemantik/penyulut spirit inspirasi. Untuk menyulut kembali spirit inspirasi itu, tentu setiap guru punya cara sendiri. Tapi bagi penulis buku ini setidaknya bisa dibangun lewat 3 elemen; komitmen (berkomitmen selalu menginspirasi siswa), cinta (memiliki kecintaan dalam mendidik) dan memiliki visi.

Dengan peran guru inspiratif yang memiliki komitmen, cinta dan visi itu, murid akan mampu terbangkit potensinya dan minatnya untuk menguasai pelajaran. Di sisi lain, memiliki sikap serta "semangat tinggi untuk maju", kreatif, tercerahkan dan bahkan termotivasi untuk bisa sukses. Karena guru inspiratif semacam itu memiliki semangat terus belajar, kompeten, ikhlas dalam mengajar, mendasarkan niat mengajar pada "landasan spiritualitas", total, kreatif, dan selalu berusaha mendorong siswa untuk maju.

Potensi kreatif itulah yang menjadikan guru inspiratif tidak pernah kehilangan cara dan media dalam mendidik. Ia bisa membangun iklim pembelajaran dengan seribu cara. Tak salah, jika murid akan selalu merindukan guru semacam itu hadir di kelas hingga kadang tak terasa pelajaran yang sudah berlangsung dua jam seperti tidak terasa. Usai pelajaran, murid mendapat pencerahan, termotivasi dan pelajaran tertanam dalam benak para siswa. Lebih dari itu, siswa menjadi "inspiratif" sehingga mereka mengalami revolusi diri; berubah lebih baik, mengenal bakat terpendam yang dimiliki dan kreatif.

Buku hasil dari pergulatan, diskusi dan perenungan penulis ini tidak dapat disangkal memberikan sumbangsih yang berarti bagi khazanah pendidikan di negeri ini. Apalagi tuntutan jadi guru inspiratif tidak bisa dinafikan. Maklum, guru adalah penggerak roda peradaban bangsa dan peran guru inspiratif akan membawa kemajuan bangsa kita ke depan. Tak mustahil, jika buku ini patut menjadi sebagai bacaan bagi guru dan orang yang ingin menjadi guru. Sejumlah kisah-kisah inspiratif dalam buku ini pun, tidak ditepis bisa menjadi spirit, motivasi dan pembanding bagi guru dalam menghadapi kasus-kasus yang dihadapi untuk menjadikan anak didik tercerahkan dan kreatif.

Tak pelak lagi, buku ini pun bisa mengantar setiap orang yang punya minat untuk menjadi pendidik akan jadi "guru yang menginspirasi". Angka kelulusan siswa pun, akan bisa didongkrak karena peran guru inspiratif mampu menanamkan siswa terus belajar. ***


*) N. Mursidi, alumnus pesantren An-Nur Lasem, Jateng. Kini jadi wartawan di Jakarta.

baca lebih lanjut...?

Rabu, 03 Oktober 2001

peta ideologi pendidikan ala o`neil

resensi ini dimuat di Kompas, Rabu, 3 Oktober 2001

Judul : Ideologi-Ideologi Pendidikan
Penulis : William F O'neil
Penerjemah: Omi Intan Naomi
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
Cetakan : Pertama, April 2001
Tebal: (xiv + 724) halaman
Harga: 95.000, -

PENDIDIKAN pada hakikatnya adalah sesuatu yang luhur karena di dalamnya mengandung misi kebajikan. Pendidikan tidaklah sekadar proses kegiatan belajar-mengajar an sich, melainkan juga sebagai proses penyadaran untuk menjadikan manusia sebagai "manusia". Dengan kata lain, pendidikan merupakan sarana untuk menjadikan manusia sebagai "manusia yang sadar diri".

Akan tetapi, siapa yang kemudian menyangka tatkala diskursus tersebut teraplikasikan dalam bentuknya yang riil-seperti dalam bentuk sekolah dan semacamnya-ia kerap kali terseret pada kepentingan, ideologi, dan politik?

Kenyataan bahwa pendidikan telah terbebani oleh politik, memang cukup ironis dan bahkan merupakan sesuatu yang timpang. Dalam konteks seperti ini, tampillah Paullo Freire dan Ivan Illich yang mengecam dan mengkritik tajam bahwa pendidikan yang selalu dimuliakan dan diasumsikan netral, sakral, dan mengandung kebajikan itu ternyata membawa penindasan (oppression). Semua itu, karena pendidikan dalam setiap langkahnya lebih sering terbebani peran produksi dan reproduksi dari bentuk ideologi dan politik.

Freire kemudian merancang model pendidikan sebagai aksi kultural dan transformasi sosial. Usaha Freire itu, tak pelak lagi telah melahirkan model pendidikan "yang membebaskan" di Dunia Selatan.

***

SEHUBUNGAN dengan masalah-masalah tersebut, maka munculnya buku Ideologi-Ideologi Pendidikan karya William F O'Neil yang diterjemahkan oleh Omi Intan Naomi ini layak disambut dengan gembira. Buku ini dapat dikatakan cukup baik untuk mengantarkan-latar belakang-terjadinya pertikaian di dalam politik pendidikan.

Karya pakar pendidikan dari Universitay of Southern California ini, juga disertai ulasan yang berimbang dalam menjelaskan setiap ideologi pendidikan yang telah dipetakan. Lebih dari itu, secara tidak langsung, lewat buku ini O'Neil telah mengantar pembaca pada persoalan paling mendasar dari sebuah pendidikan, apa makna atau hakikat dari sebuah pendidikan?

Pendidikan, kalau boleh diibaratkan, memang seperti seorang musafir yang sedang berada di persimpangan jalan. Jalan mana yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan, adalah suatu pilihan. Demikian juga dengan pendidikan, memilih jalan itu merupakan hal yang amat penting dan menentukan keberhasilan.

Akan tetapi, dalam pendidikan yang menjadi persoalan adalah; pendidikan mau melegitimasi sistem dan struktur sosial yang ada, ataukah berperan kritis dalam usaha melakukan perubahan sosial dan transformasi menuju dunia yang lebih adil? Dari adanya dua pilihan dilematis itulah, lahir berbagai ideologi dalam pendidikan.

O'neil memetakan ideologi pendidikan ke dalam dua paradigma utama pendekatan konservatif dan liberal. Paradigma konservatif, misalnya memang melihat adanya ketidaksejajaran dalam masyarakat, namun hal itu dianggap wajar dan merupakan hukum alamiah, tak bisa dihindari karena sudah digariskan oleh Tuhan.

Oleh karena itu, bagi kaum konservatif, keadaan sosial bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan. O'neil dalam buku ini, memerikan ideologi konservatif dalam tiga tradisi utama; fundamentalisme pendidikan, intelektualisme pendidikan, dan konservatisme pendidikan.

Sama seperti paradigma konservatif, paradigma liberal pun meyakini bahwa ada masalah dalam masyarakat. Akan tetapi, bagi kaum liberal, pendidikan tak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi. Sungguh pun demikian, adanya usaha untuk menyesuaikan tetaplah dilakukan. Hal itu dicirikhaskan dalam tiga tradisi pokok paradigma liberal.

Liberalisme pendidikan, misalnya, lebih menekankan tujuan pendidikan jangka panjang. Dengan tekanan itu, dimaksudkan untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada, dengan cara mengajar setiap anak sebagaimana cara menangani masalah-masalah kehidupannya sendiri secara efektif. Sementara liberasionisme pendidikan beranggapan bahwa sasaran puncak pendidikan harus menjadi pendukung pembangunan.

Sejalan dengan itu, masyarakat mengikuti jalur yang sungguh-sungguh berkemanusiaan dengan menekankan perkembangan sepenuhnya pada potensi-potensi setiap orang sebagai makhluk manusia.

Adapun anarkisme pendidikan melihat bahwa kita harus menekankan kebutuhan untuk meminimalkan dan menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan terhadap perilaku personal, bahwa kita mesti melakukan deinstitusionalisasi masyarakat (masyarakat yang bebas lembaga). Sejalan dengan itu, pendekatan terbaik dengan jalan mempercepat humanistik berskala besar yang mendesak masyarakat dengan cara menghapuskan sistem sekolah.

Berbeda dengan pemetaan yang dilakukan oleh Henry Giroux dan Aronowitz (yang menambahkan paradigma kritis), O'neil-sebagaimana dijelaskan dalam pengantar buku ini-memang ingin memberikan tekanan yang oleh pakar pendidikan lain kurang dijelaskan secara komprehensif. Oleh karena itu, lewat buku ini, O'neil dengan panjang lebar telah menguraikan dan memberikan ulasan yang berimbang dari masing-masing ideologi pendidikan.

Toh, peta ideologi ala O'neil ini memang tidak menyertakan paradigma kritis, namun satu hal menjadi pilihan dalam rangka untuk mencari sosok yang ideal dalam ideologi pendidikan, ia tampaknya bisa bersikap adil, dan tak mau terjebak pada klaim sepihak. Setelah memberikan ulasan banding yang sistematis, dia melihat bahwa, "kebaikan tertinggi ada dalam kebahagiaan personal dan bahwa kebahagiaan semacam itu terutama merupakan persoalan perwujudan diri seorang manusia yang berbahagia pada intinya adalah orang yang mampu untuk menjadi apa yang secara potensial adalah dirinya sendiri" (hlm 527).

(Nur Mursidi, alumnus Pesantren An-Nur, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, mahasiswa Jurusan Teologi-Filsafat IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.)

baca lebih lanjut...?