....
Tampilkan postingan dengan label resensi buku filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi buku filsafat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2012

Sumbangsih Timur terhadap Sains

resensi ini dimuat di Bisnis Indonesia, Minggu 13 Mei 2012

Judul buku   : Cahaya dari Timur; Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat
Penulis        : John Freely
Penerbit    : Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan     : Pertama, Desember 2011
Tebal buku : 436 halaman
Harga        : Rp. 74.800, -

 MATAHARI terbit dari timur kemudian tenggelam di ufuk Barat. Itu gambaran sekilas tentang kehidupan di dunia ini. Tak terkecuali peta panjang pelestarian atau tradisi berkembangnya ilmu pengetahuan dan sains. 

baca lebih lanjut...?

Senin, 23 April 2007

belajar filsafat sembari nonton film

resensi ini dimuat di kedaulatan rakyat (tanggal lupa masih dicari arsip aslinya)

Judul buku : Menikmati Filsafat Melalui Film Science-Fiction
Penulis: Mark Rowlands
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, 2004
Tebal buku : xxxix + 251 halaman

DALAM perdebatan filsafat, ada satu hal "krusial" yang selalu aktual dan jadi perdebatan tak kunjung usai; pertentangan dari dalam dan dari luar tentang cara manusia melihat dunia. Dari dalam, siapa pun akan melihat dia (manusia) adalah pusat dan sebagai tujuan. Tetapi, dilihat dari luar, semua itu ternyata tak seperti apa yang dipikirkan, tidak mungkin dan tak pasti.

Tema sentral itulah yang dijadikan kerangka oleh Mark Rowlands dalam membincangkan semua film yang dikupas dalam buku ini. Rowlands, penulis yang sudah berpengalaman mengajar mata kuliah filsafat di berbagai negara selama 15 tahun, ternyata jeli menangkap tema film dan mengaitkan dengan persoalan filsafat dengan menampilkan percikan pemikiran Rene Descartes, Aristoteles, Heraclitus, Nietzsche dan filsuf-filsuf kenamaan lain. Itulah yang kemudian menjadikan buku ini memiliki beberapa kelebihan, karena melalui media film, penulis mengajak pembaca mengarungi lautan "pemikiran filsafat" dengan bertitiktolak dari pertentangan di atas.

Dalam film Frankenstein, episteme pertentangan itu adalah absurditas hidup De Nero yang dilahirkan sebagai "moster". De Nero bisa disebut sebagai moster yang tak punya pilihan saat ia telah dilahirkan dari rangkaian tubuh orang-orang yang disambungkan, tetapi setelah menjalani hidup serta dipaksa menjalani tugas sebagai moster, ia pun merasa tak beda dengan tokoh Sisipus. Seperti yang dikatakan oleh Albert Camus (1913-1960) bahwa hidup ini memang absurd. Apa yang dibayangkan De Nero dari dalam dirinya tentang hidup indah ternyata itu tak bermakna ketika dilihat dari luar. Siapa yang kemudian tak kecewa?

Seperti Neo dalam The Matrix yang merasa hidup yang dijalaninya itu nyata, ternyata kemudian diberitahu Morpheus bahwa dunia yang dihuni bukan sebagai dunia nyata. Ya, ia hanya bisa mengelus dada. "Sial!" Tak salah jika dalam film itu, penulis mengaitkannya dengan satu pertanyaan epistemologis. "Apakah ada sesuatu hal yang benar-benar merasa pasti tentangnya?"

Hal ini, terkait dengan pengetahuan. Menjawab pertanyaan semacam itu, Rene Descartes (1596-1650) berujar, "Aku berpikir, maka aku ada (Cogito Ergo Sum)". Jelas, bagi Descartes, keraguan tentang dirinya tidak mungkin jika ia tak ada untuk meragukan sesuatu. Berbeda dengan David Hume (1711-1776) yang lebih melihat peran penting "status mental" dan Nietzsche (1844-1900) yang lebih berpihak pada pikiran tentang prinsip pengetahuan.

Namun, pikiran itu sendiri masih menyisakan tanda tanya lagi. Dalam Terminator, Arnie (Arnold Schwarzenegger) sungguh membuat siapa pun mungkin tak pernah berpikir tentang kesadaran sesosok robot! "Apa ia punya pikiran?" Jika tidak, kenapa Arnie dalam film itu tahu situasi dan merasa malu untuk menutupi tubuh agar tak telanjang? Perdebatan pikiran-tubuh, rupanya telah melahirkan aliran dualisme dan materialisme yang ujungnya tetap tidak mampu menguak apa itu kesadaran! Setidaknya, dari dua aliran itu, masih menyisakan beberapa kelemahan dalam berpikir yang timpang...

Belum cukup tema itu menguras otak siapa pun untuk berpikir jenial, hal lain yang dikemukakan Arnold-Verhoeven dalam Total Recall ternyata tak kalah rumit. Film ini mengekplorasi jati diri Quaid yang kehilangan memori. Jelas, dengan hilangnya memori, Quaid tak hanya menjadi orang lain, tapi ia kehilangan jati dirinya. Sebab bagi mereka yang berpegang pada teori memori, jadi diri diakui sebagai perbedaan krusial manusia di hari ini dan hari esok serta yang membedakannya dengan makhluk lain.

Wah... bisa-bisa buku ini jadi berjilid-jilid jika saja Rowlands mau mengungkap film yang pernah ditonton dan mengaitkannya dengan tema filsafat. Sebab Monority Report, film yang dibintangi oleh Tom Cruise dan seolah tidak mengandung unsur filosofis ternyata di otak Rowlands dapat ditangkap masalah kehendak bebas. Juga Hollow Man memuat pentingnya manusia bermoral seperti pernah dibincangkan Plato (427-347 SM), Immanuel Kant (1724-1804) Thomas Hobbes (1588-1679) dan David Hume (1711-1776). Juga, film Indapendence day & Aliens dan Star Wars yang berbicara cakupan moral, kebaikan dan kejahatan. Kecuali film Blade Runner, menyodokkan tema kematian dan makna hidup.

Buku ini, jelas tak saja sebuah buku bagus. Lebih dari itu, termasuk buku pertama dalam genre sci-phi. Sebuah buku yang berbicara tentang isu dan perdebatan di bidang filsafat yang memanfaatkan media film science-fiction. Berbeda dengan Jostein Gaarder, yang menulis "sejarah filsafat" lewat media novel dengan menghasilkan Dunia Sophi dan bisa memikat pembaca sehingga tak bosan untuk belajar filsafat, Rowlands mengail di dunia film untuk kemudian berbincang tema filsafat yang juga tak kalah menarik. Dengan itu, siapapun pasti tak akan jemu dan menyerngitkan dahi saat nonton film, sementara dari alur cerita itu sembari belajar materi dan konsep sentral filsafat.

Sayang, Rowlands terlalu bertele-tele dalam memberikan penjelasan. Bahkan, analogi yang kerap dicomot dalam rangka untuk memperkuat pelbagai argumentasi yang disemburkan juga cukup berlimpah sehingga pembaca dibuat seperti berputar-putar dulu, tak langsung point pembahasan. Mungkin Rowlands kurang padat kata, malah disertakan pula sedikit humor.

Tapi, apa boleh buat! Itulah filsafat. Segalanya kadang dibutuhkan jawaban dengan argumentasi bertele, muter-muter, didukung alasan yang kuat dan terperinci. Apalagi, Rowlands bisa mengolah semua itu dengan bahan lain yang kaya tentang fisika, biologi dan bidang lain lagi. Wow..., sebuah buku filsafat yang sungguh memikat! Karena, filsafat --yang selama ini-- dianggap angker diperkenalkan Rowlands lewat media film.***

*) n. mursidi, alumnus Filsafat UIN, Yogyakarta

baca lebih lanjut...?

Senin, 29 Januari 2007

Tubuh Manusia dan Eksklusivisme Rasis Eropa

Resensi ini dimuat di Jakarta Post, (versi Indonesia dan saya lupa tanggal pemuatan)

Judul buku : Tubuh yang Rasis, Telaah Kritis Michel Foucault atas Dasar-dasar Pembentukan Diri Kelas Menengah Eropa
Penulis : Seno Joko Suyono
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2002
Tebal buku : xix + 528 halaman

TUBUH manusia, dalam berbagai bentuknya memang cuma seonggok daging dan tulang. Tetapi tatkala tubuh itu telah berpadu dengan "ruh", eksistensi manusia sebagai individu serta merta terkait dengan berbagai hal. Sebagaimana ditunjukkan Michel Foucault (1926-1984), seorang pemikir dan filsuf Perancis kenamaan abad ini, tubuh tidak saja sekedar anatomi dari aringan sel-sel yang mengandung sejuta pesona dan kenikmatan (seks), melainkan pula dalam sejarah peradaban Eropa tubuh terkait dengan perkembangan teknik-teknik rekayasa tertentu yang tak lepas dari kekuasaan politik, ekonomi dan medis yang di kemudian hari telah membawa rasisme Eropa.

Pemikiran Foucault tentang hal itu memang bisa ditilik dalam dua bukunya; The Disciplin and Punish dan The History of Sexuality Jilid I. Tetapi paparan Foucault tentang pembentukan diri kelas menengah Eropa yang diresapi cahaya narasi klinik baru dalam kaitannya dengan sejarah penjara dan sejarah seksualitas dalam dua buku tersebut bisa dikatakan cukup berliku.

Adalah Seno Joko Suyono, yang kini menjadi wartawan di majalah Tempo, jika lewat buku ini kemudian mencoba mengkaji atas pemikiran Michel Foucault tentang proses pembentukan individualisasi kelas borjuis menengah Eropa dan menunjukkan kepada pembaca bahwa adanya diri individu Eropa seperti sekarang ini ternyata dilatarbelakangi gelegar kontrol politik kesehatan di Eropa yang terjadi pada akhir abad 18.

Yang menarik dari cara Foucault dalam mengungkap inti pemikirannya, sebagaimana ditunjukkan oleh Seno dalam buku ini adalah metode yang dipilih Foucault dalam mendekati suatu persoalan. Dengan mengawinkan keironikan Baudelaire dengan metodologi Nietzsche (genealogi), Foucault menelusuri medan-medan sejarah yang dikuburkan oleh kekuasaan dan yang tak terjamah oleh ilmu-ilmu sosial kemanusiaan resmi dalam kerangka pendekatan sangital terhadap modernitas.

Usaha Foucault itu jelas bukan untuk mengungkap peristiwa-peristiwa apa yang telah terjadi di masa lalu dalam sejarah, melainkan untuk menganalisis kekuasaan pada dataran di mana wacana kebenaran atau rezim pengetahuan yang diproduksi oleh kekuasaan amat berperan membentuk individu. Seperti diungkapkan Seno lewat buku ini, Foucault menganalisis pembentukan diri bertitik tolak dari lahirnya narasi klinis yang telah membawa Eropa pada kemajuan peradaban. Di sisi lain, Foucault juga beranggapan bahwa melalui tubuhlah analisis tentang pembentukan diri kelas menengah Eropa akan bisa didekati.

Dari analisis Foucault yang unik itu, Seno mengikuti alur pemikiran Foucault yang menemukan satu kenyataan sejarah bahwa identitas kelas menengah Eropa ternyata terbentuk atau diteguhkan melalui proses penyingkiran kelas-kelas masyarakat yang distigmatisasikan mengidap penyakit lepra atau kusta. Tak cuma itu, di abad 18 juga telah merebak operasi besar-besaran untuk menangkap orang-orang miskin, gila, pelaku kriminal dan semacamnya sebagai maklumat politik kesehatan dari ketakutan epidemi sebagai impian politik dan ekonomi untuk mewujudkan kelas masyarakat baru Eropa dan untuk menciptakan Eropa yang steril.

Sepanjang pelaksanaan politik kesehatan berdimensi menentukan pembentukan tubuh individu Eropa Modern, Seno bersandar pada pemikiran Foucault kemudian melihat munculnya dua kutub perekayasaan global terhadap tubuh manusia. Kutub pertama, bagi seno yang disandarkan pada buku Foucault The Disciplin and Punish dipandang menentukan bagi pembentukan ekspresi luar, gerak-gerak fisikal dan kinetik tubuh manusia Eropa modern. Penelitian Foucault akan sejarah penjara telah menyibak bagaimana cahaya narasi klinis telah meresapi metode penghukuman sehari-hari bermatrikkan epistemologi ilmu anatomi dan hubungan baru dokter pasien akhirnya mengkonstruksi ekspresi luar tubuh manusia. Dengan kemunculan penjara, di mana disiplin merupakan turunan dari timbulnya minat kontrol anatomis wacana klinis baru di kemudian telah membuat individu Eropa memiliki tubuh yang patuh, tereduksi dan seragam.

Adapun kutub kedua, bagi Seno yang disandarkan pada buku Faoucault The History of Sexuality Jilid I telah menentukan bagi pembentukan ekspresi dalam tubuh manusia Eropa modern sebagai akibat dari rekayasa seks di awal abad 19. Penelitian Foucault tentang sejarah seksualitas telah membuka kedok rekayasa seksualitas berwacana klinis oleh kontrol populasi di mana telah menghasilkan timbulnya sikap rasisme tertentu bagi individu Eropa. Timbulnya rasisme Eropa ini, bagi seno tak lain sebagai implikasi dari bio-politik.

Memang, dua kutub konstruksi kekuasaan akan proses pembentukan diri Eropa sebagai rangkaian teknologi dari retasan kontrol narasi klinis pada mulanya berbentuk bipolaritas (berjalan sendiri-sendiri). Tetapi, tak disangsikan lagi bahwa di abad 19 hal itu telah membentuk kesatuan power over life atau kesatuan rekayasa individualisasi yang utuh.

Sebagai satu catatan, buku karya Seno --yang pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta-- ini bisalah ditebak jika merupakan hasil revisi dari skripsi sang penulis. Meski ia tidak menyinggung dalam kata pengantar, dari sistematika buku ini setidaknya bisa ditebak. Kendati demikian, hal itu tidaklah mengurangi kajian yang telah dilakukan oleh penulis. Apalagi lewat buku ini ia telah berani melawan arus dengan mengumandangkan suara sumbang bahwa inti pemikiran Foucault adalah individualisasi dan menyanggah inti pemikiran Foucault tentang kekuasaan sebagaimana dipeluk erat oleh banyak pemikir.***

*) Nur Mursidi, pengamat pustaka, tinggal di Yogyakarta.

baca lebih lanjut...?

Minggu, 14 September 2003

Realisme Sosialis ala Pramoedya

(Resensi ini dimuat di Bengawan Pos, Minggu 14 Sept 2003)

-----------------------------------
Judul buku: Pramoedya Ananta Toer dan Realisme Sosialis
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Jendela, Yogyakarta
Cetakan: Kedua,
Tebal buku: --
------------------------------------

Siapa tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Seperti dikemukakan A Teeuw ia adalah sastrawan, penulis cerita dan pengarang prosa Indonesia nomer wahid dan tanpa saingan dalam abad ke-20.

Selain itu, ia adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah dicalonkan untuk mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra. Ungkapan A, Teeuw dan pencalonan terhadap dirinya itu, sebenarnya tidaklah berlebihan.

Karena karya-karya yang lahir dari pena sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu memang mampu membuat pembaca terpukau dan berdecak kagum. Hampir setiap karyanya, setidaknya bisa kita dilihat adanya nuansa kemanusiaan yang cukup kental dan itu diusung Pramoedya dengan piawai sehingga pembaca bisa-bisa akan menangis tatkala membacanya. Selain banyak karyanya diwarnai pengalaman hidupnya yang pahit, dengan disertai pembelaan terhadap rakyat kecil, Pramoedya pengagum dari Multatuli tampaknya tahu bagaimana sastra harus ditulis.

Ketika penguasa telah korup dan bertindak tak adil, ia lebih memilih jalan sastra dengan style avant garde (oposisi), daripada menjadikan sastra sebagai pelipur lara belaka. Akibatnya, di era Orba, karya-karyanya banyak yang dilarang karena dianggap mengajarkan Marxisme-leninisme.

Pertanyaannya kemudian, benarkah karya-karya Pramoedya memiliki tendensi atau setidaknya mendukung sosialisme sebagaimana garis sastra yang dianut oleh kaum Marxis yang dikenal dengan aliran realisme sosialis ?

Jika kita membaca buku karya A. Teeuw yang berjudul Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, adanya tendensi dari karya-karya Pramoedya memang ada. Namun, untuk dikatakan beraliran realisme sosialis, menurut A. Teeuw dengan bukti bahwa ia tak memahami ajaran Marx menjadikan ia tampak ragu. Tetapi lewat buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis ini, Eka Kurniawan justru ingin membuktikan adanya tendensi dalam karya-karya Pramoedya dan coba mengungkap ideologi estetis yang dianut Pramoedya ditinjau dari filsafat seni.

Sebagaimana diungkapkan Eka Kurniawan, jika kita menelisik sejarah kehidupan Pramoedya sendiri yang pernah terlibat dalam LEKRA yang nota benenya berada dibawah naungan PKI dan dalam tradisi sastra, LEKTRA menganut garis keras dengan keberpihakan terhadap kaum lemah dan mengecam kapitalisme, jelas itu satu bukti.

Apalagi setelah kepulangan Pramoedya dari Tiongkok (Oktober 1956) dalam rangka menghadiri peringatan ke 20 tahun wafatnya pengarang revolusi Cina, Lu Hsum yang telah menyadarkannya akan pentingnya politik.

Sehingga tidak salah, jika sejak itu ia mulai terlibat dengan politik dan dituduh telah memihak pada komunis dan bahkan telah jadi komunis. Pertanyaannya kemudian, benarkah karya-karya Pramoedya memiliki tendensi atau setidaknya mendukung sosialisme sebagaimana garis sastra yang dianut oleh kaum Marxis yang dikenal dengan aliran realisme sosialis? Dengan memberikan kesadaran sejarah pada pembaca, ia sadar bahwa tugasnya sebagai seniman harus memihak pada para korban dan the havenots yang menderita akibat penindasan oleh kelas atas dalam sistem neo kolonialis dan kapitalis.

Apalagi setelah ia melihat humanisme universal (ala H.B. Jassin) atau cita-cita priyayi Jawa, sungguh tak bisa lagi diandalkan atau bermanfaat bagi masa rakyat. Dengan semua itu, ia telah berjuang. Ia ikuti sosok Lu Hsun yang dikaguminya realis dalam bertindak dan mengikuti Maxim Gorki yang menjadi gurunya, belajar dari sejarah. Dan semua itu untuk satu keyakinan yang ia anut, demi kebenaran, keadilan dan keindahan.

Buku yang semula adalah skripsi penulis dengan judul Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer (Suatu Tinjauan Filsafat Seni) di Universitas Gajah Mada ini, memang telah membuktikan bahwa apa yang ditulis Pramoedya sejalan dengan realisme sosialis LEKRA dengan ciri khasnya. Namun, siapa yang bisa menduga jika kemudian dalam sistem kapitalisme, karya-karyanya menjadi lirikan empuk pemilik modal ? Dengan sejumlah karyanya yang diminati pembaca, menurut Eka, ia tak lebih sebagai merk dagang. (Review dari guebisa.com, oleh Nur Mursidi)

baca lebih lanjut...?