....

Sabtu, 17 September 2011

Kisah Sukses Anak Sopir Angkot

resensi ini dimuat di Sinar Harapan, edisi Sabtu-Minggu 17-18 September 2011

Judul buku : 9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal buku : 221 halaman
Harga : 47.000,-

JALAN berliku seseorang dalam mengapai mimpi memang kerap mengundang orang lain untuk melongok. Pasalnya, dibalik kisah sukses itu tersimpan lempengan pelajaran yang bisa dipetik atau dijadikan bahan renungan. Apalagi jika kisah sukses itu mampu memberikan inspirasi, dan energi yang menggerakkan jiwa orang lain untuk sadar dan tersentuh. Kisah itu pun serupa cermin yang tidak saja memberikan infus semangat, tapi juga keinginan untuk bisa meraih impian yang sudah lama ingin diwujudkan dengan cara menghirup spirit untuk mengikuti jejaknya.

Inspirasi kesuksesan itulah yang "ditawarkan" oleh Iwan Setyawan dalam novel 9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple ini. Novel yang terinspirasi dari kisah nyata kesuksesan hidup Iwan Setyawan ini mengisahkan kesuksesan anak seorang sopir angkot di kota Malang (kota Apel) yang kemudian bisa meraih "hal yang tak pernah terlintas dibenaknya" lantaran setelah berjuang dengan penuh daya tahan, ia akhirnya bisa bekerja di perusahaan besar di kota New York (the Big Apple) Amerika Serikat. Padahal, kalau ditengok dari kondisi keluarga Iwan, sebenarnya ia lahir dari keluarga yang pas-pasan.

Ayahnya hanya sempat mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SMP. Ibunya bahkan tidak sempat lulus SD. Iwan adalah anak laki-laki satu-satunya dari 5 bersaudara--yang semuanya perempuan. Dengan kondisi rumah mungil berukuran 6 x 7 meter yang menjadi tempat bermukim bagi mereka bertujuh, terpaksa setiap malam mereka itu harus berbagi dua kamar tidur. Sebagai anak lelaki, Iwan pun kerap tidak kebagian tempat tidur dan terpaksa harus tidur di ruang tamu atau tidak jarang dia mengungsi ke rumah sang nenek. Karena itu, dia bermimpi ingin memiliki kamar sendiri yang dia bangun di atas dapur. Memang benar bahwa keluarga merupakan harta paling berharga di dunia ini. Itulah harga tak bernilai yang dimiliki oleh keluarga Iwan.

Lantas, faktor apa yang menjadikan Iwan bisa meraih sukses hingga menjadi Direktur di New York City? Tidak lain berkat kecintaan dan dukungan keluarga, terutama sang ibu. Dengan kondisi yang memprihatinkan itu, sang ibu mewanti-wanti anak-anaknya --terlebih Iwan-- untuk sekolah sampai tinggi. Untuk bisa mewujudkan niat itu, sang ibu pun tak jarang menjual barang dan utang untuk bisa membelikan Iwan buku dan Iwan sendiri pernah membantu tetangga berjualan di pasar sayur. Bahkan setelah Iwan lulus SMA, sang ayah terpaksa menjual angkotnya untuk membiayai uang kuliah Iwan yang masuk jurusan statistik (Fakultas MIPA) IPB.

Tapi, perjuangan keluarga --terutama sang ibu-- itu tidak sia-sia. Meski sempat pontang-panting, akhirnya Iwan bisa lulus kuliah bahkan tercatat sebagai lulusan terbaik. Jalan lempang pun terbuka lebar. Tidak selang lama, Iwan kemudian bekerja di Jakarta di Nealsen, dan Danareksa Research Institute. Tiga tahun kemudian, ia ditawari kerja di Neilsen New York dan setelah sepuluh tahun bekerja, Iwan menduduki posisi terakhir sebagai Director, Internal Client Management (di Neilsen Consumer Research).

Setidaknya, ada dua hal penting yang menjadi "mahkota berharga" di balik kesuksesan Iwan: pendidikan dan keluarga. Lewat pendidikan, Iwan mengakui bahwa berkat pendidikan itulah kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Sementara keluarga merekatkan jalan itu untuk meraih kesuksesan. Dan Iwan dalam novel ini, tak henti-henti menegaskan akan peran ibu di balik kesuksesan yang ia raih.

Kisah inspiratif ini memang dituangkan dalam sekeping novel. Tapi jika ditilik dari segi sastrawi, novel ini mengguratkan jejak-jejak yang masih terbuka peluang untuk dikritisi sebagai sebuah novel. Setting dan latar "New York" nyaris digambarkan dengan menawan, tetapi Iwan nyaris melupakan keanggunan setting kota Malang. Padahal, kalau dielaborasi lebih jauh, kota Malang pun bisa ditampilkan dengan anggun. Pada sisi lain, masa kecil Iwan di Malang dikisahkan dengan irama cepat bahkan dalam beberapa cerita kilas balik dan nyaris kering dialog. Ujungnya, hal itu tidak cukup menguatkan cerita dengan tokoh yang memukau karena tidak ditegaskan dalam penggambaran adegan. Begitu pun dengan setting akan kota Bandung dan Jakarta, tempat Iwan pernah kuliah dan bekerja.

Tetapi kekurangan itu, tidak dapat dimungkiri, ditutupi kepiawaian Iwan dalam merangkai jalinan kisah dan alur cerita yang dituturkan dengan memukau dan mengundang decak kagum. Maklum, kisah Iwan itu sendiri -tak dapat disangkal-- sudah menjadi daya tarik, dan daya pikat luar biasa yang mengundang pembaca tersentuh dan terpikat. Sebuah jalinan kisah yang berliku, bergulir dengan lancar dan "menginspirasi". Inilah kekuatan novel ini --karena mampu mengembuskan nafas baru, semangat juang dan keinginan kuat untuk meraih mimpi meskipun ditulis dengan bahasa yang ringan. Tetapi, bahasa yang ringan itu justru menjadikan novel ini bisa dikonsumsi oleh semua kalangan --tidak semata-mata oleh para penikmat sastra.

Semua itu bisa dipahami dengan satu asumsi, lantaran sejak awal penulisan novel ini, Iwan memang meniatkan buku ini sebagai bentuk atau ruang berbagi cerita kepada keponakan dan juga memberikan inspirasi kepada orang lain --bahwa siapa pun boleh bermimpi. [*]

*) N. Mursidi, cerpenis dan blogger buku, tinggal di Jakarta

Tidak ada komentar: